• Halo Guys ini cerita baru ya! sebenarnya lama kesimpen di draf. Aku coba publish kalo menurut kalian ini seru dan menarik kalian boleh baca! Thanks you buat yang udah singgah!
Selamat membaca!♡
"Neng, singgah dulu sini... beli aksesoris saya," panggil seorang bapak tua sembari mengelap peluh di dahi dengan punggung tangannya.
Sudah hampir setengah hari beliau berdiri di pinggir trotoar yang terik, namun belum satu pun barang dagangannya yang laku.
"Aduh, maaf ya, Pak. Enggak dulu," jawab Dinda sembari melempar senyum kecil, berniat melanjutkan jalan.
"Ayolah, Neng, bantu Bapak. Berapa saja... yang penting laku. Kasihan anak Bapak di rumah dari pagi belum makan," ucap bapak itu dengan nada memelas.
Mendengar kalimat terakhir, hati Dinda langsung mencelos. Karena tak tega, ia berbalik dan mendekati tikar tempat aksesoris itu digelar. Matanya menyapu beberapa barang, hingga pandangannya jatuh pada sebuah gelang dengan hiasan kupu-kupu yang manis.
"Ini berapa, Pak?" tanya Dinda.
"Ah, yang itu sepuluh ribu saja, Neng," jawab si bapak, wajahnya mulai berbinar.
Dinda mengangguk. Ia merogoh sling bag-nya dan mengeluarkan selembar uang dua puluh ribuan. Namun, tepat sebelum menyerahkan uang itu, sudut matanya tak sengaja menangkap sebuah cincin perak yang tergeletak di pojok. Di tengah cincin itu terdapat bandul bulan sabit yang simpel namun entah kenapa terlihat sangat memikat. Desainnya biasa saja, tapi ada dorongan kuat di dalam dada Dinda yang membuatnya ingin sekali memiliki cincin itu.
"Kalau yang ini berapa, Pak?" tanya Dinda sembari menunjuk cincin perak tersebut.
"Yang itu ambil saja, Neng. Barang lama... kelihatannya juga sudah kusam," jawab si bapak santai.
Dinda tersenyum lebar. Ia langsung menyodorkan uang dua puluh ribuan tadi ke tangan si bapak. "Nih, Pak. Makasih, ya. Kembaliannya ambil saja buat jajan anaknya."
"Wah, Alhamdulillah! Makasih banyak, Neng. Semoga rezekinya lancar," ucap si bapak terharu, matanya berkaca-kaca.
Dinda mengangguk ramah lalu kembali melanjutkan langkah. Matahari kian meninggi, membakar aspal trotoar. Di seberang jalan, sekilas Dinda menangkap plang penjual es kopyor. Ia refleks meneguk ludah yang mendadak terasa kering.
"Siang-siang bolong begini, minum es kopyor kayaknya surga banget," gumamnya pelan.
Tanpa pikir panjang, Dinda langsung melangkah untuk menyeberang. Jalanan siang itu memang lumayan sepi, tapi bukan berarti bebas kendaraan. Baru setengah jalan, suara klakson melengking yang memekakkan telinga tiba-tiba menggema dari arah kanan. Sebuah truk tronton besar melaju kencang, kehilangan kendali.
Nah, di sinilah dasar Dinda agak 'dodol'. Melihat kendaraan sebesar rumah bergerak cepat ke arahnya, bukannya buru-buru lari menyelamatkan diri, dia malah mematung. Dinda malah berteriak histeris di tempat sembari menonton moncong truk yang tinggal lima meter lagi menghantam tubuhnya.
Tiiiit! Tiiiit!
Wusssss!
Sensasi hantaman keras yang ia bayangkan ternyata tidak ada. Alih-alih rasa sakit, Dinda justru merasa tubuhnya seringan kapas, tersedot masuk ke dalam pusaran angin kencang yang berputar-putar di sekelilingnya. Pandangannya menggelap seketika.
Dan tiba-tiba...
Bruakkk!
"Adoooiii!" teriak Dinda kencang saat tubuhnya mendarat telak di atas tanah keras.
••••••••
"Aduh, sakiiittt..." ringis Dinda pelan.
Matanya terbuka perlahan, menyesuaikan dengan cahaya yang masuk. Namun, sedetik kemudian matanya langsung membelalak.
"What?! Aku di mana?" pekik Dinda terkejut. "Gila, masa ketabrak mobil doang kelemparnya bisa sejauh ini?!"
Dinda menoleh ke kanan dan ke kiri dengan panik. Tidak ada jalan aspal, tidak ada deretan rumah atau gedung tinggi, bahkan tidak ada satu orang pun di sana. Yang terlihat sejauh mata memandang hanyalah hutan rimbun yang gelap dengan pohon-pohon raksasa yang menjulang tinggi ke langit.
"Mamaaa! Dinda di mana?!" teriaknya histeris memanggil sang mama.
Di tengah kepanikannya, Dinda tiba-tiba teringat sesuatu. Ia meraba tubuhnya dan bernapas lega saat mendapati sling bag-nya masih ikut menyampir di bahu. Dengan tangan gemetar, ia buru-buru merogoh tas dan mengeluarkan ponselnya.
Ia menekan tombol daya di samping. Drettt... Ponsel itu bergetar dan menyala ulang. Begitu layar utama menampilkan menu, Dinda langsung mencari kontak nomor telepon yang bisa dihubungi.
Namun, sedetik kemudian gerakannya membeku. "Loh, kok kosong?! Kemana semua nomornya?" tanyanya bingung pada diri sendiri.
Merasa ada yang tidak beres, Dinda buru-buru membuka galeri foto, aplikasi WhatsApp, dan beberapa media sosial lainnya. Kosong melompong. Semuanya menampilkan halaman awal yang bertuliskan: Daftar atau Login. Ponselnya benar-benar seperti baru keluar dari pabrik!
"Aduh, kok bisa gini sih?!" Dinda menggeram kesal sekaligus frustrasi.
Ia terduduk lemas di atas tanah, hampir putus asa. Namun, belum sempat ia meratapi nasibnya, sebuah suara terdengar dari balik semak-semak.
Kresek!
Tubuh Dinda seketika menegang. Jantungnya berpacu liar. "Kalau itu macan, beneran mati konyol aku di sini," gumamnya super pelan, hampir tak bersuara.
Dinda menunggu selama beberapa detik dalam keheningan yang mengekam. Karena tidak ada pergerakan lagi, dengan sisa-bisa keberaniannya, ia bangkit berdiri lalu menoleh takut-takut ke belakang.
Deg!
Dinda terpaku. Matanya melotot, dan jeritan batinnya langsung membumbung tinggi.
Hah?! Di hutan belantara gini ada setan yang modelannya kayak Dylan Wang? Tapi... ini versi lebih lokal, versi kopinya... uh, manis banget!
Tepat di depannya, berdiri seorang pria bertubuh tegap dan kekar tanpa sehelai baju pun yang menutupi dada bidangnya—hanya sepotong celana bawahan kain kasar yang ia kenakan. Kulitnya berwarna cokelat eksotis, matanya yang berwarna hazel menatap tajam, sementara rambut pendeknya tampak lepek oleh peluh.
Dinda menatap pria itu tanpa berkedip sedikit pun, terhipnotis oleh visual di depannya. Si pria tampan kemudian melangkah mendekat.
"Siapa kau?" tanya pria itu dengan suara berat dan datar.
Dinda bergeming. Pemuda itu terlihat begitu berwibawa, membuat bibir Dinda mendadak kelu saat netra mereka saling bertubrukan.
"Jawab. Apa kau seorang dewi dari langit?" tanya pria itu lagi, menuntut penjelasan.
Pertanyaan itu praktis menampar kesadaran Dinda. Hah, dewi dari langit?! Dinda hendak menggeleng kuat-kuat, tapi sebuah ide tiba-tiba terlintas di otaknya. Eh, bentar. Pria ini... siapa tahu dia bisa bantu aku pulang!
"Bukan! Aku bukan dewi," jawab Dinda cepat-cepat. "Aku... aku cuma tersesat di sini."
"Tersesat? Bagaimana bisa? Bukankah kau jatuh dari langit?" Pria itu mengernyitkan alisnya.
"Maksudmu, aku jatuh dari atas sana?" Dinda menunjuk ke arah langit biru yang tertutup rapat oleh rimbunnya dedaunan pohon purba.
"Maksudmu, aku jatuh dari atas sana?" Dinda menunjuk ke arah langit biru yang tertutup rapat oleh rimbunnya dedaunan pohon purba.
Pria itu mengangguk tegas sebagai jawaban.
"Enggak, aku beneran tersesat. Entah apa yang terjadi, aku pun enggak tahu. Tiba-tiba saja aku sudah bangun di tempat ini," kata Dinda dengan suara yang mulai bergetar. Matanya berkaca-kaca, mulai merasa takut karena menyadari situasi gila yang tidak masuk akal ini.
Pria itu menatap Dinda dengan intens, seolah sedang menilai apakah perempuan berpakaian aneh di depannya ini sedang berbohong atau tidak. "Siapa namamu?"
Dinda mendongak, mencoba mencari simpati dengan tatapan sepolos mungkin. "Dinda! Namaku Dinda. Apakah... apakah kamu bisa menolongku? Kumohon tolong aku, aku ingin pulang."
Pria itu terdiam cukup lama, memandangi wajah Dinda yang memelas, sebelum akhirnya kembali bertanya, "Dari mana asalmu?"
"Aku... aku dari Kota C, Provinsi S!" jawab Dinda secepat kilat.
Mendengar itu, dahi si pria makin mengernyit dalam. "Tempat apa itu? Aku tidak pernah mendengar nama tempat seperti itu sebelumnya."
Dinda melongo. "Ah, masa, sih? Emangnya kamu tinggal di mana? Di bawah batu?" ceplos Dinda dengan wajah tanpa dosa, meskipun ia sendiri sebenarnya sedang kebingungan. Zaman sekarang masa ada orang yang tidak tahu nama provinsi?
Pria itu mendengus pelan, seolah memaklumi ucapan Dinda yang terdengar asing baginya. "Aku tinggal di Desa Rejo."
"Desa Rejo? Di mana itu?" tanya Dinda yang kembali dibuat kebingungan.
Pikirannya berputar keras. Nama desa itu terdengar sangat... terbelakang alias kuno. Dan seingat Dinda, ia sama sekali belum pernah mendengar nama desa itu di peta mana pun.
•••••••••••
"Sepertinya kau benar-benar tersesat..." kata pria itu pelan. Sorot matanya yang semula tajam perlahan melembut, menyiratkan rasa iba.
Dinda hanya terdiam, masih mencoba mencerna situasi gila ini.
"Namaku Wira," ucap pria itu lagi, memperkenalkan diri.
Dinda mendongak, menatap lekat wajah pria bernama Wira tersebut.
"Kau ikutlah denganku terlebih dahulu. Nanti kalau ada waktu luang, aku akan membantumu mencari tempat asalmu," lanjut Wira dengan suara beratnya yang menenangkan.
Ikut dengan dia? Dinda menimbang-nimbang dalam hati. Tapi apa enggak apa-apa, ya? Ah, sudahlah, enggak apa-apa deh daripada aku bingung dan mati konyol di hutan sendirian.
"Oke, aku ikut kamu!" jawab Dinda spontan.
Wira mengernyitkan dahi. "Oke? Apa itu oke?" tanya pria itu, benar-benar kebingungan.
Dinda refleks menepuk dahinya pelan. Aduh, nih laki ketinggalan zaman banget sih... batinnya gemas. Dengan senyum paling kalem yang dipaksakan, Dinda menjelaskan, "Maksudku... iya, aku mau ikut denganmu."
Wira mengangguk paham lalu berbalik, mulai melangkah memimpin jalan. Dinda pun bergegas mengekor di belakangnya.
Mereka berjalan membelah rimbunnya semak belukar. Dinda menatap ngeri ke arah kaki Wira. Pria itu tampak sangat santai berjalan tanpa alas kaki di atas tanah hutan yang penuh ranting tajam dan batu.
Sambil sibuk memperhatikan kaki Wira dan menyamakan langkah kakinya yang lebar dan cepat, tiba-tiba saja Wira berhenti mendadak.
Bukkk!
Wajah Dinda sukses menabrak punggung tegap dan keras milik Wira.
"Auw..." ringis Dinda sembari mengelus hidungnya yang mendadak cenat-cenut. Rasa-rasanya seperti menabrak tembok beton!
"Hati-hati," kata Wira acuh tak acuh.
Dinda mendelik sebal ke arah punggung pria itu. Ia memperhatikan Wira yang melangkah ke arah semak-semak lebat, lalu keluar dengan membawa dua ekor ayam hutan berbulu gemuk dan seekor kelinci putih yang malang. Rupanya pria itu habis mengambil hasil buruannya.
"Mari jalan lagi," ajak Wira tanpa dosa.
"Wira, tunggu! Kamu jalannya kayak raksasa sih, cepat banget. Aku capek tahu," keluh Dinda dengan napas sedikit terengah. Sifat aslinya yang suka mengeluh mulai keluar karena fisiknya yang jompo tidak kuat diajak gerak jalan.
Mendengar keluhan itu, Wira lantas memelankan laju langkahnya. Dinda pun mengembuskan napas lega.
Tak lama kemudian, pemandangan hutan lebat mulai berganti dengan jalan setapak kecil. Di kanan dan kiri jalan, Dinda bisa melihat hamparan lahan yang mirip perkebunan milik warga. Dinda kembali mengernyit bingung.
Ini sebenarnya di mana, sih? Kok suasananya masih asri banget? Kayak belum tersentuh polusi sama sekali, batin Dinda heran.
Setelah mengikuti langkah kaki Wira selama hampir satu jam penuh, pria itu akhirnya berbelok menuju sebuah rumah panggung sederhana yang terbuat dari kayu. Di halaman rumah tersebut, tampak seorang wanita tua yang sedang duduk santai sembari memetik sayuran.
"Mbok, Wira pulang," panggil Wira.
Wanita tua itu menoleh dan langsung menyunggingkan senyum hangat. Namun, senyumnya seketika luntur berganti dengan ekspresi terkejut saat matanya menangkap sosok Dinda yang berdiri kikuk di belakang punggung besar Wira.
"Siapa wanita itu, Wir?" tanya wanita tua yang ternyata bernama Mbok Ginem itu dengan nada bingung.
"Namanya Dinda, Mbok. Kasihan, gadis ini tersesat di dalam hutan," jawab Wira apa adanya.
Mbok Ginem terperanjat, lalu beralih menatap Dinda dengan pandangan penuh prihatin. Dinda yang ditatap seperti itu hanya bisa tersenyum kaku sembari menganggukkan kepalanya sopan.
"Walah... nduk, kasihan sekali cah ayu..." ucap Mbok Ginem dengan logat yang terdengar asing namun lembut di telinga Dinda. "Kemari, Nduk," panggil Mbok Ginem ramah.
Dengan perasaan malu-malu, Dinda melangkah mendekat.
"Nama kamu siapa, Nduk?" tanya Mbok Ginem lagi.
"Dinda, Mbok," jawab Dinda dengan suara rendah, berusaha memberikan kesan sopan dan kalem.
"Walah, namanya ayu... Dinda. Kelihatan seperti nama putri raja," puji Mbok Ginem dengan mata berbinar-binar.
Dinda hanya bisa tersenyum kikuk, menyembunyikan rasa bersalah karena sudah membuat Mbok Ginem salah paham dengan penampilannya.
"Sudah, jangan dipikirkan lagi yang berlalu. Malam ini kamu tidur di sini saja, ya..." ucap Mbok Ginem menawarkan tumpangan.
Dinda mengangguk pasrah, tidak punya pilihan lain. Melihat respons Dinda, Mbok Ginem pun tersenyum cerah, merasa senang karena rumah sepinya kedatangan tamu yang cantik.
Mbok Ginem tersenyum hangat menatap Dinda, lalu memberi isyarat agar gadis itu segera naik ke dalam rumah panggung kayu mereka. Namun, langkah kaki Dinda mendadak terpaku di tanah.
Ia terbengong menatap lurus ke depan dengan rahang agak turun. Rumah ini cukup tinggi, dan satu-satunya akses untuk naik adalah sebuah tangga darurat yang hanya terbuat dari kayu-kayu bulat sebesar lengan orang dewasa, lalu diikat menggunakan lilitan tali akar tanaman.
Bagi Dinda yang terbiasa dengan lantai keramik dan eskalator, melihat tangga itu rasanya seperti melihat wahana ekstrem.
"Kenapa tidak naik?" tanya Wira yang menyadari keterpautan Dinda.
"Ah, aku... aku takut," jawab Dinda jujur, meremas tali sling bag-nya. Suaranya terdengar cicit dan matanya menatap tangga itu dengan ngeri.
Wira mengernyitkan dahi. Pria itu menatap Dinda, lalu beralih menatap tangga kayu miliknya. Tak butuh waktu lama bagi Wira untuk paham. Tanpa sepatah kata pun atau menunggu aba-aba, Wira melangkah mendekat, membungkuk sedikit, dan langsung menyendok tubuh kecil Dinda ke dalam gendongan ala bridal style.
"Eh?!" Dinda terpekik pelan.
Wira mulai menapakkan kakinya pada undakan tangga kayu dengan santai. Gerakannya begitu stabil dan kokoh tanpa rasa takut sedikit pun karena sudah terbiasa.
Sementara itu, tubuh Dinda mendadak mengkerut, reflek melingkarkan tangannya ke leher Wira agar tidak jatuh. Dalam jarak sedekat ini, aroma maskulin perpaduan keringat dan hutan dari tubuh Wira langsung menyeruak ke indra penciuman Dinda. Ia mendongak, tanpa sadar terpesona melihat rahang tegas dan wajah tampan Wira dari jarak dekat. Aduh, jantung, tolong kondisikan! batin Dinda menjerit.
Tak terasa, mereka sudah sampai di atas. Wira menurunkan tubuh Dinda dengan sangat perlahan di atas sebuah amben—dipan kayu pendek yang cukup besar.
"Istirahatalah. Aku akan turun ke bawah," ucap Wira datar, lalu berbalik dan pergi keluar begitu saja tanpa menoleh lagi.
Dinda menatap punggung tegap Wira yang perlahan menghilang di balik pintu.
"Hufff..." Ia mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang masih maraton. "Sekarang aku harus apa?" gumam Dinda lirih pada kesunyian kamar.
Merasa lelah mental dan fisik, Dinda perlahan merebahkan tubuhnya di amben. Ia memejamkan mata untuk merilekskan pikiran. Namun, anehnya, bukannya tertidur ke alam bawah sadar, Dinda justru mendapati dirinya tiba-tiba berdiri di sebuah pekarangan yang sangat luas.
Tempat itu terlihat seperti sebuah perkebunan rahasia. Ada berbagai macam tanaman sayur dan buah-buahan yang tumbuh subur. Di tengah-tengah kebun, terdapat sebuah mata air kecil yang airnya sangat jernih, dengan asap tipis yang menyelimuti sekelilingnya seperti kabut magis.
"Aku... aku di mana?" tanya Dinda kebingungan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!