.
Langit mulai berubah warna menjadi jingga keemasan saat Rania turun dari taksi di depan rumah besar milik keluarga Pratama. Wanita itu membawa beberapa kotak kue dan oleh-oleh yang baru saja ia beli sepulang kerja. Hari itu sebenarnya bukan hari istimewa, namun karena baru menerima bonus kecil dari kantor, Rania berpikir tidak ada salahnya berkunjung sedikit hadiah, berharap suasana rumah malam ini bisa terasa lebih baik.
Sudah tiga tahun ia mengarungi bahtera rumah tangga bersama Arga Pratama. Tiga tahun yang dipenuhi kebahagiaan sekaligus luka tersembunyi. Jika ada satu hal yang tak pernah berubah selama itu, maka hal itu adalah tatapan kecewa yang selalu terlihat jelas di mata ibu mertuanya. Itu karena sampai hari ini, Rania belum juga bisa memberikan seorang cucu bagi keluarga itu.
Rania menghela napas pelan, berusaha menenangkan hati sendiri, lalu melangkah masuk ke halaman rumah. Namun, langkahnya terhenti ketika suara teriakan keras terdengar dari dalam.
"Pokoknya Ibu mau kamu menikah lagi, Arga!" Itu adalah suara ibu mertuanya.
Rania langsung membeku di tempat. Kotak-kotak di tangannya nyaris terlepas jatuh. Tanpa sadar ia berdiri diam di dekat pintu utama yang sedikit terbuka, sehingga setiap percakapan di dalam terdengar jelas sampai ke telinganya.
"Aku tidak mau membahas hal ini lagi, Bu." Suara Arga terdengar lelah dan tak bertenaga.
"Tidak mau membahas bagaimana? Ini sudah tiga tahun, Arga! Apa kamu ingin garis keturunan keluarga ini berhenti begitu saja?"
Rania menahan napas rapat-rapat, jantungnya mulai berdebar kencang dan tidak beraturan.
"Rania adalah istriku, Bu. Aku mencintainya dan tidak ingin melukainya." Arga kembali membantah dengan tegas.
"Ibu tidak peduli!" Suara bentakan dari ibu mertua membuat tubuh Rania seketika menggigil. "Dia tidak bisa memberimu anak! Untuk apa mempertahankan wanita seperti itu?"
Seketika itu juga air mata langsung menggenang di pelupuk mata Rania. Selama ini ia sering mendengar sindiran dan ucapan pedas, tapi mendengar kalimat itu diucapkan secara langsung, rasanya jauh lebih sakit, bagaikan ada pisau yang mengiris dalam hatinya.
Di dalam ruangan terdengar suara benda bergeser kasar. Sesaat kemudian suara Arga kembali terdengar, kali ini meninggi karena marah.
"Pernikahan kami baru tiga tahun! Banyak di luar sana yang bahkan sampai sepuluh tahun tidak bisa memiliki keturunan! Kenapa Ibu tidak bisa bersabar?!"
Untuk sesaat hati Rania terasa sedikit hangat. Setidaknya suaminya masih berusaha membelanya. Namun rasa hangat itu segera sirna, tergantikan oleh rasa cemas yang semakin memuncak. Sebab suara ibunya kembali terdengar, kali ini terdengar lebih histeris dan mendesak.
"Ibu tidak peduli dengan orang di luar sana! Yang Ibu pedulikan adalah kamu, karena kamu putra ibu! Jadi sekarang, pilih salah satu!!"
"Apa maksud Ibu?"
"Pilih antara ibu atau perempuan itu!"
Suasana mendadak menjadi sunyi senyap. Jantung Rania berdegup semakin cepat, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Ia memberanikan diri mengintip sedikit lewat celah pintu, dan seketika wajahnya memucat.
Di ruang tamu, ibu mertuanya berdiri dengan mata yang memerah karena amarah. Dan di tangannya sudah tergenggam erat pisau buah, dengan ujung pisau mengarah pada leher Ibu mertuanya.
"Bu!" seru Arga kaget, langsung berdiri dari tempat duduknya.
Namun wanita itu justru mundur selangkah dan ujung pisau sudah menempel di lehernya. "Jangan mendekat!" bentaknya.
"Ibu, turunkan pisau itu!" pinta Arga dengan nada panik.
"Ibu sudah tidak mau menunggu lebih lama lagi, Arga!" serunya sambil menangis terisak. "Tiga tahun Ibu menanti hadirnya cucu. Tapi wanita itu tidak bisa memberikan apa-apa bagi keluarga ini! Ibu malu dengan teman-teman dan kerabat Ibu!"
"Bu, tolong tenang dulu..."
"Kalau kamu lebih memilih wanita itu daripada Ibu, lebih baik ibu mengakhiri hidup ibu sekarang juga!"
Tubuh Arga seketika menegang kaku, wajahnya terlihat sangat bingung dan tersiksa. "Ibu jangan bicara hal yang tidak-tidak," ucapnya mencoba menenangkan.
"Ibu serius, Arga!"
Pisau itu semakin ditekan ke kulit leher, hingga muncul garis merah tipis yang terlihat jelas.
Rania yang berdiri di luar langsung menutup mulutnya rapat-rapat, napasnya tercekat tertahan di tenggorokan.
"Ibu sudah tua, Arga," lanjut wanita itu dengan suara lirih namun penuh paksaan. "Ibu juga ingin sekali menggendong cucu seperti teman-teman Ibu. Apakah permintaan itu terlalu berlebihan?"
"Bu..."
"Kalau hari ini kamu tidak setuju untuk menikah lagi, ibu akan mengakhiri hidup ibu di depan matamu sendiri!"
"Ibu!"
Arga melangkah maju sedikit, namun ibunya segera menekan pisau itu lagi sebagai peringatan. Cairan berwarna merah menetes sedikit dari kulit lehernya. Tangannya gemetar hebat, air mata terus mengalir membasahi pipinya yang tertutup make up tebal.
Arga mengangkat kedua telapak tangannya sambil memejamkan matanya rapat-rapat, menahan beban yang terasa sangat berat. Beberapa detik terasa berjalan sangat lambat, hingga akhirnya ia membuka mata dan mengucapkan kata-kata yang terasa keluar dengan susah payah.
"Baik! Aku akan menuruti keinginan Ibu," ucap Arga dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Pisau di tangan ibu mertua terlepas dan jatuh berdentang ke lantai.
Sementara di luar, Rania merasa seluruh dunianya ikut runtuh bersamaan dengan suara jatuhnya benda tajam itu. Wanita itu menggigit bibir bawahnya hingga terasa perih, berusaha menahan isakan tangis agar tidak terdengar. Dadanya terasa sangat sesak, seolah ada beban berat yang menindihnya. Ia ingin masuk, berteriak dan menjelaskan bahwa ia juga merasa lelah. Namun, kakinya terasa begitu berat, seolah tertanam kuat di lantai.
Rania merasa seluruh dunianya hancur mendengar persetujuan Arga. Kotak-kotak kue yang dibawanya terlepas dari genggaman dan jatuh ke lantai. Untung bunyinya tidak terlalu keras, namun cukup membuat tangannya gemetar hebat.
“Tidak... tidak mungkin... Arga tidak akan mengucapkan hal itu.”
Rania menggelengkan kepalanya berkali-kali. Bukankah Arga selalu mencintainya? Dan berjanji akan menghadapi segala hal bersama-sama? Mereka sudah bersumpah untuk saling setia. Lalu mengapa sekarang jadi begini?
Suara ibu mertuanya terdengar lagi, kali ini terasa penuh kemenangan yang sulit disembunyikan. "Kamu tidak membohongi Ibu, kan?"
Rania melihat Arga yang mengangguk. Dan akhirnya suara Arga terdengar lagi, menghancurkan setiap keping harapan yang masih tersisa di hatinya.
"Aku akan menuruti keinginan Ibu."
Dunia seolah berhenti berputar. Rania tidak lagi mendengar apa pun selain dengungan panjang yang memenuhi telinganya. Tangannya gemetar hebat, dadanya terasa nyeri, lebih sakit daripada segala hinaan yang pernah ia terima selama tiga tahun terakhir. Sebab kali ini, bukan orang lain yang menyakiti hatinya, melainkan suaminya sendiri. Orang yang paling ia percayai dan seharusnya menjadi tempatnya berlindung.
Dengan langkah gontai, Rania perlahan mundur meninggalkan teras rumah itu. Tak seorang pun menyadari keberadaannya, tak ada yang tahu bahwa ia telah mendengar seluruh percakapan yang menyakitkan itu. Ia melangkah keluar melewati gerbang, meninggalkan kotak-kotak oleh-oleh yang kini berserakan di lantai.
Rania tidak langsung pulang. Wanita itu duduk sendirian di bangku taman kota yang sepi. Ponsel di dalam tasnya terus bergetar berulang kali. Nama Arga muncul di layar, satu kali, dua kali, sepuluh kali, namun Rania sama sekali tidak mengangkatnya. Apa lagi yang harus ia katakan? Bahwa ia sudah mendengar dirinya akan segera digantikan? Atau tiga tahun pernikahan mereka yang ternyata kalah oleh ancaman bunuh diri ibu mertua?
.
Hari telah berubah menjadi gelap ketika Rania akhirnya sampai di rumahnya. Rumah yang selama tiga tahun ini ia sebut sebagai tempat tinggal bersama, rumah yang dipenuhi begitu banyak kenangan, namun kini terasa begitu asing dan sunyi.
Rania melangkah masuk dan langsung duduk di atas sofa ruang tamu. Pelayan rumah datang dan menawarkan sesuatu tetapi Rania menolaknya. sejak makan siang tadi sampai saat ini ia belum merasakan lapar di perutnya.
“Tuan belum pulang?" tanyanya lirih.
“Belum, Nyonya," jawab pelayan lalu duduk bersimpuh di dekat kakinya.
“Kamu istirahatlah! Aku bisa mengurus diriku sendiri nanti," titah Rania yang masih ingin menenangkan diri.
"Tapi, Nyonya..." pelayan itu mengangkat wajahnya ke atas menatap wajah Rania. "Anda terlihat sedang tidak..."
"Aku baik-baik saja," potong Rania cepat. "Istirahatlah! Kamu pasti lelah bekerja seharian!" lanjutnya.
"Baik, Nyonya." Pelayan mengucapkan terima kasih lalu berdiri dan berpesan agar Rania memanggilnya jika membutuhkan sesuatu.
Rania hanya mengangguk lalu mengibaskan tangannya agar pelayan itu segera pergi. Ia butuh waktu untuk menenangkan diri sebelum Arga pulang dan sesuatu pasti akan terjadi dalam hubungan mereka.
*
Waktu menunjukkan pukul 20.00 ketika akhirnya suara mobil terdengar memasuki halaman rumah. Rania perlahan mengangkat kepalanya, menunggu. Tak lama kemudian pintu depan terbuka, dan Arga masuk dengan wajah yang terlihat sangat muram, rambutnya berantakan, serta kemejanya kusut. Pria itu tampak seperti seseorang yang baru saja kehilangan arah hidupnya.
Saat melihat Rania sudah duduk di ruang tamu, raut wajahnya menjadi semakin sedih.
"Rania..." panggilnya dengan suara yang serak dan parau.
Namun Rania hanya menatapnya diam, tatapan yang kosong namun terasa menusuk hingga ke tulang sumsum, membuat dada Arga terasa semakin sesak.
Perlahan pria itu melangkah mendekat, lalu tanpa sadar berlutut tepat di hadapannya. Tubuhnya jatuh lemas ke lantai, sementara kedua tangannya menggenggam erat tangan Rania yang berada di atas pangkuan wanita itu, seolah takut wanita itu akan menghilang.
"Maaf..." ucapnya, dan air mata langsung mengalir deras membasahi pipinya. "Maafkan aku..."
Rania memejamkan matanya rapat-rapat, merasakan rasa sakit di dadanya semakin menyengat. Selama tiga tahun ini, ia hampir tidak pernah melihat Arga menangis, namun malam ini pria itu menangis di hadapannya. Namun, hal itu justru membuat dadanya terasa semakin sakit.
"Kenapa minta maaf?" bisik Rania dengan suara yang sangat pelan dan rapuh. “Memangnya, kesalahan apa yang kamu lakukan?"
Arga menundukkan kepalanya dalam-dalam, bahunya bergetar hebat menahan tangis. "Aku gagal melindungimu," jawabnya lirih.
Mendengar itu, air mata Rania pun akhirnya jatuh membasahi pipinya sendiri.
"Aku mendengar semuanya," ucapnya perlahan namun tegas.
Tubuh Arga seketika menegang kaku. Ia perlahan mengangkat wajahnya, matanya terbelalak terkejut.
"Kamu... kamu mendengarnya?"
"Aku mendengar semua pembicaraan kamu dengan ibumu," lanjut Rania dengan suara yang mulai bergetar. "Aku ada di sana sore tadi."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan, hanya diselingi isakan tangis yang berusaha ditahan oleh keduanya.
"Rania..."
"Aku menunggumu membelaku," lanjutnya lagi, matanya berkaca-kaca. "Aku menunggumu mengatakan 'tidak' pada semua itu."
"Maafkan aku... Aku benar-benar tidak berdaya..." Air mata Arga mengalir semakin deras.
"Tapi kamu tidak melakukannya."
Kalimat itu terasa tajam bagaikan pisau yang langsung menusuk jantung Arga, "Maafkan aku..." hanya itu yang mampu ia ucapkan, karena memang tidak ada alasan atau pembelaan yang bisa membenarkan kesalahannya.
Rania tertawa kecil, namun tawanya terdengar lebih menyedihkan daripada tangisan. "Aku sudah lelah, Arga..." bisiknya lirih. "Lepaskan aku! Itu janjimu pada ibumu."
Arga memejamkan matanya rapat-rapat, membenci dirinya sendiri yang tidak bisa melawan keinginan ibunya. Dan membuat semuanya menjadi seperti ini.
Beberapa saat kemudian, Arga menarik napas panjang sekali, seolah mengumpulkan seluruh sisa keberanian dalam dirinya, lalu menatap wajah wanita yang sangat dicintainya, namun gagal ia jaga dengan baik.
Air matanya kembali jatuh, namun kali ini ia harus mengucapkan kata-kata yang akan mengubah segalanya.
"Rania..." suaranya terdengar nyaris tak terdengar. "Maafkan aku... "
Lalu dengan suara yang bergetar hebat, ia melafalkan kalimat yang menghancurkan seluruh harapan yang tersisa.
"Aku menceraikanmu."
Rania membeku di tempat. Meskipun sudah menduga, dan mempersiapkan diri, namun saat kata-kata itu benar-benar keluar dari mulut Arga, rasanya tetap saja seperti seluruh dunianya runtuh seketika.
Arga memejamkan matanya rapat, lalu melanjutkan dengan suara yang terasa sangat patah.
"Rania, aku menjatuhkan talak kepadamu. Mulai sekarang tidak ada ikatan lagi di antara kita."
Tangisan pecah memenuhi ruang tamu, bukan tangisan histeris atau teriakan amarah, melainkan hanya air mata yang terus mengalir tanpa henti. Tiga tahun pernikahan, cinta, dan harapan, semuanya berakhir hanya dalam beberapa kalimat singkat.
Arga masih berlutut di lantai dengan kepala tertunduk dalam. Kata-kata talak yang baru saja meluncur dari mulutnya seolah masih bergaung di setiap sudut ruangan, menghancurkan satu per satu kenangan indah yang pernah mereka bangun bersama selama ini. Beberapa saat kemudian, akhirnya Arga mengangkat wajahnya perlahan, matanya sudah merah dan sembab oleh tangis yang tak mampu ia tahan.
"Rania..." panggilnya dengan suara lirih dan parau.
Namun Rania tidak menjawab. Wanita itu hanya berusaha menyeka air mata yang terus mengalir membasahi pipinya, seolah ingin menyingkirkan rasa sakit yang menyelimuti hatinya.
"Kamu tetaplah tinggal di sini. Ini adalah hadiah pernikahan yang aku berikan padamu," ucap Arga kemudian, mencoba mengatur napasnya yang terasa sesak.
Rania perlahan menoleh ke arahnya, menatap pria itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Rumah ini tetap menjadi milikmu. Biar aku yang pergi," lanjut Arga tegas.
Mendengar itu, Rania hanya tersenyum tipis. Namun senyum itu sama sekali tidak menyiratkan kebahagiaan. Malahan menyisakan rasa pahit yang terasa menusuk.
"Aku tidak butuh rumah ini," jawabnya pelan.
"Rania, tolong dengarkan aku..."
"Aku akan pergi," potong Rania tenang.
Arga segera menggeleng cepat, wajahnya terlihat semakin cemas. "Tidak. Akulah yang berbuat salah. Akulah yang gagal menjaga dan mempertahankan hubungan kita. Jadi akulah yang seharusnya pergi dari sini."
Rania kembali mengukir senyum pahit di bibirnya. "Lalu setelah itu, apa yang akan berubah?"
Arga terdiam seketika, tak mampu menjawab pertanyaan itu.
"Apa aku bisa tinggal di rumah ini?" tanya Rania lagi, suaranya tetap datar namun terasa tajam. "Lalu menjadi bahan pembicaraan dan tatapan sinis semua orang di lingkungan ini?"
"Rania..."
"Sudahlah, Arga," potongnya lagi. "Selama tiga tahun ini, aku sudah berusaha sekuat tenaga menjadi menantu yang baik," lanjutnya, air mata kembali menetes jatuh tanpa bisa ditahan. "Aku menghormati ibumu, menerima segala sikap dan perlakuan yang beliau berikan kepadaku."
Arga hanya bisa menundukkan kepalanya semakin dalam, merasakan setiap kalimat itu seperti pukulan keras di dadanya. Semua yang dikatakan Rania adalah kenyataan yang tak bisa ia bantah.
"Aku diam saja saat beliau mempermalukanku di hadapan seluruh keluarga besar," lanjut Rania perlahan.
"Rania, maafkan aku..."
"Aku diam saat beliau merendahkan latar belakang keluargaku sendiri," sambungnya lagi, suaranya mulai bergetar menahan emosi. Setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa seperti cambuk yang terus menghantam hati nurani Arga.
"Aku diam saat beliau dengan lantang mengatakan bahwa aku wanita yang tidak pantas mendampingi putranya."
Tubuh Arga seketika bergetar hebat. Ia tahu semua itu terjadi, ia menyaksikannya sendiri berkali-kali, dan yang paling menyakitkan adalah ia tak pernah benar-benar mampu melindungi istrinya dari semua itu.
"Aku sudah lelah, Arga,"
.
Rania menghela nafas berat lalu berdiri tegak. Matanya menatap sekeliling ruangan yang pernah menjadi tempat kebahagiaannya. Mengingat kenangan demi kenangan yang tercipta antara dirinya dan Arga.
"Terima kasih pernah memberikan aku cinta yang tulus," ucapnya tenang. Air mata tak lagi mengalir di pipinya.
Arga menelan ludahnya yang tercekat di tenggorokan. Ucapan terima kasih itu layaknya belati yang mengoyak hatinya. Kenyataannya ia sama sekali tak bisa mempertahankan wanita itu di sisinya.
“Terima kasih juga akhirnya kamu melepaskan cinta ini. Mulai malam ini, aku tidak lagi memiliki hubungan apapun dengan keluarga Pratama."
Rania mengakhiri semuanya lalu melangkah menuju ke salah satu sisi ruangan dan mata Arga yang mengikuti setiap gerakannya seketika terbelalak kaget. Kenapa tadi dia tidak sadar kalau ada sebuah koper besar berdiri tak jauh dari sofa tempat mereka berada. Tubuhnya seketika menegang kaku.
"Kamu..." suaranya tercekat di tenggorokan. "Kamu akan pergi malam ini juga?"
"Tentu saja.” Rania menjawab sambil menarik handle koper itu tanpa ekspresi. "Aku sudah mendengar keputusan kalian sejak tadi sore. Jadi sudah ada cukup waktu untuk mempersiapkan diri."
Kalimat itu terasa seperti dipukulkan batu besar ke dada Arga. Jadi, bahkan sebelum ia pulang ke rumah dan kata talak itu terucap, Rania sudah mempersiapkan kepergiannya? Wanita itu benar-benar sudah menyerah sepenuhnya?
Arga segera melangkah tergesa mendekatinya. "Rania, jangan lakukan ini… Setidaknya tunggulah besok. Ini sudah malam, kamu mau ke mana."
Namun Rania segera menepis tangan Arga. Ucapan pria itu yang tampak begitu mengkhawatirkan dirinya sama sekali tak berguna. Wanita itu pun mulai berjalan menuju pintu utama. Namun, Baru beberapa langkah kakinya berjalan…
BRAK!
Pintu depan terbuka keras dari arah luar. Bu Ratih, ibunya Arga masuk dengan langkah tegas dan wajah yang dipenuhi amarah yang belum surut.
"Ibu?" seru Arga terkejut melihat kedatangan ibunya.
Nyonya Pratama tampaknya memang sengaja mengejar Arga karena tidak ingin putranya itu berubah pikiran begitu bertemu dengan Alma. Dan begitu matanya menangkap koper yang tergenggam di tangan Rania, raut wajahnya langsung berubah lega, namun juga menjadi tajam dan penuh kecurigaan.
"Baguslah, akhirnya kamu menceraikan wanita tak berguna ini juga," ucapnya sinis tanpa basa-basi.
Arga langsung menegang, berusaha mencegah agar suasana tidak semakin memanas. "Ibu, aku sudah menuruti kemauan Ibu. Tolong jangan mulai lagi."
Namun wanita itu sama sekali mengabaikan kata-kata putranya. Tatapannya tetap tertuju pada koper di tangan Rania seolah sedang mengawasi pencuri.
"Baru saja dicerai lalu buru-buru membawa barang-barang?" cibirnya dengan nada meremehkan. "Siapa tahu ada barang milik keluarga Pratama yang ikut dibawa diam-diam."
"Ibu!" bentak Arga dengan nada tinggi, tak tahan lagi mendengar ucapan yang menyakitkan itu.
Tapi Nyonya Pratama tidak peduli sedikit pun. "Lebih baik diperiksa saja dulu. Jangan sampai ada perhiasan atau barang berharga yang dibawa pergi begitu saja."
Kalimat itu membuat seluruh tubuh dan otak Rania terasa panas hingga tanpa sadar dua tangan wanita itu terkepal erat. Rania memejamkan matanya rapat-rapat, merasakan dadanya terasa sangat sesak hingga nyaris membuatnya sulit menarik napas. Bahkan setelah semuanya berakhir, dan ia kehilangan rumah tangganya, wanita itu masih memandangnya serendah itu.
Perlahan Rania membuka matanya kembali. Tatapannya kini terasa kosong, lelah, dan tak lagi memiliki emosi apa pun. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia mengangkat koper itu sedikit lebih tinggi.
Arga seolah langsung mengerti apa yang akan dilakukan istrinya. "Rania, jangan..."
Namun sudah terlambat.
BRAK!
Dengan satu gerakan keras, Rania membanting koper itu ke lantai. Kunci koper terbuka dan seluruh isinya berhamburan keluar, berserakan ke segala arah di atas lantai ruang tamu.
Pakaian sehari-hari, buku-buku bacaan, peralatan kerja sederhana, foto-foto kenangan lama, dan barang-barang pribadi lainnya tergeletak berantakan.
Keheningan seketika menyelimuti ruangan. Tidak ada satu pun barang mewah yang terlihat. Tidak ada satupun benda berharga, tidak ada emas, atau bahkan kartu kredit yang bisa diklaim milik keluarga Pratama. Bahkan cincin, gelang, maupun kalung yang pernah diberikan Arga selama masa pernikahan mereka pun tidak terlihat di antara tumpukan itu. Hanya ada barang-barang yang dibeli Rania sendiri dengan hasil keringatnya.
Nyonya Pratama langsung terdiam, namun tampaknya wanita itu sama sekali tidak merasa bersalah. Sementara Arga hanya menatap tumpukan barang itu dengan mata yang semakin memerah, dadanya terasa diremas kuat oleh rasa bersalah. Kini ia benar-benar mengerti maksud Rania. Wanita itu benar-benar ingin menghapus seluruh jejak keberadaannya dari keluarga ini.
Perlahan Rania melepaskan gagang koper yang sudah rusak itu. Ia menoleh menatap Arga untuk terakhir kalinya, tatapannya masih menyisakan kesedihan mendalam namun juga keteguhan yang tak bisa digoyahkan.
"Selamat tinggal, Arga," ucapnya dengan suara yang sangat pelan namun terdengar jelas menusuk hati. “Jangan lupa mengirim surat cerai padaku."
Kalimat itu cukup untuk menghancurkan sisa kekuatan dalam diri Arga. Ia segera melangkah maju ingin menahan.
"Rania, tunggu sebentar..."
Namun Rania hanya menggeleng lembut. "Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan di antara kita. Semua sudah selesai semenjak kata talak keluar dari mulutmu. Tapi, aku berdoa semoga kamu bahagia dengan istrimu nanti."
Air mata kembali menetes di pipinya, namun kali ini ia tidak berusaha menyekanya. Tanpa mengambil kembali barang-barang yang berserakan, ataupun kopernya yang sudah rusak, Rania berbalik dan melangkah keluar dari rumah itu. Meninggalkan semuanya. Rumah, kenangan, cinta, dan juga luka yang menyakitkan.
Arga hanya bisa berdiri mematung di tengah ruangan, menyaksikan wanita yang paling dicintainya perlahan menjauh dan menghilang dari hidupnya.
Pintu rumah tertutup perlahan dengan bunyi yang pelan namun terasa sangat berat. Dan pada saat itulah, Arga baru benar-benar merasakan pahitnya kehilangan yang sesungguhnya.
“Apa ibu sudah puas?" tanya Arga tanpa menatap ke arah wanita yang menghadirkannya ke dunia..
Bu Ratih, ibunya Arga mengerutkan kening mendengar pertanyaan putranya.
"Apa Ibu sudah puas bisa membuat aku berpisah dengan Rania?!”
Suara teriakan Arga terdengar oleh Rania yang baru berjalan sampai di halaman.
“Kamu itu ngapain sih?” Terdengar sahutan dari Bu Ratih. “Wanita itu bukan hanya Rania seorang! Pergi ya biar pergi, nanti juga Ibu Carikan kamu istri yang lebih cantik dari dia. Dan terutama berasal dari keluarga terhormat dan tidak mandul!"
“Aaa…!!!"
Prang!
Pyaar!
Suara teriakan Arga diikuti dengan suara benda yang dilempar keras dan pecah berhamburan juga terdengar di telinga Rania. Wanita itu tersenyum miris.
“Setidaknya kamu masih memiliki hati," gumamnya pelan. “Tapi apa gunanya pembelaan itu sekarang? Semua sudah terlambat. Kenapa tidak tadi sore sebelum talak kau ucap? Jika seperti itu setidaknya aku masih ada alasan untuk bertahan."
Rania menepuk dadanya yang terasa sesak. Bohong kalau dibilang dia tidak patah hati. Hidup bersama selama tiga tahun, ditambah dengan waktu pacaran selama dua tahun, tak mungkin tidak menyisakan kenangan manis, dan tak mungkin bisa terhapus begitu saja.
Namun, wanita itu kembali menegakkan langkahnya. Ia tidak boleh terpuruk hanya karena masalah perceraian. Hidup kedepannya masih panjang. Dan dia butuh mental kuat untuk menghadapi apa yang akan terjadi. Termasuk gosip yang pasti akan disebarluaskan oleh mantan Ibu mertua.
"Aku tidak takut! Aku pasti bisa menghadapi semuanya!”
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!