Indonesia
NovelToon NovelToon

Sekretaris yang Tak Tersentuh

Episode 1

Bab 1: Sekretaris Gemuk yang Tak Pernah Mengeluh

"CEO romantis di drama itu bohong semua, Rin. Di dunia nyata, mereka cuma mesin kerja yang pakai jas mahal."

Rina hampir tersedak es teh leci. Di hadapannya, Keira Khiu menusuk potongan pisang goreng dengan garpu plastik, wajahnya serius seperti sedang membahas laporan keuangan tahunan Gemilang Group.

"Lho, bukannya bosmu ganteng?" goda Rina.

"Ganteng tidak bisa dipakai bayar lembur." Keira mengunyah pisang gorengnya pelan. "Pak Direktur itu kalau melihat manusia, yang dia pikirkan bukan hati, tapi kalender. Hari Minggu malam pun bisa berubah jadi hari kerja kalau beliau tiba-tiba mendarat di Soekarno-Hatta."

Seolah semesta ingin ikut bercanda, ponsel Keira bergetar di meja.

Nama di layar membuat senyum Keira membeku.

Pak Direktur Rayhan.

Rina langsung menutup mulutnya dengan tisu. Matanya melebar, penuh rasa kasihan yang sama sekali tidak membantu.

Keira menarik napas, menelan semua kalimat kasar yang sudah berbaris rapi di kepalanya. Dasar merak emas, batinnya. Minggu malam begini masih juga mencari korban. Semoga koper Anda tertukar dengan karung bawang.

Jari Keira menyentuh tombol hijau. Suaranya keluar manis dan profesional.

"Selamat malam, Pak Direktur."

"Keira, saya baru mendarat. Mobil kantor ada kendala. Jemput saya di terminal internasional. Sekarang."

"Baik, Pak Direktur."

"Bawa mobilmu saja. Sopir sudah saya suruh pulang."

"Baik, Pak Direktur."

Telepon terputus.

Rina menatapnya dengan wajah ngeri. "Kamu beneran mau pergi?"

Keira memasukkan sisa pisang goreng ke mulutnya, lalu meraih tas. "Kalau aku tidak pergi, besok aku bukan sekretaris lagi, tapi pengangguran yang masih harus bayar cicilan skincare."

"Tapi ini sudah jam sebelas malam."

"Makanya di drama, sekretaris selalu cantik dan kurus. Mereka mungkin tidak pernah disuruh jemput bos sambil perut masih penuh gorengan."

Rina tertawa, tetapi tawanya pelan. Dia tahu Keira tidak benar-benar mengeluh. Sejak bekerja sebagai sekretaris Direktur Utama Gemilang Group, Keira memang selalu begitu. Di mulut bisa mengomel panjang, di tangan tetap menyelesaikan pekerjaan paling rapi.

Di parkiran kafe, Toyota Avanza putih milik keluarga Khiu menunggu dengan sabar. Mobil itu tidak baru, tetapi bersih. Di kursi penumpang depan ada termos makanan stainless kecil yang tadi dibawakan Mama Lina sebelum Keira pergi bertemu Rina.

Keira membuka tutupnya sebentar. Uap hangat bubur ayam langsung menyentuh wajahnya. Di atas bubur, suwiran ayam dan sedikit daun bawang terpisah rapi dalam wadah kecil.

Ada kertas lipat menempel di sisi termos.

Daun bawangnya Mama taruh di atas ayam. Nanti campur waktu makan, lebih wangi. Jangan lupa minum air putih.

Dada Keira mendadak lunak.

Di luar sana, bosnya bisa memanggil kapan saja seperti dunia ini cuma berisi jadwal rapat dan laporan investasi. Tapi di rumah, Mama Lina selalu mengingat daun bawang.

Keira menutup termos, menyalakan mesin, lalu melaju ke arah bandara.

Malam Jakarta masih hidup. Lampu tol memanjang seperti garis kuning tanpa ujung. Di kaca spion, wajah Keira tampak bulat dan sedikit lelah. Pipi yang tidak pernah berhasil tirus, lengan yang membuatnya selalu memilih baju ukuran besar, dan mata yang mulai mengantuk.

Orang kantor sering mengira dia tidak mendengar bisik-bisik mereka.

Sekretaris Pak Rayhan kok gemuk begitu?

Pasti susah cari pacar.

Untung pintar kerja, kalau tidak, siapa yang mau?

Keira mendengar. Dia hanya memilih tidak memberi mereka panggung.

Di terminal internasional, Rayhan Kie berdiri di tepi jalur penjemputan dengan koper hitam, kemeja putih, dan jas yang dilipat di lengan. Tingginya membuat orang otomatis menoleh. Wajahnya tenang, rambutnya rapi, seolah penerbangan panjang tidak berani meninggalkan kusut di tubuhnya.

Di belakangnya, beberapa mobil mewah berhenti dan pergi. Alphard hitam, Mercedes perak, BMW gelap. Avanza Keira menyelip di antara mereka seperti anak kos masuk ruang rapat direksi.

Rayhan membuka pintu belakang tanpa komentar.

"Selamat malam, Pak Direktur," kata Keira.

"Malam." Rayhan masuk, lalu meletakkan koper di sampingnya. "Kamu dari mana?"

"Dari kafe, Pak. Bertemu teman."

"Makan?"

"Sedikit."

Perut Keira yang masih penuh gorengan mendadak mengkhianati pemiliknya dengan bunyi kecil.

Rayhan mengangkat alis.

Keira memegang setir lebih erat. "Maaf, Pak. Itu suara mesin mobil."

"Mesin mobilmu lapar?"

Keira ingin sekali pura-pura tidak mendengar, tetapi sudut bibir Rayhan terlihat naik sedikit. Untuk seorang pria yang biasanya lebih dingin dari AC ruang rapat, itu hampir bisa disebut tawa.

Lalu aroma bubur ayam keluar dari termos yang belum tertutup sempurna.

Rayhan menoleh. "Itu apa?"

"Bubur ayam buatan Mama saya, Pak. Untuk saya makan nanti."

"Saya belum makan."

Keira diam dua detik. Dalam dua detik itu, dia sempat membayangkan Mama Lina memukul lengannya kalau tahu dia membiarkan orang lapar duduk di mobilnya. Sekalipun orang lapar itu adalah bos yang merusak Minggu malamnya.

"Kalau Bapak tidak keberatan makanan rumahan," kata Keira akhirnya, "silakan. Sendoknya bersih."

Rayhan menerima termos itu. Di kursi belakang Avanza, Direktur Utama Gemilang Group membuka bubur ayam seperti pria biasa yang baru turun dari pesawat dan kelaparan. Keira menyerahkan wadah daun bawang lewat belakang.

"Mama saya bilang, daun bawangnya dicampur pas mau makan. Lebih wangi."

Rayhan mengikuti instruksi itu tanpa membantah. Setelah suapan pertama, dia berhenti sebentar.

"Enak."

Keira menatap jalan, tetapi senyumnya muncul diam-diam. "Nanti saya sampaikan ke Mama."

"Ibumu jualan?"

"Tidak, Pak. Mama masak untuk keluarga saja. Kalau jualan, Papa saya yang pertama bangkrut karena semua dimakan sendiri."

Rayhan mengeluarkan suara rendah yang mirip tawa.

Perjalanan ke SCBD tidak panjang, tetapi cukup untuk membuat udara di dalam mobil berubah. Rayhan tidak banyak bicara. Keira juga tidak. Sesekali dia memberi tahu jalan yang macet, sesekali Rayhan menjawab dengan gumaman pendek sambil menghabiskan bubur sampai dasar termos bersih.

Penthouse Rayhan berada di gedung tinggi dengan lobi wangi dan lantai marmer yang membuat sandal Keira terasa bersalah. Petugas keamanan segera membukakan pintu ketika melihat Rayhan.

"Terima kasih," kata Rayhan sebelum turun.

Keira hampir mengira telinganya salah. "Sama-sama, Pak."

Rayhan menahan pintu mobil sebentar. "Buburnya benar-benar enak."

"Nanti kalau Mama buat lagi, saya bawakan."

Kalimat itu keluar terlalu alami. Keira baru sadar setelah Rayhan menatapnya lebih lama dari biasanya.

"Baik," katanya.

Pintu tertutup.

Keira mengembuskan napas. Ia memutar mobil keluar dari area gedung, melewati Mercedes yang mengilap di parkiran khusus penghuni. Avanza putihnya bergerak pelan, membawa termos kosong dan sisa aroma bubur ayam.

Saat sampai di rumah Khiu di Tangerang Selatan, jam hampir satu dini hari. Lampu teras masih menyala. Papa Hendra tertidur di kursi panjang ruang tamu dengan sarung menutupi perut, televisi menyala tanpa suara. Mama Lina keluar dari dapur begitu mendengar pagar dibuka.

"Sudah pulang?" bisik Mama Lina.

"Sudah, Ma. Buburnya dimakan bos."

Mama Lina tidak marah. Ia justru tersenyum bangga. "Dia bilang apa?"

"Enak."

"Nah, kan. Lain kali Mama buat lebih banyak."

Papa Hendra terbangun, mengucek mata. "Keira sudah makan?"

Keira mengangkat bahu. "Buburnya habis."

Lima belas menit kemudian, tiga orang keluarga Khiu berjalan pelan ke warung nasi goreng dekat kompleks. Papa Hendra dengan kaus longgar, Mama Lina dengan jaket rumah, Keira di tengah mereka, sama-sama bulat, sama-sama mengantuk, sama-sama lapar.

Angin malam menyentuh wajah Keira. Di kantor, orang boleh menganggapnya sekretaris gemuk yang terlalu biasa untuk berdiri di samping Rayhan Kie. Di rumah, dia adalah anak yang ditunggu pulang, bahkan kalau pulangnya membawa termos kosong.

Di lantai tinggi SCBD, Rayhan berdiri di depan jendela penthouse-nya. Dari kejauhan, Avanza putih itu sudah lama menghilang, tetapi aroma bubur ayam masih tertinggal samar di lidahnya.

Sekretarisnya gemuk, suka mengomel dalam hati, dan terlalu cepat menjawab "baik" untuk hal-hal yang seharusnya membuat orang marah.

Rayhan menyentuh sudut bibirnya.

Gadis itu ternyata menarik.

Episode 2

Bab 2: Tuan Besar Keluarga Kie

Pagi berikutnya, Keira tiba di lantai dua puluh enam Gemilang Tower dengan mata yang masih sedikit berat dan senyum kantor yang sudah terpasang rapi.

Lift khusus direksi terbuka tanpa suara. Begitu melangkah keluar, lantai marmer hitam memantulkan sepatunya yang murah tetapi disemir bersih. Di ujung koridor, logo Gemilang Group berkilau di dinding, cukup besar untuk membuat tamu baru otomatis mengecilkan suara.

Keira selalu bilang pada Rina, lantai dua puluh enam bukan kantor, melainkan museum kekuasaan. Karpetnya tebal, sofa ruang tunggunya lebih mahal daripada cicilan Avanza keluarga Khiu, dan ruang VIP-nya punya aroma kopi impor yang membuat orang biasa merasa harus meminta izin sebelum bernapas.

Tapi setelah dua tahun bekerja di sana, Keira sudah kebal.

Hampir kebal.

Ia tetap sempat menunduk dan menyentuh ujung karpet ruang tamu ketika tidak ada orang melihat. Lembut sekali. Kalau Mama Lina tahu, beliau mungkin akan bertanya apakah karpet seperti itu bisa dicuci pakai sabun biasa.

"Keira."

Suara Ci Lien membuat tangan Keira langsung terangkat dari karpet.

Perempuan itu berdiri di depan meja sekretariat dengan map tipis di tangan. Usianya mendekati empat puluh, rambutnya disanggul rapi, matanya tajam seperti pemindai dokumen.

"Pak Direktur sudah datang?"

"Belum, Ci. Jadwal pertama jam sembilan dengan tim legal. Saya sudah kirim revisi kontrak ke email Bapak tadi subuh."

"Subuh?"

Keira menaruh tas di laci. "Tidak bisa tidur setelah jemput beliau."

Ci Lien menatapnya dua detik, lalu menggeleng kecil. "Kamu ini, mulutnya suka mengeluh, tapi kerja tetap jalan."

"Kalau mulut tidak boleh mengeluh, nanti ginjal saya yang protes."

Ci Lien hampir tersenyum. "Jangan sampai Pak Direktur dengar."

"Beliau cuma dengar kalimat yang ada kata 'baik, Pak'."

Pukul delapan empat puluh, Rayhan Kie masuk melalui koridor utama. Setiap orang yang dilewatinya otomatis berdiri lebih tegak. Kemeja abu-abu, dasi gelap, jam tangan tipis, langkah tanpa terburu-buru. Ia baru tidur beberapa jam setelah penerbangan panjang, tetapi wajahnya tetap segar seperti seseorang yang punya baterai cadangan di tubuh.

"Pagi, Pak Direktur," sapa Keira.

Rayhan berhenti sebentar di depan mejanya. "Pagi. Bubur semalam, ibumu biasa membuatnya?"

Ci Lien, Siska, dan Mei yang sedang pura-pura sibuk langsung memasang telinga.

Keira ingin memasukkan kepalanya ke bawah meja.

"Tidak setiap hari, Pak. Tergantung stok ayam di kulkas."

"Kalau ada lagi, bawakan."

Kalimat itu pendek, datar, dan seolah hanya instruksi kantor biasa. Namun di ruang sekretariat yang biasanya bisa mencium gosip dari jarak sepuluh meter, udara langsung berubah.

Siska menatap Mei. Mei menatap Ci Lien. Ci Lien menatap Keira.

Keira menatap layar komputer, berharap Excel bisa menelannya.

"Baik, Pak Direktur."

Rayhan masuk ke ruang kerjanya.

Begitu pintu tertutup, Siska berbisik, "Keira, sejak kapan Pak Direktur pesan makanan rumahmu?"

"Sejak beliau kelaparan dan saya kebetulan punya termos," jawab Keira cepat.

Mei mencondongkan tubuh. "Tapi Pak Direktur tidak pernah minta makanan siapa-siapa."

"Karena biasanya tidak ada yang berani menawarkan."

"Kamu berani?"

"Aku takut Mama marah kalau membiarkan orang lapar."

Ci Lien mengetuk meja dengan ujung map. "Sudah. Kerja."

Semua kembali ke layar masing-masing, tetapi Keira tahu gosip kecil itu akan bergerak lebih cepat daripada memo internal. Ia menghela napas, membuka daftar jadwal Rayhan, lalu mulai memindahkan beberapa rapat sesuai instruksi malam tadi.

Rayhan Kie bukan sekadar atasan. Ia adalah putra tertua Hendrik Kie, keluarga yang namanya menempel di proyek properti, hotel, dan tambang dari Jakarta sampai Kalimantan. Tiga tahun lalu, setelah menyelesaikan MBA di luar negeri, Rayhan mengambil alih posisi Direktur Utama Gemilang Group. Dalam tiga tahun, ia memangkas divisi boros, mengambil proyek tambang yang sempat dianggap terlalu berisiko, dan membuat banyak orang tua di jajaran direksi berhenti memanggilnya "anak Hendrik".

Mereka mulai memanggilnya Pak Rayhan.

Di luar gedung ini, orang menyebutnya pewaris Kie yang paling dingin. Di dalam kantor, Keira punya definisi lebih sederhana: pria yang bisa menandatangani dua puluh dokumen, memarahi tiga kepala divisi, mengubah jadwal makan siang menjadi rapat darurat, dan tetap bertanya kenapa titik koma di laporan keuangan halaman delapan salah posisi.

Adiknya, Darren Kie, jauh berbeda. Darren mengurus bisnis hiburan keluarga, klub, restoran, event, dunia malam yang penuh lampu dan musik. Sekali datang ke kantor pusat, Darren biasanya membawa aroma parfum mahal dan candaan yang membuat staf perempuan tersipu.

Selene Kie, adik perempuan mereka dari lain ibu, lebih jarang disebut. Keira hanya pernah melihat fotonya di berita keluarga: cantik, kurus, mata tajam, belajar di luar negeri. Setiap kali nama Selene muncul, wajah beberapa orang tua di keluarga Kie berubah kaku. Itu cukup memberi tahu Keira bahwa keluarga kaya juga punya ruangan gelap, hanya saja pintunya lebih mahal.

Pukul sembilan, rapat legal dimulai. Keira berdiri di sisi layar, mengoper slide dan mencatat perubahan. Rayhan tidak banyak bicara, tetapi setiap kali ia mengajukan pertanyaan, orang yang ditanya langsung membuka dokumen dengan jari panik.

"Keira, halaman lampiran empat."

"Sudah saya tandai, Pak."

"Angka proyeksi versi lama?"

"Ada di folder pembanding. Saya tampilkan?"

"Tampilkan."

Layar berubah dalam tiga detik.

Kepala legal menoleh ke Keira dengan lega. Rayhan melirik sekilas. Tidak ada pujian, tetapi Keira tahu arti tatapan itu. Benar. Cepat. Simpan.

Di dunia Rayhan, pujian paling mahal adalah tidak dikritik.

Menjelang siang, setelah rapat ketiga selesai, Rayhan bersandar sebentar di kursinya. Dari balik kaca ruang kerja, ia melihat Keira di meja sekretariat. Perempuan itu sedang menjelaskan sesuatu kepada kurir internal sambil mencatat nomor dokumen. Wajahnya tidak cantik menurut standar majalah, tubuhnya juga jauh dari tipe perempuan yang biasa mendekati Rayhan. Tapi ia tidak panik, tidak banyak gaya, tidak pernah menjual rahasia, dan selalu tahu file mana yang dibutuhkan sebelum Rayhan selesai meminta.

Rayhan pernah mengganti empat sekretaris dalam delapan bulan.

Yang satu mudah menangis, yang satu terlalu ingin dekat, yang satu membocorkan jadwal makan malamnya ke media, yang satu lagi salah mengirim dokumen kontrak.

Lalu Keira datang, membawa tubuh gemuk, map warna-warni, dan kebiasaan menjawab "baik, Pak" dengan mata yang kadang jelas sedang memaki.

Rayhan merasa seperti menemukan sesuatu yang jarang.

Pembawa rezeki, pikirnya.

Satu-satunya kekurangan Keira adalah jam pulang.

Begitu pukul lima lewat tiga puluh dan tidak ada rapat mendesak, perempuan itu bisa menghilang dari lantai dua puluh enam lebih cepat daripada email promosi pinjaman online. Tas sudah siap, komputer mati, laci terkunci, wajahnya bersinar seperti murid sekolah mendengar bel pulang.

Rayhan pernah bertanya, "Kamu buru-buru?"

Keira menjawab dengan sopan, "Mama masak soto, Pak."

Alasan itu begitu sederhana sampai Rayhan tidak bisa membantah.

Sore itu, Keira sedang menyusun laporan perjalanan ketika telepon internal Rayhan berbunyi. Ia masuk membawa tablet.

"Ada telepon dari Pak Hendrik, Pak. Beliau minta disambungkan langsung."

Rayhan menerima sambungan. "Papa."

Keira hendak keluar, tetapi suara Hendrik dari speaker cukup keras untuk terdengar.

"Makan malam Imlek tahun ini jangan kosongkan tanganmu. Herman Yong akan datang dengan putrinya."

Jari Keira berhenti di gagang pintu.

Rayhan tidak berubah ekspresi. "Sanya?"

"Ya. Anak perempuan Yong itu. Cantik, dididik baik, dan keluarganya berguna untuk proyek aluminium kita. Tahun ini kamu harus lebih ramah."

Keira menunduk dan keluar perlahan, menutup pintu tanpa suara.

Di balik pintu kayu tebal itu, untuk pertama kalinya sejak bekerja di Gemilang, Keira merasa jadwal pribadi Rayhan mungkin akan lebih berbahaya daripada jadwal rapatnya.

Episode 3

Bab 3: Kencan Buta Pertama

Sabtu siang, Keira berdiri di depan cermin kamar sambil menarik ujung blouse biru muda yang menurut Mama Lina "manis, rapi, dan tidak terlalu kantor".

Menurut Keira, baju itu punya satu kelebihan penting: longgar di lengan.

"Jangan ditarik terus," kata Mama Lina dari pintu kamar. "Nanti malah kelihatan kamu tidak nyaman."

"Memang tidak nyaman, Ma."

"Karena kencan buta?"

"Karena Mama menyebutnya kencan, padahal ini lebih mirip audit calon menantu."

Mama Lina tertawa pelan. Di tangannya ada tas kecil berisi tisu, permen jahe, dan botol minum. Sejak Keira kecil, Mama selalu percaya perempuan boleh pergi ke mana saja selama tasnya siap menghadapi segala keadaan.

"Namanya Reno Hadisurya," kata Mama Lina, mengulang data yang sudah ia sebutkan tiga kali sejak sarapan. "Desainer di Optima Design. Umurnya dua puluh tujuh. Teman Tante Meihua bilang anaknya sopan."

"Kalau sopan, kenapa masih perlu dijodohkan?"

"Mungkin dia sibuk."

"Atau terlalu pilih-pilih."

Mama Lina mendekat dan merapikan kerah blouse Keira. "Kalau dia pilih-pilih dan tidak memilih kamu, ya sudah. Kita pulang makan bakso."

Kalimat itu membuat dada Keira lebih ringan.

Papa Hendra mengantar Keira sampai kafe di sebuah mall. Sebelum turun, Papa menoleh dari kursi pengemudi Avanza.

"Kalau tidak enak, telepon Papa. Papa tunggu di parkiran."

"Papa jangan seperti bodyguard."

"Bodyguard dibayar. Papa gratis."

Keira tertawa, lalu keluar dengan tas kecil dan perasaan yang sudah setengah siap ditolak.

Kafe itu terang, penuh tanaman palsu dan pasangan muda yang memotret latte. Reno duduk di dekat jendela. Dari foto yang dikirim Tante Meihua, Keira tahu ia tampan. Aslinya lebih rapi lagi. Kemeja linen putih, jam tangan minimalis, rambut sedikit berantakan dengan cara yang jelas sengaja.

Reno berdiri ketika Keira mendekat.

"Keira?"

"Iya. Reno?"

"Silakan duduk."

Sopan. Benar kata Mama.

Tapi mata Reno sudah lebih dulu memberi jawaban.

Tatapan itu turun sepersekian detik ke tubuh Keira, berhenti pada pinggang yang tidak ramping, lalu kembali ke wajahnya dengan senyum yang terlambat dipasang. Banyak orang mengira Keira tidak peka karena ia gemuk dan suka tertawa. Padahal perempuan yang sering diukur dari bentuk tubuhnya biasanya hafal setiap perubahan mata orang lain.

Keira duduk.

"Mau pesan apa?" tanya Reno.

"Es kopi susu saja."

Reno memanggil pelayan. Mereka berbasa-basi tentang pekerjaan, macet Jakarta, dan mall yang terlalu ramai. Reno menjawab dengan sopan, tetapi setiap kalimatnya seperti pintu setengah tertutup.

"Kamu sekretaris di Gemilang?" tanyanya.

"Iya."

"Pasti sibuk."

"Lumayan. Kalau Pak Direktur sedang ingat bahwa manusia butuh tidur, kami semua selamat."

Reno tersenyum kecil, tetapi tidak sampai matanya. "Kamu lucu."

"Terima kasih. Itu biasanya kompensasi dari kurang cantik."

Reno terdiam. Wajahnya menunjukkan panik tipis, seperti orang yang ketahuan membaca pesan pribadi.

Keira mengaduk es kopinya. "Santai saja. Aku tahu kamu tidak cocok."

"Bukan begitu."

"Begitu." Keira mengeluarkan dompet, menaruh uang untuk kopinya di bawah gelas. "Kamu tidak jahat. Kamu cuma kecewa karena foto yang dikirim Tante Meihua mungkin terlalu pintar memilih sudut."

Reno membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.

Keira berdiri. "Nanti kalau Tante Meihua tanya, bilang saja kita ngobrol baik-baik tapi tidak cocok. Jangan bilang aku terlalu gemuk. Mama sudah tahu, aku juga sudah tahu. Tidak perlu dijadikan berita keluarga."

"Keira, tunggu."

"Tidak apa-apa." Keira tersenyum, kali ini sungguh-sungguh. "Aku lebih suka cepat selesai daripada duduk lama sambil pura-pura."

Ia pergi sebelum Reno bisa membela diri dengan kalimat sopan yang tidak akan mengubah apa pun.

Di luar kafe, keramaian mall menyambutnya. Untuk beberapa langkah, dada Keira terasa sedikit sesak. Bukan karena Reno. Ia bahkan baru mengenal pria itu dua puluh menit. Yang menyakitkan adalah rasa lama yang selalu kembali setiap kali seseorang menatapnya seperti barang salah kirim.

Keira berhenti di depan etalase toko pakaian. Manekin di dalamnya memakai gaun kecil yang indah, pinggangnya seperti bisa digenggam satu tangan.

"Cantik sekali," gumam Keira.

Lalu perutnya berbunyi.

Keira menatap bayangannya sendiri di kaca, lalu tertawa pendek. "Baiklah. Sebelum patah hati, makan dulu."

Ia tidak langsung menelepon Papa. Sebaliknya, ia naik satu lantai ke game center. Musik keras, lampu warna-warni, anak-anak berteriak, mesin capit boneka berderet seperti jebakan kebahagiaan.

Keira menukar uang lima puluh ribu menjadi koin. Ia memilih mesin dengan boneka beruang cokelat dan kelinci putih. Pada percobaan pertama, capitnya turun dengan anggun lalu menjatuhkan boneka seperti janji manis laki-laki.

"Oke, kamu melawan orang yang salah," kata Keira pada mesin itu.

Tiga puluh menit kemudian, pipinya memerah, rambutnya sedikit berantakan, dan dua boneka berhasil keluar. Satu beruang cokelat, satu kelinci putih dengan telinga miring. Keira memeluk keduanya seperti piala.

Tanpa ia sadari, Reno berdiri beberapa meter di belakang, di dekat mesin basket. Ia melihat Keira tertawa sendiri setelah menang, melihat perempuan itu memberi high five pada anak kecil yang ikut bersorak, melihat tubuh yang tadi ia nilai terlalu cepat bergerak lincah di antara mesin permainan.

Untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka, Reno merasa mungkin ia yang terlalu miskin cara melihat.

Keira tidak menoleh. Ia sudah menelepon Papa.

"Papa di mana?"

"Parkiran. Sudah selesai?"

"Sudah. Kita jemput Mama, makan bakso?"

"Berarti tidak cocok?"

"Dia seperti aktor iklan sabun, Pa. Bagus dilihat dari jauh."

Papa Hendra tertawa sampai batuk.

Di rumah, Mama Lina hanya melihat dua boneka di tangan Keira dan langsung mengerti.

"Tidak apa-apa," kata Mama sambil mengikat rambut. "Anggap saja tadi kamu pergi melihat artis gratis. Sekarang kita makan bakso."

Mereka makan di warung langganan dekat kompleks. Kuah panas, sambal, jeruk limau, dan suara sendok bertemu mangkuk membuat sisa sesak di dada Keira pelan-pelan turun. Mama Lina tidak banyak bertanya. Papa Hendra sibuk menambah kecap.

Malamnya, Keira duduk di ruang tengah sambil menonton film animasi lama tentang gadis kecil yang tersesat di dunia asing. Ia selalu suka bagian ketika si gadis belajar tidak kehilangan namanya, tidak peduli seaneh apa tempat yang ia masuki.

Mama Lina keluar dari dapur membawa teh hangat.

"Keira."

"Hm?"

"Tadi Tante Meihua telepon. Dia bilang Arya sudah pulang ke Jakarta."

Tangan Keira yang memegang sumpit berhenti di atas mangkuk bakso sisa.

Nama itu seperti pintu yang sudah lama ia kunci, tiba-tiba diketuk dari dalam.

Mama Lina melanjutkan dengan suara lebih pelan, "Katanya dia membawa pacarnya."

Kuah bakso masih mengepul di depan Keira, tetapi lidahnya mendadak tidak bisa merasakan apa-apa.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!