Indonesia
NovelToon NovelToon

Setelah 9 Tahun Bersama

Bab 1. Merasa Dicintai

Suasana pagi di lantai tiga puluh dua gedung utama Ardhana Group sudah sibuk sejak pukul delapan. Para staf berlalu-lalang membawa dokumen, suara telepon kantor bersahutan, sementara aroma kopi memenuhi udara dari pantry di ujung lorong.

Di tengah kesibukan itu, Jena duduk fokus di meja sekretaris CEO sambil mengetik jadwal rapat hari ini.

Penampilannya sederhana namun rapi. Blouse putih lengan panjang dipadukan rok hitam span membuatnya terlihat profesional sekaligus anggun. Rambut panjangnya dijepit sebagian ke belakang, memperlihatkan wajah cantik yang teduh. Tangannya bergerak cepat di atas keyboard saat suara lift privat terbuka.

Beberapa karyawan langsung berdiri lebih tegak.

"Selamat pagi, Pak Jovian."

"Selamat pagi, Pak."

"Pagi." Jovian Ardhana melangkah keluar dari lift dengan langkah tenang dan berwibawa. Jas abu gelap membungkus tubuh tegapnya sempurna. Wajah tampannya terlihat dingin bagi kebanyakan orang.

Namun tidak untuk satu perempuan. Tatapan Jovian langsung melembut begitu melihat Jena. "Pagi, Sayang."

Jena spontan mendongak lalu tersenyum kecil. "Pagi, Mas."

Beberapa staf diam-diam saling pandang sambil menahan iri.

Hubungan CEO muda itu dengan sekretaris pribadinya memang bukan rahasia lagi di kantor.

Dan semua orang tahu ... Jovian sangat mencintai Jena.

Jovian menghampiri meja Jena lalu meletakkan paper bag kecil di sana. "Kamu belum sarapan." Bukan bertanya. Tapi memastikan.

Jena langsung terkekeh pelan. "Mas pasang CCTV di aku ya?"

"Aku sangat hafal kebiasaan kamu." Jovian mengeluarkan segelas kopi hangat dan roti favorit Jena dari paper bag itu. "Hazelnut latte tanpa gula tambahan."

Tatapan Jena langsung menghangat. Sembilan tahun bersama, tapi lelaki itu masih mengingat detail kecil tentang dirinya.

"Kamu berangkat pagi banget tadi," ujar Jovian.

"Ada revisi jadwal meeting."

"Kamu tidur jam berapa?"

Jena salah tingkah. "Jam sebelas."

Jovian menyipitkan mata. "Bohong."

Jena tertawa kecil. "Setengah satu."

"Kebiasaan."

"Kerjaan lagi banyak."

Jovian menghela napas pelan lalu merapikan anak rambut yang jatuh di pipi Jena. "Jangan terlalu capek."

"Mas juga."

"Aku beda."

"Bedanya apa?"

"Aku kuat."

Jena mendengkus geli. "Pede banget."

"Kalau aku nggak kuat, mana mungkin aku bisa jagain dan mencintai kamu selama sembilan tahun."

Ucapan itu membuat dada Jena menghangat. Ia benar-benar merasa dicintai. Bukan cinta yang meledak-ledak seperti di drama. Tapi cinta yang tenang. Yang membuatnya merasa aman.

Seorang staf laki-laki yang lewat bahkan berbisik pelan pada temannya. "Kalau Pak Jovian lihat Mbak Jena, auranya langsung beda ya."

"Iya, dinginnya hilang semua."

Jena mendengar samar ucapan itu dan pipinya langsung memanas. "Mas ... semua orang melihat kita dan lagi bisik-bisik tuh."

"Biarin." Jovian malah santai. Lelaki itu sedikit membungkuk mendekat. "Nanti siang makan sama aku ya."

Jena mengangkat alis. "Bukannya Mas ada meeting panjang?"

"Aku bisa menyelipkan waktu."

"Mas jangan mengorbankan kerjaan buat makan siang sama aku."

"Buat kamu, pekerjaan pun akan aku korbankan."

Kalimat sederhana itu sukses membuat Jena kembali tersipu. Kadang ia heran sendiri. Bagaimana mungkin setelah hampir satu dekade bersama, ia masih bisa jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama?

"Mas masuk dulu sana," ujar Jena sambil menahan senyum. "Jam sembilan ada rapat sama direksi dan petinggi MS Fashion."

"Oke, tapi kamu ikut masuk ke ruanganku yuk."

"Mas ..."

"Sebentar aja, Sayang." Jovian mengusap pipi Jena.

Jena akhirnya berdiri sambil membawa tablet dan beberapa dokumen penting. Ia mengikuti Jovian masuk ke ruang CEO yang luas dan elegan.

Begitu pintu tertutup, suasana langsung terasa lebih privat. Baru saja Jena hendak menyerahkan dokumen, Jovian tiba-tiba menarik pinggangnya pelan. "Mas!"

"Kangen." Jovian menggesekan hidungnya di ceruk leher Jena. Menghirup aroma khas dari tubuh kekasihnya itu.

"Kita baru ketemu tadi malam." Jena menahan geli dari gerakan hidung Jovian.

"Tetap aja. Aku kangen kamu terus."

Jena tertawa kecil sambil menahan dada bidang lelaki itu. "Kalau ada yang masuk gimana?"

"Nggak akan ada yang berani masuk tiba-tiba." Tatapan Jovian turun ke wajah perempuan itu. Hangat dan lembut. Tatapan yang selalu membuat Jena merasa jadi satu-satunya perempuan di dunia. "Aku serius soal omongan kemarin," ucap Jovian pelan.

Jantung Jena langsung berdetak sedikit lebih cepat. "Soal nikah?"

Jovian mengangguk. "Aku pengen cepet-cepet menyelesaikan semuanya."

Wajah Jena langsung memerah tipis. Sudah hampir satu tahun terakhir Jovian sering membahas pernikahan mereka.

Tentang rumah, tentang masa depan dan tentang hidup bersama.

Setiap kali topik itu muncul, hati Jena selalu dipenuhi kebahagiaan.

"Aku ingin membahagiakan kamu," lanjut Jovian.

"Aku udah bahagia, Mas."

"Belum cukup."

Jena menatap lelaki itu lembut. "Aku nggak pernah nuntut apa-apa dari Mas."

"Aku tahu."

"Bahkan kalau Mas bukan CEO pun, aku tetap ak memilih dan mencintai Mas."

Tatapan Jovian langsung melembut semakin dalam. Ia mengecup singkat kening Jena. "Aku beruntung punya kamu." Bibirnya lalu turun ke bibir merah muda Jena, menyesapnya lembut dan penuh cinta.

Jena pun membalasnya, mengalungkan kedua tangannya ke leher kekar Jovian Ardhana.

***

Sekitar pukul sembilan lewat lima belas menit, ruang meeting utama Ardhana Group mulai dipenuhi beberapa petinggi perusahaan.

Jena sibuk memastikan semua kebutuhan rapat tersedia.

Laptop.

Dokumen.

Minuman.

Proyektor.

Sementara Jovian berdiri berbincang dengan beberapa direksi di dekat meja panjang utama.

Tak lama kemudian, pintu ruang meeting terbuka. Semua orang spontan menoleh.

Bimo Ardhana, Papa Jovian masuk dengan langkah tenang khas seorang pemimpin besar. Di belakangnya, ada seorang perempuan muda yang langsung mencuri perhatian semua yang ada di ruangan.

Cantik.

Elegan.

Dan sangat berkelas.

Dress beige mahal membalut tubuh rampingnya sempurna. Rambut panjang bergelombang jatuh anggun di bahunya, sementara heels tinggi membuat penampilannya semakin menonjol.

Jena yang sedang berdiri dekat meja sedikit terdiam.

Bimo tersenyum tipis. "Maaf membuat semua menunggu."

"Tidak, Pa," jawab Jovian. Tatapan lelaki itu sempat beralih pada perempuan di belakang ayahnya.

Bimo lalu berkata, "Jovian, kenalkan. Ini Michelle Ayu Suroso."

Perempuan itu tersenyum lalu mengulurkan tangan. "Halo."

Jovian membalas jabatan tangan itu sopan. "Halo."

"Michelle mewakili MS Fashion untuk rapat hari ini," lanjut Bimo. "Pak Mario Suroso mendadak ada urusan di luar kota jadi tidak bisa hadir."

"Oh begitu," ujar Jovian profesional.

Michelle tersenyum tipis. "Papi sebenarnya kecewa tidak bisa datang langsung. Beliau bilang kerja sama dengan Ardhana Group terlalu penting untuk dilewatkan."

"Semoga urusannya lancar," jawab Jovian.

Michelle mengangguk. Tatapan matanya sempat memperhatikan Jovian beberapa detik lebih lama.

Dan entah kenapa, Jena menangkap itu.

Namun ia buru-buru menepis pikirannya sendiri. Mungkin hanya perasaannya saja.

Rapat pun dimulai.

Selama presentasi berlangsung, Michelle beberapa kali menyampaikan pendapat dengan percaya diri. Cara bicaranya tenang, cerdas, dan jelas menunjukkan bahwa ia memang terbiasa berada di lingkungan bisnis besar.

Beberapa direksi bahkan tampak terkesan.

"Putri Pak Mario memang luar biasa."

"Masih muda tapi cara negosiasinya bagus."

Jena mendengar bisikan itu samar-samar sambil tetap fokus mencatat poin rapat.

Sementara di sisi lain meja, Michelle sesekali melirik ke arah Jovian saat berbicara.

Dan anehnya, Jovian terlihat cukup nyaman menanggapi perempuan itu.

"Kalau untuk produksi premium line, kami ingin kualitas bahan tetap eksklusif," ujar Michelle.

Jovian mengangguk. "Itu juga standar perusahaan kami."

Michelle tersenyum kecil. "Bagus kalau begitu. Berarti kita sejalan."

Kata "kita" terdengar sederhana. Namun entah kenapa membuat hati Jena terasa sedikit aneh. Padahal ini baru pertama kali mereka bertemu.

Rapat berlangsung hampir dua jam sebelum akhirnya selesai. Semua peserta mulai berdiri dan membereskan dokumen masing-masing.

Michelle menoleh pada Jovian sambil tersenyum sopan. "Senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan Anda, Pak Jovian."

"Saya juga."

"Semoga kerja sama kita berjalan lancar." Michelle tersenyum kecil.

"Pasti."

Michelle lalu sedikit melirik ke arah Jena yang berdiri tak jauh dari Jovian. "Sekretaris Anda sangat teliti."

Jena tersenyum sopan. "Terima kasih."

Bimo tiba-tiba berkata, "Jena memang sudah lama bekerja sama dengan Jovian."

"Pantas kelihatan sangat paham ritme kerja Pak Jovian," ujar Michelle sambil tersenyum tipis.

Jena mengangguk kecil. Namun entah kenapa, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, muncul perasaan asing yang tidak bisa ia jelaskan. "Ini perasaan apa ya, kenapa hatiku jadi nggak enak?" gumam gadis itu dalam hati.

Bab 2. Dia Mulai Mengusik

Sejak rapat kerja sama dengan MS Fashion pagi itu, nama Michelle Ayu Suroso mulai sering terdengar di kantor Ardhana Group.

Awalnya hanya sebatas urusan pekerjaan. Jena masih menganggap semuanya normal.

MS Fashion memang perusahaan besar. Wajar jika proyek kerja sama mereka melibatkan banyak komunikasi dan pertemuan lanjutan.

Namun entah kenapa, nama Michelle mulai muncul terlalu sering di sekitar Jovian.

"Pak Jovian, proposal revisi dari MS Fashion sudah masuk."

"Pak Jovian, Bu Michelle meminta perubahan timeline produksi."

"Pak Jovian, Bu Michelle ingin menjadwalkan meeting tambahan."

Dan setiap kali nama itu disebut, Jena mulai merasa ada sesuatu yang perlahan mengusik ketenangan hidupnya. Namun ia selalu berusaha berpikir positif.

***

Suasana kantor pagi itu cukup lengang karena sebagian staf menghadiri kunjungan ke pabrik cabang.

Jena sedang menyusun dokumen di meja sekretaris ketika suara pintu lift privat terbuka. Ia mendongak spontan. Jovian keluar sambil melepas jas hitamnya. Tatapan lelaki itu langsung mencari satu orang. Dan seperti biasa, berhenti pada Jena. "Pagi."

Jena tersenyum kecil. "Pagi, Mas."

Jovian menghampiri meja sekretaris lalu menyandarkan pinggul di sana. "Kamu udah sarapan?"

"Udah."

"Bohong."

Jena terkekeh. "Beneran."

"Kopi doang bukan sarapan," tebak Jovian tepat sasaran.

Jena menghela napas pasrah. "Mas ini kenapa sih suka banget ngawasin aku?"

"Karena aku sayang kamu." Jawabannya terlalu cepat. Terlalu natural. Dan selalu berhasil membuat pipi Jena menghangat. Jovian lalu menyerahkan paper bag kecil. "Ini buat kamu."

"Apa ini, Mas?"

"Buka aja."

Jena membuka paper bag itu perlahan. Matanya langsung berbinar saat melihat kotak kecil berisi strawberry cheesecake favoritnya. "Mas ..."

"Kemarin kamu lihat postingan itu terus dan kamu bilang ke aku kalau kamu pengen makan itu."

"Kamu inget?" Mata Jena berbinar.

Jovian mengangkat alis. "Aku lupa kapan terakhir kali nggak inget soal kamu."

Dada Jena kembali dipenuhi rasa hangat. Ia memeluk Jovian, sebelum akhirnya mengucapkan terima kasih.

Sembilan tahun bersama, dan lelaki itu masih memperhatikan hal kecil tentang dirinya. Bagaimana mungkin Jena tidak mencintai Jovian sedalam ini? Bahkan ia bisa dibilang tergila-gila pada makhluk tampan berwibawa bernama Jovian Ardhana.

"Mas udah sarapan belum?" tanya Jena sambil melepas pelukan.

"Udah tadi di rumah. Hari ini ada meeting pagi 'kan?"

Jena mengangguk. "Ada. Jam sepuluh."

"Kalau gitu aku masih punya waktu buat nemenin kamu sarapan."

Pipi Jena merona. "Mas apaan sih? Nanti diomelin lho."

"Nggak akan ada yang berani ngomel. Aku 'kan CEO di sini."

"Iya juga ya." Jena terkikik.

Jovian ikut terkekeh pelan lalu menarik kursi dan duduk di dekat meja sekretaris itu seperti sudah biasa. Padahal jika dilihat orang lain, pemandangan itu sangat tidak masuk akal.

Seorang CEO besar duduk menemani sekretarisnya makan cheesecake sambil sesekali menyuapinya. Namun bagi Jovian ... Jena selalu menjadi tempat paling nyaman. "Aaa ... buka mulutnya, Sayang."

"Mas!"

"Cepet."

Jena malu-malu membuka mulut kecilnya sementara Jovian tersenyum puas.

Beberapa staf yang lewat hanya bisa geleng-geleng kepala.

"Pak Jovian makin hari makin bucin." Salah satu staf berbisik ke rekannya.

"Iya. Kalau aku jadi Mbak Jena, udah nggak mau cari laki-laki lain."

Dan memang benar. Bagi Jena, Jovian adalah rumah.

Lelaki yang menemaninya tumbuh sejak remaja.

Lelaki yang dulu rela kehujanan demi menjemputnya les.

Lelaki yang mengajarinya menyetir.

Lelaki yang selalu bilang:

"Nanti kalau aku sukses, kamu harus tetap di samping aku."

Dan Jena percaya ia akan tetap berada di sana. Di sisi Jovian, selamanya.

***

Menjelang siang, suasana kantor kembali sibuk. Jena sedang mencetak beberapa dokumen ketika suara langkah heels terdengar mendekat. Ia mendongak.

Michelle berdiri di depan meja sekretaris dengan senyum elegan. "Hai, Jena. Selamat siang."

Jena langsung berdiri sopan. "Selamat siang, Bu Michelle."

"Jovian ada?"

Jena sedikit terdiam mendengar perempuan itu memanggil nama CEO-nya begitu saja.

Bukan "Pak Jovian", tapi langsung Jovian.

Namun Jena buru-buru menepis pikirannya sendiri. "Mungkin memang gaya bicara Bu Michelle seperti itu," batinnya. Ia segera menjawab. "Ada, Bu. Tapi Pak Jovian sedang meeting online," jawab Jena.

Michelle mengangguk kecil. "Kalau begitu aku tunggu aja."

"Silakan duduk."

Michelle duduk di sofa ruang tunggu depan ruang CEO sambil memainkan ponselnya.

Beberapa menit kemudian, pintu ruang kerja terbuka. Jovian keluar sambil masih fokus membaca dokumen di tablet. Namun langkahnya berhenti saat melihat Michelle. "Oh, kamu sudah datang."

Michelle berdiri sambil tersenyum manis. "Maaf aku datang mendadak."

"Nggak apa-apa."

"Aku cuma mau memastikan soal revisi kontrak kemarin."

Jena kembali sedikit terusik. Lagi-lagi perempuan itu memanggil Jovian dengan cara yang terlalu akrab. Namun yang lebih membuatnya diam, Jovian tidak terlihat keberatan sama sekali.

"Mari masuk," ujar Jovian.

Michelle mengangguk. Sebelum masuk ke ruang CEO, perempuan itu sempat melirik Jena dan tersenyum tipis.

Entah kenapa, senyum itu membuat Jena tidak nyaman. "Kenapa perasaanku selalu seperti ini ya, setiap melihat Bu Michelle?"

Hampir satu jam Michelle berada di dalam ruangan CEO. Jena sebenarnya berusaha fokus bekerja. Namun samar-samar ia mendengar suara tawa dari dalam ruangan. Tawa Jovian. Dan anehnya, sudah lama sekali ia tidak mendengar sang kekasih tertawa selepas itu saat bekerja.

Tak lama kemudian pintu terbuka. Michelle keluar sambil tersenyum. "Thanks ya."

Jovian ikut keluar mengantarnya sampai depan pintu. "Sama-sama."

Michelle tertawa kecil. "Kamu ternyata nggak sedingin yang aku bayangkan. Dan nggak sejutek yang orang-orang bilang. Kamu orangnya ... asyik."

Jena yang sedang mengetik spontan berhenti sesaat. Tatapannya perlahan terangkat. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Jovian tersenyum pada perempuan lain dengan cara yang cukup hangat. "Sikap hangatku hanya kutunjukan pada orang-orang tertentu," jawab Jovian santai.

Michelle tersenyum semakin lebar. "Berarti aku spesial dong bisa lihat sisi hangatnya kamu?"

Jovian terkekeh kecil. Lalu ia mengangkat bahu.

Dadanya Jena mendadak terasa aneh.

Bukan karena ucapan itu. Tapi karena sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Michelle akhirnya pamit pergi. Namun setelah pintu lift tertutup, Jena masih terdiam beberapa detik. Sampai suara Jovian menyadarkannya. "Kenapa bengong?"

"Hah? Enggak." Jena mengelak cepat.

Jovian mendekat ke meja sekretarisnya.

Tatapan lelaki itu langsung menyipit tipis. "Jangan bilang kamu cemburu?"

Jena spontan salah tingkah. "Apa sih?" Ia memalingkan wajah.

"Kelihatan tahu," goda Jovian sambil mengacak puncak kepala Jena.

"Aku nggak cemburu." Jena menahan tangan Jovian yang mengacak rambutnya.

Jovian tersenyum kecil lalu mencondongkan tubuh mendekat. "Jangan mikir yang enggak-enggak. Dia cuma partner kerja." Nada suaranya terdengar santai dan meyakinkan.

"Aku cuma nggak biasa lihat Mas ngobrol selama itu sama perempuan lain," gumam Jena jujur.

Jika tadi Jovian mengacak puncak kepala Jena, kini lelaki itu mengusapnya lembut. "Berarti kamu cemburu."

"Masss!" Bibir Jena manyun.

Jovian mencomot gemas bibir manyun Jena, sebelum berbisik penuh damba. "Di hidup aku cuma ada kamu."

Kalimat itu sukses membuat kecemasan kecil di hati Jena perlahan mereda. Ia mendongak, menatap Jovian yang tengah menatapnya hangat. "Mungkin aku terlalu sensitif dan curiga berlebihan," bisiknya dalam hati. "Lagian Bu Michelle itu cantik, pintar, dan berasal dari keluarga kaya raya. Mana mungkin dia tertarik pada laki-laki yang sudah punya kekasih selama sembilan tahun? Nggak mungkin perempuan terhormat seperti Bu Michelle jadi PHO?" Jena kembali menepis semua kecurigaannya.

"Udah ya, kamu nggak usah cemburu sama Michelle," suara Jovian membuyarkan kecamuk batin Jena.

"Iya, Mas." Jena mengangguk kecil.

"Ya sudah, kamu lanjut kerja lagi. Aku juga mau kembali ke ruanganku. Nanti sore kita pulang sama-sama ya?"

"Iya, Mas."

***

Waktu kerja pun usai. Jovian keluar dari ruangannya dan segera menghampiri Jena. "Sudah siap untuk pulang?" tanya lelaki itu seraya bersandar di kusen pintu.

Jena tertawa sambil merapikan barang-barangnya. "Siap Pak CEO."

"Kalau begitu ... let's go!"

Jena berlari kecil dan menyambut uluran tangan Jovian. Mereka berdua berjalan menapaki koridor kantor dengan bergandengan tangan.

Sampai di depan mobil, Jovian bertanya pada Jena. "Mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu?"

Jena nampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya menjawab. "Langsung pulang aja. Aku capek banget. Mas juga kelihatan lelah."

"Oke, Sayang." Jovian membukakan pintu mobil. "Silakan masuk, cintaku."

Tawa Jena menguar geli. "Mas ihh! Jangan lebay."

"Aku nggak lebay. Aku cuma berusaha meratukan calon istriku."

Perlahan, mobil sport hitam itu melaju keluar dari parkiran kantor Ardhana Group.

Sekitar tiga puluh menit, mobil Jovian sampai di kawasan apartemen elite. "Mau mampir dulu nggak, Mas?" Jena bertanya sembari melepas sabuk pengamannya. "Mampir lah, masa enggak. Ke apart sendiri kok nggak mampir," cerocos Jena menggoda Jovian, membuat lelaki itu tertawa.

"Oke, oke. Jika ratuku sudah nyerocos ... aku tidak bisa menolak."

Jena terkikik. "Ya sudah, ayo turun."

"Siap."

Mereka kembali berjalan bergandengan tangan mesra. Para petugas apart pun sudah tak aneh lagi. Bahkan ada yang terang-terangan menggoda.

"Aduh-aduh ... kapan nyebar undangan nih?" kata salah satu resepsionis.

"Akhir tahun." Jovian menjawab dengan mantap dan suara yang lantang, membuat Jena yang berjalan di sebelahnya tak bisa menyembunyikan rona di pipi.

"Asyik! Kondangan nih kita!"

"Iya!"

Dua pegawai resepsionis itu tertawa saling bersahutan.

Jena dan Jovian pun ikut tertawa-tawa sambil menunggu lift terbuka. Tak lama, lift di depan mereka terbuka. Lalu keduanya masuk dengan wajah bahagia.

Akhirnya lift berhenti di lantai lima belas di mana unit apartemen Jena berada, lebih tepatnya unit milik Jovian yang ditinggali Jena.

"Mari masuk!" seru Jena sambil membuka pintu. Belum sempat gadis itu membuka heels-nya, tangan Jovian sudah lebih dulu menarik tubuhnya hingga berbenturan dengan tubuh Jovian yang tinggi atletis. "Mas!" Jena memukul pelan dada bidang kekasihnya.

"Aku pengen ini dari tadi." Jovian menyentuh permukaan bibir Jena yang dipoles lipstik warna nude.

Jena mendongak, kedua tangannya langsung melingkari leher kekar sang kekasih. "Boleh," bisiknya.

Jovian tersenyum kecil sebelum merunduk dan meraup bibir Jena.

Sang gadis membalasnya dengan lembut di awal. Tapi lama kelamaan mengikuti ritme hisapan Jovian.

"Jena ..." desah Jovian di sela ciuman mereka. "Aku sayang kamu."

"Aku juga, Mas."

Untuk beberapa menit, suasana di ruang tamu apartemen itu hanya dipenuhi suara cecapan bibir dan lidah yang saling beradu. Diiringi napas berat yang bertabrakan. Hingga akhirnya ponsel di saku jas Jovian berdering. Ciuman itu pun terlepas. Keduanya lalu tertawa geli.

"Ada yang nelepon, Mas."

"Iya, ganggu aja." Jovian merogoh saku jasnya setelah mengusap permukaan bibir Jena menggunakan ibu jarinya. "Papa." Suaranya memelan.

"Buruan angkat! Nanti beliau marah," kekeh Jena yang kini gantian mengusap permukaan bibir Jovian yang basah oleh saliva.

"Iya, Sayang." Jovian pun mengangkat panggilan dari ayahnya itu. "Halo, Pa?"

Suara ayahnya terdengar di seberang. "Kamu masih di kantor?"

"Nggak, aku lagi di apart Jena, kenapa?"

"Pulang sekarang. Ada yang ingin Papa bicarakan."

Sebelum menjawab, Jovian melirik Jena. Ia menjauhkan ponselnya sejenak. "Papa nyuruh aku pulang sekarang," beritahunya.

"Nggak papa, pulang aja." Jena membalas dengan suara kecil.

Jovian kembali menempelkan ponsel ke telinga. "Oke, Pa. Aku pulang sekarang." Panggilan pun berakhir. Jovian memasukan ponselnya ke saku jas, "Aku pulang dulu ya?"

"Iya, Mas. Hati-hati."

"Nanti malam kita vc."

"Iya."

Sebelum pergi, Jovian menyempatkan diri memeluk dan mengecup lagi bibir Jena. "Bye, Princess."

"Bye, Mas." Jena mengantar Jovian sampai ambang pintu. Ia dengan setia memandangi tubuh sang pacar sampai menghilang di balik lift. "Huh!" Jena menutup pintu lalu berjalan ke kamarnya. "Aku ingin segera menjadi istrimu, Mas."

***

Jena duduk di balkon apartemennya sambil melakukan video call dengan Jovian.

Lelaki itu masih berada di ruang kerjanya di rumah. "Kamu belum tidur?" tanya Jovian.

"Nungguin Mas. Kan tadi sore ngajak video call."

"Eh, iya." Jovian mengedip polos.

Jena tersenyum kecil. "Aku kangen."

Tatapan Jovian langsung melembut. "Kan tadi sore udah aku kasih amunisi."

"Mau lagi. Tadi kurang lama," kekeh Jena.

"Dasar." Jovian tertawa kecil. "Apa aku harus ke sana sekarang?"

"Emang Mas mau?" Jena malah balik bertanya.

"Kalau kamu bilang iya, aku berangkat sekarang."

Jena langsung tersipu. "Mas jangan bikin aku salting."

"Memang sengaja."

Mereka berbincang cukup lama. Tentang pekerjaan, tentang rencana liburan, tentang makanan dan tentang hal-hal sederhana yang sudah menjadi bagian dari hubungan mereka selama bertahun-tahun. Sampai tiba-tiba ponsel Jovian yang lain berbunyi.

Tatapan lelaki itu langsung beralih ke layar lain. "Sebentar ya."

"Siapa?"

"Michelle."

Jantung Jena langsung terasa sedikit turun. Jovian membaca pesan itu singkat lalu kembali menatap layar. "Dia kirim revisi desain."

"Oh." Jena berusaha tersenyum biasa.

Namun sedetik kemudian ponsel Jovian kembali berbunyi. Dan lagi. Lalu lagi.

Jovian terkekeh kecil. "Dia cerewet juga ternyata."

Jena ikut tersenyum tipis. "Mas jadi ke sini, tidak?"

Jovian memalingkan wajahnya dari ponsel satunya lagi. "Maaf ya, Sayang. Besok saja, ya. Aku harus memeriksa revisian yang dikirimkan Michelle."

"Hah?" Jena mematung. Ini pertama kalinya Jovian mengedepankan pekerjaan ketimbang dirinya.

Bab 3. Mulai Berubah

Jena menatap layar ponselnya yang kini sudah menggelap. Ia masih tak percaya Jovian tak jadi datang ke apartemennya. "Ya ampun! Kamu mikir apa sih, Jen? Ya wajar Jovian mengutamakan memeriksa revisian yang dikirim Bu Michelle. Jovian kan selalu profesional." Ia memukul kepalanya pelan. "Stop overthinking, Jen. Mending sekarang kamu tidur." Jena bangkit dari kasur. Ia menyimpan ponselnya ke atas nakas, lalu mematikan lampu. Tubuhnya ia rebahkan perlahan. "Semoga hari esok lebih baik dari hari ini." Mata Jena pun perlahan tertutup.

Di ruang kerjanya, Jovian masih sibuk memeriksa revisian yang dikirim Michelle. Iris hitamnya begitu fokus memeriksa setiap detail dengan saksama. Seulas senyum terukir di bibirnya yang sensual. "Michelle memang sangat teliti. Dia bukan wanita sembarangan. Pekerjaannya sama rapinya dengan Pak Mario. Anak dan ayah sama-sama hebat." Jovian memejamkan mata sejenak. Mendadak wajah Michelle saat sedang presentasi berkelebat, lalu disusul wajah Jena. "Ya Tuhan!" Matanya terbuka seketika. "Fokus, Jov. Besok harus presentasi!" Ia pun kembali menatap layar laptopnya.

***

Mentari pagi membawa udara hangat menyentuh wajah Jena. Gadis itu turun dari taksi online. Kakinya yang jenjang melangkah menapaki pelataran gedung Ardhana Group. "Pagi, Pak." Ia menyapa satpam yang berjaga di lobi.

"Pagi, Mbak Jena."

Jena mengangguk, lalu masuk ke dalam kantor. Pagi itu ia sengaja datang lebih awal ke kantor karena harus menyiapkan presentasi meeting investor.

Jena baru saja tiba di ruangannya ketika ponselnya berbunyi. Nama Jovian muncul di layar. Senyum Jena langsung terbit. "Pagi, Mas."

Namun suara di seberang terdengar terburu-buru. "Jena, file presentasi kerja sama MS Fashion udah siap?"

Jena sedikit terdiam. Biasanya Jovian akan memulai pagi dengan sapaan manis atau menanyakan apakah ia sudah sarapan atau belum. Hari ini langsung pekerjaan. "Udah," jawab Jena pelan. "Nanti aku kirim ke email Mas."

"Oke. Aku lagi di jalan."

"Mas udah sarapan?"

"Nanti aja."

"Oke. Jangan sampai nggak sarapan ya?"

"Iya." Setelah itu telepon langsung terputus.

Jena menatap layar ponselnya beberapa detik. Perasaan aneh itu muncul lagi. Kecil, tipis, namun terasa nyata. Ia menghela napas pelan lalu buru-buru mengusir pikirannya sendiri. "Tenang, Jena. Kamu sudah berjanji untuk tidak overthinking lagi." Ia pun memulai pekerjaannya.

Sekitar pukul setengah delapan, lift privat terbuka. Jovian keluar sambil berbicara dengan seseorang melalui headset bluetooth. Wajahnya terlihat serius. Beberapa staf langsung menyapa, namun lelaki itu hanya mengangguk tipis sambil tetap fokus berbicara. "Kalau timeline berubah, biaya produksi juga berubah," ucapnya. Jena yang sedang berdiri langsung menoleh. "Tidak bisa semaunya, Michelle."

Beberapa detik kemudian, ekspresi Jovian berubah lebih santai. "Ya nanti kita bahas lagi." Ia tersenyum kecil. Senyum kecil yang entah kenapa membuat dada Jena terasa tidak nyaman. "Oke. Sampai nanti." Panggilan berakhir. Baru setelah itu Jovian berjalan mendekati meja sekretarisnya. "Pagi."

Jena tersenyum kecil. "Pagi, Mas."

Jovian meletakkan tablet di meja. "File presentasi?"

"Udah aku kirim."

"Good."

Jena menunggu. Biasanya setelah itu Jovian akan duduk sebentar, menggodanya, atau sekadar menanyakan kabarnya. Namun hari ini lelaki itu justru tampak sibuk membuka email.

"Mas udah sarapan belum?"

"Nanti aja."

"Kopi?"

"Hm."

Jena bangkit berdiri hendak mengambil kopi ke pantry, tapi tiba-tiba Jovian berkata tanpa mengalihkan pandangan dari layar, "Oh ya, nanti jam dua Michelle datang."

Langkah Jena terhenti sesaat. "Meeting lagi?"

"Iya."

"Bukannya kemarin baru saja meeting ya, Mas?"

"Dia mau bahas campaign baru."

Jena mengangguk kecil. "Oh."

"Aku ke ruanganku ya." Tanpa menunggu jawaban dari Jena, Jovian langsung pergi.

Jena menatap kepergian lelaki itu dengan hati yang tak menentu karena

nama Michelle kini mulai terdengar terlalu sering di telinganya.

Tepat pukul setengah satu siang, Jena masuk ke ruang CEO membawa makan siang. Ia tersenyum kecil saat melihat Jovian masih sibuk bekerja. "Mas belum makan kan?"

"Hm."

"Aku bawain makanan."

Biasanya Jovian akan langsung mendekat atau menariknya duduk bersama. Namun hari ini lelaki itu hanya mengangguk sambil tetap fokus membaca dokumen. "Taruh situ dulu ya."

Jena sedikit terdiam. "Oke." Ia akhirnya mengangguk. Ia menata makanan di meja kecil dekat sofa lalu melirik Jovian lagi. "Mas pasti capek?"

"Lumayan."

"Meeting investor tadi susah?"

"Bukan."

"Terus?"

Jovian mengusap tengkuknya pelan. "Michelle banyak maunya." Kalimat itu terdengar seperti keluhan biasa. Namun anehnya, Jovian mengucapkannya sambil tersenyum tipis.

Jena berusaha ikut tersenyum. "Namanya juga partner kerja."

"Iya sih."

Beberapa detik hening. Lalu tiba-tiba ponsel Jovian berbunyi. Nama Michelle muncul jelas di layar. Dan yang membuat dada Jena terasa aneh, Jovian langsung mengangkatnya. "Halo?" Nada suaranya berubah lebih ringan. "Iya, aku udah lihat."

Aku.

Bukan saya.

Jena membeku sesaat. Karena selama ini Jovian selalu profesional dengan rekan kerja. "Aneh?" Gadis itu membatin.

"Enggak, itu bisa direvisi." Jovian berdiri lalu berjalan mendekati jendela besar sambil tetap berbicara di telepon.

Jena menatap punggung lelaki itu dalam diam. Perasaan asing itu kembali muncul. Kecil, namun perlahan mulai menusuk.

Tak lama kemudian panggilan berakhir.

Jovian kembali duduk.

"Mas makan dulu, ya?" ujar Jena pelan.

"Hm? Iya." Jovian akhirnya mulai makan, sementara Jena duduk di seberangnya. Biasanya mereka akan mengobrol santai saat makan siang.

Namun hari ini, Jovian lebih banyak memeriksa ponselnya. Dan Jena mulai merasa sendirian meski duduk tepat di depan lelaki yang ia cintai. Akhirnya ia memilih kembali ke ruangannya, dan Jovian mengizinkan tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.

Jena menutup pintu ruangan Jovian dengan gerakan pelan. Mendadak ia jadi ingin menangis. "Astagfirullah! Jangan mikir yang aneh-aneh, Jen." Meski perasaan asing itu kerap kali muncul, tapi Jena tetap berusaha berpikir positif.

Pukul dua siang, Michelle datang lagi ke kantor. Kali ini penampilannya lebih formal dengan blazer putih dan rok span hitam. Namun tetap saja, perempuan itu terlalu cantik untuk diabaikan. "Hei, Jena," sapanya ramah.

"Selamat siang, Bu Michelle."

"Jovian ada?"

"Ada, Bu. Pak Jovian sudah menunggu Bu Michelle di dalam."

Michelle tersenyum lalu berjalan masuk tanpa banyak formalitas.

Jena mencoba fokus bekerja. Namun samar-samar suara tawa terdengar lagi dari dalam ruang CEO. Ia menggigit bibir pelan. Mungkin ia memang terlalu sensitif. Namun insting perempuan jarang salah.

Satu jam berlalu.

Dua jam.

Michelle masih di dalam.

Menjelang sore, pintu ruang CEO akhirnya terbuka. Michelle keluar sambil tertawa kecil. "Kamu tuh ternyata susah diajak kalah ya."

Jovian ikut tertawa. "Karena kamu keras kepala."

"No! No! Aku bukan keras kepala. Tapi perfeksionis."

"Bedanya tipis."

Michelle tertawa lagi.

Dan untuk pertama kalinya, Jena melihat Jovian tertawa sebebas itu dengan perempuan lain. Dadanya langsung terasa sesak.

Michelle lalu menoleh pada Jena. "Jena, boleh pinjam Jovian bentar malam ini?"

Jena spontan membeku. Michelle buru-buru melanjutkan sambil tertawa kecil. "Eh maksudku buat meeting dinner. Bahas campaign."

Jovian terlihat santai. "Nanti aku kabarin jamnya."

"Sure." Michelle tersenyum manis lalu pergi meninggalkan ruangan itu diantar oleh Jovian.

Jena masih duduk di mejanya sambil mencoba mengatur napas. Entah kenapa kalimat tadi terus terngiang di kepalanya.

"Pinjam Jovian bentar malam ini?"

Dan yang lebih mengganggu pikirannya,

Jovian tidak terlihat terganggu sama sekali.

***

Jena terus melirik jam dinding di apartemennya. Sang penunjuk waktu itu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Namun belum ada kabar dari Jovian. Padahal biasanya lelaki itu selalu menghubunginya sebelum tidur.

Jena akhirnya memberanikan diri menelepon lebih dulu. Sambungan diangkat setelah beberapa kali dering.

"Halo?" Suara musik samar terdengar dari seberang sana.

"Mas masih meeting?"

"Iya."

"Kok malam banget?"

"Lagi bahas konsep campaign belum beres."

"Oh ..."

Beberapa detik hening. Lalu samar-samar terdengar suara perempuan tertawa. Jena langsung mengenalinya.

"Jovian, coba lihat ini deh-" Suara itu terdengar cukup jelas sebelum telepon sedikit menjauh.

Tak lama kemudian Jovian kembali bicara. "Jena?"

"Iya."

"Aku mungkin pulang agak malam."

"Mas udah makan?"

"Udah."

"Kamu jangan bergadang."

"Iya."

Lalu telepon itu diakhiri Jovian tanpa basa-basi lain seperti biasanya.

Jena menatap layar ponselnya lama. "Mas, kenapa aku merasa kamu mulai berubah?"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!