Indonesia
NovelToon NovelToon

PEMBERONTAK PARA DEWA LAST SEASON

CHAPTER 1

Dunia Fana – Desa Angin Lembut.

Bagi para kultivator di Alam Atas, seratus tahun hanyalah waktu yang dibutuhkan untuk sekali bermeditasi tertutup. Namun bagi manusia fana, seratus tahun adalah siklus hidup dan mati, waktu di mana gunung bisa menjadi lembah, dan bayi bisa menjadi debu.

Di pinggiran Desa Angin Lembut yang damai, waktu seolah berjalan lebih lambat.

Di halaman sebuah gubuk sederhana yang dikelilingi pagar bambu, seorang pemuda duduk di atas kursi goyang kayu. Mata kirinya ditutupi kain putih bersih. Kaki kanannya diselonjorkan kaku ke depan. Dia sedang sibuk menyerut sepotong kayu pinus dengan pisau tumpul, berusaha membuat sebuah patung kelinci.

"Ah... telinganya patah lagi," keluh pemuda itu, menghela napas. Dia meraba potongan kayu yang cacat itu dengan jarinya.

Dari dalam dapur gubuk, seorang wanita melangkah keluar membawa nampan kayu. Dia mengenakan gaun kain rami biasa yang sederhana, rambutnya diikat longgar dengan jepit kayu. Namun, pakaian kasar itu tidak bisa menyembunyikan kecantikannya yang menyejukkan hati, layaknya bunga teratai yang mekar di pagi hari.

Gu Qing Yi.

"Jangan dipaksakan, Suamiku," kata Qing Yi lembut, meletakkan secangkir teh panas di meja kecil di samping pemuda itu. "Kelinci bertelinga satu juga lucu. Lagipula, anak-anak desa tidak akan peduli selama kau yang membuatnya."

Pemuda buta itu, Shi Hao atau yang di desa ini hanya dikenal sebagai "A-Hao" tersenyum hangat. Wajahnya tidak memancarkan aura membunuh seorang Kaisar Asura, melainkan ketulusan seorang suami yang bahagia. Dia sama sekali tidak ingat siapa dirinya, dari mana asalnya, atau mengapa tubuhnya cacat.

Yang dia tahu hanyalah: Ketika dia membuka mata dari kegelapan panjang bertahun-tahun lalu, Qing Yi sudah ada di sana, memegang tangannya, sambil menangis dan memanggilnya 'Suami'.

"Aku hanya ingin membuatkan mainan yang bagus untuk Gou-zi (anak tetangga)," kata Shi Hao, meletakkan pisaunya dan meraba-raba mencari cangkir teh.

Qing Yi dengan sigap menuntun tangan suaminya ke cangkir itu.

Saat tangan mereka bersentuhan, Qing Yi menatap wajah Shi Hao dengan perasaan campur aduk. Ada cinta yang sangat dalam, namun juga ketakutan yang terus membayangi.

Di Alam Atas, Qing Yi adalah Raja Dewa, penguasa suara pembunuh jiwa. Tapi di sini, dia telah menyegel 99% kultivasinya sendiri, mengikat jiwanya agar tak terlacak oleh Hukum Alam, dan hidup membaur menjadi manusia biasa. Dia memilih untuk berbohong. Dia memberi tahu Shi Hao bahwa mereka adalah pasangan pelarian dari desa seberang yang diserang bandit, dan Shi Hao terluka parah saat melindunginya.

Maafkan aku, Hao, batin Qing Yi. Dunia tidak lagi membutuhkan Kaisar Asura. Biarlah orang lain yang memikul langit. Di kehidupan ini, kau hanya milikku.

"Teh bunga persiknya enak sekali, Istriku," puji Shi Hao, menyesap teh itu dengan nikmat. "Tapi... entah kenapa, angin hari ini terasa sedikit dingin. Ada bau... seperti besi yang terbakar?"

Qing Yi tersentak. Jantungnya berdetak kencang.

Memang benar. Di luar atmosfer Dunia Fana ini, berjuta-juta mil di atas sana, sebuah meteorit kecil yang mengandung Qi Sembilan Nether baru saja bergesekan dengan batas dimensi. Manusia biasa tidak mungkin bisa merasakannya. Tapi insting Kekacauan Shi Hao yang tertidur rupanya masih memiliki sisa-sisa kewaspadaan.

"Itu... itu pasti Paman Wang si pandai besi yang sedang membakar terak besinya di ujung desa," Qing Yi berbohong dengan cepat, suaranya tetap tenang. "Angin utara membawanya kemari. Mau kuambilkan selimut tebal?"

Shi Hao tertawa pelan. "Tidak perlu. Aku belum setua itu. Selama kau ada di sini, aku merasa hangat."

Qing Yi tersenyum, wajahnya sedikit memerah. Dia menatap ke langit yang tampak biru normal bagi manusia biasa, tapi di mata spiritual Qing Yi yang tersegel, dia bisa melihat riak kecil di kejauhan.

Batu dari dimensi lain? Alam Atas pasti sedang mengalami sesuatu, pikir Qing Yi. Tapi aku tidak peduli. Jika ada bahaya yang berani turun ke desa ini, aku akan membunuhnya dalam diam sebelum suamiku mendengarnya.

Sementara itu, di Alam Atas – Ibukota Persatuan

Bertolak belakang dengan kehidupan damai di gubuk desa, Alam Atas sedang sibuk.

Lei Shan yang kini bertubuh raksasa mengenakan zirah emas resmi, sedang duduk di meja bundar raksasa, memijit pelipisnya. Di depannya, Raja Yan sedang berdebat sengit dengan Raja Naga Ao Zun tentang pembagian jalur perdagangan angkasa.

"Klan Naga tidak bisa memonopoli Jalur Meteorit Selatan!" bentak Raja Yan sambil menggebrak meja.

"Kami yang membersihkan jalur itu dari sisa-sisa monster Aliansi Langit lima puluh tahun lalu! Itu hak kami!" balas Ao Zun, matanya menyipit seperti reptil.

"Cukup!" Lei Shan menggeram, suaranya menggelegar seperti guntur, membuat gelas-gelas giok di ruangan itu retak. "Kalian berdua sudah berdebat soal ini selama tiga bulan! Jika Bos masih ada di sini, dia akan memukul kepala kalian berdua jadi satu!"

Keheningan langsung menyelimuti ruangan itu seketika nama "Bos" (Shi Hao) disebut.

Raja Yan menghela napas panjang, bersandar di kursinya. Ao Zun mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Seratus tahun telah berlalu, namun kekosongan yang ditinggalkan oleh sang Kaisar Asura tidak pernah bisa diisi.

Tiba-tiba, pintu aula terbuka dengan kasar.

Wuming (Si Pedang Gila) melangkah masuk. Rambutnya lebih panjang dan acak-acakan dari seabad yang lalu, jubahnya kusam. Pedang hitamnya berada di punggungnya, berdengung dengan nada rendah yang mengerikan.

"Wuming? Ada angin apa kau keluar dari pengasingan," sapa Raja Yan.

Wuming tidak menjawab sapaan itu. Dia menatap ketiga jenderal tertinggi itu dengan mata merah yang tajam.

"Kalian terlalu sibuk berdebat soal uang perdagangan," kata Wuming dingin. "Apakah kalian tidak merasakan apa yang baru saja terjadi di utara?"

Lei Shan mengerutkan kening. "Di utara? Di Sektor Tembok Ratapan?"

Wuming mengangguk. "Tiga jam yang lalu. Aku sedang bermeditasi di Makam Pedang. Tiba-tiba, niat pedangku patah. Bukan oleh musuh, tapi oleh tekanan dari luar dunia."

Wuming berjalan mendekati jendela besar yang menghadap langsung ke alun-alun kota, menunjuk ke arah Patung Batu Bintang Abadi milik Shi Hao yang menjulang tinggi.

"Batu Bintang Abadi itu menyerap Hukum Alam Atas untuk menjaga kekuatannya," lanjut Wuming.

Lei Shan, Raja Yan, dan Ao Zun berdiri dari kursi mereka dan melihat ke arah patung itu.

Di bagian dada patung Kaisar Asura tersebut, terdapat sebuah retakan tipis memanjang, seolah seseorang telah menebasnya dengan bilah tak terlihat. Retakan itu memancarkan aura warna ungu yang sangat busuk, aura yang tidak berasal dari semesta mereka.

"Dinding Dimensi Alam kita..." Raja Yan menelan ludah, wajah arogannya berubah pucat. "...sedang mencoba dibongkar dari luar?"

Wuming tersenyum, tapi senyum itu dipenuhi oleh kegilaan dan antisipasi akan kematian.

"Kedamaian yang membosankan ini akhirnya selesai," bisik Wuming. "Sesuatu yang jauh lebih buruk dari Kaisar Langit sedang mengetuk pintu rumah kita."

Kembali ke Dunia Fana, di sore yang tenang.

Shi Hao baru saja berhasil menyelesaikan patung kelincinya. Bentuknya jelek dan tidak proporsional, tapi dia tersenyum puas.

"Qing Yi! Lihat, sudah jadi!" seru Shi Hao bangga.

Qing Yi berbalik, tersenyum cerah, menyingkirkan semua pikirannya tentang masa lalu dan ancaman di langit. Di kehidupan ini, memuji patung kayu suaminya jauh lebih penting daripada nasib tiga ribu dunia.

"Bagus sekali, Suamiku," kata Qing Yi, mencium pipi Shi Hao. "Gou-zi pasti sangat menyukainya."

CHAPTER 2

Pagi di Desa Angin Lembut selalu diawali dengan embun yang sejuk dan suara ayam yang saling bersahutan.

Shi Hao berjalan pelan menyusuri jalan tanah desa, tangan kirinya menopang tubuh dengan tongkat bambu, sementara tangan kanannya digandeng erat oleh Gu Qing Yi. Kain putih bersih menutupi mata kirinya, namun bibirnya menyunggingkan senyum yang tak pernah pudar.

Bagi penduduk desa, pasangan suami-istri ini adalah bagian tak terpisahkan dari keluarga besar mereka. Shi Hao yang ramah dan Qing Yi yang baik hati selalu menjadi tempat warga meminta tolong, mulai dari membacakan surat hingga meracik obat demam.

"Pagi, A-Hao! Pagi, Nyonya Qing!" sapa Paman Wang, si pandai besi yang sedang memanaskan tungku.

"Pagi, Paman Wang," balas Shi Hao ramah, menoleh tepat ke arah suara. "Kudengar dari dentingan palumu, logam yang kau tempa hari ini sedikit kurang panas. Tambahkan kayu pinus kering, itu akan membuat mata pisaunya lebih tajam."

Paman Wang tertegun, lalu tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Mata A-Hao memang tidak bisa melihat, tapi telingamu lebih tajam dari elang! Akan kulakukan!"

Mereka melanjutkan langkah hingga tiba di pendopo desa. Di sana, beberapa tetua sedang duduk berjemur menikmati matahari pagi. Salah satunya adalah Kakek Li, sesepuh desa yang usianya sudah menginjak delapan puluh tahun lebih.

"A-Hao? Qing Yi? Sini, duduk sebentar dengan orang tua ini," panggil Kakek Li dengan suara serak dan napas yang berbunyi.

Qing Yi menuntun Shi Hao duduk di bangku kayu di sebelah Kakek Li, lalu memijat pelan bahu ringkih kakek tersebut.

Kakek Li menatap wajah Shi Hao dan Qing Yi bergantian, lalu menggelengkan kepalanya sambil tertawa terkekeh-kekeh, memperlihatkan gusinya yang hanya menyisakan tiga gigi.

"Kalian berdua ini... benar-benar tidak adil pada waktu," kata Kakek Li sambil memukul pelan lututnya sendiri. "Aku masih ingat betul, enam puluh tahun yang lalu saat kalian baru pindah ke desa ini. Waktu itu aku masih pemuda berumur dua puluh tahun yang kuat mengangkut tiga karung beras!"

Kakek Li menghela napas panjang bernada nostalgia.

"Dulu, kita ini seumuran padahal! Kita turun ke sawah bersama, memancing di sungai bersama. Tapi lihat aku sekarang... punggungku sudah bengkok seperti busur panah, rambutku rontok semua. Sedangkan kalian? Astaga, kalian masih saja terlihat seperti pengantin baru berusia dua puluhan! Apa Dewa Kematian lupa mencatat nama kalian di buku umurnya?"

Mendengar itu, warga desa lain yang lewat ikut tertawa mengiyakan. Mereka sudah terbiasa dengan fenomena "awet muda" pasangan Shi ini.

Shi Hao tertawa pelan. "Kakek Li terlalu memuji. Ini semua berkat teh herbal dari gunung yang selalu diracik oleh istriku setiap pagi. Ditambah lagi, hidup damai di desa ini tanpa memikirkan beban dunia membuat hati tenang. Hati yang tenang adalah rahasia umur panjang, Kakek."

"Benar sekali, Kakek Li," tambah Qing Yi dengan senyum manis, meski di dalam hatinya dia sedikit berkeringat dingin. Dia harus terus menerus menanamkan sugesti halus ke pikiran warga desa agar mereka menganggap keanehan umur ini sebagai hal yang wajar karena "obat herbal".

Namun, obrolan santai itu tiba-tiba terpecah oleh suara teriakan histeris dari arah ladang utara.

"TOLONG! MONSTER! MONSTER GUNUNG TURUN!"

Dari ujung jalan, Gou Dan (anak Kepala Desa yang gemuk) berlari terbirit-birit, tersandung kakinya sendiri hingga berguling-guling di tanah. Wajahnya pucat pasi, air matanya berlinang.

Di belakang Gou Dan, dari arah hutan, seekor siluman babi hutan berukuran sebesar sapi dewasa menerjang keluar.

Babi hutan itu tidak normal. Matanya menyala dengan warna ungu redup, dan taringnya meneteskan air liur yang membuat rumput di sekitarnya layu. Malam sebelumnya, ia secara tidak sengaja memakan rumput yang terpapar sisa Qi Sembilan Nether dari meteorit yang jatuh. Walau hanya terpapar setitik debu, itu cukup untuk membuat babi hutan biasa bermutasi menjadi monster yang kebal senjata tajam fana.

OINK! GRAAAW!

Babi raksasa itu menyeruduk gerobak sayur hingga hancur berkeping-keping. Para pemburu desa mencoba menembakkan panah, tapi anak panah itu patah saat mengenai kulit babi yang kini sekeras besi.

"Cepat! Berlindung!" teriak Paman Wang sambil mengangkat palu besinya.

Babi hutan mutan itu, merasa terganggu oleh keributan, mengalihkan pandangannya. Matanya yang merah keunguan terkunci pada kerumunan di pendopo desa, tepatnya ke arah Gou Dan yang sedang menangis memeluk tiang di dekat Shi Hao.

Dengan raungan marah, babi raksasa itu menerjang maju dengan kecepatan penuh, menundukkan kepalanya, bersiap menusuk siapa saja dengan taringnya yang mematikan.

"Suamiku, awas!" Qing Yi berseru.

Di balik lengan bajunya, jari lentik Qing Yi sudah membentuk segel pedang. Sebentuk Qi pembunuh tak terlihat berkumpul di ujung jarinya. Dia siap memotong babi itu menjadi ratusan daging cincang dalam sekejap mata, tidak peduli jika rahasianya sedikit terbongkar. Dia tidak akan membiarkan apapun menyentuh suaminya.

Namun, sebelum Qing Yi sempat melepaskan serangannya...

Shi Hao sedang duduk santai, menyilangkan kaki kanannya yang kaku di atas lutut kirinya. Kebetulan, sandal jeraminya terasa sedikit gatal karena ada kerikil yang masuk. Dia baru saja melepas sandal jeraminya dan memegangnya di tangan kanan untuk diketuk-ketukkan.

Mendengar suara langkah kaki yang sangat berat dan napas binatang buas berlari ke arahnya, insting Shi Hao yang tersegel bereaksi.

Dia tidak bisa melihat, tapi telinganya menangkap lintasan angin.

"Suara berisik apa ini? Debunya mengotori tehku," gumam Shi Hao dengan nada sedikit kesal.

Refleks, Shi Hao mengayunkan tangannya yang memegang sandal jerami itu, dan melemparnya ke arah suara.

Lemparan itu terlihat biasa saja bagi warga desa. Sama seperti kakek-kakek yang melempar sandal untuk mengusir anjing kampung.

Tapi bagi Qing Yi, yang memiliki mata Raja Dewa... dunia seolah melambat.

Saat sandal jerami butut itu lepas dari jari Shi Hao, sekelumit Aura Gravitasi Jantung Meteor (sisa dari senjata masa lalunya yang tertanam dalam memori ototnya) melapisi sandal tersebut. Ruang di sekitar sandal itu terdistorsi. Berat sandal jerami seberat dua ons itu, dalam sepersekian detik, berubah setara dengan jatuhnya sebuah gunung besi!

SWUUUSH!

Sandal jerami itu melesat membelah udara dengan suara peluit yang tajam.

BLAM!

Sandal itu menghantam tepat di tengah-tengah kening babi hutan raksasa yang sedang berlari kencang.

Tanah bergetar pelan.

Babi hutan seberat satu ton itu langsung berhenti secara tidak wajar, seolah menabrak dinding yang tak terlihat. Matanya yang berwarna ungu membelalak lebar hingga hampir keluar dari rongganya.

Lalu, BRUK.

Monster itu ambruk ke tanah. Kejang-kejang dua kali dengan mulut berbusa, sebelum akhirnya pingsan total tanpa perlawanan. Sandal jerami milik Shi Hao tergeletak santai di atas moncongnya.

Keheningan yang luar biasa canggung menyelimuti seluruh pendopo desa.

Paman Wang yang sudah bersiap mengayunkan palu, mematung dengan mulut ternganga. Kakek Li hampir menjatuhkan tongkatnya. Gou Dan lupa cara menangis.

Mereka menatap babi raksasa yang mengerikan itu, lalu menatap sandal jerami, dan akhirnya menatap Shi Hao yang masih duduk santai dengan kaki bertelanjang sebelah.

"Eh?" Shi Hao menggaruk kepalanya. "Apa aku mengenai sesuatu? Tadi rasanya seperti ada anjing liar besar yang mau menabrak Kakek Li."

Qing Yi buru-buru berlari, mengambil sandal jerami itu dari moncong babi yang pingsan, dan dengan cepat mengusap sisa-sisa Qi Kekacauan yang menempel sebelum ada yang menyadarinya. Keringat dingin menetes di pelipisnya.

Astaga, Suamiku... kultivasimu tersegel, tapi tubuhmu masih mengingat cara membunuh dewa! batin Qing Yi setengah panik.

Qing Yi segera memasangkan kembali sandal itu ke kaki Shi Hao, lalu berbalik menatap warga desa dengan tawa yang dipaksakan.

"Hahaha! Lihatlah, kebetulan yang sangat luar biasa!" seru Qing Yi dengan nada ceria yang dibuat-buat. "Babi hutan ini pasti sedang sakit jantung, dan saat berlari tadi, dia kehabisan napas tepat ketika suamiku melempar sandal. Benar-benar kebetulan!"

Warga desa saling pandang. Logika itu terdengar bodoh, tapi apa lagi penjelasannya? Masa iya lemparan sandal orang buta bisa membuat babi hutan pingsan?

"Y-Yah... babi hutan memang sering mati mendadak kalau terlalu banyak berlari di musim semi," kata Paman Wang, mencoba merasionalisasikan kejadian di depan matanya.

"Benar! A-Hao kita ini benar-benar membawa keberuntungan besar!" tambah Kakek Li, memukul pahanya sendiri sambil tertawa lega. "Dewa Keberuntungan pasti menyayanginya!"

Ketegangan seketika mencair. Warga desa bersorak gembira.

"Malam ini kita pesta daging babi guling!" teriak para pemuda desa.

Gou Dan, yang masih gemetar, perlahan berdiri. Dia menatap Shi Hao dengan rasa kesal dan malu karena harga dirinya hancur, tapi dia tidak berani protes melihat babi raksasa yang terkapar itu.

Shi Hao hanya tersenyum ramah, menyesap kembali tehnya yang mulai dingin.

"Istriku, ternyata tehnya masih enak," kata Shi Hao polos.

Qing Yi hanya bisa menghela napas panjang, tersenyum pasrah sambil memeluk lengan suaminya. Selama Shi Hao bahagia dan tidak mengingat masa lalunya yang penuh darah, Qing Yi rela menghabiskan sisa hidupnya untuk menutupi semua "kebetulan" luar biasa yang disebabkan oleh pria ini.

CHAPTER 3

Dunia Fana – Perbatasan Desa Angin Lembut dan Desa Macan Tutul.

Setiap musim semi, sebelum masa tanam dimulai, ketegangan selalu memuncak di antara dua desa bertetangga ini. Masalahnya Hak guna Mata Air Jernih, satu-satunya sumber air irigasi yang tidak pernah kering di musim kemarau.

Tradisi leluhur menetapkan bahwa sengketa air ini diselesaikan dengan cara jantan: Turnamen Bela Diri Antar Desa. Tiga lawan tiga. Siapa yang masih berdiri di atas arena tanah liat, desanya lah yang menguasai air selama setahun penuh.

Tahun ini, awan mendung keputusasaan menyelimuti kubu Desa Angin Lembut.

"Kita tamat... sawah kita akan kering tahun ini," ratap Kepala Desa Gou, pria paruh baya yang perutnya sama buncitnya dengan anaknya, Gou Dan. Dia menggigit saputangannya dengan cemas.

Di seberang arena, Kepala Desa Macan Tutul sedang tertawa terbahak-bahak, memamerkan gigi emasnya.

Bukan tanpa alasan mereka sombong. Tahun ini, Desa Macan Tutul tidak mengirim pemuda desa biasa. Mereka menyewa seorang petarung bayaran dari kota. Pria itu bertelanjang dada, memperlihatkan otot yang mengkilap oleh minyak, dan memiliki codet mengerikan di wajahnya. Namanya Hu Si Tangan Besi.

"Hahaha! Kepala Desa Gou, menyerah sajalah!" ejek Kepala Desa Macan. "Tuan Hu ini adalah murid luar dari Sekte Tapak Besi! Dia bahkan sudah mengumpulkan setitik Qi sejati di pusarnya! Jangankan pemuda desa, seekor sapi pun bisa dia bunuh dengan satu pukulan!"

Bagi manusia fana, memiliki "setitik Qi sejati" (bahkan belum mencapai tahap Kondensasi Qi paling awal) sudah dianggap layaknya dewa perang.

Di kubu Desa Angin Lembut, dua perwakilan pertama mereka sudah tumbang. Paman Wang si pandai besi terkilir tangannya saat menangkis, dan seorang pemuda desa lainnya pingsan hanya karena terkena aura teriakan Hu.

Harapan terakhir kini berada di pundak Gou Dan.

Gou Dan melangkah ke arena dengan kaki bergetar hebat bak jeli. Dia menelan ludah melihat otot Hu Si Tangan Besi.

"M-Maju kau!" cicit Gou Dan, memasang kuda-kuda belalang sembah yang dia pelajari dari buku cerita murahan.

Hu mendengus meremehkan. Dia menghentakkan kakinya ke tanah, membuat debu mengepul.

"Singkirkan serangga ini dari pandanganku!"

Hu mengayunkan telapak tangannya bahkan tanpa menyentuh tubuh Gou Dan. Angin dari pukulan itu menyapu wajah Gou Dan.

"IBAAANG!!! (Ibu!!!)" teriak Gou Dan histeris, langsung melempar tubuhnya sendiri ke luar arena dan pura-pura pingsan dengan mulut berbusa agar tidak dipukuli lebih lanjut.

"Memalukan! Memalukan sekali!" Kakek Li memukul-mukul tanah dengan tongkatnya, menangis sedih. "Air kita... panen kita... semuanya hancur!"

Sementara drama keputusasaan melanda desa, di bawah sebuah pohon rindang tak jauh dari arena...

Shi Hao sedang duduk santai di atas tikar bambu, menikmati kacang rebus. Kain putih menutupi mata kirinya, dan kaki kanannya berselonjor nyaman. Di sebelahnya, Qing Yi dengan sabar mengupaskan kacang dan menyuapkannya ke mulut Shi Hao.

"Aaa..." Shi Hao membuka mulut, mengunyah kacang itu dengan senang. "Manis sekali. Oh ya, Istriku, kenapa di depan berisik sekali? Apa pertunjukan akrobatnya sudah selesai? Aku mendengar seseorang berteriak mencari ibunya."

Qing Yi menahan tawa. "Itu Tuan Muda Gou Dan, Suamiku. Sepertinya dia salah melakukan gerakan akrobat dan terjatuh."

Shi Hao mengangguk-angguk maklum. "Kasihan. Tubuhnya terlalu gemuk untuk melompat."

Di tengah ring, Hu Si Tangan Besi semakin arogan. Dia menepuk dadanya yang berotot.

"Siapa lagi?! Apa tidak ada laki-laki sejati di desa miskin ini?! Jika tidak ada yang berani maju, maka Mata Air Jernih adalah milik Desa Macan Tutul! Dan kalian semua harus membayar pajak jika ingin mengambil seember air!"

Hu dengan sengaja melepaskan sedikit Qi fana-nya, memukul tanah dengan telapak tangannya.

BAM!

Pukulan itu tidak merusak, tapi cukup kuat untuk menerbangkan debu dan kerikil tebal ke arah penonton dari Desa Angin Lembut.

Angin berdebu itu berhembus hingga ke bawah pohon tempat Shi Hao duduk.

Hatchi!

Shi Hao bersin. Debu masuk ke hidungnya, dan beberapa butir pasir jatuh ke dalam cangkir tehnya yang masih setengah penuh.

Shi Hao mengerutkan kening. Ketenangan paginya terganggu.

"Astaga, debunya tebal sekali," keluh Shi Hao sambil meraba-raba mencari tongkat bambunya. "Mereka bermain akrobat terlalu kasar. Tehku jadi kotor. Aku harus menyapu debu ini agar kau tidak batuk-batuk, Qing Yi."

"Suamiku, tidak usah, biar aku saja—" Qing Yi mencoba mencegah, tapi Shi Hao sudah berdiri dan berjalan tertatih-tatih menggunakan tongkatnya menembus kerumunan.

Warga desa otomatis menyingkir, memberi jalan bagi "A-Hao si pria buta yang malang".

Sebelum ada yang menyadari, Shi Hao sudah berdiri tepat di tengah arena tanah liat, berhadapan langsung dengan Hu Si Tangan Besi.

"Tunggu, tunggu sebentar, kawan-kawan," kata Shi Hao ramah, mengayunkan tangan kirinya di depan wajah, berusaha mengusir sisa debu. "Debunya terlalu tebal. Biarkan aku menyapunya sedikit."

Kepala Desa Macan Tutul ternganga, lalu tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Kepala Desa Gou, apa desamu sudah sangat putus asa sampai mengirim orang cacat dan buta ini?! Apa dia akan melawan Tuan Hu dengan tongkat lapuknya itu?"

Hu Si Tangan Besi merasa sangat terhina. Sebagai ahli bela diri, ditantang oleh orang buta adalah sebuah penghinaan besar. Urat di pelipisnya menonjol.

"Orang cacat bodoh! Kau mencari mati?!" raung Hu.

Hu tidak peduli lawannya buta. Dia memusatkan seluruh Qi sejati yang dibanggakannya ke tangan kanannya. Tangannya berubah warna menjadi sedikit kehitaman.

"Teknik Tapak Besi Penghancur Tulang!"

Hu melompat ke udara, mengayunkan tapaknya langsung ke arah kepala Shi Hao dengan niat membunuh yang nyata.

Warga Desa Angin Lembut menjerit. Kakek Li menutup matanya. Qing Yi di bawah pohon hanya menatap dengan mata setengah bosan, bahkan diam-diam menyeruput tehnya.

Shi Hao, yang telinganya mendengar angin pukulan itu, menghela napas.

"Wah, anginnya makin kencang. Debunya berputar ke arahku," gumam Shi Hao polos.

Dia mengangkat tongkat bambunya yang tipis dan lapuk. Niatnya murni hanya untuk "mengibas" debu di depannya agar tidak mengenai wajahnya.

Namun, di dalam tubuh fananya, saat ototnya bergerak memegang benda panjang, ingatan alam bawah sadar akan Teknik Tombak Asura Pembelah Bintang terpicu secara otomatis. Setetes Qi Kekacauan energi paling purba di alam semesta bocor sedikit dari Dantiannya, mengalir ke dalam tongkat bambu itu.

Tongkat bambu lapuk itu tiba-tiba berdengung dengan frekuensi yang tak terdengar oleh telinga fana.

Shi Hao mengayunkan tongkatnya dari kiri ke kanan. Sedikit pun tidak berniat mengenai tubuh Hu. Gerakannya seperti kakek tua yang menyapu dedaunan kering di halaman.

WUUUUUUSSSSH!

Bukan benturan senjata yang terjadi. Melainkan ledakan tekanan udara.

Ayunan tongkat Shi Hao mengkompresi udara di depannya menjadi badai topan bertekanan super tinggi yang melesat ke depan.

Hu Si Tangan Besi, yang sedang melayang di udara bersiap memukul, mendadak merasa seperti ditabrak oleh sebuah gunung raksasa yang transparan.

Tapak Besinya hancur berkeping-keping.

"BWAH!"

Hu memuntahkan seteguk darah. Sebelum dia menyadari apa yang terjadi, tubuhnya yang kekar itu sudah terlempar ke belakang dengan kecepatan tidak masuk akal.

WUSSS!

Hu terbang melewati kepala penduduk Desa Macan Tutul, melewati pohon beringin raksasa, dan terus melayang jauh... jauh sekali, hingga menabrak tebing batu di seberang sungai dengan bunyi DUAARRR! yang samar di kejauhan.

Tidak hanya Hu. Angin dari sapuan tongkat itu juga menghempaskan Kepala Desa Macan dan puluhan warganya hingga mereka terguling-guling ke tanah, mulut dan hidung mereka penuh debu, pakaian mereka robek tertiup angin puyuh.

Arena kini bersih. Tidak ada satu pun debu yang melayang di udara sekitar Shi Hao.

Hening.

Keheningan ini seratus kali lipat lebih canggung daripada insiden lemparan sandal tempo hari.

Matahari bersinar damai menyinari arena. Di tengahnya, Shi Hao berdiri santai, mengetuk-ngetukkan tongkat bambunya ke tanah untuk mengecek apakah permukaannya sudah rata.

"Nah, begini lebih baik," kata Shi Hao tersenyum puas. "Udaranya sudah bersih. Istriku, apa kau melihatnya? Debunya sudah hilang diterbangkan angin puyuh barusan."

Qing Yi segera berlari masuk ke arena. Dia harus melakukan pengendalian kerusakan secepat mungkin sebelum penduduk desa mengira suaminya adalah siluman tongkat.

"YA AMPUN!" teriak Qing Yi dengan nada berlebihan yang sangat tidak meyakinkan bagi ukuran seorang artis teater. "Angin puting beliung macam apa itu?! Untung saja suamiku memegang tongkatnya erat-erat sehingga dia tidak ikut terbang!"

Penduduk Desa Angin Lembut saling pandang. Kepala Desa Gou berkedip-kedip menatap tebing di seberang sungai tempat petarung bayaran itu menancap di batu.

"P-Puting beliung?" gumam Kepala Desa Gou.

"B-Benar!" Kakek Li yang pertama kali merespons, otaknya segera mencari logika yang paling masuk akal bagi manusia fana. "Dewa Angin! Dewa Angin tidak terima desa kita ditindas! Saat A-Hao maju, Dewa Angin meniupkan puting beliung untuk menghukum orang sombong itu!"

"Hidup Dewa Angin! Hidup A-Hao, Sang Pembawa Keberuntungan!" teriak warga desa, seketika mengubah rasa takut menjadi sorak sorai religius yang meriah.

Di kubu lawan, Kepala Desa Macan Tutul yang bajunya robek-robek, gemetar ketakutan melihat Shi Hao yang tersenyum buta namun terlihat mengerikan di matanya. Dia merangkak mundur.

"M-Mata air itu milik kalian! Milik kalian! K-Kami menyerah! Dewa telah mengutuk kami!" teriak Kepala Desa Macan, memimpin warganya berlari terbirit-birit meninggalkan desa, lupa membawa petarung sewaan mereka yang masih pingsan di tebing.

Turnamen selesai dalam satu ayunan tongkat.

Desa Angin Lembut berpesta hari itu. Mereka mengarak Shi Hao bagaikan pahlawan, meskipun Shi Hao sendiri bingung kenapa dia diberi banyak lauk daging babi hanya karena membantu "menyapu debu".

Sementara itu, di halaman belakang gubuk Shi Hao...

Hitam Satu, Hitam Dua, dan Hitam Tiga (tiga Anjing Neraka mengerikan itu) sedang berpelukan satu sama lain di pojok kandang ayam, gemetar ketakutan hingga mengompol.

Mereka baru saja merasakan fluktuasi Qi Kekacauan pembelah semesta dari jarak dekat. Di otak anjing iblis mereka, pria buta yang menggaruk perut mereka tiap pagi itu adalah sosok yang lebih menakutkan dari penguasa alam mana pun.

Qing Yi, yang melihat tingkah anjing-anjing itu dari jauh, hanya bisa tersenyum pahit sambil menyeka keringat di dahinya.

"Menjadi manusia biasa itu... ternyata sangat melelahkan."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!