Indonesia
NovelToon NovelToon

Obsesi Kakak Tiriku Hyper

Bab 1.

Pagi ini suasana di ruang makan nampak sedikit berbeda, Laura terlihat murung dan terus menunduk.

"Laura, kenapa sekarang kamu terlihat murung?" Lucian Wilson, ayah angkat Laura.

Luis Lucian putra kandung Wilson nampak melirik ke arah Laura dengan tatapan mengintimidasi, tatapan itu juga terlihat di mata Laura.

Jantung Laura berdebar kencang tanpa bisa ia kendalikan, ia teringat peristiwa semalam saat Luis menyelinap di kamarnya dan melakukan hal diluar moral.

Wilson memegang tangan Laura perlahan, dengan penuh kelembutan ia berkata, "jujurlah pada ayah. Apakah ada seseorang yang mengganggumu?"

Saat Laura ingin menjawab, tangan Luis merayap ke paha Laura.

Hal itu semakin membuat tubuh Laura gemetaran, bahkan bulu kuduknya berdiri.

Ia teringat akan ancaman Luis semalam, "kalau kamu sampai mengadu pada ayah, akan aku buat kamu nggak bisa berjalan keesokan paginya. Bahkan aku akan mengirimkan video kita berdua ke grup sekolah. Agar kamu nggak bisa lulus!"

Ancaman itu masih terngiang-ngiang dan membuat Laura trauma dengan tindakan Luis semalam.

Apalagi Laura teringat jika saat Luis menghidupkan kamera, kamera itu hanya menyorot ke arah wajahnya.

Bukankah jika hal itu sampai tersebar, dialah yang akan rugi.

"Laura ... " Panggil Luis dengan nada lembut. "Ayah sangat mengkhawatirkan mu. Kenapa kamu hanya diam saja?"

Walaupun suara Luis terdengar sangat lembut, tapi Laura bisa merasakan ancaman yang tersembunyi dari setiap tutur kata yang diucapkan oleh luis.

Laura memaksakan diri untuk mendongakkan kepalanya, setelah mengambil napas. Ia tersenyum hangat ke arah Wilson, "ayah Wilson, aku nggak papa. Aku hanya sedang makan malas makan, efek datang bulan." Ujarnya bohong.

Wilson menghembuskan napas lega, "kalau nggak enak badan. Hari ini ijin saja, kan ujian sekolah sudah selesai bukan? Hanya ada jam kosong."

Sebelum Laura bisa menjawab ucapan Wilson, Luis sudah menyelanya. "Ayah, hari ini aku ada pertandingan basket dengan sekolah lain. Aku ingin Laura melihatku bertanding."

"Tapi Luis, Laura terlihat pucat," sela Wilson.

Laura menatap ayahnya dengan tatapan berbinar, berharap ayahnya dapat membantunya keluar dari kekejaman Luis.

Ia tahu, Luis membencinya karena mendiang ibunya.

Luis masih mengelak, "Dia cuma mengalami kram datang bulan saja. Tenang, Ayah, aku cuma ingin disemangati adikku. Dia di sana cuma duduk dan menonton pertandingan."

Laura sontak menatap Luis dengan tajam.

Biasanya, saat Luis bertanding basket, dia menjadi pesuruh yang berlari ke sana kemari, memberikan minum dan handuk—bukan hanya untuk Luis, tapi juga untuk semua teman satu timnya.

Namun, sebagai kapten basket, Luis sering bertindak seenaknya pada Laura, bahkan kerap memperlakukannya dengan kasar.

Tak heran jika anggota tim lain pun ikut memperlakukan Laura seperti Luis.

Bagi Laura, hari-hari saat Luis bertanding basket selalu terasa seperti hari tersial dalam hidupnya.

Bagaimana tidak? Di hari itu, dia harus siap menjadi pembantu gratis sekaligus sasaran bully dan cacian dari para anggota tim basket.

"Ayah, aku akan membawa makanan ini menjadi bekal saja!" ujar Laura, ia sudah tidak sanggup bersandiwara lagi.

Tidak mungkin ia mengadu, hal itu malah makan membuat Luis murka dan memperlakukan dirinya semakin buruk.

Sekarang ia dalam posisi yang sangat sulit, disatu sisi kalau ia jujur pada Wilson tentang apa yang dilakukan oleh Luis padanya.

Luis pasti tidak akan tinggal diam, bahkan akan menghukumnya.

Wilson menatap Laura penuh kasih dan kelembutan, hal itu sungguh membuat Luis marah bahkan tanpa sadar kedua tangannya terkepal.

Wilson memanggil pelayan, untuk membuatkan bekal yang baru untuk Laura.

Setelah itu Laura berdiri dan pamit, tapi saat akan meninggalkan meja makan. Wilson malah berjalan ke arahnya seraya menyerahkan kartu hitam.

"Aku lihat kamu semakin kurus dan tertekan, belanjalah dengan kartu ini, beli apapun yang kamu inginkan!" Titah Wilson, lalu tatapannya beralih ke arah leher Laura yang banyak sekali bekas-bekas merah.

Laura yang melihat arah tatapan Willson sontak menutup lehernya dengan tangannya.

Awalnya Wilson menatap leher merah Laura dengan alis mengkerut, tapi akhirnya ia teringat kalau selama ini Laura jarang pergi meninggalkan rumah.

Ia menduga, bisa saja leher Laura merah karena gigitan serangga. Lantas ia menyuruh pelayan yang lain untuk membersihkan kamar Laura.

"Ayah angkat, uang saku darimu masih banyak! Aku nggak membutuhkan ini." Celetuk Laura.

Wilson tersenyum hangat, dan tetap memaksa Laura untuk menerimanya.

Karena tidak enak, akhirnya Laura memutuskan untuk menerima kartu itu.

Saat tangannya akan terulur, tiba-tiba Luis berdiri dan mengambil kartu itu.

"Ayah, Laura nggak mau menerimanya? Kenapa masih memaksa?" tanya Luis.

Wilson menatap putranya dengan kesal dan tatapan melotot, "kembalikan padanya! Kartu itu memang untuk Laura dari ibunya ... "

Belum sempat Wilson menyelesaikan ucapannya, kartu ditangannya sudah dilempar oleh Luis.

"Kenapa kamu melemparnya?" Tanya Wilson marah.

Berani-beraninya ayahnya membahas selingkuhannya didepannya, amarah terpatri jelas didalam dada Luis.

Teringat saat ibunya pergi meninggalkan rumah, sebelum setahun kedatangan Laura.

Asumsi Luis mengatakan, jika ibunya pergi karena melihat ayahnya berselingkuh.

Wilson mengambil kartu itu, lalu ia menyerahkan kembali pada Laura. "Laura, terimalah ini dari ibumu!"

Laura mengangguk dan menerima kartu itu dengan ekspresi sedih. Walaupun ia hilang ingatan pasca kecelakaan, tapi setiap ada yang membahas ibunya, hal itu langsung membuatnya sedih.

Amarah membuncah dalam dada Luis saat menatap Laura dengan penuh dendam.

"Hari ini, Laura akan berangkat bersamaku," ujarnya, berusaha menahan amarah.

Wilson menatap wajah putranya yang datar, sambil menyembunyikan fakta tentang Laura, anak sahabat baiknya.

Dulu, ia dan istrinya, Arina—ibu kandung Luis—memiliki sahabat bernama Steven dan Grace, pasangan suami istri yang memiliki seorang anak, Laura, yang kini menjadi tanggung jawab Wilson.

Saat Laura dan Luis berumur 6 tahun, mereka berpisah karena keluarga Laura pindah keluar negeri urusan pekerjaan.

Saat Laura berumur 16 tahun, dia dan kedua orang tuanya mengalami kecelakaan mobil.

Wilson menerima telepon dari rumah sakit dan segera datang ke sana. Kedua sahabatnya meninggal dirumah sakit, setelah menitipkan wasiat padanya.

Melihat kondisi Laura yang syok berat, bahkan sampai mengalami amnesia dan melupakan masa lalunya yang menyakitkan itu, Wilson memutuskan untuk bersandiwara menjadi ayah kandung Laura, ia mengatur sandiwara memiliki anak berbeda ibu dengan Luis.

Keputusan saat itu diambil serentak tanpa pemikiran matang, mengingat Arina, istri Wilson kabur bersama selingkuhannya.

Namun, untuk sementara waktu, Wilson belum bisa jujur pada Laura dan Luis tentang kenyataan yang sebenarnya.

Ia merasa kehidupan seperti ini sudah cukup, dan ia senang melihat Laura dan Luis yang akur sebagai saudara seayah.

Baru saja Laura keluar dari pintu rumah mewah keluarga Wilson, tangannya sudah ditarik oleh Luis.

"Kamu mau kabur kemana, hah?" Tanya Luis, ekspresinya sangat buruk.

"Kak Luis, tolong lepasin aku." Jawab Laura panik. "Aku mau berangkat sekolah naik bis aja, aku janji nggak bakalan lupain tanggung jawab aku dilapangan basket."

Melihat wajah ketakutan Laura, Luis semakin menyunggingkan senyuman devil. "Aku mau berangkat sama kamu. Nggak perlu naik bis."

Laura buru-buru menolak, bahkan reflek ia berusaha melepaskan tangannya dari Luis.

"Kak Luis. Aku berangkat sekolah sendiri saja, nanti pacar kamu salah paham. Dia kemarin hampir labrak aku," ujar Laura ketakutan.

"Aku nggak peduli," sahut Luis acuh tak acuh, ia menyeret tangan Laura dengan kasar sampai ke garasi.

Lalu memasukkannya ke dalam mobil.

Saat Laura berusaha keluar dari mobil untuk kabur, Luis mengancamnya, "Berani keluar, videomu aku sebar ke grup sekolah!"

Laura tak punya pilihan lain. "Tapi tolong, Kak Luis, jangan ulangi hal seperti tadi malam..."

Luis menatapnya dengan suara yang mengguncang jiwa, sambil menghidupkan mesin mobil.

Suaranya lembut penuh hasrat Luis membuat bulu kuduk Laura meremang.

Matanya membulat sempurna saat Luis justru mengarahkan mobilnya ke proyek danau buatan milik keluarga Wilson.

Ditempat ini sangatlah sepi, karena proyek tertahan urusan ijin pemerintah. Rencananya disini akan dibangun perumahan, tapi sudah setahun, ijin danau belum keluar juga.

"Kak Luis, lebih baik kita segera berangkat ke sekolah. Kalau telat, gimana?" ujar Laura dengan suara terbata. Rasa takut menjalar ditubuhnya.

Luis hanya tersenyum nakal, amarah dan dendam membara karena salah paham pada ibu kandung Naura yang menjadi pelakor, masih terpancar jelas dari matanya.

"Sekarang jam bebas. Pemilik saham terbesar di SMA Bintang adalah ayahku. Nggak akan ada yang mempersulit kita masuk sekolah kalau telat."

Laura terdiam. Apapun alasannya, Luis selalu punya cara untuk menghancurkan alasan nya. "Laura, aku haus ... Ayo berikan air susumu itu padaku!"

Bab 2.

Luis dengan kasar menindih tubuh Laura, tangannya cepat merobek kancing seragam putih yang menutupi dadanya.

Setelah mesin mobil berhenti, udara di dalam kabin terasa sesak, seolah napas mereka saling bertarung untuk bertahan.

Matanya menyipit penuh ejekan, tatapannya menusuk seolah ingin membakar rahasia yang disembunyikan.

"Aku nggak menyangka. Gadis SMA yang hampir lulus sepertimu pernah melahirkan dan memiliki ASI," suaranya dingin dan penuh penghinaan, seolah mengoyak harga dirinya yang rapuh.

Laura terisak, air matanya mengalir tanpa henti, namun hatinya bergejolak. "Kak Luis, aku nggak berbohong. Aku hanya kelebihan hormon, jujur aku nggak pernah hamil dan melahirkan," jawabnya dengan suara bergetar, berharap kata-katanya bisa menembus kerasnya dinding kemarahan Luis.

Namun, Luis tak peduli, tangannya semakin mencengkeram erat, membuka paksa dada Naura lalu mulai mengisapnya dengan rakus, seolah menegaskan tuduhannya.

"Dasar penipu," gumamnya penuh kebencian, sementara Naura hanya bisa menahan kesakitan dan kehancuran yang menyelimuti dirinya.

Kedua tangan Laura mencengkram lengan Luis, saat Luis menghisapnya dengan kasar.

"Kak Luis, ini salah ... " Ujar Laura dengan suara penuh kepedihan.

"Apanya yang salah?" Sahut Luis ketus, ia yang sudah selesai menjauhkan tubuhnya dari Laura, ekspresi terlihat jijik saat menatap Laura.

"Kita itu saudara, nggak seharusnya kamu meminum ... " Ucapan Laura terhenti, berganti dengan isakan tangis.

Ia nampak kesulitan melanjutkan ucapannya.

Luis hanya tersenyum sinis, wajahnya malah kembali marah, terlihat tidak menunjukkan rasa bersalah sama sekali.

"Kehidupanku yang sekarang ini aku sudah tidak percaya dengan salah dan benar? Intinya kamu hadir tiba-tiba dan menjadi anak kandung ayahku, itu suatu hal yang salah."

Luis mencengkram dagu Laura dengan kasar, "Kamu itu hanya anak haram dari seorang pelakor yang hina. Nggak usah sok pintar dengan mengajariku, seumur hidupmu kamu harus membayar hal yang dilakukan oleh ibumu hingga menyebabkan ibuku pergi dari rumah."

Air mata Laura luruh, matanya yang berwarna hazel beradu dengan mata biru milik Luis yang penuh kebencian.

Luis melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar, "jangan sok suci dengan menolak keinginanku. Kamu hanya seorang jalang yang tidak tahu malu, pernah hamil dan juga melahirkan."

Ucapan Luis bagaikan cambuk yang dicambukkkan ke dalam tubuh Laura.

Laura memilih diam mematung dan tidak menanggapi ucapan Luis, semua yang keluar dari mulutnya selalu salah, bahkan sama sekali tak pernah didengarkan oleh Luis.

Saat ingin mengancingkan bajunya, Laura tertegun saat melihat kancing bajunya tidak ada.

Lalu ia menoleh ke arah Luis yang fokus mengemudikan mobilnya.

Luis tahu kalau Laura menatapnya, tapi ia memilih pura-pura tidak melihat, ia berharap Laura akan merengek padanya.

Tapi, sampai mobil mewah Luis akan sampai ke sekolah. Laura masih saja diam.

Hal itu sungguh membuat Luis kecewa, walaupun ia merasa ada yang aneh dengan sikap Laura.

Tapi Luis yang teringat memiliki kelemahan Laura, memilih acuh dan tidak peduli.

Laura memilih memejamkan matanya, berpikir seraya mencari solusi untuk masalahnya sendiri.

Tapi otaknya bukanya membantunya berpikir, malah mengingat masa lalu.

Setelah dirinya kecelakaan, ntah kenapa Laura tidak bisa mengingat apapun, setelah dibawa ayahnya masuk ke dalam keluarga Wilson. Ia hanya mendapatkan siksaan dan tekanan batin dari Luis.

Walaupun didepan Wilson, Luis akan bersikap sangat manis dan baik pada dirinya.

Sebenarnya ia mengerti, alasan kenapa Luis melakukan semua itu? Tapi apa salahnya hingga dibenci sedemikian rupa.

Ntah dirumah dan disekolah baginya sama saja, Luis selalu melakukan hal yang menyakiti hatinya.

Sebelumnya Laura bisa tahan, tapi sejak semalam Luis mulai berani membuka bajunya bahkan menghisap air susunya, Laura merasa jika dirinya sudah difase lelah. Lelah untuk menghadapi Luis, lelah terus tersakiti.

Semalam ia tidak bisa tidur, ia bertekad ingin kabur dan meninggalkan keluarga Wilson.

Tapi apa daya? Hal itu tidak bisa diputuskan gegabah, ayahnya begitu baik. Ia masih memikirkan, jika sampai dirinya kabur ayahnya pasti akan mengkhawatirkan dirinya.

"Kamu beneran ingin memperlihatkan tubuhmu pada semua orang disekolah?" Celetuk Luis, hal itu langsung membuyarkan lamunan Laura.

Laura mengepalkan tangannya, menahan kebencian yang sudah membuncah pada Luis.

Awalnya ia akui, dulu ia memang jatuh cinta pada pandangan pertama pada Luis.

Ia tahu, cintanya itu salah, karena ia saudara seayah. Karena sesungguhnya perasaan tidak bisa dipaksakan.

Tapi sekarang rasa cinta itu perlahan terkikis oleh rasa sakit yang setiap hari Luis berikan padanya.

Laura menjawab tanpa menatap ke arah Luis, "Sementara aku akan menutupinya dengan tanganku. Lalu aku akan meminjam baju di UKS."

Tak berselang lama, mobil mewah milik Luis pun berhenti di depan gerbang SMA Bintang.

Saat Laura ingin turun, Luis mencekal tangan Laura.

"Ada apa tuan muda Luis?" tanya Laura dengan suara datar dan dingin.

Ntah kenapa Luis tiba-tiba merasa tidak suka dan tidak nyaman dengan panggilan 'Tuan muda' yang sebelumnya Luis inginkan.

"Ini seragamnya, kamu ganti disini saja!" Ujar Luis yang mana membuat Laura mengangkat satu alisnya.

Laura merasa heran, tidak biasanya Luis bersikap baik dan toleran seperti ini.

"Apa mungkin Luis melakukannya karena dirinya merasa bersalah," pikir Laura. Tapi ia buru-buru menepis pikiran itu, mengingat kelakuan Luis semalam memang tidak akan pernah ia maafkan.

Ia mengembalikan atasan berwarna putih yang sebelumnya diberikan kepada dirinya, "nggak perlu."

Luis menanggapi dengan senyuman sinis, "kamu marah padaku? Atas dasar apa? Apa kamu lupa, selama tiga tahun kamu makan dan tinggal dirumahku."

Laura yang sudah bosan menangapi ucapan Luis memaksa keluar dari mobil, tapi saat tangannya menyentuh handle pintu.

Luis malah mengunci pintu mobilnya.

"Sepertinya, selama ini aku terlalu baik padamu Laura." Ujar Luis marah.

Alis Laura mengerut, saat melihat Luis milih marah. "Bukankah harusnya yang marah itu aku? Kenapa dia?" Pikir Laura heran.

Tiba-tiba Luis mencium dan melumat bibirnya, Laura terkejut sontak mengigit bibir Luis.

"Kamu anjing ya? Kenapa gigit?" Ujar Luis dengan senyuman sinis, tapi ntah kenapa Laura yang keras kepala dan tidak penurut ini membuatnya suka.

Cuman ia merasa marah dan tak nyaman saja saat Laura merajuk.

Laura tidak menanggapi, ia berkata dengan nada dingin. "Gerbang sekolah lima menit lagi akan ditutup. Tuan muda Luis, biarkan aku keluar dari mobil."

"Kalau mau keluar dari mobilku, segera ganti seragammu!" Ujar Luis, menolak penolakan Laura.

Laura yang tidak ingin kena hukuman karena terlambat masuk gerbang, akhirnya memilih untuk menyetujui ucapan Luis. Ia mengambil seragam itu dan bersiap keluar mobil.

Tapi Luis masih belum membuka kunci mobil. "Aku akan memakainya, kenapa kamu belum membukanya?" Ujar Laura tak sabar.

Luis pura-pura memejamkan mata sambil melipat tangan di dada. "Aku ingin kamu ganti seragammu di sini," sahut Luis.

Naura yang terkejut langsung berteriak, "Apa kamu bilang?"

"Ya, buruan ganti kalau nggak mau terlambat."

Laura melirik jam di tangannya, melihat waktu yang sangat mepet.

Dia tak punya pilihan lain. Mobil mewah Luis dilengkapi fitur penggelap kaca, agar orang di luar tak bisa melihat ke dalam.

Setelah mengaktifkan mode itu, Laura mulai melepaskan seragamnya.

Dengan nada peringatan, ia berkata, "Tutup matamu. Jangan lihat."

Namun saat hendak mengancingkan baju seragam yang diberikan Luis, tatapan Laura tiba-tiba menoleh ke arah pria itu.

Betapa terkejutnya dia saat melihat Luis menatapnya seperti orang kelaparan. "Dasar mesum!" gerutu Laura.

Bab 3.

Luis menelan ludahnya yang kelu, saat melihat dada dan perut Laura yang terpampang nyata di depannya.

Ia merasa jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat pemandangan itu.

Laura sebenarnya marah, melihat tingkah Luis. Tapi, marah pun ia tetap kalah, karena laki-laki itu memegang kendalinya.

"Aku sudah selesai, cepat buka pintunya!!" Ujar Laura yang mana ucapannya langsung membuat lamunan Luis buyar.

Luis mengangguk.

Akhirnya Laura turun dari mobil, Luis kembali mengemudikan mobilnya dengan cepat melewati dirinya lalu melewati gerbang.

Ia masih berusaha menenangkan jantungnya yang sekarang ini sangat tidak aman.

Setelah melewati gerbang, ia melihat dari kaca spion, langkah Laura terhenti karena dihentikan oleh satpam dan guru BK.

Sebenarnya Luis tidak tega, ingin membantu Laura. Karena gadis itu terlambat akibat salahnya juga.

Tapi keinginan itu langsung lenyap, saat mengingat jika Laura adalah gadis yang lahir dari selingkuhan ayahnya.

Laura dimarahi guru BK habis-habisan, guru itu tidak tahu, jika Laura adalah putri dari Lucian Wilson.

Bukan hanya para guru saja yang tidak tahu, tapi para murid juga. Makanya Laura sering mendapatkan bullyan dari penghuni sekolah.

Laura diberikan hukuman untuk berlari mengitari lapangan sepak bola sebanyak 2 kali.

Karena sekarang jam kosong, aksi Laura menjadi perhatian para murid SMA Bintang yang sedang duduk di koridor kelas.

"Aku nggak menyangka, disekolah kita ada sekarang dewi yang sangat cantik." Celetuk salah satu murid.

"Iya aku juga nggak menyangka, walaupun bajunya terlihat kebesaran, tapi dadanya terlihat sangat sexy." Timpal yang lain.

Bisik-bisik para murid terus mengudara, hal itu juga sampai ditelinga Luis.

Ntah kenapa ada rasa tidak nyaman saat ia mendengar para murid yang memberikan pujian untuk Laura.

Apalagi para murid yang memberikan pujian adalah para murid laki-laki.

Tanpa sadar, Luis mengepalkan tangannya.

Tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggang Luis, "sayang, apakah anak pelayan rumahmu bikin kamu kesal lagi?" Ujar Emma Faela pacar Luis.

Keduanya sudah berpacaran sejak SMP.

"Nggak," sahut Luis dingin dan ketus. Bahkan ia menjauhkan tangan Emma dengan jijik.

Emma sendiri menahan rasa sakit dan tidak nyaman dalam hatinya, beginilah sikap Luis padanya.

Selalu dingin dan tidak berperasaan, tapi ntah kenapa ia sangat mencintai laki-laki itu.

Karena ada kalanya Luis bersikap sangat manis dan romantis, yang paling penting Luis tipe laki-laki setia yang tidak pernah memiliki rumor sengaja menggoda gadis lain. Bagi Emma hal itu sudah lebih dari cukup.

Sejak kecil, Emma hanya hidup bersama ayahnya.

Ayahnya sangat menyayanginya dan memanjakannya. Dia juga sangat setia pada ibunya; sejak kepergian sang ibu, ayahnya tak pernah berniat mencari pengganti.

Namun, empat tahun lalu, saat ayahnya menghadiri reuni, ia bertemu dengan mantan pacarnya.

Sejak saat itu, Emma melihat senyum yang sudah lebih dari sepuluh tahun tak pernah muncul di wajah ayahnya.

Setelah kepergian ibunya, ayahnya memang tak pernah tersenyum lagi.

Melihat perubahan itu, Emma akhirnya merestui ayahnya menjalin hubungan dengan wanita lain.

Ia memikirkan hubungan ayahnya dan hubungannya dengan Luis hingga ke pelaminan; tak mungkin ayahnya tetap sendiri selamanya saat ia menjadi istri Luis nantinya.

Jadi, ia memilih mendorong ayahnya untuk menikah lagi.

Kini, kehidupan di rumah terasa sangat sempurna.

Ibu tiri Emma sangat baik, bahkan wajahnya sedikit mirip dengan Luis, hal itulah yang membuat Emma semakin menyukai ibu tirinya.

Melihat Luis yang kesal dan pergi, Emma hanya bisa memandang punggung laki-laki itu seraya menggelengkan kepalanya.

Ivy Gunawan sahabat Emma tiba-tiba menepuk punggungnya, "Emma kenapa kamu nggak menghalangi Luis pergi? Takutnya kalau diam-diam dia bertemu gadis lain."

Emma hanya menanggapi ucapan Ivy dengan senyuman tipis.

Sementara sahabat Emma yang lain Sofia Thea menimpali. "Ivy, Emma dan Luis sudah pacaran lebih dari lima tahun. Tapi selama ini belum ada rumor buruk. Apalagi di SMA Bintang belum ada gadis yang kecantikannya bisa mengalahkan Emma."

Ivy nampak tidak setuju dengan ucapan Sofia. "Tapi lihatlah gadis itu, walaupun dia itu anak pelayan. Tapi kecantikannya semakin hari tidak bisa diremehkan."

Sofia hanya menggelengkan kepalanya, "maksudmu Laura? ... "

Ivy mengangguk.

Sofia menambahkan, "walaupun Laura itu sangat cantik, tapi dia sama sekali nggak bisa dibandingkan dengan Emma. Dia itu siapa? Hanya anak pelayan."

Emma yang mendengar ucapan Sofia, sontak semakin mengembangkan senyumannya, ia tentu senang mendapatkan pujian seperti itu. Lalu ia berjalan lebih dulu meninggalkan kedua temannya

Setelah itu, Ivy dan Sofia nampak mengejar langkah kaki Emma.

Setelah capek berlari, Laura sendiri memilih pergi berjalan ke arah taman belakang, setelah berlari dua putaran tenaganya terkuras habis. Apalagi ditambah Luis yang menghisap ASI-nya.

"Sepertinya, nanti dirumah aku harus banyak makan."

Baru saja membuka kotak bekalnya, tiba-tiba tangannya sudah ditarik kasar oleh seseorang.

Laura mendongak, tatapan beradu dengan Luis, "tuan muda Luis. Mau membawaku kemana?"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!