Indonesia
NovelToon NovelToon

Lelah Berharap

Pindah Sekolah

Aku Bintang siswa pindahan dari Bandung. Aku tidak tahu apa tujuan orang tua ku memindahkan ku di sekolah swasta bertaraf internasional di Jakarta. Padahal aku baru naik kelas XI.

Sebagai anak yang menurut, aku ikuti aja permintaan orang tua ku. Dan aku tinggal di rumah sahabat mama ku di Jakarta.

Pertama kali bertemu dengan tante Ratna sahabatnya mama, orangnya baik, penyayang dan suka humor juga. Mungkin karna rante Ratna ngga punya anak perempuan makanya dia sangat menyayangi aku.

Aku nggak tahu jika tante Ratna memiliki anak laki-laki bernama Aksa. Dan aku juga nggak tahu nantinya kak Aksa akan jadi kating disekolah baru ku..

"Ratna, sudah lama ya kita nggak ketemu, maaf ya aku harus titip Bintang di rumah mu dua tahun kedepan menjelang dia tamat SMA ini".

"Kenapa harus sungkan sih Din, anak kamu anak aku juga. Apa lagi aku nggak ada anak perempuan jadi asik nanti akunya ada yang di ajak shoping dan masak-masak".

"kamu jangan berharap lebih pada Bintang jika itu tentang masak-masak Rat, dia tu anaknya nggak bisa ngapa ngapain. Anaknya hobinya ngamar melulu, ha...ha...ha...".

"Ih mama jangan buka coki Bintang dong ma, Bintang kan jadi malu sama tante Ratna".

"Nggak perlu malu Bintang, tante malah suka kamu apa adanya. Nggak jaim jaim pun nggak apa. Gimana kamu bersikap di rumah ya bersama tante kamu juga bersikap seperti biasanya juga".

"Ah siap tante. Bintang juga nggak bisa bersikap jaim jaim tan, he...he...he..".

"Ngomong-ngomong anak kamu mana Rat nggak ikut ya ke bandara".

"Nggak Din, maklum ketos banyak acaranya".

Aku diam aja ketika mama dan tante Ratna ngomongin apa. Aku nggak tahu jika tante Ratna punya anak. Tapi ya so aku mikir itu nggak pentig. Toh aku disini hanya belajar sampai orang tua ku menjemput diri ku lagi sampai mereka pulang dari luar negri.

Ya papa dan mama pergi ke singapur untuk urusan bisnis. Bisnis mereka disana ada masalah dan harus butuh pantauan langsung dari papa. Dan papa nggak mungkin tinggalkan mama disini sementara papa diluar negri. Dan untuk sekolah ku, nggak mungkin juga aku dipindahkan ke luar negri tanggung dua tahun lagi.

"Yuk ke rumah, aku sudah masakkan makanan enak buat kamu dan Bintang".

"Wah pasti enak ni Rat, soalnya masakan kamu tu udah seperti masakan bertaraf internasional. Coba deh Bin, nanti kamu pasti suka dan berat badan mu mungkin bisa nambah".

"Apaan sih ma, Bintang nggak mau gemuk loh ma".

"Kamu tu jika makan banyak pun nggak akan gemuk Bin. Mama juga heran kemana pergi makanan mu yang banyak itu, kok nggak gemuk-gemuk".

"Jadi makan Bintang banyak ya Din. Tante jadi semangat masak ni jika ada yang mau makan makanan tante sampai habis. Maklum anak tante dan om kalau makan tu seadanya aja. Tante heran juga kenapa makan mereka dikit gitu. Jadi tante nggak semangat jadinya masak. Tapi kalau ada kamu, wah tante jadi semangat buat masak ni".

"Tante bisa aja. Buat Bintang jadi malu aja". Ucap ku ke tante Ratna sambil tersenyum malu.

Sesampai di rumah tante Ratna aku dibuat takjub dengan rumahnya yang besar. Perkarangan yang luas, rumah bertingkat dan isi perabot rumah yang bisa dibilang mahal mahal semua. Meski tante Ratna kaya, tapi dia nggak sombong kelihatannya. Bahkan asik orangnya.

Di ruang tamu ini kami berkumpul. Disini ada suami tante Ratna Om Rayyan juga anaknya. Dan ada mama ku Dinda papa Dion juga aku.

Aku hanya duduk diam mendengar ucapan orang tua ku yang bercerita tentang masa masa mereka muda dan masa masa mereka menempuh pendidikan di waktu mereka kuliah dulu.

"Oh ya Bintang, perkenalkan ini anak tante namanya Aksa dan Aksa kenalkan ini Bintang. Aksa ini nantinya akan jadi kating kamu loh Bin di tempat sekolah kamu yang baru".

"Salam kenal kak Aksa". Ucap ku sambil senyum tipis menandakan kesopanan terhadap yang lebih besar dari ku.

"Hmm, aku Aksa".

Wah aku nggak nyangka jawabannya dingin amat. Bagi ku sih nih cowok sok kecakepan. Apa coba yang di marahin sama aku, apa aku nggak boleh tinggal disini. Jika nggak boleh ya bilang kek ke mommy nya. Aku kan bisa ngekos juga disini, biar coba coba hidup mandiri.

Aku pernah ungkapkan ke inginan ku ke mama, kalau pun pindah sekolah aku mau kok ngekos. Tapi bilang mama, " kamu tu anak gadis, harus ada yang jagain. Apa lagi kehidupan di kota pengaruhnya besar". Makanya aku nurut aja apa kata mama.

"Senin besok Bintang sudah mulai masuk sekolah, apa persiapannya sudah ada Din. Jika belum bagaimana besok kita belanja keperluan sekolah Bintang Din. Kebetulan besok hari minggukan"

"Itu masalahnya Rat, aku dan mas Dion tidak sempat membelikan perlengkapan sekolah Bintang. Karena tiket pesawat telah kami beli dan jadwalnya sore ini”. Kata mama ku dan itu sempat membuat aku kecewa. Kenapa aku merasa seperti anak yang dibuang saja.

“Ma, kok gitu sih. Harusnya mama temani aku dong di hari sekolah ku pertama dengan lingkungan yang baru”.

“Sayang, mama mohon pengertian mu ya sayang. Soalnya besok papa mu ada jadwal temu klien di sana. Dan papa harus profesional dong”.

“Ya deh ma. Terserah mama saja. Bintang manut aja”. Jawab ku dengan perasaan sedih dan kecewa”.

Tante Ratna kayaknya tahu kalau aku kecewa. Makanya tante Ratna lihat aku dengan pandangan iba. Dan aku paling tidak suka melihat aku dengan pandangan iba itu.

“Ya sudah besok kamu pergi membeli perlengkapan sekolahnya sama tante aja. Anggap tante ini mommy mu dan mulai sekarang kamu panggil om dengan deddy dan tante mommy ya Bintang”.

“Ya tan eh mommy. Bintang sekarang ada dua orang tua dong”. He…he…he… jawab ku dengan cengiran untuk menghilangkan rasa sedih dan kecewa ku.

“Aksa kamu tunjukkan kamar Bintang gih, mommy mau antar orang tua Bintang dulu ke bandara habis itu mommy temani deddy mu ke acara rekan bisnis deddy mu”.

“Hmm iya mom. “Yuk gue antar lue ke kamar lue”.

“Aksa mommy nggak suka ya kamu panggil lue gue di rumah ya, kayak nggak sopan aja kamu tu”.

“Iya mom maaf “.

“Mari aku antar kamu ke kamar mu”.

“Iya kak, makasih ya kak”. Ucap ku begitu kakunya aku menjawab. Gimana nggak kaku coba, yang di ajak ngomong balok es. Ngeri juga sih lama-lama dengan dia kalau ngomong. Seperti ngomong dengan kutup es, dingin gimana gitu.

Rencana Orang Tua

Hari ini mama dan papa pergi keluar negeri dengan diantar oleh tante Ratna dan om Rayyan. Hati ku sebenarnya sedih karena tidak dapat mengantar kepergian papa dan mama. Tapi harus bagaimana lagi itu permintaan orang tua ku.

“Makasih ya Rat sudah mengizinkan Bintang untuk tinggal bersama mu dua tahun ini”.

“Kok terima kasih segala, apa kamu lupa Din kalau Bintang adalah calon mantu ku. Kamu nggak lupakan dengan kesepakatan kita dulu kalau anak kita laki-laki dan perempuan maka kita akan nikah kan dan kalau sama laki-laki atau perempuan akan kita jadikan saudara. Masak kamu lupa sih Din”.

“Aku takut aja kalau anak-anak kita menikah tanpa cinta Rat. Kamu tahu sendiri anak-anak sekarang susah di aturnya”.

“Nggak lah Din, pokoknya aku hanya ingin Bintang jadi mantu ku untuk anak semata wayang ku”.

“Iya terserah kamu aja lah Rat. Yang penting kita nggak boleh egois juga. Kita juga harus terima jika mereka punya pilihan mereka masing-masing”.

“Sudah-sudah mom, apa yang dikatakan Dinda memang ada benarnya juga sih mom. Tapi jika mommy bersikeras juga maka mommy harus berusaha mendekatkan mereka se natural mungkin tidak ada unsur paksaan”.

“Iya ded, mommy akan coba untuk dekatkan mereka”.

“Ngomong-ngomong Aksa nggak punya pacar gitu Rat di sekolahnya. Aksa kan anaknya tampan dan cool gitu pasti ada lah pacarnya”.

“Nggak lah Din, aku udah wanti wanti Aksa buat jangan pacaran karna aku udah bilang kalau dia udah aku jodohkan dengan sahabat mommy nya. Dan aku rasa Aksa sudah tahu siapa wanita yang dijodohkan dengan dia”.

Pantasan Aksa melihat Bintang seperti itu kali. Ternyata Aksa sudah tahu kalau Bintang adalah calon istrinya. Tapi aku merasa kok Aksa tidak suka ya dengan perjodohan ini, atau jangan-jangan Aksa sudah punya pacar kali ya. Ungkapan perasaan Dinda tapi hanya di ucapkan di dalam hati.

“Ini kamar mu disebelah kamar ku, aku harap kamu mandiri dan jangan pernah ganggu aku. Karna aku nggak suka diganggu. Apa kamu ngerti”.

“Iya kak, Bintang ngerti kak. Makasih udah tunjukkan dimana kamar Bintang’.

“Eh malah aku ditinggalkan sambil ngomong. Apa an sih tu orang nggak jelas banget. Apa coba salah ku bahkan kita baru ketemu eh dia malah tunjukkan rasa permusuhan. Apa dia merasa sok kecakepan makanya dia kira aku seorang Bintang tertarik sama dia. Oh tidak Furgoso”. Aku hanya ngomel sendiri sambil jalan masuk kamar.

Setelah sampai bandara Dinda dan Dino langsung chek in karna sebentar lagi pesawatnya lepas landas menuju Singapore.

“Hati-hati ya Din, semoga disana masalah nya cepat selesai dan kita bisa cepat berbesanan”.

“Amin. Doakan ya Rat disana aku dan suami lancer usahanya”. Dah da…da...

“Ayuk mom kita langsung ke acara rekan bisnis deddy nanti telat pula lagi kan nggak lucu. Masak seorang pebisnis tak tepat waktu”.

“Iya iya ded, sabar kenapa”. Ucapa mommy Ratna agak sewot.

"Dad, tapi mommy ingin deh kalau Bintang jadi mantu kita, soalnya mommy gemes lihat tu anak cantik banget dan mukanya itu loh mau mommy cubit deh bulat kali. Mommy harap Aksa jatuh cinta sama Bintang jadi kita kan nggak capek-capek lagi comblang in mereka”.

“Mommy mau comblang in mereka, kenapa nggak buka biro jodoh aja sih”.

“Ah deddy bisa aja. Jika ini berhasil solusi deddy perlu mommy pertimbangkan”.

“Hanya gurauan mommy jangan diambil serius. Lagian mommy nggak kekurangan apa pun sama deddy”.ucap pak Rayyan pada istrinya sambil geleng-geleng kepala.

Sementara di rumah hanya tinggal Aksa dan Bintang. Para pembantu di rumah pada libur, maklum hari weekend dan besok hari minggu.

“Duh lapar banget, mana aku nggak tahu lagi dimana dapurnya. Apa aku ketok aja ya kamarnya kak Aksa. Tapi takutnya kak Aksa salah paham lagi dibilang aku cari perhatian padanya. Ah bodoh amat yang penting perut ku berisi dan kenyang. Ingat Bintang jangan pernah menaruh hati pada siapa pun sebelum cita-cita mu jadi kenyataan.” Itu yang selalu aku sugesti dalam diri ku. Karena aku nggak ingin seperti teman ku yang katanya putus cinta itu menyakitkan. Dan aku belum siap untuk disakiti.

“Kak Aksa. Kak “. Ucap ku sambil mengetok pintu kamar kak Aksa. Dan dia membuka pintu kamarnya dengan wajah bantalnya tanpa memakai atasan alias telanjang dada. Sontak aku memekik karna selama ini mata suci ku nggak pernah lihat kayak gituan. Nggak sama dengan teman-teman ku yang suka lihat boyband bertelanjang dada.

“Kak pakai bajunya dong. Nggak enak dilihatnya.”.

“Salah kamu sendiri, ngapain ganggu orang tidur”. Setelah itu kak Aksa pergi mengambil bajunya dan baru keluar dari kamarnya. “Ada apa bangunin tidur”.

“Bintang lapar kak mau makan tapi Bintang nggak tahu dapurnya dimana”. Jawab ku sambil menunduk karna pandangan mata kak Aksa sangat menyeramkan sih.

“Kebetulan hari ini para pekerja nggak masuk karena libur. Ya udah kita beli di luar aja. Sana ganti baju, kita makan di luar aja. Aku malas kali masak lagian nggak ada yang mau di masak bahan juga habis”.

Aku bengong lihat kak Aksa ngomongnya panjang banget. Ku kira orangnya cool habis dan irit bicara.

“Kenapa bengong, nggak jadi laparnya ?"

“Iya kak, bentar kak. Bintang ganti baju dulu. Bentar kok”.

Huh aku nggak tahu harus bersikap seperti apa pada gadis itu. Apa dia tahu tentang perjodohan orang tua kita. Kalau boleh aku duga kayaknya tu cewek nggak tahun kalau aku calon suaminya. Ok kalau gitu nanti aku uji aja tentang perjodohan ini. Apa dia tahu atau pra-pura tidak tahu.

“Kak kita naik motor gede ini ?

“Ya, trus mau kamu jalan kaki ?

“Bukan begitu kak, Bintang kira naik mobil takutnya hari sudah malam dan akan turun hujan kayaknya”.

“Aman kok hari ini, tu ada bintangnya”.

Aku bingung harus bawa ni cewek makan dimana. Akhirnya aku menuju ke salah satu cafe ku yang terdekat. Ya aku Aksa seorang anak pengusaha hotel dan rumah sakit tapi aku bukan anak yang manja. Di kelas X aku sudah merintis usaha kuliner untuk tempat nongki-nongki anak muda. Dan Alhamdulillah usaha tidak mengecewakan hasilnya.

“Yuk turun”.

“Wah rame juga ya kak disini. Apa cafe ini selalu rame ya kaka tau makanan disini enak dan murah ya kak ?”

“Sudah duduk aja disitu, kayak yang nggak pernah nongki aja”.

“Emang aku nggak pernah nongki kak. Karna mama selalu membatasi pergaulan dan jam keluar ku”. Jawab ku sambil cemberut habisnya kesal sih disindir melulu.

Membeli Perlengkapan Sekolah

Aku paling benci jika aku di sindir sebenarnya. Tapi apa boleh buat memang aku belum pernah nongki-nongki ala anak remaja. Bukan akunya kuper ya, tapi aku kan memang anak yang patuh dan penurut sama ucapan mama dan papa ku. Karna bagi ku mereka adalah surganya aku.

“Bos Aksa tumben datang malam-malam begini bawa cewek lagi. Gebetan baru ya bos ?”

“Apa sih To,bukan gebetan tapi saudara jauh yang datang dari Bandung”.

“Cakep y abos, apa sudah ada pacar nggak bos. Kalau belum ada rencana sih mau daftar”.

“Kamu kira pendaftaran masuk kampus. Pakai acara pendaftaran aja”. Ucap ku sewot pada Dito.

“Yaelah bos lagi PMS ya, jawabnya cemberut kali”.

Aku lihat Bintang dari jauh. Cantik sih anaknya malahan imut lagi. Tapi sayang aku sudah ada pacar. Ya walaupun aku pacaran karena taruhan. Tapi karena pacar ku orangnya nggak banyak nuntut waktu ku sih aku enjoy-enjoy aja. Dibilang cinta aku tak tahu karena aku merasa sama pacar ku nyaman aja. Ya meski pun dia selalu minta ini itu selagi aku bisa ya aku turuti. Mungki aku kelihatan bodoh, ya bagaimana lagi taruhannya harus sampai aku tamat sekolah. Dan itu nggak akan lama lagi. Mungkin aku jahat, ya kalau sudah kalah taruhan mau tak mau aku harus terima hukumannya.

Dan aku nggak tahu kalau Selli pacar ku itu tahu atau nggak kalau aku terima dia karena taruhan. Selama dengan dia,ya dia layak seperti kami pasangan sungguhan. Memang sih Selli anaknya cantik dan bodynya bohay, tapi ya aku nggak ada getaran gitu sama tu anak. Semoga aja Selli nggak sakit hati pada ku, lagian aku juga nak perah ngapa-ngapain dia. Dan juga pegangan tangan juga nggak kecuali dia yang inisiatif pegang tangan ku tapi dengan cepat ku tepis dengan alasan bukan muhrim.

“Kamu mau pesan apa Bintang. Ini menu disini”.

“Aku pesan ayam bakar sama es the aja sih kak”.

“Oke bentar aku pesan dulu”.

Aku diam aja apa yang dilakukan kak Aksa. Karena untuk memulai pembicaraan sama kak Aksa malas banget. Mungkin aku harus jaga jarak sama kak Aksa kedepannya. Cakep sih tampan juga siapa yang nggak akan jatuh hati padanya. Ya tapi jika dia ketus dan cool gitu aku ogah juga.

“Kamu lagi lamun apa,apa ada yang kamu mau omongin ?”

“Nggak ada kak”. Jawab ku sesingkat mungkin. Malas kali berinteraksi lama-lama dengan kak Aksa.

Setelah selesai makan aku dan kak Aksa langsung pulang. Dalam perjalan pulang aku dan kak Aksa hanya diam tanpa berbicara sama sekali. Aku berharap supaya cepat sampai di rumah dan bocan deh. Karena aku adalah anak rumahan yang mageran kalau keluar rumah.

“Eh dari mana kalian. Apa sudah mulai pendekatan ya”.

“Apaan sih mom. Aku hanya ngajakin Bintang untuk makan diluar. Karena nggak ada makanan di rumah”. Jawab kak Aksa sama mommynya.

“Oh maafkan tante ya sayang. Gara-gara kelamaan diluar tante jadi lupa kalau belum ada belanja bahan yang untuk dimasak. Bagaiman kalau besok kita pergi beli perlengkapan sekolah kamu juga sambil beli keperluan di rumah”.

“Ok tan, Bintang mau aja sambil lihat-lihat jalan disini biar nggak kesasar Bintangnya tan.he…he…he..”. jawab ku sambil nyengir.

“Uh gemesnya deh tante lihat muka mu itu imut kali”.

“Tante bisa aja, bikin Bintang salting jadinya”.

Aku perhatikan interaksi mommy ku dengan Bintang kayaknya mereka mudah akrab. Aduh aku lupa lagi buat interogasi dia, apa dia tahu tentang perjodohan ini. Kata ku dalam hati.

“Sudah sana tidur, udah malam”.

“Iya tan. Bintang tidur dulu ya tante om”.ucapku sambil menuju kekamar ku dan disusul oleh kak Aksa dari belakang. Karena memang kamar kami bersebelahan. “Malam kak Aksa” kata ku sambil masuk kamar ku. Tapi yang disapa malah diam tanpa jawaban. Nyesal deh aku pamitan sama dia.

Keesokan pagi nya aku dan keluarga kak Aksa sarapan pagi sama-sama diruang makan. Ya aku sudah bangun dari pagi, menjalankan kewajiban ku sebagai umat muslim dan selesai itu aku buka buku pelajaran ku sambil mengulang-ulang pelajaran biar nggak lupa. Aku hobinya membaca, menulis dan menggambar.

“Kamu siap-siap gih Bintang. Habis ini kita mengelilingi moll”.

“Iya tan. Kalau gitu aku kekamar dulu ganti baju ya tan”.

“Aksa kamu habis lari pagi, rame nggak di taman orang lari paginya”.

“Rame mom, mommy sama deddy kenapa nggak lari pagi juga sih”.

“Maklum Aksa mommy mu malas kalau jalan atau lari-lari pagi. Tapi kalau jalan shoping pasti mommy mu tu mau”.

“Deddy suka betul aja sih tentang mommy.”

“Apa yang tidak deddy tahu tentang mommy. Luar dalam deddy sudah hafal”.

“Ih deddy bikin mommy malu aja. Terasa seperti ABG lagi mommy kayaknya”.

Begitulah kalau mommy dan deddy kalau sudah ngomong pasti dunia milik mereka berdua. Aku jadi heran mereka ngomong kayak itu di depan anak semata wayangnya. Apa mereka nggak fikirkan perasaan ku. Trus aku manja-manja sama siapa coba. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ke unyuan mereka dan berlalu pergi ke kamar ku. Sampai depan kamar, kamar yang dihuni oleh Bintang terbuka. Aku lihat tu anak cantik banget. Aku yakin jika dia masuk ke sekolah Praja maka dia akan jadi cewek yang paling cantik di sekolah itu.

“Hai kak Aksa, permisi kak”. Jawab ku sambil menundukkan kepala ku sedikit. Kan aku anaknya menjunjung tinggi sopan santun apalagi pada yang lebih dewasa dari kit. He..he…he…

“Yuk tan kita berangkat. Bintang udah siap ni tan”.

“Masyaallah kamu cantik banget Bintang. Tante jadi pangling lihat kamu. Mau nggak jadi anak gadis tante?”

“Kan BIntang sudah jadi anak gadisnya tante”.

“Kalau sudah kenapa nggak panggil tante mommy da nom deddy sih. Biar berasa kamu jadi anak tante sungguhan”.

“Oke tan…eh mommy”. Ucapku sambil tersenyum dengan pipi ku yang memerah karena sedikit malu sih.

“Ya udah kita jalan lagi yuk. Deddy, mommy jalan lagi ya. Jangan sampai rindu mommy ya. Karna kata Dillan rindu itu berat loh ded”.

Deddy ku hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah mommy ku yang selalu merasa menjadi ABG.

Di moll aku dan mommy membeli perlengkapan sekolah ku. Dari buku, pena, tas, baju sekolah dan alat-alat tulis lainnya. Setelah selesai membeli perlengkapan sekolah ku kami membeli beberapa keperluan dapur. Meski nantinya keperluan dapur juga di beli oleh pembantu, tapi tak jarang juga mommy membelinya sendiri. Karena mommy bukan tipikal orang kaya sombong sih menurut ku.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!