Aline, malam itu ia pergi ke sebuah hotel untuk menghadiri pesta yang sedang diadakan adik tirinya.
Setibanya di sana Aline langsung di sambut hangat oleh Nana. Ia di bawa ke ballroom yang sudah di booking adik tirinya itu.
Nana menggandeng tangan Aline untuk masuk ke dalam. Saat tiba di sana Aline melihat suasana pesta itu terasa sangat ramai, sepasang kekasih saling melakukan berbagai hal yang menurut Aline tidak sepantasnya dipertontonkan di depan umum.
Walau pun itu hanya sebatas melakukan kissing. Seketika hal itu membuat Aline menjadi mual, ia menoleh ke arah adik tirinya sejenak.
"Nana apa benar pestamu sebebas ini?" tanya Aline dengan guratan wajah yang menampilkan ketidak percayaannya.
Nana mengikuti arah pandang kakak tirinya. Wajahnya tampak biasa saja seolah itu adalah hal yang wajar.
"Memangnya kenapa Kak! Plis deh Kak jangan norak? Lagian sudah biasa sepasang kekasih melakukan hal seperti itu."
Aline membuang wajahnya ke arah lain tanpa ingin melihat pemandangan itu lebih lama. Tiba-tiba Nana menarik tangannya membawa ia ke arah sekumpulan teman-temannya.
Di sana mereka tampak sedang mengobrol dengan pasangan mereka masing-masing, Aline melihat di atas meja itu beberapa botol minuman beralkohol yang sudah kosong. Ia merasa tidak nyaman saat berada di sana.
Salah satu pria di antara mereka melangkah maju menuju ke arah Aline. Dengan lancangnya pria itu menyentuh dagu Aline yang membuat wanita itu melangkah mundur.
"Jadi ini Kakak Tiri, Lo! Na." pria itu menatap Aline dengan pandangan yang tidak senonoh.
Di sisi lain, Nana tersenyum tipis sambil mengangguk dengan gerakan kepala yang seolah memberi kode ke arah pria itu.
"Na, sepertinya Kakak pulang saja." Aline hendak melangkah pergi dari sana saat merasakan suasana pesta itu yang tidak terasa nyaman baginya.
Namun, Nana menahan tangan Aline. Ia membawa wanita itu duduk dengannya di antara teman-temannya. "Eeets! Tunggu dulu, mau kemana sih, Kak Aline buru-buru banget?"
Aline bergerak gelisah, ia bangkit dari tempatnya. Namun, lagi-lagi Nana menahannya, membuatnya kembali duduk di posisinya semula.
"Tenang saja Kak, mereka nggak akan macam-macam sama Kakak." Suara Nana terdengar meyakinkan di tengah kegelisah Aline.
Nana menyodorkan segelas air mineral ke arah Aline. "Minum dulu Kak, biar lebih rileks."
Aline tanpa curiga sedikit pun menerimanya, sebelum meminumnya sejenak ia menatap adik tirinya yang sedang tersenyum padanya dan akhirnya meneguk air itu.
Untuk beberapa menit semuanya tampak normal, Aline tidak merasakan apa pun. Ia masih memperhatikan adik tirinya yang sedang menyapa teman-temannya. Hingga ia mulai merasakan pusing dan rasa panas pada tubuhnya.
Aline beranjak dari tempatnya pikirannya hanya satu yaitu menuju toilet. Ia ingin membasuh wajahnya guna mereda hawa panas yang tidak bisa ia jelaskan.
Di sisi lain, Nana yang melihat kakak tirinya pergi dari sana memberi anggukan kecil pada salah satu teman pria nya.
Aline menyusuri koridor hotel itu dengan langkah kaki yang sedikit gontai, sesekali ia mengusap lehernya dan rasanya ingin sekali membuka seluruh pakaian yang membungkus tubuhnya. Namun, pikirannya masih tersadar ia tidak bisa melakukan itu.
"Ada apa denganku?" Ia bergerak gelisah tidak karuan.
Saat tiba di depan pintu kamar mandi. Pria tadi yang sempat menggoda Aline menghampirinya dan tanpa permisi lagi dia membopong tubuh Aline menuju ke sebuah kamar yang sudah di persiapkan untuknya.
"Jangan sentuh aku." Aline masih setengah sadar dan berusaha melepaskan diri dari pria itu.
"Diamlah! Aku hanya menjalankan perintah." ucap pria itu sambil terus melangkah dan masuk ke dalam kamar.
Pria itu membaringkan Aline di atas kasur, menatap wanita itu penuh minat. "Setelah Bos puas denganmu, nanti tinggal giliranku."
Setelah mengatkan itu pria itu melangkah pergi ke luar dari kamar tersebut, menuju ke arah pesta kembali.
Di sisi lain, ada seseorang dengan tatapan tajam yang melihat semua kejadian itu dari kejauhan. Setelah kepergian pria itu dia melangkah mendekat ke arah kamar tersebut.
Tepat setelah seseorang itu berdiri di depan pintu kamar, pintu itu terbuka dengan menampilkan wajah Aline yang matanya sudah sayu dan tangan yang tidak hentinya ingin melepaskan pakaian yang ia kenakan.
"Too-long... aku, ini rasanya sangat tidak nyaman."
Aline langsung menerjang pria yang ada di depannya yang sedang menatapnya dengan wajah bingung, tangan Aline mulai menyusuri rahang tegas laki-laki itu.
Pria itu menggeram pelan saat merasakan sentuhan tangan Aline. Ia mengepalkan kedua tangannya bisa-bisanya ada seseorang yang melakukan hal kotor seperti ini. Pria itu melepaskan pelukan Aline, namun wanita itu memeluknya sangat erat.
"Hei! Nona, jangan seperti ini, bertahanlah saya akan membawakan obat pereda untukmu." Ia hendak melenggang pergi meninggalkan Aline untuk mengambil penawarnya.
"Ak-u sudah tidak kuat, tolong aku Tuan!" Aline mendorong pria itu hingga mereka terjatuh dan masuk ke kamar hotel lain yang kebetulan tidak terkunci.
Di malam itu, hal yang seharusnya tidak pernah terjadi. Justru menyatukan mereka berdua.
Pagi harinya Aline terbangun lebih dulu dari pada pria itu. Wajahnya pucat dengan rambut yang berantakan. Matanya berkaca-kaca memancarkan luka dan kekecewaan. Ia memandang punggung pria asing itu, sekelebat bayangan saat ia meminta tolong pada laki-laki itu muncul dalam benaknya.
Ia menarik selimut itu lebih dalam sambil terisak. Ingin sekali Aline menghujamkan pisau pada punggung laki-laki itu. Namun, percuma saja sebab semuanya telah terjadi dan itu bukan sepenuhnya salah laki-laki itu. Kini kehormatannya sudah hilang dan tidak akan pernah kembali lagi.
Satu-satunya yang ia inginkan saat ini adalah menjauh dari tempat itu dan berharap tidak akan pernah bertemu lagi dengan laki-laki itu.
Setelah membenahi pakaiannya, tanpan menunggu lebih lama lagi Aline segera keluar dari kamar itu dan ingin segera pulang ke rumah. Ia melangkah sedikit tertatih akibat nyeri pada area intimnya.
Setibanya di lobi hotel itu. Aline ingin memesan taksi, tapi apalah daya ia tidak memiliki uang sepeser pun dengan terpaksa ia pulang dengan berjalan kaki.
Sepanjang jalan ia terus menangis mengabaikan orang-orang yang menatapnya heran. Langkah kakinya ia paksakan untuk terus berjalan meski rasa nyeri itu semakin terasa.
Hingga saat tiba di depan pintu rumah, langkahnya terhenti seketika saat ia sayup-sayup mendengar suara adik tirinya dan ibu tirinya yang sedang bersenda gurau.
Aline melanjutkan langkahnya dengan jantung yang berdegub kencang. Ia mendorong pintu itu membuat Nana dan Sinta yang berada di ruang tamu mengalihkan pandangan mereka ke arahnya.
"Dari mana kamu Aline! Jam segini baru pulang?"
Pertayaan itu membuat tubuh Aline Membeku seketika.
"Ibu tanya kamu dari mana Aline? Di tanya malah bengong!"
Di sisi lain, Nana yang melihat penampilan kakak tirinya yang tampak kacau. Tubuhnya bergidik saat membayangkan kakak tirinya itu menghabiskan sepanjang malam bersama laki-laki tua, jelek dan gemuk yang sudah dia bayar.
Tanpa menjawab lebih dulu pertanyaan ibu tirinya, Aline menatap adik tirinya dengan tatapan tajam yang menghunus.
"Kenapa kamu begitu tega melakukan ini? Apa kamu nggak memikirkan masa depan aku?" teriak Aline yang menahan amarah yang terasa meledak di dada.
"Aline jangan berteriak seperti itu, kenapa kamu jadi seperti ini?" Suara Sinta yang tampak terdengar santai. Namun, seolah menghakimi.
"Kamu benar-benar jahat Nana! Di mana hati nuranimu! Kamu kan yang memasukkan obat perangsang itu dalam minumanku." Aline langsung menyerang Nana membabi buta.
Gerakannya yang cepat membuat Nana tidak memiliki kesempatan untuk menghindar atau membalas. Bahkan tenaga Aline terasa besar dan ia kesulitan mengimbangi, kakak tirinya yang biasanya lemah lembut kali ini seperti singa yang siap menerkam mangsanya.
"Ah, Ibu tolong! Aline narik rambut aku!" pekik Nana sambil berusaha melepaskan tangan Aline.
Sinta yang panik mendekat dan berusaha mendorong anak tirinya. Namun, kali ini Aline bener-bener sulit di hentikan.
"Heh, Aline apa kamu sudah gila? Lepaskan Nana."
"Tidak akan! Biarkan dia ikut merasakan sakit yang kurasakan!" jerit Aline.
"Lepaskan Nana, Aline!" Merasa geram, Sinta mendorong Aline dengan keras hingga terjerembab ke lantai. Kemudian Sinta memeluk Nana yang sedang meringis kesakitan. Jambakan Aline membuat sebagian rambut tercabut dari kulit kepala, bahkan mek-up di wajah Nana tampak berantakan.
"Sakit banget, Bu!" rintih Nana. Membuat Sinta menatap Aline penuh amarah.
"Berani sekali kamu menyerang Putriku! Apa kamu sudah bosan hidup, hah?"
"Kalau perlu aku akan membunuhnya!" Aline menatap geram. Seumur hidupnya ini adalah hari pertama ia berani melawan kedua orang itu. Biasanya ia hanya diam meski kerap di perlakukan tidak adil.
"Dasar anak kurang ajar! Sekarang juga pergi kamu dari rumah ini dan jangan pernah kembali lagi!"
"Pergi!" Aline mengulang kalimat itu dengan wajah sinis. "Kalian lah yang harus pergi, rumah ini milik Ayahku. Aku akan mengatakan semuanya jika dia sudah kembali nanti."
Aline menatap ibu dan adik tirinya dengan derai air mata, lalu mereka pergi begitu saja tanpa rasa bersalah meninggalkannya yang kini sudah hancur.
Di dalam kamar. Aline bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu, ia langsung menggosok seluruh badannya dengan kasar hingga kulitnya memerah. Hidupnya telah berantakan. Rasanya ia ingin mengakhiri hidup saja.
Aline luruh di atas lantai kamar mandi sambil terisak. Ia memeluk kedua lututnya, berharap ini semua hanya mimpi. "Semuanya telah hilang dan nggak akan bisa kembali lagi. Bagaimana aku melanjutkan hidupku, Tuhan!"
*
*
*
Sementara di tempat lain. Tepatnya di sebuah kamar hotel, laki-laki itu mulai terbangun. Ia mengerjapkan matanya saat merasakan di sampingnya sudah tidak ada gadis itu.
Erlangga Dewangga laki-laki tampan yang sudah menginjak umur tiga puluh tiga tahun itu, menyibak selimut dan melihat bercak merah di atas sprei ada rasa senang saat mengetahui itu adalah pengalaman pertama wanita itu. Namun, rasa bersalah lebih mendominasi perasaannya saat ini.
Ia melihat sekeliling kamar itu, mencari wanita yang sudah menghabiskan malam dengannya yang ternyata sudah tidak ada.
"Pergi kemana dia?"
Erlangga tidak habis pikir dengan perbuatannya. Ya! Secara sadar dirinya melakukan hal tersebut pada gadis itu. "Bisa-bisanya aku lepas kendali."
Rasa bersalah itu membuat persaannya menjadi sesak. Erlangga yang biasanya menjaga batasanya dengan lawan jenis kenapa malam itu ia sama sekali tidak bisa menahan dirinya pada wanita itu.
Erlangga meraih ponselnya menghubungi seseorang, tidak lama kemudian sambungan telepon itu tersambung.
"Periksa CCTV sekarang juga, dan cari tahu siapa wanita yang bersama saya semalam."
Setelah mengatakan itu Erlangga menutup panggilannya. Ia harus segera bersiap karena memiliki jadwal operasi pagi ini.
Di sela-sela membersihkan dirinya, Erlangga menatap punggungnya di depan cermin kamar mandi, bekas cakaran itu seolah tanda yang paling indah. Seulas senyum muncul di bibirnya. Saat bayangan wanita itu melintas dalam benaknya.
Erlangga mengenakan jas putih kebesarannya. Ia melangkah keluar dari hotel itu menuju rumah sakit yang tidak jauh berada di sana.
Setibanya di rumah sakit, beberapa orang tampak ramah menyapanya.
"Pagi Dokter!"
Erlangga yang tampak sibuk sedang memeriksa data pasien dengan tablet di tanganya, hanya mengangguk pelan.
Di ruang operasi, aroma khas rumah sakit bercampur dengan rasa tegang. Seorang ibu muda yang berusia dua puluh enam tahun meringis di ranjang, perutnya yang besar karena hamil dan saat ini akan melakukan operasi caesar. Seorang perawat memberikan laporan pada Erlangga.
Untuk beberapa detik Erlangga, termenung sejenak bayangan wajah Aline melintas dalam pikirannya. Sebelum akhirnya ia fokus kembali.
Erlangga memimpin operasi itu dengan cekatan, membuat para perawat tidak bisa menyembunyikan kekaguman mereka pada sang dokter idaman itu.
Hingga beberapa saat kemudian suara tangisan bayi memenuhi ruangan operasi tersebut. Erlangga menatap bayi perempuan itu dengan pandangan lembut, sekilas wajah Aline kembali muncul membuatnya ingin segera menyelesaikan tugasnya. Agar secepatnya bisa mencari wanita itu.
Setelah menyelesaikan operasi tersebut, Erlangga menuliskan catatan medisnya dengan cepat. Kemudian ia menoleh ke arah salah satu perawat tersebut dan menyerahkan catatan itu.
"Bawa pasien ke ruang pemulihan. Saya akan menghubungi Dokter Reno untuk memantaunya."
Setelah mengatakan itu, Erlangga pergi keluar dari ruangan operasi tersebut. Ia kembali ke ruangan kerjanya.
Tidak lama kemudian ponselnya berdering, saat melihat nomor tersebut Erlangga tidak bisa menunggu waktu lagi. Ia segera menghubungkannya.
"Bagaimana? Apakah kamu sudah mengeceknya?" Suara Erlangga terdengar tidak sabaran.
Seseorang di sebrang sana terdengar menghela napas pelan. "Maaf Tuan, CCTV di hotel itu sudah di sabotase lebih dulu."
Erlangga mencengkram ponselnya erat-erat, wajahnya memerah karena kecewa dan amarah mendengar kabar itu.
"Saya tidak mau tahu! Kamu harus secepatnya cari tau kejadian semalam?!" Erlangga berteriak dengan nada murka lalu memutuskan panggilannya sepihak.
Ia menghempaskan tubuhnya dengan kasar pada kursi kebesarannya, pikirannya melayang jauh memikirkan bayangan Aline yang sudah ia renggut mahkotanya.
Erlangga ingin bertanggung jawab pada wanita itu, tapi kemana dia harus mencarinya. Ia seperti laki-laki brengsek yang memamfaatkan wanita itu di saat sedang dalam pengaruh obat.
Tiba-tiba suara ketukan pintu mengalihkan kegelisahannya.
TOK! TOK! TOK!
Ketika pintu terbuka, seorang dokter muda masuk ke dalam ruangan Erlangga. Ia tampak mengkerutkan keningnya saat melihat wajah sahabatnya.
"Kenapa wajahmu ditekuk begitu?" tanya Reno penasaran. Hingga pandangannya menangkap sebuah tanda merah di lehernya.
"Tunggu apa itu? Erlangga, apa kau sudah membuka segelmu?" Reno menatap sahabatnya penuh selidik. Sahabatnya yang tampak tidak perduli bahkan terkesan menghindar dari wanita bisa-bisanya menghabiskan malamnya dengan seseorang.
Erlangga tampak acuh melihat sahabatnya yang begitu penasaran.
"Ayolah, Erlangga! Katakan siapa wanita itu?"
Erlangga menatap sahabatnya sejenak, sebelum ia mengatakan kalimat yang akan membuat sahabatnya itu meledeknya.
"Aku belum sempat bertanya namanya, dia sudah menghilang."
Pengakuan Erlangga yang tiba-tiba, membuat Reno tidak bisa menahan tawanya. Awalnya pria itu hanya menggoda sahabatnya, namun siapa sangka ternyata semua dugaannya benar.
"Sumpah, Erlangga! Kamu yang biasanya tahan dengan godaan wanita. Kenapa bisa sampai melakukan hal itu?" Reno bertanya dengan wajah menyelidik.
Erlangga terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya, pandangannya mulai menerawang jauh, akankah ia menemukan wanita itu untuk menebus kekhilafannya. "Entah! Semuanya terjadi begitu saja."
Reno yang melihat kegelisahan sahabatnya menghentikan tawanya. Ia mulai memandang sahabatnya itu dengan serius.
"Ok, sekarang kamu jelaskan dari awal! Agar aku tahu dan mudah-mudahan bisa membantumu menemukan wanita itu."
Erlangga mulai menjelaskan, bagaimana ia bisa bermalam di hotel itu dan menemukan wanita itu yang sudah terpengaruh obat tersebut.
"Jadi seseorang sudah menjebaknya, lalu kau datang dan wanita itu langsung menerjangmu!" Reno tampak terkejut bukan main hingga ia bangkit dari tempat duduknya.
Erlangga mengangguk mantap. Tatapannya memancarkan tekad bahwa ia akan berusaha mencari wanita itu.
"Sekarang aku mengerti, apa ada ciri-ciri lain dari wanita itu? Siapa tahu aku menemukannya." sambung Reno. Wajahnya terlihat antusias saat tahu sahabatnya sudah menemukan wanita yang menarik perhatiannya, terlebih dia akan bertanggung jawab padanya.
Erlangga menggeleng pelan tampak mendesah frustasi. Itulah kebodohannya ia sama sekali tidak tahu ciri-ciri lain selain wajah Aline yang sangat ia kenali. "Aku tidak tahu, Reno! Aku hanya tahu persis seperti apa wajahnya."
"Periksa CCTV yang ada di hotel saja? Kenapa kau harus pusing?"
"Sudah, orangku mengatakan jika CCTV itu ada yang menyabotase."
"Kalau begitu biar aku panggilankan seorang pelukis profesional, agar dia membuat sketsa wanita itu. Kamu cukup jelaskan semua yang kamu tahu." usul Reno yang terdengar sangat menjanjikan di tengah kebingungan Erlangga.
Seulas senyum tipis terbit dari bibir Erlangga. Ia mengangguk mantap dengan ide dari Reno. "Kau memang sahabatku yang baik."
"Tentu saja." balas Reno dengan wajah sombong.
Erlangga hanya mendengus melihat wajah so-angkuh Reno. Namun ia tetap berterima kasih atas usulan yang sudah sahabatnya itu berikan.
*
*
*
Di sisi lain, sore itu Aline memutuskan untuk pergi ke rumah sakit karena area pribadinya terasa sangat nyeri dan kerap masih mengeluarkan darah.
Aline mulai keluar kamar, namun ia melihat rumah dalam keadaan sepi. Biasanya ibu dan adik tirinya selalu terlihat berkumpul di sore hari, semenjak kepergian ayahnya keluar kota ia tidak pernah melihat kedua orang itu berdiam di rumah.
Sinta seorang sosialita dan Nana bekerja di perusahaan kecil milik ayahnya hanya sebatas membantu pekerjaan ayahnya. Gadis itu sangat malas, yang dia tau hanya menghamburkan uang.
Tidak ingin memikirkan hal yang tidak penting, Aline memilih untuk melanjutkan tujuannya. Ia melangkah ke luar rumah dengan langkah kaki yang sedikit di seret.
Begitu sampai di luar gerbang rumah, Aline langsung menghentikan sebuah taksi.
Dua puluh menit kemudian. Aline tiba di rumah sakit, ia menyusuri koridor dengan langkah yang sebisa mungkin agar terlihat normal.
Saat tiba di depan pintu Dokter Spesial Obstetri dan Ginekologi (obgyn). Jantung Aline tiba-tiba berdetak sangat cepat antara takut dan juga cemas.
Perlahan ia membuka pintu tersebut, ruangan itu terasa dingin. Namun telapak tangan Aline berkeringat deras.
Bersyukur dokter itu seorang wanita paruh baya. Aline mulai berkonsultasi tentang keluhan yang ia rasakan.
"Permisi, Dok!" sapa Aline dengan sopan sambil menarik kursi dan duduk di depan dokter itu.
Dokter itu membalas dengan anggukan kepala sambil tersenyum ramah. "Silakan duduk, ada yang bisa saya bantu?"
Aline terdiam sejenak nampak ragu untuk mengatakannya, ia menghela napas panjang. Jemarinya yang dingin saling bertautan di bawah meja. "Begini Dok!"
Dokter itu seakan paham dengan apa yang Aline rasakan, ia menatap Aline dengan lembut. "Tidak perlu takut, kita sama-sama wanita."
"Sebenarnya area pribadi saya terasa sakit dan mengeluarkan darah."
"Apa sedang menstruasi?"
Aline menggeleng pelan. "Nggak Dok!" Suaranya nyaris seperti bisikkan.
Dokter itu mengangguk, lalu beranjak dari tempatnya. "Mari, saya periksa dulu." Dokter itu mengajak Aline untuk berbaring di atas kasur rumah sakit.
Dengan sedikit tertatih, Aline mengikuti langkah dokter itu lalu naik ke atas brankar tersebut.
Dokter itu langsung memeriksa Aline dengan seksama dan teliti, namun bibirnya tampak berkedut ingin tersenyum. Saat melihat bahwa pasiennya ini baru saja melakukan hubungan suami istri.
"Anak muda memang sering malu-malu, tapi kalau sudah berhubungan sering lupa diri." bisik dokter itu dalam hati.
Setelah selesai pemeriksaan, dokter itu menuliskan beberapa catatan tentang kesehatan Aline dan memberikan sedikit nasehat.
"Kamu tidak apa-apa, tidak ada yang perlu dikhawatirkan hanya saja..." Dokter itu menjeda kalimatnya sejenak. Ia menatap Aline dengan senyum menggoda.
"Terkadang saat pertama kali itu memang sangat agresif, tapi lain kali harus diperhatikan lagi agar lebih lembut jika ingin melakukannya."
Nasihat itu terdengar sangat ambigu bagi Aline wajahnya seketika memerah, ia tahu kemana arah pembicaraan itu. Dengan gerakan kaku Aline mengangguk sambil tersenyum canggung.
"Ini obatnya, kamu cukup oleskan saja pada area yang luka dan untuk beberapa hari kedepan jangan berhubungan dulu." ucap Dokter itu sambil menyerahkan sebuah salep ke arah Aline.
Setelah Aline menerima obat itu, ia langsung beranjak dari tempat duduknya. "Terima kasih, Dok! Kalau gitu saya permisi."
Dokter itu mengangguk sambil menggoda Aline. "Ingat sampaikan pesan saya sama suami kamu, untuk menahannya seminggu kedepan." Dokter itu terkekeh kecil saat melihat Aline tergesa-gesa keluar dari ruangannya.
Aline menghela napas lega setelah keluar dari sana. Ia melanjutkan langkahnya ingin segera kembali ke rumah, namun di pertengahan koridor rumah sakit saat Aline terburu-buru dan bertepatan Reno yang keluar dari ruangan Erlangga tanpa sengaja mereka bertabrakan.
"Ma-af, Dok! Saya nggak sengaja." ucap Aline merasa bersalah sambil menunduk sopan.
Reno yang sama terkejutnya mengangguk sambil tersenyum ramah. "Tidak apa-apa, lagian ini salah saya."
Reno yang melihat Aline, sepertinya sedang mengalami keluhan mencoba berinisiatif menawarkan diri. "Kamu pasien di sini? Ada yang bisa saya bantu?"
Aline menggeleng cepat. Ia mendongak guna melihat dokter muda yang terlihat ramah itu. "Saya baru saja selesai konsultasi, terima kasih atas tawarannya, Dok!"
"Baiklah kalau gitu, semoga cepat sembuh, ya."
Tidak ingin berlama-lama di sana, Aline langsung mengangguk dan melangkah pergi meninggalkan Reno yang masih berdiri di tempatnya.
Tepat setelah Aline berlalu dari sana, Erlangga tiba-tiba keluar dari ruangannya. Ia melihat sahabatanya yang masih di depan ruangannya. "Kenapa masih di sini?"
"Nggak sengaja nabrak wanita cantik." jawab Reno sambil menunjuk Aline yang belum sepenuhnya meghilang dengan dagunya.
Erlangga menatap punggung Aline dan perasaannya tiba-tiba mulai merasakan sesuatu yang sulit ia jelaskan. Jika saja Erlangga melihat wajah Aline pasti pria itu akan mengenalinya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!