Angin dingin berhembus kencang di Puncak Berkabut, membawa serta aroma tajam belerang dari kawah gunung. Di sebuah pondok kayu yang hampir roboh, Lin Tian duduk bersila dengan napas yang tersengal. Wajahnya pucat, tetesan keringat sebesar biji jagung membasahi keningnya.
"Sial... kenapa Qi di tubuhku selalu bocor?" gumam Lin Tian lirih.
Ia mencoba menyerap Qi alam untuk ke-seribu kalinya bulan ini, namun hasilnya tetap sama. Begitu energi itu masuk ke dalam meridiannya, energi tersebut lenyap seperti air yang tumpah ke atas pasir kering. Sebagai murid pelayan di Sekte Pedang Langit, Lin Tian adalah bahan tertawaan. Di usianya yang ke-17, ia masih terjebak di tingkat pertama ranah Mortal, tingkat terendah yang bahkan tidak dianggap sebagai kultivator.
"Lin Tian! Keluar kau, sampah!"
Sebuah tendangan keras menghantam pintu kayu pondoknya hingga terlepas dari engselnya. Seorang pemuda berpakaian sutra biru dengan lambang murid luar di dadanya berdiri di sana, menatap Lin Tian dengan tatapan merendahkan. Itu adalah Zhao Feng, orang yang telah merampas jatah pil spiritual Lin Tian selama setahun terakhir.
"Aku diperintahkan oleh Kakak Senior untuk mengambil air dari Mata Air Iblis. Cepat bergerak, atau kakimu yang akan kupatahkan kali ini!" bentak Zhao Feng.
Lin Tian mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. Jika ia menolak, ia akan diusir dari sekte. Jika ia diusir, ia akan mati kelaparan di luar sana. Dengan kepala menunduk, ia mengambil ember kayu dan berjalan menuju lembah terlarang yang berada di balik gunung.
Itu adalah wilayah yang dihindari oleh semua murid. Konon, siapa pun yang mendekati pusat mata air tersebut akan mati tersedot energinya. Namun, hari ini, saat Lin Tian sedang mengisi embernya, ia merasakan getaran aneh di bawah kakinya.
Deg. Deg. Deg.
Getaran itu bukan berasal dari bumi, melainkan dari dalam dadanya. Secara tidak sadar, ia berjalan mendekati retakan tebing di dekat mata air. Di sana, di antara bebatuan tajam yang tertutup lumut hitam, sebuah benda bulat memancarkan cahaya redup berwarna ungu keemasan.
Itu adalah sebuah mutiara. Saat jari Lin Tian menyentuh permukaan benda dingin itu, seluruh lembah tiba-tiba terdiam. Cahaya ungu tersebut merambat naik ke lengan Lin Tian, membakar kulitnya, namun bukan rasa sakit yang ia rasakan—melainkan sensasi kekuatan kuno yang seolah sudah tertidur selama ribuan tahun kini berteriak minta dibebaskan.
"Apa... ini?" bisik Lin Tian, saat penglihatannya mulai menggelap.
Di dalam kesadarannya, ia melihat seekor naga raksasa bersisik hitam yang melingkar di antara bintang-bintang. Naga itu membuka matanya, menatap Lin Tian dengan keagungan yang menghancurkan jiwa.
Kesadaran Lin Tian perlahan kembali seiring dengan rasa dingin yang menggigit tulang. Ia terkesiap, membuka mata dengan napas memburu. Hal pertama yang ia lihat adalah langit malam Puncak Berkabut yang dihiasi bintang-bintang redup.
Ia masih berada di tepi Mata Air Iblis. Namun, mutiara ungu keemasan itu telah menghilang tanpa jejak.
Dengan panik, Lin Tian meraba dadanya. Tepat di atas jantungnya, terdapat sebuah tanda lahir baru—sebuah siluet samar naga hitam yang melingkar. Saat ia memusatkan pikirannya ke tanda itu, sebuah gelombang informasi kuno mengalir deras ke dalam otaknya, membawa nama sebuah teknik: Seni Pemurnian Tulang Naga Astral.
Lin Tian segera duduk bersila dan memeriksa kondisi tubuhnya. Kejutan besar menantinya. Akar spiritualnya yang selama ini layu dan berlubang—menyebabkan Qi selalu bocor—kini telah tertambal sempurna oleh untaian energi ungu yang sangat tipis. Namun, ada satu hal yang membuatnya tersenyum getir.
Teknik naga kuno ini tidak memberinya lonjakan kekuatan instan. Sebaliknya, teknik ini mengubah meridiannya menjadi lautan tak berdasar. Untuk menembus satu tingkat ranah Mortal saja, ia membutuhkan Qi seratus kali lipat lebih banyak dan lebih padat daripada kultivator biasa. Jalan yang terbentang di hadapannya akan sangat panjang, lambat, dan membutuhkan fondasi yang luar biasa kokoh. Ia harus memadatkan energinya lapis demi lapis tanpa boleh terburu-buru.
Menyadari ia telah pingsan cukup lama, Lin Tian bergegas memungut ember kayunya yang telah terisi air. Jika ia tidak segera kembali, seseorang pasti akan mencarinya—dan bukan karena peduli.
Sesampainya di area pelataran murid pelayan, Lin Tian melihat pintu pondoknya yang hancur telah ditegakkan kembali secara seadanya dengan bilah kayu dan tali rami. Di depan pintu itu, seorang remaja laki-laki berusia lima belas tahun sedang duduk berjaga sambil memeluk lututnya, menahan udara dingin malam.
"Lin Chen," panggil Lin Tian pelan.
Remaja itu mendongak. Wajahnya yang kotor oleh debu langsung berbinar lega. Ia melompat berdiri dan berlari menghampiri Lin Tian.
"Kakak Tian! Syukurlah kau kembali!" Suara Lin Chen sedikit bergetar. "Zhao Feng tadi kembali lagi untuk mencarimu. Saat melihatmu tidak ada, dia mengancam akan membakar pondok ini besok pagi jika kau belum menyerahkan air dari Mata Air Iblis. Aku... aku sudah mencoba menahannya, tapi dia memukulku."
Lin Tian baru menyadari ada memar kebiruan di sudut bibir Lin Chen. Darahnya mendidih. Di sekte yang kejam ini, Lin Chen adalah satu-satunya orang yang tidak pernah memandangnya rendah. Mereka tumbuh bersama sebagai anak yatim piatu yang dipungut oleh tetua sekte luar, bertahan hidup dengan saling melindungi di posisi terendah.
"Maafkan aku, Chen'er. Aku membuatmu terluka lagi," ucap Lin Tian, suaranya terdengar lebih berat dan tenang dari biasanya.
Ia meletakkan ember air itu dan menepuk bahu Lin Chen. Getaran energi Qi di dalam tubuh Lin Tian, meski masih sangat tipis, perlahan mulai mengalir mencari ritmenya sendiri. Fondasi yang panjang dan berat ini baru saja dimulai, dan ia bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun menginjak-injak mereka lagi.
"Masuklah dan istirahat," kata Lin Tian sambil menatap tajam ke arah puncak gunung tempat para murid luar tinggal. "Besok, biar aku yang mengurus Zhao Feng."
Cahaya fajar baru saja menyentuh Puncak Berkabut ketika suara langkah kaki kasar memecah keheningan pelataran pelayan. Tiga orang pemuda berjalan angkuh menuju pondok rusak di ujung area. Di posisi depan adalah Zhao Feng, wajahnya menyeringai penuh antisipasi.
"Lin Tian! Keluar bawa airnya, atau kubakar gubuk rongsokan ini beserta tikus kecil di dalamnya!" teriak Zhao Feng.
Di dalam pondok, Lin Chen berjengit kaget, refleks memegang lengan baju Lin Tian. Namun, Lin Tian hanya menepuk punggung tangan adiknya itu dengan tenang. Semalaman penuh, ia telah memutar Seni Pemurnian Tulang Naga Astral. Meski tingkat kultivasinya sama sekali tidak naik dan tetap tertahan di ranah Mortal tingkat pertama, ia merasakan perubahan mendasar pada otot dan tulangnya. Qi di dalam meridiannya kini mengalir sangat lambat, namun terasa padat dan berat seperti air raksa.
"Tetap di sini, Chen'er," ucap Lin Tian datar.
Ia melangkah keluar, membawa ember kayu berisi air dari Mata Air Iblis, dan meletakkannya tepat di depan kakinya. Angin pagi meniup ujung pakaiannya yang lusuh, namun postur tubuhnya tegak, tak lagi membungkuk seperti hari-hari sebelumnya.
Melihat sikap Lin Tian yang berani menatap matanya, amarah Zhao Feng tersulut. "Beraninya kau menatapku seperti itu, Sampah! Sepertinya kau bosan hidup!"
Tanpa peringatan, Zhao Feng melesat maju. Tangan kanannya membentuk cakar, dialiri Qi berwarna abu-abu yang menandakan ia telah mencapai ranah Mortal tingkat tiga. Sasarannya adalah bahu Lin Tian, berniat melumpuhkannya dalam satu serangan yang kejam.
Mata Lin Tian memicing. Di masa lalu, gerakan ini akan terlihat terlalu cepat untuk dihindari. Namun kini, indranya telah dipertajam oleh energi naga kuno. Alih-alih menghindar, Lin Tian mengambil kuda-kuda dan mengepalkan tinju kanannya. Ia tidak menggunakan teknik bela diri tingkat tinggi apa pun, hanya memusatkan seluruh Qi ungu keemasan yang setetes demi setetes ia kumpulkan semalaman ke punggung tangannya.
BAM!
Tinju dan cakar berbenturan keras. Gelombang kejut kecil menyapu debu di sekitar kaki mereka berdua.
Dua pengikut Zhao Feng yang awalnya tertawa mendadak terdiam. Mata mereka terbelalak ngeri. Bukan Lin Tian yang terpental, melainkan Zhao Feng. Pemuda berpakaian sutra biru itu terhuyung mundur hingga lima langkah, memegangi tangan kanannya yang bergetar hebat. Jari-jarinya tampak memerah bengkak, dan rasa sakit yang menusuk tulang membuat wajahnya pucat pasi.
"K-kau... apa yang kau gunakan?!" seru Zhao Feng, suaranya melengking antara marah dan terkejut. "Tidak mungkin kekuatan fisik murni dari seorang pecundang bisa menahan Cakar Angin milikku! Kau menyembunyikan pusaka?!"
Lin Tian berdiri tak tergoyahkan. Ia menatap tinjunya sendiri dengan sedikit rasa takjub yang disembunyikan rapat-rapat. Kepadatan Qi dari teknik naga ini benar-benar tidak masuk akal. Pantas saja ia butuh energi ratusan kali lipat untuk naik tingkat; fondasinya terlalu mengerikan dan solid.
"Ambil air itu dan pergi dari hadapanku," kata Lin Tian, suaranya dingin dan menusuk. "Mulai hari ini, kau tidak berhak memerintahku. Jika kau atau anjing-anjingmu berani menyentuh Lin Chen lagi, aku akan mematahkan lenganmu yang lain."
Zhao Feng menggertakkan giginya. Ia ingin menyerang lagi, tetapi rasa sakit di tulangnya memperingatkannya bahwa ada yang salah dengan Lin Tian hari ini. Mengambil risiko terluka parah di pelataran pelayan sangat tidak sepadan.
"Kau akan menyesali ini, Lin Tian! Kakak sepupuku di pelataran luar tidak akan melepaskanmu!" ancam Zhao Feng sebelum akhirnya berbalik, menyuruh kedua pengikutnya membawa ember air tersebut dan bergegas pergi dengan langkah pincang.
Lin Tian menghela napas pelan, mengendurkan kepalan tangannya. Ia tahu, mengusir Zhao Feng hanyalah riak kecil. Ancaman sebenarnya baru saja dimulai. Di dunia yang luas ini, tanpa kekuatan yang mutlak, ia dan Lin Chen akan selalu menjadi incaran. Perjalanannya mendaki puncak kultivasi adalah proses panjang yang tak bisa diselesaikan dalam satu atau dua hari.
"Kakak Tian... kau mengalahkannya," bisik Lin Chen yang berdiri di ambang pintu, matanya berbinar penuh kekaguman dan rasa tidak percaya.
Lin Tian tersenyum tipis, menatap langit pagi yang semakin terang. "Ini baru langkah pertama kita, Chen'er."
Kabar kekalahan Zhao Feng di pelataran pelayan menyebar dengan cepat, namun sebatas bisik-bisik di antara para pelayan lainnya. Tak ada yang berani merayakannya terang-terangan. Semua tahu, di balik Zhao Feng ada bayangan besar kakaknya, Zhao Hai.
Di dalam pondok yang telah dirapikan seadanya, Lin Chen menyerahkan sepotong roti kasar dan semangkuk air kepada Lin Tian. Wajah anak itu masih menyimpan kekhawatiran.
"Kakak Tian, kudengar Zhao Hai bulan lalu baru saja menerobos ke ranah Mortal tingkat lima," ucap Lin Chen sambil duduk di lantai kayu. "Dia sudah bisa mengalirkan Qi ke senjatanya. Jika dia turun gunung untuk membalas dendam, tinju kosong saja tidak akan cukup."
Lin Tian mengunyah rotinya dengan tenang. Fakta itu sudah ia perhitungkan. Kepadatan Qi dari Seni Pemurnian Tulang Naga Astral memang luar biasa—mampu menghempaskan kultivator tingkat tiga meski Lin Tian masih berada di tingkat pertama. Namun, tingkat lima adalah batas di mana seorang kultivator mulai memiliki teknik pertarungan jarak menengah.
"Aku tahu," jawab Lin Tian. "Jika aku menunggu di sini sampai dia datang, kita akan tamat. Berdiam diri menyerap Qi alam terlalu lambat. Meridianku membutuhkan energi yang jauh lebih besar dan liar."
Lin Tian menatap ke luar jendela kecil pondoknya, mengarah ke Hutan Hitam di batas utara sekte. Hutan itu adalah pinggiran dari Pegunungan Binatang Buas, area berburu bagi murid luar untuk mencari tanaman herbal dan inti monster tingkat rendah. Bagi pelayan tingkat satu, masuk ke sana sama saja mencari mati.
"Kau akan pergi ke Hutan Hitam?" Mata Lin Chen membulat. "Tapi Kakak, tanpa senjata dan pelindung—"
"Aku memiliki tubuhku, Chen'er. Mulai sekarang, itu adalah senjata terbaikku," potong Lin Tian sambil bangkit berdiri. Ia mengambil sebilah belati karatan yang biasa digunakan untuk memotong kayu. "Selama aku pergi, bekerjalah seperti biasa. Hindari area murid luar dan bersembunyilah jika melihat orang-orang Zhao Feng."
Setengah jam kemudian, Lin Tian telah menyusup ke balik pepohonan rimbun Hutan Hitam. Udara di sini terasa lembap dan dipenuhi aura bahaya. Mengandalkan insting barunya yang menajam, ia melangkah tanpa suara, menghindari area yang memiliki jejak pertarungan murid sekte.
Setelah berjalan sejauh dua mil, telinganya menangkap suara patahan ranting. Dari balik semak berduri, sesosok bayangan besar melompat keluar. Itu adalah Babi Hutan Taring Besi, binatang buas tingkat rendah yang setara dengan kultivator Mortal tingkat dua. Kulitnya setebal baja, dan sepasang taringnya bisa menembus batang pohon dengan mudah.
Babi hutan itu mendengus marah, matanya yang merah menatap Lin Tian sebagai mangsa empuk. Tanpa ragu, monster itu menyeruduk maju seperti batu besar yang menggelinding.
Lin Tian tidak mundur. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan aliran Qi ungu keemasan meledak dari pusat dadanya dan menyebar ke otot-otot kakinya. Bukannya menghindar sepenuhnya, ia memiringkan tubuhnya di detik terakhir, membiarkan taring besi itu lewat hanya beberapa inci dari pinggangnya.
Dalam sepersekian detik itu, Lin Tian memusatkan seluruh kekuatannya pada siku kanannya dan menghantamkannya tepat ke punggung babi hutan tersebut.
KRAK!
Suara tulang patah terdengar nyaring. Hantaman siku yang diperkuat Qi naga itu langsung menghancurkan tulang belakang sang monster. Babi hutan itu terjerembap ke tanah, melengking kesakitan sebelum akhirnya mati seketika.
Lin Tian berdiri di atas bangkai monster itu dengan napas sedikit memburu. Satu serangan fatal. Kepadatan energi naga ini kembali membuatnya takjub. Namun, ia juga merasakan setengah dari Qi yang ia kumpulkan semalaman langsung terkuras habis hanya untuk satu serangan pembuka tersebut.
"Konsumsi energiku terlalu boros jika tanpa teknik bela diri yang tepat," gumam Lin Tian sambil membedah bangkai babi hutan itu untuk mengambil inti darahnya. "Aku harus segera mencari sumber daya sebelum Zhao Hai menemukanku."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!