Indonesia
NovelToon NovelToon

Kebangkitan Istri Yang Direndahkan

Bab 1

...Penyesalan Astrid adalah terlalu banyak berkorban untuk keluarga yang tidak pernah menghargainya....

"Selamat ya, Dokter Lucas. Menjadi Kepala Departemen Bedah di usia semuda ini benar-benar pencapaian yang luar biasa."

Senyum lebar terukir di wajah Lucas saat ia menjabat tangan salah satu koleganya. "Terima kasih."

Malam itu aula hotel mewah dipenuhi para dokter, petinggi rumah sakit, rekan bisnis, dan keluarga besar. Acara syukuran yang digelar untuk merayakan pengangkatan Lucas sebagai Kepala Departemen Bedah berlangsung meriah.

Lucas menjadi pusat perhatian. Ke mana pun ia berjalan, selalu ada orang yang menghampiri untuk mengucapkan selamat. Semua orang memuji kesuksesannya dan mengaguminya.

Sebagai istrinya, Astrid berdiri tidak jauh dari sana.

"Bu Astrid." Seorang wanita paruh baya menghampirinya sambil tersenyum ramah.

Astrid mengenalnya sebagai istri salah satu dokter senior di rumah sakit tempat Lucas bekerja.

"Kamu pasti bangga sekali dengan pencapaian suamimu."

"Iya." Astrid tersenyum tulus.

"Dokter Lucas memang luar biasa. Dari dulu saya sudah yakin dia akan menjadi orang besar."

Astrid mengangguk. Matanya tanpa sadar tertuju pada Lucas yang sedang berbincang dengan beberapa petinggi rumah sakit.

Astrid selalu menemani setiap langkah proses Lucas dari mulai kuliah jurusan kedokteran. Mendukung setiap perjuangannya. Mendengar setiap keluh kesahnya. Melihat semua jerih payahnya. Lalu malam ini, melihat suaminya berdiri di puncak keberhasilan, seharusnya membuatnya ikut bahagia.

"Dokter Lucas beruntung memiliki istri yang selalu mendukungnya."

Astrid tersenyum malu. Namun sebelum ia sempat menjawab, suara lain terdengar dari belakang.

"Oh, soal itu saya tidak begitu yakin."

Senyum Astrid langsung membeku. Ia mengenali suara itu. Marta, ibu mertuanya.

Wanita paruh baya itu berjalan mendekat dengan gaun merah marun yang terlihat mahal. Senyum tipis menghiasi bibirnya.

Astrid tahu betul, senyum seperti itu selalu menjadi pertanda buruk.

"Maksud Anda?" tanya wanita tadi bingung.

Marta terkekeh kecil. "Lucas memang beruntung dalam banyak hal."

Tatapannya perlahan beralih ke Astrid. "Tapi kalau urusan istri."

Marta menghela napas panjang. "Saya rasa anak saya pantas mendapatkan wanita yang lebih baik."

Ruangan di sekitar mereka seketika terasa sunyi. Astrid merasakan darahnya seperti berhenti mengalir. Wanita yang tadi berbicara dengannya terlihat salah tingkah.

Marta belum selesai. Tatapannya turun dari kepala hingga kaki Astrid, lalu kembali naik ke wajahnya.

"Kalau aku jadi kamu, aku pasti malu keluar rumah."

Kalimat itu meluncur begitu saja di tengah ramainya acara, dari mulut Marta. Wanita paruh baya berpenampilan glamor.

Tawa dan obrolan para tamu masih terdengar di berbagai sudut ruangan, tetapi bagi Astrid, semua suara itu seolah menghilang dalam sekejap. Tangannya membeku.

Perlahan, Astrid mengangkat wajah. Di hadapannya berdiri Marta, ibu mertuanya. Wanita itu sedang tersenyum. Namun, senyum itu sama sekali tidak mengandung kehangatan. Sebaliknya, senyum itu penuh ejekan.

"Kenapa Ibu bilang begitu?" tanya Astrid pelan.

Marta menghela napas panjang seolah sedang menghadapi seseorang yang sangat menyebalkan.

"Aku bilang, kalau aku jadi kamu, aku pasti malu menampakkan diri di depan orang banyak."

Beberapa tamu yang berada di dekat mereka langsung menghentikan percakapan. Tatapan mereka berpindah dari Marta ke Astrid. Mereka tahu kalimat itu bukan bercanda, itu penghinaan. Dan penghinaan itu sengaja dilontarkan di depan banyak orang.

Astrid merasakan tenggorokannya mengering. "Ibu ...."

"Coba lihat dirimu." Marta menunjuk tubuh Astrid tanpa ragu sedikit pun.

"Dulu waktu Lucas mengenalkanmu ke keluarga, kamu cantik. Tubuhmu langsing. Semua orang memuji penampilanmu." Tatapan wanita itu turun dari kepala hingga kaki Astrid.

"Sedangkan sekarang?" Marta tertawa kecil. "Astaga. Aku bahkan hampir tidak mengenalimu."

Beberapa orang tampak tidak nyaman. Namun, tidak ada yang berani menyela.

Astrid menundukkan kepala. Panas mulai menjalar ke wajahnya. Ia tahu apa yang dilihat orang-orang saat memandangnya. Tubuh gemuk, pipi yang membulat. Lengan yang tidak lagi ramping. Ia tahu semuanya. Karena setiap kali bercermin, ia melihatnya juga.

Setelah melahirkan putrinya dua tahun lalu, tubuh Astrid berubah drastis. Berbagai cara sudah dicoba. Diet, olahraga, mengurangi porsi makan, namun berat badannya tetap sulit turun.

Belum lagi waktu dan tenaganya habis untuk mengurus suami, anak, dan kebutuhan keluarga. Akan tetapi semua pengorbanan itu tidak pernah terlihat. Yang dilihat orang hanya bentuk tubuhnya.

"Astrid sudah berusaha, Bu," ujar salah satu kerabat mencoba menengahi.

Marta mendengus. "Berusaha?" Wanita itu tertawa sinis. Lalu, lanjut berkata, "Kalau itu namanya berusaha, berarti aku tidak tahu lagi apa arti kata menyerah."

Tawa kecil terdengar dari beberapa orang. Mungkin mereka tidak bermaksud jahat, hanya ikut tertawa karena suasana.

Namun, tetap saja tawa itu terasa seperti tamparan yang mengenai wajah Astrid. Ia menggigit bibir bagian dalam agar tidak menangis.

"Tidak. Aku tidak boleh menangis. Tidak di sini. Apalagi di depan mereka semua," batin Astrid.

Saat itulah sebuah suara terdengar dari belakang. "Sudahlah."

Jantung Astrid langsung berdebar. Lucas, suaminya datang menghampiri. Pria itu mengenakan jas hitam yang membuatnya terlihat semakin tampan dan berwibawa.

Malam ini adalah malam penting baginya. Banyak dokter, kolega, dan petinggi rumah sakit hadir untuk merayakan keberhasilannya mendapatkan posisi baru.

Astrid menatap Lucas dengan harapan yang tiba-tiba tumbuh di dalam dadanya. Akhirnya ada seseorang akan membelanya. Dia berharap suaminya akan menghentikan semua ini.

Namun, harapan itu hanya bertahan beberapa detik. Karena Lucas berdiri tepat di samping ibunya.

"Bukankah Ibu hanya mengatakan kenyataan?"

Wajah Astrid langsung pucat. Seolah darah di tubuhnya menghilang begitu saja.

"Apa?"

Lucas memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Ekspresinya datar tidak ada kemarahan, keberatan, atau pembelaan untuk istrinya.

"Astrid, kamu memang harus bisa menjaga diri."

Jantung Astrid seperti diremas. "Kamu juga berpikir begitu?"

Lucas mengembuskan napas panjang. "Aku sudah berkali-kali membicarakan hal ini denganmu."

"Apa kamu malu padaku?" Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Lucas terdiam. Dan diamnya jauh lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.

Astrid merasakan sesuatu runtuh di dalam dirinya. Selama ini ia selalu mencoba meyakinkan diri bahwa Lucas masih mencintainya. Bahwa suaminya hanya khawatir tentang kesehatannya. Ternyata semua hanya perasaannya saja.

Malam ini, akhirnya Astrid tahu kebenarannya. Lucas memang malu memiliki dirinya. "Apa aku sering jadi bahan pembicaraan teman-temanmu itu?" tanyanya lirih.

Lucas memalingkan wajah.

Seketika air mata memenuhi mata Astrid. Dadanya terasa sesak. Seolah seseorang sedang menginjak-injak hatinya di depan umum.

Marta kembali berbicara. "Aku sudah bilang sejak dulu, Lucas pantas mendapatkan wanita yang lebih baik."

Kali ini beberapa tamu benar-benar terkejut. Ucapan itu terlalu kejam dan sangat terang-terangan. Namun, Marta tidak peduli. Tatapannya tetap tertuju pada Astrid.

"Lihat istri para dokter di sini." Marta menunjuk ke beberapa wanita yang menjadi tamu undangan.

Astrid mengikuti arah pandangannya. Para wanita yang berdiri di sekitar ruangan memang terlihat cantik. Tubuh mereka ramping. Penampilan mereka elegan. Sebagian besar memiliki karier yang membanggakan.

"Lalu, lihat dirimu! Kamu tidak bekerja. Kamu tidak punya prestasi. Kamu bahkan tidak menjaga penampilanmu."

Kalimat itu menghantam begitu keras. Mata Astrid mulai kabur oleh air mata. Setiap kata terasa seperti pisau, menusuk tanpa ampun. Padahal selama enam tahun terakhir, hidupnya hanya berputar untuk keluarga.

Saat Lucas masih berjuang menyelesaikan pendidikan spesialisnya, Astrid yang mengatur keuangan rumah tangga. Saat Lucas pulang larut malam karena tugas rumah sakit, Astrid yang menunggunya.

Saat putri mereka lahir dan sakit, Astrid yang begadang semalaman. Ia memberikan seluruh waktunya, seluruh tenaganya, seluruh hidupnya, untuk keluarga. Namun malam ini, semua itu seolah tidak pernah ada. Yang mereka lihat hanyalah kekurangannya. Bukan pengorbanannya.

"Sebagai istri seorang dokter, seharusnya dia bisa menjaga pola hidup. Tubuhnya obesitas, sehingga malah merendahkan profesi suaminya yang seorang dokter," celetuk salah seorang tamu undangan.

"Benar. Pastinya akan banyak orang bertanya-tanya, kenapa istrinya Dokter Lucas badannya obesitas? Apa Dokter Lucas tidak bisa mengobatinya?" lanjut yang lain berbisik.

Astrid menatap Lucas dengan berharap. Mungkin suaminya akan mengatakan sesuatu yang akan membelanya.

Namun, Lucas tetap diam. Diam yang terasa lebih menyakitkan daripada penghinaan Marta. Karena diam itu berarti setuju.

Semua orang terdiam. Tidak ada lagi yang tawa ataupun bisik-bisikan.

Kini, hanya suara napas Astrid yang terdengar tidak teratur. Air mata mengalir tanpa bisa ditahan.

Namun anehnya, di tengah rasa sakit yang luar biasa itu, sesuatu perlahan berubah di dalam dirinya, harapan. Rasa yang selama ini selalu dia pertahankan, akhirnya mati pada malam itu.

Perlahan Astrid mengangkat wajah. Matanya yang basah menatap Lucas lalu Marta, bergantian.

"Aku mengerti sekarang." Suara Astrid sangat pelan. Namun, seluruh ruangan dapat mendengarnya.

Lucas mengernyit. "Mengerti apa?"

Astrid menghapus air matanya sendiri. Bukan karena ia sudah tidak sedih. Melainkan karena ia tidak ingin mereka melihat kelemahannya lagi.

"Aku mengerti bagaimana kalian memandangku."

Marta melipat tangan di dada. "Lalu?"

Astrid menarik napas panjang. Satu tarikan napas yang terasa seperti perpisahan dengan kehidupan lamanya.

"Aku akan mengingat malam ini. Aku akan mengingat setiap hinaan yang kalian berikan." Tatapan Astrid membuat senyum Marta perlahan memudar.

Jantung Lucas tiba-tiba berdebar tidak nyaman. Ada sesuatu dalam tatapan istrinya yang berbeda. Tatapan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Bukan tatapan wanita yang terluka, tetapi tatapan seseorang yang sudah kehilangan segalanya dan tidak lagi takut kehilangan apa pun.

"Suatu hari nanti, kalian akan menyesali kejadian malam ini." Suara Astrid terdengar tenang.

Setelah mengatakan itu, Astrid berbalik. Melangkah meninggalkan aula, melewati para tamu yang terdiam. Tidak seorang pun mencoba menghentikannya ataupun yang mengejarnya.

Tidak seorang pun menyadari bahwa malam itu mereka baru saja menghancurkan seorang wanita yang selama ini selalu diam. Karena beberapa luka tidak membuat seseorang hancur, justru melahirkan seseorang yang baru. Seseorang yang suatu hari nanti akan membuat mereka menyesal telah meremehkannya.

***

Assalamualaikum, semua. Aku kembali membuat karya baru, semoga kalian suka. Jangan lupa selalu klik like dan tinggalkan jejak lainnya sebagai dukungan.

Bab 2

Begitu pintu aula tertutup, kaki Astrid langsung kehilangan tenaga. Tubuh dia terhuyung, tangannya buru-buru menahan diri pada dinding terdekat agar tidak jatuh. Napasnya terasa sesak. Bukan karena lelah atau karena terlalu banyak berjalan, melainkan karena rasa sakit yang memenuhi dadanya. Sakit yang terlalu besar untuk ditahan.

Air mata yang sejak tadi dipaksanya bertahan akhirnya jatuh bercucuran tanpa bisa dihentikan. Hingga akhirnya berubah menjadi tangisan yang tidak bisa dihentikan.

"Kenapa ...." Suara Astrid pecah. "Kenapa harus di depan semua orang?"

Astrid menutup mulutnya sendiri. Namun, isakan itu tetap lolos. Tubuhnya gemetar hebat.

Orang-orang mungkin mengira penghinaan Marta adalah hal yang paling menyakitkan malam ini. Padahal bukan. Yang benar-benar menghancurkannya adalah Lucas, suaminya.

Pria yang pernah berjanji akan melindunginya. Orang yang pernah menggenggam tangannya di depan altar dan bersumpah akan mencintainya dalam keadaan apa pun.

Pria itu berdiri di sana mendengar dan melihat semuanya, namun malah memilih diam. Bahkan Lucas setuju dengan apa yang diucapkan oleh ibunya.

Astrid merasakan dadanya seperti diremas hingga hancur. Enam tahun hidupnya ia berikan untuk pria itu. Saat Lucas masih menjadi dokter muda dengan penghasilan yang belum seberapa, Astrid yang membantu mengatur keuangan mereka.

Saat Lucas harus belajar hingga larut malam untuk mengejar gelar spesialis, Astrid yang memastikan semua kebutuhan rumah tangga beres.

Saat putri mereka lahir dan terus menangis semalaman karena demam, Astrid yang terjaga hingga pagi.

Sedangkan Lucas? Lucas tidur karena harus bekerja esok hari.

Astrid tidak pernah mempermasalahkannya. Karena ia mencintai pria itu, sangat mencintainya.

Namun malam ini, untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri. Apakah Lucas pernah mencintainya sebesar itu?

Ponselnya berdering. Nama Lucas muncul di layar.

Astrid menatapnya. Air mata kembali mengalir. Dulu, melihat nama itu selalu membuatnya tersenyum. Sekarang yang ia rasakan hanya nyeri.

Telepon terus berdering. Akhirnya Astrid mengangkatnya.

"Ada apa?" tanya Astrid dengan suara yang serak.

"Astrid, kamu di mana?" Lucas malah balik bertanya dengan nada ketus.

Tidak ada kata permintaan maaf atau rasa penyesalan. Kalimat pertama itu langsung membuat hati Astrid semakin dingin.

"Apa pentingnya kamu tahu aku ada di mana?"

"Jangan seperti anak kecil." Suara Lucas di sebrang sana semakin meningkat.

Astrid tertawa. Tawa yang terdengar menyedihkan.

Anak kecil? Setelah semua yang terjadi, Lucas masih berpikir dirinya yang salah?

"Kamu mempermalukan dirimu sendiri malam ini," lanjut Lucas marah.

Kalimat itu membuat Astrid membeku. "Apa?"

"Kamu membuat suasana pesta jadi tidak nyaman."

Air mata Astrid terhenti. Ia bahkan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Aku yang membuat suasana tidak nyaman?"

"Kalau saja kamu bisa mengendalikan emosimu—"

"Cukup!" Astrid berteriak kepada Lucas. Itu pertama kali dia melakukannya selama pernikahan mereka.

Suara itu membuat Lucas langsung diam.

"Kamu bilang aku mempermalukan diriku sendiri?" Napas Astrid memburu. "Lucas, ibumu menghina aku di depan semua orang."

Lucas masih diam, tidak menyahut ucapan Astrid.

"Kamu yang sebagai suamiku pun ikut menghina aku. Dan sekarang kamu menyalahkanku?"

Terdengar suara mengembuskan napas Lucas yang panjang. Seolah dirinya yang sedang menghadapi masalah besar.

"Aku hanya ingin kamu berubah. Penampilan kamu yang gendut itu mempermalukan aku saja.l"

Kalimat itu begitu sederhana. Entah kenapa terasa jauh lebih menyakitkan daripada semua hinaan Marta.

Akhirnya Astrid mengerti. Masalahnya bukan berat badannya ataupun penampilannya. Masalahnya adalah Lucas sudah tidak menginginkannya lagi.

Air mata Astrid kembali jatuh menetes. Namun, kali ini tidak ada suara tangis. Ia hanya merasa kosong.

"Aku paham maksud kamu. Selamat malam, Lucas."

Astrid memutus sambungan. Lalu mematikan ponselnya, ia tidak ingin mendengar suara suaminya.

Perjalanan pulang terasa panjang. Lampu-lampu jalan terlihat kabur karena matanya terus dipenuhi air mata. Setiap sudut kota mengingatkannya pada Lucas. Restoran tempat mereka berkencan pertama kali. Toko buku tempat Lucas pernah membelikannya novel favorit. Taman tempat mereka berjalan sambil mendorong stroller putri mereka.

Semua kenangan itu terasa seperti pisau sekarang. Setiap mengingatnya, dada Astrid semakin sakit.

Begitu sampai di rumah, Astrid langsung masuk. Rumah besar itu terasa begitu sunyi. Tidak ada suara dan kehangatan, hanya kesepian.

Astrid berjalan menuju kamar Ariana, putrinya yang baru berusia dua tahun. Anak itu tertidur lelap.

"Apa Ariana rewel?" tanya Astrid kepada Iris, sepupunya.

"Tidak. Sejak ditinggalkan, Ariana anteng. Saat disuruh tidur pun menurut," jawab Iris itu tersenyum lembut.

"Kok, kamu sudah pulang? Apa acaranya sudah selesai?" tanya Iris heran.

"Aku pulang terlebih dahulu, khawatir dengan Ariana," jawab Astrid tersenyum tipis.

"Kalau begitu, aku pulang," kata Iris. Dia sengaja dipanggil Astrid untuk menjaga putrinya selagi dia pergi.

Setelah memastikan putrinya dalam keadaan baik, Astrid pun pergi ke kamarnya. Dia melepaskan semua perhiasan yang dipakainya ke pesta tadi.

Tanpa sengaja mata Astrid melihat sesuatu di atas tempat tidur. Sebuah kotak hadiah kecil yang terselip sedikit di bawah bantal.

Astrid mengernyit. Ia tidak merasa pernah membeli apa pun. Dengan bingung, ia membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah kalung berlian yang sangat cantik.

Astrid tertegun. Kalung itu jelas mahal harganya. Jantungnya berdebar.

"Apakah Lucas membeli kalung ini untuk aku?" gumam Astrid. Senyum pun perlahan menghiasi wajahnya.

Namun, perasaan hangat itu hanya bertahan beberapa detik. Karena sebuah kartu kecil terjatuh dari dalam kotak.

Astrid memungutnya. Lalu membacanya. Dan seketika seluruh tubuhnya membeku.

Untuk Starla.

Terima kasih sudah selalu membuat hariku lebih berwarna.

- L

Waktu seolah berhenti. Astrid membaca tulisan itu lagi dan lagi, untuk meyakinkan dirinya tidak salah baca. Tangannya mulai gemetar.

"Starla? Siapa dia?" batin Astrid. Otaknya berpikir keras mengingat siapa pemilik nama itu.

"L ini maksudnya Lucas?" gumam Astrid mengingat tulisan itu mirip tulisan tangan suaminya.

"Jangan-jangan selama ini Lucas selingkuh!"

Astrid mencoba mencari tahu siapa Starla itu. Dia membuka akun media sosial milik Lucas. Dia mencari nama Starla di setiap postingannya.

Tiba-tiba saja mata Astrid tertuju pada sebuah foto, di mana Lucas duduk dengan meja kerja menjadi latar belakangnya. Sebuah ponsel menyala dengan wallpaper seorang wanita cantik. Jelas itu bukan foto Astrid.

"Ponsel siapa itu? Kenapa wajah di layar itu tidak asing?" ucap Astrid bermonolog.

Astrid pun memperbesar layar agar lebih jelas melihat gambarnya. "Dia kan model itu!"

Beberapa hari lalu Astrid melihat wajah wanita itu di sebuah majalah. Model muda yang sedang naik daun karena mempunyai wajah cantik, tubuh yang tinggi, badan langsing, sempurna. Persis tipe wanita yang akan dibanggakan Lucas.

Perlahan Astrid terduduk di lantai. Kalung itu terlepas dari tangannya. Air mata mulai jatuh bercucuran. Hingga akhirnya ia menangis meluapkan kesedihan dan rasa sakitnya.

Tangisan yang jauh lebih menyakitkan daripada tangisan sebelumnya. Karena kali ini bukan hanya harga dirinya yang hancur, melainkan hatinya.

Selama ini Astrid berpikir Lucas hanya malu padanya. Ternyata ada alasan lain. Alasan yang jauh lebih kejam yang selama ini tidak berani ia bayangkan.

Astrid memeluk lututnya sendiri. Tubuhnya bergetar hebat. Malam itu, ia merasa pernikahannya mungkin sudah berakhir sejak lama. Dan dirinya adalah orang terakhir yang menyadarinya.

Bab 3

Sudah tiga hari berlalu sejak malam penghinaan itu. Namun bagi Astrid, rasanya seperti tiga tahun.

Rumah yang dulu terasa hangat kini berubah menjadi tempat yang membuatnya sesak. Setiap sudutnya mengingatkan pada Lucas. Setiap benda mengingatkan pada luka. Dan yang paling menyakitkan, Lucas bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah tidak pernah menghancurkan hati istrinya beberapa hari lalu.

Pagi itu, Astrid sedang menyiapkan sarapan ketika Lucas turun dari lantai atas dengan pakaian kerja yang rapi. Kemeja putih, celana abu-abu tua, dan sepatu mengilap. Pria itu terlihat sempurna seperti biasa.

"Aku berangkat." Hanya itu yang dikatakan Lucas.

Astrid berdiri di depan meja makan. Tangannya masih memegang spatula.

"Aku mau bertanya sesuatu."

Lucas berhenti. Tatapannya beralih kepada Astrid. "Apa?"

Jantung Astrid berdetak lebih cepat. Ia sebenarnya takut mendengar jawabannya. Namun, ia lebih takut hidup dalam kebohongan.

"Siapa Starla?"

Wajah Lucas berubah sepersekian detik. Begitu cepat hingga mungkin orang lain tidak akan menyadarinya.

Namun, Astrid melihatnya. Melihat keterkejutan dan kepanikan kecil yang muncul sebelum pria itu berhasil menyembunyikannya.

"Starla?"

"Iya." Astrid berusaha menjaga suaranya tetap tenang. "Siapa dia?"

"Hanya kenalan." Lucas sambil mengambil tas kerjanya, menjawab singkat.

Astrid menggenggam spatula lebih erat. "Kenalan sampai kamu membelikannya kalung berlian?"

Lucas terdiam, terlihat kehilangan kata-kata. Namun, hanya sesaat. "Itu urusan pekerjaan."

Pekerjaan. Astrid hampir tertawa. Sejak kapan seorang dokter membeli kalung berlian untuk urusan pekerjaan?

Tetapi Lucas tidak memberinya kesempatan untuk bertanya lebih jauh. "Aku harus segera pergi, ini sudah terlambat."

Pria itu langsung pergi meninggalkan Astrid yang berdiri sendirian di dapur.

Siang harinya, Marta datang ke rumah tanpa mengetuk, seperti biasa. Wanita paruh baya itu masuk begitu saja sambil membawa tas mahalnya.

Begitu melihat Astrid di ruang keluarga, Marta langsung mendecak. "Kamu tuh kerjaannya cuma duduk saja. Makanya badan kamu gendut."

Astrid memejamkan mata sesaat. Sungguh dia lelah.

Marta tidak berhenti bicara. Wanita itu duduk di sofa. "Kamu tidak malu?"

Astrid memilih diam. Akan tetapi, diamnya justru membuat Marta semakin bersemangat.

"Kalau aku jadi kamu, aku pasti tidak berani muncul di acara apa pun."

Astrid menarik napas panjang. "Mungkin Ibu datang ke sini bukan untuk membicarakan tubuh saya."

"Tentu saja bukan." Marta tersenyum. "Hari ini ada arisan."

Astrid mengangguk singkat.

Lalu wanita itu kembali berbicara. "Kebetulan semua teman-temanku ingin bertemu Lucas."

Lagi-lagi Lucas. Astrid bahkan tidak terkejut lagi. Sering teman-teman ibu mertuanya itu konsultasi atau bertanya tips tentang kesehatan kepada Lucas ketika bertemu.

Dua jam kemudian. Astrid menyesali keputusannya menerima tamu Marta di rumahnya. Dia benar-benar menyesal.

Di ruang tamu kumpul temannya Marta, beberapa wanita paruh baya sedang duduk melingkar sambil menikmati makanan dan minuman.

Begitu Lucas disebut, mata Marta langsung berbinar.

"Anakku sekarang Kepala Departemen Bedah." Nada bangganya terdengar seperti seseorang yang baru memenangkan lotre.

"Wah, hebat sekali."

"Lucas memang pintar sejak kecil." Marta tertawa puas. "Untung dia lebih mirip ayahnya."

Beberapa wanita ikut tertawa.

Lalu salah satu dari mereka bertanya. "Mana menantumu?"

Marta melirik Astrid yang duduk di sudut ruangan sedang bermain bersama putrinya.

"Oh, itu."

"Sebenarnya Lucas pantas mendapatkan wanita yang lebih baik."

Ucapan itu langsung membuat ruangan hening. Namun, Marta sama sekali tidak merasa bersalah.

"Kalau saja dia menikah dengan dokter atau pengusaha, pasti lebih cocok," lanjut Marta lirih seolah bersedih.

Astrid menunduk. Tangannya gemetar di atas pangkuan. Sudah berkali-kali wanita itu mempermalukannya.Tetapi, entah kenapa tetap terasa sakit terasa seperti luka baru.

Saat itulah Astrid memutuskan pergi bermain bersama Ariana. Kalau ia bertahan lebih lama, mungkin ia benar-benar akan menangis di depan anaknya.

Cuaca sore itu mendung. Langit terlihat kelabu ketika Astrid berjalan tanpa tujuan di trotoar sambil menuntun putri kecilnya yang bernyanyi riang.

Pikiran Astrid penuh sampai kepalanya terasa berat. Dia juga merasa dadanya sesak.

Starla, nama itu terus berputar di benaknya. Bagaimana jika Lucas benar-benar berselingkuh? Bagaimana jika selama ini dirinya dibohongi? Bagaimana jika semua yang ia takutkan ternyata benar?

Tanpa sadar, langkah Astrid membawanya ke sebuah kafe. Saat itulah seseorang memanggil namanya.

"Astrid?"

Astrid menoleh, lalu membeku. Seorang pria berpostur tinggi, berdiri beberapa meter darinya. Wajahnya tampan dengan rahang tegas dan tubuhnya terlihat atletis.

"M-Mateo?"

Pria itu tertawa. "Rupanya kamu masih ingat aku."

"Ya Tuhan. Benaran ini kamu, Mateo?" Astrid masih tidak percaya.

Tentu saja Astrid masih ingat kepadanya. Mateo adalah teman satu kampus. Pria yang dulu terkenal karena kepintaran dan kepribadiannya yang menyenangkan.

Mereka adalah teman dekat sejak sekolah. Namun, hidup membawa mereka ke jalan masing-masing. Mateo harus pergi ke Inggris menjalankan usaha keluarganya.

"Sudah berapa tahun, ya, kita tidak bertemu?" tanya Astrid.

"Hampir sepuluh tahun," jawab Mateo. "Ini anak kamu?" Tatapannya terarah kepada Ariana.

"Iya. Namanya Ariana. Baru dua tahun," balas Astrid.

Mereka akhirnya duduk bersama di dalam kafe. Awalnya hanya percakapan ringan. Tentang pekerjaan dan kenangan masa lalu mereka.

Perlahan Mateo menyadari sesuatu. "Astrid, kamu baik-baik saja?"

Wanita itu mengangkat wajah. Pertanyaan sederhana itu justru membuat matanya memanas. Karena selama beberapa hari terakhir, tidak ada seorang pun yang menanyakan hal itu.

Mateo memperhatikan wajahnya. Lalu, menghela napas pelan. "Ada masalah dengan apa? Ceritakan kepadaku, siapa tahu aku bisa membantu."

Astrid terdiam. Entah kenapa ia merasa ingin bercerita.

Dua jam kemudian. Mateo sudah mengetahui semuanya. Tentang penghinaan Marta, dugaan perselingkuhan Lucas dengan Starla. Juga tentang kalung berlian. Semakin banyak Mateo mendengar, semakin gelap wajahnya.

"Kurang ajar." Itu kalimat pertama yang keluar dari mulut Mateo. Dia sangat marah sahabatnya diperlukan seperti itu.

Astrid menunduk. "Aku belum punya bukti."

"Bagaimana kalau kita cari bukti itu?"

Astrid mengernyit.

Mateo mengeluarkan ponselnya. Beberapa menit kemudian, seorang pria masuk ke dalam kafe. Usianya sekitar empat puluh tahun. Tatapannya tajam dan gerak-geriknya tenang.

"Kenalkan, ini Julio." Mateo berdiri.

Pria itu mengulurkan tangan. "Julio Fernandez."

Astrid menyambutnya. "Astrid."

"Dia temanku. Dulu dia polisi, sekarang detektif swasta." Mateo tersenyum dan Julio terkekeh.

Mateo mencondongkan tubuh. "Kalau Lucas memang berselingkuh, Julio akan menemukan buktinya. Tak akan aku biarkan ada orang yang menyakitimu, Astrid."

Mata Astrid membesar dan jantungnya berdetak lebih cepat. Dia merasa senang karena ada secercah harapan muncul. Harapan untuk mengetahui kebenaran. Apa pun hasilnya, Astrid sudah lelah hidup dalam keraguan.

"Ada satu hal lagi," lanjut Mateo. "Aku sedang membangun perusahaan di sini."

Astrid menatapnya, lalu mengernyit. "Lalu?"

Mateo tersenyum tipis. "Aku butuh partner."

Astrid tertawa kecil. "Aku?"

"Iya." Mateo menjawab tanpa ragu. "Kamu."

Astrid tertawa kecil. Dia mengira pria itu sedang bercanda.

Mateo terlihat sangat serius. "Aku mengenalmu dan aku yakin kamu pasti bisa."

"Tapi itu dulu," kata Astrid lirih

Mateo menggeleng. Tatapannya lurus menatap wanita itu.

"Kamu tetap Astrid yang sama. Perempuan cerdas yang dulu lulus dengan nilai terbaik di jurusan manajemen bisnis."

Astrid membeku. Sudah bertahun-tahun tidak ada yang mengingat hal itu. Tidak ada yang peduli. Semua orang hanya melihat dirinya sebagai ibu rumah tangga yang gemuk. Namun, Mateo justru mengingat prestasinya.

"Aku sudah lama mencari orang yang tepat. Dan akhirnya aku menemukanmu." Mateo tersenyum.

Mata Astrid mulai berkaca-kaca karena ia merasa dihargai. "Kamu terlalu melebih-lebihkan aku."

"Tidak." Mateo menjawab tegas. Pria itu bersandar di kursinya. "Lagipula. Aku tidak suka melihat orang baik direndahkan oleh orang-orang yang bahkan tidak tahu nilai dirinya."

Ucapan Mateo itu membuat Astrid terdiam. Astrid belum menyadarinya pertemuan sore itu akan mengubah hidupnya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!