"Kevin! Kamu itu kapan mau berubah? Kuliah sarjana mahal-mahal, kerjanya cuma melingkar di warkop dari pagi ketemu pagi! Itu anak mpok Lela baru lulus langsung kerja di SCBD, lah kamu? Minta uang rokok aja masih nodong Ibu!"
Suara lengkingan Ibu Kevin, Bu Sri, memantul di dinding rumah tipe 36 mereka di pinggiran Kota Depok.
Kevin Wijaya, 25 tahun, hanya bisa meringkuk di atas kasur busanya yang sudah kempes.
Dia menutup telinganya dengan bantal yang baunya sudah mirip apek keringat bercampur keputusasaan.
Apa yang dikatakan ibunya tidak salah. Dia adalah definisi beban keluarga sejati.
Lulusan Sarjana Ilmu Komunikasi dari universitas swasta, tapi hobi utamanya adalah menganggur, mabar game MOBA, dan menjadi topik gibah nomor satu bagi ibu-ibu komplek saat tukang sayur lewat.
"Iya, Bu. Nanti Kevin cari lowongan lagi,"
sahut Kevin malas, kalimat template yang sudah dia ucapkan ratusan kali dalam dua tahun terakhir.
Setelah ibunya pergi ke pasar dengan omelan yang masih merembet, Kevin menghela napas panjang.
Dia berjalan keluar rumah menuju Warkop Berkah, tempat pelariannya. Di sana, dia memesan es teh manis modal utang dan sebatang rokok ketengan.
Nabila, anak pemilik warkop yang masih kuliah semester awal, mengantarkan minumannya dengan tatapan iba.
"Kak Kevin, jangan dipikirin banget omongan orang-orang. Kak Kevin pasti dapet kerja kok nanti," hiburnya manis.
Nabila adalah satu-satunya oase di gurun pasir kehidupan Kevin. Wajahnya yang polos khas gadis Depok selalu berhasil menenangkan Kevin.
"Makasih, Nab. Cuma kamu yang percaya sama calon orang sukses ini,"
gurau Kevin, mencoba menutupi rasa malunya.
Hari berlalu seperti biasa.
Gunjingan tetangga yang menatapnya sinis saat dia berjalan pulang sudah seperti angin lalu.
Kevin tidur lebih awal malam itu, merasa lelah dengan eksistensinya yang tidak berguna.
Namun, tepat di pukul 00:01, saat hari berganti menjadi Senin, sebuah suara mekanis yang dingin dan bergema langsung di dalam kepalanya membuat Kevin terlonjak kaget dari tidurnya.
Ding!
[Sistem Karir Mingguan Berhasil Diaktifkan!]
[Mendeteksi Pengguna: Kevin Wijaya. Status: Beban Keluarga Level Maksimal.]
"Siapa itu?! Malem-malem ada yang masang speaker di genteng?!"
Kevin celingukan, matanya membelalak menatap kamarnya yang gelap.
[Sistem bukan ilusi audio. Sistem adalah entitas multidimensi yang akan mengubah nasib Pengguna. Tanpa wawancara, tanpa lamaran kerja, Pengguna wajib menjalani profesi acak setiap minggunya.]
[Profesi Minggu 1: Driver Ojek Online (Ojol).]
[Fasilitas yang Diberikan:]
Satu unit motor Honda NMAX yang telah dimodifikasi dengan mesin Motor Balap MotoGP (Samaran Visual: Standar).
Saldo Dompet Digital Sistem: Tak Terbatas.
Kemampuan: Refleks Dewa Berkendara (Membuat Pengguna mampu bermanuver di kemacetan Margonda secepat kilat tanpa lecet).
[Misi Minggu 1: Selesaikan 100 orderan dengan rating bintang 5 dan gagalkan 3 tindak kriminalitas di jalanan Depok.]
[Hadiah Misi: Sertifikat Kepemilikan 1 Ruko Tiga Lantai di Jalan Raya Margonda (Bebas Pajak).]
Kevin mengerjapkan matanya berulang kali.
"Gue... gue fix gila. Kebanyakan dengerin knalpot brong nih."
Namun, saat dia melihat ke arah meja belajarnya, sebuah kunci motor dengan logo aneh bersinar redup di sana.
Di sampingnya, ada sebuah jaket hijau khas ojol dan helm yang terlihat sangat kokoh.
Kevin berjalan gemetar, mengambil kunci itu, dan mengintip dari jendela kamarnya ke arah teras rumah.
Di sana, terparkir sebuah motor NMAX berwarna hitam doff yang tampak biasa saja dari luar.
Namun, jika dilihat lebih dekat, getaran mesinnya meski mati seolah memancarkan aura predator jalanan.
Kevin menelan ludah. "Sistem... saldo tak terbatas itu beneran?"
Ding!
Sebuah notifikasi SMS masuk ke ponsel jadulnya.
[Rekening Anda telah terhubung dengan Sistem Pay. Saldo saat ini: Rp 999.999.999.999.000,-]
Seketika, lutut Kevin lemas. Dia terduduk di lantai kamarnya.
"Ibu... Kevin kayanya nggak usah kerja di SCBD deh..."
gumamnya dengan mata berbinar liar. Senin pagi ini, hidup sang beban keluarga tidak akan pernah sama lagi.
Matahari hari Senin terbit dengan cerah di langit Depok.
Bu Sri terkejut setengah mati saat keluar ke teras dan melihat anak laki-lakinya sudah rapi mengenakan jaket ojol hijau yang bersih dan wangi, lengkap dengan helm di tangan.
"Kevin? Kamu... kesambet setan warkop mana? Kok udah rapi?" tanya Bu Sri heran.
Kevin tersenyum lebar, menyalami tangan ibunya dengan takzim.
"Kevin mau kerja, Bu. Doain hari pertama narik ojek lancar ya."
Sebelum ibunya sempat bertanya dari mana dia dapat motor matic bongsor yang terparkir di halaman, Kevin sudah naik ke atas joknya.
Begitu Kevin memutar kunci kontak, sebuah panel hologram tipis yang hanya bisa dilihat olehnya muncul di atas speedometer.
[Status Motor: Siap Tempur. Mode: Urban City. Kecepatan Maksimal: 320 km/jam (Terbatasi Sistem agar tidak menimbulkan kepanikan massal).]
"Gila..." bisik Kevin.
Begitu dia menyalakan mesin, suaranya terdengar sangat halus, hampir tak terdengar, berkat teknologi peredam suara tingkat dewa dari sistem.
Tapi Kevin bisa merasakan getaran tenaga raksasa di bawah selangkangannya.
Kevin menghidupkan aplikasi ojol khusus dari sistem di ponselnya.
Tidak butuh waktu dua menit, bunyi nyaring terdengar.
Ding! Orderan Masuk!
Nama Penumpang: Viola.
Lokasi Penjemputan: Perumahan Elit Pesona Khayangan.
Tujuan: SMA Garuda Depok.
Catatan: "Tolong cepat ya Bang, saya sudah telat ujian matematika! Kalau telat saya kasih bintang 1!"
"Bintang satu? Wah, jangan main-main sama ruko Margonda gue, Dek!"
cetus Kevin. Dia langsung menarik gas.
WUSH!
Kevin hampir terjungkal ke belakang jika sistem tidak memberikan Kemampuan Refleks Dewa Berkendara.
Motor itu melesat bagai anak panah, berbelok di gang-gang sempit Depok dengan kemiringan ekstrem mirip Marc Marquez di sirkuit Mandalika, namun anehnya, Kevin merasa sangat stabil dan aman.
Hanya dalam waktu 3 menit, Kevin sudah sampai di depan gerbang rumah megah di Pesona Khayangan.
Di sana, seorang gadis SMA dengan seragam OSIS yang rapi, berwajah dingin namun sangat cantik dengan rambut dikuncir kuda, sedang cemas melihat jam tangannya. Itu Viola.
"Atas nama Viola?" tanya Kevin ramah sambil membuka kaca helmnya.
Viola menatap Kevin dengan dahi berkerut. Dia agak terkejut melihat driver ojolnya ternyata seorang pemuda yang cukup tampan, bersih, dan mengendarai motor yang tampak sangat terawat.
"Iya. Bang, ini tinggal 7 menit lagi gerbang sekolah ditutup. Dari sini ke jalan raya aja macetnya parah. Bisa cepet gak?"
"Pakai helmnya, Dek.
"Pegangan yang erat, dan jangan lupa berdoa,"
kata Kevin dengan nada tenang namun penuh percaya diri.
Viola mendengus, menganggap itu hanya bualan driver biasa.
Dia naik ke boncengan dengan posisi agak menjauh. Namun, begitu Kevin memutar gas keluar dari kompleks menuju jalur utama Margonda yang terkenal padat merayap di pagi hari, Viola langsung menjerit kecil.
BRRRMM!
NMAX itu membelah kemacetan. Di mata Viola, motor ini seperti menembus ruang dan waktu.
Kevin selap-selip di antara mobil-mobil pribadi dan angkot Depok dengan kecepatan yang tidak masuk akal, namun herannya, gerakannya sangat mulus.
Tidak ada guncangan kasar. Jarak antar spion mobil hanya tersisa beberapa milimeter, tapi Kevin melewatinya seolah dia punya mata di setiap sudut motornya.
Karena syok dan takut jatuh, Viola tanpa sadar langsung memeluk pinggang Kevin dengan sangat erat, menyandarkan wajahnya di punggung Kevin.
"Bang! Ini motor atau roket sih?!"
teriak Viola di balik helm, jantungnya berdegup kencang bukan cuma karena kecepatan motor, tapi juga karena aroma parfum maskulin dari jaket Kevin yang entah kenapa membuat wajahnya mendadak merona merah.
Kevin hanya tersenyum di balik helmnya.
"Ini namanya kekuatan pelayanan prima, Dek!"
Tepat pukul 06:58, dua menit sebelum gerbang SMA Garuda ditutup, motor Kevin berhenti dengan ngerem mendadak yang sangat presisi di depan sekolah.
Viola turun dengan kaki yang sedikit gemetar, wajahnya syok sekaligus takjub.
Perjalanan yang biasanya memakan waktu 20 menit di jam macet, diselesaikan Kevin dalam waktu kurang dari 5 menit.
"S-Sesuai aplikasi ya, Bang,"
kata Viola, mencoba mengembalikan ekspresi dinginnya, walau detak jantungnya masih karuan.
"Siap. Jangan lupa bintang limanya ya, Dek. Sukses ujiannya,"
ujar Kevin sambil mengedipkan sebelah mata, lalu memutar motornya dan melesat pergi, meninggalkan Viola yang berdiri terpaku di depan gerbang.
Gadis itu menatap ponselnya, melihat profil driver bernama Kevin Wijaya. Wajah Viola memerah.
"Driver aneh... tapi, kok keren sih?" gumamnya pelan.
Sementara itu, di dasbor ponsel Kevin, sebuah notifikasi muncul.
[Orderan 1 Selesai. Rating: Bintang 5!]
[Kepuasan Penumpang Terdeteksi Tinggi. Bonus Tersembunyi: Viola mulai tertarik pada Anda. Score Harem +1.]
Kevin yang sedang melaju langsung tersedak ludahnya sendiri.
"Hah? Score Harem? Sistem, lu jangan bercanda ya! Gue cuma mau dapet Ruko di Margonda!"
Matahari makin meninggi di atas jalur maut Margonda, tapi semangat Kevin justru makin membara.
Setelah mendapatkan bintang lima pertamanya dari Viola, rasa percaya diri mantan beban keluarga ini melonjak drastis.
Ding!
[Misi Progres: 1/100 Orderan Selesai.]
[Pengingat Sistem: Pengguna masih harus menggagalkan 3 tindakan kriminalitas lokal di jalanan Depok untuk mengklaim Ruko Margonda.]
"Tiga kriminalitas, ya? Di Depok mah nyari ginian gak perlu nunggu tengah malem,"
gumam Kevin sambil memutar balik NMAX-nya di dekat lampu merah Ramanda.
Baru saja Kevin berniat memarkirkan motornya di dekat stasiun untuk mendinginkan mesin walaupun mesin teknologi dewa ini sebenarnya tidak bisa panas ponselnya kembali bergetar hebat.
Kali ini bukan aplikasi ojol biasa yang berbunyi, melainkan radar merah khusus dari Sistem.
Tet! Tet! Tet!
[Peringatan Bahaya Kriminalitas Terdeteksi!]
[Jenis Kejadian: Penjambretan bermotor.]
[Jarak: 400 meter dari posisi Pengguna, tepat di gang sepi belakang Mall Margo City.]
[Target Korban: Perempuan. Ditaksir mengalami kerugian materi dan trauma psikis.]
"Nah, ini dia! Pucuk dicinta, penjahat pun tiba!"
Kevin langsung memutar tuas gasnya dalam-dalam.
BRRRMM!
NMAX hitam itu melesat memotong jalur angkot nomor 03 yang sedang ngetem sembarangan, membuat sang sopir angkot mengumpat kasar.
Namun Kevin sudah tidak peduli. Berkat Kemampuan Refleks Dewa Berkendara, dia bisa membaca pergerakan lalu lintas seolah-olah semuanya berjalan dalam mode slow motion.
Hanya butuh waktu kurang dari tiga puluh detik bagi Kevin untuk sampai di lokasi yang ditunjukkan radar Sistem.
Sebuah gang yang agak rimbun dengan pohon-pohon besar, jalanan sepi yang sering dijadikan jalan pintas oleh pejalan kaki.
Di sana, pemandangan menegangkan sedang berlangsung.
Seorang gadis dengan pakaian kasual kaos putih polos dan celana jins sedang mempertahankan tas selempangnya dari tarikan dua orang pria berjaket kulit kumal yang mengendarai motor pretelan tanpa plat nomor.
"Lepasin! Tolong! Jambret!"
teriak gadis itu histeris. Suaranya terdengar tidak asing di telinga Kevin.
"Diem lu, Neng! Lepasin gak, atau gue bolongin muka lu!"
ancam pria yang dibonceng sambil mengacungkan sebilah pisau dapur yang berkilat di bawah sinar matahari.
"Nabila?!" Kevin terkejut saat mengenali wajah gadis itu.
Ternyata korban jambret tersebut adalah Nabila, anak pemilik warkop langganannya yang tadi pagi sempat menghiburnya!
Melihat pisau itu hampir mengenai lengan Nabila, darah Kevin langsung mendidih.
Dia tidak butuh instruksi dari Sistem lagi. Rasa setiakawan dan amarah lakilakinya langsung meledak.
"Woy, Curut! Beraninya berdua lawan cewek!" teriak Kevin menggelegar.
Sebelum kedua jambret itu sempat menoleh penuh, Kevin mengeksploitasi kecepatan NMAX-nya.
Dia tidak mengerem, melainkan melakukan teknik sliding ekstrem.
Ban belakang motornya menyapu permukaan jalan, menciptakan suara decitan dramatis, dan dengan presisi dewa, bodi samping NMAX-nya menghantam roda depan motor penjambret hingga mereka berdua terjungkal dramatis ke aspal.
BRAKK!
"Agh! Bangsat! Siapa lu?!"
umpat si joki jambret yang lengannya langsung lecet-lecet.
Kevin turun dari motor dengan gerakan tenang, melepaskan helm inkognito miliknya, lalu menatap kedua bandit itu dengan pandangan dingin.
Nabila yang terduduk di tanah dengan napas terengah-engah langsung melebarkan matanya.
"Kak... Kak Kevin?! Kok Kakak ada di sini?"
"Nanti jelasinnya, Nab. Kamu mundur dulu ke belakang motor Mas,"
ujar Kevin, mendadak mengganti panggilannya menjadi 'Mas' agar terdengar lebih protektif.
Efeknya instan, pipi Nabila yang tadinya pucat karena takut, mendadak merona merah muda.
Si jambret yang memegang pisau bangkit berdiri dengan geram.
"Ojol belagu! Nyari mati lu ya!"
Dia langsung menerjang Kevin, mengayunkan pisaunya secara membabi buta ke arah dada Kevin.
Jika itu Kevin yang dua hari lalu, dia pasti sudah lari terbirit-birit sambil menangis memanggil ibunya.
Tapi sekarang, di dalam darahnya mengalir Refleks Dewa. Di mata Kevin, gerakan tikaman pisau itu lambat sekali, mirip siput yang sedang berjalan.
Kevin hanya menggeser tubuhnya sedikit ke kanan. Pisau itu lewat di samping rusuknya tanpa menyentuh selembar benang pun dari jaket ojolnya.
Sebelum si jambret sempat menarik kembali tangannya, Kevin menangkap pergelangan tangan pria itu, memutarnya ke belakang dengan teknik kuncian instan yang tiba-tiba saja dikuasai otaknya berkat sinkronisasi Sistem.
KRETEK!
"AAAARRGH! Tangan gue patah!" jerit si jambret kesakitan. pisaunya terjatuh bebas ke aspal.
Melihat temannya dilumpuhkan dalam satu detik, si joki jambret yang masih terduduk langsung gemetar.
Dia mencoba menyalakan kembali motor pretelannya yang ambruk.
Namun, Kevin bergerak lebih cepat.
Dengan satu tendangan melingkar yang bertenaga, Kevin menghantam bagian samping helm si joki hingga pria itu pingsan seketika di tempat.
Gang sepi itu mendadak hening, hanya menyisakan suara erangan pelan dari jambret yang tangannya terkunci.
Ding!
[Kriminalitas 1/3 Berhasil Digagalkan!]
[Bonus Poin Aksi: Gaya bertarung Pengguna dinilai sangat efisien dan estetik. Reputasi Anda di mata Nabila meningkat drastis!]
Kevin menghela napas, melepas kunciannya lalu menginjak pisau di tanah agar tidak bisa dijangkau lagi.
Dia berbalik ke arah Nabila, lalu mengulurkan tangannya yang kekar dengan senyuman hangat khas cowok warkop yang ramah.
"Kamu gak apa-apa, Nab? Ada yang luka?" tanya Kevin lembut.
Nabila menatap uluran tangan Kevin dengan jantung yang berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya.
Di matanya, Kevin yang biasanya lemes dan malas-malasan di warkop, hari ini terlihat seperti pahlawan super yang keluar dari komik aksi.
"G-Gak apa-apa, Kak. Cuma gemeteran aja," bisik Nabila malu-malu,
sambil menyambut uluran tangan Kevin untuk berdiri. Begitu kulit mereka bersentuhan, Nabila merasa ada sengatan listrik aneh yang membuatnya enggan melepaskan genggaman itu.
"Untung ada Kak Kevin... Tapi, Kak Kevin sejak kapan jago berantem begini? Terus... motor gede ini punya siapa?"
tanya Nabila bertubi-tubi, matanya penuh rasa ingin tahu yang besar.
Kevin menepuk dahinya pelan dalam hati. Waduh, urusan repot nih.
Kalau gue bilang ini dari Sistem, bisa-bisa gue dibawa ke RSJ atau dituduh pesugihan babi ngepet sama warga RT sebelah!
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!