Malam itu, hutan perbatasan dipayungi oleh kabut tebal yang turun seperti tirai putih raksasa. Udara sangat dingin, jenis dingin yang menusuk hingga ke tulang dan membuat setiap helai napas yang keluar dari mulut Luna berubah menjadi asap tipis.
Luna terus berlari. Sepasang kaki telanjangnya sudah mati rasa, tergores oleh ranting tajam dan batu-batu runcing di lantai hutan. Gaun putih rajut yang ia kenakan sudah kotor oleh lumpur dan robek di beberapa bagian. Dadanya naik-turun dengan kasar, rasanya seperti terbakar setiap kali dia mencoba meraup oksigen.
Di belakangnya, dunia manusia yang kejam telah merenggut semua yang dia miliki, menyisakan dirinya yang sebatang kara dan ketakutan. Dia hanya ingin lari sejauh mungkin. Dia tidak peduli lagi ke mana kakinya melangkah, bahkan jika itu berarti masuk ke dalam hutan terlarang yang rumornya sangat dihindari oleh orang-orang kota.
"Tolong... siapa saja..." bisik Luna lirih, suaranya parau dan hampir habis.
Langkah kaki menyedihkan itu semakin melambat ketika kabut di depannya mendadak menebal secara tidak wajar. Suasana hutan yang tadinya bising oleh suara jangkrik langsung senyap seketika. Sunyi yang mencekam. Insting manusianya mendadak menjeritkan alarm bahaya. Ada sesuatu yang salah.
*Kretek.*
Suara ranting patah di belakangnya membuat Luna tersentak. Dia membalikkan badan dengan cepat, menyandarkan punggungnya pada batang pohon yang besar. Matanya yang sembap bergerak panik, berusaha menembus kegelapan malam.
Dari balik kegelapan kabut, sebuah siluet tinggi tegap perlahan muncul.
Jantung Luna berdegup begitu kencang hingga telinganya berdengung. Itu bukan hewan berkaki empat. Itu adalah seorang pria. Pria itu berjalan dengan langkah yang begitu tenang namun penuh intimidasi, seolah dia adalah pemilik mutlak dari setiap jengkal tanah yang dia pijak.
Dia mengenakan jaket kulit hitam yang membalut tubuh tegap dan atletisnya dengan sempurna. Wajahnya sangat tampan. Garis rahangnya tegas, dengan rambut hitam acak-acakan yang membingkai wajahnya yang tampak dingin tanpa ekspresi. Ada beberapa bekas luka goresan tipis di pipinya, alih-alih merusak penampilannya, luka itu justru membuat sosoknya terlihat sangat berbahaya.
Pria itu adalah Yudha. Sang Alpha muda pemimpin kawanan serigala *Silver Moon*.
Yudha menghentikan langkahnya beberapa meter di depan Luna. Mata elangnya yang tajam langsung mengunci pergerakan gadis manusia yang tampak sangat rapuh di hadapannya.
"Manusia..." geram Yudha rendah. Suaranya berat, dalam, dan memiliki gaung dominasi yang begitu pekat hingga membuat lutut Luna seketika lemas. Luna merosot terduduk di akar pohon, tubuhnya gemetar hebat.
Basi Yudha, keberadaan manusia di wilayah terdalam hutan ini adalah sebuah pelanggaran fatal. Namun, tepat saat angin malam berembus ke arahnya, membawa aroma manis menyerupai perpaduan bunga lavender dan vanilla dari tubuh Luna, langkah Yudha langsung membeku.
Manik mata Yudha yang tadinya gelap tiba-tiba berubah warna, berkilat memancarkan warna emas cair yang menyala di kegelapan malam. Jantungnya berdegup dengan kecepatan yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya. Serigala di dalam dirinya mendadak melolong keras, mencakar-cakar ingin keluar, meneriakkan satu takdir yang membuat seluruh tubuh Yudha menegang.
*Belahan jiwa. Dia adalah takdir matimu.*
Yudha mengepalkan tangannya kuat-kuat di dalam saku jaket kulitnya. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa seorang Alpha besar dan perkasa seperti dirinya memiliki belahan jiwa seorang gadis manusia biasa? Gadis yang begitu lemah, yang tampak seolah-olah bisa hancur hanya dengan satu remasan tangannya.
Luna yang tidak mengerti apa-apa semakin ketakutan melihat mata pria itu yang menyala. "Jangan... jangan sakiti aku..." ucap Luna, air mata kembali menetes melewati pipinya yang pucat. Dia memeluk lututnya sendiri, berusaha mengecilkan tubuhnya.
Melihat air mata itu, ada sesuatu yang berdenyut aneh di dada Yudha. Rasa protektif yang luar biasa besar tiba-tiba bangkit, mengalahkan akal sehatnya. Pria itu melangkah maju, lalu perlahan berlutut di hadapan Luna yang sedang ketakutan setengah mati.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Yudha mengulurkan tangannya yang besar dan kekar. Jemarinya yang hangat menyentuh dagu Luna dengan sangat lembut kontras dengan penampilannya yang garang memaksa gadis itu untuk menatap langsung ke matanya yang kini perlahan kembali normal.
"Siapa namamu, Manusia?" tanya Yudha, suaranya kali ini tidak lagi menggeram, melainkan terdengar sangat menuntut namun ada nada posesif yang terselip di sana.
Luna meneguk ludah, bibirnya bergetar. "Lu... Luna..."
Mendengar nama itu keluar dari bibir si gadis, sebuah senyuman tipis yang misterius muncul di sudut bibr Yudha. Nama yang sungguh ironis. Di dunianya, 'Luna' adalah sebutan untuk ratu atau pendamping seorang Alpha. Dan malam ini, takdir baru saja mengantarkan seorang Luna yang sesungguhnya ke dalam pelukannya.
Sebelum Luna sempat bereaksi lebih jauh, kesadaran gadis itu yang sudah mencapai batasnya akibat kelelahan dan syok tiba-kira runtuh. Pandangannya menggelap, dan tubuhnya yang lemas langsung ambruk ke depan.
Namun, tubuh Luna tidak menyentuh tanah dingin yang kotor. Sepasang lengan kekar Yudha dengan sigap menangkapnya, menarik tubuh rapuh itu masuk ke dalam dekapan dadanya yang bidang dan hangat. Yudha mendekap Luna dengan sangat erat, menghirup aroma manis di ceruk leher gadis itu yang kini resmi menjadi miliknya.
"Kamu aman bersamaku, Luna," bisik Yudha pelan di dekat telinga gadis yang sudah pingsan itu. "Dan mulai malam ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu."
Yudha kemudian berdiri sambil menggendong tubuh Luna dengan mudah ala bridal style, lalu berbalik berjalan menembus kegelapan hutan menuju markas kawanannya. Dia tahu, membawa seorang manusia ke dalam kawanan serigala akan memicu badai konflik besar. Tapi sang Alpha muda tidak peduli. Siapa pun yang berani menentang takdirnya, harus berhadapan dengan taringnya.
Guncangan halus dan detak jantung yang hangat sekaligus menenangkan adalah hal pertama yang disadari Luna saat kesadarannya perlahan pulih. Dia tidak lagi merasakan dinginnya tanah hutan atau tajamnya kerikil yang menusuk kakinya. Sebagai gantinya, dia merasa seperti terbang, didekap oleh sepasang lengan yang begitu kokoh hingga rasa takut yang sempat menderanya perlahan terkikis, digantikan oleh rasa kantuk yang berat.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Suara sayup-sayup perdebatan mulai menembus pendengarannya.
"Yudha! Apa yang kamu pikirkan dengan membawa manusia ke sini?!"
Suara berat dan penuh penekanan itu membuat Luna tersentak kecil di dalam pingsannya. Dia perlahan membuka mata, kelopaknya terasa sangat berat. Hal pertama yang tertangkap oleh pandangannya adalah rahang tegas Yudha yang mengeras. Pria tampan berjaket kulit hitam itu masih menggendongnya, terus melangkah maju tanpa memedulikan suara di sekitarnya.
Luna mengedarkan pandangan dengan sangat samar. Mereka tidak lagi berada di hutan terbuka. Mereka berada di dalam sebuah aula besar berarsitektur batu alam kuno yang megah seperti kastil, dengan obor-obor menyala di dinding yang memancarkan cahaya remang kemerahan. Tempat itu sangat asing, dan yang lebih mengerikan, puluhan pasang mata kini sedang menatap ke arahnya.
Mata mereka semua tidak biasa. Ada kilatan-kilatan aneh di sana kemarahan dan ketidakpercayaan.
"Turunkan dia, Alpha muda," sebuah suara lain terdengar, kali ini dari seorang pria paruh baya berambut perak yang berdiri di tengah aula, menghalangi jalan Yudha.
"Peraturan kawanan kita sudah jelas sejak ratusan tahun lalu. Manusia adalah ancaman. Keberadaan mereka di wilayah *Silver Moon* hanya akan membawa petaka dan mengundang musuh!"
Yudha menghentikan langkahnya. Aura di sekitar pria itu mendadak turun drastis, menjadi begitu dingin dan menekan hingga Luna bisa merasakan bulu kuduknya berdiri.
"Dia tidak akan pergi ke mana-mana, tetua," jawab Yudha, suaranya rendah namun bergaung di setiap sudut aula batu tersebut.
"Dia berada di bawah perlindunganku langsung."
"Tapi dia hanya manusia biasa yang rapuh, Yudha! Dia tidak bisa berburu, tidak bisa bertarung, dan hanya akan menjadi beban bagi kawanan ini!" bentak sang tetua lagi, melangkah maju dengan ekspresi menentang yang kentara.
Mendengar kata 'beban' dan 'rapuh' diarahkan kepada gadis di pelukannya, manik mata Yudha kembali berkilat keemasan. Sebuah geraman rendah lolos dari tenggorokannya, membuat beberapa orang di aula itu refleks mundur selangkah karena tekanan aura dominasi sang Alpha yang begitu kuat.
"Aku tidak menerima penolakan," ucap Yudha dingin, menegaskan otoritas mutlaknya sebagai pemimpin tertinggi.
"Siapa pun yang berani menyentuh atau mengusirnya, sama saja dengan menantang taringku sendiri."
Tanpa menunggu balasan lagi, Yudha kembali melangkah, mengabaikan kasak-kusuk kemarahan yang tertahan di belakangnya. Dia membawa Luna menaiki tangga batu yang melingkar, menuju lantai atas kastil yang lebih sunyi dan privat.
Luna, yang sejak tadi berpura-pura masih lemas karena terlampau takut, hanya bisa meremas ujung jaket kulit Yudha dengan tangan gemetar. Dia tidak paham apa yang sedang terjadi, tentang 'kawanan', 'taring', atau mengapa pria tampan ini begitu keras kepala melindunginya. Namun di tengah dunia asing yang tampak sangat mengerikan ini, dada bidang Yudha adalah satu-satunya tempat yang terasa aman untuknya saat ini.
Yudha mendorong sebuah pintu kayu besar di ujung koridor, membawa Luna masuk ke dalam sebuah kamar luas yang hangat, didominasi oleh warna-warna gelap dan aroma maskulin khas kayu pinus bercampur angin malam. Dengan sangat hati-hati, seolah-olah Luna adalah barang pecah belah yang sangat berharga, Yudha merebahkan tubuh gadis itu di atas ranjang besar yang empuk.
Saat Yudha hendak menarik kembali tangannya, jemari kecil Luna menahan ujung lengan jaketnya secara refleks.
Yudha tertegun. Dia menatap ke bawah, menemukan sepasang mata bulat Luna yang jernih namun digenangi rasa takut dan kebingungan, sedang menatapnya lekat-lekat.
"K-kamu... siapa sebenarnya?" bisik Luna dengan suara yang hampir habis, menatap wajah tampan pria di hadapannya yang tampak begitu tenang namun menyimpan misteri yang begitu besar.
Yudha tidak langsung menjawab. Pria itu menatap jemari kecil Luna yang masih meremas ujung jaket kulitnya, lalu beralih menatap sepasang mata bulat yang tampak begitu rapuh. Perlahan, Yudha duduk di tepi ranjang. Kasur yang empuk itu sedikit ambles karena berat tubuhnya yang tegap.
"Aku Yudha," jawabnya, suaranya kini melunak, kehilangan nada menggeram yang sempat membuat bulu kuduk Luna berdiri di aula bawah tadi.
"Dan tempat ini adalah rumahku. Kamu aman di sini, Luna."
"Tapi... mereka semua membenciku," bisik Luna lirih. Ingatan tentang tatapan-tatapan tajam penuh kilat kemarahan di aula batu tadi membuat tubuhnya kembali bergetar kecil.
"Mereka bilang aku manusia... mereka bilang aku ancaman dan beban."
Mendengar kalimat itu keluar dari bibir Luna, rahang Yudha kembali mengeras seketika. Ada kilatan emas yang samar di matanya, pertanda serigala di dalam dirinya ikut murka mendengar belahan jiwanya merasa terintimidasi. Namun, dengan cepat Yudha meredam emosinya agar tidak membuat gadis di depannya semakin ketakutan.
Yudha mengulurkan tangannya yang besar, lalu dengan ragu-ragu namun lembut, dia menangkup punggung tangan Luna yang dingin. Rasa hangat yang menjalar dari telapak tangan Yudha seketika membuat debaran panik di dada Luna sedikit mereda.
"Apa yang mereka katakan tidak ada artinya," ucap Yudha dengan nada menuntut yang mutlak, seolah kata-katanya adalah hukum yang tidak bisa diganggu gugat.
"Aku adalah Alpha di sini. Pemimpin tertinggi mereka. Di tempat ini, perintahku adalah mutlak, dan aku sudah memilih untuk melindungimu. Jadi, jangan pikirkan mereka."
Luna tertegun. Istilah 'Alpha' terasa asing di telinganya, namun cara Yudha mengucapkannya penuh keyakinan dan kekuatan yang begitu besar membuat Luna sadar bahwa pria tampan di hadapannya ini bukanlah orang sembarangan. Di balik wajahnya yang muda dan dingin, Yudha memiliki otoritas yang ditakuti oleh orang-orang bertubuh besar di bawah sana.
"Kenapa?" tanya Luna perlahan, matanya mulai berkaca-kaca lagi.
"Kenapa kamu mau melindungiku? Kita bahkan baru pertama kali bertemu di hutan tadi. Aku hanya manusia biasa yang tidak punya apa-apa lagi..."
Suara Luna bergetar di akhir kalimat, mengingat bagaimana dunia manusia telah menghancurkan hidupnya hingga dia harus berlari ketakutan setengah mati ke dalam hutan terlarang ini.
Yudha menatap lekat-lekat wajah pucat Luna. Dia bisa mencium aroma kesedihan dan trauma yang mendalam dari tubuh gadis itu, berbaur dengan wangi lavender manis yang terus memikat insting serigalanya. Ada dorongan kuat di dalam dadanya untuk menarik tubuh rapuh itu ke dalam pelukannya, menghapus semua air mata itu, dan memastikan tidak ada satu pun makhluk yang bisa menyakitinya lagi.
"Karena takdir," jawab Yudha pendek, namun sarat akan makna yang mendalam. Dia ibu jari kekarnya mengusap lembut punggung tangan Luna.
"Ada ikatan yang tidak bisa dijelaskan oleh logika manusia, Luna. Dan ikatan itu menuntutku untuk selalu berada di sisimu."
Luna terdiam, mencoba mencerna perkataan Yudha yang terdengar begitu puitis namun penuh misteri. Sebelum dia sempat bertanya lebih jauh, perutnya tiba-tiba berbunyi kecil, memecah keheningan kamar luas itu.
Seketika, rona merah muda langsung menjalar di pipi Luna yang pucat karena malu. Dia buru-buru menarik tangannya dari genggaman Yudha dan menunduk dalam-dalam.
Melihat tingkah menggemaskan gadis manusia itu, sudut bibir Yudha berkedut tipis, membentuk senyuman hangat yang jarang sekali dia tunjukkan kepada siapa pun di kawanannya. Pria itu berdiri dari tepi ranjang.
"Istirahatlah dulu. Aku akan meminta seseorang membawakan makanan hangat untukmu," kata Yudha sambil memperbaiki selimut tebal berbulu di atas tubuh Luna, memastikannya tetap hangat di tengah udara malam kastil yang dingin.
Yudha melangkah menuju pintu besar kamar tersebut. Namun sebelum dia benar-benar keluar, dia membalikkan badannya sedikit, menatap Luna yang masih memperhatikan gerak-geriknya dari balik selimut.
"Jangan mengunci pintunya dari dalam, dan jangan pernah berpikir untuk kabur ke luar kastil sendirian, Luna," peringat Yudha dengan nada protektif yang tegas.
"Dunia di luar sana jauh lebih berbahaya dari yang bisa dibayangkan oleh pikiran manusiamu. Tetaplah di kamar ini sampai aku kembali."
Dengan kata-kata terakhir itu, Yudha melangkah keluar dan menutup pintu kayu yang tebal tersebut, menyisakan Luna sendirian di dalam kamar yang luas, hangat, dan dipenuhi oleh aroma maskulin sang Alpha muda yang entah mengapa mulai terasa menenangkan baginya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!