Bandara Internasional Soekarno-Hatta sore itu tampak padat seperti biasa. Riuh suara pengumuman penerbangan bercampur dengan derap langkah kaki ratusan orang yang baru saja mendarat. Di antara kerumunan itu, seorang laki-laki berjalan dengan langkah santai namun pasti.
Ia mengenakan jaket penyamaran hitam sederhana dan kacamata hitam yang membingkai wajah tegasnya. Garis wajahnya yang blasteran Arab Saudi, hidung mancung dengan rahang kokoh yang bersih, beberapa kali mencuri perhatian orang-orang yang berpapasan dengannya. Namun, tatapan matanya yang dingin membuat siapapun enggan untuk menatap terlalu lama karena takut.
Faas Abrari. Nama yang singkat, sesingkat jejak yang ia tinggalkan di Amerika. Setelah bertahun-tahun hidup di bawah radar sebagai agen rahasia Sektor 7, hari ini ia resmi menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya, Jakarta untuk selamanya,bukan untuk singgah ataupun misi kenegaraan,ia benar-benar menjadi warga sipil biasa.
Ia meraba saku jaketnya, mengeluarkan sebuah ponsel yang terenkripsi khusus. Di layarnya, sebuah pesan singkat dari nomor yang sudah sangat ia kenal muncul di grup Wa-nya.
Maudi\= "Gimana Jakarta? Panas? Selamat datang di kehidupan normal, Faas. Kalau butuh tempat singgah sebelum urusanmu selesai, pintu rumahku selalu terbuka."
Amer\= Aku akan kembali saat kau Akan menikah 😂.
Faas hanya menyunggingkan senyum tipis, hampir tak terlihat. Tiga tahun lalu, Maudi, rekan satu timnya di Sektor 7, memilih jalur ini lebih dulu. Menyerahkan lencana, pulang ke Jakarta, dan menikah. Faas dan Amer pun ikut kembali ke jakarta hanya sebentar untuk menemani Maudi menata kehidupan nya kembali, setelah memastikan Maudi yang mereka anggap sebagai adik, mereka memutuskan kembali ke Amerika karena masih harus menyelesaikan sebuah misi.
Kini, giliran Faas yang mencari ketenangannya sendiri. Atau lebih tepatnya, membangun wilayah barunya.
Faas memasukkan kembali ponselnya. Ia tidak langsung memesan taksi menuju rumah utama keluarga besar Husen Abrari , tempat di mana ia dan saudara kembarnya, Yolanda, pernah didepak secara halus sepuluh tahun lalu setelah lulus SMA. Baginya, tempat itu bukan lagi rumah.
Bagi Husen dan dunia luar, Faas adalah anak sulung yang gagal, si pendiam yang dianggap tidak punya masa depan di dunia bisnis properti, tidak seperti Gavin yang selalu diagung-agungkan semenjak kecil , Gavin mudah di didik untuk mengurus perusahaan. Mereka mengira Faas menggelandang atau sekadar menjadi buruh biasa di luar negeri atau hanya hidup berfoya-foya menghasilkan uang yang ayahnya kirim setiap bulannya.
Mereka tidak pernah tahu, di balik sifat pendiam yang mereka anggap sebagai kelemahan, Faas adalah sosok yang mematikan. Dan yang lebih penting, mereka tidak tahu bahwa sebuah perusahaan teknologi raksasa yang berbasis di Silicon Valley dan kini mulai merambah ke Jakarta, Apex Core, adalah miliknya yang ia bangun dengan keringat sendiri selama tujuh tahun terakhir. Identitasnya sebagai pemilik utama tertutup rapat di balik berlapis-lapis protokol keamanan Sektor 7. Hanya Maudi dan Amer yang tahu siapa Faas sebenarnya.
"Taksi, Pak?" tawar seorang pengemudi di area penjemputan.
Faas mengangguk pelan. "Ke daerah Sudirman," jawabnya dengan suara berat dan tenang.... Faas memilih untuk melihat perusahaannya sendiri dengan penyamaran yang pasti... Ia memakai kacamata serta rambut yang terlihat sedikit beruban, tak lupa kumisnya yang tebal, sangat kontras dengan wajah tampannya, kini Faas menjelma menjadi pria berumur 40 an.
Di dalam taksi yang mulai membelah kemacetan Jakarta, Faas menyandarkan kepalanya ke kursi. Pikirannya melayang pada Yolanda. Adik kembarnya itu untungnya memiliki ambisi yang kuat. Yolanda berhasil membuktikan dirinya, lulus sebagai dokter kandungan terbaik di Amerika, dan setahun lalu menikah dengan Kevin. Setidaknya, Yolanda tidak perlu menghadapi dinginnya tatapan meremehkan dari sang ayah sedari dulu.
Ponsel biasa milik Faas, bukan ponsel agennya tiba-tiba bergetar. Sebuah notifikasi berita bisnis lokal muncul di layar.
Gavin Ariszan Husen Abrari (26), Direktur Utama Baru Abrari Property Group, Targetkan Lonjakan Aset 200% di Kuartal Ini.
Faas menatap foto Gavin yang tersenyum arogan di artikel tersebut. Di bawahnya, ada juga foto adik perempuannya dari ibu yang berbeda, Jenita, yang tampak berpose mewah di sebuah kafe mahal.
Dunia mengira keluarga Abrari sedang berada di puncak kejayaan dengan anak-anaknya yang berkuasa. Mereka lupa, atau sengaja melupakan, bahwa ada seorang anak sulung yang sedang memperhatikan mereka dari balik bayang-bayang yang selama ini di sembunyikan. Husen mengatakan pada pihak umum kalau Faas mengurus perusahaan anak cabang yang berada di Amerika untuk menutupi rasa malunya bahwa kenyataannya Faas tidak bisa berbuat apa-apa.
Faas mematikan layar ponselnya. Matanya kembali menatap keluar jendela, menembus rintik hujan yang mulai membasahi Jakarta.
"Permainan baru saja dimulai, tapi mari kita mainkan dengan tempo yang lambat", batin Faas tenang.
Setelah Faas singgah sebentar di perusahaan nya, kini ia memutuskan untuk kembali ke rumah masa kecilnya, rumah di mana ia tidak di perdulikan sedari kecil, hanya ibunya serta Yolanda yang selalu memperhatikan dirinya meski Faas lebih banyak diamnya.
Mobil yang membawa Faas berhenti di depan sebuah gerbang besi tinggi menjulang di kawasan perumahan elite Jakarta. Rumah besar bergaya klasik modern itu masih sama seperti beberapa tahun lalu, megah di luar, namun terasa mencekik di dalam.
Faas turun sambil membawa satu koper kecil. Langkah kakinya terdengar konstan saat melewati halaman luas menuju pintu utama. Begitu melangkah masuk, keheningan rumah itu pecah oleh suara roda yang berputar di atas lantai marmer.
"Faas...?"
Suara itu lirih, bergetar menahan kerinduan. Faas langsung menoleh. Di ujung koridor, seorang wanita paruh baya dengan jilbab instan duduk di atas kursi roda. Diana. Ibunya. Wanita yang puluhan tahun harus kehilangan fungsi kakinya demi melahirkan Faas dan Yolanda ke dunia.
Faas yang biasanya dingin dan tak tersentuh, seketika melunakkan pandangannya. Ia melangkah cepat, lalu berlutut di hadapan kursi roda ibunya. Ia menggenggam kedua tangan Diana yang terasa kurus dan hangat.
"Assalamualaikum....Faas pulang, Ibu," ucap Faas lembut, sangat berbeda dengan suaranya yang biasa.
Air mata Diana luruh. Ia membelai wajah blasteran anak sulungnya dengan tangan gemetar. "Waalaikumsalam....Kamu kurus sekali, Nak... sepuluh tahun kamu di sana, Ibu selalu berdoa kamu baik-baik saja. Meski kamu sering pulang,tapi ibu selalu merindukan mu nak, Maafkan Ibu yang tidak bisa melindungimu dari keputusan ayahmu, ku mohon, jangan pergi lagi nak, saudara mu pulang hanya sebentar lalu memutuskan untuk menikah dan sekarang sudah hidup bahagia bersama suaminya, ."
"Faas baik-baik saja, Bu. Sangat baik," bisik Faas, menenangkan. Lalu mengangguk " mulai sekarang, Faas akan tetap di sini, Faas tidak akan pergi jauh lagi" .
Di rumah ini, hanya Diana yang tulus menyayanginya. Yolanda, adik kembarnya, kini sudah tinggal terpisah bersama Kevin setelah pernikahan mereka setahun lalu, mencoba membangun hidupnya sendiri yang ambisius sebagai dokter.
"Oh, si anak hilang ternyata tahu jalan pulang lagi, apa sudah bosan menjadi gelandangan di sana."
Sebuah suara bernada sarkastik memotong momen hangat itu. Jihan, istri kedua Husen, berjalan anggun menuruni tangga melingkar. Di belakangnya, menyusul Jenita yang sibuk memainkan ponsel mahal di tangannya.
"Aku kira kamu sudah betah jadi buruh cuci piring di Amerika, Faas," sindir Jihan dengan senyum meremehkan, lalu menghampiri Diana dengan gestur seolah peduli. "Mbak Diana, jangan terlalu lelah. Nanti tensinya naik lagi cuma karena menyambut anak yang... ya, kamu tahu sendiri."
Faas tidak membalas. Ia berdiri tegak, wajahnya kembali datar tanpa ekspresi, seolah sindiran Jihan hanyalah angin lalu. Karakter diamnya inilah yang sejak dulu membuat keluarganya menganggapnya lemah dan tidak punya taring.
Malam harinya, ruang makan keluarga Abrari terasa seperti medan perang yang sunyi. Husen duduk di kepala meja. Di sisi kanannya ada Diana yang selalu ingin ia pastikan berada di dekatnya, karena bagaimanapun, Husen sangat mencintai istri pertamanya itu dan menolak tinggal terpisah. Di sisi kiri ada Jihan, Gavin, dan Jenita. Sementara Faas duduk di samping mamanya.
Suasana makan malam yang semula tenang mulai memanas saat Gavin berdehem, sengaja memecah kesunyian.
"Alhamdulillah, Pa. Hari ini proyek superblok Abrari Property di Jakarta Barat resmi gol. Gavin baru saja menandatangani kontrak kerja sama senilai lima ratus miliar," ucap Gavin dengan nada sombong, sengaja mengeraskan suaranya sambil melirik Faas yang sedang mengunyah makanannya dengan tenang.
"Bagus, Gavin. Papa tidak salah menaruh kamu di posisi Direktur Utama. Kamu memang punya darah bisnis Papa," puji Husen, wajahnya tampak bangga.
"Ya jelas dong, Pa. Gavin kan dari dulu fokus, tidak seperti orang yang cuma bisa diam dan menghamburkan uang, jadi beban," sahut Jenita sambil menuangkan jus. Ia menatap Faas dengan tatapan sinis. "Eh Kak Faas, di Amerika kemarin kerja apa? Kok pulang-pulang cuma bawa satu koper kecil? Di Jakarta mau kerja apa? Mau jadi sopirnya Gavin? Kebetulan Gavin lagi butuh sopir yang tahan banting, kan lumayan daripada menganggur."
Jihan terkekeh mendengar ucapan putri manjanya. "Jenita, jangan begitu. Kakakmu itu kan sensitif, dari dulu cuma bisa diam. Mungkin di Amerika dia cuma melamun melihat patung Liberty."
Diana yang mendengar anak kandungnya dihina, meremas serbet di pangkuannya dengan wajah sedih. "Jihan, Jenita, jaga bicara kalian. Faas baru saja pulang."
"Lho, Mbak Diana, kita kan cuma bertanya," bela Jihan dengan nada yang dibuat-buat polos. "Kita kan khawatir dengan masa depan Faas. Zaman sekarang kalau cuma modal tampang dan sifat pendiam, tidak bakal bisa makan di Jakarta. Tidak seperti Gavin yang otaknya encer."
Sepanjang rentetan sindiran tajam itu, Faas tetap tenang. Tangannya yang kokoh memegang sendok dan garpu dengan anggun. Ia menyuap makanannya perlahan, sama sekali tidak terpengaruh oleh arogansi Gavin maupun kesombongan Jenita.
Bagi seorang mantan agen Sektor 7 yang terbiasa menghadapi interogasi tingkat tinggi dan ancaman pembunuhan, sindiran keluarganya malam ini tidak lebih dari sekadar gonggongan aneh.
Namun, di balik ketenangannya, sepasang mata elang Faas sempat melirik ponselnya yang diletakkan di atas paha bawah meja. Sebuah pesan masuk dari sekretaris rahasianya di Apex Core baru saja berkedip.
"Tuan Faas, Abrari Property Group baru saja mengajukan proposal investasi teknologi ke perusahaan kita (Apex Core) untuk proyek superblok mereka. Apakah Anda ingin langsung menolaknya, atau kita mainkan dulu?"
Faas menyunggingkan senyum yang sangat tipis, hampir tak kentara, di sudut bibirnya. Ia meletakkan sendoknya, meneguk air putih, lalu menatap Gavin yang masih memasang wajah sok berkuasa.
"Makanannya enak, Bu. Terima kasih," ucap Faas lembut pada Diana, mengabaikan seluruh manusia arogan di meja itu seolah mereka adalah makhluk tak kasat mata.
Gavin yang merasa diabaikan langsung mengerutkan kening, merasa tersinggung dengan ketenangan kakaknya itu. Lihat saja, Kak. Di rumah ini, kamu tetaplah sebuah aib, batin Gavin geram.
Mereka tidak pernah sadar, singa yang sesungguhnya sedang duduk diam di ujung meja, siap meruntuhkan kerajaan bisnis mereka hanya dengan satu jentikan jari.
Setelah semuanya selesai, Faas berpamitan terlebih dahulu untuk beristirahat ke kamarnya, lebih tepatnya mengerjakan pekerjaan nya yang tertunda hari ini.
*
*.
*
Keesokan harinya, Universitas swasta Pelita Bangsa elite di Jakarta selalu menjadi panggung bagi mereka yang ingin pamer kekuasaan, dan Jenita adalah ratunya kini setelah beberapa tahun lalu berhasil melengserkan putri palsu Daneswara.
Dengan tas bermerek ratusan juta dan kawalan dua temannya, Jenita berjalan di koridor kampus dengan dagu terangkat.
Langkah kaki Jenita mendadak berhenti saat matanya menangkap sosok seorang gadis di dekat loker. Gadis itu mengenakan pakaian longgar yang tertutup, jilbabnya menjuntai rapi menutupi dada. Di tangannya ada beberapa buku tebal yang dipeluk erat.
Eliza...Tiga tahun lalu, nama Eliza mungkin akan membuat orang gemetar karena kesombongannya. Namun, setelah skandal besar di mana ibu kandungnya dijebloskan ke penjara karena menukar dirinya dengan Maudi dan menyiksa Maudi, dunia Eliza runtuh. Meskipun keluarga Daneswara, ayah tirinya dan Maudi , saudara tirinya, sangat menyayangi dan memperlakukannya dengan sangat baik bak keluarga kandung sendiri, rasa bersalah mengubah Eliza total.
Ia membuang semua kesombongan masa lalunya. Kini, ia memilih jalan yang sunyi. Mengikuti jejak Maudi, saudara tirinya yang sangat ia hormati, Eliza mengubah penampilannya menjadi sangat tertutup, meski ia memilih untuk tidak mengenakan cadar seperti Maudi. Ia ingin menebus dosa masa lalu ibunya dengan menjadi manusia yang serendah hati mungkin.
Brak!...
Jenita sengaja menyenggol bahu Eliza dengan keras hingga buku-buku di pelukan gadis itu jatuh berserakan di lantai koridor.
"Eh, sorry. Sengaja," ucap Jenita dengan tawa renyah yang dibuat-buat. Teman-temannya ikut tertawa mengejek.
Eliza tersentak, namun tidak ada kemarahan di matanya. Ia hanya menghela napas pendek, lalu berlutut di lantai untuk memunguti buku-bukunya yang berserakan.
"Lagian, jalan itu pakai mata. hari gini masih ada ya, yang pakai baju kayak karung goni ke kampus? Kamu mau kuliah atau mau ikut pengajian, Eliza?" sindir Jenita kencang, sengaja memancing perhatian mahasiswa lain yang mulai berkerumun.
"Maaf, Jenita. Permisi," ucap Eliza lirih. Ia berdiri, bersiap untuk pergi menghindari keributan. Ia tidak pernah mau melaporkan hal ini pada Saka yang kini memimpin raksasa bisnis Daneswara Group, ataupun pada Maudi yang sudah hidup tenang bersama keluarga kecilnya. Eliza merasa ini adalah bagian dari takdir yang harus ia hadapi sendiri sebagai penebusan dosa.
Namun, Jenita belum selesai. Ia melangkah maju, sengaja menginjak salah satu ujung jilbab panjang Eliza hingga kepala Eliza tertarik ke belakang.
"Dengar ya, anak narapidana. Kamu pikir dengan pakai baju tertutup begini, dosa ibumu yang menyiksa Maudi Daneswara itu bisa hilang? Kamu itu cuma benalu di keluarga Daneswara! Beruntung mereka mau menampungmu, kalau tidak, kamu pasti sudah jadi gembel di jalanan!" bisik Jenita dengan penuh kebencian dan bisa yang beracun.
Kata-kata itu menghantam dada Eliza seperti hantaman godam. Air mata menggenang di pelupuk matanya, namun ia sekuat tenaga menahannya agar tidak jatuh di depan Jenita. "Iya, aku tahu siapa diriku, Jenita. Terima kasih sudah mengingatkan," jawab Eliza dengan suara bergetar namun tetap tegap, lalu menarik jilbabnya perlahan dan berjalan pergi dengan langkah cepat.
Jenita mendengus puas melihat Eliza yang tampak rapuh. "Dasar lemah," umpatnya.
Sementara itu, di sudut lain kota Jakarta, sebuah mobil sedan hitam sederhana berhenti di seberang gerbang kampus tersebut. Di balik kemudi, Faas duduk diam. Kacamata hitamnya menyembunyikan tatapan matanya yang setajam elang.
Hari ini, Faas sebenarnya berniat menemui Maudi untuk sekadar bertukar kabar secara langsung serta melihat anak kembar Maudi yang sudah berusia 2 tahun. Namun, Maudi mengabarkan lewat pesan singkat bahwa ia sedang berada di luar kota dan menyarankan Faas untuk berjalan-jalan mengelilingi kota jakarta. Rasya berhenti tepat di universitas pelita bangsa, ia merogoh sakunya saat Ponselnya bergetar.
" Maaf Faas, Aku ada urusan mendadak dengan mas Rasya keluar kota, sebaiknya kau berjalan-jalan saja, mungkin saja kau bertemu jodohmu di trotoar🤭" pesan singkat Maudi membuat Faas terkekeh..., wajah dinginnya hilang Kalau sudah menyangkut dengan adik angkatnya yang belum pernah sekalipun ia lihat wajahnya.
"terimakasih Maudi, kau dan Amer adalah keluarga yang selalu mengerti aku di saat aku sedang terpuruk" gumamnya pelan.
Faas memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
Melalui kaca jendela mobil yang gelap, pandangan Faas tanpa sengaja tertuju pada gerbang kampus. Seorang gadis berpakaian tertutup tampak keluar dengan langkah tergesa-gesa. Gadis itu berjalan menuju halte bus yang sepi, lalu duduk di sana untuk menunggu supir jemputan nya.
Dari jarak sedekat itu, dengan kemampuan observasi tingkat tinggi seorang mantan agen Sektor 7, Faas bisa melihat bahu gadis itu bergetar halus. Gadis itu sedang menangis secara senyap, menyembunyikan wajahnya di balik lembaran buku tebal.
Faas terdiam di posisinya. Entah mengapa, ada sesuatu dari kepedihan gadis itu yang beresonansi dengan jiwanya. Jiwa yang sama-sama terbiasa menelan luka sendirian, jiwa yang sama-sama dianggap asing oleh dunia sekitar mereka.
Ponsel khusus milik Faas bergetar. Sebuah data intelijen yang sempat ia minta dari Sektor 7 mengenai Lingkaran Sosial Maudi Daneswara muncul di layar. Di sana tertera foto dan profil lengkap, Eliza Daneswara.
Faas menurunkan sedikit kacamata hitamnya, menatap lurus ke arah halte bus di seberang jalan.
"Jadi, kamu saudaranya Maudi..." gumam Faas dengan suara beratnya yang dingin.
Selama perbuatan Jenita maupun Gavin masih berada dalam batas normal persaingan keluarga, Faas memilih untuk tetap diam dan berdiri di balik layar, membiarkan mereka melonjak setinggi langit. Namun melihat bagaimana takdir tampaknya mulai mempertemukan orang-orang di sekitarnya, Faas tahu, roda waktu sedang bergerak lambat untuk mempertemukan dua jiwa yang sama-sama membisu ini.
"lama tak bertemu, kau berubah, terlihat lebih santun dan dewasa" gumamnya pelan, Faas pernah bertemu Eliza saat ia berpura-pura menjadi pelayan di acara resepsi pernikahan Maudi untuk menjaga keamanan rekannya.
Faas kembali menstarter mobilnya, membiarkan kendaraannya melaju pelan melewati halte, meninggalkan Eliza yang masih tenggelam dalam kesunyiannya, tanpa tahu bahwa pelindung paling mematikan baru saja memperhatikannya dari kegelapan.
Faas memutuskan untuk pergi ke perusahaan nya yang kini sedang terbang sangat tinggi,...jauh dari perusahaan milik keluarganya Abrari grup.
Di dalam mobilnya yang terparkir di basement gedung Apex Core, Faas kembali mengubah penampilannya total.
Rambut hitamnya yang rapi ditutup dengan wig ikal dengan guratan-guratan uban tiruan di pelipis. Sebuah kumis tebal berbahan silikon medis terbaik merekat sempurna di atas bibirnya. Ditambah dengan kacamata berbingkai kotak tebal dan setelan jas formal yang sedikit longgar, ketampanan blasteran Arab Saudi miliknya seketika menguap, berganti dengan sosok pria matang berwibawa berusia awal 40-an.
Hari ini, ia adalah Tuan Malik Ibrahim, pemilik misterius Apex Core yang selama ini hanya dikenal lewat tanda tangan digital oleh dewan direksi.
Begitu melangkah keluar dari lift khusus di lantai paling atas, atmosfer sunyi dan profesional langsung menyambut Faas. Langkah kakinya yang berat dan penuh wibawa tiruan bergema di koridor.
Para staf senior dan kepala divisi yang kebetulan lewat langsung menepi. Mereka menundukkan kepala dengan hormat yang mendalam, tidak berani menatap langsung mata pria yang mereka kenal sebagai Tuan Malik Ibrahim, pria genius yang membangun raksasa teknologi ini dari nol. Faas hanya membalas dengan anggukan perlahan yang dingin.
Di depan pintu ruang kerja utama, Diki, asisten pribadi sekaligus tangan kanan kepercayaan Faas yang mengetahui seluruh identitas aslinya, sudah berdiri menyambut.
"Selamat pagi, Tuan Malik," ucap Diki dengan nada formal, mempertahankan sandiwara demi keamanan sekitar.
Faas masuk ke dalam ruang kerjanya yang luas dengan dinding kaca besar yang memperlihatkan lanskap gedung pencakar langit Jakarta. Begitu pintu jati itu tertutup rapat dan terkunci otomatis, Faas menghempaskan tubuhnya ke kursi kebesaran.
"Bagaimana perkembangannya, Dik?" tanya Faas. Suaranya sedikit diubah menjadi lebih serak dan berat, menyesuaikan dengan kerutan tiruan di wajahnya.
Diki melangkah maju, meletakkan sebuah map kulit hitam tebal di atas meja marmer. "Ini berkas yang Anda minta kemarin, Tuan. Daftar kandidat untuk posisi sekretaris pribadi Anda yang baru. Sesuai instruksi, kita membutuhkan seseorang yang bersih dari jaringan bisnis keluarga Husen Abrari maupun kompetitor luar."
Faas membuka map tersebut perlahan. Tangannya membalik satu per satu lembar resume para lulusan terbaik dari berbagai universitas dalam dan luar negeri. Hingga akhirnya, gerakan tangan Faas terhenti pada lembar ketiga.
Kedua alis Faas bertaut di balik kacamata tebalnya.
Di sudut kanan atas lembar itu, terpampang nyata sebuah pasfoto. Seorang gadis dengan senyum tipis yang tampak dipaksakan, mengenakan jilbab hitam rapi.
Eliza Daneswara.
Faas terdiam beberapa detik, menatap foto gadis yang beberapa jam lalu dilihatnya menangis sendirian di halte bus kampus.
"Dia belum resmi wisuda, Tuan," Diki menjelaskan saat melihat fokus atasannya tertahan. "Tapi surat keterangan lulusnya sudah keluar minggu ini dengan predikat magna cum laude. Dari hasil investigasi tim kita, dia sengaja melamar pekerjaan dengan sangat tergesa-gesa. Alasannya cukup personal... dia ingin segera mandiri secara finansial dan membuktikan pada keluarga Daneswara bahwa ia bisa sukses, agar tidak terus-menerus merasa menjadi beban di sana."
Faas menyandarkan punggungnya, mengetukkan jemarinya di atas meja dengan ritme yang lambat. Beban? batin Faas. Gadis itu adalah bagian dari keluarga Daneswara yang terpandang, namun ia justru merasa seperti benalu hingga rela melamar ke perusahaan teknologi yang terkenal memiliki seleksi paling kejam di negara ini.
"Kau tahu siapa dia, Diki?" tanya Faas datar.
"Saya tahu, Tuan. Dia saudara tiri dari nona Maudi, adik angkat anda saat di Amerika. Dan dia juga..." Diki menggantung kalimatnya, ragu sejenak. "...dia juga sering menjadi sasaran perundungan oleh adik Anda sendiri, Nona Jenita, di kampus."
Mendengar nama Jenita, kilatan dingin yang mematikan sempat melintas di mata Faas, sebelum akhirnya kembali meredup di balik ketenangannya. Jadi, dia gadis yang ditindas oleh adiknya yang sombong, kini takdir membawanya tepat ke hadapan Faas untuk meminta pekerjaan.
Sebuah kejutan takdir yang sangat menarik.
"Panggil dia untuk wawancara besok pagi," perintah Faas tiba-tiba.
Diki sedikit terkejut. "Besok, Tuan? Tapi kita belum menyaring kandidat dari luar negeri yang..."
"Tidak perlu," potong Faas mutlak. "Jadwalkan dia besok pukul sembilan pagi. Dan ingat, biarkan saya yang mewawancarainya langsung sebagai Tuan Malik Ibrahim. Jangan ada satu pun informasi tentang identitas asli saya sebagai Faas yang bocor kepada siapapun"
"Baik, Tuan. Dimengerti." Diki membungkuk hormat lalu mundur selangkah, segera keluar dari ruangan untuk melaksanakan perintah.
Setelah pintu tertutup, Faas kembali menatap lembar resume Eliza. Ia mengusap dagunya yang ditumbuhi kumis tebal palsu.
Keluarga Jihan, Gavin, dan Jenita saat ini sedang sibuk menyombongkan diri, merasa di atas angin karena proyek ratusan miliar mereka. Mereka bahkan sedang mengemis investasi kepada Apex Core tanpa tahu siapa pemilik aslinya. Dan kini, korban penindasan anak mereka justru akan berjalan masuk ke dalam benteng pertahanan terkuat miliknya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!