"xavi..!, ingat umur dong. Mau sampai kapan kamu begini?"
Nyonya wina pratama, wanita berusia 70 tahun nenek dan sekaligus orangtua satu-satunya yang xavier miliki, menatap cucu semata wayangnya itu gemas.
Xavier pria lajang penerus grup pratama jaya, kehilangan kedua orangtuanya saat berusia 15 tahun, dalam sebuah kecelakaan yang menewaskan kedua orangtuanya.
Pria tampan berusia 34 tahun itu berulangkali menghembuskan nafasnya kesal, entah sudah yang keberapa kali, omanya memaksa dia menikah.
Bagaimana dia akan menikah, jika calon saja dia tak punya. 6 tahun lalu xavier memiliki tunangan yang cantik, catherine wijaya.
Namun wanita itu lebih memilih karier daripada menikah dengannya, seorang model internasional yang selalu wira-wiri baik di majalah model ataupun catwalk bertaraf internasional.
Cathy, mau menikah dengannya dengan syarat tidak memiliki anak. Dan tentu saja omanya sangat menentang, xavier paham maksud omanya. Namun sampai sekarang, wanita yang pernah dicintainya itu juga tidak menikah, cathy juga menunggu xavier.
Sesekali mereka masih sering bertemu, yah jelas tanpa sepengetahuan nyonya wina tentunya.
Tapi alasan sebenarnya mengapa xavier tak percaya diri untuk menikahi siapapun, kejadian 6 tahun silam kembali terngiang-ngiang di benaknya
One night stand, dengan seorang wanita yang dia sendiri tak mengenalnya.
Yang ia ingat hanya aroma wanita itu begitu manis, sampai detik ini ia berusaha mengingat wajah wanita itu, namun yang hadir hanya bayangan samar.
Rambut ikal, dengan aroma tubuhnya yang manis. Aroma mint tercium samar dari tubuh wanita itu.
Xavier kembali menghela nafasnya dalam-dalam. Tak ada petunjuk apapun, wanita itu tidak meninggalkan apapun padanya, walau hanya secuil petunjuk yang dapat xavier gunakan untuk mencari wanita itu.
Tak ada nama atau apapun, dan tentu saja cukup membuat xavier pratama berubah menjadi pribadi yang dingin karenanya.
Wanita sialan itu meninggalkan trauma yang sangat besar dalam hidupnya, membuatnya menjadi pria yang tak percaya diri.
"xavi..."
Xavier tersentak, menoleh. Tatapan nyonya wina kembali menyadarkannya.
"kalau kamu tak bisa menemukan siapapun untuk kamu nikahi, biar oma yang cari untukmu"
Lagi-lagi xavier menghela nafasnya kasar, dia berdiri dan melangkah menuju meja kerjanya.
"pasti oma sudah punya calon yah!"
Nyonya wina mengangguk, "kalau pacar kamu mau memiliki anak, oma akan merestui kalian..tapi cathy memilih childfree"
"sudahlah oma..!" sambar xavier cepat, mata elang pria itu terlihat malas. Ia duduk di kursi meja kerjanya dengan anggun.
"aku tak keberatan untuk bertemu dengan calon dari oma, tapi aku nggak jamin kalau aku menerimanya"
"hhhhhh.." dengusan nyonya wina terdengar kasar, wajah tuanya terlihat kesal.
"trus untuk apa kamu ketemu dengan wanita itu, mau buat malu lagi? Sudah 10 kali kamu menolak wanita yang oma kenalkan, wanita bagaimana yang kamu cari?"
Xavier tersenyum tipis, namun tidak menjawab sama sekali. Sementara nyonya wina, omanya terlihat sangat kesal melihat reaksinya.
"kasih tahu oma kriteriamu, oma akan cari seperti yang kamu mau!"
Xavier tertegun, 'seperti yang kumau?'
"aku mau yang aromanya seperti mint" gumamnya berbisik.
Nyonya wina mengernyitkan keningnya, gumaman xavier tak terdengar.
"apa kamu bilang?"
Xavier menggeleng lesu, dengan malas dia bangun. Berdiri membelakangi omanya, menatap langit yang terlihat biru dari dinding kaca kantornya.
"pikirkan saran oma, xavi! tahun ini kamu harus menikah"
"oma...!" panggil xavier setengah protes, ia berbalik menatap lekat omanya.
Wanita tua itu sudah berdiri, sepertinya dia hendak pergi.
Kakinya sudah melangkah, namun sekali lagi dia menoleh ke arah cucu semata wayangnya itu.
"apa kamu mau keluarga pratama habis di kamu?, kamu ikhlas kalau keluarga pratama tak ada penerusnya"
"tapi om–"
"oma nggak terima alasan apapun, xavi!" sambar omanya cepat, wanita sepuh itu menggeleng cepat.
"oma tunggu kabar dari kamu!, kalau dalam bulan ini oma nggak terima berita dari kamu, kamu harus menikah dengan calon yang oma siapkan"
Xavier terdiam, hanya mengamati langkah nyonya wina yang menjauh.
Xavier menghempaskan tubuhnya ke kursi dengan kesal, tangannya membuka kancing jasnya. Tangannya menekan interkom, dengusan kesal dari hidungnya masih terdengar.
"suruh leo masuk" perintahnya dingin, matanya menatap pintu masuk dengan sorot tajam.
"bagaimana permintaanku, sudah kamu kerjakan!" tanyanya langsung tanpa basa-basi, begitu leo, asisten pribadinya itu masuk.
Pria tampan berambut klimis dengan kaca mata itu terlihat sedikit gugup. Berdiri pria muda itu juga terlihat tidak tenang.
"informasi yang bapak kasih ke saya kurang detail pak" sahutnya dengan suara setengah mencicit, takut.
Siapa yang tidak takut pada xavier, auranya yang dingin dengan tatapan mata elangnya yang selalu tajam, selalu sukses mengintimidasi lawan bicaranya.
Xavier bukanlah pria yang hangat, ditambah dengan wajah tampan, mata kebiruan dengan garis rahang yang tegas, siapapun mengakui kalau dia adalah pria tampan.
Namun auranya terlalu dingin, walau bejibun karyawan wanita di kantornya mengakui ketampanannya, namun tak ada yang berani untuk coba-coba tebar pesona padanya.
"hhhhhhh..."
Terdengar desah nafasnya yang berat, xavier menatap leo yang berdiri gelisah di depannya.
"saya tanya ke bar itu pak, tapi mereka tidak pernah punya pekerja dengan ciri-ciri yang bapak berikan, baik enam tahun lalu ataupun sekarang"
"kamu yakin?" mata xavier memicing dengan alisnya yang naik sebelah.
"atau kamu yang malas mencarinya"
Leo menggeleng, maju selangkah mendekati bosnya.
"apakah bapak tidak bisa memberi tahu saya, siapa namanya?"
Lagi-lagi terdengar hembusan nafas xavier terdengar berat.
"kalau aku tahu siapa namanya, untuk apa aku memintamu mencarinya!"
Xavier menatap asistennya itu, tangannya mengibas meminta leo keluar.
"tapi kamu harus tetap mencarinya leo" perintahnya tepat sebelum leo berbalik hendak meninggalkannya.
Pria muda itu mengangguk patuh, dan dengan segera pergi dari sana.
Xavier berdiri lagi, menatap keluar, memandangi langit yang siang itu terlihat sangat cerah.
"perempuan sialan" gumamnya kesal.
"aku harus menemukanmu, dan kamu harus bertanggung jawab mengembalikan kepercayaan diriku"
Jujur xavier sangat ingin menemukan wanita itu, seumur hidupnya baru wanita itu yang berani meninggalkan dia dalam keadaan tidur di hotel setelah bercinta semalaman.
Xavier sakit hati, kepercayaan dirinya hilang tak berbekas setelah wanita itu meninggalkannya begitu saja.
Dia yang selalu dipuja-puja wanita kemanapun dia pergi, namun wanita itu meninggalkannya bagai barang bekas tak berguna tanpa mengatakan apapun.
Seandainya wanita itu hanya wanita panggilan biasa, mungkin xavier tak perlu kepikiran seperti ini. Namun ia tahu, wanita itu bukanlah wanita panggilan. Noda darah yang wanita itu tinggalkan di alas tidur saat itu membuktikannya.
Xavier tahu, wanita yang ia tiduri malam itu adalah gadis polos dan masih perawan.
Gadis itu pasif dan hanya menunggu xavier yang memulainya.
"arghhhhh"
Xavier meremas rambutnya frustasi, sungguh ia menyesali mengapa malam itu dirinya mabuk, sehingga tidak terlalu mengamati wajah wanita itu.
Dan dirinya juga tahu, betapa kasarnya ia malam itu. rasa bersalah hadir saat dia melihat darah perawan di seprai putih ranjang hotel itu, rasa sakit karena penolakan cathy ia lampiaskan dan ia menulikan telinganya walau wanita itu menjerit-jerit kesakitan.
"aku harus menemukanmu, harus..."
Bersambung...
Hai...hai..., ketemu lagi dengan karya baruku' kau milikku sayang'
dukung terus yah, kasih saran dan juga like dan votenya
Dukung saya agar semakin semangat berkarya 💪💪❤️❤️
Mata elang xavier mengamati lalu lalang manusia di penyebrangan lampu merah. Kernyitan di keningnya terlihat semakin menebal, wajah tampannya menegang.
Dipanas siang hari begini, ketukan seorang pengamen di kaca mobilnya membuat wajah tampannya terlihat kesal.
Tak ada niat untuk membuka kaca jendela itu, apalagi untuk mengulurkan recehan. Rasa kesalnya semakin memuncak, apalagi para pengamen yang berdiri di samping mobilnya mulai terlihat sedikit tak sabaran.
Dengan kesal xavier akhirnya melemparkan selembar uang ratusan, dan langsung menutup kembali kaca mobilnya.
Pengamen tadi kelihatan hampir marah, namun melihat uang ratusan itu, wajah sangar pengamen itu tersenyum sumringah.
Xavier tak melirik, begitu lampu hijau menyala ia langsung tancap gas. Meninggalkan kepulan asap tepat di wajah para pengamen yang memaki.
Rasa kesal sejak pagi menyelimuti hatinya, paksaan omanya selalu membuat xavier sakit kepala. Perjodohan demi perjodohan yang omanya siapkan selalu mampu membuat xavier kesal seharian.
Suara decitan ban mobilnya terdengar keras, saat ia parkir di depan sebuah restoran. Xavier mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang menunggunya.
Lambaian tangan dari seorang pria, membuat wajahnya yang menegang marah tadi sedikit melembut. Xavier melangkah pasti, mendekati pria itu yang tersenyum cerah dengan wajah tampannya.
"sendirian?" tanya xavier dengan suara baritonnya, sembari menarik kursi yang ada di hadapan pria itu.
"bareng mona dan raya anakku, tapi mereka minta diturunkan di mall tadi, ntar pulangnya minta di singgahin" sahut pria tampan itu tersenyum.
"kamu pasti lagi kesal yah?"
Xavier mengangguk lesu, tangannya meraih gelas kopi yang sudah tersedia.
"oma menyiapkan perjodohan lagi?"
Xavier mengangguk lagi, suara sesapan kopinya terdengar nikmat.
"aku nggak bisa menikah, roy. Bagaimana aku menikahi perempuan pilihan oma kalau aku tak berhasrat pada mereka!"
Pria bernama roy itu, menarik nafasnya berat. Kepalanya terlihat mengangguk paham.
"sudah 6 tahun loh, dan kamu sudah ke dokter. Kata dokter juga nggak ada masalah kan?"
Xavier mengangguk lesu, matanya menatap lekat sahabatnya itu.
"apa kamu pernah mencobanya, setelah itu?"
"pernah.." sahut xavier cepat.
"bahkan aku pernah mencobanya dengan cathy, dan hasilnya tetap, aku tak mampu"
"padahal sebelum-sebelumnya dengan cathy nggak masalahkan?" tanya roy lagi penuh selidik.
Kepala xavier kembali menggeleng, "aku takut, aku mati rasa pada wanita dan imp*tensi karenanya"
Roy tertawa, namun kepala pria itu menggeleng tak setuju.
"apakah kamu tak memiliki sedikitpun informasi tentang perempuan itu?"
"tidak.." sahutnya lesu, " wajahnya saja samar dalam ingatanku"
"hhhhhhh" bersamaan xavier dan roy menghembuskan nafasnya.
Mereka saling pandang dengan raut bingung, xavier menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
"bagaimana kalau kamu menemui psikiater saja?" saran roy dengan hati-hati, menatap wajah xavier yang sedikit tersentak.
"aku yakin yang jadi masalah adalah psikismu, kamu harus melupakannya, xavi! Move on dari wanita itu"
"apa maksudmu move on?" tanya xavier kesal, matanya melotot.
"seakan-akan aku memiliki hubungan dengan wanita sialan itu"
Roy tertawa kecil, "akui saja bung!, kamu memang menganggap wanita itu spesial kan?"
Xavier mendengus kesal, dia tidak bisa menampik sama sekali. Ucapan roy membuat xavier tak berkutik, ia juga sadar memang perempuan itu benar-benar menyita pikirannya. Mungkin juga perempuan itu spesial, namun bukan spesial dalam artian asmara.
"apa yang paling kamu ingat dari perempuan itu?" tanya roy, setelah pria itu meletakkan gelas kopi yang baru disruputnya.
Xavier tertegun, matanya menerawang sedang mengingat sesuatu.
"aroma wanita itu, dia beraroma mint. Tubuhnya mungil berkulit putih, mungkin.." ujarnya ragu, kernyitan di keningnya masih terlihat.
Roy tercenung sesaat, "apakah malam itu kamu mabuk berat, sampai nggak bisa mengingat wanita itu" tanyanya penasaran.
Xavier mengangguk lagi, wajahnya lesu.
"itu, saat cathy menolak menikah denganku, karena oma memaksa kami harus memiliki anak. Seperti yang kamu tahu, cathy seorang model, memiliki anak sama dengan membunuh kariernya, kamu tahukan dia sangat mencintai profesinya itu"
"hhhhhhh" roy menghela nafasnya cukup keras.
"aku ingin membantumu, tapi info yang kamu miliki terlalu minim.."
Xavier mengangguk setuju, "sepertinya aku memang akan menikahi wanita pilihan oma, roy" nafasnya yang berat terdengar dari dengusannya.
"aku juga sudah lelah mencari wanita sialan itu"
<<<<<<<>>>>>>>
Xavier menghempaskan tubuhnya yang terasa penat ke ranjangnya.
Ranjang itu bergelombang menerima hempasan tubuhnya, tangan xavier sibuk membuka kancing jas, dan mencampakkan jas itu ke lantai.
Matanya menatap langit-langit kamarnya yang tinggi, benaknya masih sibuk berpikir. Apa sebenarnya yang membuat dia menjadi seperti ini.
Perempuan sialan itu, merenggut kepercayaan diri dan ego yang sangat tinggi yang ia punya. Saat ia terbangun pagi itu, xavier tidak menemukan siapapun di sisinya.
Hanya noda darah wanita itu yang membasahi seprei hotel, menjadi saksi bisu bahwa telah terjadi sesuatu sebelumnya.
Perempuan itu meninggalkan xavier bagai seonggok kotoran, hanya meninggalkan secarik kertas tertulis 'terima kasih'.
Bagaimana harga dirinya tak terluka, wanita manapun yang pernah tidur dengannya mengakui betapa perkasanya xavier. Dan wanita-wanita itu akan menempel seperti lem setan padanya, jika xavier membiarkannya.
Tapi perempuan sialan itu, meninggalkannya begitu saja. Seakan ia hanya seonggok kain bekas yang layak dibuang, tak berharga.
"hhhhhhhh" xavier kembali menghembuskan nafasnya yang terasa sesak.
Bagaimana mereka bisa terdampar di kamar hotel melati itu pun, xavier tak tahu. Yang ia ingat hanya, sejumlah uang yang ia ulurkan kepada seorang pria, untuk mencarikan dia seorang perempuan.
Perempuan biasa, itu yang xavier ingat. Dia tak mau perempuan penghibur atau lc atau apapun sebutannya.
Dia hanya meminta wanita biasa, karena xavier tak mau tertular penyakit, dan dia juga tak suka memakai pelindung.
Xavier mengernyitkan keningnya, ia teringat sesuatu. Malam itu, seingat xavier ia mencumbu wanita itu tanpa henti dan ia sangat yakin malam itu juga dia sama sekali tidak menggunakan pengaman apapun.
Bagaimana jika wanita itu hamil, apalagi dengan jelas ia tahu bahwa dia yang merenggut kehormatan gadis itu.
Tiba-tiba xavier terduduk, ia semakin mengernyitkan keningnya. Kenapa baru terpikir olehnya kemungkinan itu, xavier perlahan bangkit dari ranjangnya.
"aku harus menemukan wanita itu, harus. Aku nggak mau begini terus"
Xavier melepas kemeja dan celana panjangnya kasar, melemparkan ke atas keranjang pakaian kotornya, menunjukkan tubuh toplessnya dengan hanya boxer sebagai dalaman.
Tubuhnya yang tinggi besar, dengan bentuk 'v' terlihat sangat gagah. Ia melangkah ke kamar mandinya, xavier ingin berendam di air dingin.
Ia ingin mendinginkan berisiknya isi kepalanya itu, mungkin dengan berendam akan meredam keberisikan itu.
Xavier menuang busa mandi ke dalam bathupnya, setelah menyemprotkan aroma terapi dan juga menyalakan lilin. Ia bersiap masuk ke dalam bathup, namun tiba-tiba xavier teringat, sambil berendam pasti akan lebih nikmat jika di temani segelas wine.
Xavier menyambar handuknya, keluar kamar mandi, dan melihat gelas winenya yang terletak di atas meja dalam posisi terbalik.
Senyum khasnya terbit, menyadari betapa art di rumah omanya itu sangat paham kebiasaan yang ia punya.
Xavier membawa sebuah gelas dan sebuah botol wine ke dalam kamar mandinya, menuangkan ke dalam gelas berpinggang ramping itu.
Masuk ke dalam bathup berisi air dingin, dan mulai merileksasi tubuhnya dengan nyaman. Terdengar desah nafasnya lega, mata elangnya terpejam perlahan.
Bersambung...
nyonya wina kembali misuh-misuh, lagi dan lagi xavier tidak mau ketemu dengan wanita yang ingin dikenalkannya.
Di lobby kantor grup pratama jaya, nyonya wina berjalan terburu-buru. Beberapa sekuriti berdiri di depan pintu lift, menunggu nyonya wina masuk.
Mata tuanya memerah marah, cara apa lagi yang harus ia lakukan agar xavier mau menikah.
Suara hak sepatu 3 incinya berbunyi nyaring di lantai marmar, kantor xavier. Para eksekutif yang mengenal nyonya wina langsung berdiri hormat menyambut nyonya besar pemilik grup itu.
Leo tergopoh menghampiri wanita sepuh yang terlihat wibawa dan masih cantik itu, menunduk sopan menyambut.
"apa bosmu ada di ruangannya?"
Leo hanya mengangguk, langkahnya tetap tergopoh mengiringi langkah nyonya wina yang cepat.
"xaviii.."
Pintu itu didorong dengan sepenuh hati, nyonya wina sudah hampir memuntahkan isi kepalanya.
Namun ia menahannya, di kursi ceo, cucunya duduk dengan wibawa seperti sedang menanda tangani sesuatu. Sekretaris xavier terlihat menanti di sisi pria itu, berdiri dengan gesture menggoda.
"tckkkk..." tanpa sadar suara decihan keluar dari mulutnya.
Dia tahu, cucunya itu memang sangat mempesona, walau aura xavier dingin, namun tak membuat para perempuan berusaha berhenti menggodanya.
Para perempuan itu tak berani secara terbuka memang, namun gesture tubuh tak bisa berbohong, tepat seperti yang sekretaris xavier lakukan saat ini.
Nyonya wina duduk di sofa, dengan tetap mengamati sekretaris itu dengan tatapan tajamnya.
Xavier yang menyadari kedatangan omanya, beranjak dari kursi setelah menyerahkan dokumen itu ke tangan sekretarisnya yang sedikit menciut ketakutan karena tatapan nyonya wina.
"oma hampir membakar habis della dengan tatapan oma yang berapi itu" celetuknya sembari membuka kancing jasnya dan duduk di hadapan omanya.
Omanya menoleh cepat, menatap marah xavier yang hanya tersenyum tipis.
"kamu tertarik dengan sekretarismu itu?" suara ketus omanya membuat xavier tertawa kecil.
"bukankah oma bilang aku bisa menikahi siapapun"
"tapi bukan perempuan seperti itu, xaviii, apa menurut kamu oma ikhlas, perempuan seperti sekretarismu itu melahirkan keturunan pratama berikutnya!"
Xavier mengerutkan keningnya, " apa yang salah dengan della, dia lumayan cantik"
"astagaaa..." seru omanya kesal.
"tidak cukup hanya cantik untuk menjadi istrimu, dan kamu bilang si della itu cantik?astaga xaviii buka matamu, dia hanya memoles wajahnya dengan lapisan-lapisan cushion dan lainnya"
Oma wina masih mengomel kesal, ia memang ingin cucunya cepat menikah, tapi bukan berarti dia bisa menerima sembarang perempuan.
Xavier mendengus malas, "oma terlalu ribet!"
"ribet apanya?" tanya nyonya wina kesal, "emang kamu bangga bawa perempuan begituan di acara-acara keluarga dan resmi lainnya"
Xavier mengedikkan bahunya, matanya memutar malas.
"oma udah siapkan kencan buta untukmu, dengan putri dari keluarga santoso, mereka memang bukan dari keluarga pengusaha, mereka keluarga dokter. Santoso pemilik rumah sakit global care, kamu tahu!"
"trus..?" suara xavier terdengar malas, ia menyelonjorkan kakinya.
"geraldine santoso, wanita cantik dan cukup dewasa, xavi. Usianya baru 26 tahun dan sudah menjadi dokter spesialis di usia semuda itu"
"omaa..."
"ketemu dulu, lihat dan pertimbangkan. Gadis itu cukup cantik xaviii" sambar omanya cepat.
Xavier menghela nafasnya berat, matanya masih tetap menatap omanya lekat.
"menikahlah, oma mohon. Usia oma sudah 70 tahun xavi, oma ingin melihatmu menikah sebelum oma menyusul opa dan juga kedua orangtuamu"
"oma ngomong apa sih!"
Xavier kesal mendengarnya, ia berdiri menuju kursi kerjanya kembali.
"oma selalu ngomong begitu, setiap aku menolak kencan yang oma siapkan"
"kamu sudah 34 tahun, apakah oma nggak boleh resah?"
"oma.." xavier membalikkan tubuh menatap omanya dengan senyum lembut.
"aku akan cari sendiri wanita yang aku mau.."
Nyonya wina mengangguk senang, " tapi oma sudah terlanjur memesan makan malam untuk kalian berdua nanti malam, oma mohon xavi, cobalah sekali ini, lihat dulu wanita itu"
Xavier menghembuskan nafasnya lagi, dan kali ini terdengar cukup keras.
Kesal sekali rasanya melihat kegigihan neneknya itu, tapi melihat mata tua omanya yang mengerjab dan menatap penuh harap, tak tega rasanya xavier menolaknya.
"hhhhh, baiklah. Dimana kami harus bertemu?" suara xavier sama sekali tak terdengar antusias, namun nyonya wina tersenyum puas.
"di restoran sweet night"
<<<<<<<>>>>>>>
Xavier malam itu mengenakan jas semi formal, dia tidak mengenakan dasi. Potongan rambut undercutnya, dengan rambut tipis di sekitar dagunya yang membiru, menambah kesan maskulinnya.
Xavier memang tampan, bola matanya yang kebiruan didapatnya dari kakek pihak ibunya yang berasal dari rusia.
Xavier melangkah anggun menuju meja yang sudah omanya reservasi, ia datang lebih dulu. Xavier tak ingin ditunggu, akan lebih baik jika dia lebih duluan datang, agar bisa menilai wanita yang omanya siapkan itu.
"reservasi atas nama siapa pak?" tanya seorang pelayan pria yang menyambutnya sopan.
"wina pratama" jawabnya singkat dan datar, kedua tangannya berada dalam saku celana. Matanya mengitari seluruh ruangan yang tidak terlalu ramai malam ini.
"baik, silahkan!"
Pelayan itu mempersilahkan xavier duduk, setelah mengangguk hormat dan menyerahkan menu.
Xavier meletakkan daftar menu, tanpa melihatnya sedikitpun, ia menatap lekat pelayan itu.
"saya menunggu teman, nanti saya akan pesan jika teman saya sudah datang"
Pelayan itu mengangguk sopan, dan pergi meninggalkan xavier.
Xavier mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jari telunjuknya, sesekali matanya melirik arloji.
"heummm, 5 menit lagi, kalau wanita itu tidak nongol, aku pergi" gumamnya.
"xavier pratama?"
Xavier menengadah, menatap seseorang yang berdiri di depannya. Keningnya berkerut dengan raut wajah penuh tanya.
"saya geraldine santoso"
"oh.." sahut xavier singkat, dia berdiri menyambut uluran tangan wanita itu.
"silahkan duduk"
"maaf saya terlambat" pinta wanita itu dengan sorot penuh harap.
"jam dinas saya baru selesai, saya langsung kemari dari rumah sakit"
Xavier tersenyum tipis, terlihat sedikit sinis sebenarnya.
Perempuan oh perempuan, kenapa sangat suka berbohong untuk terlihat keren. Apa perempuan ini pikir, dia pria bodoh.
Bagaimana mungkin habis dinas, tapi dengan harum yang begitu semerbak dan juga tampilan yang begitu stylish.
Tidak ada kelelahan di wajah cantik sedikit oriental itu, jelas sekali kalau wanita itu baru selesai dari tempat perawatan.
"tidak apa-apa, saya juga baru sampai kok" sahut xavier datar, "silahkan pesan!" ia menyodorkan menu ke hadapan wanita itu yang menatap xavier lekat.
"saya panggilkan pelayan yah?" tawar xavier melihat wanita itu yang terlihat bingung memilih.
"kita tanya makanan apa yang rekomended di restoran ini"
"boleh.." angguk wanita itu cepat, dengan senyum manisnya.
Xavier melambaikan tangan, memanggil pelayan tadi.
"bisakah kamu panggilkan chef kamu kemari, kami pengen menanyakan langsung ke chef kamu, makanan yang rekomended di sini"
Pelayan itu terlihat bingung dan ragu, "saya tanya ke manager dulu pak"
Xavier mengangguk, mengamati pelayan itu menuju ke dapur.
"kenapa harus memanggil chefnya?" tanya geraldine setengah berbisik, mencondongkan tubuhnya ke depan.
"aku memiliki sedikit trust issue, jadi suka sedikit parnoan"
Wanita itu mengangguk paham, matanya menatap xavier penuh kagum.
"ada yang bisa saya bantu pak?"
Xavier menoleh, seorang pria bertubuh sedikit tambun berdiri di samping mejanya.
Mata pria itu membelalak kaget, "tuan xavier!" serunya.
"maaf, pelayan kami tak mengenali anda, ada yang bisa saya bantu"
Suara manager itu berubah lebih sopan dan hormat.
Xavier mengangguk tipis, "saya dan teman saya ingin makan, tapi saya ingin chef kalian yang menjelaskan makanan apa yang best seller di sini"
"baik pak" angguk pria tambun itu cepat, tangannya menjawil pelayan itu, untuk pergi memanggil chef.
Xavier terlihat mengobrol dengan manager tambun itu, ketika chef keluar dari dapur dengan wajah kesalnya.
"mas farid!" seru chef itu, menyentakkan xavier dan manager bernama farid itu.
"ngapain manggil aku?"
Mata chef itu melotot ke arah manager yang nyengir, chef itu hampir marah lagi, saat matanya menatap ke arah xavier, mulutnya terperangah tak percaya.
"pria itu!" gumamnya bersamaan dengan nafasnya yang terhembus kasar.
Xavier mengernyitkan matanya,menatap heran chef wanita itu yang melihatnya seperti melihat hantu.
Bersambung...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!