"Sebental, empus. Ndak boleh belisik atau nablak-nablak balang di sini ya. Wawas saja kamu kalau sampai Callie ketahuan Uncle Onand. Aku cubit itu ginjalnya empus," ucap seorang bocah cilik bernama Callie Noura Eleanor. Dia memperingatkan sesuatu agar tidak menggagalkan rencananya.
Callie nama panggilannya. Bocah cilik berusia 3 tahun yang sangat aktif dan begitu cerdik. Keturunan dari Rachel dan Lucky. Rachel yang merupakan keturunan keluarga Roberto sang raja bisnis di negeri ini. Walaupun Callie tidak menyandang nama keluarga Roberto, tapi tak ada yang bisa meragukan kegeniusannya. Dia begitu pintar, licik, manipulatif, pemberani, dan manja dalam waktu bersamaan. Hal itu sudah menunjukkan bahwa dia menuruni gen dari sang Tuan besar keluarga Roberto, Papa Fabio.
Saat ini Callie tengah berada di sebuah ruang kerja milik Ronand, sang Uncle kesayangannya. Entah bagaimana caranya Callie masuk ke dalam ruang kerja milik Ronand itu. Padahal kuncinya selalu tertutup rapat dan takkan bisa dibuka jika bukan Ronand yang membukanya. Ditemani oleh seekor hewan dengan panggilan "empus" yang tak lain adalah singa kecil kesayangannya. Singa kecil itu dibawanya oleh Callie dari rumah Papa Fabio. Padahal sang Mama sudah minta Callie untuk tidak memelihara hewan buas di rumahnya. Namun alih-alih menuruti keinginan sang Mama, justru hewan itu malah tinggal di kamar Callie. Hari sudah tengah malam, tapi tidak menyurutkan niat Callie untuk berada di ruang kerja Ronand. Tentu saja untuk mencari sesuatu yang berharga. Malam ini, Callie menginap di rumah Ronand karena ada misi khusus. Misi mengacak-acak ruang kerja milik Ronand. Entah apa yang sedang dicari oleh bocah cilik itu sehingga berani masuk ke ruang kerja Ronand.
"Dimana itu Uncle Onand simpan lacunnya? Lapat sekali," gumamnya sambil melihat ke arah sekitar. Jari telunjuknya mengetuk dagunya berulangkali seperti tengah berpikir kemungkinan Ronand menyimpan barang yang dipikir Callie adalah racun.
Sretttt...
"Empus..." pekik Callie tertahan sambil memelototkan matanya saat melihat singa kecil miliknya malah menarik sebuah kain dari meja ruang kerja Ronand. Beruntung barang di sampingnya tidak terjatuh dan menimbulkan suara gaduh.
Eh...
"Ini kan..."
"Ya ampun... Pintal sekali kamu, empus. Callie ndak jadi malah ini. Olang kamu malah menemukan ini buat Callie," Ternyata singa kecil itu berhasil menemukan sebuah botol kecil yang tertutup kain. Dengan singa kecil itu menarik kain dengan sedikit menggigitnya. Callie bisa menemukan apa yang dicarinya sedari tadi.
"Misi kita malam ini sudah selesai. Ini bial Callie lapikan lagi," ucapnya setelah mengambil sebuah botol kecil di atas meja kemudian menyimpan pada saku piyamanya.
Callie pun menarik meja kecil di dekat lemari. Kemudian naik di atasnya sambil menarik kain yang tadi ditarik oleh empusnya. Callie merapikan kain itu sama seperti ingatannya saat pertama kali masuk ke dalam ruang kerja milik Ronand. Callie tersenyum puas melihat kain itu sudah berada di posisinya kembali. Beruntung sebelum mencari apa yang diinginkannya tadi, Callie sempat mengamati bagaimana ruang kerja Ronand. Ini lah yang membuat Ronand atau pemilik ruangan tidak pernah sadar kalau ruangannya sudah digeledah.
Setelah selesai, Callie mengembalikan meja kecil itu ke tempatnya. Callie segera pergi dari ruang kerja Ronand. Bahkan Callie mengelap handle pintu dengan tisue yang sudah diberi alkohol agar sidik jarinya terhapus di sana. Diikuti oleh singa kecil yang setia menemaninya, Callie berdendang pelan karena merasa sukses dalam misinya.
Ceklek...
"Ayo tidul sini, empus. Kita halus banyak istilahat. Bial kita sehat dan walas nanti kalau tembak dol dol dol semua olang jahat di dunia," ucap Callie sambil terkekeh geli setelah sampai di kamarnya dengan selamat.
Dengan patuh, singa itu pun melompat ke atas kasur kecil milik Callie. Bocah 3 tahun itu tertidur pulas sambil memeluk hewan kesayangannya. Seakan apa yang terjadi beberapa menit lalu, bukan lah hal penting. Padahal apa yang diambil oleh Callie itu adalah barang penting untuk eksperimen Ronand dan Lucky di laboratorium rahasia.
Poor Ronand yang harus pusing tujuh keliling karena ulah Callie,
***
"Siapa yang kemarin masuk dan bersihkan ruang kerjaku?" seru seorang laki-laki dewasa dengan raut wajah emosinya.
Dia adalah Ronand. Pagi-pagi sekali, dia mencari botol kecil yang disimpannya di atas meja kerja dengan tertutup kain. Padahal kain itu hanya kamuflase agar mejanya tidak kotor. Sehingga orang yang masuk ruang kerjanya tidak akan menyangka kalau di atasnya ada sebuah barang berharga. Ruang kerjanya juga sudah dikunci double dan harus dengan ijinnya agar bisa masuk. Namun hari ini malah kecolongan dengan barang yang hilang. Entah mengapa, CCTV juga mati saat sore kemarin sampai pagi ini. Dan Ronand belum sempat memperbaikinya karena baru pulang pagi ini dari rumah sakit.
Semua maid, penjaga rumah, Susan, dan Ralia kena semprot Ronand karena barangnya hilang. Sedangkan sang tersangka utama, malah asyik makan roti tawar dengan tatapan polosnya. Seakan omelan dari Ronand itu hanya dongeng di pagi hari. Callie tak peduli dengan omelan Ronand pada semua orang.
"Emang barangnya apa sih, Sayang?" tanya Susan mencoba menenangkan suaminya.
"Itu isinya cairan untuk membuat obat, Sayang. Gimana dong? Hari ini aku udah janjian sama Lucky buat bikin itu racikannya," Ronand merengek kesal pada Susan karena barangnya memang sangat dia butuhkan. Dia akan membuat sebuah obat penting yang nanti akan dikembangkan khusus untuk pengobatan di rumah sakitnya.
Astaga...
"Emang kamu letakkan dimana? Coba diingat-ingat lagi. Siapa tahu kamu lupa," ucap Susan dengan tenang. Susan pikir Ronand hanya lupa saja meletakkan barang. Masalahnya Ronand seringkali lupa meletakkan barang-barang kecil.
"Benal itu kata Onty Ucan, Uncle. Uncle kan sudah tua, ingatannya mulai belkulang." ceplos Callie membuat Ronand menatapnya kesal.
"Bilang aja kalau Uncle sudah pikun," seru Ronand sambil menghela nafasnya kasar.
Ndak bilang lho Callie. Uncle sendili yang bilang,
Bukannya membantu mencari, Callie malah membuat Ronand semakin kesal. Padahal dia hanya butuh solusi dan jawaban dari pertanyaannya. Namun Callie malah meledeknya sudah pikun. Para maid dan bodyguard yang ditanya juga tidak tahu dimana barang itu. Pasalnya mereka tidak membersihkan ruang kerja Ronand jika tak disuruh. Sedangkan sudah satu minggu ini, ruang kerja Ronand tidak dibersihkan. Ralia yang melihat keadaan rumahnya pagi ini semrawut pun hanya diam dan mengamati. Namun sepertinya Ralia mulai mencurigai sesuatu.
"Bantu saya cari barang itu. Entah di ruang kerja, mobil, atau halaman. Botol kecil, dalamnya ada cairan berwarna orange." seru Ronand meminta pada semua pekerjanya.
"Baik, Pak." jawab semuanya serentak kemudian pergi untuk melaksanakan perintah Ronand.
"Astaga... Pagi-pagi udah bikin pusing aja," gerutu Ronand yang kemudian memilih duduk di kursi.
"Ndak usah dipikilkan, Uncle Onand. Nanti pasti dapat ganti yang lebih bagus dali balang itu. Ikhlaskan saja," saran Callie menenangkan Ronand.
"Aku yakin ini si bocah cadel ada hubungannya sama hilangnya barang milik Papa. Setiap kali dia datang ke rumah ini, ada saja barang penting yang hilang." gumam Ralia sambil menggelengkan kepalanya.
"Perasaan kemarin kamu ke sini nggak bawa koper. Kok sekarang mau pulang bawa koper begini? Isinya apa?" tanya Ralia saat melihat sang sepupu sibuk dengan kopernya.
"Astaga... Jantung Callie lasanya mau lepas dali tempatnya,"
Callie sangat terkejut mendengar suara yang ada di belakangnya. Callie mengalihkan pandangannya ke arah Ralia yang tengah bersandar pada pintu kamar. Callie memang mempunyai kamar sendiri di rumah Ronand. Hal itu karena Callie dan Rachel beberapa kali menginap di rumah Ronand. Setelah mengetahui siapa yang datang, Callie melanjutkan menata barangnya di koper. Seperti tak peduli akan kedatangan sang sepupu yang sama menyebalkannya dengan Kakaknya.
"Ini kan kopelnya Callie. Telselah Callie dong mau dibawa pulang atau taluh di kamal ini. Kak lalia kok lepot sekali ngulusin kopelnya Callie ini. Ili ya? Ndak punya kopel kecil kaya Callie," tuduh Callie membuat Ralia melongo tak percaya.
"Aku bisa beli koper sepuluh kaya gitu. Ngapain juga iri sama kamu?" seru Ralia tak terima.
"Ya udah sih. Gitu aja kok lepot. Ndak usah banyak komental, kaya netizen aja. Lagian biasanya Kak lalia kan saliawan, ndak pelnah ngomong panjang. Sekalang kok celewetnya, ampun..."
Callie sampai memegang kepalanya. Memperagakan bagaimana dia saat ini pusing karena mendengar Ralia yang terus bicara. Sedangkan Ralia sudah kehilangan kata-kata. Dia tak menyangka bahwa sepupunya ini sangat menyebalkan dan tidak mau kalah. Ralia memilih diam tapi mengamati setiap barang yang masuk ke dalam koper Callie. Ia ingin mencari barang milik Papanya yang hilang. Sepertinya dia curiga kalau yang mengambil barang milik Ronand adalah Callie.
"Napa situ lihat-lihat Callie telus?" serunya saat merasa ada yang mengawasi pergerakannya.
"Nggak papa. Siapa tahu ada yang bawa barang lain dari rumah ini di kopernya," Ralia mengedikkan bahunya acuh karena ditegur Callie. Untuk membuktikan sesuatu, biar lah dia dituduh oleh Callie sedang memata-matainya. Lagi pula Ralia hanya memastikan bahwa Callie tidak membawa barang berharga milik Ronand itu.
"Ada nih, balang lain dali lumah ini yang Callie bawa."
Hap...
"Apaan nih? Punya siapa itu?" seru Ralia saat melihat barang yang dilempar oleh Callie.
"Punyanya Mama Achel. Jaling ikan, katanya titip buat mancing Mama Achel di sungai dali Onty Ucan." ceplos Callie asal.
"Katanya sih itu baju, kok waktu Callie buka isinya jaling ikan. Ndak jelas itu Mamanya Kak lalia," lanjutnya dengan memberikan sindiran pada Susan.
Ralia begitu shock melihat barang yang dilempar Callie padanya. Dia yang sudah beranjak remaja, tentu tahu baju apa di tangannya itu. Namun Mamanya sangat ceroboh sekali sampai menitipkan baju seperti ini pada Callie. Jika mungkin anak lain tidak akan penasaran saat dititipi barang, berbeda dengan Callie. Bocah cilik itu rasa ingin tahunya sangat tinggi. Pasti Callie akan membukanya terlebih dahulu. Jika menguntungkan bagi dia, barang itu tidak akan sampai pada penerimanya.
"Sudah selesai. Callie mau pulang dulu sama empus ya, Kak lalia. Jangan lindu Callie lagi. Minggu depan, Callie akan menginap lagi di sini." ucap Callie setelah menutup koper ciliknya.
"Sebentar..." Ralia pun mendekati Callie dan meletakkan barang titipan untuk Rachel. Ralia membuka kembali koper Callie dan memeriksanya.
"Kok nggak ada ya?" gumamnya membuat Callie menatapnya aneh.
"Cali apa sih? Ndak ada Callie ambil uangnya Kak lalia. Dolal Callie sudah banyak," seru Callie yang kesal melihat barang-barangnya sedikit berantakan.
Bukannya berhenti mencari sesuatu, Ralia memeriksa saku baju dan celana yang dipakai Callie. Tampak sekali bocah cilik itu sangat kesal. Bahkan tatapannya begitu sinis. Namun Callie tampaknya tahu barang apa yang ingin dicari oleh Ralia. "Ndak ada apa-apa kan? Mau cali apa?"
"Udah sana pulang. Ganggu ketenangan rumah ini aja," usir Ralia setelah tak menemukan barang yang dicarinya.
"Sudah belantakin balang-balang Callie. Telus pegang badan Callie, sekalang diusil." gerutu Callie yang kemudian menarik kopernya pergi.
"Mungkin hanya perasaanku saja," gumam Ralia saat tidak menemukan apa yang dicarinya.
"Pasti mau cali ini," gumam Callie yang langsung mengambil apa yang disimpannya dalam mulut si "empus" setelah keluar dari rumah Ronand. Botol kecil yang diambilnya semalam dari ruang kerja Ronand, disembunyikan Callie ke dalam mulut singa kecilnya. Callie tertawa cekikikan karena bisa mengelabuhi semua orang.
***
Brugh...
Mama Achel...
Ratu drama sudah pulang rupanya,
Callie tengah duduk di atas lantai dengan koper cilik yang terlempar satu meter darinya. Callie melempar asal koper ciliknya itu karena hanya berisi pakaian dan titipan dari Susan. Namun seorang bocah cilik berusia 6 tahun yang melihat Callie merengek, langsung menyindirnya. Dia adalah Arthur Max Adriano, Kakak laki-laki Callie. Anak sulung dari Rachel dan Lucky yang sikapnya berbanding terbalik dengan Callie.
Callie menatap sinis Kakaknya yang sedang membawa helm di tangannya. Bagi Callie, pergaulan dan kehidupan Arthur tidak ada yang menarik. Apalagi Arthur jarang keluar rumah jika tidak sekolah. Kehidupannya hanya di rumah dengan motor trail dan arena balapan yang dibuat oleh Lucky. Setiap kali diajak pergi jajan oleh Callie, selalu menolak. Alasannya alergi jajan.
"Siapa yang Kak avtul sebut latu dlama? Kalau Callie latu dlama, sudah main sinetlon ikan telbang ini. Nyatanya Callie belum telkenal," seru Callie dengan mata menyipit. Entah mengapa, setiap kali bersama Arthur pasti Callie akan emosi tingkat tinggi.
"Mukamu itu nggak cocok, sedikit..."
"Apa? Sedikit apa? Gembul? Bantet? Gitu?" sela Callie dengan berkacak pinggang. Bahkan Callie sudah berdiri seakan menantang Arthur.
"Nggak ngo..."
"Kalian itu kalau bersama, ribut terus. Akur bentar aja kenapa sih?" seru seorang perempuan cantik yang tak lain adalah Rachel, Mama dari Callie dan Arthur.
"Ndak bisa,"
"Nggak,"
Astaga...
Jawaban keduanya yang kompak itu hanya bisa membuat Rachel menggelengkan kepalanya. Keduanya sama-sama keras kepala, seperti Rachel waktu kecil. Seketika Rachel mengingat dia yang sering berdebat dengan Ronand. Beruntung waktu itu Ronand bersikap dingin dan jarang meladeni dirinya. Berbeda dengan Arthur, dia akan meladeni Callie. Bahkan sampai Callie menangis pun akan dia jabani.
"Lebih baik kamu segera latihan, Arthur. Daripada di sini pusing dengan ocehannya Callie," usir Rachel pada anak sulungnya.
"Dasar ratu drama. Nangis..." ledek Arthur saat melihat mata Callie tampak berkaca-kaca. Rachel tahu bahwa Callie ini sudah mengantuk sehingga akan rewel begini. Arthur pun memilih pergi daripada nanti tambah diomeli oleh Rachel.
"Dasal Kak avtul menyebalkan. Awas saja itu motolnya Callie lepas semua bannya," gumam Callie dengan raut wajah kesalnya.
Ayo tidur. Pasti semalam nggak bisa tidur,
Ehm... Benal. Callie susah tidul kalau ndak ada Mama Achel,
Hidih...
"Kalau cairan itu nggak ada, ngapain kita ke sini? Astaga..."
Seorang laki-laki dewasa itu tampak frustasi karena bahan yang sudah datang dan disiapkan selama dua bulan lamanya, malah hilang. Dia adalah Lucky yang berada di laboratorium tersembunyi milik Papa Fabio. Di sana juga ada Ronand yang kesal karena bahan untuk eksperimen hari ini malah hilang. Rasanya apa yang telah diusahakan selama ini, gagal total. Padahal Lucky dan Ronand sudah mempersiapkan banyak formulasinya untuk hari ini.
"Ini kalau ada orang tak bertanggungjawab yang menemukan, bahaya." ucap Lucky lagi sambil menghela nafasnya kasar.
"Belum tentu juga orang yang menemukannya tahu bagaimana menggunakan cairan itu," ucap Ronand menanggapi ucapan Lucky. Jika pun ada yang menemukan, mungkin mereka tidak akan tahu juga itu cairan apa. Pasalnya itu hanya lah botol kecil berisi cairan berwarna orange. Mungkin orang yang menemukannya bisa saja langsung membuangnya.
"Terus ini gimana? Mau pesan lagi. Nunggu lama oyyyy," Lucky tampaknya tidak menemukan solusi dari permasalahannya kali ini.
"Tapi aku tuh curiga kalau barang ini ada yang mengambil, bukan hilang." ucap Ronand tiba-tiba.
"Siapa?" tanya Lucky dengan raut wajah serius dan antusiasnya.
Lucky yang tadinya sudah lemas, kini langsung menatap serius ke arah Ronand. Lucky sangat penasaran dengan siapa sosok yang tengah dicurigai oleh Ronand itu. Pasalnya insthing seorang Ronand itu tidak bisa disepelekan. Lucky akan membantu menyelidiki dan menghukum orang yang sudah membuat mereka pusing ini. Ronand menatap Lucky yang begitu menggebu-gebu ingin mengetahui siapa pelakunya.
"Cepat katakan siapa yang kamu curigai? Biar aku yang selidiki sampai ke akar-akarnya. Takkan aku biarkan orang itu lepas begitu saja," serunya mendesak Ronand yang tampak ragu dengan Lucky.
"Beneran pengen tahu? Tidak menyesal?" tanya Ronand dengan raut wajah ragu dan terkesan sedikit meremehkan Lucky.
"Nggak lah. Siapa orangnya, Ronand? Dia itu udah jahat sama kita. Masa barang langka dan mahal begitu main asal ambil aja. Yang ambil pasti tahu tuh gunanya untuk apa," seru Lucky menuntut Ronand agar segera memberitahunya.
"Anakmu, si Callie itu." Mendengar jawaban dari Ronand, Lucky melongo tak percaya. Bibirnya terbuka lebar karena tadi hendak mengeluarkan berbagai umpatan untuk orang yang mengambil barang milik Ronand.
"Callie?" tanya Lucky dengan tatapan tak percaya.
Lucky berharap bahwa apa yang diucapkan oleh Ronand itu adalah hal bohong. Namun Ronand menganggukkan kepalanya, seperti yakin kalau Callie adalah orang yang mengambil barang miliknya. Lucky terdiam dengan berbagai pikiran yang mulai berkeliaran di dalam otaknya. Callie anaknya yang baru berusia 3 tahun itu? Mencuri bahan langka yang akan digunakan untuk eksperimen. Pertanyaannya adalah untuk apa? Apakah buat mainan?
"Nggak mungkin deh, Ronand. Untuk apa dia ambil itu? Masa buat mainan atau iseng?" tanyanya pada Ronand.
"Setiap dia menginap di rumahku, CCTV selalu mati. Bahkan aku sendiri, susah sekali menyalakannya kembali. Sudah panggil teknisi pun begitu, katanya hanya hilang sinyal dan nanti akan kembali pulih sendiri. Setelah 12 jam, baru nyala. Barang seperti pistol, robot, atau alat-alat lainnya juga sering hilang. Ini kan aneh dan selalu kebetulan setelah Callie menginap," ucap Ronand menjelaskan dugaannya.
"Kamu menuduh anakku sebagai pencuri gitu?" seru Lucky antara tidak percaya dan bisa menerima penjelasan dari Ronand.
"Bukan. Masa menuduh keponakanku sendiri pencuri,"
Ronand tampaknya kesal berbicara dengan Lucky. Dia hanya membeberkan fakta yang ada, tapi malah bilang dirinya menuduh Callie sebagai pencuri. Lagi pula jika yang diambil itu pistol atau robot, dia tidak masalah. Toh selama ini, Ronand memang tahu jika Callie suka mengambil pistol milik Papa Fabio atau Lucky karena hanya dipakai ketika dibutuhkan saat waktu terdesak saja. Walaupun usianya masih kecil, tapi Callie sudah mengerti kapan bisa menggunakan pistol dan tidaknya. Ronand pun memilih pergi dibandingkan menghadapi tuduhan Lucky.
"Kalau Callie tidak mencuri, dimana dia mendapatkan pistol dan robot itu saat membantu Mika? Pasti diambilnya diam-diam itu dari anggota keluarga yang punya," gumam Lucky yang berusaha menolak kenyataan yang ada.
"Kenapa harus mencuri begituan sih? Nyuri tuh duit atau perhiasan. Masa pistol atau robot, aneh. Jangan-jangan cairan itu mau buat eksperimen mainannya dia lagi," lanjutnya dengan pikiran-pikiran tak terkendali.
"Aku harus pulang dan menanyakan langsung padanya,"
***
"Callie lagi ngapain di dapur?" seru Rachel dengan raut wajah paniknya.
"Buat makan siang spesial buat kelualga kita," jawab Callie dengan antusiasnya.
Rachel terkejut mendengar laporan dari salah satu ART kalau Callie sedang berada di dapur. Bahkan semua ART yang waktu itu sedang memasak, diusir oleh Callie. Tak lupa dengan Callie yang mengancam akan memecat mereka kalau tidak menuruti keinginannya. Tentu saja mereka takut dengan ancaman itu. Walaupun tak bisa dibenarkan jika meninggalkan anak majikannya di dapur. Mereka memilih mengawasi Callie dari balik pintu dapur.
Saat masuk ke dapur, Rachel melihat anaknya berada di depan kompor dengan berdiri menggunakan kursi agar terlihat lebih tinggi. Hal itu membuat Rachel khawatir dengan anaknya yang sangat dekat sekali dengan kompor dan minyak panas. Tangannya memegang dua butir telur yang hendak Callie pecahkan untuk dimasak. Rachel yang melihat itu segera saja menggendong Callie menjauh dari kompor.
"Nggak usah, Callie. Masakanmu itu terlalu berharga untuk kita cicipi sekarang. Mending masakan kamu itu nanti dibuat kalau ada acara penting kaya pernikahan atau ulangtahun," Rachel memberikan alasan yang tidak menyinggung Callie. Pasalnya anak kecil akan mudah tersinggung jika diremehkan kemampuannya.
"Belhalga apanya? Cuma telul ceplok dua biji lho. Ini juga telulnya dali ayam pelihalaannya plastik Mika di lumah Opa. Glatis, ndak kelual uang Callie ini." ucap Callie. Ternyata ia mendapatkan telur itu dari ayam milik Mika yang kebetulan sedang bertelur.
"Maksudnya cara kamu memasak dan rasanya itu sangat berharga," ucap Rachel sambil mematikan kompor. Rachel tak menyangka kalau Callie sudah bisa menyalakan kompor segala.
"Ini buat kelualga, halus spesial dan belhalga. Jadi ndak masalah kalau Mama, Papa, dan Kak avtul makan ini makanan yang dibuat Callie,"
Callie tetap kekeh dengan keinginannya untuk memasak telur ceplok hari ini. Namun Rachel tidak mengijinkan. Bahkan Rachel berusaha untuk mengambil dua butir telur di tangan anaknya. Keduanya malah saling menangkap dan menghindar di dapur. Hal itu membuat keduanya yang kejar-kejaran menjadi tontonan para maid. Sudah biasa bagi mereka melihat interaksi heboh antara Ibu dan anak itu.
"Majikan kita itu..."
"Kali mambu... Kamu yang ambil telurnya meong ya?" teriak seseorang dari arah ruang tamu.
Waduh...
"Ternyata itu telurnya diambil nggak bilang-bilang," ucap salah satu ART sambil menggelengkan kepalanya.
"Nih... Callie kasih telurnya," ucap Callie sambil menyerahkan telur itu pada Rachel.
Ndak, plastik Mika. Telurnya yang ambil itu Mama Achel,
Eh... Kok jadi aku? Licik benar itu bocah,
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!