“Aku tidak ingin melanjutkan pernikahan ini denganmu lagi, Adinata.” Map merah dilemparkan dengan keras ke meja milik Adinata.
Adinata yang duduk dengan bangga di kursi kerjanya mengeluarkan tawa kecil. “Akan aku beri tanda tangan, jika kamu sudah bersiap untuk angkat kaki dari rumah kita tanpa membawa harta sepeserpun, Nadine.”
“Dari lama aku sudah bersiap, Adinata.”
“Ulangi.”
Nadine tertawa sambil mencoba tetap berani membalas tatapan tajam dari mata Adinata. “Aku siap angkat kaki dari rumah kita tanpa membawa apapun dari dalam sana. Sudah dari lama aku menahan semua perasaan sedihku di depanmu, Adinata.”
Adinata berdecih. “Apa kurang semua fasilitas yang aku beri ke kamu, Nadine?”
“Tidak. Kamu memberi banyak sekali fasilitas yang aku tidak yakin untuk menikmatinya sendiri.” Nadine memberi tawa kecil di akhir kalimatnya.
“Apa yang kamu inginkan, Nadine?”
“Beri tanda tanganmu disini di kertas ini, Adinata.”
Adinata tertawa kecil. “Kita bicarakan nanti ketika aku sudah pulang ke rumah kita.”
“Tidak. Aku ingin sekarang.” Nadine masih berdiri walau hatinya berdegup kencang karena takut jika emosi Adinata meluap.
“Jangan keras kepala.” Adinata berdiri dari duduknya. “Pulanglah dulu. Kita selesaikan di dalam rumah dengan kepala yang sama-sama dingin, Nadine.”
“Aku hanya ingin kamu bubuhkan tanda tanganmu saja, Adinata. Aku tidak menginginkan hal lain.”
“Apa yang salah dari aku, Nadine?”
“Tidak ada yang salah denganmu karena kesalahan itu ada di aku.” Suaranya serak karena emosi yang tertahan di hatinya.
“Lalu, kenapa harus berpisah? Kenapa tidak kita perbaiki bersama-sama, sayang?” Adinata melangkahkan kakinya untuk menyusul Nadine.
Nadine memundurkan langkahnya. “Tidak bisa. Tidak ada yang perlu diperbaiki. Biarkan saja semuanya.”
Adinata menghentikan langkah kakinya ketika melihat istrinya mundur beberapa langkah ke belakang. “Aku tidak mengerti. Jelaskan saja apa yang membuat kamu keukeuh untuk berpisah?”
Nadine menggelengkan kepalanya. “Apa kedua matamu tidak bisa melihat orang tuamu, adikmu, nenekmu dan seluruh keluarga besarmu, BAGAIMANA MEREKA MEMPERLAKUKAN AKU KETIKA AKU DIDEKAT MEREKA, ADINATA?!”
Adinata menatap istrinya yang berdiri di depannya dengan wajah yang sudah terkontaminasi dengan air mata. “Sayang…”
“Aku hanya ingin berpisah denganmu, Adinata. Tolong, jangan persulit aku lagi.” Nadine tidak bisa menahan air matanya yang mengalir semakin deras. “Perlu aku bersujud di depanmu? Akan aku lakukan jika setelahnya kamu menandatangani surat perceraian kita, Adinata. Aku mohon.”
Adinata menggelengkan kepalanya berulang kali. Melihat emosi Nadine yang kacau saat ini, Adinata rasa ia tidak dapat berbuat banyak. “Tenangkan dirimu dulu. Kita akan berbicara lagi tentang surat ini ketika aku sudah selesai bekerja.”
Nadine menggelengkan kepalanya sebagai penolakan. “Sekarang. Tidak ada kata nanti atau besok.”
“Tidak bisa.” Adinata menatap Nadine dengan tatapan tajam, tapi setelahnya ia melunak. “Ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda atau pun dibatalkan hari ini. Aku harap kamu mengerti kesibukanku sebentar saja. Aku akan bicara lagi tentang surat ini nanti malam.”
Nadine tertawa kecil dengan air mata yang masih mengalir dari matanya. “Berhenti membual! Aku hanya ingin kamu memberi tanda tangan. Aku tidak ingin lagi membicarakan sumber dari sakit hatiku, Adinata.”
“Selain menandatangani surat itu, apa yang bisa aku lakukan untukmu, Nadine?” Suara Adinata merendah, seolah ego-nya ikut ia rendahkan di depan istrinya, miliknya, dunianya—Nadine.
“Tidak ada. Aku tidak ingin apapun darimu. Aku hanya ingin kita berpisah.”
“Aku menolak.”
“Aku tidak membutuhkan keputusanmu. Aku tidak peduli dengan penolakanmu, Adinata.”
“Turunkan sedikit egomu, Nadine.”
“Begitu juga denganmu.” Nadine memajukan satu langkahnya. “Aku rasa sudah cukup untuk aku mendapatkan cacian kotor dari mulut keluargamu, Adinata.”
“Kita bisa memperbaikinya.” Adinata masih tetap dengan penolakannya.
Nadine terkekeh. “Bagaimana caramu? Diam dan membiarkan mereka berteriak dengan kencang untuk menyalahkanku?”
Adinata diam, tapi matanya memandang tepat di mata Nadine.
“Aku tidak mau memundurkan rencanaku, Adinata.” Telunjuk Nadine terarah ke wajah Adinata. “Kamu hanya perlu tanda tangan dan selesai. Tidak perlu untuk bertele-tele.”
“Aku memintamu menunggu dan sedikit bersabar.”
“Setelahnya, kamu akan memberi ‘iya’ pada permintaanku?”
“Tidak.” Adinata membalikkan tubuhnya. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana yang ia pakai. “Istirahat dan tenangkan pikiranmu. Aku harap ketika kita berbicara nanti, kepalamu sudah dingin dan bisa untuk bekerja sama.”
“Aku tetap ingin berpisah denganmu.”
Rahang Adinata mengeras mendengar jawaban keras kepala dari istrinya. “Kita sambung pembicaraan ini di rumah, Nadine.”
“Aku tidak mau.”
Adinata membalikkan tubuhnya. Ia maju beberapa langkah dan berhadapan dengan Nadine. Disela mereka saling bertatapan ada jarak 2 langkah kaki Nadine atau 1 langkah kaki Adinata.
“Kamu ini kenapa?”
“Aku ingin berpisah denganmu. Aku sudah tidak ingin berurusan lagi dengan dirimu dan apapun lagi yang berkaitan dengan dirimu, Adinata. Tidakkah kamu mengerti maksudku.”
“Aku mengerti.” Nada suara Adinata melunak. “Tapi bukankah perceraian kita bukan menjadi jalan keluarnya, Nadine? Kita sudah saling mengenal satu sama lain, tidakkah kamu ingin mempertahankan pernikahan kita?.”
“Aku tidak ingin mempertahankan. Aku sudah tidak ingin mengenal dirimu lagi, Adinata!” Tangan Nadine mengepal di samping tubuhnya. “Harus seberapa lama lagi aku untuk bersabar dan menyalahkan diriku sendiri, Adinata?”
“Baik. Tunggu aku di rumah kita. Aku akan mengabulkan keinginanmu, Nadine.”
“Aku tunggu dan ‘ku harap kamu tidak berbohong.”
“Sekarang.”
Begitu pintu kamar dibuka oleh Adinata, Nadine sudah berdiri dengan membawa map merah di tangannya.
Adinata menghembuskan nafasnya. “Aku baru pulang kerja. Bisa kamu tunggu aku untuk mandi dulu, Nadine?”
“Tidak bisa.” Nadine menatap Adinata dengan tajam. “Sesuai perkataanmu saja, Adinata. Sekarang kamu dan aku berada di rumah yang sama, jadi cepat tanda tangani. Tidak usah bertele-tele.”
“Beri aku alasan, kenapa kamu ingin sekali berpisah dariku, Nadine?”
Pintu kamar mereka sengaja Adinata kunci tanpa memandang caranya mengunci pintu. Ia melangkahkan kakinya memangkas jarak mereka berhadapan. Hanya menyisakan satu langkah saja.
“Aku hanya ingin cerai denganmu. Tidak usah bertanya tentang alasannya. Aku hanya ingin bercerai saat ini juga denganmu, cukup itu saja yang harus kamu tahu, Adinata.”
Adinata terkekeh. “Jawab.”
Tidak membentak. Adinata hanya memberi tekanan pada ucapannya.
Nadine memundurkan langkahnya ketika pandangan mata Adinata sudah berubah.
“Beri saja jawabanmu, Nadine. Aku perlu mengerti sebelum memberi tanda tangan di kertas sialan yang kamu bawa ini.” Map merah di tangan Nadine diambil paksa oleh Adinata dan dilemparkan begitu saja di lantai. “Kamu hanya perlu menjawab dan aku akan mendengarkannya, sayang.”
“Adinata berhenti.” Nadine menahan dada Adinata agar tidak semakin membuat dirinya terpojok.
“Terlambat, sayang,” ejek Adinata.
Tubuh kecil Nadine sudah terhimpit diantara tubuh kekar Adinata dan tembok kamar ini.
Nadine melayangkan tatapan kesal ke Adinata. “Minggir.”
Adinata menggelengkan kepalanya. “Tidak. Sebelum kamu memberi jawaban yang masuk ke akal kepadaku.” Tangan kanan Adinata mengusap pipi Nadine dengan usapan lembut, penuh perhatian dan kasih sayang.
Nadine menghindari usapan Adinata di pipinya. “Singkirkan tanganmu, Adinata.”
“Tidak mau.” Adinata memberi gelengan kepala dengan wajah yang semakin mendekat. “Aku ingin mencium bibirmu, Nadine.”
“TIDAK.”
Penolakan Nadine tidak berguna. Adinata sudah membekap bibir Nadine dengan bibir miliknya.
Nadine memberi protes. Ia mencoba memberontak dengan menggerakkan wajahnya ke kanan dan kiri.
Adinata yang kesal dengan respon Nadine memberi gigitan kecil di bibir Nadine sampai mengeluarkan darah segar karena ulahnya.
Adinata terkekeh. “Aku suami kamu, Nadine. Kita sah secara agama dan negara.”
“Ceraikan aku.”
“Jawab dulu pertanyaan yang aku beri, Nadine.” Di posisi yang masih sama, tangan kanan Adinata kembali mengelus pipi Nadine dengan lembut.
“Lepaskan aku dulu.”
“Tidak mau. Kita tidak usah bercerai. Aku akan memperbaiki kesalahan di pernikahan ini.”
Nadine tertawa kecil. “Kamu berani membantah ibumu dan keluarga besarmu, Adinata?”
Adinata terdiam, tapi tidak dengan tatapan matanya.
“Sudahlah. Dengan perceraian kita, anggap saja aku juga membantumu. Kamu tidak perlu repot lagi menyatukan aku dan keluarga besarmu ditempat yang sama. Kamu tidak akan mendapat dosa lagi karena membantah omongan ibumu.”
“Kamu akan menjauh dariku?”
Nadine menganggukkan kepalanya. Keputusannya sudah ia pertimbangkan dengan penuh keyakinan. “Itu lebih baik untuk mentalku.”
“Aku tidak bisa memperbaikinya lagi, Nadine?”
“Aku tidak ingin kamu memperbaikinya, Adinata. Lagi pula, apa yang akan kamu perbaiki? Hubunganmu denganku atau hubunganmu dengan ibumu?”
Adinata berada di pilihan yang sulit. Antara sang ibu atau sang istri. Adinata tidak ingin memilih. Ia masih ingin ibunya tetap disini dan memiliki Nadine sebagai istrinya.
“Setelah mendapat tanda tanganku, apakah kamu akan bahagia?”
“Sangat bahagia.” Nadine menatap Adinata dengan tatapan bahagia. “Hidupku hanya sekali di dunia ini. Sia-sia saja jika aku harus terus-menerus untuk bersedih.”
Adinata menghembuskan nafasnya secara kasar di depan wajah Nadine. Setelahnya ia menjauhkan tubuhnya dari tubuh sang istri. Ia melepas jas dan dasi dari tubuhnya.
“Kamu.” Adinata tertawa. Tangannya membuka 2 kancing kemejanya dengan kasar. “Puaskan aku. Setelahnya aku akan memberi tanda tanganku dan aku segera mendaftarkan perceraian kita di pengadilan.”
Mata Nadine terbuka dengan lebar. “Kamu gila!”
“Setidaknya aku masih bisa merasakan milikmu sebelum kita resmi bercerai, Nadine.” Adinata menatap wajah Nadine dengan lapar. “Pilihanmu hanya iya, Nadine.”
“Sialan.”
“Kamu menolaknya? Berarti aku tidak perlu memberi tanda tanganku.”
“Perceraian ini juga memberi keuntungan untukmu, Adinata.” Suara Nadine sengaja dikeraskan.
“Pelankan suaramu, Nadine. Cukup desahanmu saja yang perlu kamu keraskan di depanku.” Adinata melipat tangannya di depan dada. “Pilihlah, sayang. Aku tidak sesabar itu untuk menunggu.”
Tangan Nadine mengepal di sebelah tubuhnya. Adinata brengsek!
“Tidak memakai alat kontrasepsi dan keluar di dalam.”
“KAMU GILA?!” bentak Nadine dengan keras.
Adinata menghela nafasnya. “Sudah ‘ku bilang, Nadine. Cukup desahanmu saja yang kamu keraskan.”
Nadine menatap Adinata dengan tajam. “Aku tidak mau.”
“Iya sudah. Aku tidak rugi.” Adinata melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi.
“Tunggu.” Nadine menggigit kuku jari telunjuknya. Dengan ragu ia menyuruh Adinata untuk menunggu. “Sekali. Setelahnya beri tanda tanganmu di kertas ini.”
Adinata belum ingin membalikkan tubuhnya. Ia terkekeh. “Sekali? Tidak.”
“Maumu bagaimana, Adinata?”
“Sampai aku puas. Setelahnya aku kabulkan permintaanmu.”
Kedua mata Nadine terbuka dengan lebar. Jika sampai Adinata puas, sama saja dengan Nadine yang akan langsung pingsan karena menuruti keinginan Adinata.
“Baiklah.”
Nadine memegang perutnya sebentar. Bantu Mama, ya, Nak. Ini untuk kebaikan kita nantinya, Nak. Setelahnya ia jauhkan tangannya dan melangkahkan kakinya menghampiri Adinata yang sudah membalikkan tubuhnya. Tatapannya lapar seolah menunggu santapan lezat.
“Aku tidak akan memaksa kamu. Kamu yang memilih sendiri pilihannya, Nadine.”
Haruskah Nadine menuruti permintaan Adinata. Tapi dengan Nadine menurutinya, tanda tangan dari Adinata akan berada di kertas yang sudah ia perjuangkan di pengadilan.
Apa yang harus Nadine pilih. Perasaan atau logikanya.
Adinata tertawa kecil. “Pikirkan baik-baik, Nadine. Aku tidak memaksamu. Jika mau, datanglah kesini. Aku tidak akan kemana-mana, hanya untukmu.”
Sebenarnya jika Nadine menolak, Adinata akan dengan mudah memaksa Nadine, tapi biarlah. Ia ingin melihat Nadine memilih. Kepalanya pusing dan sedang tidak dalam kondisi yang baik untuk memberi balasan kemarahan Nadine.
Nadine mengepalkan kedua tangannya. “Licik sekali.”
“Aku hanya mengikuti permainanmu.”
Nadine memegang rahang Adinata dan bibirnya menyambar bibir Adinata dengan cepat. Bunyi kecupan dari bibir Adinata dan bibir Nadine memantul dengan keras di kamar ini. Mungkin saja, jika ada seseorang di luar kamar juga ikut mendengarnya.
Nadine mendesah ketika ciuman Adinata turun ke lehernya dan berganti ke pundaknya dengan ritme pelan.
Tidak cepat, tapi pasti untuk melumpuhkan titik rangsangan sang lawan. Itu prinsip Adinata untuk sang istri. Ia mengeluarkan senyuman miring ketika melihat kedua mata Nadine yang sudah menerima rangsangannya. Sengaja ia buat kissmark di leher sang istri sebelum mereka resmi berpisah.
“Jangan.” Nadine melenguh. “Jangan membuat kissmark di leherku.”
Adinata tertawa kecil di telinga kanan Nadine. “Itu salah satu yang membuatku puas, sayang.” Ia memberi gigitan kecil di telinga Nadine yang disambut dengan desahan dari mulut sang istri. “Aku ingin mencoba banyak gaya di malam ini. Malam terakhir aku bisa menyentuh dirimu sepuasku, Nadine.”
Tanpa Nadine menyadari, dress yang ia pakai sudah berhasil suaminya lepas dengan sempurna. “Kita mulai, sayang.”
Adinata menghirup ceruk leher Nadine, sedangkan Nadine mengeratkan tangannya memeluk sang suami.
Adinata terkekeh. Ia beri gigitan kecil ke telinga Nadine dan menciptakan lenguhan merdu dari bibir Nadine. “Keraskan saja, sayang. Aku senang mendengar suaramu.”
Nadine ingin menyalahkan dirinya sendiri yang ‘gampangan’ hanya karena sentuhan kecil dari Adinata. Tapi memang bagian lain dari dirinya menginginkan hal yang lebih. Atau ini efek dari kehamilannya?
“Pilih tempatnya, sayang. Di sofa, kasur, bathtub atau di balkon sebagai permulaan permainan kita.” Adinata memberi tiupan ke telinga Nadine.
Nadine melepas tangannya dari leher Adinata. “Kamu harus benar-benar memberi tanda tanganmu di surat perceraian kita, Adinata.”
“Jangan membahasnya sekarang, Nadine. Aku tidak ingin mendengarnya.”
“Tujuanku menuruti permintaanmu hanya karena aku ingin mendapatkan tanda tanganmu di surat itu. Kalau kamu tidak mau, untuk apa aku setuju seperti ini.”
“Lama.” Adinata menggendong tubuh Nadine dengan mudah.
Nadine terkejut ketika dirinya di lempar oleh Adinata ke atas kasur. Ia melihat dengan jelas bagaimana Adinata melepas kemeja yang dipakainya dan gesper yang melingkari pinggangnya.
“Aku tidak akan bermain kasar denganmu, Nadine. Aku hanya ingin kamu mengingat semua permainanku di tubuhmu dengan baik.” Adinata melepas celana bahan yang menutupi kaki jenjangnya menyisakan celana dalam yang melindungi miliknya.
Nadine menahan tangan Adinata yang akan melepaskan pakaiannya. “Aku tidak suka bermain dengan cara kasar, Adinata.”
Adinata tertawa. “Aku rasa kamu masih ingin kita berbicara, ya.” Adinata menahan nafsu yang menguasai dirinya untuk menunggu kesiapan sang istri.
Nadine menatap mata sang suami yang berada di atasnya melingkupi tubuhnya. “Aku cuma ingin kamu memberi tanda tangan saja, Adinata. Kenapa kamu seperti ini?”
“Bukan aku yang menginginkan perceraian ini,” jawab Adinata diiringi desahan kasar.
Nadine mencengkram pundak Adinata. “Dengan kita bercerai, kamu juga mendapat keuntungan, Adinata.”
“Tidak juga.” Adinata mengangkat salah satu alisnya dibarengi dengan senyuman miring terukir di bibirnya. Wajahnya yang terlihat seperti seorang antagonis seperti di film terlihat menjadi lebih jahat. “Aku menyuruhmu menunggu, tapi kamu sudah tidak sabar.”
“Mau kamu gimana sih?! Dari dulu yang keluar dari mulut kamu selalu ‘menunggu’, ‘tunggu aku’, kapan akhirnya, Adinata?! Semua perempuan juga akan lelah jika terus menunggu tanpa diberi kepastian! Otak kamu dimana?!”
Adinata mendengus. “Di dalam otakku cuma ada kamu. Aku udah pengen makan kamu, Nadine. Bisa kita mulai sekarang? Aku sudah tidak sabar.”
Nadine menjadi gugup. “Jangan membohongiku! Besok pagi, tanda tanganmu harus sudah ada, Adinata,” ancam Nadine.
Adinata menghembuskan napasnya ke atas. Wajahnya menghadap ke langit-langit kamarnya. Tubuhnya masih berada diposisi yang sama, mengukung tubuh Nadine. “Kamu tidak percaya denganku?”
“Sudah mencoba untuk percaya, tapi ternyata aku ditipu.” Nadine berdecih, ia membuang pandangannya ke samping. “Untuk apa aku memberi kepercayaan.”
“Nadine.” Adinata membawa wajah Nadine menghadap wajahnya. “Jika aku memohon kepadamu untuk tetap bersamaku, kamu mau tidak?”
“Jelas tidak. Jika aku menjawab ‘mau’, aku rasa mentalku akan semakin hancur. Aku tidak ingin mati sebelum menjadi seorang ibu.”
“Selama ini kita baik-baik saja, Nadine.”
Nadine tertawa kecil. “Kita memang baik-baik saja, tapi keluargamu tidak pernah baik-baik saja ketika aku ada, Adinata. Matamu buta, kah? Sampai-sampai kamu tidak bisa melihatnya.”
Adinata berdiri tanpa menjawab. Ia membuka laci dan mengambil kotak kecil di dalamnya. Ia kembali lagi ke posisi sebelumnya.
“Percakapan kita sudah cukup. Aku tidak ingin mendengarnya lagi.” Adinata menggigit kemasan yang membungkus alat kontrasepsi sebelum ia pakai. “Aku hanya ingin mendengar suara desahanmu saja. Aku akan menandatanganinya ketika urusan ranjang kita selesai.”
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!