"Rachel, besok Julian akan datang. Dua hari lagi, Julian harus ke Norwegia untuk proyek barunya dan Mommy harap kamu bisa menemui Julian," ucap Mommy Viona.
"Mom, Rachel udah bilang kan kalau Rachel nggak mau dijodohin sama Julian, dia itu playboy. Dia sering masuk klub dan gonta ganti cewek," ucap Rachel.
"Julian sudah berubah Rachel," ucap Mommy Viona.
"Darimana Mommy tahu kalau dia sudah berubah? Dua hari lalu, Rachel lihat dengan dia di salah satu hotel dan dia sedang pelukan sama wanita lain, wanitanya nggak sama kayak biasanya, Ma," ucap Rachel.
"Pokoknya Mommy nggak mau tahu ya, kamu harus menikah dengan Julian," ucap Mommy Viona.
"Rachel tetap nggak mau, Rachel nggak mau menikah kalau bukan dengan pria pilihan Rachel sendiri," ucap Rachel.
"Rachel, kamu ini ya," ucap Mommy Viona kesal dengan anaknya yang begitu keras kepala.
"Mom, Rachel belum ingin menikah karena Rachel nggak mau pernikahan Rachel kayak Mommy dan Daddy," ucap Rachel
"Rachel!" peringat Mommy Viona.
Suasana meja makan yang mewah itu mendadak terasa mencekik, Rachel meletakkan sendoknya. Bagi orang luar, hidup Rachel adalah definisi kesempurnaan. Di usia 27 tahun, ia memiliki segalanya, jabatan tinggi di perusahaan kosmetik milik keluarganya, apartemen mewah di pusat kota dan lemari yang dipenuhi barang dari desainer ternama dan bermerek.
Namun, di balik semua itu, Rachel merasa seperti burung dalam sangkar emas. Sejak perceraian orang tuanya dua belas tahun lalu, Mommy Viona berubah menjadi sosok yang mengontrol penuh hidup Rachel. Baginya, Rachel bukan sekadar anak, melainkan aset yang harus dipastikan keamanannya, termasuk soal pasangan hidup.
"Aku bukan Mommy, yang bisa mengganti cinta secepat mengganti pakaian," ucap Rachel.
"Rachel, jangan bilang seperti itu," ucap pria paruh baya yang berada di samping Mommy Viona.
"Kenapa? Anda merasa tersindir?" tanya Rachel.
"Jaga bicaramu, bagaimanapun saat ini dia adalah Ayahmu, Rachel!" peringat Mommy Viona.
Rachel menatap pria di samping ibunya, pria yang dua tahun lalu masuk ke rumah mereka dan menggantikan posisi sang Ayah. Bagi Rachel, kehadiran pria itu hanya menambah daftar panjang alasan mengapa rumah mewah ini terasa seperti gudang.
"Rachel hanya punya satu Ayah yaitu Daddy dan dia tidak sedang duduk di meja ini," ucap Rachel dingin.
"Rachel, mau suka atau tidak suka. Saat ini, Papa Paul adalah Ayah kamu," ucap Mommy Viona.
"Mommy! Mau suka atau tidak suka. Sampai kapanpun, Rachel hanya punya satu Ayah dan dia adalah Daddy Brian," ucap Rachel.
Rachel berdiri dan melangkah menjauh, suara hak sepatunya menggema di lantai marmer yang luas. Rachel masuk ke dalam kamarnya yang serba putih, sebuah ruangan yang lebih mirip showroom majalah interior daripada kamar.
Rachel duduk di pinggir ranjang dan menatap pantulan dirinya di cermin besar, gaun sutra yang ia kenakan harganya setara dengan gaji tahunan rata-rata buruh, namun Rachel merasa seolah kain itu mencekik napasnya.
Sudah dua belas tahun sejak Ayahnya pergi setelah pertengkaran hebat yang mengakhiri pernikahan orang tuanya dan sejak saat itu, Ibunya membangun dinding tinggi di sekeliling Rachel.
Mommy Viona mengatur hidup Rachel, mulai dari pendidikan, teman, hingga gaya hidupnya. Semuanya diatur oleh tangan dingin Mommy Viona, hingga membuat Rachel tumbuh menjadi wanita yang cantik, pintar, elegan dan bermartabat.
.
Keesokan harinya, sinar matahari pagi menembus jendela kaca besar di kantor pusat Trinity Beauty. Rachel melangkah masuk dengan anggun, setelan blazer berwarna nude yang pas di badannya serta sepatu stiletto senada membuat setiap pasang mata di lobi tertuju padanya. Rachel bukan sekadar anak pemilik perusahaan, ia adalah otak di balik peluncuran seri eternal glow yang hari ini resmi menguasai pasar.
Ruang rapat utama sudah dipenuhi oleh jajaran direksi dan tim pemasaran. Saat Rachel masuk, tepuk tangan meriah langsung membahana.
"Luar biasa, Rachel! Penjualan pre-order semalam memecahkan rekor perusahaan dalam sepuluh tahun terakhir," ujar Pak Angga, salah satu direktur senior, dengan wajah sumringah.
"Strategi kampanye digital yang kamu rancang benar-benar tepat sasaran, kamu memang memiliki sentuhan emas seperti ibumu," ucap Bu Gita.
Rachel hanya tersenyum tipis, senyum yang sudah ia latih bertahun-tahun. "Terima kasih, Pak Angga. Ini kerja keras tim," ucap Rachel.
"Jangan rendah hati, sayang," ucap Mommy Viona yang duduk di kursi utama dan menatap putrinya dengan binar bangga dan sombong.
"Majalah business style baru saja menelepon, mereka ingin menjadikanmu sampul depan untuk majalah mereka bulan depan dengan judul the next beauty tycoon. Rachel, saat ini kamu adalah standar perempuan yang diinginkan setiap perempuan di negara ini," lanjut Mommy Viona
Pujian terus mengalir tanpa henti, bahkan saat jam makan siang, di mana Rachel harus menghadiri launching event di pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta, para influencer dan selebritas berebut untuk berfoto dengannya.
"Rachel, kulitmu benar-benar representasi produkmu sendiri! Flawless!" puji seorang model papan atas sambil mencium pipi kanan dan kiri Rachel.
"Bagaimana rasanya menjadi wanita yang memiliki segalanya? Cantik, kaya, cerdas dan karier yang cemerlang di usia muda?" tanya seorang jurnalis mode dengan nada iri yang halus.
Rachel menjawab semua pertanyaan itu dengan diksi yang sempurna, tenang dan tanpa cela. Namun, di dalam kepalanya, suara-suara itu terdengar seperti dengung lebah yang mengganggu. Setiap kali mereka menyebut kata sempurna, Rachel merasa beban di bahunya semakin berat. Baginya, kesempurnaan ini hanyalah kostum yang dipakaikan Ibunya setiap hari.
Sore harinya, Rachel kembali ke kantor pusat untuk mengambil beberapa berkas yang tertinggal dan keadaan kantor sudah mulai sepi. Saat melewati lorong ruang kerja Mommy Viona, langkah Rachel terhenti, ia melihat ruangan Mommy Viona yang pintu ruangannya sedikit terbuka dan terdengar sekretaris pribadi ibunya yaitu Dania.
"Jadi, Brian sekarang berada di Vietnam?" tanya Mommy Viona.
"Iya, Nyonya. Sepertinya kita tidak perlu khawatir jika Tuan Brian bertemu dengan Nona Rachel, karena kehidupannya sangat menyedihkan, Tuan membuka kedai makanan di sana, lebih tepatnya di daerah pinggiran kota yang kumuh," ucap Dania.
"Besok Julian akan pergi ke Norwegia selama satu minggu dan setelah Julian pulang, Rachel harus segera menikah dengan Julian, pokoknya Rachel tidak boleh bertemu dengan Ayahnya. Ternyata Brian pintar juga saat aku menyuruhnya untuk pergi ke luar negeri dan dia benar-benar pergi," ucap Mommy Viona.
"Dania," panggil Mommy Viona.
"Ya, Nyonya?" jawab Dania.
"Pastikan Brian tetap di sana, jangan sampai dia mencoba menghubungi Rachel atau kembali ke sini. Aku tidak ingin Rachel tahu kalau Ayahnya hidup menyedihkan di pinggiran kota kecil di sana, karena itu tu akan merusak citra yang sudah kubangun untuknya," ucap Mommy Viona dengan suara yang terdengar dingin dan tegas.
.
.
.
Bersambung.....
"Baik, Nyonya. Nona Rachel tidak mungkin menemukannya karena lokasinya di distrik pinggiran dekat pelabuhan dan sangat terpencil," jawab Dania.
Genggaman tangan Rachel pada tasnya mengerat hingga kuku-kuku jarinya memutih. 'Vietnam? Distrik pinggiran? Jadi, Mama sengaja menyembunyikan keberadaan Daddy dariku, biar aku nggak bisa ketemu Daddy,' batin Rachel.
Rasa muak yang selama ini ia pendam meluap seketika, kesempurnaan yang ia pamerkan di depan kamera tadi siang terasa seperti lelucon besar. Tanpa suara, Rachel berbalik arah dan tidak jadi mengambil berkasnya, ia berjalan menuju parkiran dengan langkah cepat.
Di dalam lift menuju parkiran, jantung Rachel berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena adrenalin yang sudah bertahun-tahun padam kini menyala kembali. Selama ini ia adalah boneka pajangan di etalase toko yang mahal, namun malam ini, ia memutuskan untuk keluar dari bingkai kaca itu.
Rachel tidak pulang ke rumah Mommy Viona, ia justru pulang ke apartemennya. Rachel menarik kopernya dari dalam walk-in closet dan membukanya kasar di atas ranjang king size.
"Vietnam... distrik pinggiran pelabuhan," gumam Rachel dan tangannya gemetar saat mencari paspor di laci nakas.
Rachel menatap deretan pakaian di lemarinya, semuanya adalah pakaian pilihan Mommy Viona. Di mana, tidak ada satu pun kaus atau celana santai disana dan tanpa pikir panjang, Rachel menyambar beberapa potong dress dan blouse serta rok yang ia punya dan membawa heels dan sepatu yang ia punya.
Rachel segera membuka laptop dan mencari informasi tentang distrik pinggiran dekat pelabuhan di Vietnam, lalu Rachel memesan tiket penerbangan paling pagi menuju kota Ho Chi Minh dan menyambungnya dengan penerbangan domestik ke arah pesisir, ia meninggalkan surat singkat di meja makan apartemennya, hanya untuk memastikan Mommy Viona tidak melaporkan penculikan ke polisi.
^^^*Aku butuh waktu sendiri, jangan cari aku.^^^
Surat itu diletakkan tepat di bawah vas bunga lili putih yang segar, Rachel tidak membawa banyak barang, ia hanya satu koper dan tas tangan yang berisi dokumen penting yang mungkin saja dibutuhkan nantinya karena i tahu, jika kartu kreditnya pasti akan diblokir oleh Mommy Viona saat tahu tentang kepergiannya.
Benar saja, belum lama setelah kepergian yang Rachel, Mommy Viona sudah curiga, karena Rachel tidak bisa dihubungi.
Mommy Viona yang curiga pun langsung datang ke apartemen Rachel dan menemukan surat dari Rachel, tentu saja Mommy Viona marah dan segera menyuruh Dania untuk mencari tahu keberadaan Rachel secepatnya.
Dania bergerak cepat, sebagai sekretaris yang telah bertahun-tahun menangani sisi gelap bisnis Mommy Viona, melacak transaksi terakhir Rachel bukanlah hal sulit. Hanya dalam waktu dua jam, Dania berhasil mendapatkan informasi tentang kepergian Rachel.
"Nona Rachel membeli tiket ke Vietnam, Nyonya. Penerbangan paling pagi dan dia baru saja melakukan penarikan tunai dalam jumlah maksimal di bandara sebelum pergi," lapor Dania dengan suara bergetar.
Wajah Mommy Viona memucat lalu berubah menjadi merah padam, amarahnya meledak dan menyapu vas bunga lili di atas mejanya hingga hancur berkeping-keping.
"Sial! Dia mendengar percakapan kita!" teriak Mommy Viona.
Mommy Viona segera meraih ponselnya dan menghubungi satu nomor yang sudah dua belas tahun tidak pernah ia hubungi, nomor yang ia harap sudah mati bersama masa lalunya. Dengan tangan gemetar, ia menekan tombol panggil.
Di sisi lain, di sebuah kedai kecil yang pengap oleh uap kaldu sapi di pinggiran pelabuhan Vietnam, seorang pria paruh baya dengan kaos dalam putih yang sudah menguning sedang mengelap meja kayu dan bunyi dering ponsel usang di saku celananya membuatnya terhenti.
^^^Halo?^^^
Brian, ini aku. Rachel menuju ke tempatmu, dia kabur, jangan biarkan dia tinggal di sana! Hidupmu susah, Brian! Jangan bawa putriku ke dalam lubang kemiskinanmu!
^^^Rachel... ke sini? Bagaimana mungkin? Viona, kau tahu tempat ini bukan untuknya, di sini bahkan sering terjadi keributan...^^^
Aku tidak peduli! Pokoknya, kalau dia sampai di sana, pastikan dia merasa tidak betah dan ingin pulang! Aku akan mengirim orang untuk menjemputnya dalam tiga hari dan sampai saat itu, jaga dia!
Viona pun memutus sambungan telepon secara sepihak, kemudian Daddy Brian terduduk lemas di kursi plastik dan di belakangnya. Seorang wanita yang cantik namun tampak lelah mendekat sambil menggendong balita berusia 2 tahun, sementara bocah laki-laki berusia 5 tahun berlari-lari di antara meja kedai yang sempit.
Wanita itu adalah Anna, istri dari Brian. Mereka menikah lalu memutuskan untuk pindah ke Vietnam.
"Ada apa, Mas?" tanya Anna.
"Anakku... anakku dari Jakarta akan datang," bisik Daddy Brian cemas.
Daddy Brian menatap sekeliling kedainya yang hanya beratap seng dan dinding triplek, 'Bagaimana mungkin Rachel datang?' batin Daddy Brian.
Daddy Brian memandang sekeliling kedainya yang mulai dipenuhi buruh pelabuhan yang kelaparan, asap dari tungku besar mengepul, aroma kaldu sapi bercampur dengan bau amis garam dari dermaga.
Daddy Brian melirik jam dinding tua yang berkarat, pesawat Rachel pasti sudah mendarat di bandara utama dan sebentar lagi gadis itu akan menempuh perjalanan darat menuju distrik pelabuhan.
"Sayang, tolong jaga anak-anak dan awasi kompor sebentar. Aku harus memastikan seseorang menjemput Rachel, aku tidak bisa meninggalkan kedai sekarang, karena pesanan sedang membludak," ucap Daddy Brian dan diangguki Anna.
Daddy Brian merogoh saku celananya dan menghubungi kenalannya yang biasanya membantunya, saat ini Daddy Brian tidak punya pilihan lain dan hanya bisa meminta bantuannya. Di lingkungan keras seperti ini, ia butuh seseorang untuk memastikan putrinya tidak tersesat atau diganggu preman.
^^^Halo, Daniel? Kamu di mana?^^^
Di bengkel, Om. Kenapa? Motor Om rusak lagi?
^^^Bukan, Om minta tolong jemput putri Om di bandara. Namanya Rachel, tolong bawa dia langsung ke kedai, jangan biarkan dia keluyuran sendirian, keadaan distrik sedang panas sejak penggerebekan semalam.^^^
Putri Om yang dari Jakarta itu? Yang fotonya sering Om pandangi sambil nangis?
^^^Iya, El. Bisa kan?^^^
Oke, ciri-cirinya?
^^^Kamu akan langsung tahu, El. Dia terlihat seperti malaikat yang salah mendarat di neraka.^^^
Oke.
Sementara itu, pesawat kecil yang membawa Rachel mendarat di bandara domestik yang jauh dari kata mewah. Saat pintu keluar terbuka, hawa panas yang lembap dan bau garam laut langsung menyergap indra penciumannya sampai membuat Rachel terbatuk dan menutup hidungnya dengan syal sutranya.
Koper mewahnya tampak sangat kontras di atas lantai bandara yang retak-retak, Rachel mengedarkan pandangan dan mencari papan nama bertuliskan namanya atau sosok Ayah yang ia ingat sangat gagah. Namun, yang ia lihat hanyalah kerumunan orang yang saling berteriak dalam bahasa yang tidak ia mengerti.
"Gimana sih Rachel, ya jelas Daddy nggak ada. Kan Daddy nggak tahu kalau aku disini," gumam Rachel.
.
.
.
Bersambung.....
"Taksi?" tanya Rachel pada seorang pria, namun pria itu hanya menggeleng.
Rachel mulai merasa panik, ponselnya tidak mendapatkan sinyal yang bagus dan baterainya mulai menipis, ia menyeret kopernya menuju pintu keluar dan berniat mencari kendaraan apa pun yang bisa membawanya ke distrik pelabuhan.
Meskipun Rachel tidak tahu alamat Ayahnya, tapi selama Rachel sampai di distrik pelabuhan. Maka, ia bisa bertemu dengan Ayahnya, itulah yang Rachel pikirkan.
Rachel berdiri di depan pintu keluar bandara yang lebih mirip terminal bus antarkota itu dan peluh mulai membasahi pelipisnya. Untung saja Rachel hanya memakai bedak tipis, ia tidak bisa membayangkan jika ia menggunakan makeup kesini.
Bau bensin, ikan asin dan debu jalanan menyerang indra penciumannya yang biasa dimanjakan oleh aroma diffuser lavender.
"Taksi?" Rachel mencoba bertanya lagi pada kerumunan pria yang bersandar di motor-motor butut, namun mereka hanya menatapnya dengan pandangan lapar seolah melihat sebongkah emas yang berjalan.
Rachel merapatkan tas mahalnya ke dada dan untuk pertama kalinya dalam 27 tahun, ia merasa sangat takut dan tidak berdaya.
"Daddy, aku harus cari ke mana ini?" bisiknya parau.
"Rachel?" Sebuah suara berat dan serak memanggil namanya.
Rachel refleks menoleh dan jantungnya berdegup kencang berharap itu adalah Ayahnya. Namun, sosok yang berdiri menjulang tinggi di belakangnya bukanlah Ayahnya yang ia ingat.
Pria itu tinggi, jauh lebih tinggi dari pria lokal di sana dan pria itu tampak berbahaya. Di mana pria itu mengenakan hoodie hitam yang tudungnya disampirkan ke belakang, lengan yang disingsingkan hingga ke siku dan memperlihatkan guratan otot lengan yang kuat dan beberapa bekas luka kecil lalu celana jeans birunya sobek di bagian lutut.
Yang paling mengejutkan adalah di wajahnya terdapat lebam keunguan di sudut bibir dan plester yang melintang di tulang pipinya, matanya tajam, dingin dan terlihat tidak bersahabat. Bahkan, tatapannya yang tajam membuat Rachel takut untuk sekadar menatapnya.
Rachel mundur satu langkah, pegangannya pada kopernya mengerat hingga kuku jarinya memutih. Pria di hadapannya ini tampak seperti baru saja keluar dari arena perkelahian, aroma maskulin yang bercampur bau oli dan sisa rokok samar-samar tercium darinya, sangat kontras dengan wangi parfum mahal para kolega bisnisnya.
"Si-siapa kamu?" suara Rachel bergetar, meski ia berusaha tetap tegar.
Pria itu tidak langsung menjawab, ia justru memperhatikan Rachel dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapannya berhenti sejenak pada sepatu stiletto nude yang kini mulai berdebu dan tas tangan seharga satu unit mobil yang dipeluk Rachel, pria itu mendengus kecil seolah menertawakan betapa salah tempatnya Rachel.
"Ayahmu menyuruhku menjemputmu," ucap pria bernama Daniel itu.
"Daddy yang menyuruhmu?" tanya Rachel.
"Hem," jawab Daniel lalu tanpa basa basi, ia mengambil koper Rachel dan memasukkannya kedalam mobil modifikasinya.
Rachel tertegun sejenak melihat koper mahalnya dilempar begitu saja ke bagasi mobil jeep tua yang catnya sudah mengelupas di sana-sini. Mobil itu tampak seperti rongsokan, sangat kontras dengan sedan mewah yang biasa menjemputnya di lobi kantor.
"Tunggu! Pelan-pelan, itu isinya barang, nanti bisa pecah!" seru Rachel panik dan melangkah maju dengan sepatu stiletto-nya yang tersangkut di celah semen bandara.
Daniel tidak peduli, ia membanting pintu bagasi hingga menimbulkan bunyi dentuman besi yang memekakkan telinga, Daniel berbalik dan menatap Rachel dengan satu alis terangkat.
"Di sini, kemewahan adalah hal yang tidak berguna, cepat masuk," ucap Daniel singkat sambil mengisyaratkan jempolnya ke kursi penumpang.
"Kamu... kamu benar-benar kenal sama Daddy? Siapa namamu? Bagaimana aku bisa percaya kalau kamu bukan penculik?" tanya Rachel.
Daniel menghela napas panjang, seolah menghadapi anak kecil yang rewel. Ia merogoh saku hoodie-nya dan menunjukkan layar ponselnya yang retak, di mana Daniel menunjukkan fotonya dan juga Brian.
Rachel menatap layar ponsel yang retak itu. Di sana, Brian tampak jauh lebih tua, rambutnya yang dulu klimis kini beruban dan kulitnya terbakar matahari. Namun, senyum tulus itu tidak berubah, ia juga terlihat merangkul bahu Daniel.
"Sudah percaya? Cepat masuk, aku tidak punya waktu seharian untuk menunggumu," perintah Daniel dan suaranya berhasil memecah lamunan Rachel.
Rachel menelan ludah dan berusaha menjaga martabatnya meski jemarinya gemetar saat membuka pintu jeep yang terasa panas dan berderit. Aroma di dalam mobil itu adalah campuran antara bensin, kopi dan wangi maskulin yang tajam dari pria di sampingnya.
Begitu Rachel duduk, Daniel langsung menginjak gas tanpa peringatan dan membuat kepala Rachel tersentak ke sandaran kursi yang keras.
"Pelan-pelan! Kamu bisa membuatku gegar otak!" protes Rachel sambil mencengkeram sabuk pengaman yang tampak sudah usang.
Daniel tidak menoleh, ia memutar kemudi dengan satu tangan. Sementara tangan lainnya bersandar di jendela yang terbuka, "Jalanan di sini tidak semulus di Jakarta, Tuan Putri. Kalau mau pelan, silakan jalan kaki, mungkin besok pagi kau baru sampai, itu pun kalau kau tidak dirampok di tengah jalan," ucap Daniel.
Rachel bungkam dan menatap ke luar jendela, melihat pemandangan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Bukan gedung pencakar langit atau deretan pusat perbelanjaan mewah, melainkan rumah-rumah semi permanen, tumpukan ban bekas dan kabel listrik yang semrawut bergelantungan di atas kepala.
Perjalanan terasa sangat panjang, debu jalanan masuk melalui jendela, mengotori blazer nude milik Rachel yang harganya puluhan juta. Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, mobil itu mulai memasuki kawasan yang lebih padat dan kumuh, bau amis laut semakin menyengat dan bercampur dengan aroma gorengan dan bumbu rempah yang kuat.
Daniel menghentikan mobilnya di depan sebuah bangunan sederhana dengan atap seng yang sebagian sudah berkarat. Di depannya, terdapat papan kayu kusam bertuliskan nama yang membuat jantung Rachel seolah berhenti berdetak, 'Kedai Brian'.
"Sudah sampai, turun," perintah Daniel.
Rachel turun dengan kaki yang terasa lemas, matanya langsung tertuju pada sosok pria paruh baya yang sedang menuangkan kuah kaldu ke dalam mangkuk besar di balik etalase kaca yang buram oleh uap, pria itu memakai kaus dalam putih dan handuk kecil yang dikalungkan di leher.
Daddy Brian menoleh, sendok besar di tangannya hampir terlepas saat matanya menangkap sosok wanita yang berdiri mematung di depan kedainya. Rachel terlihat seperti sebuah lukisan mahal yang salah diletakkan di gudang berdebu, kulitnya yang putih bersih tampak kontras dengan dinding kedai yang menghitam karena asap.
"Rachel?" panggil Daddy Brian pelan, bahkan nyaris tidak terdengar karena tenggelam oleh suara bising klakson motor yang melintas.
"Daddy," gumam Rachel, tenggorokannya tercekat.
Rachel ingin berlari memeluk Ayahnya, namun kakinya terasa kaku. Pria di depannya ini terlihat begitu lelah, begitu berbeda dari sosok pahlawan yang ada di ingatannya.
Daddy Brian segera mengelap tangannya yang basah pada kain kumal, ia melangkah keluar dari balik etalase. Namun, langkahnya terhenti beberapa meter dari Rachel, ia mendadak sadar akan penampilannya, kaus dalam yang menguning oleh keringat dan bau kaldu yang melekat kuat di tubuhnya. Ada kecanggungan yang membentang luas di antara mereka, tembok dua belas tahun yang dibangun oleh jarak dan kemewahan.
.
.
.
Bersambung.....
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!