Indonesia
NovelToon NovelToon

Selingkuh Demi Keturunan, Suamiku Akhirnya Menyesal

Xena Masih Tidak Percaya

Rumah tanggaku harmonis karena sikap suami yang perhatian dan romantis padaku. Tapi tak disangka, akhirnya hancur karena diam-diam suamiku menikahi tetangga.

...🍓🍓🍓...

Namaku Xena. Aku menikah dengan seorang laki-laki yang sangat aku cintai bernama Reyhan. Dia adalah pria sederhana yang begitu perhatian padaku.

Selama membina rumah tangga bersamanya, tidak pernah sedikit pun aku merasa kecewa pada sikapnya, sebuah hal yang biasanya sering dikeluhkan oleh para istri tentang suami mereka. Ketulusan dan kelembutan Reyhan bahkan sampai membuat wanita-wanita lain merasa iri padaku.

Kata mereka, suamiku adalah tipe pria idaman. Dia selalu bersikap cuek dan menjaga jarak dengan wanita lain, tetapi kalau sudah dengan istrinya sendiri, manisnya bukan main.

Pernah suatu ketika, aku memiliki tetangga seorang wanita yang belum menikah bernama Nadine. Orangnya cantik, dan aku bertetangga baik dengannya. Nadine cukup sering berkunjung ke rumah kami untuk sekadar mengobrol atau berbagi makanan.

Selama interaksi itu, aku memperhatikan dengan jeli bagaimana sikap Reyhan. Dia tetap memperlakukan Nadine dengan biasa saja, bahkan cenderung cuek dan tidak terlalu meladeni hal-hal yang tidak penting. Hal itu membuatku merasa sangat aman dan dicintai.

Meskipun begitu, ujian ku ada satu, yaitu di mertua. Ibunya selalu memojokkanku karena kami belum dikaruniai anak. Reyhan selalu berada di garda terdepan untuk membelaku, alih-alih berpihak pada ibunya sendiri. Dia rela menentang sang ibu demi melindungiku dari kata-kata menyakitkan.

Melihat ketulusan dan keberaniannya dalam menjagaku, aku pun rela melakukan banyak pengorbanan untuk Reyhan. Apa pun akan kulakukan demi kebahagiaan pria yang selalu menjadikanku ratu di hidupnya ini.

Hingga akhirnya, setelah sekian lama menanti momongan, aku dan Reyhan memutuskan untuk memeriksakan kondisi kesuburan kami ke sebuah klinik infertilitas terkemuka. Kami menjalani serangkaian tes yang cukup menguras energi.

Hasil pemeriksaan baru keluar setelah kami menunggu beberapa jam di ruang tunggu yang dingin. Saat sedang menunggu hasil, ponsel Reyhan berdering. Dia tiba-tiba mendapat panggilan pekerjaan yang sangat mendesak dari kantornya dan harus segera pergi. Mau tak mau, aku harus tinggal dan menunggu hasil pemeriksaan tersebut sendirian.

Begitu amplop hasil pemeriksaan berada di tanganku, aku membukanya dengan jantung berdebar sekaligus penasaran. Seketika itu juga kenyataan pahit terungkap di depan mataku.

Berdasarkan lembar laboratorium, ternyata suamiku yang memiliki masalah kesuburan, sedangkan aku dinyatakan sehat-sehat saja dan normal.

Seketika rasa kasihan yang teramat sangat melingkupi hatiku. Logikaku berputar cepat, dibayangi oleh rasa tidak tega untuk memberitahukan hasil yang sebenarnya kepada Reyhan.

Bagaimana jika dia langsung down, merasa tidak berguna, dan menyalahkan dirinya sendiri atas garis keturunan kami yang belum berlanjut? Pria sebaik dia tidak pantas menerima pukulan batin seberat ini.

Dalam kepanikan dan rasa iba itu, sebuah ide gila terlintas di benakku. Apa aku tukar saja ya hasilnya, agar Reyhan tidak merasa minder? pikirku saat itu.

Saat aku sedang bimbang menatap dua lembar kertas di tangan, tiba-tiba ibuku menelepon. Beliau menanyakan bagaimana hasil pemeriksaan kami, karena sebelumnya aku sempat mengabari tentang agenda hari ini. Aku pun menjawabnya dengan jujur dan terbuka kepada ibu.

Aku bahkan menceritakan niatku untuk menukar hasil lab tersebut demi menjaga perasaan suamiku, meski di dalam hati kecil aku juga mengutarakan keraguan. Aku tahu betul konsekuensinya. jika hasilnya ditukar, nanti pengobatan medis tentu tidak akan tepat sasaran karena dokter akan mengobati orang yang salah.

Mendengar penjelasanku, di luar dugaan, ibuku menjawab begini, "Tukar saja. Tapi bukan karena tidak ingin laki-laki itu sedih atau minder. Kita lihat, apakah laki-laki pilihanmu itu benar-benar setia atau tidak."

Kalimat ibu terdengar sangat meremehkan Reyhan yang selama ini sudah terbukti setia di mataku. Tapi karena didorong oleh rasa cinta dan protektif yang berlebihan, aku tetap menukar hasil itu demi Reyhan, semata-mata agar dia tidak sedih, tidak minder, atau menjadi bahan olok-olok serta dikambinghitamkan oleh orang-orang di kemudian hari.

Aku rela menanggung beban sebagai pihak yang bermasalah di mata medis demi melindunginya.

Benar saja, saat Reyhan pulang dan aku memberitahunya dengan wajah sedih bahwa hasil pemeriksaanku yang kurang bagus sedangkan dia normal, responsnya sungguh menyentuh hati.

Reyhan langsung memelukku erat dan menguatkanku. Dia berbisik bahwa anak bukanlah segalanya dan dia tetap berada di sampingku. Perhatiannya tidak berubah sedikit pun, bahkan terasa semakin manis dan protektif. Aku merasa pengorbananku menukar kertas lab itu tidak sia-sia.

Tapi...

Semua kebahagiaan itu mendadak berubah ketika ibu mertuaku datang berkunjung tanpa diundang.

Begini ceritanya...

.

.

.

Selamat Membaca~

"Ibu tidak mau berbasa-basi lagi padamu, Xena. Kedatanganku ke sini hanya ingin memberitahukan sesuatu yang seharusnya kau ketahui sejak dulu. Reyhan telah menikah dengan Nadine, tetangga kalian yang pindah ke luar kota beberapa bulan lalu."

Xena membatin, betapa segigih ini ibu mertuaku hendak memisahkan kami dengan menyebar fitnah murahan.

"Bu, sudahlah hentikan. Aku tetap percaya dengan suamiku."

Si ibu mertua tertawa sumbang, "Kamu ini gimana sih. Dikasih tahu kok ngeyel! Kalau tidak percaya, kamu datanglah ke Kota Kelapa Muda, perum es campur. Kamu akan melihatnya sendiri dengan mata kepalamu di sana!"

"Reyhan sedang izin pergi ke luar kota padamu bukan?" lanjut ibu mertua.

"Iya, benar."

"Alasannya, dia bilang apa padamu?"

"Itu urusan pekerjaan, Bu."

"Hahaha, halah,Tahu tidak, Nadine sedang melahirkan bayi mereka sekarang. Tentu saja Reyhan saat ini sedang menemaninya. Akhirnya Reyhan bisa punya anak untuk meneruskan keturunan kami. Tidak seperti mu, yang dipelihara bertahun-tahun tapi tidak menetas juga."

"Anak itu urusan Tuhan, Bu."

Si ibu berdecak sinis, "Ck, kamu ini jawab saja bisanya. Xena, sebenarnya aku kasihan padamu karena sudah dibohongi bulat-bulat. Tapi karena Nadine punya karier cemerlang dan bahkan jabatannya lebih tinggi dari Reyhan, aku jadi suka dia saja yang jadi menantuku sekarang, ehehehe. Syukur-syukur kau bercerai dengan Reyhan setelah tahu kenyataan ini. Karena Nadine jelas lebih menjanjikan masa depan yang cerah buat Reyhan."

"Selama ini aku sudah menyuruhnya menceraikanmu, tapi Reyhan memang keras kepala dan selalu bilang tidak mau melepaskanmu."

Ibu mertua menjeda kalimatnya sejenak, lalu melanjutkan dengan nada sombong, "Reyhan itu lagi merintis karier dan pelan-pelan berangsur-angsur naik jabatannya. Kalau bisa sih, nanti diangkat jadi wakil direktur atau direkturnya sekalian, ahaha. Kalau sama Nadine, kan hal itu bisa cepat terjadi karena ada potensi dan jaringan. Sedangkan kamu... hadah, kerjaannya hanya di rumah saja, menerima semua uang suami secara cuma-cuma."

Mendengar ucapan terakhirnya, Xena meradang. Dia bilang aku menerima uang suami dengan cuma-cuma? Ck, dia tak tahu saja bahwa selama ini aku selalu menyokong kekurangan kebutuhan rumah tangga dengan uangku sendiri demi menjaga nama baik Reyhan agar tidak terlihat kesulitan di depan keluarganya.

Karena sudah tidak tahan lagi dengan suasana beracun ini, Xena berdiri dan menunjuk ke arah pintu. "Sebaiknya ibu pulang saja. Aku pusing mendengar ocehanmu."

"Dasar menantu durhaka! Siap-siap saja kau dicerai oleh putra kebanggaanku!" teriaknya tidak terima.

Ibu mertua yang bernama Mirna itu akhirnya didorong-dorong Xena agar segera keluar dari rumah. Setelah berhasil mengunci pintu dari dalam, Xena langsung memijat kepala.

Rasanya benar-benar pening dan berputar. Ibu mertuanya memang tidak pernah akur dengan Xena sejak awal pernikahan. Selalu ada saja bahan yang ia bahas yang sengaja diciptakan untuk membuatku kesal dan tidak betah.

Selama ini, untunglah Reyhan selalu memberikan perhatian penuh dan selalu memihak pada Xena saat ibunya mulai berulah. Itulah alasan utama yang membuat Xena bertahan dengan Reyhan. Karena prinsip Xena, rumah tangga itu dijalani berdua saja. Tak peduli dengan omongan atau gangguan dari orang lain, termasuk mertua sendiri.

Dan kini Mirna lagi-lagi mempengaruhinya agar dirinya bertengkar dengan Reyhan dan berharap bercerai. Tapi bagi Xena, Sory ye, tak mempan, dan Xena anggap itu hanya gangguan tak penting karena ia percaya pada Reyhan.

Tak lama hp nya berdering dapat panggilan dari teman lamanya yang mengabarkan bahwa ia baru saja pindahan ke kota Kelapa Muda, kawasan es campur. Xena diminta ke rumahnya untuk bersilaturahmi.

Maka ia pun bergegas pergi menghampiri tempat temannya, yang tanpa ia sadari alamatnya sama dengan yang sempat disebutkan ibu mertuanya tadi.

Bersambung.

Terpampang Di Depan Mata

Xena sudah sampai di kota Kelapa Muda, kawasan Es Campur. Ia hendak berkunjung ke rumah seorang teman lama seperti di telepon kemarin. Ia memegang HP lalu celingak-celinguk mencari nomor rumah yang tertera di sana. Langkahnya terhenti di sebuah persimpangan sepi.

Beberapa saat kemudian, dari kejauhan matanya bersirobok dengan kedatangan sebuah mobil yang tampak tak asing. Mobil itu berbelok dan berhenti tepat di depan pekarangan sebuah rumah bernuansa asri. Jantung Xena mencelos. Ia mempertajam pandangannya, memastikan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi.

Iya, itu benar. Nomor platnya pun sama persis. Itu mobil suaminya, Reyhan. Sedang apa Reyhan disini? Jantung Xena berdebar, jangan-jangan omongan Mirna sang ibu mertua benar.

Alih-alih memanggil, Xena justru memundurkan langkah, bersembunyi di balik rindangnya pohon dan mulai mengintai ke arah sana dengan napas yang tertahan.

Pintu kemudi terbuka. Keluarlah Reyhan, suaminya yang pamit untuk urusan pekerjaan luar kota. Tak lama kemudian, pintu penumpang sebelah kiri terbuka. Sosok wanita keluar dari sana. Itu Nadine. Wanita yang dulu merupakan tetangga dekat mereka.

Namun bukan hanya kehadiran Nadine yang membuat dunia Xena seolah runtuh, melainkan apa yang ada di dekapan wanita itu. Nadine tengah menggendong seorang bayi yang tampaknya baru lahir.

Pemandangan berikutnya mencabik-cabik dada Xena. Reyhan dengan sangat gercep langsung mengambil alih bayi tersebut dari gendongan Nadine. Wajah suaminya begitu sumringah. Mereka berdua berdiri di halaman rumah saling melempar senyam-senyum bahagia, layaknya sepasang orang tua baru yang sedang menyambut malaikat kecil mereka.

Xena terpaku di tempatnya berdiri. Kakinya terasa seperti tertanam ke dalam beton. Ia membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan, menahan jeritan tak percaya yang nyaris lolos dari tenggorokannya. Air mata kekecewaan mulai menggenang di pelupuk mata.

Jadi benar apa yang dikatakan Bu Mertua kemarin.

Sambil terus memperhatikan interaksi manis di depan sana, luka di hati Xena berubah menjadi bahan bakar keberanian. Dengan langkah sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara, dia pun melangkah mendekat menuju rumah tersebut.

Xena kini sudah berada di jarak yang cukup dekat, menyelinap di antara tanaman hias di samping rumah. Eksistensinya sama sekali belum diketahui oleh Reyhan maupun Nadine yang sudah masuk ke dalam ruang tamu.

Di balik jendela kaca yang sedikit terbuka, Xena mengintai mereka dalam diam. Dadanya sesak namun ia usahakan untuk tetap berdiri tegar. Ia mengendalikan emosinya agar tidak bertindak gegabah terlebih dahulu. Ia ingin mendengar semuanya. Ia ingin tahu seberapa jauh ia telah dibodohi.

"Mas Reyhan, kamu berapa lama lagi tinggal di sini?" tanya Nadine. Wanita itu duduk di samping Reyhan di atas sofa dengan anggun.

"Besok aku harus kembali ke rumah," jawab Reyhan sambil menimang bayi di pelukannya. "Aku tidak mau meninggalkan Xena terlalu lama. Bagaimanapun juga, aku harus pintar membagi perhatianku padanya agar dia tidak menaruh curiga."

Nadine tersenyum tipis. Ia bergeser mendekat ke arah Reyhan, mengelus lembut kepala sang bayi yang masih nyaman di dalam gendongan suaminya dengan tatapan penuh sayang.

"Nadine, bayi ini pekan depan akan kubawa kepada Xena," kata Reyhan tiba-tiba, membuat Xena di luar jendela menahan napas. "Aku akan bilang kalau ini anak adopsi. Jika kau mau menemaninya barang sebentar di sana, aku bisa atur skenarionya."

"Baik, Mas. Tapi nanti aku kabarkan lagi jika aku menyusul ke sana. Pasti aku akan rindu sekali dengan anak kita jika baru sebentar saja ditinggal olehnya."

"Baiklah. Tapi Nadine, mulai sekarang kau harus belajar untuk melupakanku sebagai seorang suami. Suatu saat nanti aku akan mengakhiri hubungan pernikahan kita ini. Jika kau rindu pada anak kita, datang saja ke rumahku nanti, anggap saja sebagai silaturahmi antar tetangga lama. Bagaimana pun, kau tetap ibu kandungnya, meskipun nanti aku akan membuat anak ini secara sah menjadi anakku bersama Xena. Jangan khawatir, aku tetap akan membiayai seluruh kebutuhan hidupmu sebagai kompensasi."

Tidak akan kubiarkan hal itu terjadi. batin Nadine.

"Mas," Nadine tiba-tiba menggenggam erat tangan Reyhan. "Kalau aku boleh meminta, tolong jangan diakhiri hubungan kita. Aku tidak masalah jika harus hidup berjauhan seperti ini, asalkan statusku tetap sebagai istrimu."

"Tapi aku tidak mau pisah dengan Xena, Nadine. Aku tidak mau kehilangannya. Hal rahasia seperti ini, jika dibiarkan terlalu lama, pasti lambat laun akan tercium juga olehnya," sahut Reyhan ragu.

Nadine mengusap lengan Reyhan. "Mas, aku tahu kau sangat menyayangi Mbak Xena, dan aku sama sekali tidak berniat menghalangi atau merusak itu. Aku hanya ingin kita tetap seperti ini saja, tak putus hubungan. Aku janji, Mas, aku akan menjadi istri kedua yang penurut dan tidak akan banyak menuntut bagimu."

"Lalu... bagaimana jika sampai ketahuan oleh Xena?" tanya Reyhan, pertahanannya mulai goyah.

Nadine menjawab dengan keyakinan penuh, "Kita bikin Mbak Xena tidak pernah tahu. Selamanya."

Reyhan terdiam sejenak. Ia mengalihkan pandangannya pada bayi mungil yang sedang tertidur pulas di pelukannya, lalu beralih pada wajah manis Nadine.

Otaknya mulai menimbang-nimbang. Pikirannya berkata bahwa tidak ada salahnya jika ia tidak menceraikan Nadine. Toh, selama ini Nadine selalu penurut dan bisa diajak berkompromi dalam menyembunyikan rahasia ini.

Akhirnya Reyhan mengangguk pelan sambil tersenyum setuju. "Kau benar. Kita jalani saja seperti ini."

Di luar jendela Xena menyudahi rekaman pengintaiannya. Ia tidak sanggup lagi mendengar kelanjutan sandiwara menjijikkan itu. Ia melangkah mundur meninggalkan rumah itu dengan dada yang bergemuruh.

Xena mengepalkan kedua tangannya. Ia merasa sangat bodoh. Rasa kecewa yang amat dalam menghujam jantungnya. Padahal selama ini ia sudah mengorbankan begitu banyak hal untuk laki-laki bernama Reyhan itu.

Sungguh, Xena sama sekali tidak menyangka jika suami yang selalu bersikap manis dan penuh perhatian di rumah, ternyata memiliki borok yang begitu busuk di belakangnya. Sikap hangat dan perhatian yang selama ini ia terima, ternyata hanyalah kedok.

Xena tersenyum kecut di tengah linangan air matanya yang mulai luruh. Sungguh ironis. Di saat ia mati-matian membela-belain mencukupi diam-diam kebutuhan rumah tangga mereka dan juga membiayai orang tua Reyhan, di belahan kota lain ternyata ada wanita lain yang selalu disokong uang secara royal oleh suaminya.

Reyhan mungkin berpikir bahwa uang bulanan yang ia berikan pada Xena sudah lebih dari cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan rumah. Padahal kenyataannya tidak pernah cukup.

Selama ini, diam-diam Xenalah yang menutupi segala kekurangan itu dengan uang pribadinya. Bahkan yang membiayai seluruh pengobatan Ibu Mirna, ya, ibu mertuanya sebenarnya sedang sakit dan harus menjalani berobat jalan secara rutin, adalah Xena, menantu yang sekarang dikhianati ini.

Reyhan tidak pernah tahu bahwa uangnya itu tidak ada apa-apanya dibanding pengorbanan finansial dan batin yang Xena lakukan. Sudah bela-belain menentang orangtua sendiri demi bisa hidup dengan Reyhan, ternyata ini yang ia terima.

Xena berjalan cepat menjauhi kawasan Es Campur. Ia berkutat dengan HP dan menelpon ibunya.

"Hallo, Mam. Xena mau bilang, Xena akan pulang ke rumah. Xena akan menuruti semua kemauan Papi dan Mami"

Di seberang telepon sang ibu terdengar sangat senang. Akhirnya putri kesayangannya sadar dari kebutaan cintanya.

"Syukurlah, Mami senang sekali mendengarnya. Nanti kau akan langsung dijemput oleh supir ke sana, ya?"

"Nanti dulu, Mam. Xena memang akan pulang, tapi setelah semua urusan Xena di sini selesai. Ada beberapa hal yang harus Xena bereskan terlebih dahulu sebelum pergi dari sini."

Setelah memutuskan sambungan telepon, Xena menghapus sisa air mata di pipi. Xena yang dulu, yang mencintai Reyhan secara ugal-ugalan dan tanpa logika, telah mengorbankan masa depan, uang, dan harga dirinya demi laki-laki itu, sudah tidak ada lagi sekarang.

Kini, dia sudah tahu bahwa seluruh pengorbanan tulusnya telah dikhianati dengan cara yang paling hina. Maka sebelum semuanya terlambat, Xena bersumpah akan membereskan semua aset, menarik seluruh bantuan finansial, dan mengambil kembali apa yang sudah ia persiapkan untuk masa depan Reyhan sebagai kejutan.

Laki-laki pengkhianat dan wanita simpanannya itu tidak boleh mendapatkan satu peser pun dari hasil keringatnya. Xena akan memastikan Reyhan tak akan mendapatkan apapun darinya, sebelum ia benar-benar pergi dan menutup buku dalam hidup pria itu.

Bersambung.

Bertemu Tetangga Lama

Reyhan melangkah masuk ke dalam rumah dengan wajah yang berbinar bahagia. Oleh-oleh pun ia bawa sampai beberapa tentengan.

Xena yang sampai lebih dulu menyambutnya seperti biasa, mengambil tentengan hadiah. Perhatian Reyhan sama sekali tidak berubah, masih sehangat dulu. Pria itu mendekat, menatap istrinya dengan binar penuh kasih sayang.

Bahkan belum sempat melepas lelah, Reyhan langsung menghampiri Xena dengan antusias. "Sayang, hari ini kita jalan-jalan, yuk? Kamu mau beli barang apa? Bilang saja, biar aku belikan sekarang. Atau kamu lagi ngidam makan apa? Kita makan di luar ya hari ini. Pokoknya hari ini waktu kita buat jalan-jalan," ajak Reyhan dengan senyum lebar.

Xena yang sebenarnya sudah mengetahui rahasia besar suaminya, berlaku tetap tenang. Ia tersenyum tipis lalu mengangguk mengiyakan. Sambil bersiap-siap, Xena mulai memancing obrolan.

"Gimana pekerjaan kamu beberapa hari ini, Rey? Semuanya aman?" tanya Xena menatap lurus ke dalam manik mata suaminya.

"Aman, Sayang. Semuanya berjalan dengan sangat lancar."

Berjalan lancar ya? Kita lihat saja nanti, setelah ini apakah semuanya masih bisa berjalan selancar jalan tol, atau justru mandek seperti jalan berlubang.

Mereka pun pergi. Sepanjang persiapan hingga perjalanan, Reyhan begitu repot menyiapkan segala keperluan Xena. Perhatiannya tidak luput sedikit pun memastikan sang istri merasa nyaman.

Tepat ketika mereka baru saja hendak masuk ke dalam mobil setelah singgah sebentar, Xena tiba-tiba menghentikan langkahnya dan mengutarakan keinginannya.

"Reyhan, sepertinya hari ini aku ada perlu. Astaga, aku sampai lupa sekali kalau punya janji penting. Apa kamu bisa menemaniku ke sana sebentar?" tanya Xena dengan raut wajah pura-pura panik.

Reyhan yang telanjur berjanji akan menuruti semua kemauan istrinya langsung mengangguk. "Baiklah. Memangnya kamu mau kemana, Sayang?"

"Mau ke rumah teman. Alamatnya di Kota Kelapa Muda."

Mendengar nama kota itu, senyum Reyhan sempat membeku sesaat. Alamat yang disebutkan Xena adalah wilayah tempat tinggal istri keduanya. Tapi karena kata-katanya sendiri yang mengunci posisinya, Reyhan tidak bisa menolak.

Dengan perasaan yang mulai tidak tenang, ia terpaksa melajukan mobilnya ke sana.

Sesampainya di kota yang dimaksud, mereka turun dari mobil. Xena langsung melangkah memimpin jalan.

Arah langkah kaki Xena benar-benar membuat jantung Reyhan berdegup tak karuan. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Reyhan dirundung rasa harap-harap cemas yang luar biasa. Ia sangat takut jika Xena sampai bertemu dengan Nadine, mantan tetangga mereka. Apalagi jika saat bertemu nanti Nadine sedang menggendong seorang bayi. Tamat sudah riwayatnya. Rencana besarnya untuk membawa bayi itu kepada Xena akan hancur total karena Xena pasti akan tahu bahwa itu adalah anak Nadine.

Panik, Reyhan berusaha mengalihkan perhatian Xena. "Sayang, di mana sih memangnya rumah temanmu itu? Apa masih jauh? Aku takut kamu kecapekan kalau jalan terus seperti ini."

"Tidak apa-apa, Reyhan. Kakiku masih sangat kuat."

Xena sengaja memperlambat langkah, menikmati setiap detik kepanikan suaminya. Ia tahu betul ia sedang memainkan adrenalin Reyhan, membiarkan pria itu tersiksa dalam ketakutan yang ia ciptakan sendiri.

Ketika langkah mereka sudah semakin dekat, hanya menyisakan sedikit jarak lagi dari rumah Nadine, ponsel Xena tiba-tiba bergetar. Xena pura-pura mengangkat telepon tersebut, mendengarkan sesaat, lalu berbicara dengan nada kecewa yang dibuat-buat.

"Oh, begitu ya? Sayang sekali. Ya sudah kalau memang kegiatannya tidak jadi hari ini."

Xena menutup ponselnya, lalu berbalik menatap Reyhan. Begitu mendengar kata tidak jadi, Reyhan langsung mengembuskan napas lega yang amat panjang.

Xena yang menyadari perubahan drastis itu langsung bertanya, "Kamu kenapa, Rey? Kok seperti ada yang dicemaskan?"

Reyhan tersentak, bicaranya mendadak gagap. "Ah? Ti-tidak... tidak apa-apa. Aku hanya... hanya sedikit lelah. Ayo cepat kita kembali ke mobil, lalu pergi dari sini sekarang," ajaknya terburu-buru sambil menarik lembut tangan Xena.

Xena tidak langsung melangkah, ia menahan tubuhnya. "Memangnya kenapa, Reyhan? Kok buru-buru sekali? Kalau terburu-buru nanti aku tersandung."

"Aku gendong, yuk."

"Nggak ah, ada-ada saja aku segala pakai digendong. Nanti kamu keberatan. Lagian kenapa kamu seperti buru-buru gitu sih?"

"Nggak apa-apa, Sayang. Hanya saja aura di sekitar sini rasanya negatif, hehe. Ayo, kita lanjut jalan-jalan ke tempat lain saja."

"Jalan-jalannya nanti saja deh, Rey. Karena pembatalan sepihak dari temanku tadi, mood-ku langsung memburuk. Kita pulang saja, tak apa kan?"

Meskipun kecewa karena rencana menyenangkan istrinya gagal, di sisi lain Reyhan merasa sangat bersyukur karena terbebas dari ancaman rahasianya terbongkar.

"Iya, tidak apa-apa, Sayang. Kita pulang ya," jawab Reyhan, berusaha menunjukkan sikap pengertiannya.

Baru saja mereka membalikkan badan untuk melangkah pergi, Xena tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berteriak kecil, "Eh, itu kan tetangga kita yang lama, Nadine! Ternyata dia pindah ke sini rupanya!" Xena langsung menghampiri Nadine yang tampak terkejut, memaksa sebuah obrolan singkat terjadi di antara mereka.

Reyhan yang mendadak diserang kepanikan luar biasa hanya bisa memasang wajah cuek dan sedatar mungkin untuk menutupi detak jantungnya yang berdegup ugal-ugalan. Ia mati-matian berdoa agar Xena tidak menyadari keberadaan sang bayi.

Beruntung, Nadine yang memang berada di pihak Reyhan langsung tanggap. Ia sengaja menahan diri di ambang pintu untuk menyembunyikan bayinya di dalam rumah, lalu dengan cepat beralasan hendak pergi terburu-buru agar Xena dan Reyhan tidak mampir ke dalam.

"Eh, Nadine. Kamu Nadine, kan? Astaga, ternyata kamu pindah ke sini rupanya."

"Eh... Mbak Xena? Iya, Mbak, saya pindah ke sini," jawab Nadine.

"Wah, kebetulan banget ya bisa ketemu di sini. Gimana kabarnya? Kok pindah gak bilang-bilang sih, padahal kita kan tetanggaan lumayan lama. Oh ya, gimana kalau kita ngobrol di dalam? Kebetulan aku lagi santai," ajak Xena sengaja memancing, matanya melirik tajam ke arah pintu rumah Nadine yang tertutup rapat.

"Aduh, maaf banget ya, Mbak Xena, Mas Reyhan. Bukannya saya gak mau nemu, tapi ini saya kebetulan udah telat banget mau pergi ada urusan penting di luar. Rumah juga lagi berantakan banget, gak enak kalau Mbak Xena masuk."

"Oh, gitu ya? Sayang banget deh. Ya sudah kalau memang kamu lagi buru-buru, kapan-kapan kita sambung lagi ya obrolannya."

"Iya, Mbak, maaf banget ya. Terima kasih sudah mampir."

Siasat itu berhasil, dan Xena akhirnya mengajak Reyhan untuk menyudahi obrolan lalu berjalan lebih dulu menuju mobil.

Tepat ketika punggung Xena sudah berbalik membelakangi mereka, Nadine memanfaatkan kesempatan dengan sengaja menyentuh lembut telapak tangan Reyhan.

Hati-hati di jalan Mas. Begitulah gerak bibir Nadine tanpa suara memberi isyarat perhatian kepada Reyhan..

Reyhan hanya mengangkat kedua alis sebagai bentuk respon.

Sedangkan Xena, ia yang berada di depan mereka, tengah melihat adegan itu dibalik cermin. Ternyata begitu asli Reyhan dibelakangku. Batin Xena mendecih.

Bersambung.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!