Suara roda brankar yang beradu dengan lantai keramik menggema di sepanjang lorong rumah sakit, membuat suasana semakin menegangkan. Di atas brankar itu, seorang wanita terbaring lemah dengan tubuh penuh luka. Dokter dan perawat yang mengelilinginya saling bertukar pandang dengan wajah cemas melihat kondisinya yang semakin memburuk.
"Bu, apakah Ibu masih bisa mendengar suara saya?" tanya seorang dokter sambil berjalan di samping brankar. "Kondisi Ibu gawat darurat. Apa ada keluarga yang bisa kami hubungi?"
Rani yang terbaring lemas hanya mampu mengangkat tangannya dengan susah payah dan menunjuk saku pakaiannya. Perawat yang berada di samping sang dokter segera mengerti. Setelah mendapat izin dari anggukan lemah Rani, ia mengambil ponsel wanita tersebut dan membuka kuncinya menggunakan pemindai wajah. Jemarinya bergerak cepat mencari nomor keluarga yang bisa dihubungi.
"Halo, apakah Anda keluarga dari pemilik ponsel ini?" tanyanya begitu sambungan tersambung.
Dari seberang hanya terdengar deheman singkat.
"Bisakah Anda datang ke Rumah Sakit Harapan? Pemilik ponsel ini dalam kondisi kritis dan harus segera menjalani operasi."
Namun jawaban yang diterimanya justru membuat langkahnya terhenti.
"Anda tidak perlu menemani Bu Rani berakting. Tapi kalau benar kondisinya kritis, hubungi saya lagi saat dia sudah mati."
Perawat itu tercengang. Ia bahkan belum sempat membalas ketika sambungan telepon diputus begitu saja. Menahan rasa tidak nyaman, ia kembali membuka daftar kontak dan mencoba menghubungi nomor lain yang tersimpan dengan nama Anak Pertama, Anak Kedua, dan Anak Ketiga.
Sayangnya, hasilnya tidak jauh berbeda. Tidak ada satu pun yang terdengar khawatir dan tidak ada yang berniat datang. Semua memberikan tanggapan dingin yang nyaris sama seperti pria pertama yang dihubunginya, yang belakangan ia ketahui adalah suami Rani.
Pintu ruang gawat darurat tiba-tiba terbuka. Seorang dokter yang baru masuk langsung menghentikan langkahnya saat melihat pasien di atas brankar.
"Itu Rani? Apa yang terjadi?" tanyanya terkejut.
"Wanita ini diduga mencoba bunuh diri dengan melompat dari lantai sepuluh, Dok," jawab seorang perawat. "Kondisinya kritis dan harus segera dioperasi. Tapi keluarganya sama sekali tidak peduli."
Raut wajah dokter Rico langsung berubah tegang. Tanpa membuang waktu, ia mengambil alih keadaan.
"Segera siapkan ruang operasi," perintahnya tegas. "Untuk masalah administrasi dan biaya, saya yang akan bertanggung jawab."
***
Seminggu berlalu sejak operasi itu dilakukan. Rani masih terbaring tak sadarkan diri di ruang perawatan intensif. Selama tujuh hari itu, tidak ada satu pun anggota keluarganya yang datang menjenguk atau sekadar menanyakan kabarnya. Hanya Rico yang selalu menyempatkan diri datang setelah menyelesaikan tugasnya di rumah sakit.
Sore itu, pria tersebut duduk di samping ranjang Rani sambil memandangi wajah wanita yang dulu begitu dikenalnya.
"Rani, apa yang sebenarnya terjadi padamu?" gumamnya pelan. "Kenapa sampai seperti ini? Bangunlah. Apa pun masalahmu, aku akan membantumu menyelesaikannya."
Tatapan Rico dipenuhi rasa iba. Namun beberapa detik kemudian matanya membelalak saat melihat jemari Rani bergerak. Kelopak mata wanita itu perlahan terbuka sebelum akhirnya ia bangun hingga posisi setengah duduk.
"Astaga!" seru Rico refleks.
Suara itu membuat Rani menoleh. Dengan wajah bingung, ia melepas masker oksigen yang menutupi hidung dan mulutnya lalu menatap Rico cukup lama.
"Ric? Kenapa kamu ada di sini?" tanya Rani penasaran.
Rico tidak menjawab. Ia justru buru-buru memeriksa kondisi Rani, memastikan kesadarannya benar-benar telah kembali.
"Apa sih?" Rani mengernyit tidak suka. "Aku baik-baik saja."
"Ran, jangan banyak bergerak dulu," cegah Rico dengan nada penuh khawatir.
"Aku bilang aku baik-baik saja." Rani menepis tangan Rico lalu melihat sekeliling ruangan dengan bingung. "Tunggu, aku harus segera ke ruang Dokter Roy. Aku belum menyelesaikan koasku."
Setelah mengatakan itu, ia bahkan berusaha melepaskan selang infus yang terpasang di tangannya.
"Ran!" Rico segera menahannya.
"Apa lagi?" keluh Rani. "Aku sudah terlambat. Dokter Roy pasti marah."
Mendengar itu, Rico seketika terdiam. Ada sesuatu yang terasa janggal, sangat janggal.
"Ran," panggilnya hati-hati. "Menurutmu sekarang tahun berapa?"
Rani menatapnya heran seolah sedang melihat orang aneh.
"Tahun dua ribu enam belas, tentu saja. Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Ia mendengkus kesal. "Sudahlah, jangan ikut mengujiku. Dokter Roy saja sudah cukup membuatku stres."
Jantung Rico seolah berhenti berdetak sesaat. Sebagai seorang dokter, ia langsung memahami apa yang sedang terjadi. Rani mengalami amnesia.
Wanita itu tidak mengingat kehidupannya sepuluh tahun terakhir dan sama sekali tidak menyadari bahwa waktu telah berlalu begitu jauh. Ia tidak mengingat pernikahannya dengan Roy, tidak mengingat bahwa dirinya telah menjadi ibu tiri bagi anak-anak Roy, dan tidak mengingat semua kejadian yang telah menghancurkan hidupnya hingga membuatnya memilih mengakhiri hidup.
Rani yang melihat tatapan Rico kini baru menyadari sesuatu. Ya, wajah Rico tampak lebih tua sepuluh tahun.
"Ric, sejak kapan kamu melakukan operasi wajah? Apa ini sedang tren?" tanya Rani.
"Kamu harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut, Ran. Akan kupanggil dokter saraf sekarang juga."
Mata Rani menyempit. Seingatnya, dirinya pingsan karena kelelahan, tetapi kenapa Rico ingin memanggil dokter saraf? Lalu, tanpa sengaja ia melihat kaca kecil di ruangan itu dan menangkap pantulan wajahnya sendiri.
"Ric, i-itu siapa?" tanyanya lagi dengan terkejut.
Rico mengikuti arah telunjuk Rani. "Itu kamu, Ran."
"Apa? Aku?" Rani menelan ludah kasar. Dulu ia adalah wanita cantik, modern, dan memiliki kehidupan yang cerah. Kenapa sekarang jadi seperti ini? Wanita tua yang kusut.
"Aku rasa kamu mengalami amnesia, Ran. Kamu melupakan semua kejadian dalam sepuluh tahun terakhir. Sekarang sudah tahun dua ribu dua puluh enam, bukan dua ribu enam belas."
"Apa?" ucapnya, lebih terkejut dibandingkan saat melihat wajahnya sendiri tadi.
Rani ingin menggerakkan kakinya, tetapi rasa sakit langsung menjalar. Punggung dan kepalanya juga berdenyut nyeri. Kini ia baru benar-benar menyadari keadaannya.
"Jadi, kenapa aku bisa begini? Lalu apa yang terjadi padaku?" tanyanya.
"Aku tidak tahu apa yang kamu alami, Ran. Sejak kamu menikah sepuluh tahun yang lalu, kamu menghindari kami semua. Kamu bahkan tidak pernah aktif lagi di organisasi IDI. STR-mu pun tidak pernah kamu perbarui lagi," jelas Rico.
Kepala Rani terasa semakin pusing. Menjadi dokter adalah impiannya sejak kecil, tetapi kenapa ia justru mengabaikan semuanya? Ia juga sudah mati-matian mengambil spesialis anak, tetapi kenapa ia malah menikah dan menjadi wanita tak berguna seperti ini?
Tunggu.
Menikah?
Kata itu terdengar begitu asing hingga membuat Rani bertanya-tanya siapa pria yang telah menjadi suaminya. Akhirnya, ia bertanya pada Rico, "Lalu siapa suamiku?"
"Dokter Roy," jawab Rico yang langsung membuat mata Rani berbinar.
Tuhan sepertinya masih berpihak pada Rani. Saat dirinya sudah berada di ujung tanduk kematian, ia justru diberi kesempatan untuk membuka mata sekali lagi dengan ingatan yang kembali ke usia dua puluh sembilan tahun, saat dirinya masih dipenuhi ambisi untuk meraih cita-cita menjadi dokter spesialis anak.
Hanya saja, kenyataan yang menantinya tidak semudah itu. Tubuhnya kini telah berusia tiga puluh sembilan tahun. Ia tidak lagi semuda dulu untuk memulai semuanya dari awal. Belum lagi statusnya yang kini adalah istri Dokter Roy. Masalahnya, Rani sama sekali tidak mengingat bagaimana kehidupan rumah tangga yang telah dijalaninya selama sepuluh tahun terakhir.
Dulu, ia memang mengagumi Dokter Roy. Pria itu tampan, cerdas, dan meskipun berstatus duda dengan tiga anak, hal itu tidak pernah menjadi masalah baginya. Karena itulah saat Rico mengatakan bahwa ia menikah dengan Roy, hatinya sempat berbunga-bunga.
Namun kegembiraan itu tidak bertahan lama. Jika benar kehidupan rumah tangganya bahagia, lalu kenapa ia sampai memilih mengakhiri hidup?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya hingga akhirnya, setelah kondisinya cukup membaik, Rani memutuskan pulang. Ia ingin melihat sendiri seperti apa kehidupan yang telah dijalaninya selama sepuluh tahun terakhir. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi hingga dirinya berubah menjadi seseorang yang bahkan tidak lagi dikenalnya.
Namun, begitu pintu rumah yang terasa begitu familiar itu terbuka, langkah Rani langsung terhenti. Sebuah bantal sofa melayang dan menghantam tepat di wajahnya.
"Mama sudah pulang? Apa Mama sudah bosan berakting terus?" bentak seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun.
Rani menurunkan bantal yang menutupi wajahnya. Matanya bergerak menyapu satu per satu penghuni rumah itu sebelum akhirnya berhenti pada sosok Roy yang duduk berdampingan dengan seorang wanita seusianya.
"Kak Rani, jangan marah atau cemburu, ya. Mas Roy dan anak-anak hanya kasihan padaku karena aku tidak punya keluarga. Makanya waktu tahun baru kemarin mereka menemaniku," ucap wanita itu dengan suara lembut.
Rani langsung mengenalinya, Sintia. Adik tingkatnya semasa kuliah yang dulu terang-terangan mengejar Roy.
"Oh, begitu," jawab Rani seenaknya sambil melangkah mendekat. Namun sebelum ia sampai di hadapan Roy dan Sintia, tiga pemuda langsung berdiri menghalangi jalannya.
"Mama jangan bertindak sembarangan lagi. Kasihan Tante Sintia, Mama selalu menekannya," ujar Aksan, anak pertama Roy.
"Benar. Kalau Mama bosan berpura-pura jadi ibu tiri yang baik, mending tunjukkan saja sifat Mama yang sebenarnya. Capek tahu lihat Mama terus berakting jadi ibu tiri seperti peri," imbuh Arlan.
"Pokoknya aku nggak suka Mama selalu mengancam Tante Sintia. Mama selalu bertingkah baik di depan Papa, padahal aslinya busuk," sahut Arjun tak kalah tajam.
Rani menatap ketiganya bergantian. Tak terasa dadanya menjadi sesak.
Ia mengenal dirinya sendiri. Sejak dulu ia selalu menyukai anak-anak. Mungkin alasan terbesarnya dulu menerima status Roy sebagai duda adalah karena ia yakin bisa menyayangi ketiga anak itu seperti anak kandungnya sendiri. Namun sekarang, tidak ada satu pun dari mereka yang berdiri di sisinya. Mereka bahkan memojokkannya demi seorang wanita luar.
"Kalian bilang apa?" tanya Rani pelan sambil menunjuk ke arah Sintia. "Aku pura-pura jadi ibu tiri yang baik? Aku mengancam dia?"
"Cukup, Rani!" bentak Roy yang sejak tadi hanya diam.
Rani menoleh. Untuk sesaat ia memperhatikan wajah pria yang katanya telah menjadi suaminya selama sepuluh tahun terakhir. Waktu memang berlalu, tetapi tidak banyak yang berubah dari Roy. Di usia sekitar empat puluh lima tahun, pria itu tetap terlihat tampan dengan pembawaannya yang tegas dan maskulin.
"Sekarang kamu minta maaf pada Sintia," lanjut Roy.
Kening Rani langsung berkerut. Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Kenapa semua orang menatapnya seperti penjahat?
"Kenapa aku harus minta maaf? Apa salahku?" tanyanya.
Roy tertawa sinis. "Kamu masih bertanya? Beberapa hari ini kamu memang pergi dari rumah, tapi sifat kejam itu ternyata tidak berubah. Kamu yang menyuruh orang mengobrak-abrik apartemen Sintia, kan?"
Rani tertegun. "Aku menyuruh orang mengobrak-abrik apartemennya?"
"Iya."
Rani menatap Roy tidak percaya. "Dok... eh, Mas... eh, Suami... ah, entahlah." Ia mengacak rambutnya frustrasi. "Kamu yakin aku yang menyuruh mereka?"
Roy menatapnya tajam. Sementara Rani balik menatap pria itu tanpa berkedip.
"Kamu tahu selama ini aku ada di mana?" tanyanya pelan.
Sintia tak ingin aktingnya terbongkar. Ia segera menarik ujung lengan baju Roy dengan wajah penuh kepura-puraan.
"Mas, sudah. Jangan bertengkar dengan Kak Rani karena aku." Suaranya terdengar lembut dan rapuh. "Aku sudah terbiasa dengan perlakuan Kak Rani. Lagi pula sekarang aku sudah aman karena kalian mengizinkanku tinggal di sini."
Mata Rani langsung membulat. "Tinggal di sini?"
"Iya." Arlan menjawab lebih dulu. "Tante Sintia nggak punya siapa-siapa. Lagi pula apartemennya habis diacak-acak orang suruhan Mama."
Rani mengangguk pelan. "Oh."
Reaksi itu justru membuat semua orang bingung karena tidak ada amarah ataupun teriakan apalagi tatapan penuh kebencian seperti yang mereka bayangkan.
"Oh?" ulang Arjun tidak percaya.
"Iya, oh." Rani kembali mengangguk. "Kalau memang dia nggak punya tempat tinggal sementara, ya tidak masalah tinggal di sini."
Kali ini yang terdiam justru seluruh penghuni rumah. Bahkan Sintia sampai kehilangan senyumnya selama beberapa detik.
"Tapi..." lanjut Rani sambil menatap wanita itu dari ujung kepala sampai kaki, "kalau aku jadi dia, sih, aku pasti nggak akan nyaman tinggal di rumah laki-laki yang sudah beristri."
Wajah Sintia langsung menegang.
Aksan mengepalkan tangannya. "Mama mulai lagi!"
"Aku mulai apa?" Rani terlihat benar-benar bingung. "Aku cuma bilang kalau aku jadi dia."
"Kak Rani..." Sintia memanggil dengan suara bergetar.
Rani mengangkat satu tangan.
"Eits, jangan menangis dulu. Aku lagi pusing." Ia menoleh ke arah Roy. "Dokter Roy, eh suamiku, boleh aku tanya sesuatu?"
Roy mengernyit mendengar cara bicara Rani yang terasa berbeda.
"Apa?"
"Sepuluh tahun lalu kamu menikah denganku karena cinta atau karena kasihan?"
Ruangan langsung sunyi. Rani mengajukan pertanyaan itu dengan wajah polos, tetapi justru membuat Roy kesal setengah mati.
Sementara Rani kembali berbicara sebelum siapa pun sempat membuka suara.
"Soalnya aku kenal diriku sendiri." Ia menunjuk dirinya sendiri. "Aku mungkin bodoh karena cinta, tapi aku nggak mungkin menikah dengan laki-laki yang masih menyimpan perempuan lain di dalam rumahnya."
"Rani!" bentak Roy.
"Apa?" Rani balik menatapnya. "Aku cuma bertanya."
"Kamu keterlaluan."
"Yang keterlaluan aku?" Rani menunjuk dirinya sendiri lalu mengalihkan telunjuknya ke arah Sintia. "Aku baru pulang dan mendapati ada perempuan lain tinggal di rumahku. Tiga anak tiriku membenciku. Suamiku menyuruhku minta maaf. Terus sekarang yang keterlaluan aku?"
Roy langsung terdiam.
Namun Aksan tidak bisa menahan diri. Pemuda itu melangkah maju dengan tatapan penuh kebencian.
"Mama jangan sok lupa dengan apa yang sudah terjadi. Kalau saja Mama nggak naik ke tempat tidur Papa, Mama nggak akan pernah jadi ibu kami."
Ucapan itu membuat ruangan seketika sunyi. Bahkan Sintia yang tadi pura-pura sedih pun menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan senyum tipis di bibirnya.
Sementara itu, Rani membeku di tempat. Tanpa sadar ia menelan ludahnya kasar.
Naik ke tempat tidur Roy? Dirinya? Benarkah? Kepalanya mendadak terasa semakin pusing.
Tawa Rani mendadak memenuhi ruangan itu hingga membuat semua orang terkejut. Selama ini Rani nyaris tak pernah membantah. Jangankan tertawa keras seperti sekarang, berbicara dengan nada sedikit tinggi saja hampir tidak pernah ia lakukan. Wanita itu selalu menjadi istri dan ibu yang penurut.
"Apa yang Mama tertawakan?" tanya Arjun dengan kening berkerut.
Rani mengusap sudut matanya yang sampai berair karena tertawa. "Aku menertawakan tuduhan kalian."
Tatapannya beralih pada ketiga anak Roy. "Coba lihat kalian bertiga. Aksan umur dua puluh tahun, Arlan delapan belas tahun, dan Arjun enam belas tahun. Kalian lahir dengan jarak yang begitu dekat. Kalau dipikir-pikir, bukankah ibumu terus-menerus hamil dan melahirkan sampai akhirnya meninggal? Tapi sekarang justru aku yang dianggap perempuan paling jahat di rumah ini karena naik ke ranjang papamu."
"Rani!" bentak Roy.
Rani menoleh tanpa sedikit pun terlihat takut. "Aku salah bicara?"
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya hingga tubuhnya terhuyung ke belakang.
"Jaga mulutmu, Rani!" bentak Roy dengan wajah memerah.
Sintia yang berdiri tak jauh dari sana buru-buru meraih lengan Rani seolah ingin menolongnya. Namun saat mendekat, wanita itu justru berbisik pelan di telinganya.
"Tamat riwayatmu, Kak."
Sorot mata Rani langsung berubah dingin. Ia mendorong tubuh Sintia menjauh darinya. Dorongan itu sebenarnya tidak kuat, tetapi Sintia justru memanfaatkannya dengan baik. Wanita itu menjatuhkan dirinya ke lantai hingga tubuhnya membentur sofa.
"Ah!"
"Sintia!"
"Tante!"
Roy dan ketiga anaknya langsung berhamburan menghampiri Sintia. Mereka sibuk memeriksa keadaan wanita itu tanpa satu pun menoleh ke arah Rani yang baru saja ditampar.
Melihat pemandangan itu, Rani hanya mendengus pelan. Kini ia mulai mengerti kenapa dirinya sampai memilih mengakhiri hidup. Keluarga yang telah ia bangun selama sepuluh tahun ternyata tidak memiliki seorang pun yang berdiri di sisinya. Bahkan setelah melihatnya ditampar, perhatian mereka tetap tertuju pada Sintia.
"Bagaimana aku bisa hidup selama sepuluh tahun bersama mereka?" gumamnya pelan. "Apa yang membuatmu bertahan selama ini, Ran? Apa kamu benar-benar sudah sebuta itu?"
Dadanya terasa sesak, tetapi ia memaksa dirinya tetap berdiri tegak. Jika saja ia tidak kehilangan ingatan, mungkin saat ini ia hanya mampu menangis menerima perlakuan seperti ini. Namun Rani yang sekarang adalah Rani berusia dua puluh sembilan tahun, Rani yang masih memiliki harga diri dan keberanian untuk mempertanyakan semua hal yang dianggap normal oleh orang-orang di rumah ini.
Setelah membantu Sintia berdiri, Roy dan ketiga anaknya berjalan mendekati Rani. Cara mereka menatap wanita itu seolah Rani baru saja melakukan kesalahan besar yang tidak bisa dimaafkan.
"Mama minta maaf pada Tante Sintia," ucap Aksan.
"Ran, kamu sudah melukai Sintia. Sekarang minta maaf atau aku tidak akan memaafkanmu," imbuh Roy dengan nada dingin.
Rani justru menarik sudut bibirnya. Minta maaf? Seolah kata itu akan mudah keluar dari mulutnya setelah semua yang terjadi. Seolah mereka bisa terus menginjak harga dirinya dan berharap ia menerimanya begitu saja.
"Minta maaf?" ulang Rani pelan. "Tidak akan."
Penolakan itu langsung membuat keempat lelaki tersebut tersulut emosi. Seperti kebiasaan yang tampaknya sudah sering terjadi selama ini, mereka berniat memaksa Rani untuk mengalah. Roy menjadi orang pertama yang bergerak. Sebuah tamparan kembali mendarat di wajah Rani, sementara ketiga anaknya membantu menahan tubuh wanita itu agar berlutut di hadapan Sintia.
Rani yang baru keluar dari rumah sakit tentu kewalahan menghadapi tenaga empat lelaki sekaligus. Tubuhnya masih lemah dan kepalanya masih terasa nyeri. Namun di tengah kepanikan itu, ia teringat sesuatu. Dulu, saat masih kuliah, ia pernah mengikuti latihan bela diri untuk mengisi waktu luang.
Mungkin gerakannya sudah tidak secepat dulu, tetapi ingatan tubuhnya masih ada.
Dengan susah payah, Rani menghentakkan siku ke arah Arlan, menginjak kaki Arjun, lalu mendorong Aksan hingga kehilangan keseimbangan. Ketiganya langsung terlepas dari tubuhnya dan terjatuh dengan posisi berantakan.
Roy menatapnya dengan wajah terkejut. Begitu pula ketiga anaknya. Dalam ingatan mereka selama ini Rani selalu diam. Ia tidak pernah melawan.
"Kamu ingin aku minta maaf?" tanya Rani sambil menatap Roy.
Meski terkejut dengan perubahan sikap istrinya, Roy tetap memasang wajah otoriternya.
"Tentu saja. Kamu harus minta maaf pada Sintia dan pada anak-anak."
Rani mendengus pelan sebelum melangkah ke arah Sintia.
Entah kenapa, Sintia langsung mundur selangkah. Jantungnya berdebar tidak nyaman. Padahal selama ini dialah yang selalu membully Rani. Namun wanita di hadapannya sekarang terasa berbeda. Tatapan itu tidak lagi penuh ketakutan atau kepasrahan.
Tatapan itu membuatnya merasa kecil, sangat kecil. Belum sempat Sintia menjauh lebih jauh, tangan Rani lebih dulu terangkat.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi kanannya. Tubuh Sintia langsung terpaku.
"Ka-Kamu berani menamparku?" ucap Sintia dengan suara bergetar sambil memegangi pipinya.
"Rani!" bentak Roy.
Namun Rani sama sekali tidak menggubrisnya. Ia justru mengangkat tangan sekali lagi.
Plak!
Tamparan kedua mendarat di pipi sebelah kiri. Kini kedua sisi wajah Sintia sama-sama memerah. Rani menatap wanita itu tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Tidak adil, kan?" ujarnya santai. "Kalau hanya aku yang dapat bekas tamparan di wajah, sementara kamu sejak tadi berdiri di belakang mereka sambil tersenyum penuh kelicikan."
Mendengar perkataan Rani, Sintia memegangi kedua pipinya yang memerah. Air mata langsung menggenang di pelupuk matanya. Namun berbeda dengan Rani yang sedang dikuasai emosi, Sintia justru tetap berusaha tenang dan berpikir cepat. Perubahan sikap Rani itu membuatnya merasa terancam.
"Mas..." panggil Sintia lirih.
Roy yang sejak tadi menahan amarah langsung menghampirinya.
"Sakit?" tanyanya.
Sintia menggeleng pelan. Air matanya jatuh satu per satu. "Aku tidak apa-apa."
Kalimat itu justru membuat Roy semakin marah.
"Apa maksudmu tidak apa-apa? Lihat wajahmu!"
Sintia menggigit bibir bawahnya lalu menatap Rani dengan mata yang seolah penuh ketakutan.
"Kak Rani memang selalu seperti ini. Aku sudah terbiasa."
Rani langsung mendengus. "Oh, jadi kita masuk ke babak sandiwara sekarang?"
"Kak..." suara Sintia bergetar. "Kalau memang Kakak membenciku, aku bisa pergi dari rumah ini."
"Bagus."
Jawaban cepat Rani membuat semua orang terpaku. Bahkan Sintia tidak menyangka wanita itu akan menjawab secepat itu.
"Pergi saja."
"Kak Rani!" seru Sintia dengan wajah terluka.
"Loh?" Rani mengangkat kedua alisnya. "Bukannya itu usulmu sendiri?"
Wajah Sintia langsung kaku sesaat sebelum kembali memasang ekspresi sedih.
"Mas, aku tidak ingin membuat keluarga kalian semakin hancur."
"Yang menghancurkan keluarga ini bukan kamu," potong Roy tegas.
Senyum tipis hampir lolos dari bibir Sintia. Untungnya ia berhasil menahannya tepat waktu. Namun sayangnya, senyum sepersekian detik itu tertangkap oleh Rani.
Rani merasa menemukan sesuatu. Wanita ini tidak sesederhana yang terlihat.
Sementara itu, Sintia kembali memainkan perannya dengan sempurna. Ia menundukkan kepala lalu berkata pelan, "Aku hanya tidak tega melihat Mas Roy terus disakiti. Selama ini Mas Roy sudah berusaha menjadi suami yang baik, tapi Kak Rani selalu curiga dan marah-marah."
Ketiga anak Roy langsung mengangguk.
"Iya, Tante benar," sahut Arjun.
"Papa selalu mengalah," tambah Arlan.
"Kalau bukan karena Tante Sintia, kami bahkan tidak tahu harus cerita ke siapa," imbuh Aksan.
Mata Rani perlahan menyipit. Jadi selama ini Sintia bukan hanya mendekati Roy. Wanita itu juga masuk ke hati ketiga anaknya. Bahkan mungkin jauh lebih dalam daripada yang ia bayangkan.
Sintia kemudian menatap Roy dengan mata berkaca-kaca. "Mas, mungkin aku memang seharusnya pergi."
Roy langsung menggenggam bahunya. "Tidak. Kamu tidak akan pergi ke mana-mana."
Jawaban itu membuat suasana mendadak hening. Namun dimenit berikutnya Roy berkata, "Panggil satpam dan kurung dia!"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!