Indonesia
NovelToon NovelToon

Pewaris Segel Hijau : Kebangkitan Si Pecundang Desa

Bab 1--Dihajar Rian

BAB 1

"Uhuk! Uhuk!"

Suara batuk kering yang menyakitkan menggema di keheningan malam pinggiran Desa Sukamaju. Bima Wijaya tersungkur di atas tanah berlumpur, dadanya kembang kempis menahan rasa sakit yang luar biasa.

Setiap kali dia mencoba menarik napas, paru-parunya terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum. Cairan kental berbau amis besi mengalir dari sudut bibirnya. Darah lagi.

Ia memiliki penyakit jantung bawaan berbahaya yang membuat fisik dia selemah balita. Gara-gara penyakit itu, dia memiliki hidup yang begitu mengenaskan. Ditambah lagi, komplikasi paru-paru basah yang akut membuat setiap hari dalam hidup Bima adalah siksaan tanpa akhir. Untuk bertahan hidup, dia terpaksa bergantung pada obat-obatan mahal yang harganya tidak masuk akal bagi kantongnya yang kosong.

Namun, rasa sakit di dadanya malam ini kalah jauh dengan rasa sakit di harga dirinya.

Di depannya, berdiri tiga orang pemuda dengan pakaian necis. Tiga pemuda berbadan kekar nan gagah itu menyunggingkan senyuman remeh, sementara di tengah-tengah mereka adalah Joko, anak kepala Desa Sukamaju yang terkenal arogan.

"Bima, sadarlah. Kamu itu cuma sampah desa, penyakitan, miskin lagi," suara Rianterdengar sangat dingin dan penuh penghinaan. "Sudah tahu kere, penyakitan, masih berani-beraninya numpuk utang di rumah bapakku!"

Bima mencengkeram tanah berlumpur, kepalanya terangkat dengan susah payah. Utang

.Ya, itu adalah akar dari semua bencana ini. Demi membeli obat jantungnya selama setahun terakhir, Bima terpaksa meminjam uang berobat kepada Kepala Desa Sukamaju—yang tak lain adalah bapaknya Joko, sang lintah darat desa yang suka memeras warga dengan bunga mencekik.

Bima bekerja serabutan setengah mati, jualan koran hingga jadi kuli angkut ringan di pasar walau sering berakhir pingsan, hanya untuk mencicil utang tersebut. Tapi bagi keluarga Joko, sisa utang Bima yang tinggal sedikit itu justru dijadikan alasan untuk menginjak-injaknya malam ini.

"Mas Joko... aku... aku sudah janji bakal bayar sisanya akhir bulan ini setelah uang jualan koranku cair..." Bima terbata, air mata bercampur darah mengalir di pipinya yang lebam.

"Halah! Akhir bulan matamu peyang! Bapakku sudah bosan dengar janji manis dari cowok ampas kayak kamu!" Rianmaju selangkah, menatap Bima dengan pandangan yang sangat merendahkan. 

"Bapakku butuh duitnya sekarang. Karena kamu gak punya duit, maka malam ini tubuh cacatmu itu yang harus bayar bunganya!"

Rianadalah pria yang punya segalanya di desa ini. Dia tampan, kaya, dan punya kuasa berkat jabatan bapaknya. Namun, di balik itu semua, Rianmemiliki tabiat yang sangat busuk. Dia terkenal suka main wanita, suka memeras pedagang pasar, dan sering melakukan pelecehan yang selalu ditutupi menggunakan kekuatan uang dan jaringan hukum bapaknya.

Bima tahu semua kebusukan itu karena dia sering mangkal di pasar. Dan malam ini, Riansengaja membawa antek-anteknya ke area sepi di dekat kaki gunung hanya untuk melampiaskan kesadisannya pada pemuda ringkih tak berdaya seperti Bima.

"Bapakmu... bapakmu itu pemeras! Bunga utang itu sudah kulunasi tiga kali lipat, tapi kalian terus menambahnya!" Bima berteriak serak, mencoba membela diri.

Mendengar ucapan frontal dari Bima, wajah Rianlangsung berubah drastis karena merasa terancam sekaligus tersinggung. "Banyak bacot kau, cacat! Berani kamu menghina keluargaku?!"

Bugh!

Rianmaju selangkah, lalu dengan kejam mendaratkan tendangan lurus yang sangat keras tepat di perut Bima.

"Argh!"

Bima menjerit tertahan, tubuh kurusnya berguling di tanah. Hantaman itu terasa sepuluh kali lipat lebih mematikan bagi fisiknya yang hancur. Dia kembali memuntahkan darah segar dalam jumlah banyak. Tubuhnya bergetar hebat merasakan rasa sakit luar biasa, campuran antara harga diri yang tercoreng dan rasa sakit fisik yang ekstrem.

Dua antek Joko, pemuda berbadan kekar dari kampung sebelah, tertawa terbahak-bahak melihat pemandangan itu.

"Hahaha... kasihan banget sumpah! Begitu doang langsung muntah darah!"

"Lemah ada batasnya juga kali! Gak usah sok keras kalau fisik kayak ayam sayur!"

"Hajar dia! Biar dia tahu sopan santun sama anak Kepala Desa!" perintah Riandengan bengis.

Tanpa ampun, kedua antek Rianmulai menghajar Bima habis-habisan. Pukulan demi pukulan yang dilapisi tenaga besar bersandar di wajah, rusuk, dan punggung Bima. Bunyi hantaman daging dan tulang yang beradu terdengar mengerikan memecah kegelapan malam.

Bima tidak bisa melawan. Fisiknya yang digerogoti penyakit kronis sejak remaja membuatnya tidak lebih kuat dari selembar kertas. Dia hanya bisa meringkuk di atas tanah berlumpur, melindungi kepalanya dengan kedua tangan yang gemetar hebat, menerima setiap siksaan dengan kepasrahan yang menyakitkan.

Bugh! Bugh!

Hantaman demi hantaman terus dilancarkan tanpa ada niat untuk berhenti.

"Sudah, bantai saja sekalian! Biar desa ini bersih dari beban orang miskin tak berguna!" seru salah satu antek Riansambil menginjak dada Bima dengan brutal.

KREK.

Bima bisa merasakan tulang rusuknya retak. Rasa sakit yang teramat sangat membuatnya hampir kehilangan kesadaran seketika. Pandangannya mulai mengabur, menyisakan siluet Rianyang berdiri tegak sambil bersedekap dada, tersenyum puas melihat Bima yang sudah sekarat di ujung maut.

"Ayo pergi. Bau darah si penyakitan ini bikin mual," ajak Riansambil meludahi tubuh Bima yang sudah tak bergerak. 

Setelah melempar beberapa makian lagi, Riandan para anteknya melangkah pergi dengan tawa kemenangan, meninggalkan Bima yang terkapar tak berdaya di tanah berbatu dekat kaki gunung.

Malam semakin larut, dan gerimis mulai turun membasahi bumi, mengubah tanah menjadi semakin dingin.

Bima mengerang, mencoba menggerakkan jarinya, namun seluruh tubuhnya terasa mati rasa. Dengan sisa-sisa tenaga yang hampir habis dan napas yang terputus-putus, dia menyeret tubuhnya di atas tanah, merangkak tanpa arah demi mencari perlindungan dari air hujan yang membuat tubuh ringkihnya semakin menggigil hebat.

Byurr!

Karena pandangannya yang kabur tertutup darah dan tanah yang licin akibat hujan, Bima kehilangan keseimbangan di tepi tebing. Alih-alih bergerak menjauh darisana dia malah sial serta jatuh ke bawah.

Tubuh kurusnya berguling jatuh dari tebing kecil dan langsung terhempas ke dalam aliran sungai berbatu di kaki gunung yang arusnya sedang menderu deras.

Dinginnya air sungai langsung menusuk hingga ke sumsum tulangnya. Bima megap-megap, kepalanya membentur batu sungai berkali-kali. Dia tidak bisa berenang, apalagi dengan kondisi tubuh yang hancur pasca dihajar habis-habisan.

"Uhuk! Glek!" Air sungai mulai masuk ke dalam saluran pernapasan dan lambungnya. Mampus, dia serasa mati lemas saat itu juga di dalam pusaran air yang gelap.

Hanya karena utang obat, nyawa harus jadi taruhan. Tragis dan sangat mengenaskan.

'Apakah... aku akan mati di sini? Mati sebagai sampah miskin yang diinjak-injak?' batin Bima di ambang kematiannya.

Di tengah kegelapan air sungai yang menenggelamkannya, hati Bima menjerit sekencang-kencangnya. Jiwanya dipenuhi oleh amarah, dendam, dan keputusasaan yang mendalam.

'Kenapa?! Kenapa takdir begitu tidak adil padaku?! Apa salahku? Aku hanya ingin hidup normal! Kenapa aku harus lahir dengan penyakit sialan ini?!'

'Kenapa orang-orang kaya berkuasa seperti Rianselalu bisa menginjak-injak orang miskin seperti aku seperti cacing?!'

'Joko... Kepala Desa... jika aku mati dan menjadi hantu, aku bersumpah akan menuntut balas pada kalian semua! Aku mengutuk kemiskinan ini! Aku mengutuk takdir sialan ini!!!' Bima merutuki hidupnya dengan segala kebencian dan dendam membara yang tersisa di dadanya.

Kesadarannya perlahan-lahan mulai padam. Matanya hampir tertutup sepenuhnya saat tubuhnya yang lemas tersangkut di antara celah batu besar di dasar sungai yang gelap.

Namun, tepat di saat napas terakhirnya hendak berhembus dan jantungnya hampir berhenti berdetak, tangan Bima yang mencengkeram dasar sungai secara tidak sengaja menggenggam sebuah benda bulat seukuran telur puyuh yang tertimbun di dalam lumpur.

Benda itu adalah sebuah batu hitam legam dengan guratan urat-urat bercahaya hijau redup.

DEG!

Begitu kulit telapak tangan Bima bersentuhan dengan batu tersebut, sebuah sentikan energi yang luar biasa panas tiba-tiba menjalar, melesat cepat melewati pembuluh darah lengan kirinya, dan langsung menghantam tepat di pusat jantungnya!

Mata Bima yang tadinya sayu langsung membelalak lebar di dalam air. Cahaya hijau misterius mulai berpendar terang, membungkus seluruh tubuhnya yang semula sekarat di dasar sungai.

Bab 2--Kakak Ipar Si Janda Muda

Bab 2

Cahaya hijau misterius itu kian terang, berpendar membelah kegelapan dasar sungai kaki gunung. Bima bisa merasakan energi panas yang menghantam jantungnya tadi tidak membakarnya, melainkan menjalar ke seluruh pembuluh darahnya seperti aliran listrik yang menghidupkan kembali sel-sel yang mati.

DUB-DUB!

Jantung Bima berdegup kencang, dentumannya begitu kuat hingga memecah kesunyian di dalam air. Bersamaan dengan itu, rasa sesak yang menyiksa di dadanya akibat penyakit kronis bertahun-tahun lenyap tanpa bekas. Paru-parunya yang semula basah dan hancur, kini terasa lapang dan dipenuhi kekuatan baru yang tak kasat mata.

Rasa sakit dari tulang rusuknya yang patah akibat injakan antek Rian menguap begitu saja. Kulitnya yang lebam dan berdarah menutup dengan kecepatan yang tidak masuk akal. 

Tubuhnya yang semula kurus kering seperti ayam sayur, mendadak mengalami metamorfosis. Otot-ototnya memadat, postur tubuhnya melebar, dan setiap jengkal fisiknya kini dialiri oleh tenaga yang luar biasa besar—kekuatan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

BUM!

Ledakan energi tak kasat mata menyembur dari tubuh Bima, membuat air sungai di sekitarnya bergolak dahsyat.

Dengan satu hentakan kaki yang kini sekokoh pilar besi, Bima melesat naik ke permukaan sungai. Dia tidak lagi megap-megap kehabisan napas. Gerakannya di dalam air begitu lincah, seolah-olah dia adalah bagian dari sungai itu sendiri.

BYURRR!

Bima memecah permukaan air sungai, melompat tegak dan mendarat sempurna di atas batu besar di tepi sungai.

Gerimis malam masih turun, menerpa tubuh Bima yang kini bertelanjang dada. Namun, rasa dingin yang biasanya membuat tubuh ringkihnya menggigil, kini sama sekali tidak terasa. Aliran darahnya terasa hangat, memancarkan aura maskulin yang sangat kuat ke udara malam.

Bima mengangkat kedua tangannya, menatap telapak tangannya sendiri di bawah temaram sinar bulan. Di telapak tangan kanannya, batu hitam berurat hijau itu telah lenyap—melebur dan menyatu sepenuhnya ke dalam jiwanya.

"Aku... belum mati?" bisik Bima. Suaranya tidak lagi serak dan lemah karena batuk darah. Suara itu kini terdengar berat, dalam, dan penuh dengan wibawa seorang pria matang.

Dia mencoba menarik napas dalam-dalam. Hahhh… Udara malam yang dingin masuk ke paru-parunya dengan sangat lancar. Tidak ada jarum-jarum tajam yang menusuk. Tidak ada batuk darah yang menyiksa. Jantungnya berdetak dengan ritme yang sangat konstan dan kuat.

"Penyakitku... sembuh total?"

Bima mengepalkan tinjunya. KRETEK! Bunyi gesekan sendi-sendinya terdengar begitu bertenaga. 

Luar biasa ini pertama kali terjadi seumur hidupnya. Rasa sakit di jantung, tubuh yang begitu lemah terasa sangat ringan. Dia seperti memiliki tubuh baru melepaskan diri dari cangkang yang lemah.

Dia melompat kecil berkali-kali, memukul kesana kesini, berlari melingkar. Dan keajaiban seolah terjadi. Dia tidak merasakan apapun!

“Hebat … apa yang baru saja terjadi?” Bagaimanapun, Bima masih bingung. Gimana ceritanya dia bisa mendadak jadi begini.

Lalu dia kembali teringat barusan dia menyentuh sebuah batu aneh serta batu itu tiba tiba menyatu ke tubuhnya, kemudian dia melihat ...telapak tangan kirinya.

 Di bawah kulit pergelangan tangannya, samar-samar terlihat guratan urat halus berwarna hijau bercahaya yang lambat laun memudar dan menyatu dengan warna kulitnya.

Kejadian barusan masih beribu-ribu tanda tanya. Tapi paling tidak dia tahu bahwa tubuhnya membaik karena disini hujan serta semakin deras, dia mending memutuskan untuk balik dulu.

*

Bima kembali ke tempat dia berada. Bukan sebuah rumah,namun bangunan tua. Gubuk kumuh yang berada di pinggiran desa yang membuktikan betapa miskin dirinya.

Hari sudah hujan deras membasahi tubuh Bima.

“Aneh banget. Kok aku merasa biasa-biasa saja.padahal kalau dulu-dulu sudah katisen (kedinginan).”

Lalu dia menatap gubuk tua itu yang sepi. Sudah malam tidak heran kalau sepi, penghuni sini Mbak Rasti—kakak iparnya pasti sudah tidur.

Yup. Bima tidak punya rumah, sudah yatim piatu sejak beberapa tahun terakhir, rumah orang tua digadai demi bayar hutang, sekarang dia kena penyakit jantung berhutang lagi dengan Riansi anak pak kades.

Sungguh takdir memang kejam.

Bima masuk,begitu dia masuk mata dia terbuka lebar karena terkejut. “Aku pulang, mbak rasti—MBAK RASTI MBAK KENAPA?!”

Seruan itu jelas terlihat panik. Wajah rasti tampak pucat kebiruan,tertidur di sembarang tempat, nafasnya terengah-engah.

Melihat hal ini hati Dan terasa mencius. Ingin rasanya dia membantu mbak Rasti yang sekarang sudah menjadi janda muda karena suaminya alias kakak dari Bima meninggal dunia. Tapi sayang sekali dia dulu penyakitan sehingga cuma jadi bakul koran.

Rasti batuk-batuk,menatap Bima. “K-kamu sudah pulang ternyata, Bima …”

“Iya, mbak … mbak kenapa?” Tanya Bima khawatir berjalan mendekati Rasti.

Rasti berusaha bangun dengan kemampuan sendiri, tapi tubuhnya oleng malah membuat dia makin prihatin dan tampak semakin lemah. “Gak tahu. Mbak kayaknya demam … terus tadi mau ambil minum, tapi kaki mbak rasanya sakit, keseleo dan jatuh …”

Bima langsung melihat kaki jenjang indah milik kakak ipar yang kini statusnya janda muda. Kakinya memang sangat indah dan menggoda, tapi bukan itu yang jadi pusat perhatian Bima.

Entah bagaimana tiba-tiba mata Bima menerawang,sejak menyatu dengan batu aneh di sungai tadi. Tubuh dia gak hanya berevolusi, tapi matanya ternyata juga bisa menembus. Dia melihat aliran kehidupan Rasti dan melihat beberapa sumbatan disana.

“Omong-omong,” potong Rasti. “Kamu baik-baik saja? Malam-malam gini hujan malah keluyuran, gimana kalau jantungmu makin parah.”

“Kalau itu gak perlu khawatir, mbak, yang lebih penting mbaknya dulu. Sini mbak saya bantu bawa ke kamar … sekalian saya bantu pijet kaki mbak, siapa tahu bisa membaik.”

Bima dengan sigap menyelubungkan lengannya di bawah lutut dan punggung Rasti. Begitu tubuh mungil kakak iparnya itu terangkat, Bima tertegun sejenak. Tubuh Rasti terasa begitu ringan di pelukannya, sementara Rasti sendiri langsung tersentak kaget.

Biasanya, Jangankan mengangkat orang, membawa sekarung beras kecil saja sudah membuat Bima terengah-engah dan muntah darah. Namun sekarang, Bima membawanya seolah Rasti hanya seberat kapuk.

Terlebih dia merasa sebuah sensai aneh. Sentakan kulit mereka yang menyentuh membuat naluri janda muda yang butuh sentuhan pria menjadi bergejolak, padahal selama ini dia melihat Bima sebagi adk ipar biasa.

"Bima... k-kamu kuat ngangkat Mbak?" bisik Rasti terperangah. Wajahnya yang pucat mendadak merona merah saat dadanya yang membusung tertekan rapat pada dada bidang baru Bima yang terasa hangat dan kokoh seperti batu karang.

Bima terkekeh dan menjawab. "sudah dibilang ini tenaga dari anak sholeh! Udah manut sama aku mba."

Bab 3—Memijat Janda Muda

Bima dengan sigap menyelubungkan lengannya di bawah lutut dan punggung Rasti. Begitu tubuh mungil kakak iparnya itu terangkat, Bima tertegun sejenak. Tubuh Rasti terasa begitu ringan di pelukannya, sementara Rasti sendiri langsung tersentak kaget.

​Biasanya, jangankan mengangkat orang, membawa sekarung beras kecil saja sudah membuat Bima terengah-engah. Namun sekarang, Bima membawanya seolah Rasti hanya seberat kapuk.

Sentuhan yang tidak terhindarkan itu membuat keduanya sama-sama canggung. Selama ini Bima jarang memiliki tenaga untuk membantu pekerjaan berat, sehingga perubahan mendadak tersebut terasa sulit dipercaya bagi mereka berdua.

​"Bima... k-kamu kuat ngangkat Mbak?" bisik Rasti terperangah. Wajahnya dipenuhi keterkejutan melihat perubahan Bima.

​"Bisa, Mbak. Tenang saja," jawab Bima

​Bima melangkah mantap menuju kamar pribadi Rasti yang hanya dibatasi oleh kelambu kain tipis. Ruangan sempit itu hanya berisi sebuah ranjang kayu tua dengan kasur kapuk yang sudah mengempis, namun aromanya sangat familier—aroma wangi yang menenangkan dari sabun murah dan kehangatan khas seorang wanita.

​Dengan perlahan, Bima merebahkan tubuh Rasti ke atas kasur. Posisi mereka mendadak menjadi dekat

Rasti dapat merasakan embusan napas Bima yang hangat dan beraroma segar, sama sekali tidak ada sisa bau jamu atau obat-obatan yang biasanya selalu melekat pada pemuda itu.

​"Bima..." Rasti menatap mata Bima yang kini tampak berbinar tajam, tidak lagi sayu dan layu. "Kamu... kamu beneran gak apa-apa? Kulitmu hangat banget, terus... Mbak gak mendengar suara napasmu yang sesak lagi."

​Bima tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh percaya diri yang belum pernah Rasti lihat sebelumnya. "Mbak Rasti, sebuah keajaiban baru saja terjadi di sungai tadi. Penyakit yang menyiksaku selama ini sudah sembuh total. Aku gak akan merepotkan Mbak lagi. Sekarang, giliran aku yang menjaga Mbak."

​Mendengar penuturan Bima, mata Rasti berkaca-kaca antara percaya dan tidak. Namun bukti fisik di depannya tidak bisa berbohong. Sosok Bima kini tampak jauh lebih tegap dan atletis, tidak lagi kurus kering hingga tulang rusuknya menonjol.

​"Syukurlah... Ya Tuhan, syukurlah..." lirih Rasti lega, tanpa sadar mencengkeram lengan Bima yang kini terasa padat berotot.

​"Sekarang, biarkan aku mengobati kaki Mbak yang keseleo," ujar Bima mengalihkan perhatian agar suasana tidak terlalu emosional.

​Bima berlutut di tepi ranjang, lalu perlahan mengangkat kaki kanan Rasti.

bima memijat kaki tersebut. sensasi relaksasi yang mengalir di kakinya benar-benar tidak bisa dibendung oleh tubuh Rasti yang lelah. Setiap usapan jemari Bima memberikan efek ketenangan yang sangat dalam, sekaligus menyelimuti tubuh Rasti dengan getaran energi murni yang membuat bulu kuduknya meremang karena saking ringannya rasa sakit itu menguap.

Rasti mencoba menggerakkan kakinya berputar perlahan untuk memastikan rasa sakitnya benar-benar berkurang.

​"Mbak... kaki Mbak sudah tidak kaku lagi. Aliran darah di pergelangan juga sudah lancar," bisik Bima, berusaha menekan gejolak batinnya sendiri agar tetap bersikap profesional sebagai seorang tabib baru.

Bima kembali memeriksa kondisi kaki Rasti dengan saksama untuk terakhir kalinya sebelum melepaskan pegangannya.

​"Bima... tapi badan Mbak masih terasa agak dingin dan lemas di bagian atas..." lirih Rasti, menatap Bima dengan sepasang mata yang sayu karena kelelahan fisik setelah beraktivitas seharian dalam kondisi menahan sakit.

"Boleh... boleh minta tolong periksa bagian yang lain juga?"

​Bima sempat ragu karena ia tidak ingin melakukan kesalahan saat menggunakan kemampuan barunya yang dahsyat ini.

"Bagian mana yang terasa paling dingin dan kaku, Mbak?" tanya Bima sambil kembali fokus mengamati aura tubuh Rasti.

​"Bagian punggung!" sahut Rasti pelan.

​"Oh, baik, Mbak," ujar Bima, mengembuskan napas lega sekaligus merasakan sedikit ketegangan yang mendadak mengendur dari kepalanya.

​Rasti kemudian memosisikan dirinya agar mempermudah terapi.

Bima pun mulai memijat area punggung Rasti dengan hati-hati menggunakan penyaluran hawa hangat berkekuatan rendah.

Namun, begitu telapak tangannya menyentuh area punggung bagian tengah, pandangan khusus Mustika Hijau di mata Bima menangkap sesuatu yang tidak biasa. Ini bukan sekadar titik saraf yang kelelahan karena bekerja keras atau salah tidur. Ada sesuatu yang jauh lebih gelap—sebuah titik energi berwarna hitam pekat yang tampak menggeliat di bawah jaringan kulitnya.

​Dalam pengetahuan mistis yang mendadak mengalir di kepala Bima, aliran kehidupan yang memancarkan warna hitam pekat hanya merujuk pada satu hal buruk: pengaruh gaib negatif yang sengaja dikirimkan.

​'Jangan-jangan... Mbak Rasti kena guna-guna?' batin Bima terkejut setengah mati

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!