Indonesia
NovelToon NovelToon

HARGA DIRI SEORANG LELAKI

EPISODE 1

Seorang pria tampan berdiri di jendela kaca besar di salah satu ruangan yang berada di gedung yang menjulang tinggi di tempat kota.

Ruangan itu terlihat mewah, interiornya juga terlihat mewah.

Siang itu langit nampak terlihat gelap, awan gelap menggelantung di atas langit, seolah-olah ingin menumpahkan air yang ada di dalamnya.

Sama dengan hati pria itu yang sama gelapnya, yang juga ingin menumpahkan perasaannya, kekecewaannya dan keterpurukannya.

Harta yang melimpah, kehidupan yang mewah tak membuatnya bisa hidup bahagia.

" Daddy...." seru seorang gadis kecil yang berusia 4 tahun dari arah pintu masuk.

Pria itu menoleh dan menatap pada Gadis kecil yang berlari ke arahnya dengan senyum yang merekah.

Pria itu tersenyum lebar saat melihat putri kecilnya berlari ke arahnya.

Pria itu membuka tangannya lebar-lebar dan menangkap tubuh gadis kecil yang terlihat sangat imut dan lucu.

" Selamat ulang tahun Daddy " ucap gadis itu saat berada di pelukan Daddy.

Pria yang bernama Bastian itu tersenyum lebar.

" Terimakasih sayang "

Bastian melepaskan pelukannya dan menatap putri kecilnya itu.

" Hadiah buat Daddy mana ?" kata Bastian pada putrinya yang masih berada di gendongannya.

Tanpa menunggu lama Gadis kecil itu langsung menghujani ciuman di wajah Daddynya.

Bastian hanya tertawa renyah saat mendapatkan ciuman bertubi-tubi dari putri kecilnya itu.

" Sudah...sudah cukup hadiahnya sayang, lihatlah wajah Daddy sudah basah " kata Bastian.

Bastian melangkah ke arah Sofa dan duduk sambil memangku putrinya.

" Bagaimana sekolahnya hari ini, apa Vallen pintar sekolahnya "

" Tentu saja, Vallen dapat 5 bintang hari ini "

" Benarkah.."

Gadis kecil itu mengangguk dengan semangat.

" Wah pintarnya putri Daddy " kata Bastian sambil mengusap kepala lembut putrinya.

Bastian melihat ke arah pintu dan di situ terlihat Marta, sekretarisnya dan Lina susternya Vallen.

" Vallensia kesini sama siapa?" tanya Bastian.

" Sama encus Lina "

" Mommy kemana ? "

" Mommy ke paris " sahut Vallen

Bastian m3nghela nafasnya saat mendengar jawaban Putrinya.

Bastian melihat ke arah suster Lina, meminta penjelasan.

" Nyonya tadi sehabis mengantar nona kecil langsung berangkat ke bandara tuan " sahut Lina dengan kepala tertunduk.

Kembali Bastian menarik nafas dan menghembuskannya dengan berat.

" Sayang kamu mau di sini, apa mau pulang sama suster "

" Vallen mau temenin Daddy kerja boleh ?"

" Tentu saja boleh "

" Terimakasih Daddy " kata Vallen dan langsung mencium pipi Daddynya.

Vallen turun dari pangkuan Bastian dan kemudian berlari kecil ke arah susternya dan mengambil tas sekolahnya.

" Vallen mau menggambar dan mewarnai " kata Daisy sambil mengeluarkan perlengkapan menggambar dan mewarnai dari dalam tasnya.

Bastian bangun dari duduknya dan melangkah mendekati sekretarisnya dan juga pengasuh Vallen.

" Marta tolong pesankan cemilan dan minuman untuk Vallen" kata Bastian.

" Baik Tuan " kata Marta.

Marta pergi dari ruangan itu.

" Sus Lina kembali kerumah saja dengan sopir, nanti biar Valen pulang bersamaku "

" Baik tuan "

Suster Lina menyerahkan tas yang berisi keperluan Valensia.

Bastian berjalan mendekati putrinya yang sedang serius mewarnai gambar kuda poni kesukaannya.

Bastian mengusap kepala putrinya dan mencium kepala putrinya.

Hatinya begitu sakit saat melihat bagaimana putrinya sering sendiri dan hanya di temani oleh susternya.

Lagi...dan lagi Shopia meninggalkan dirinya dan putrinya tanya mengatakan apapun pada dirinya.

Hal itu sudah sering terjadi, shopia istrinya selalu pergi tanpa izin darinya, meninggalkan putrinya berhari-hari , shopia selalu melakukan sesuatu yang ia mau tanpa harus berbicara padanya.

Shopia menganggap seolah-olah dirinya tak pernah ada.

Bastian menghela nafas panjang dan kemudian ia kembali ke meja kerjanya dan melanjutkan pekerjaannya, sesekali matanya melihat putrinya.

Valensia sangat pintar dan cerdas, walaupun ia masih berumur 4 tahun tapi kedewasaan itu sudah terlihat dari perilakunya.

Lihatlah sedari tadi ia bermain dengan tenang tanpa menganggu Daddy-nya yang sedang bekerja, hanya sesekali ia bertanya sesuatu pada Daddynya, bahkan Vallen sudah bisa ke kamar mandi sendiri.

Matahari siang masih menyinari gedung pencakar langit yang menjulang megah di pusat kota. Di lantai paling atas Bastian melihat putrinya yang tertidur sendiri di atas sofa dengan peralatan menggambarkan masih berada di atas meja.

Bastian Wirayudha, pria yang berusia tiga puluh tiga tahun.

Di mata orang lain, hidupnya terlihat sempurna.

Menikahi putri konglomerat ternama, memiliki jabatan sebagai direktur utama di perusahaan raksasa, tinggal di rumah mewah, memiliki seorang istrinya yang cantik dan seorang putri yang cantik dan pintar, kehidupan mereka terlihat begitu bahagia dengan hidup dalam kemewahan yang bahkan hanya bisa diimpikan banyak orang.

Namun tidak ada yang tahu bahwa semua itu hanyalah sangkar emas.

Tidak ada yang tahu pula bahwa di balik jas mahal yang dikenakannya setiap hari, harga dirinya perlahan-lahan terkikis.

Istrinya dan keluarganya tak pernah menganggapnya berarti, hanya karena Bastian berasal dari keluarga yang tak cukup kaya.

Mereka semua memandang rendah keberadaan Bastian di dalam keluarga mereka, Bastian hanya di anggap seseorang yang hanya menumpang hidup enak di dalam keluarga mereka.

Walaupun Bastian sudah berusaha keras untuk menunjukkan kinerja dia, tapi tetap saja mereka tak pernah memandangnya.

Bastian bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati putri kecilnya yang tertidur pulas.

Bastian membenarkan posisi tidur putri kecilnya dan menyelimuti putrinya dengan selimut yang biasanya ia gunakan saat ia istirahat di kantor.

Bastian menatap wajah kecil itu, dadanya terasa sesak, saat menatap wajah tanpa dosa itu.

Putrinya adalah satu - satu alasan ia masih bertahan di dalam sangkar emas itu, putrinya adalah salah satu kekuatan baginya.

Tak lama terdengar ponselnya berbunyi, Bastian melangkah ke arah meja kerjanya dan menjawab panggilan itu.

" Bastian, proposal untuk perusahaan Surabaya sudah selesai?" suara dingin mertuanya terdengar dari telepon.

" Sudah, Pa . Saya baru saja—"

" Kalau sudah kenapa nggak langsung kamu kirim, kalau kerja yang benar jangan lambat, kapan majunya jika kamu lambat seperti ini, Kamu harus bisa menghargai waktu " terdengar nada keras Papa mertuanya dari seberang.

" Maaf pa, tadi..."

" Sudah jangan banyak alasan, cepat kirim, aku ingin memeriksanya hari ini " kata Brandon, papanya shopia.

Lantas sambungan telepon langsung terputus begitu saja.

Bastian menghela napas panjang.

Sudah lima tahun ia menikah dengan Shopia.

Lima tahun pula ia hidup di bawah bayang-bayang keluarga istrinya.

Padahal Bastian bukanlah pria miskin yang menikah demi harta.

Ayahnya memiliki perusahaan cukup besar. Kekayaan keluarganya memang tidak sebesar dengan kekayaan dari keluarga istrinya, tetapi mereka hidup lebih dari cukup.

Dulu, saat melamar Shopia, Bastian datang sebagai pria yang memiliki harga diri dan kebanggaan.

Namun kini...

Ia merasa seperti robot.

Seseorang yang diberi jabatan tinggi hanya untuk menjalankan perintah orang lain.

####

Assalamualaikum readers HAPPY READING.

ketemu lagi di karya Author, semoga bisa menghibur para readers.

EPISODE 2

Bastian menatap layar laptopnya dengan rahang mengeras.

Belum lama ia mengirim tentang presentasi strategi bisnis yang telah dikerjakannya selama dua minggu penuh. Namun belum sampai satu jam laporan itu di kirim ke papa mertuanya.

ponselnya berdering kembali.

Nama yang muncul membuatnya menarik napas panjang.

Ia mengangkat panggilan itu.

" Bastian!!!"

" Ya, Pa."

" Saya sudah melihat proposalmu."

Bastian menunggu.

" Buang saja."

DEG...

Kalimat itu membuat tangan Bastian mengepal.

" Maaf pa, apa ada yang salah dengan proposal itu?" tanya Bastian.

" Saya bilang buang ya buang, rencanamu itu sangat tidak bermutu, dan bisa merugikan perusahaan " kata keras dari seberang.

" Tapi pa, setelah saya analisis, strategi itu tidak berisiko membuat kerugian dalam jangka panjang."

Terdengar tawa sinis dari seberang sana.

" Sejak kapan kamu mengajari saya bisnis?"

Bastian terdiam.

" Saya membangun perusahaan ini bahkan sebelum kamu lahir "

" Tapi—"

" Kerjakan saja apa yang saya perintahkan, buat lagi yang baru "

" Tapi pa, proposal itu harus di presentasikan lusa, bagaimana mungkin saya bisa membuat yang baru dalam waktu hanya dua hari "

" Itu terserah kamu, itu tugas kamu sebagai seorang direktur utama " kata Bondan dari seberang dan langsung menutup kembali ponselnya.

Klik.

Telepon terputus.

Bastian memejamkan mata.

Sudah lima tahun.

Lima tahun menjadi direktur utama.

Lima tahun itu juga ia harus menjadi bayangan dari Papa mertuanya.

Jabatan yang disandangnya hanyalah formalitas.

Direktur utama di atas kertas.

Bayangan di dunia nyata.

Pintu terbuka dari luar dan seorang pria yang menggunakan setelan jas masuk ke dalam.

" Bagaimana Bas, apa tuan Brandan menyetujui proposal itu " kata pria yang berjas rapi.

Bastian menghela nafasnya pelan.

" Aku di suruh membuangnya "

" Apa .." seru pria yang bernama Gio itu.

" Mertuamu benar-benar sadis Bas, raja tega, bagaimana bisa ia menyuruh membuang apa yang telah menjadi kerja kerasmu "

" Padahal kalau aku lihat, itu adalah proposal yang bagus, yang bisa menguntungkan perusahaan berkali-kali lipat "

" Memangnya kesalahan apa yang ada di proposal itu "

" Entahlah, ia tak mau menjawabnya " sahut Bastian sambil menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya.

Gio melihat Valen yang tertidur di sofa.

" Ia kesini sendiri lagi "

" Hemm.."

" Kemana Shopia?"

" Paris "

" Tidak izin lagi sama kamu "

" Iya "

Gio menghela nafas panjang dan menatap prihatin pada temannya itu.

" Apa kamu tidak ingin berganti istri, dan keluar dari sangkar emas itu, sangkar yang membelenggumu itu."

" Kamu tak akan mati kalau kamu meninggalkan sangkar emas itu, jangan sia-siakan hidupmu bro, masih banyak yang mau jadi pendampingmu "

" Kamu pikir mudah mencari istri " kata Bastian.

" Gampang lah, kamu tinggal tunjuk satu wanita, maka wanita itu akan menjadi milikmu, kamu tampan, kaya, pria sejati penyayang keluarga, siapa yang nggak mau sama Bastian Wirayudha " kata Gio.

Bastian tersenyum tipis.

" Mudah memang untuk menemukan wanita yang ingin hidup bersamku, tapi untuk mencari yang tulus itu sangat sulit Gio, sudahlah ...ada apa kamu kesini?"

" Ck...kamu memang suka menyusahkan hidupmu bro " kata Gio sambil melangkah ke meja Bastian dan duduk di kursi di depan Bastian.

" Tanda tangani ini " kata Gio sambil menyerahkan sebuah berkas pada Bastian.

" Perusahaan kita berkembang pesat bulan ini, omset kita melampaui target kita " kata Gio.

Bastian mengambil berkas itu dan membacanya satu persatu.

Nampak senyum tipis tersinggung dari bibirnya.

" Terimakasih Gio, kamu mengurusnya dengan baik "

" Bro, dari pada proposal itu di buang, berikan saja padaku, biar aku yang mengurusnya, aku yakin proposal itu akan berhasil "

Bastian menandatangani beberapa berkas dari Gio dan menyerahkannya kembali pada Gio.

" Ambillah, terserah apa yang akan kami lakukan terhadap proposal itu "

" Thanks Bro "

" Aku pastikan keluarga istrimu itu akan menyesal telah men sia-siakan sebuah peluang besar " .

*******

Siang hari di perusahaan, PT CAKRA BUANA CORP.

Ruang rapat dipenuhi para petinggi perusahaan dan beberapa pengusaha besar

Bastian memimpin rapat dengan profesional.

Namun ketika ia sedang menjelaskan strategi pemasaran, Brandon sang mertuanya langsung menyelanya.

Bastian langsung menghentikan presentasinya.

" Itu ide yang kurang tepat, apa yang kamu katakan tadi bisa merugikan perusahaan besar-besaran " kaya Brand0n dengan menatap remeh Bastian.

" Tapi, Pa..."

" Ini di ruang rapat. apa kamu nggak bisa profesional, di sini aku pemilik perusahaan, panggil yang benar !!! " suara lantang Brandon.

Bastian mengepalkan kedua tangannya, dadanya terasa sesak.

ini bukan pertama kali mertuanya melakukan hal seperti ini di depan banyak orang.

Beberapa orang menatap kasihan pada Bastian, tapi ada juga yang melihatnya senang, orang yang tidak suka keberadaan Bastian di perusahaan itu pasti senang melihat Bastian di permalukan di depan umum.

Harga dirinya kembali diinjak.

Dan yang paling menyakitkan...

Semua orang sudah terbiasa melihatnya.

" Duduklah.."

" Arlon, sekarang giliranmu " kata Brandon menunjuk anak pertamannya yang juga menjabat Direktur utama 1 di perusahaan itu.

Arlon adalah anak pertama yang menjadi kebanggaan dari keluarga Brandon Tan.

Bastian menghela nafas panjang, ia melangkah ke arah kursinya, saat langkahnya berpapasan dengan Arlon, Bastian melihat senyum mengejek tersungging di bibir Arlon.

" Ini adalah proposal yang saya buat....."

Arlon menjelaskan strategi untuk kerja sama dengan perusahaan besar dari surabaya.

Saat mendengar presentasi Arlon, Bastian nampak terkejut, ia langsung melihat ke arah Mertuanya, tapi mertuanya tak menghiraukannya.

Iya proposal yang di presentasikan Arlon di depan adalah proposal miliknya yang dua hari yang lalu di tolak mentah-mentah sama mertuanya.

Tapi apa ini...proposal miliknya malah di presentasikan oleh kakak iparnya.

Bastian kembali mengepalkan tangannya dan mukanya memerah menahan amarahnya.

Tapi tak ada yang bisa ia lakukan, ia hanya diam menatap kakak iparnya yang dengan bangganya mengakui hasil kerja kerasnya.

Bastian kembali melihat ke arah Mertuanya, Bastian melihat ada senyum bangga di bibir mertuanya saat melihat Arlon mempresentasikan proposal yang di buahnya hampir dua minggu.

" Bagus, kita pakai proposal dari Arlon, aku melihat peluang besar di situ " Kata Brandon sambil bertepuk tangan dab berdiri dari duduknya dan kemudian melangkah ke arah Arlon.

Brandon menepuk bahu Arlon.

" Seperti biasa, ide-idemu sangat cemerlang, good job boy " kata Brandon.

" Terimakasih pa " sahut Arlon.

" Tuan Bastian, bukankah itu proposal anda " kata Marta sekretaris Bastian yang duduk di samping Bastian.

" Hemm..."

" Lagi-lagi mereka mencurangi anda tuan, kenapa anda diam saja?" bisik marta pelan.

" Biarlah...ayo kita kembali ke ruangan " Kata Bastian sambil berdiri dan melangkah pergi dari ruang rapat tanpa mengatakan apapun.

Brandon menatap punggung menantunya yang pergi meninggalkan ruang rapat dengan wajah yang penuh kemenangan.

######

Assalamualaikum HAPPY READING.

Jangan lupa jejak Cintanya.

EPISODE 3

Malam hari.

Di meja makan rumah mewah keluarga Brandon Tan.

Terlihat semua keluarga besar Tan sedang berkumpul untuk menikmati makan malam.

Tak ada yang bersuara dari bibir orang-orang yang ada di situ.

Brandon tan memiliki 3 anak, anak pertama bernama Arlon tan, putra mahkota mereka, sudah menikah dan memiliki 2 anak.

yang kedua Shopia tan Istri dari Bastian, dan memiliki satu anak .

yang ketiga adalah Haedar Tan, putra ketiga keluarga Tan dan sudah menikah juga dan memiliki satu anak yang masih berusia satu tahun.

 Marisa Tan nama Istri dari Brandon Tan, dulunya dia adalah seorang artis terkenal yang bernama Marisa Irawan.

Wataknya tak jauh dengan suaminya, dia sangat sombong dan Arogan.

Hanya Haedar tan yang selalu terlihat baik pada Bastian.

Haedar orangnya pendiam, dia tak banyak bicara, jika ada yang menyudutkan Bastian, Haedar lebih memilih diam dan pergi.

Brando tan tak mengizinkan para anaknya keluarga dari rumah itu, walaupun mereka semua sudah berkeluarga .

Brandon mengancam mereka, tidak akan memberikan warisan se sen pun jika salah satu dari mereka keluarga dari rumah nya.

Rumah Brandon Tan memang sangat besar bak istana, fasilitas di sana sangat lengkap, segala kebutuhan mereka terpenuhi di dalam rumah itu.

Tapi bagi Bastian rumah itu adalah sebuah penjara yang berlapis emas.

Bastian melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah besar itu dengan tubuh yang lelah.

Bastian melewati ruang makan di mana semua orang berkumpul di meja makan.

Bastian melewati mereka tanpa menyapa mereka, saat ini perasaannya sedang tidak enak.

Bastian ingin langsung ke kamar dan beristirahat.

Tapi baru saja ia melewati mereka suara ibu mertuanya sudah menegurnya.

" Mau kemana kamu, waktunya makan malam, duduklah " kata Marisa dengan suara yang sedikit keras.

Bastian menghentikan langkahnya .

" Aku tidak lapar " kata Bastian tanpa menoleh ke arah mereka.

Bastian tahu, dia akan jadi bulan-bulan oleh keluarga istrinya karena hasil rapat tadi siang.

" Bastian duduk !!"

Suara Brandon menggema di ruangan itu.

sejenak suasana hening, Bastian masih berdiri di tempatnya.

Vallen menatap sendu Daddynya, matanya terus menatap ke arah punggung Daddynya.

Suara mertuanya terdengar keras di telinganya.

" Jangan berani kamu mengabaikan kami " kata Brandon tegas.

Semua orang yang ada di situ tak ada yang berani bersuara.

" Duduk di tempatmu "

" Kalau bukan karena saya, kamu masih akan mengurus perusahaan kecilmu itu, dan namamu tidak akan bisa berdiri di jajaran pengusaha ternama "

Bastian mengangkat pandangan.

Perusahaan kecil?

Perusahaan milik ayahnya memang hanya memiliki ratusan karyawan.

Memang tidak sebesar perusahaan keluarga Tan yang memiliki ribuan karyawan dan cabang di mana-mana bahkan diluar negeri.

Namun seperti biasa...

Mereka selalu merendahkan keluarganya.

" Bastian seharusnya kamu bersyukur bisa berada di antara kita " Kata Arlon tiba-tiba.

" Apa kamu marah karena hasil rapat tadi siang ".

" Apa kamu marah karena aku menggunakan proposalmu atas namaku " kata Arlon lagi.

" Sudahlah, itu hal kecil yang harus kamu lakukan untuk keluarga kita " kata Arlon.

Bastian membalikkan badannya dan menatap Arlon tajam.

Hal kecil????

Ucapan itu membuat sesak dadanya.

" Duduklah dan makanlah, banyak orang yang ingin berada di posisimu, kamu harus bersyukur " kata Marisa .

Bastian menghela nafas berat,

Seolah dirinya memang pria yang harus bersyukur karena telah diterima keluarga mereka.

"Kenapa diam? apa kamu nggak dengar kata mamamu," kata Brandon.

Bastian masih berdiri di tempatnya , ia menatap satu persatu keluarga istrinya.

Lantas ia tersenyum pahit dan langsung berbalik dan melangkah pergi ke kamarnya, ia tak menghiraukan teriakan papa mertuanya.

Ia tak ingin mengatakan apapun pada mereka, tak ingin berdebat dengan mereka, karena ia tahu seberapa banyak ia berkata, mereka tetap tidak akan mendengarkannya.

*******

Bastian berdiri di balkon kamar.

Angin malam berhembus pelan.

Di tangannya terdapat sebuah foto lama.

Foto dirinya bersama kedua orang tuanya.

Saat itu mereka berdiri di depan kantor pusat perusahaan keluarga Pradana.

Sederhana.

Namun penuh kebanggaan.

Ayahnya pernah berkata,

" Nak, seorang lelaki boleh kehilangan uang."

" Boleh kehilangan jabatan."

" Boleh kehilangan segalanya."

" Tapi jangan pernah kehilangan harga dirimu."

Bastian menatap langit.

Lalu tertawa pelan.

Ironis.

Karena saat ini justru harga dirinya yang perlahan hilang sedikit demi sedikit.

Bukan oleh orang asing.

Melainkan oleh keluarga yang setiap hari ia sebut sebagai keluarga sendiri.

Dan yang paling menyakitkan...

Adalah orang yang pernah ia cintai sepenuh hati dan berjanji akan selalu berada di sisinya, kini entah di mana ia berada.

Shopia istrinya, orang yang seharusnya memeluknya saat-saat di mana ia ingin menangkan hatinya, di mana saat ia terpuruk, ia ingin istrinya berada di sisinya memberikan kekuatan untuk dirinya.

Tapi saat ini malah istrinya berlibur dan bersenang-senang di luar sana.

Dada Bastian terasa sesak, kepala Bastian menengadah keatas untuk mencegah air matanya agar tidak turun, sambil tangannya menggenggam foto itu erat.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...

Sebuah pertanyaan muncul dalam benaknya.

Apakah semua ini masih layak dipertahankan?

Ataukah sudah saatnya ia berhenti menjadi sebuah bayangan yang samar.

Dan malam itu...

Ia ingin menjadi dirinya sendiri, ia tak ingin jadi bayangan atau boneka lagi.

Bastian melangkah ke dalam kamarnya, ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya dan memejamkan matanya

 tok...tok...tok...

Bastian membuka matanya kembali saat mendengar pintu kamarnya di ketuk pelan.

Bastian melangkah ke arah pintu dan membuka pintu itu.

Bibir Bastian tersenyum lebar saat melihat bidadari kecilnya berdiri di depan pintunya dengan membawa boneka kelinci bertelinga panjang dan selimut yang di seret dari kamarnya.

" Vallen boleh tidur dengan Daddy, di kamar Vallen banyak nyamuk, vallen tidak bisa tidur, karena nyamuknya nakal " kata Vallen dengan kepala terangkat ke atas.

Bastian terkekeh pelan dan langsung mengambil tubuh ,putrinya.

" Tentu saja boleh " kata Bastian sambil menggendong tubuh mungil putrinya.

Di atas tempat tidur keduanya berbaring bersama, Vallen menatap sendu wajah Daddy.

" Daddy pasti capek ya, harus kerja setiap hari "

Vallen mengusap lembut wajah Daddynya.

" Hari ini Vallen mau memberi Daddy kekuatan, agar Daddy terus semangat " Kata Vallen.

Bastian tersenyum tipis.

Lantas Vallen memeluk Daddy dan menepuk nepuk punggung Daddynya.

" Daddy adalah jagoannya Vallen, Daddy tidak boleh lemah, Daddy harus menjadi kuat, karena Daddy adalah pahlawannya Vallen "

Bastian tahu apa yang di maksud Vallen, Bastian tahu vallen pasti mengerti dengan apa yang terjadi tadi.

Karena itulah yang dilakukan Vallen jika setiap kali orang-orang rumah ini meremehkannya.

Vallen adalah anak yang sangat cerdas, ia bisa membaca situasi yang ada di sekitar kita, ini tidak ki pertama ia melihat Daddy di perlakuan seperti itu.

Dan inilah yang dilakukan putrinya untuk menyemangatinya, membuat dirinya kuat dan bertahan di istana emas yang berjeruji tajam.

Bastian begitu terharu, Bastian mencium kepala putrinya yang ada di dadanya.

" Terimakasih sayang...."

tak lama keduanya terlelap dengan mimpi mereka masing-masing-masing.

######

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!