Indonesia
NovelToon NovelToon

Tumbal Pengantin

Bab 1. menabrak kucing hitam

"Kakak pasti akan sangat senang ini karena aku pulang mendadak dan tidak memberitahu dia." Aldo tersenyum sambil naik motor kesayangan dia itu.

"Ah tidak ku sangka kalau dia akan segera menikah dan hanya tinggal aku saja sekarang yang bujangan." Aldo berkata sendirian dan mengendarai motor itu.

Nguuuungg.

Nguuuuung.

"Ah jalan sini semakin buruk saja rasanya, padahal baru sekitar setahun aku tidak pulang ke rumah." keluh Aldo.

Jalan memang sangat buruk sekali sehingga dia sejak tadi harus memilih dengan cermat jalan yang harus dia lewati, bila sampai tidak waspada maka yang ada motor Aldo akan masuk ke dalam lubang sehingga mau tidak mau dia juga harus waspada, rumah Aldo memang agak masuk ke dalam sehingga wajar sebagian perjalanan ini masih harus melewati jalan Tanah berlumpur.

Namun ini semua dia nikmati dengan perasaan bahagia karena dirinya pulang untuk bertemu dengan Airin yang akan menikah sebentar lagi, Aldo dan Airin memang saling menyayangi satu sama lain karena selama ini Airin tidak pernah mengajak Aldo bertengkar.

Jadi tidak seperti saudara-saudara orang lain yang terlalu banyak tingkah, oleh sebab itu mereka semua selalu dalam keadaan aku dan Aldo juga berusaha menjadi adik yang baik untuk Airin, lebih jarak usia mereka hanya dua tahun saja sehingga pemikiran pun tidak terlalu jauh berbeda.

Malam semakin gelap mengiringi perjalanan Aldo dan dia juga mulai merasakan rintik hujan membasahi bumi, untung Aldo ini bukan orang yang penakut sehingga melewati kebun sawit seperti ini dia tetap saja tenang walau sekarang dia merasakan seperti ada sesuatu yang memperhatikan dirinya.

"Tidak, itu hanya perasaan aku saja." Aldo cepat menepis perasaan itu sendiri.

Wuuussst.

Ekor mata Aldo sebenarnya sudah melihat seseorang yang berdiri di dalam pohon sawit itu, bahkan kelebat bayangan tadi juga sempat dia lihat namun pemuda ini tetap berusaha untuk bersikap cuek karena dia juga menyadari bahwa ini sudah tengah malam dan mungkin saja para penghuni agak kaget mendengar suara motor dia yang agak berisik.

"Numpang lewat untuk semuanya karena aku tidak ada niat untuk mengganggu." Aldo berkata pelan dan terus melaju.

Cekiiiiiit.

Braaaaaak.

"Aaaghh ya allah!" Aldo mengerang karena dia terjatuh dari atas motor setelah kucing hitam melintas di depan dia.

"Aduh sakit sekali, ya Allah aku malah menabrak kucing ini." Aldo panik karena dia tahu menabrak kucing bukan hal yang baik.

"Maafkan aku ya, Pus! aduh kenapa aku sampai menabrak dia dan meninggal seperti ini." Aldo kebingungan serta jalan dia juga yang pincang karena kaki tadi terantuk oleh batu di sekitar jalan.

"Loh ke mana kucing hitam itu tadi pergi?!" Aldo semakin kaget karena kucing itu sudah tidak ada lagi di hadapan dia.

Padahal jelas sekali dia tadi melihat bahwa tubuh kucing itu terpelindas oleh ban motor besar milik Aldo, namun kenapa ketika dia sudah turun dan ingin mencari justru tidak menemukan keberadaan kucing itu sehingga Aldo kebingungan dan tidak tahu atas apa yang telah terjadi saat ini.

"Kemana dia pergi nya? aku tadi melihat kok ada kucing hitam di sekitar sini." batin Aldo dengan perasaan mulai cemas.

Tes.

Tes.

Aldo masih dalam keadaan bingung namun mendadak saja tangan dia tertetesi oleh sesuatu dari daun sawit, pemuda ini mengabaikan saja karena dia berpikir bahwa itu adalah air hujan. sebab saat ini memang sedang gerimis sehingga wajar saja bila ada air yang turun membasahi bumi dan mengenai tubuh dia, mana pikiran Aldo juga sedang sibuk mencari kucing hitam yang tadi sempat kena tabrak.

"Eh kok bau amis!" Aldo semakin kaget ketika mencium aroma tangan dia.

Tangan yang terkena tetesan air tadi seketika berbau amis dan Aldo kaget bukan main Karena itu adalah darah, tubuh Aldo tegang seketika karena dia tahu bahwa saat ini ada sesuatu di atas pohon sawit itu.

"Dia sedang duduk di sana dan darah dia mengenai tubuh ku!" batin Aldo dan dia terus menyebut nama Tuhan.

"Ya Allah tolong lindungi aku dan jangan sampai aku celaka sekarang." Aldo gemetar dan dia berusaha untuk menoleh agar bisa melihat siapa yang sedang duduk di atas pohon sawit itu.

Gleeeeek.

Aldo kaku seketika karena yang duduk di atas pohon sawit itu wanita dengan wajah hancur lengkap dengan gaun berwarna putih dan mahkota di atas kepala, namun meski penampilan dia cantik seperti itu tapi wajah dia sudah tidak dapat dikenali lagi dan yang paling penting ada luka yang begitu lebar pada bagian dada.

"Tidaaaaaak!" Aldo tidak ingat dengan motor dan langsung lari pontang-panting meninggalkan kawasan itu.

"Ya Allah, Ya Allah!" pemuda ini terus berlari karena dia tidak sanggup melihat pemandangan yang ada di depan mata tadi.

"Apes sekali nasib aku ini, baru ini pulang kampung dan malah ketemu setan tengah malam!" keluh Aldo dengan nafas terengah-engah.

Aldo masih sempat menoleh ke belakang untuk memastikan apakah wanita itu mengejar dia atau tidak, namun ternyata wanita itu tidak ada lagi di belakang Aldo sehingga pemuda ini sedikit memperlambat laju lari dia, sebab dada sudah terasa sesak setelah berlari cukup jauh serta menahan rasa takut juga.

"Aldo!"

"Airin, heh Airin kok kamu keluar dari rumah?!" Aldo melihat Airin yang datang membawa payung berwarna hitam.

"Aku nungguin kamu dari tadi dan baru tengah malam seperti ini kamu datang." Airin mendekati Aldo.

"Tadi Aku masih sempat mengurus ini dan itu untuk cuti liburan ini, jadi OTW pun sudah malam." Aldo memberikan alasan sambil mengatur nafas.

"Lalu Kenapa kamu berjalan saja, motor kamu ada di mana?" tanya Airin dengan senyum yang begitu manis sekali.

Aldo bingung untuk menjawab apa karena dia tidak mungkin mengatakan bahwa habis bertemu dengan setan, Airin pasti akan mengamuk dan mengatakan bahwa Aldo adalah pria yang penakut dari dulu sampai sekarang sehingga pikiran dia selalu penuh dengan dunia setan.

"Tadi titip dulu di rumah mas Toto, besok aku ambil karena aku lebih baik jalan saja ini." Aldo berusaha memberikan alasan.

"Do, Aku ingin bicara dengan kamu sebentar." Airin menatap mata Aldo dengan pandangan begitu sendu.

Aldo sendiri tidak paham kenapa Airin justru mengajak dia berbicara di sini dan ini pun juga sudah tengah malam, padahal jelas sekali Aldo akan pulang dan bisa membicarakan masalah itu di rumah nanti ketika dia sudah istirahat, tapi karena Airin menatap dia dengan pandangan yang sangat serius maka Aldo tidak bisa menolak permintaan dari gadis ini.

Selamat pagi, selamat bertemu dengan karya baru Novita jungkook kembali lagi ya. jangan lupa like dan komentar kalian, terima kasih salam hangat untuk kalian semua.

Bab 2. Airin hilang

"Aldo, Kenapa malam begini baru bisa pulang ke rumah?" Bu Hartini menyambut kepulangan sang anak.

"Tadi ada sedikit masalah dan motor Aku tinggal di sana Bu karena macet." Aldo memberikan alasan karena dia tidak ingin bercerita apa yang telah terjadi.

"Ya Allah, belakangan ini memang terasa semua sangat berat sekali." Bu Hartini berkata dengan wajah begitu sedih.

"Loh aku pulang kok malah Ibu berwajah sedih begitu, kenapa ini?" Aldo bertanya dengan lemah lembut karena dia tidak paham.

"Hiks, Hiks." Bu Hartini langsung menangis karena dia sangat tidak sanggup menahan air mata ini.

"Sudah lah, Ibu pasti terlalu rindu dengan aku kan." Aldo memeluk Bu Hartini yang menangis tersedu-sedu.

Sama sekali tidak ada firasat aneh di dalam diri Aldo ketika melihat Bu Hartini menangis seperti itu, sebab menurut dia itu adalah hal yang biasa karena selama ini Bu Hartini memang menangis ketika melihat Aldo pulang merantau dari kota selama beberapa bulan.

Jadi tentu saja sekarang dia juga mengira bahwa Bu Hartini menangis seperti itu karena merasa senang sekaligus sedih, namun dia berusaha untuk tetap menghibur karena dia tahu bahwa hati Bu Hartini begitu lembut sekali saat sedang berhadapan dengan anak-anak, tidak ada firasat yang aneh karena memang Aldo pulang dengan perasaan gembira.

Tentu aja Dia gembira bukan main karena yang akan pulang ini adalah untuk pernikahan sang Kakak, Airin akan menikah sehingga Aldo memutuskan untuk cuti beberapa hari dan mengantarkan pernikahan Airin sampai jadi nanti, sehingga dia membawa kepulangan ini dengan perasaan begitu gembira serta tidak ada beban sedikit saja.

Namun ketika melihat kesedihan Bu Hartini semakin larut saja maka hati Aldo memiliki firasat lain, mana tadi ketika Airin berpamitan ingin membeli sesuatu dan belum juga pulang sampai sekarang, tadi sebenarnya Aldo sudah memaksa ingin mengantar namun Airin ke ke agar Aldo segera pulang saja untuk menemani Bu Hartini yang ada di rumah.

Ini sekarang malah keadaan Bu Hartini menangis seperti itu sehingga Aldo semakin kebingungan dengan apa yang telah terjadi, Kenapa mendadak saja Bu Hartini menangis demikian dan ini tidak biasa bila menangis seperti itu, antara tangi sedih dan bahagia tentu saja jelas berbeda dan ini Aldo bisa merasakan perbedaan tersebut.

Bu Hartini masih belum bisa menceritakan apa yang telah terjadi karena dia sedang terisak dengan hati begitu perih, apa yang dia rasakan tidak mungkin dia katakan kepada sang anak dengan lantang begitu saja karena ini menyangkut hati yang begitu pilu dan perlu jiwa besar untuk menerima Ini semua.

"Kakak mu, Do." Bu Hartini berusaha mengusap air mata yang meluncur.

"Iya, Kakak kenapa memangnya?" Aldo bertanya dengan lemah lembut dan membantu mengusap air mata orang tua ini.

"Ya Allah, kenapa Kakak mu harus seperti itu?" Isak Bu Hartini.

"Ibu tenang dulu ya biar bisa cerita dengan jelas apa yang telah terjadi, Kakak itu kenapa dan ibu juga kenapa kok menangis begini." Aldo berusaha membujuk dengan lemah lembut.

"Airin hilang dan sampai sekarang dia tak kunjung ketemu, Ibu tidak tahu harus mencari kemana lagi." teriak Bu Hartini.

"Hilang!" Aldo yang mendengar ucapan Bu Hartini tentu saja kaget dan agak tidak percaya juga.

Sebab perjalanan ke sini maka dia bertemu dengan Airin yang katanya mau membeli sesuatu dulu di warung, bahkan tadi mereka sempat mengobrol panjang lebar tentang pernikahan itu dan Airin juga tersenyum bahagia ketika bertemu dengan Aldo, jadi Aldo menganggap ini semua hanya gurauan semata dari Bu Hartini.

Namun bila orang tua ini hanya bercanda lalu kenapa dia menangis sampai seperti itu, tentu saja kepala Aldo seakan mau pecah karena dia tidak percaya atas apa yang telah terjadi di dalam rumah ini, antara masih bingung juga Karena dia sudah beberapa bulan tidak kembali sehingga tidak mengetahui tentang berita yang ada di desa.

Beberapa Minggu belakangan ini memang ponsel Aldo hilang Dan ini juga dia tidak bisa menghubungi ketika akan pulang, kemarin mereka sempat berhubungan ketika Aldo meminjam ponsel teman dia sendiri untuk memberitahu bahwa dia akan segera pulang, dalam perjalanan kemari barulah dia membeli ponsel sehingga tentang kabar-kabar itu dia masih belum tahu dengan jelas.

"Bu, Ibu ini sedang berbicara apa?" Aldo bertanya kembali dan menatap sorot mata Bu Hartini.

"Airin menghilang sudah sebulan lebih, Ibu berusaha menghubungi kamu namun tidak bisa." ujar Bu Hartini.

"Ah Ibu jangan bercanda seperti itu karena tadi saja aku bertemu dengan Airin!" Aldo kaget tidak karuan.

"Dimana? di mana kamu bertemu dengan dia dan Ayo antarkan aku ke sana bila memang Airin ada!" Bu Hartini dengan penuh semangat mengajak Aldo.

"Demi Allah aku tadi bertemu dengan Airin di jalan, sebentar lagi dia pasti akan pulang karena tadi dia hanya membeli kopi saja." Aldo berkata dengan sangat yakin.

Hartini menatap sang putra dengan tatapan tidak percaya dan juga penuh kebingungan, sebab orang kampung ini saja sudah bingung mencari keberadaan Airin yang entah ada di mana, ini kenapa mendadak saja malah Aldo mengatakan bahwa dia tadi sempat bertemu dengan Airin juga saat sedang dalam perjalanan ke sini.

"Kita tunggu beberapa menit lagi karena Airin pasti akan pulang." ujar Aldo dengan sangat yakin.

"Ya Allah siapa yang sudah kamu temui itu sehingga kamu sangat yakin bahwa dia adalah Airin? sedangkan ibu selama ini sudah menunggu dia dan tidak pernah Airin pulang!" isak Bu Hartini kembali pecah.

Aldo tertegun karena dia juga mulai bingung melihat Bu Hartini yang tidak ada niat bercanda sama sekali di dalam diri ini, tidak mungkin juga Bu Hartini mengajak Aldo bercanda ketika dia baru pulang dan mengatakan bahwa Airin yang sudah lama hilang dari desa ini dan tak kunjung kembali lagi.

"Bu, tolong jangan membuat aku pusing seperti ini karena tadi aku memang berbicara banyak dengan Airin." Aldo memijat kepala dia yang terasa pusing.

"Ibu ini orang tua sehingga tidak mungkin berbohong untuk nasib anak sendiri, Airin mau menikah sebentar lagi." ujar Bu Hartini.

"Ya allah!" Aldo berlari keluar dari dalam rumah untuk mencari keberadaan Airin yang tadi berpamitan akan pergi ke warung.

Masih terngiang dalam telinga Aldo ketika Airin berkata banyak dan bahkan gadis itu juga memeluk dia dengan penuh kasih sayang, tidak peduli walau saat ini hujan mulai deras namun yang jelas Aldo segera keluar karena dia ingin menemui Airin yang sedang menuju warung.

Selamat siang besti, jangan lupa like dan komentar kalian semua ya.

Bab 3. Gaun berdarah

"Do, ngapain kamu berlari-lari seperti itu?" Airin menegur Aldo ketika adik dia berlari ketakutan setelah melihat sesuatu di pohon sawit.

"Eh enggak, Kakak mau ke mana malam-malam seperti ini?" Aldo agak kaget ketika bertemu dengan Airin di tengah malam.

"Kakak mau beli sesuatu dulu di warung sana, Kakak senang akhirnya kau pulang." Airin tersenyum manis ketika melihat Aldo yang tampan itu.

"Ya saja aku harus pulang karena Kakak sebentar lagi akan menikah." Aldo juga tersenyum.

"Do, nanti tolong jaga ibu dengan baik bila kamu sudah pulang ke rumah ya." Airin menatap Aldo dengan pandangan begitu sendu sekali.

"Ya tentu saja aku akan menjaga ibu dengan baik, bahkan Kakak juga tetap akan aku jaga walau sudah memiliki suami." jawab Aldo dengan sangat lantang.

"Semoga kamu hidup bahagia dan tidak ada masalah yang akan datang untuk ke depannya nanti, tidak perlu dicari dan tidak perlu membalas dendam." Airin menatap Aldo dengan pandangan yang semakin tajam.

Aldo sebenarnya tidak mengerti arah pembicaraan Airin mau menuju ke mana, namun ketika dia akan bertanya kembali Airin sudah bergegas pergi untuk menuju warung dan ingin membeli sesuatu, jadi Aldo tidak paham sehingga dia hanya bisa terbengong dengan kepergian Airin yang secara mendadak itu.

Sama sekali tidak ada firasat di dalam hati Aldo ketika dia berjalan pergi meninggalkan kawasan tersebut, dan ketika sampai di rumah dia harus mendapat kabar yang jauh lebih buruk ketika Hartini mengatakan bahwa Airin yang sudah tidak ada lagi di dalam rumah ini, sebab gadis itu menghilang ketika pernikahan akan dilakukan beberapa waktu lagi.

Aldo tidak bisa mempercayai ucapan dari Bu Hartini walau itu adalah orang tua dia sendiri, sebab dengan jelas mata kepala dia menyaksikan bahwa Airin masih hidup dan bertegur sapa dengan dia saat itu ketika dirinya akan menuju pulang ke rumah, maka tentu saja Aldo tidak bisa percaya dengan ucapan Bu Hartini.

Hartini juga segera mengejar Aldo karena dia tidak percaya bahwa sang anak baru saja bertemu dengan Airin, Airin saja sudah menghilang selama sebulan lebih jadi mana mungkin bisa bertemu dengan Aldo begitu saja, di dalam hati dia juga berharap bahwa Airin memang masih hidup dan tidak masalah bila gadis itu hanya akan pergi saja.

Sebagai orang tua tentu saja Hartini lebih baik untuk kehilangan anak ditinggal minggat seperti itu, dari pada harus kehilangan karena nyawa yang telah tiada. Hartini juga bingung kenapa mendadak saja Airin menghilang dari desa ini, kalau mau di bilang meninggal maka mayat juga tidak pernah di temukan.

"Warung mana yang Kakak tuju tadi?" Aldo bingung sendiri karena setelah dia mendatangi tempat itu sama sekali tidak ada warung.

"Kemana kamu akan pergi ini, Do?" Hartini ikut mengejar dan dia terkena hujan juga.

"Ibu diam saja di rumah biar aku yang mencari Kakak!" Aldo tidak mau bila Hartini nanti justru akan sakit.

"Do tolong dengar ibu sekarang, bagian sini tidak ada warung karena ini adalah area perkebunan sawit!" Hartini agak berteriak karena mulai sedih dan kesal.

"Tapi kakak tadi menuju arah sana dan mengatakan mau pergi ke warung untuk membeli sesuatu." Aldo tetap bersikeras.

"Aldo cukup!" bentak Bu Hartini Karena dia sudah tidak sanggup menahan kesedihan ini lagi.

Aldo menoleh dengan cepat dan mengusap wajah yang terkena oleh air hujan ini, baru sekarang Dia mendapat bentakan keras dari Bu Hartini karena selama ini wanita itu selalu saja diam dan tidak pernah banyak tingkah, bicara pun selalu lemah lembut bila terhadap anak dan baru sekarang dia membentak Aldo dengan suara yang menggelegar.

Hartini sendiri dia kebingungan karena tidak tahu harus menjelaskan bagaimana kepada Aldo, di sisi lain dia juga berharap bahwa Airin masih ada dan ketika Aldo malah menuju perkebunan sawit ini maka harapan untuk melihat Airin sudah lenyap di dalam diri wanita tersebut.

"Ayo kita pulang dan ibu akan tunjukkan semua bukti yang mengarah bahwa kakak mu itu sudah menghilang selama sebulan lebih." ajak Bu Hartini menarik tangan sang putra.

"Ta..tapi.

"Tidak ada kata tapi Dan tolong menurut apa yang Ibu katakan sekarang." Hartini tidak ingin dibantah.

Maka Aldo sudah tidak bisa menolak sama sekali sehingga dia memutuskan untuk menurut saja pulang ke rumah dan mengikuti apa kemauan dari Hartini ini, apa mungkin bila memang mereka memiliki pikiran masing-masing dan Aldo terkena sesuatu sehingga dia tetap percaya bahwa Airin tadi memang ada di hadapan dia.

Bahkan sepanjang perjalanan Aldo hanya terdiam saja karena pikiran dia Tengah berkecamuk dengan masalah yang sedang dia hadapi sekarang, melihat Hartini yang terus menangis dan seolah dia tidak berbohong sama sekali bahwa Airin telah menghilang lama dan tidak pernah bisa ketemu sampai saat ini.

Namun ketika akan percaya dengan fakta tersebut, batin Aldo terus membantah karena dia sendiri sudah bertemu dengan Airin ketika dalam perjalanan kemari. bila memang Airin menghilang lalu kenapa bisa bertemu dengan Aldo malam ini, bahkan dia juga sempat berbicara beberapa patah kata untuk meninggalkan pesan terhadap sang adik sehingga Aldo semakin ragu dengan pikiran yang muncul di dalam otak.

"Duduk dan Ibu akan memperlihatkan pada dirimu." Hartini membuka lemari yang ada di dalam kamar milik Airin.

"Ini kamar Kakak." Aldo berkata pelan dan tubuh dia saat ini basah karena terkena air hujan.

"Ini gaun pengantin milik dia, kami sekampung menemukan gaun ini ada di tengah jalan dan berlumuran dengan darah." Hartini membuka lemari kaca.

"Darah?!" Aldo kaget sekali mendengar ucapan dari Hartini.

"Ya, Ibu seakan mau pingsan ketika melihat gaun itu sudah berlumuran dengan darah dan penuh juga dengan robek ke sana dan kemari." Hartini berkata dengan pelan.

"Bu, apa arti ini semua? apa kakak sudah meninggal dunia!" Aldo mulai gemetar karena tidak bisa menerima fakta tersebut.

"Ibu juga tidak tahu saat ini Airin ada di mana dan bagaimana nasib dia, setiap hari Ibu menunggu dan menunggu agar dia segera pulang namun itu semua hanya harapan saja." lirih Bu Hartini dengan hati yang begitu perih sekali.

Aldo tertegun karena tidak tahu harus berkata apa lagi untuk menjawab masalah tersebut, apa memang Airin ini sudah meninggal dunia dan tidak ada lagi di dunia ini, kalau tadi siapa yang sudah berbicara dengan dia dan menitipkan Bu Hartini agar Aldo menjaga wanita tersebut dengan sangat baik dan penuh kasih sayang.

Selamat pagi, jangan lupa like dan komentar kalian semua ya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!