Kita cerai saja, Mas.
Kalimat itu keluar dari bibir Kanaya Aulia Putri dengan suara pelan, hampir tertelan bau antiseptik yang menggantung di ruang rawat putih RSPI Sulianti Saroso. Telapak tangannya masih menempel di perut yang belum tampak membesar. Di sana, tiga nyawa kecil baru berusia sebulan, begitu rapuh sampai napasnya sendiri terasa terlalu keras.
Letkol Arsen Pradipta Wijaya berdiri di sisi ranjang.
Seragam hijaunya rapi. Bahunya tegak. Wajahnya yang biasanya tenang kini kosong, seolah ia baru mendengar bahasa yang tidak ia mengerti. Di antara mereka ada selimut rumah sakit yang dingin, meja kecil dengan gelas air putih, dan buku nikah merah yang sejak tadi digenggam Kanaya sampai sudutnya melengkung.
Kening Kanaya masih diperban tipis. Luka itu ia dapatkan kemarin setelah pertengkaran di koridor rumah sakit. Semua bermula dari Yara, perempuan dari lingkungan Bina Suara yang selalu muncul terlalu dekat dengan Arsen, terlalu pandai memakai suara lembut untuk membuat orang lain terlihat kasar.
Kemarin, Kanaya masih sempat marah. Masih sempat bertanya kenapa Arsen lebih percaya penjelasan Yara daripada istrinya sendiri.
Lalu kepalanya terbentur lantai.
Saat pingsan, ia melihat mimpi yang terlalu nyata untuk disebut mimpi.
Ia melihat dirinya sendiri terbaring di ruang bersalin, darah merembes di bawah tubuh, suara bayi menangis di kejauhan, sementara tidak ada satu pun tangan Arsen yang menggenggamnya. Ia melihat tiga anaknya tumbuh tanpa pelukan ibu. Adrian yang terlalu diam tertabrak mobil di jalan basah. Aiden yang matanya dulu secerah api justru diseret ke kantor polisi karena jebakan yang tidak pernah ia pahami. Alana kecil, putrinya yang manja, berdiri di depan klinik dengan wajah pucat, tubuh gemetar setelah kehilangan sesuatu yang seharusnya ia jaga.
Dan di tengah semua kehancuran itu, Yara tersenyum.
Perempuan itu berdiri di rumah yang seharusnya menjadi rumah Kanaya. Memakai perhiasan yang bukan haknya, memanggil anak-anak Kanaya dengan suara manis yang membuat kulit merinding. Arsen, lelaki yang pernah menjadi suaminya, terlambat mengetahui semuanya. Terlambat menyesal. Terlambat meminta maaf kepada makam yang sudah dingin.
Kanaya membuka mata pagi ini dengan tubuh basah oleh keringat.
Hal pertama yang ia lakukan bukan menangis. Ia hanya menaruh tangan di perutnya dan menghitung napas. Satu. Dua. Tiga. Seolah dengan begitu ia bisa memastikan ketiga anaknya masih ada, masih selamat, masih menjadi miliknya.
Sekarang Arsen menatapnya lama.
"Kau masih pusing?" tanyanya akhirnya.
Kanaya hampir tertawa. Bukan karena lucu, melainkan karena dadanya terasa kosong. Setelah semua yang terjadi, pertanyaan pertama lelaki itu tetap tentang kondisi tubuhnya, bukan tentang luka yang ia buat di hati istrinya.
"Aku sadar penuh," jawabnya. "Kita cerai."
Rahang Arsen mengeras. "Kana."
Nama itu dulu membuatnya tenang. Hari ini, hanya terdengar seperti pintu yang sudah terlambat diketuk.
"Aku tidak sedang mengancam," lanjut Kanaya. "Aku juga tidak meminta Mas memilih antara aku dan siapa pun. Aku hanya memilih jalan untuk diriku sendiri."
Di luar kamar, roda troli perawat berdecit melewati koridor. Suaranya pendek, lalu hilang. Arsen menoleh sekilas ke pintu, mungkin memastikan tidak ada yang mendengar. Kebiasaan seorang perwira. Semua hal harus rapi. Semua luka harus ditutup sebelum orang luar melihat.
"Karena Yara?" Suaranya rendah.
Kanaya menatap buku nikah di tangannya. Sampul merahnya tampak mencolok di atas seprai putih. Ia ingat hari akad mereka, Mama Siti menangis bahagia, Pak Bambang menepuk pundak Arsen, Eyang Marwan menatap cucu menantunya dengan mata seorang prajurit tua yang sedang menilai lelaki muda.
Waktu itu Kanaya percaya, pernikahan yang dimulai tanpa cinta bisa tumbuh menjadi rumah.
Ternyata ada rumah yang sejak awal tidak menyediakan tempat untuknya.
"Bukan hanya karena dia," kata Kanaya. "Karena aku lelah menjadi orang yang harus menjelaskan luka sendiri."
Mata Arsen bergerak ke perban di keningnya. Ada sesuatu yang retak di wajahnya, sangat tipis, cepat sekali hilang.
"Aku tidak pernah berniat menyakitimu."
"Niat tidak selalu menyelamatkan orang, Mas."
Arsen diam.
Perawat masuk membawa berkas pemeriksaan. Perempuan muda itu langsung merasakan udara berat di dalam ruangan, lalu menunduk sopan. "Bu Kanaya, hasil observasi sudah baik. Dokter bilang Ibu boleh pulang siang ini, asal tidak banyak aktivitas dulu."
"Terima kasih, Sus."
Perawat itu melirik Arsen, lalu buku nikah di tangan Kanaya, tetapi ia cukup bijak untuk tidak bertanya. Setelah pintu tertutup lagi, Kanaya menarik napas.
"Aku akan ajukan cerai gugat hari ini."
"Hari ini?" Arsen menatapnya tajam. "Kau baru keluar dari rumah sakit."
"Aku bisa berjalan."
"Kau hamil."
Untuk pertama kali sejak ia bangun, Kanaya mengangkat wajah sepenuhnya. "Justru karena aku hamil."
Kata-kata itu membuat Arsen membeku.
Ia belum tahu. Tentu saja belum. Dalam mimpi mengerikan itu pun, ia selalu terlambat tahu. Terlambat pulang, terlambat percaya, terlambat melindungi.
Kanaya melihat warna wajah Arsen berubah. "Kau..."
"Satu bulan," katanya. "Dokter baru memastikan kemarin."
Tangan Arsen yang tergantung di sisi tubuh mengepal. "Kenapa baru bilang sekarang?"
"Karena kemarin Mas sibuk meminta aku memahami Yara."
Kalimat itu tidak keras. Justru karena terlalu pelan, ia jatuh lebih tajam.
Arsen memejamkan mata sesaat. Ketika membukanya, ada penyesalan yang belum sempat punya nama. "Kana, kalau soal anak, kita bisa bicara."
"Kita sedang bicara." Kanaya merapikan buku nikah itu di pangkuannya. "Anak-anak akan lahir dari tubuhku. Aku yang akan menjaga mereka. Mas boleh menjalankan kewajiban sebagai ayah jika nanti waktunya tiba, tapi aku tidak mau menjadi istri yang berdiri di samping Mas sambil menunggu dihancurkan perlahan."
"Anak-anak?" Arsen menangkap satu kata itu.
Kanaya berhenti. Ia belum siap mengatakan tiga. Bukan sekarang. Bukan ketika semua yang ia miliki harus ia lindungi dari dunia yang sama sekali belum ia pahami.
"Anakku," koreksinya singkat.
Arsen tahu ia menutup sesuatu. Namun mungkin rasa bersalah membuatnya tidak memaksa. Ia hanya menatapnya, lama sekali, sampai suara azan Zuhur dari masjid kecil di area rumah sakit terdengar jauh dan halus.
Siang itu, Kanaya keluar dari rumah sakit dengan jilbab warna krem menutupi perban di keningnya. Arsen berjalan di sampingnya, tidak menyentuh, tetapi selalu cukup dekat seolah takut ia jatuh. Kanaya membiarkannya. Bukan karena luluh. Karena tubuhnya memang masih lemah, dan ia tidak akan membahayakan anak-anak hanya demi terlihat kuat.
Di Pengadilan Agama, proses yang seharusnya panjang dipadatkan oleh keadaan, koneksi tugas Arsen, dan kesediaan kedua pihak menandatangani berkas awal tanpa sengketa. Seorang petugas tua menatap Kanaya lebih dari sekali.
"Ibu yakin?" tanyanya hati-hati. "Dalam keadaan hamil, biasanya keluarga akan minta dipikirkan lagi."
Kanaya menaruh KTP, buku nikah, dan berkas permohonan di meja. "Saya yakin, Pak."
Arsen yang duduk di sebelahnya tidak membantah.
Tanda tangan Kanaya jatuh di kertas dengan garis yang stabil. Tanda tangan Arsen menyusul beberapa detik kemudian, lebih berat, seperti ujung pena itu membawa seluruh tubuhnya.
Ketika mereka keluar, langit Jakarta mulai mendung. Halaman Pengadilan Agama ramai oleh pasangan lain, keluarga yang berbisik, pengacara yang membawa map cokelat, anak kecil yang tertidur di pangkuan ibunya. Di antara semua suara itu, Kanaya merasa anehnya tenang.
Arsen memanggilnya sebelum ia menuruni anak tangga.
"Kana."
Kanaya berhenti.
Arsen mengulurkan sebuah buku tabungan. Sampulnya biru tua, bersih, diselipkan di dalam amplop putih. "Ini tabunganku selama bertugas. Semuanya untukmu, sebagai tanggung jawab."
Kanaya tidak langsung mengambilnya.
"Berapa?"
"Lima ratus juta."
Angka itu membuat beberapa hal berputar cepat di kepala Kanaya. Biaya melahirkan. Tempat tinggal. Modal usaha. Susu. Popok. Masa depan yang tadi pagi masih terlihat seperti jurang, mendadak memiliki satu pijakan sempit.
"Ini bukan untuk membeli keputusanmu," kata Arsen, seolah bisa membaca pikirannya. "Aku tahu keputusanmu sudah selesai."
Kanaya akhirnya menerima amplop itu. Jari mereka bersentuhan sebentar. Kulit Arsen hangat, sama seperti dulu. Yang berbeda hanya Kanaya tidak lagi membiarkan kehangatan itu menjadi alasan untuk tinggal.
"Terima kasih," ucapnya.
Arsen menatap buku nikah merah yang kini tidak lagi ia pegang. Di map cokelat petugas, hubungan mereka sudah berubah menjadi perkara bernomor. Suami istri yang dulu duduk bersanding di depan penghulu, kini berdiri berjarak satu lengan di halaman pengadilan.
"Aku akan tetap bertanggung jawab," kata Arsen.
"Tanggung jawab tidak selalu berarti tinggal bersama."
Angin mengangkat ujung jilbab Kanaya. Ia menahannya dengan satu tangan, tangan lain memeluk amplop dan berkas akta cerai sementara ke dadanya. Perutnya belum terlihat, tetapi ia tahu tiga kehidupan kecil di sana sedang ikut mendengar keputusan pertama ibu mereka.
Ia menuruni tangga.
Satu langkah. Lalu satu lagi.
Arsen tidak mengejar. Mungkin karena harga dirinya, mungkin karena ia benar-benar belum mengerti apa yang baru saja ia lepaskan.
Di gerbang, Kanaya menoleh untuk terakhir kali.
Letkol Arsen Pradipta Wijaya masih berdiri di depan gedung Pengadilan Agama, seragamnya terlalu rapi untuk seorang lelaki yang baru kehilangan rumah. Matanya mengikuti punggung Kanaya seolah baru sadar jalan di antara mereka tidak lagi sama.
Kanaya menatapnya tanpa air mata.
"Bila kau menyesal nanti," katanya pelan, cukup untuk didengar angin dan lelaki itu, "jangan kembali."
Kanaya tidak naik taksi dari depan Pengadilan Agama.
Ia berjalan sampai halte terdekat dengan amplop putih di dalam tas, seolah lima ratus juta rupiah di buku tabungan itu bukan uang, melainkan sepotong jembatan sempit yang baru saja ia rebut dari reruntuhan pernikahannya. Keningnya masih berdenyut. Perutnya belum terasa apa-apa, tetapi tangan kirinya beberapa kali turun tanpa sadar, menjaga tempat tiga anaknya bersembunyi.
Jakarta siang itu panas dan padat. Klakson angkot, suara pedagang minuman, bau knalpot, semuanya bergerak seperti biasa, tidak peduli bahwa seorang perempuan baru saja keluar dari pengadilan sebagai mantan istri.
Kanaya justru menyukai ketidakpedulian itu.
Tidak ada yang menatapnya terlalu lama. Tidak ada yang bertanya kenapa ia bercerai ketika sedang hamil. Tidak ada Mama Siti yang menangis, tidak ada Arsen yang berdiri dengan seragam rapi dan mata terlambat menyesal. Hanya kota yang sibuk, dan ia, yang harus segera hidup.
Di kos kecil yang ia pakai selama mendampingi Arsen di Jakarta, barangnya tidak banyak. Beberapa baju, jilbab, alat rias sederhana, satu kotak resep kue yang dulu ia tulis ketika masih berharap punya dapur sendiri, dan foto akad nikah yang ia balik menghadap meja.
Ia tidak membuang foto itu.
Membuang membutuhkan amarah. Hari ini ia tidak punya tenaga untuk marah.
Kanaya memasukkan semuanya ke dua koper. Buku nikah merah yang tadi pagi menjadi saksi akhir hubungan ia letakkan paling bawah, terbungkus kain. Bukan untuk dikenang, melainkan sebagai bukti bahwa ia pernah masuk ke sebuah rumah dan keluar dengan selamat.
Sore menjelang ketika ia sampai di Stasiun Manggarai. Peron Commuter Line menuju Bekasi penuh orang pulang kerja. Kanaya berdiri di antara perempuan berseragam kantor, mahasiswa dengan tas ransel, dan ibu muda yang menggendong bayi tertidur. Ketika kereta datang, arus manusia mendorongnya pelan.
Seorang bapak tua melihat perban di keningnya lalu memberi ruang. "Duduk, Bu. Kelihatannya Ibu kurang sehat."
Kanaya tersenyum tipis. "Terima kasih, Pak."
Ia duduk di kursi pojok, koper kecil diapit kaki, koper besar berdiri di depannya. Jendela kereta memantulkan wajahnya: pucat, mata lelah, jilbab krem sedikit kusut. Bukan wajah perempuan yang baru menang. Tapi di balik kelelahan itu, ada garis keras yang tidak ia miliki kemarin.
Kereta bergerak.
Gedung-gedung Jakarta mundur satu per satu, diganti deretan rumah rapat, warung kecil, jemuran, papan reklame, lalu langit Bekasi yang lebih terbuka. Kanaya menempelkan telapak tangan ke perutnya.
"Kita pulang," bisiknya.
Besok ia seharusnya pulang ke rumah orang tua dan mengatakan semuanya. Tapi sebelum itu, ia butuh satu hal yang tidak bisa digoyahkan tangisan siapa pun: tempat miliknya sendiri.
Di Bekasi Timur, udara terasa lebih akrab. Jalanan dekat Pasar Bantargebang masih ramai meski hari mulai gelap. Ada penjual gorengan, toko pulsa, bengkel motor, warung soto, dan anak-anak kecil berlari membawa plastik es teh. Kanaya menyeret koper pelan menyusuri deretan ruko kecil.
Ia tidak sedang mencari secara khusus. Mungkin karena itu matanya justru menangkap papan kecil bertuliskan DIJUAL di depan sebuah bangunan sempit dengan pintu besi kusam.
Bangunan itu tidak menarik. Catnya pudar, lantainya berdebu, dan kaca depannya retak di satu sudut. Namun saat Kanaya berhenti di depan pintu, ia mendongak.
Langit-langitnya tinggi.
Terlalu tinggi untuk ruko sekecil itu.
"Mau lihat, Mbak?"
Suara perempuan muncul dari samping. Seorang ibu paruh baya keluar dari warung sebelah sambil mengelap tangan dengan ujung daster. Wajahnya bulat, ramah, matanya tajam seperti orang yang biasa menilai pembeli hanya dari cara berdiri.
"Ibu pemiliknya?" tanya Kanaya.
"Iya. Saya Halimah. Orang sini biasa panggil Bu Halimah." Ia membuka gembok pintu dengan kunci besar. "Kalau cuma lihat boleh. Sudah banyak yang lihat, tapi kabur semua setelah masuk."
"Kenapa?"
Bu Halimah mendorong pintu besi. Bau debu dan kayu lama langsung keluar. "Tinggi sekali. Enam meter. Orang mau buat rumah bilang serem, mau buat toko bilang boros AC. Padahal bangunannya kuat. Suami saya dulu niat bikin gudang kecil, tapi keburu sakit."
Kanaya masuk.
Luasnya sekitar enam puluh meter persegi, tidak lebih. Lantai semen masih kasar, dinding butuh cat ulang, bagian belakang ada ruang kecil yang bisa jadi dapur. Namun tinggi bangunan itu membuat ruangan terasa lega. Di atas, rangka besi tampak masih kokoh.
Mata Kanaya bergerak cepat.
Kalau diberi mezzanine, lantai bawah bisa menjadi toko dan dapur produksi. Lantai atas bisa menjadi kamar, ruang bayi, gudang bahan. Tiga tempat tidur bayi bisa diletakkan berjajar dekat jendela. Ia bisa turun membuka toko pagi hari, naik menyusui anak-anak, lalu turun lagi ketika ada pelanggan.
Untuk pertama kali sejak bangun dari mimpi mengerikan itu, dada Kanaya terasa panas oleh sesuatu yang bukan sakit.
Harapan.
"Berapa harganya, Bu?" tanyanya.
Bu Halimah mengangkat alis, mungkin tidak menyangka pertanyaan itu datang secepat ini. "Tiga ratus lima puluh juta. Sertifikat Hak Milik. Pajak aman. Tapi jujur saja, bangunan perlu renovasi."
Kanaya membuka pintu belakang. Ada gang kecil, cukup untuk akses barang. Drainase di depan tidak buruk. Pasar dekat. Stasiun tidak terlalu jauh jika naik ojek. Lingkungan ramai, tetapi bukan terlalu mahal.
Ia menoleh. "Bisa urus PPAT secepatnya?"
Bu Halimah terdiam.
"Mbak serius?"
"Serius."
"Mbak belum tanya suami?"
Pertanyaan itu datang ringan, seperti kebiasaan sehari-hari. Kanaya menatap lantai berdebu di bawah kakinya, lalu tersenyum sangat tipis.
"Saya yang membeli, Bu. Pakai uang saya."
Bu Halimah menutup mulut sebentar, mungkin baru melihat perban di kening Kanaya, koper di dekat pintu, dan mata perempuan muda yang terlalu tenang untuk ukuran orang yang sedang jalan-jalan sore. Setelah itu, sikapnya berubah. Tidak banyak bertanya, hanya mengangguk.
"Kalau begitu, besok pagi saya panggil kenalan PPAT. Tapi biasanya butuh tanda jadi dulu."
"Saya bisa transfer malam ini."
Bu Halimah menatapnya makin lama, lalu tertawa kecil. "Ya Allah, Mbak. Saya kira ruko ini bakal kosong sampai lumutan. Ternyata rezekinya ketemu orang nekat."
"Bukan nekat," jawab Kanaya.
Ia berjalan ke tengah ruangan, menatap dinding yang kelak akan dicat warna hangat, membayangkan etalase kaca penuh roti susu, brownies kukus, bolu pandan, dan kue ulang tahun kecil untuk anak-anak perumahan sekitar.
"Saya hanya tidak punya waktu untuk takut."
Malam itu juga mereka duduk di warung Bu Halimah dengan teh manis hangat dan kuitansi tanda jadi. Kanaya mentransfer sebagian uang dari tabungan yang diberikan Arsen. Angka di layar ponsel berkurang, tetapi anehnya ia tidak merasa kehilangan.
Uang itu akhirnya berubah bentuk.
Bukan lagi kompensasi dari lelaki yang terlambat menyesal. Bukan lagi harga dari luka. Uang itu menjadi pintu besi, dinding tinggi, lantai berdebu, dan kemungkinan hidup baru untuk tiga anaknya.
Keesokan paginya, Bu Halimah benar-benar membawa Kanaya ke kantor PPAT sederhana di Bekasi. Prosesnya melelahkan: fotokopi KTP, NPWP, pengecekan sertifikat, tanda tangan awal, jadwal balik nama. Kanaya menahan pusing dengan air mineral dan roti tawar yang ia beli di minimarket. Setiap kali tubuhnya terasa melayang, ia menyentuh perut.
"Sabar, Sayang. Mama sedang beli rumah kecil untuk kalian."
Menjelang sore, map berisi salinan sertifikat dan kuitansi pelunasan ada di tangannya. Secara hukum semua belum selesai sempurna, tetapi kunci sudah diserahkan karena Bu Halimah butuh uang cepat untuk biaya berobat suaminya.
Kanaya kembali ke ruko saat langit Bekasi mulai jingga.
Pintu besi berderit ketika ia buka. Ruangan kosong itu menyambutnya dengan debu beterbangan dalam cahaya sore. Tidak ada ranjang rumah sakit. Tidak ada seragam hijau. Tidak ada perempuan bernama Yara yang berdiri di ambang pintu dan pura-pura lembut.
Hanya ruang kosong.
Dan ruang kosong berarti ia boleh mengisinya dengan apa pun.
Kanaya meletakkan map sertifikat di lantai, melepas sepatu, lalu berdiri di tengah bangunan. Ia membayangkan papan nama di depan, huruf sederhana yang manis, aroma roti hangat keluar setiap pagi.
Manis Hati Bakery.
Nama itu muncul begitu saja, seperti doa yang tidak perlu dipikirkan terlalu panjang.
Ponselnya bergetar. Layar menampilkan panggilan dari Mama Siti.
Kanaya menatap nama itu beberapa detik. Besok, atau mungkin malam ini, badai lain akan datang. Mama pasti menangis. Pak Bambang pasti terdiam lama. Eyang Marwan mungkin mengetukkan tongkatnya ke lantai sambil menahan marah.
Namun kali ini Kanaya tidak pulang dengan tangan kosong.
Ia mengangkat map sertifikat, memeluknya ke dada, lalu menatap ruangan kosong itu sekali lagi.
"Setelah ini," bisiknya, "Mama akan bilang semuanya."
"Setelah ini," bisik Kanaya di tengah ruko kosong itu, "Mama akan bilang semuanya."
Namun ketika ia benar-benar berdiri di depan rumah orang tuanya malam itu, keberanian yang tadi terasa hangat di dada berubah menjadi batu kecil di tenggorokan.
Perumahan dua lantai di Bekasi itu masih sama. Pagar hitam yang catnya mulai mengelupas. Pot melati di sudut teras. Lampu ruang tamu kuning lembut. Dari dapur, tercium aroma sayur asem dan ikan goreng, aroma rumah yang dulu selalu membuat Kanaya merasa aman.
Ia menekan bel.
Mama Siti yang membuka pintu. Senyumnya langsung mekar, lalu patah ketika melihat koper, perban di kening, dan wajah pucat putrinya.
"Naya? Ya Allah, Nak, kepalamu kenapa?"
"Mama," Kanaya menelan ludah. "Aku boleh masuk dulu?"
Lima menit kemudian, ruang tamu yang biasanya hangat berubah seperti ruang sidang keluarga. Pak Bambang duduk di sofa panjang dengan sarung masih melilit pinggang, wajahnya tegang. Mama Siti duduk di samping Kanaya, jemarinya terus meraba perban di kening putrinya. Eyang Marwan berada di kursi rotan dekat jendela, tongkat kayunya tegak di antara kedua lutut.
Televisi dimatikan.
Hanya suara kipas angin berputar pelan di langit-langit.
Kanaya meletakkan map sertifikat di meja, lalu buku nikah merah dan berkas dari Pengadilan Agama di atasnya. Gerakan itu membuat mata Pak Bambang menyipit.
"Pak, Mama, Eyang," kata Kanaya, pelan tetapi jelas. "Saya cerai dengan Mas Arsen. Saya hamil triplet."
Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak.
Lalu Mama Siti menutup mulut dengan kedua tangan. "Triplet?"
Kanaya mengangguk.
"Cerai?" suara Mama Siti pecah. "Naya, kamu hamil tiga, tapi kamu cerai?"
Pak Bambang meraih berkas itu. Tangannya gemetar, bukan karena lemah, melainkan karena ia menahan sesuatu yang jauh lebih keras dari kemarahan. Ia membaca nama Kanaya, nama Arsen, tanggal, stempel pengadilan, lalu meletakkan kembali kertas itu dengan hati-hati seolah takut kertas itu robek dan kenyataan di dalamnya tumpah ke lantai.
"Arsen memukulmu?" tanyanya rendah.
"Tidak, Pak."
"Lalu luka di kepalamu?"
Kanaya diam sebentar. Ia bisa saja menjelaskan Yara, pertengkaran, ketidakpercayaan Arsen. Tetapi jika ia mulai dari sana, Mama pasti akan mengejar detail, Pak Bambang akan langsung pergi mencari Arsen, dan Eyang mungkin mengangkat tongkatnya sebelum subuh.
"Aku jatuh setelah bertengkar," jawabnya. "Tapi bukan itu yang paling penting."
Tongkat Eyang Marwan menghantam lantai sekali.
Tok.
Suara kecil itu membuat seluruh ruangan menegang.
"Apa yang lebih penting dari cucuku pulang dengan kepala luka dan perut hamil?" tanya Eyang.
Mata Kanaya panas. Di depan Arsen, ia bisa tenang. Di depan petugas pengadilan, ia bisa stabil. Tetapi di rumah ini, di depan orang-orang yang mencintainya sebelum ia menjadi istri siapa pun, pertahanannya mulai retak.
"Aku tidak mau anak-anakku tumbuh di rumah yang membuat ibunya harus memohon untuk dipercaya."
Mama Siti menangis saat itu juga. Bukan tangis dramatis, melainkan tangis seorang ibu yang baru mengerti putrinya menyembunyikan luka terlalu lama.
"Tapi Naya, tiga anak..." Mama menggenggam tangan Kanaya. "Kamu tahu mengurus satu bayi saja sulit. Ini tiga. Kalau rujuk, mungkin Arsen bisa berubah. Keluarga Wijaya juga baik. Mama Ratna orangnya lembut. Coba pikirkan lagi, Nak."
Kanaya sudah menduga kalimat itu akan datang. Dalam keluarga baik-baik, perceraian selalu dianggap pintu terakhir yang sebaiknya ditutup kembali sebelum tetangga melihat.
Ia menarik map sertifikat mendekat.
"Aku sudah pikirkan, Ma." Ia membuka map itu. "Kemarin aku membeli ruko kecil di Bekasi Timur. Enam puluh meter. Aku akan renovasi jadi toko kue dan tempat tinggal. Namanya Manis Hati Bakery."
Tangis Mama Siti terhenti sesaat karena kaget.
Pak Bambang mengambil salinan sertifikat itu. "Kamu beli ruko?"
"Uang dari Mas Arsen. Lima ratus juta. Aku pakai tiga ratus lima puluh juta untuk beli tempat. Sisanya untuk renovasi, biaya lahiran, dan modal."
"Kamu baru cerai kemarin," kata Pak Bambang pelan. "Hari ini sudah beli ruko?"
"Kalau aku menunggu semua orang setuju, aku tidak akan pernah mulai."
Kalimat itu membuat Pak Bambang menatapnya lama. Ada sakit di wajah ayahnya, tetapi di balik sakit itu ada sesuatu yang berubah, seperti ia baru menyadari putri kecilnya sudah menjadi perempuan yang mengambil keputusan dengan seluruh tubuhnya.
"Cerai bukan akhir dunia," katanya akhirnya. Suaranya berat. "Tapi kau hamil tiga, Naya. Jangan kira Bapak tidak takut."
"Aku juga takut, Pak."
Untuk pertama kalinya malam itu, Kanaya mengakuinya.
Mama Siti langsung memeluknya. Kanaya membiarkan kepala ibunya jatuh di bahunya. Bau minyak telon dan sabun cuci yang menempel di baju rumah Mama membuat matanya berkabut.
"Aku takut setiap malam," bisik Kanaya. "Tapi aku lebih takut kalau tetap tinggal dan suatu hari anak-anakku membayar kesalahanku."
Eyang Marwan tidak bicara lama. Ia hanya menatap perut Kanaya, lalu wajahnya. Mata tua itu pernah melihat perang, kehilangan, dan orang-orang yang memilih bertahan karena tidak punya jalan pulang. Mungkin karena itu, ia tidak menyuruh Kanaya kembali.
"Mulai besok," kata Eyang, "Bambang urus tukang. Aku masih punya kenalan orang bangunan. Jangan pakai pekerja asal-asalan."
Mama Siti mengangkat wajah, masih basah air mata. "Pak..."
"Cucuku sudah pulang bawa keputusan, bukan minta izin untuk dihukum," ujar Eyang.
Kanaya menggigit bibir.
Pak Bambang menghela napas panjang. "Kau tinggal di rumah dulu sampai ruko layak ditempati. Urusan Arsen nanti Bapak yang bicara baik-baik dengan keluarganya. Tidak perlu ribut, tapi tidak boleh ada yang merendahkanmu."
Mama Siti masih belum sepenuhnya menerima. Itu terlihat dari cara ia menggenggam tangan Kanaya terlalu kuat. Namun ia tidak lagi memaksa malam itu. Ia hanya menyuruh Kanaya makan, menambah nasi ke piringnya, memotong ikan goreng, lalu mengomel pelan karena putrinya terlihat terlalu kurus.
Kanaya makan sedikit demi sedikit. Setiap suapan terasa seperti kembali menjadi anak, tetapi tangan di perutnya mengingatkan bahwa ia bukan lagi anak siapa pun semata. Ia adalah ibu.
Malam semakin larut ketika Kanaya masuk ke kamar lamanya. Sprei bunga kecil sudah diganti, rak buku masih menyimpan novel lama dan kotak jahit. Di dinding, ada bekas paku tempat dulu ia menggantung medali lomba masak tingkat sekolah.
Ia duduk di tepi ranjang, melepas jilbab, lalu membuka laci meja.
Di dalam kotak kayu kecil, sebuah liontin kristal ungu terbaring di atas kain beludru pudar. Warisan dari almarhumah nenek di pihak Mama, perempuan yang meninggal sepuluh tahun lalu dan hanya meninggalkan satu pesan aneh: pakailah saat hidupmu tidak lagi punya pintu.
Kanaya dulu mengira itu kalimat orang tua yang terlalu suka perumpamaan.
Malam ini, jari-jarinya menyentuh kristal itu dan rasa dingin menjalar sampai pergelangan tangan.
Ruangan di depannya bergetar.
Kanaya menahan napas. Dinding kamar, lemari, suara kipas, semuanya memudar seperti kabut ditarik dari kaca. Dalam sekejap, ia berdiri di depan sebuah vila putih yang dikelilingi kebun buah luas. Udara di sana bersih, manis, dan dingin. Di sisi kiri, deretan pohon persik berbuah lebat. Di sisi kanan, bangunan besar dengan pintu baja terbuka sedikit, memperlihatkan ruang pendingin raksasa yang dipenuhi rak-rak kosong, bersih, siap menampung apa pun.
Kanaya mundur selangkah. "Ya Allah..."
Kristal di dadanya berpendar lembut.
Ia tahu tanpa ada yang menjelaskan: tempat ini miliknya. Bukan mimpi. Bukan rumah orang lain. Sebuah warisan bisu yang menunggu sampai ia benar-benar membutuhkan jalan keluar.
Kanaya berjalan ke pohon terdekat. Satu buah persik jatuh ke telapak tangannya, kulitnya halus, harum, hangat seperti baru disinari matahari. Perutnya tiba-tiba lapar, bukan lapar biasa, melainkan dorongan aneh dari tubuh yang meminta disembuhkan.
Ia menggigit buah itu.
Rasa manis menyebar di lidah. Hangat mengalir ke tenggorokan, dada, perut, lalu seluruh tubuh. Luka di keningnya berdenyut halus. Napasnya menjadi lebih ringan.
Di luar ruang itu, samar-samar terdengar ketukan pintu kamar.
"Naya?" suara Mama Siti menembus seperti dari ujung lorong panjang. "Kamu sudah tidur, Nak?"
Kanaya berdiri di bawah pohon persik, buah setengah tergigit di tangan, sementara kekuatan asing terus mengalir ke tubuhnya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!