Bab 1: Terbangun di Ranjang CEO
"Jadi, kau sengaja memakai ini hanya untuk mengingatkanku bahwa kau istriku?"
Kalimat itu jatuh di atas kepalaku seperti air es.
Aku membuka mata.
Hal pertama yang kulihat bukan plafon putih, bukan lampu tidur mahal yang remangnya lembut, melainkan dada seorang pria. Dada yang tertutup kemeja hitam, rapi sampai kancing paling atas, tapi tetap tidak berhasil menyembunyikan garis bahu yang terlalu bagus untuk disebut manusia biasa.
Sedetik kemudian, rasa dingin merayap dari tulang punggungku.
Aku menunduk.
Di tubuhku ada gaun tidur renda warna sampanye. Tipis. Terlalu tipis. Tali bahunya seperti bisa putus hanya karena aku bernapas agak keras.
Otakku kosong selama tiga detik.
Lalu isi kepalaku meledak.
Ini bukan kamarku.
Ini bukan tubuhku.
Dan pria di depanku, kalau ingatanku tidak salah, adalah Raymon Kei, CEO KeiTech Group, konglomerat teknologi Jakarta, suami kontrak karakter bernama Melia Seng di novel yang baru saja kubaca sampai subuh.
Lebih parah lagi, aku sekarang menjadi Melia itu.
Melia Seng, ibu tiri cantik yang di awal cerita punya tiga hobi: mengejar perhatian suami, membuat Shawn Kei muak, dan berjalan mantap menuju akhir hidup sebagai wanita yang diusir dari keluarga Kei.
Bagus.
Aku baru transmigrasi, dan adegan pertamaku adalah adegan paling memalukan sepanjang sejarah umat manusia: berdiri di depan suami kontrak memakai lingerie renda, setelah pemilik tubuh asli tampaknya baru saja mengeluh karena tidak disentuh.
Kalau ada tombol keluar dari dunia ini, aku pasti sudah menekannya dengan dahi.
Raymon berdiri tidak jauh dari tempat tidur. Tinggi, dingin, dan tenang. Terlalu tenang untuk pria yang sedang berhadapan dengan istrinya yang berpakaian seperti katalog malam pertama gagal.
Di belakangnya, jendela besar memperlihatkan gelapnya kawasan Grand Island PIK. Lampu taman di luar menyala rapi, memantul di kaca seperti barisan bintang buatan orang kaya.
Orang kaya memang beda. Bahkan suasana canggungnya punya pencahayaan premium.
"Melia," ucap Raymon.
Suara rendahnya membuatku otomatis mengangkat kepala.
"Aku pikir kita sudah sepakat sejak awal."
Aku berkedip.
Sepakat?
Ingatan asing menusuk masuk perlahan. Surat perjanjian pranikah. Pernikahan yang terjadi karena Taima Lilian menyukai Melia setelah sebuah kejadian penyelamatan. Uang bulanan Rp 50 juta. Status istri sah di depan publik. Tidak ada hubungan intim. Setelah kesehatan Taima memburuk dan beliau tiada, mereka boleh bercerai tanpa saling mengganggu.
Singkatnya, ini bukan pernikahan.
Ini proyek akting keluarga dengan gaji bulanan.
"Aku ingat," jawabku cepat.
Raymon menatapku lebih lama. Matanya gelap, tidak galak, tapi cukup tajam untuk membuat orang merasa semua kebohongan di tubuhnya sedang dipindai.
"Kalau kau menyesal, kita bisa membicarakan perceraian lebih awal."
Perceraian?
Kata itu seharusnya membuatku lega.
Tapi pada detik yang sama, kepalaku memutar seluruh data penting: rumah sebesar ini, kartu tambahan tanpa limit, uang bulanan Rp 50 juta, status sosial Nyonya Kei, dan kesempatan hidup nyaman tanpa perlu ikut nasib buruk Melia asli.
Aku belum tahu cara pulang. Aku juga belum tahu kenapa bisa masuk ke dunia novel ini. Tapi ada satu hal yang jelas.
Orang waras mana yang baru jatuh ke rumah konglomerat langsung minta keluar?
"Tidak," kataku.
Raymon sedikit menyipitkan mata.
Aku menarik napas, menahan rasa malu yang masih membuat telingaku panas, lalu berusaha memasang wajah paling masuk akal.
"Maksudku, aku tidak ingin cerai lebih awal. Perjanjian itu tetap berlaku. Soal tadi..."
Mataku tanpa sadar turun ke gaun tidur renda di tubuhku.
Aku ingin menghilang.
"Anggap saja aku... salah kostum."
Keheningan di kamar utama itu berlangsung dua detik lebih lama dari yang bisa ditanggung harga diriku.
Sudut mata Raymon seperti bergerak sedikit. Entah dia ingin tertawa atau sedang menilai kewarasanku.
"Salah kostum," ulangnya datar.
"Ya." Aku mengangguk dengan yakin, karena saat hidup memberimu lubang, gali saja sampai tembus ke sisi lain. "Aku tadi mungkin terlalu menghayati peran sebagai Nyonya Kei."
"Peran?"
Sial.
"Maksudku," aku segera memperbaiki, "peran di depan keluarga. Kau tahu, istri yang normal, harmonis, tidak membuat Taima khawatir."
Raymon tidak langsung menjawab.
Lampu kuning hangat di kamar itu jatuh di wajahnya, mempertegas garis rahang yang rapi dan hidung tinggi. Di novel, Raymon disebut berusia tiga puluh delapan tahun. Tapi pria di depanku tidak terlihat seperti pria yang hampir kepala empat. Kulitnya terlalu bersih, tubuhnya terlalu tegap, dan ada energi dingin yang lebih mirip pria awal tiga puluhan yang terlalu lama berteman dengan laporan keuangan.
"Kau berbeda malam ini," katanya akhirnya.
Jantungku berhenti setengah ketukan.
Aku tersenyum kecil. Semoga terlihat seperti manusia, bukan buronan.
"Mungkin karena akhirnya aku sadar, memaksa sesuatu yang sudah tertulis di kontrak itu tidak elegan."
Raymon menatapku.
Aku balas menatapnya dengan seluruh keberanian sisa.
Jangan panik, Melia. Kau sudah membaca novel ini. Pria ini bukan orang mesum, bukan suami kasar, bukan CEO gila yang mengunci istri di kamar. Dia hanya dingin, hemat kata, dan sangat patuh pada perjanjian.
Masalahnya, tatapannya tetap membuat lututku ingin cuti.
"Baik," ucapnya.
Hanya satu kata.
Tapi bahuku langsung turun sedikit.
Raymon berjalan ke sisi tempat tidur, mengambil selimut, lalu meletakkannya di atas kasur dengan jarak yang sopan. Gerakannya tenang, seolah dia sedang menyelesaikan dokumen, bukan menghadapi istrinya yang baru saja melakukan atraksi memalukan.
"Tidur," katanya.
Aku menatap ranjang besar di depan kami.
Ranjang itu mungkin cukup luas untuk empat orang dewasa berguling tanpa saling menendang. Tetap saja, tidur satu ranjang dengan Raymon Kei terasa seperti tidur di sebelah gunung es yang punya nilai pasar triliunan.
"Kita tidur di sini?" tanyaku bodoh.
Raymon memandangku. "Kamar utama hanya satu."
"Tapi..."
"Staf rumah tahu kita tidur sekamar."
Benar juga.
Pernikahan kontrak ini rahasia. Di mata publik, aku istri sah yang baru menikah sebulan dengan CEO idaman sosialita Jakarta. Kalau besok pagi aku keluar dari kamar tamu, Pak Ahin mungkin tidak akan bertanya, tapi seluruh rumah akan tahu.
Aku menggenggam ujung selimut.
"Tenang saja," ucap Raymon, seolah membaca kepanikanku. "Aku tidak akan menyentuhmu."
Kalimat itu seharusnya membuatku aman.
Anehnya, mendengar pria setampan ini mengucapkannya dengan wajah sedingin rapat direksi membuat harga diriku ikut tersinggung sedikit.
Tidak, Melia. Fokus.
Kau bukan datang untuk mengejar suami. Kau datang untuk bertahan hidup, menikmati fasilitas, dan menghindari akhir tragis sebagai ibu tiri jahat.
"Aku juga tidak akan menyentuhmu," balasku refleks.
Raymon menghentikan gerakannya membuka jam tangan.
Aku ingin menggigit lidah sendiri.
Kenapa aku harus terdengar seperti sedang menawarkan kerja sama keamanan perbatasan?
Untuk kedua kalinya malam itu, aku melihat sesuatu yang nyaris seperti senyum lewat di wajah Raymon. Sangat tipis. Begitu tipis sampai mungkin cuma halusinasiku yang kekurangan tidur.
Dia mematikan lampu utama.
Kamar tenggelam dalam cahaya remang.
Aku berbaring di sisi paling pinggir ranjang, kaku seperti ikan beku. Selimut kutarik sampai bawah dagu. Aroma bersih yang samar, seperti kayu pinus dan sabun mahal, datang dari sisi Raymon.
Di novel, Melia asli selalu marah karena Raymon tidak mau menyentuhnya. Dia merasa status Nyonya Kei belum lengkap kalau tidak mendapatkan tubuh dan hati suaminya.
Aku berbeda.
Aku hanya ingin tidur tanpa membuat masalah.
Sayangnya, tubuh ini jelas belum membaca memo itu. Setiap kali Raymon bergerak sedikit, napasku ikut tertahan. Setiap kali kasur turun halus karena berat tubuhnya, seluruh sarafku seperti berdiri.
Malam berjalan sangat panjang.
Aku sempat memejamkan mata, lalu membuka lagi.
Dalam gelap, aku mengingat nasib Melia di novel. Dia menekan Shawn, membuat remaja itu semakin membencinya. Dia mencoba berbagai cara memikat Raymon, tapi semakin terlihat menyedihkan. Pada akhirnya, ketika semua masalah meledak, keluarga Kei mengusirnya tanpa ampun.
Aku tidak boleh begitu.
Mulai besok, aku harus jadi Melia versi baru.
Tidak mengejar suami.
Tidak mengganggu anak tiri.
Tidak membuat Taima kecewa.
Dan yang paling penting, tidak melepas kehidupan mewah sebelum menemukan cara berdiri sendiri.
Dengan tekad sebesar itu, aku akhirnya tidur menjelang pagi.
Ketika aku membuka mata lagi, kamar sudah terang.
Aku menatap jam digital di nakas.
13.47.
Hampir jam dua siang.
Aku terduduk seketika.
Sisi ranjang Raymon sudah kosong. Selimutnya rapi, tidak ada bekas kusut berlebihan, seolah pria itu bahkan tidur pun menggunakan standar operasional perusahaan.
Di atas nakas ada secarik catatan.
Aku mengambilnya.
Tulisan tangannya tegas, ramping, dan dingin.
Aku ke kantor. Pak Ahin akan mengatur makan siangmu.
Tidak ada tanda tangan. Tidak ada basa-basi.
Sangat Raymon.
Aku turun dari ranjang, baru sadar tubuhku sudah berganti piyama sutra yang lebih sopan. Sepertinya tadi malam, sebelum tidur, aku sempat menyelamatkan sisa martabatku dari gaun renda itu.
Begitu masuk kamar mandi, aku berhenti di ambang pintu.
Kamar mandi ini...
Apa ini masih kamar mandi atau cabang kecil hotel bintang lima?
Lantainya marmer hangat. Ada bathtub oval dekat jendela, area shower kaca seluas kamar kos, meja rias panjang, sofa kecil, bahkan lemari handuk yang ukurannya bisa menampung seluruh pakaian lamaku. Dari ingatan pemilik tubuh, luas kamar mandi utama ini sekitar dua ratus meter persegi.
Dua ratus meter persegi.
Di kehidupan lamaku, angka itu bisa jadi luas rumah impian satu keluarga.
Di sini, itu tempat orang menyikat gigi.
Aku berdiri di depan cermin besar, menatap wajah Melia Seng.
Cantik.
Terlalu cantik sampai terasa tidak realistis. Mata cerah, kulit halus, bibir penuh, rambut panjang yang jatuh lembut di bahu. Jenis kecantikan yang membuat orang di pesta langsung membenci sebelum mengenal.
Sayang, pemilik aslinya memakai wajah ini untuk berjalan ke jurang.
"Mulai sekarang," gumamku pada bayanganku sendiri, "kita pakai wajah ini untuk hidup enak."
Setelah mandi dan berganti pakaian, aku akhirnya keluar menjelajahi Kei Mansion.
Pak Ahin belum terlihat. Mungkin staf rumah sengaja memberi ruang pada Nyonya Kei yang bangun siang setelah malam yang, dalam imajinasi mereka, mungkin sangat romantis.
Romantis apanya. Aku hampir mati karena malu.
Mansion itu lebih besar dari bayanganku saat membaca novel. Delapan kamar tidur. Dua belas ruang dengan fungsi berbeda. Home theater pribadi. Gym. Ruang baca. Ruang teh. Dapur utama yang bisa dipakai syuting acara kuliner. Kolam renang biru jernih di halaman belakang, menghadap taman yang dipangkas rapi seperti katalog properti.
Grand Island PIK sendiri adalah kawasan premium di Jakarta Utara, tempat orang biasa datang untuk foto, sementara orang seperti keluarga Kei membeli unit terbesar dan menaruh nama keluarga di gerbang.
Aku berjalan melewati lorong panjang, menyentuh pegangan tangga yang dingin dan mengilap.
Kemarin, aku masih orang biasa yang membaca novel sambil menertawakan karakter bodoh.
Hari ini, aku menjadi karakter itu.
Bedanya, aku tidak berniat bodoh.
Di ruang keluarga lantai dua, ada foto Raymon, Shawn, dan seorang wanita tua yang pasti Lilian Kei. Wajah Shawn di foto itu masih remaja, tampan, dingin, dan jelas tidak bahagia. Aku menatapnya sebentar.
Anak tiri yang akan membenciku kalau aku salah langkah.
Protagonis muda yang masa depannya bisa hancur kalau plot asli dibiarkan berjalan.
Baiklah. Catatan pertama: jangan cari masalah dengan Shawn.
Catatan kedua: cari tahu kapan plot pertama dimulai.
Catatan ketiga: cek saldo pribadi.
Poin terakhir membuatku tiba-tiba tidak tenang.
Aku kembali ke kamar, menemukan ponsel Melia di meja rias, dan berhasil membukanya dengan sidik jari. Ada banyak pesan belum dibaca, beberapa dari nomor bernama Hendra. Aku belum membukanya. Perutku sudah punya firasat buruk.
Namun sebelum sempat memeriksa rekening, pintu kamar diketuk pelan.
"Nyonya," suara Pak Ahin terdengar dari luar. "Makan siang sudah siap."
"Baik, Pak Ahin. Saya turun sebentar lagi."
Di luar pintu, ada jeda kecil.
Mungkin dia terkejut karena aku menjawab sopan.
Aku menatap layar ponsel sekali lagi, lalu menaruhnya.
Saldo bisa dicek nanti. Untuk sekarang, aku harus mempelajari rumah ini, orang-orangnya, dan aturan mainnya.
Saat turun tangga, pikiranku kembali ke Raymon.
Usia publiknya tiga puluh delapan. Novel juga menulis begitu. Tapi wajahnya tadi malam terlalu muda, tubuhnya terlalu prima, dan cara diamnya bukan lelah pria hampir empat puluh. Lebih seperti seseorang yang sengaja menaruh jarak dari dunia.
Aku berhenti di anak tangga terakhir.
Ada yang aneh.
Raymon Kei sama sekali tidak terlihat seperti pria berusia tiga puluh delapan tahun.
Bab 2: Saldo Nol Koma Lima dan Si Teh Hijau
Kecurigaan tentang usia Raymon kusimpan dulu di bagian otak yang bertuliskan: bahaya, tapi belum mendesak.
Saat ini ada hal lain yang lebih dekat dengan tenggorokanku.
Lapar.
Aku turun ke ruang makan dengan langkah yang kuusahakan anggun. Di bawah, Pak Ahin sudah berdiri menunggu. Pria paruh baya itu memakai kemeja putih rapi dan rompi gelap. Wajahnya tenang, tapi matanya bergerak cepat saat melihatku.
Mungkin karena Nyonya Kei yang biasa bangun dengan wajah tidak puas hari ini turun dengan rambut rapi, pakaian sopan, dan ekspresi tidak ingin menggigit siapa pun.
"Makan siang sudah disiapkan, Bu," katanya.
"Terima kasih, Pak Ahin."
Gerakan tangannya terhenti.
Aku pura-pura tidak melihat.
Di novel, Melia asli tidak pernah ramah pada staf saat Raymon tidak ada. Di depan suami, dia bisa tersenyum lembut. Begitu Raymon keluar rumah, semua orang berubah menjadi dekorasi hidup yang boleh diperintah seenaknya.
Aku berbeda.
Selain karena aku masih punya hati, aku juga belum cukup kaya untuk berani bersikap jahat pada orang yang mengatur makananku.
Meja makan panjang itu hampir membuatku merasa sedang menghadiri rapat keluarga kerajaan. Ada sup hangat, ikan kukus, tumis sayur, ayam panggang madu, dan semangkuk kecil sambal matah yang aromanya menggoda.
Aku duduk, lalu melihat Pak Ahin masih berdiri di dekat pintu.
"Pak Ahin sudah makan?"
Dia menatapku seolah aku baru bertanya apakah bulan bisa digoreng.
"Belum, Bu. Nanti setelah Nyonya selesai."
"Kalau begitu makan juga. Tidak harus di sini kalau tidak nyaman, tapi jangan tunggu aku sampai selesai. Nanti makanannya dingin."
Keheningan turun di ruang makan.
Pak Ahin menunduk sopan, namun aku melihat jelas kebingungan di wajahnya.
"Baik, Bu."
Dia mundur dua langkah, lalu seperti teringat sesuatu.
"Hari ini Jumat, Bu. Ko Shawn biasanya pulang lebih cepat dan membawa beberapa teman sekolah."
Sendokku berhenti di udara.
Shawn.
Protagonis muda novel ini.
Anak tiri Melia.
Remaja tujuh belas tahun yang membenci ibu tirinya karena Melia asli selalu mencoba mengontrol hidupnya, berusaha memisahkannya dari Raymon, dan memandangnya seperti penghalang dalam pernikahan.
"Jam berapa biasanya dia pulang?"
"Sore, Bu. Sekitar jam empat. Kadang lebih cepat kalau tidak ada kegiatan tambahan."
Aku menghitung cepat.
Masih ada waktu.
"Baik. Kalau dia membawa teman, siapkan camilan saja. Jangan terlalu formal."
Pak Ahin berkedip.
"Camilan, Bu?"
"Anak SMA tidak butuh jamuan makan seperti direksi. Gorengan kecil, buah, minuman dingin. Kalau bisa bubble tea juga."
Wajah Pak Ahin tetap sopan, tapi jiwanya mungkin sedang mencatat: Nyonya berubah total, harap lapor diam-diam.
Setelah makan siang, aku kembali ke kamar utama. Aku harus menyusun strategi sebelum bertemu Shawn. Tapi begitu masuk kamar mandi, strategi itu langsung hancur diganti rasa ingin menjerit.
Di meja marmer dekat bathtub, ada nampan kecil.
Di atasnya tersusun botol minyak esensial, beberapa kapsul yang labelnya membuat keningku berkerut, dan satu kotak obat kesuburan.
Aku berdiri mematung.
Ingatan pemilik tubuh asli muncul seperti iklan yang tidak bisa dilewati. Tadi malam, Melia asli memang menyiapkan semua ini. Rencananya sederhana dan sangat memalukan: membuat suasana romantis, memakai gaun tidur renda, lalu berusaha membuat Raymon melanggar perjanjian.
Aku mengambil kotak obat itu dengan dua jari.
"Maaf, ya," gumamku pada benda tidak bersalah itu. "Kariermu di rumah ini selesai."
Semua obat dan minyak yang mencurigakan kupisahkan. Yang perlu dibuang kubuang. Yang mungkin masih harus dicek labelnya kumasukkan ke kantong terpisah untuk nanti diserahkan ke Pak Ahin tanpa drama.
Aku tidak mau tubuh ini menyentuh apa pun yang bisa membuat Raymon salah paham.
Perjanjian pranikah adalah tali pengamanku.
Melia asli dulu bisa masuk keluarga Kei karena menyelamatkan Taima Lilian dalam sebuah insiden kecil di luar gereja. Lilian menyukai gadis cantik yang tampak penurut itu, lalu mendorong Raymon menikah. Melia asli, yang melihat kesempatan emas, mengajukan syarat sendiri: status istri, uang bulanan Rp 50 juta, tapi tanpa kewajiban menjadi istri sungguhan sampai waktunya mereka berpisah.
Raymon menerima.
Mungkin karena dia butuh membuat Lilian tenang. Mungkin juga karena dia tidak peduli siapa yang tidur di sisi ranjangnya selama batasnya jelas.
Kontrak ini terdengar absurd.
Tapi untukku, kontrak ini lebih berguna daripada tiket lotre.
Setelah membersihkan meja kamar mandi, aku duduk di sofa kamar dan membuka ponsel Melia.
Saatnya menghadapi kenyataan finansial.
Ada aplikasi bank, dompet digital, tagihan kartu, dan puluhan pesan WhatsApp dari Hendra.
Nama itu membuat perutku tidak nyaman.
Hendra Seng, kakak angkat Melia. Di novel, dia seperti lubang hitam berkaki dua. Setiap bulan, uang Rp 50 juta dari Raymon mengalir ke rekening Melia, lalu hampir seluruhnya berpindah ke Hendra dengan alasan bisnis, utang, biaya hidup, dan kalimat sakti: keluarga harus saling bantu.
Aku membuka rekening pribadi.
Layar memuat beberapa detik.
Lalu angka itu muncul.
Saldo: Rp 0,5.
Aku menatap layar.
Kedua mataku pelan-pelan menyipit.
Nol koma lima.
Bukan Rp 500 ribu.
Bukan Rp 50 ribu.
Lima puluh sen.
Di dunia lamaku, aku memang bukan konglomerat. Tapi bahkan dompet koin di laci mejaku tidak pernah semenyedihkan ini.
Aku membuka mutasi rekening.
Transfer masuk dari Raymon Kei: Rp 50.000.000.
Transfer keluar ke Hendra Seng: Rp 49.999.999,5.
Aku hampir tertawa.
Hendra ini bukan parasit biasa. Dia parasit yang punya kemampuan pembulatan sadis.
Pesan WhatsApp darinya masih masuk.
Hendra: Mel, bulan ini jangan lupa transfer lebih cepat.
Hendra: Abang ada kebutuhan mendesak.
Hendra: Kamu sekarang sudah enak jadi Nyonya Kei, jangan pelit sama keluarga sendiri.
Aku menaruh ponsel di meja dengan pelan.
Tenang.
Jangan langsung balas.
Balasan terbaik untuk parasit bukan debat panjang, tapi memutus sumber makanannya.
Sebelum sempat memblokir nomor itu, suara mobil terdengar dari halaman depan. Tak lama kemudian, rumah yang sejak tadi tenang mulai hidup. Ada suara tawa remaja, langkah sepatu, dan seseorang berseru terlalu keras dari bawah.
"Bro, rumah lo tetap gila sih. Ini mansion atau mall pribadi?"
Aku berdiri.
Shawn pulang.
Aku berjalan ke balkon koridor lantai dua dan melihat ke bawah.
Remaja itu masuk lebih dulu dengan tas disampirkan di satu bahu. Tingginya sudah hampir seperti orang dewasa, wajahnya tampan dengan aura dingin yang sangat familiar. Tapi semakin lama aku melihat, semakin jelas pula satu hal.
Shawn dan Raymon tidak terlalu mirip.
Raymon punya ketenangan tajam seperti pisau yang disimpan di laci mahal. Shawn lebih seperti badai yang pura-pura tidur. Rambutnya agak berantakan, seragam JIS-nya dipakai asal, dan wajahnya menulis jelas: jangan ganggu gue.
Di belakangnya, beberapa teman masuk sambil melihat-lihat. Salah satunya, anak laki-laki berwajah cerah, hampir tidak bisa menutup mulut.
Itu pasti Bima.
"Jadi ini ibu tiri lo?" bisik seorang anak perempuan, tapi suaranya cukup keras untuk kudengar dari lantai dua.
"Katanya cantik banget."
"Cantik sih, tapi kata orang semakin cantik semakin bahaya."
"Ibu tiri di sinetron juga biasanya begitu."
Aku bersandar di pagar balkon.
Bagus. Reputasiku bahkan sudah punya paket lengkap sebelum aku turun.
Shawn melepas sepatu tanpa ekspresi.
"Berisik," katanya pendek.
Teman-temannya langsung tertawa.
Lalu seorang gadis berambut hitam panjang melangkah masuk. Wajahnya manis, matanya besar, dan senyumnya lembut seperti anak baik-baik yang selalu tahu kamera ada di mana.
Dia membawa kotak kecil di tangan.
"Kak Shawn," panggilnya dengan suara halus. "Aku bawakan cookies. Tadi Mama bikin banyak."
Aku nyaris tersedak udara.
Kak Shawn?
Nada itu.
Senyum itu.
Cara dia sedikit menunduk, lalu melirik untuk memastikan Shawn melihatnya.
Radar teh hijau di kepalaku langsung menyala merah.
Fiona Liem.
Aku ingat plot malam ini.
Gadis manis itu akan memasukkan sesuatu ke minuman Shawn. Bukan trik dewasa yang rapi, melainkan kenekatan remaja yang bodoh, berbahaya, dan tetap bisa menghancurkan hidup orang kalau dibiarkan.
Di bawah, Fiona masih tersenyum.
Shawn bahkan tidak menatapnya lama.
"Taruh aja," katanya.
Fiona menggigit bibir kecil, tampak kecewa tapi tetap lembut.
Aku menatap mereka dari lantai dua, tangan perlahan mencengkeram pagar.
Baiklah.
Hari kedua di dunia novel, saldo pribadiku tinggal Rp 0,5, anak tiriku membenciku, dan seekor teh hijau muda sudah membawa kotak cookies ke ruang tamu.
Hidup baruku benar-benar tidak memberi masa percobaan.
Bab 3: Salam Metal dan Obat Terlarang
Masa percobaan ternyata benar-benar tidak ada.
Karena bahkan sebelum aku sempat turun dari lantai dua, salah satu teman Shawn sudah mengangkat kepala dan melihatku.
"Eh!" Anak itu menepuk lengan Shawn dengan heboh. "Shawn, tante lo di atas!"
Tante.
Kata itu menghantamku tepat di dada.
Aku tahu secara hukum aku ibu tiri Shawn. Aku juga tahu umurku di tubuh ini dua puluh delapan, sementara mereka tujuh belas. Tapi dipanggil tante oleh remaja yang wajahnya masih penuh rasa ingin hidup bebas tetap membuat jiwaku menua lima tahun dalam satu detik.
Shawn mendongak.
Mata kami bertemu.
Dia tidak menyapa. Tidak memanggil. Tidak tersenyum. Wajahnya datar, tapi bahunya langsung sedikit menegang, seperti sudah siap menghadapi badai.
Tampaknya Melia asli memang meninggalkan kesan yang luar biasa buruk.
Aku menuruni beberapa anak tangga dengan tenang.
"Sore," kataku.
Teman-teman Shawn mendadak diam.
Bima, anak laki-laki yang tadi ribut, justru menyeringai.
"Sore, Tan... eh, Bu."
Aku menahan refleks memegang dada.
Tante lagi. Hampir.
Shawn memasang wajah ingin menghilang dari rumahnya sendiri.
"Naik," katanya pada teman-temannya. "Home theater."
Mereka menurut, meski jelas masih mencuri pandang ke arahku. Fiona berjalan paling belakang. Saat melewatiku, dia tersenyum manis.
"Permisi, Bu Melia."
Suara halus. Sopan. Mata polos.
Kalau aku tidak membaca novel, mungkin aku juga akan tertipu.
Aku membalas dengan senyum kecil. "Silakan."
Begitu rombongan itu naik ke area hiburan lantai dua, suara musik langsung meledak.
Heavy metal.
Drum menghantam seperti ada orang membangun gedung di dalam rumah. Gitar listrik meraung sampai kaca dekoratif di koridor seolah ikut gemetar.
Pak Ahin muncul dari arah ruang makan dengan wajah yang hanya bisa disebut: tabah karena gaji.
"Bu," katanya hati-hati, "biasanya kalau Ko Shawn membawa teman..."
"Dia sengaja membuat musik keras supaya aku naik memarahinya?"
Pak Ahin terdiam.
Jawabannya sudah jelas.
Aku menghela napas.
Shawn sedang menguji batas. Melia asli kemungkinan besar akan naik, memarahi, mempermalukan teman-temannya, lalu konflik ibu tiri dan anak tiri naik satu tingkat lagi.
Sayang untuk Shawn, aku bukan Melia asli.
"Tidak apa-apa. Anak-anak perlu bersenang-senang." Aku melirik Pak Ahin. "Tapi tolong belikan camilan tambahan. Kentang goreng, ayam popcorn, buah potong. Bubble tea juga. Rasa yang aman saja. Jangan terlalu manis."
"Baik, Bu."
"Oh, satu lagi." Aku menurunkan suara. "Kalau ada minuman beralkohol yang mereka bawa sendiri, jangan ribut dulu. Beri tahu saya."
Mata Pak Ahin berubah serius.
"Baik, Bu."
Aku berjalan menuju lantai dua.
Semakin dekat ke home theater, semakin keras musik itu. Di depan pintu, aku bisa mendengar Bima tertawa.
"Gue bilang juga apa, dia pasti naik!"
Shawn tidak menjawab, tapi aku bisa membayangkan wajah dinginnya. Dia pasti menunggu pintu terbuka, lalu ibunya yang baru akan mengomel seperti tokoh antagonis di sinetron jam sembilan.
Aku membuka pintu.
Enam pasang mata langsung menoleh.
Ruangan home theater itu gelap dengan lampu LED biru di sisi dinding. Layar besar menampilkan video konser band luar negeri. Shawn duduk di sofa tengah, kaki disilangkan, ekspresi sok tidak peduli. Bima di sampingnya hampir menyembunyikan senyum. Fiona duduk agak jauh, kotak cookies di pangkuan, wajahnya tampak takut-takut.
Aku melihat volume speaker.
Gila.
Kalau dibiarkan, ikan di kolam belakang mungkin ikut hafal lagu ini.
Shawn menatapku. Dagu kecilnya naik sedikit.
Silakan marah, begitu kira-kira pesan wajahnya.
Aku mengangkat tangan.
Bukan menunjuk speaker.
Bukan menyuruh diam.
Aku mengangkat telunjuk dan kelingking, membuat salam metal paling percaya diri yang bisa kulakukan dalam hidup baruku.
Seluruh ruangan membeku.
Bima yang pertama meledak.
"Anjir!"
Shawn tersedak udara.
Aku menurunkan tangan dengan santai. "Lanjut. Tapi kalau ada yang telinganya berdenging, tanggung sendiri."
Aku menutup pintu lagi.
Di balik pintu, selama dua detik tidak ada suara selain musik.
Lalu tawa pecah.
"Bro, ibu tiri lo keren banget!"
"Gue kira bakal dimarahin!"
"Itu tadi salam metal, kan? Valid banget!"
Aku berjalan menjauh sambil menggigit bagian dalam pipi agar tidak tertawa.
Satu ronde kecil dimenangkan.
Namun rasa geli itu tidak berlangsung lama.
Sekitar setengah jam kemudian, camilan datang. Aku sengaja meminta staf mengantar ke area luar home theater, bukan masuk terlalu jauh. Anak-anak itu perlu merasa ruang mereka tidak sepenuhnya diawasi.
Tapi aku tetap mengawasi.
Dari sudut koridor dekat pantry kecil lantai dua, aku bisa melihat pintu home theater yang terbuka sedikit. Mereka keluar masuk mengambil makanan. Bima bicara tanpa henti tentang game. Shawn lebih banyak diam, tapi bahunya tidak sekaku tadi.
Fiona menunggu.
Aku juga menunggu.
Dalam novel, malam ini Fiona akan memasukkan sesuatu ke minuman Shawn saat semua orang lengah. Motifnya tidak rumit. Dia ingin menciptakan situasi yang membuat Shawn bergantung padanya, lalu menggunakan kekacauan itu untuk mendekat.
Bodoh.
Berbahaya.
Dan kalau terjadi, masa depan Shawn bisa berubah buruk hanya karena satu gelas.
Aku berdiri di balik rak dekorasi, pura-pura melihat vas bunga. Jarakku cukup jauh untuk tidak mencurigakan, tapi cukup dekat untuk melihat meja camilan.
Shawn keluar bersama Bima. Mereka berdebat soal band.
"Lo nggak ngerti," kata Shawn datar.
"Gue ngerti, cuma kuping gue masih sayang nyawa."
"Lemah."
"Iya, telinga gue rakyat biasa, bukan anak konglomerat."
Aku hampir tersenyum.
Saat itulah Fiona bergerak.
Dia berdiri dari sofa, membawa cookies, lalu mendekati meja. Tangannya mengambil gelas Shawn, gelas tinggi berisi bir yang sepertinya diselundupkan salah satu anak dari tas. Aku melihat jelas jari Fiona membuka sesuatu yang kecil dari telapak tangannya.
Waktu seperti melambat.
Bubuk putih jatuh ke cairan berbusa.
Jantungku menghantam dada.
Fiona mengaduk sebentar dengan sedotan, lalu meletakkan kembali gelas itu di posisi semula. Wajahnya tetap manis. Terlalu manis.
Aku tidak punya waktu mencari bukti tambahan.
Shawn sudah berjalan kembali.
Sebelum tangannya menyentuh gelas, aku keluar dari sudut koridor dan melangkah cepat ke meja.
"Aduh, pedas."
Semua orang menoleh.
Aku mengambil gelas Shawn dengan gerakan paling alami yang bisa kubuat, lalu meneguk sedikit tanpa membiarkan cairan itu menyentuh lidah. Bibirku hanya membasahi tepi gelas.
Shawn membelalak.
"Itu punya gue."
Aku menurunkan gelas, mengerutkan hidung seolah baru sadar.
"Oh? Maaf. Kukira minumanku."
Bima menunjuk gelas itu, lalu menunjukku, lalu menunjuk Shawn, tidak tahu harus tertawa atau panik.
"Bu Melia... itu bir."
"Aku tahu." Aku tersenyum kaku. "Makanya cuma sedikit."
Shawn menatapku seperti aku baru saja melakukan kejahatan nasional.
"Lo minum?"
Aku mengangkat alis.
"Panggil aku lo?"
Dia terdiam. Rahangnya mengeras.
Bagus. Perhatian semua orang pindah ke sopan santun, bukan gelas.
Aku memegang gelas itu lebih erat. Ada bau aneh yang samar, bukan sekadar bir. Tajam, pahit, seperti obat yang dihancurkan.
Fiona menunduk.
Terlambat. Aku sudah melihat jari-jarinya gemetar.
"Papamu tidak suka aku minum," kataku tiba-tiba.
Kalimat itu keluar begitu saja.
Shawn mengerutkan kening. "Pa?"
"Iya. Jadi gelas ini kusita dulu. Anggap saja demi kedamaian rumah tangga."
Bima menahan tawa.
"Wah, Pak Ray strict juga."
Shawn tampak ingin membantah, mungkin karena dia tahu ayahnya tidak pernah membuat aturan seperti itu. Tapi sebelum dia sempat bicara, aku sudah membawa gelas itu ke arah pantry kecil.
"Lanjut main. Jangan minum yang aneh-aneh."
Di belakangku, suara musik kembali naik, tapi tidak sekeras sebelumnya.
Tanganku sedikit dingin saat menaruh gelas itu di wastafel pantry. Aku tidak membuang isinya. Aku mengambil gelas bersih, menuang sedikit cairan mencurigakan ke dalam botol kecil kosong bekas saus salad yang ada di laci, lalu menutupnya rapat.
Bukti.
Mungkin aku belum punya laboratorium, tapi setidaknya aku tidak akan membiarkan bukti hilang begitu saja.
Setelah itu, aku mencuci mulut berkali-kali. Walaupun cairan tadi hampir tidak masuk, rasa pahit samar tetap menempel di bibir.
Aku menatap bayanganku di kaca pantry.
Wajah Melia masih cantik.
Tapi mataku sudah tidak ingin tertawa.
Fiona bukan sekadar gadis manis yang suka menarik perhatian. Anak itu berani melewati batas yang bisa melukai orang lain.
Karena dia masih anak sekolah, aku tidak akan menghancurkannya tanpa ampun malam ini.
Tapi Shawn harus tahu.
Satu jam berikutnya berjalan tegang. Aku tetap di lantai dua dengan alasan mengecek dekorasi. Fiona beberapa kali melirik ke arah pantry. Shawn tampak lebih diam dari sebelumnya. Bima masih berisik, tapi bahkan dia akhirnya sadar suasana tidak seenak tadi.
Menjelang malam, teman-teman Shawn pulang satu per satu.
Fiona berjalan terakhir.
"Terima kasih camilannya, Bu Melia," katanya pelan.
Aku tersenyum.
"Sama-sama, Fiona. Hati-hati di jalan."
Wajahnya pucat setengah tingkat.
Dia tahu aku tahu.
Pintu utama tertutup. Rumah kembali tenang.
Dari lantai dua, aku melihat Shawn berjalan menuju kamarnya tanpa menoleh. Bahunya kaku lagi, tapi kali ini bukan karena menunggu dimarahi. Mungkin dia bingung. Mungkin curiga. Mungkin juga kesal karena gelasnya direbut oleh ibu tiri yang baru saja membuat salam metal.
Aku mengambil botol kecil berisi sampel dari pantry dan membungkusnya dengan tisu.
Lalu aku berjalan ke koridor kamar Shawn.
Di depan pintunya, aku berhenti sebentar.
Hubungan kami masih terlalu tipis. Salah bicara sedikit, dia bisa menganggapku membuat drama. Tapi kalau aku diam, plot buruk akan mencari jalan lain.
Aku mengangkat tangan.
Mengetuk pintu.
Sekali.
Dua kali.
Dari dalam, langkah kaki mendekat.
Pintu terbuka setengah.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!