Teng! Teng! Teng!
Bel pelajaran pertama berbunyi, memotong obrolan pagi yang seru di meja Hana.
"Gue balik dulu, ntar kita terusin di jam istirahat," ujar Sephia cepat, lalu beranjak sebelum guru masuk.
Tak berselang lama, pintu kelas terbuka. Pak Anto masuk seperti biasa, tegas, rapi, dan langsung bikin suasana berubah. Tapi hari ini ada yang beda.
Seorang cowok berjalan di belakangnya.
Tinggi. Rambutnya rapi. Dan entah kenapa... semua orang langsung memperhatikan.
Beberapa cewek di belakang mulai berbisik.
Tok.
Penggaris kayu di ketukan ke meja. Kelas langsung diam.
" Hari ini kita kedatangan murid baru dari Jakarta . Silahkan perkenalkan diri."
Sephia menopang dagu, menatap ke depan tanpa sadar.
Ada yang aneh.
Bukan cuma karena dia baru...tapi rasanya seperti sesuatu baru saja di mulai.
Cowok itu berdiri tegak di depan kelas, menatap ke sekeliling dengan ekspresi tenang.
"Nama saya Alan Pradipta. Asal saya dari Jakarta," ucapnya memperkenalkan diri. Suaranya terdengar berat dan cowok banget, membuat beberapa siswi di belakang kompak menahan senyum.
Sephia masih bergeming di kursinya, terus memperhatikan Alan. Tepat saat itu, Alan mengedarkan pandangannya ke barisan tengah, dan tak sengaja mata mereka saling bertemu.
Untuk beberapa detik, waktu seakan berhenti sejenak.
Sephia terpaku. Ada rasa hangat yang aneh yang dia tangkap dari cara cowok itu menatapnya. Tatapan yang entah kenapa langsung mengunci fokus Sephia, seolah seisi kelas yang bising mendadak senyap.
"Pia... Suttt... Pia..."
Bisikan setengah mendesis itu membuat Sephia tersentak. Sihir di matanya langsung buyar. Dia menoleh ke meja sebelah, mendapati Hana yang sedang mencondongkan badan ke arahnya dengan mata berbinar-binar penuh arti.
"Lo kenal?" tanya Hana pelan, matanya memberi kode dengan melirik ke arah Alan di depan.
Sephia hanya menggelengkan kepala. "Enggak," jawabnya tanpa suara, hanya lewat gerakan bibir untuk menegaskan kalau dia sama sekali tidak tahu siapa cowok itu.
Melihat perkenalan singkat itu sudah cukup, Pak Anto mengedarkan pandangan ke sekeliling kelas, mencari bangku yang belum berpenghuni.
"Alan, kamu bisa duduk di kursi kosong," perintah Pak Anto sambil menunjuk ke sudut kelas.
"Baik, Pak. Terima kasih," jawab Alan sopan. Dia langsung melangkah menyusuri lorong meja, melewati barisan Sephia, lalu meletakkan tasnya di bangku yang ditunjuk.
Pak Anto kemudian berbalik menghadap papan tulis dan mengambil spidol. "Buka buku paket kalian halaman empat puluh dua. Kita lanjutkan materi minggu lalu."
Pelajaran pertama pun dimulai. Namun bagi Sephia, suasana kelas hari ini mendadak terasa berbeda, seolah ada magnet baru di pojok belakang yang diam-diam menyedot perhatiannya.
Dua jam pelajaran matematika yang menguras otak akhirnya selesai. Pak Anto keluar kelas, meninggalkan papan tulis yang penuh dengan angka. Seisi kelas langsung mengembuskan napas lega. Namun, mereka tidak bisa bersantai lama karena setelah ini adalah jam pelajaran Bahasa Indonesia bersama Bu Ningsih yang terkenal tepat waktu.
Sebelum Bu Ningsih masuk, Hana langsung melesat dari kursinya dan menghampiri meja Sephia.
"Ganteng ya, Pi!" ucap Hana tanpa basa-basi sambil menyenggol pelan lengan Sephia.
Sephia yang sedang merapikan buku cetak matematikanya mengernyit. "Siapa?" tanyanya, benar-benar belum mudeng karena pikirannya masih agak pusing gara-gara rumus aljabar.
"Anak baru itu, si Alan," ucap Hana gemas melihat kelambatan respons sahabatnya.
"Ooh..." Sephia menoleh sekilas ke arah pojok belakang dekat pintu, tempat Alan sedang sibuk sendiri dengan ponselnya. "Biasa aja, sih."
"Bohong banget lo! Orang tadi aja lo ngelihatinnya sampai enggak kedip," tembak Hana. Suaranya kali ini agak sedikit kencang diikuti kekehan meledek, membuat Sephia panik dan refleks membekap mulut Hana dengan telapak tangannya.
"Hana, kecilin suara lo!" bisik Sephia tegang, takut kalau omongan Hana barusan kedengaran sampai ke bangku belakang.
Hana malah makin terkekeh melihat reaksi sahabatnya. "Kenapa muka lo jadi merah gitu, Pi?" tanyanya lagi, sengaja dengan volume suara yang agak kencang.
Pipi Sephia terasa makin panas. "Apaan sih lo! Udah, sana balik ke meja lo!" ucap Sephia ketus, campur aduk antara kesal dan malu karena terus-terusan diledek.
Puas menggoda Sephia, Hana tertawa pelan lalu melangkah kembali ke bangkunya sendiri tepat saat langkah kaki terdengar dari arah koridor.
Bu Ningsih masuk ke kelas dengan membawa beberapa buku tebal. Suasana kelas yang tadinya bising langsung kondusif dalam sekejap. Beliau meletakkan tasnya di meja guru, menyapa murid-murid, dan langsung memulai pelajaran tanpa banyak membuang waktu.
Sephia mencoba fokus pada penjelasan Bu Ningsih di depan. Namun, sudut matanya entah kenapa beberapa kali secara tidak sadar tetap melirik ke arah pintu belakang ke arah bangku cowok asing bernama Alan itu duduk.
Jarum jam dinding di atas papan tulis menunjukkan bahwa waktu istirahat tinggal beberapa menit lagi.
"Ada siswa baru ya di kelas ini?" tanya Bu Ningsih sambil merapikan tumpukan kertas di mejanya sebelum menutup pelajaran hari itu.
"Iya, Bu," jawab ketua kelas dari bangku depan.
"Yang mana orangnya?" tanya Bu Ningsih lagi, mengedarkan pandangan ke sekeliling kelas.
Alan langsung berdiri dari kursinya di pojok belakang, membuat atensi kelas kembali terpusat padanya. "Nama saya Alan, Bu," ucapnya sopan.
Tepat setelah Alan bersuara, bel istirahat berbunyi nyaring. Seisi kelas kompak mengembuskan napas lega, bersiap untuk menyerbu kantin.
"Oke, pelajaran hari ini selesai dan kita sambung minggu depan," kata Bu Ningsih. Namun, sebelum melangkah keluar, beliau menunjuk tumpukan buku tebal di mejanya dan menatap Alan. "Oh iya, Alan. Tolong sekalian bawakan buku-buku ini ke ruang guru, letakkan di meja Ibu. Biar kamu juga sekalian hafal ruangan-ruangan di sekolah ini."
"Baik, Bu," jawab Alan.
Bu Ningsih mengangguk puas lalu keluar kelas terlebih dahulu, meninggalkan Alan yang kini melangkah maju ke depan kelas untuk mengambil tumpukan buku tersebut.
Seperti murid-murid lainnya, Sephia dan Hana pun bergegas merapikan alat tulis mereka untuk menuju ke kantin. Perut mereka sudah sama-sama demo minta diisi.
Namun, baru saja mereka melangkah mendekati pintu kelas, sebuah suara berat dari arah belakang tiba-tiba menginterupsi.
"Permisi..." sapa Alan, yang kini sudah berdiri di dekat meja guru sambil memeluk tumpukan buku paket yang cukup tebal.
Sephia dan Hana refleks menghentikan langkah lalu berbalik.
"Ruang guru arahnya ke mana, ya?" tanya Alan, menatap bergantian ke arah mereka berdua dengan ekspresi bingung.
Mendengar pertanyaan itu, mata Hana langsung berbinar nakal. Dia merasa ini adalah kesempatan emas untuk membuat Sephia bisa berdekatan dengan anak baru itu.
"Eh... Pia, aduh, gue ke toilet dulu deh! Kebelet!" ucap Hana asal, lalu tanpa menunggu jawaban, dia langsung ngacir keluar kelas begitu saja.
"Eh? Ih, Hana! Ampun deh tuh anak!" teriak Sephia kesal. Dia menatap punggung Hana yang menjauh dengan gemas.
Begitu menoleh kembali ke depan, Sephia langsung mati kutu. Dia mendadak kikuk saat menyadari kini hanya tinggal dirinya dan Alan yang berdiri di dekat pintu. Tatapan Alan yang lurus ke arahnya membuat Sephia mendadak lupa cara bernapas dengan santai.
"Jadi... arahnya di mana?" tanya Alan lagi, memecah kecanggungan.
Sephia terdiam sebentar, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang tiba-tiba berpacu cepat. Dia menarik napas pelan sebelum menjawab.
"Lo dari sini belok kanan," ucap Sephia sambil menunjuk ke arah koridor luar. "Terus nanti ada pertigaan, lo belok kiri. Lurus aja terus ke pojok sampai ujung koridor. Di situ ruang gurunya, ada tandanya kok di atas pintu."
Melihat Sephia yang tampak tegang, sudut bibir Alan perlahan terangkat. Cowok itu tersenyum tipis. Entah kenapa, dia merasa ekspresi wajah gadis di depannya ini terlihat lucu dan menggemaskan saat sedang panik.
Setelah selesai menjelaskan rutenya dengan cepat, Sephia langsung bersiap-siap untuk kabur. Dia benar-benar ingin segera pergi dari situasi canggung ini sebelum Hana kembali dari toilet dan makin meledeknya.
"Kalau gitu... gue pergi duluan, ya," pamit Sephia buru-buru.
Dia memutar tubuh dan baru saja akan melangkahkan kaki melewati ambang pintu kelas. Namun, belum sempat kakinya menapak di koridor, suara Alan kembali menahannya.
"Gimana kalau lo anterin gue aja ke ruang guru?"
Langkah Sephia langsung terhenti seketika.
"Habis itu kita bareng ke kantin, gue juga laper," sambung Alan santai.
Kata-kata itu sukses membuat mata Sephia terbuka lebar. Dia berbalik lambat-lambat dengan raut wajah syok. Sephia benar-benar tidak menyangka cowok asing yang baru beberapa jam lalu pindah ke sekolah ini akan mengucapkan kalimat seberani itu kepadanya.
Mengantar ke ruang guru? Lalu jalan bareng ke kantin berdua?
Otak Sephia mendadak macet. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Alan berdiri di sana sambil memeluk buku, menatapnya lurus dengan senyuman santai, menunggu jawaban seolah ajakan barusan adalah hal yang biasa bagi mereka.
Pada akhirnya, Sephia tidak bisa menolak. Masuk akal juga, sih, Alan kan anak baru yang benar-benar buta rute sekolah ini. Mau tidak mau, Sephia mengangguk pasrah, meskipun dalam hati dia sudah bisa membayangkan betapa hebohnya gosip yang akan berseliweran di koridor jika mereka terlihat berjalan berduaan.
Mereka pun mulai berjalan beriringan menyusuri koridor kelas sebelas menuju ruang guru. Langkah kaki mereka ritmis, ditemani kecanggungan yang sempat menggantung di udara.
"Nama lo siapa?" tanya Alan tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka.
"Sephia. Tapi biasa dipanggil Pia," jawab Sephia dengan nada sedatar mungkin.
Aslinya, ada letupan senang yang menggelitik dadanya karena si anak baru tampan ini menanyakan namanya. Namun, Sephia sengaja memasang wajah tembok demi menekan gosip-gosip tidak penting yang malas dia ladeni nanti.
Sambil melirik situasi koridor yang mulai ramai oleh murid lain, Sephia langsung mencari cara agar kebersamaan mereka tidak kebablasan sampai ke kantin.
"Oh ya, Lan. Habis nganter lo ke ruang guru, gimana kalau lo ke kantinnya sendiri aja? Dari sana rutenya tinggal lurus doang, kok," ucap Sephia menawarkan opsi aman bagi reputasinya.
"Kenapa?" tanya Alan, menoleh dan menatap Sephia seolah benar-benar butuh penjelasan.
Pertanyaan singkat itu langsung membuat Sephia mentok. Otaknya mendadak buntu, bingung harus menjawab apa. Ini pertama kalinya dia diinterogasi secepat ini oleh cowok yang baru dikenal beberapa jam. Tidak mungkin, kan, dia jujur kalau dia takut digosipkan?
"Ya... enggak apa-apa, sih," jawab Sephia akhirnya, terdengar sangat tidak meyakinkan bahkan di telinganya sendiri.
"Lo gak nyaman jalan sama gue?" tanya Alan lagi. Kali ini nadanya terdengar lebih dingin.
Nah, kan... Pia! Lo mau jawab apa coba sekarang? Sephia merutuki kebodohannya dalam hati.
Sebelum Sephia sempat membuka mulut untuk meluruskan keadaan, langkah kaki Alan tiba-tiba berhenti tepat di belokan koridor yang sudah dekat dengan ruang guru.
"Udah, sampai sini aja. Makasih, ya," ucap Alan ketus.
Tanpa menunggu balasan dari Sephia, cowok itu langsung memutar tubuh dan berjalan cepat, lurus ke arah pintu ruang guru yang tinggal beberapa meter lagi.
Sephia terpaku di tempatnya berdiri, menatap punggung Alan yang menjauh dengan perasaan campur aduk.
Tuh, kan, Pia... dia ngambek! batin Sephia frustrasi. Niat hati ingin menghindari gosip, sekarang dia malah sukses membuat anak baru itu tersinggung di hari pertamanya sekolah.
Sephia akhirnya memutar tubuh dan bergegas melangkah menuju kantin.
Dah lah, bodo amat sama anak baru itu! batinnya ketus.
Meskipun mulutnya berkata begitu, ada rasa kesal yang mengganjal di dadanya, bercampur dengan sedikit rasa bersalah yang tidak bisa dia pungkiri. Niatnya kan baik, kenapa malah berakhir jadi canggung begitu?
Setibanya di kantin yang super ramai dan bising, mata Sephia langsung mengedar mencari keberadaan sahabatnya. Benar saja, Hana sudah duduk manis di salah satu meja kosong yang letaknya tepat di dekat gerobak tukang bakso langganan mereka.
Begitu melihat Sephia datang, Hana langsung melambaikan tangannya dengan heboh.
"Gimana? Sukses?" tanya Hana langsung saat Sephia baru saja mendaratkan bokongnya di kursi. Matanya berbinar-binar penasaran.
"Gila ya lo! Udah ah, gue laper!" jawab Sephia ketus sambil cemberut.
Hana langsung melongo bingung. Dia mengernyit, mencoba membaca situasi. Kenapa niat baiknya membantu Sephia malah dibalas dengan marah-marah begini? Hana jelas butuh penjelasan.
Namun, Sephia memilih diam dan mengabaikan tatapan kepo sahabatnya. Dia langsung berdiri untuk memesan semangkuk bakso, sengaja menghindari interogasi Hana karena dia sendiri masih bingung harus merasa kesal pada Alan atau pada dirinya sendiri.
Setelah menghabiskan baksonya tanpa banyak bicara, Sephia dan Hana akhirnya kembali ke kelas karena bel masuk sudah berbunyi.
Sepanjang jalan menuju bangkunya, Sephia mati-matian menahan pandangannya agar tidak melirik ke pojok belakang kelas. Dia sengaja menatap lurus ke depan, berpura-pura sibuk dengan tali sepatunya yang sebenarnya tidak lepas. Di sudut lain, Alan yang duduk tenang di kursinya justru memperhatikan gerak-gerik kikuk gadis itu dengan tatapan datar yang sulit diartikan.
Pelajaran selanjutnya adalah Sejarah bersama Bu Siska. Beruntung bagi Sephia, materi yang padat dan suasana kelas yang tenang membuat fokusnya teralihkan. Waktu berjalan seperti biasa hingga bel pulang sekolah yang dinanti-nanti akhirnya berdering nyaring.
"Pia, gue duluan ya! Nyokap gue udah nungguin di depan," pamit Hana begitu mereka sampai di gerbang sekolah.
"Oke, hati-hati Han," jawab Sephia melambaikan tangan.
Karena rumahnya berada di area kompleks yang tidak terlalu jauh dari sekolah, Sephia terbiasa berjalan kaki untuk berangkat dan pulang. Dia mulai menyusuri trotoar jalanan kompleks yang cukup sepi siang itu.
Namun, baru berjalan sekitar sepuluh menit, perasaan Sephia mulai tidak enak. Dia mendengar suara langkah kaki konstan di belakangnya. Sephia melirik tipis dari sudut matanya.
Deg.
Itu Alan. Cowok itu berjalan beberapa meter di belakangnya dengan tangan dimasukkan ke saku celana.
Jantung Sephia langsung berdegup kencang. Pikirannya mendadak traveling ke mana-mana. Apa dia masih kesal soal tadi pagi? Apa dia mau balas dendam atau mencelakai gue di tempat sepi begini? batin Sephia panik.
Merasa tidak tahan dikuti terus, Sephia akhirnya memberanikan diri. Dia menghentikan langkah, membalikkan badannya dengan cepat, dan siap mengonfrontasi cowok itu.
"Lo ngapain sih ngikutin—"
Kata-kata Sephia terputus di udara. Matanya mengerjap bodoh.
Alan sama sekali tidak menatapnya. Cowok itu justru sedang berhenti di depan sebuah rumah mewah bercat putih, lalu dengan santai mendorong gerbang besinya yang tinggi.
Mendengar teriakan Sephia, Alan menoleh sambil menaikkan satu alisnya. "Ngikutin lo? Gue mau masuk rumah gue sendiri."
Sephia terpaku di tempat. Pandangannya beralih dari wajah Alan ke halaman rumah itu, lalu ke arah rumahnya sendiri yang hanya berjarak empat rumah dari sana.
Seketika, memori kemarin sore langsung berputar di otak Sephia. Dia baru ingat kalau kemarin ada truk pindahan besar yang parkir di rumah itu.
Oh, mampus... batin Sephia berteriak histeris. Ternyata orang asing yang bikin dia salah tingkah seharian ini adalah tetangga barunya sendiri.
Wajah Sephia mendadak terasa panas, mungkin warnanya sudah semerah tomat matang sekarang. Dia benar-benar malu setengah mati. Rasanya dia ingin menenggelamkan diri ke dalam aspal kompleks saat itu juga.
Ada apa sih sama hari ini? Kenapa gue sial dan malu-maluin terus di depan dia! batin Sephia kesal pada dirinya sendiri.
Tanpa berani menoleh lagi ke arah Alan, Sephia berbalik dengan cepat. Dengan sedikit menghentakkan kakinya ke jalanan karena dongkol, dia berjalan setengah berlari menuju rumahnya yang tinggal beberapa meter lagi. Dia buru-buru membuka pagar rumahnya sendiri, masuk ke dalam, dan langsung menutup pintu rapat-rapat.
Sementara itu, Alan yang masih berdiri di depan gerbang rumahnya tidak langsung masuk. Cowok itu memperhatikan punggung Sephia yang menjauh dengan langkah menghentak-hentak lucu seperti anak kecil yang sedang merajuk.
Sebuah senyuman tipis, namun kali ini tampak lebih tulus, terukir di wajah tampan Alan. Rasa ketus yang sempat dia pasang tadi siang di sekolah mendadak menguap begitu saja.
Unik banget, sih, batin Alan sambil terkekeh pelan.
Dia menggeleng-gelengkan kepalanya heran, lalu melangkah masuk ke dalam rumah barunya dengan perasaan yang entah kenapa jadi jauh lebih baik daripada tadi siang.
Begitu berhasil masuk ke dalam rumah, Sephia langsung berlari kecil menaiki tangga menuju kamarnya. Dia menutup pintu rapat-rapat, menguncinya, lalu langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk.
Tanpa buang waktu, Sephia langsung meraih bantal guling, mendekapnya erat-erat, dan menenggelamkan seluruh wajahnya di sana agar teriakan frustrasinya tidak terdengar oleh orang rumah.
"Aaaaaaaaaaaaaa...!"
Sephia berteriak sekencang-kencangnya di balik bantal. Setelah napasnya habis, dia berguling telentang, menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong sekaligus dongkol.
"Kesel banget hari ini! Si anak baru sialan! Kenapa sih, gara-gara dia, hari ini gue harus ngalamin dua kejadian enggak jelas?!" gerutu Sephia pada dirinya sendiri. Tangannya bergerak memukul-mukul kasur saking geregetannya.
"Yang pertama, dia bikin gue merasa bersalah pas di sekolah. Terus yang kedua, gue malah malu-maluin karena kegeeran ngira dia ngikutin gue!" Sephia menutup wajahnya dengan kedua tangan, meratapi nasib sialnya. "Mau ditaruh di mana muka gue besok kalau ketemu dia?!"
Sore itu, kamar Sephia penuh dengan dumelan dan penyesalan, tanpa dia tahu kalau di rumah nomor empat dari rumahnya, si "anak baru sialan" itu justru sedang tersenyum tipis mengingat namanya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!