Indonesia
NovelToon NovelToon

Pengganti Pengantin

Bab 1

"Aca... nanti setelah makan siang, ikut saya tanda tangan kontrak dengan PT Kanya," kata Pak Harun, selaku atasan divisi Aca.

"Baik, Pak," jawab Aca sambil merapikan kertas yang berserakan di mejanya.

 

Saat jam makan siang tiba, Aca dan Devi duduk di kantin kantor.

Perusahaan tempat Aca bekerja memang menyediakan fasilitas kantin yang cukup lengkap. Tempatnya juga sangat terkenal dan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi negara.

Tak heran jika perusahaan ini menjadi incaran para lulusan dari universitas terbaik.

"Eh, Ca. Lihat grup, deh. Besok ada acara penyambutan CEO baru di kantor," kata Devi antusias.

"Terus? Kenapa, emang?" tanya Aca, tidak tertarik.

"Terus? Kenapa? Woy, enggak ada kalimat lain apa? Excited, kek. Atau kaget, kek," kata Devi kesal.

Aca menghela napas.

" Wah, aku enggak sabar, deh, ketemu CEO baru itu. Orangnya seperti apa, ya? Ganteng enggak, ya?" kata Aca sambil menggoyangkan tangannya.

"Telat!" Devi semakin kesal.

"Haha, iya, iya. Maaf. Itu berita memang sudah tersebar dari beberapa bulan lalu, kali, Dev. Cuma, kan, kita enggak dikasih tahu kapan waktunya," kata Aca.

"Iya juga sih. Menurutmu, CEO kita laki-laki atau perempuan?" tanya Devi.

"Setahuku sih laki-laki, Dev. Soalnya, kemarin Pak Harun pernah membahas ini dengan rekan SPV lainnya," jawab Aca.

"Wah, aku benar-benar penasaran, Ca. Orangnya seperti apa," kata Devi kepo.

"Kalau kamu mau tahu, ya, besok ikut penyambutan, Dev," kata Aca sambil membereskan sisa makanannya.

Setelah makan siang selesai, mereka berdua kembali ke ruang kerja masing-masing.

Aca sibuk mempersiapkan dokumen yang akan dibawa nanti. Tiba-tiba, Pak Harun datang.

"Ca... bagaimana kalau kamu berangkat dulu? Aku ada urusan sebentar. Nanti aku menyusul. Kamu bisa naik taksi. Nanti pembayarannya aku ganti," kata Pak Harun.

"Oh, baik, Pak," kata Aca.

Setelah dokumennya beres, Aca langsung berangkat.

Awalnya, Aca ragu. Ini pertama kalinya dia masuk ke bar besar sendirian.

"Masuk sekarang, enggak, ya? Atau nanti nunggu Pak Harun saja?" gumam Aca bingung.

"Ah, masuk saja lah," Aca memantapkan hatinya untuk masuk lebih dulu.

Aca menghampiri meja resepsionis. "Selamat siang, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis perempuan itu.

"Siang, Mbak. Saya sudah memesan ruangan atas nama Pak Harun dari PT Wijaya," jawab Aca.

"Sebentar, ya, Mbak. Saya cek dulu," kata resepsionis.

"Ruangannya ada di A7, ya, Mbak," kata resepsionis lagi.

"Terima kasih, Mbak," kata Aca sambil menundukkan kepalanya.

Saat Aca berbalik badan, dia tiba-tiba menabrak seorang pria yang berada di belakangnya.

"Aduh," rintih Aca. "Maaf, Pak. Saya tidak sengaja," kata Aca sambil membungkukkan kepalanya berulang kali.

Pria itu hanya membersihkan jasnya yang tersentuh Aca. Dia langsung pergi begitu saja, tanpa sepatah kata pun.

Aca menyipitkan matanya melihat kepergian pria itu. "Dih, sombong banget jadi orang," gumam Aca pelan. "Ngapain juga tadi aku minta maaf, kalau perlakuannya ternyata seburuk ini."

"Aca... kok belum masuk?" tanya Pak Harun yang baru datang.

"Oh, ini, Pak. Saya lupa tanya Bapak ruangannya di mana. Makanya, tadi saya tanya ke resepsionis dulu," jawab Aca.

"Baiklah," kata Pak Harun. Aca pun mengikuti Pak Harun masuk.

Satu jam berlalu. Mereka sibuk membahas proyek kerja sama antardua perusahaan.

"Permisi, Pak. Saya izin ke belakang sebentar," kata Aca mendekati Pak Harun.

Pak Harun hanya menganggukkan kepalanya.

Saat melewati lorong, Aca merasa melihat Rafa, calon suaminya, masuk ke dalam sebuah room bersama perempuan lain.

Untuk memastikan, Aca mengikuti dengan pelan-pelan. Sampai di depan pintu, dia mencoba mengintip, tetapi tidak ada celah.

Aca mencoba menghubungi Rafa. Tidak ada jawaban. Akhirnya, dia memilih untuk meninggalkan mereka.

"Semoga aku salah lihat," gumam Aca.

Aca pun kembali ke ruangannya.

"Terima kasih, Pak. Semoga proyek kerja sama kita lancar dan memuaskan," kata Pak Harun mengakhiri pertemuan mereka.

Aca dan Pak Harun berjalan menuju lobi untuk pulang. Namun, di lobi, Aca bertemu dengan Rafa.

"Rafa?!" sapa Aca terkejut.

"A... Aca," jawab Rafa gugup.

"Ngapain kamu di sini?" tanya Aca.

"Oh... aku disuruh menjemput teman kantorku," jawab Rafa agak gugup.

"Teman yang mana?" tanya Aca lagi.

"Biasa, teman kantor," jawab Rafa sambil tersenyum.

Aca memicingkan matanya, mencoba mencari kebohongan dari Rafa.

"Eh, sebentar, ya. Ini teman aku menelepon," kata Rafa lalu pergi meninggalkan Aca. Sebenarnya itu hanya alasan Rafa untuk menghindar.

Aca diam melihat kepergian calon suaminya itu. "Kau mulai bermain di belakangku, ternyata," batin Aca. "Lihat saja. Akan aku cari bukti itu sendiri."

Sementara itu, Rafa mengumpat dalam hati, "Sial, kenapa harus ketemu Aca di sini? Untung saja aku keluar sendirian tadi. Coba kalau Nia ikut, Aca pasti semakin curiga. Sekarang aku harus lebih berhati-hati."

Bab 2

Jam menunjukkan pukul 20.00.

"Akhirnya... selesai juga," kata Aca sambil merenggangkan tangan dan tubuhnya yang kaku. Dia baru saja menyelesaikan dokumen yang tadi sudah disepakati antardua perusahaan.

Aca langsung membereskan meja kerjanya, lalu menuju ke parkir motor.

Sore tadi, hujan deras mengguyur kota. Air masih menggenang di jalan. Aca berhenti karena lampu merah. Saat lampu berubah menjadi hijau, tiba-tiba ada mobil melintas dengan cepat sehingga air yang menggenang menciprati Aca.

"Aduh... benar-benar orang itu. Enggak ada sopan santun dalam berkendara. Hei, woy, berhenti!!!" teriak Aca.

Mobil itu sudah melaju dan tidak mendengar teriakan Aca. Dengan kesal, Aca memacu motornya mengejar mobil tersebut.

"Haha, ternyata keadilan masih berada di tanganku," kata Aca sambil tersenyum.

Jalan itu sedikit macet, jadi mobil yang dikejar Aca ikut berhenti. Aca menepikan motornya dan langsung menghampiri mobil itu.

Tok... tok... tok...

Aca mengetuk kaca mobil itu. Pemilik mobil menurunkan kaca jendelanya.

"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya pemilik mobil.

"Maaf, bisakah Anda keluar sebentar?" pinta Aca dengan sopan.

Ternyata pemilik mobil itu seorang pria. Pria itu melirik jam di tangannya dan memutuskan untuk keluar.

"Oke, lima menit. Anda bisa memanfaatkan waktu lima menit itu," kata pria itu sambil memasukkan tangan ke dalam saku celananya.

"Apa Anda tadi tidak melihat di perempatan jalan sana ada genangan air?" tanya Aca.

"Saya lihat. Lalu kenapa?" jawab pria itu dengan tenang.

"Anda tanya kenapa? Lihat yang Anda perbuat!" kata Aca kesal sambil menunjukkan bajunya yang basah.

"Sebutkan nomor rekeningmu," kata pria itu sambil mengeluarkan ponsel dari jasnya.

"Maksud Anda apa?" Aca malah bertanya balik.

"Kau ingin aku bertanggung jawab, bukan?" kata pria itu agak kesal.

"Oh, jadi begini cara orang kaya bertanggung jawab?" kata Aca kesal.

Pria itu hanya menatap Aca sambil memicingkan matanya.

"Maaf, saya tidak butuh uang dari Anda," jawab Aca sambil melipat tangan di depan dada.

"Saya tidak punya banyak waktu hanya untuk meladeni hal seperti ini," kata pria itu sombong.

Aca menatap pria itu dari atas ke bawah. Wajahnya terasa tidak asing.

"Sombong sekali Anda. Apakah Anda tidak diajarkan etika? Setidaknya, kalau melakukan kesalahan, minta maaf. Anda bilang Anda melihat ada genangan air di sana. Dan Anda pasti melihat air itu mengenai saya. Seharusnya Anda menepi dan meminta maaf, bukan malah bersikap sombong seperti ini," kata Aca kesal.

Pria itu hanya diam menatap Aca.

"Kau tahu, Nona, kau sedang berurusan dengan siapa?" tanya pria itu sambil mendekatkan wajahnya ke Aca.

"Aku tidak takut dan tidak peduli siapa Anda. Kalau memang Anda salah, seharusnya Anda meminta maaf. Bukan malah menyombongkan kekuasaan Anda," tegas Aca, meski tangannya gemetar.

"Woy, minggir! Enggak ada tempat lain apa?" teriak pengemudi mobil di belakang.

Mereka berdua kaget dan menoleh ke arah sumber suara. Pria itu langsung masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya, meninggalkan Aca sendirian di situ.

"Dasar orang sombong!" teriak Aca.

Aca langsung teringat dengan laki-laki yang dia tabrak tadi siang di bar. "Oh, ternyata dia orang yang sama. Pantas saja belagu sekali. Awas saja kalau bertemu lagi," gumam Aca kesal.

Akhirnya, Aca memutuskan untuk pulang.

 

Di kontrakan paviliun tempat Aca tinggal, suasana hatinya sedang tidak baik. Orang tuanya sudah lama bercerai. Aca ikut dengan ayahnya, sementara adiknya ikut ibunya.

Namun, setelah ayahnya menikah lagi, Aca memutuskan untuk tinggal sendiri di kontrakan. Ayahnya sudah berubah. Dia menjadi cuek dan lebih memperhatikan istri barunya.

Aca juga tidak pernah berhubungan baik dengan ibunya. Selama Aca bekerja, ibunya selalu meminta gajinya untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Sementara adiknya juga tidak tahan dengan sikap ibunya, dan memilih pergi untuk memulai hidup yang layak.

Untungnya, Aca masih berhubungan baik dengan adiknya. Mereka saling menguatkan. Jika ada waktu, mereka memutuskan untuk bertemu, walau hanya sehari. Setidaknya itu bisa menghilangkan rasa rindu mereka.

Aca langsung membersihkan diri dan merebahkan tubuh di atas ranjang.

"Hah... lelah sekali," kata Aca sambil memijat pelipisnya. "Aku lapar. Enaknya makan apa, ya?" gumamnya sambil membuka aplikasi ojek daring. "Mie kuah pedas sepertinya enak."

Akhirnya, Aca memesan mie kuah pedas dan es jeruk.

Selama menunggu pesanan selama 20 menit, Aca membaca berita terkini. Tiba-tiba, ada pesan masuk di grup kantor.

"Besok, Pak Brata Wijaya, pemilik PT Wijaya Grup, akan memperkenalkan CEO baru. Untuk penyambutan besok, setiap divisi diwakili untuk memberikan penghormatan kepada CEO. Dan saya memutuskan yang mewakili divisi kita adalah Aca," pesan dari Pak Harun di grup.

"Kenapa harus saya, Pak?" balas Aca.

"Ini perintah, Aca. Tidak ada penolakan," balas Pak Harun.

"Siap, Pak," jawab Aca.

Yang lain hanya menyimak.

"Dan yang lain juga ikut hadir dalam penyambutan. Kalian bisa duduk di bangku aula yang sudah disediakan. Tolong berpakaian yang rapi. Karena CEO kita tidak suka melihat yang tidak rapi," pesan Pak Harun lagi.

"Siap, Pak," jawab teman-teman yang lain.

Pesanan datang. Padahal Aca sudah tidak nafsu makan, tetapi perutnya sangat lapar. Terpaksa dia menghabiskannya. Setelah makan, Aca pun tidur. Dia menyetel alarm lebih pagi dari biasanya agar bisa mempersiapkan diri untuk besok.

 

Bab 3

Setelah makan, Aca mencoba tidur. Namun, ternyata dia tidak bisa memejamkan mata. Dia memikirkan acara besok.

Aca mulai gelisah. Akhirnya, dia memutuskan untuk membeli cokelat hangat di seberang gang kontrakan. Hanya butuh waktu lima menit untuk sampai di kedai kopi.

"Silakan, mau pesan apa, Kak?" tanya pelayan kafe.

"Cokelat panas bungkus satu, ya, Kak," jawab Aca.

"Ada lagi, Kak?" tanya pelayan itu lagi.

"Cukup, Kak," jawab Aca.

"Baik. Totalnya tiga puluh ribu, Kak," kata pelayan. Aca membayar pesanannya.

"Tunggu sebentar, ya, Kak," kata pelayan dengan ramah. Aca hanya membalas dengan senyuman.

Aca menunggu di kursi tunggu sambil melihat ke arah luar jendela. Ternyata, jalanan masih ramai. Dan kafenya juga masih ramai pengunjung.

Lima menit kemudian, pesanan cokelat panas Aca sudah jadi.

Saat Aca keluar dari kafe, dia ditabrak oleh seorang pria yang sedang berjalan. Pria itu sibuk dengan ponsel di tangannya.

"Aduh," seru Aca. Cokelat panasnya terjatuh.

Aca melihat cokelat panasnya yang terjatuh dengan wajah layu.

"Maaf. Biar saya belikan yang baru," kata pria itu. Aca mengalihkan pandangannya kepada pria itu.

Mereka berdua terkejut. Ternyata, pria yang menabraknya adalah pria yang sama kemarin.

"Kamu!" kata mereka berdua kompak.

"Astaga. Mungkin kita berjodoh, Nona. Setiap kecelakaan selalu denganmu," kata pria itu meledek.

"Sembarangan kalau ngomong. Yang ada, kalau ketemu kamu, aku selalu sial!" jawab Aca kesal.

"Apa katamu? Sial?" jawab pria itu tidak terima.

"Iya!" Aca menyahut.

"Sepertinya Anda tidak waras," kata pria itu tidak terima.

"Kamu yang tidak waras. Kamu tahu, kamu orang yang paling sombong, angkuh..." maki Aca.

Pria itu langsung menutup mulut Aca dengan tangannya.

Aca melepas tangan pria itu. "Ih, apaan sih!" kata Aca.

"Kendalikan dirimu, Nona. Karena suasana hatiku sedang baik. Kita selesaikan dengan cara yang baik saja. Kita masuk dulu. Saya belikan minumanmu yang jatuh," kata pria itu sambil menarik tangan Aca.

"Ih, apaan sih. Main tarik-tarik segala," Aca mencoba melepaskan genggaman pria itu.

Pria itu menatap Aca.

"Aku bisa jalan sendiri. Enggak perlu ditarik," kata Aca sambil berjalan masuk ke kafe.

Mereka duduk di bangku dekat jendela.

"Kamu mau pesan apa?" tanya pria itu.

"Sudah enggak pengin," jawab Aca kesal sambil mengalihkan pandangannya ke jendela.

Pria itu menatap Aca lekat. Akhirnya, dia menuju ke meja pesan untuk memesan minuman.

"Silakan. Mau pesan apa, Kak?" tanya pelayan kafe.

"Mbak, tahu perempuan yang duduk di dekat jendela itu?" tanya pria itu. Pelayan kafe menganggukkan kepala.

"Saya pesan yang dipesan perempuan itu tadi, ya, Mbak. Sama americano satu," kata pria itu.

Setelah melakukan pembayaran, pria itu langsung kembali ke tempat duduk Aca.

Mereka hanya diam. Tidak ada obrolan apa pun. Tapi pria itu terus menatap Aca. Aca merasa terintimidasi.

"Silakan," kata pelayan kafe.

"Terima kasih," kata pria itu.

Pria itu menggeser cangkir cokelat panas ke depan Aca. "Minumlah," kata pria itu. Aca menatap pria itu dan cangkir cokelat panas untuknya.

"Maaf untuk yang kemarin dan tadi," kata pria itu setelah meminum kopinya.

Sementara itu, Aca diam menatap dan mengaduk-aduk cangkir cokelat panasnya.

Tiba-tiba...

"Oh, jadi begini kamu di belakangku," kata Rafa yang tiba-tiba datang menghampiri Aca.

 

*Sebelum itu,*

Rafa dan Nia sedang berjalan-jalan. Nia ingin kopi, jadi mereka mampir ke kedai kopi itu.

Saat mereka sedang memesan, Rafa melihat Aca sedang duduk berdua dengan pria lain.

Mungkin ini kesempatan Rafa untuk mengalihkan pikiran negatif Aca tentang dirinya.

 

"Rafa," kata Aca langsung berdiri.

"Jadi ini kelakuanmu di belakangku. Apa kamu lupa kalau kita akan menikah dalam waktu dekat ini?" kata Rafa dengan nada meninggi.

"Rafa!" bentak Aca.

"Apa? Mau alasan apa kamu?" Rafa malah menantang Aca.

"Gila kamu, Raf!" kata Aca langsung pergi meninggalkan Rafa dan pria itu.

"Kamu tahu, wanita yang bersamamu sudah mempunyai calon suami?" kata Rafa kepada pria itu.

"Saya tidak ada urusan dengan Anda," jawab pria itu lalu meninggalkan Rafa.

"Brengsek!" bentak Rafa.

Pria itu langsung masuk ke dalam mobilnya dengan perasaan emosi. "Sialan. Niat baik malah dikira selingkuhan wanita itu. Memang benar kata wanita itu. Bertemu dengannya adalah kesialan," gumam pria itu emosi.

Di kontrakan, Aca menangis. Tidak ada tempat untuk bersandar sekarang. Akhir-akhir ini, Rafa berbeda. Aca merasa kosong saat bersama Rafa. Padahal, dalam waktu dekat ini mereka akan mengadakan pernikahan.

Memang kata orang, mendekati hari pernikahan ada saja cobaannya. Tapi hati Aca merasa kosong. Dan sekarang dia merasa tidak menginginkan pernikahan itu.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!