Rania menghela nafas panjang melihat keadaan rumah yang berantakan padahal banyak orang di dalam rumah.
"Assalamu'alaikum". Ucapnya saat masuk kedalam rumah.
Matanya menyapu segala isi yang berada didalam rumah tempat yang harusnya menjadi tempat dia pulang dan beristirahat.
"Sudah pulang, cepat masuk kedalam memasak dan beberes rumah, adik ipar mulai lapar". Ucap sang mertua dengan santai tanpa peduli dengan wajah tak enak darinya.
"Saya baru pulang kerja bu, apa kalian tidak punya sedikit rasa peduli? ". Cicitnya tidak suka.
Mertuanya bernama Ningsih itu hanya menatapnya dengan acuh dan tidak peduli.
"Itu kewajiban menantu dirumah ini, tidak perlu banyak bicara".
Rania mengepalkan tangannya, sejujurnya dia tidak terima dihina seperti itu oleh mertuanya tapi karena rasa cinta dan pengabdiannya kepada suaminya, dia hanya bisa menelannya dengan mentah tanpa bisa protes
"Saya baru pulang bekerja bu, kalian semua ada dirumah tapi tak satupun mengurus rumah ini, rumah ini ditinggali bersama jadi sudah kewajiban semua orang membersihkannya". Ucapnya dengan tubuh bergetar menahan amarah
"Sudahlah jangan banyak bicara, lakukan saja kewajibanmu, lagian kan kamu tinggal menumpang dirumah putraku, wajar dong kalau semua pekerjaan rumah kamu yang handle".
"Tapi saya bekerja dan menghasilkan uang dan uang itu dipakai oleh keluarga juga". Jawabnya tidak Terima.
Harga dirinya terasa terinjak-injak padahal dirinya lah yang pemilik rumah sedangkan suaminya dan keluarganya lah yang menumpang.
"Dasar mantu kurang ajar, itu memang sudah seharusnya, uangmu itu sudah jadi milik keluarga kami karena kamu sudah menikah dengan putraku dan kamu tinggal menumpang dirumah putraku, jadi jangan banyak omong". Bentaknya dengan suara menggelegar.
Rania menunduk dan mengepalkan tangannya, matanya memerah karena amarah, sudah tiga tahun ini rumah yang harusnya menjadi surga-Nya menjadi neraka untuknya saat suaminya membawa keluarganya tinggal dirumahnya dengan dalih ibu dan ayahnya sudah tua
Dia tidak mengatakan apapun tapi berjalan meninggalkan mertuanya karena tidak ingin kurang ajar hingga membentak orang tua suaminya itu.
"Kurang ajar".
Plak..
Suara tamparan menggema diruangan itu membuat Rania tersungkur sedangkan sang suami bernama Ardi itu membelalak melihat istrinya ditampar oleh ibunya.
"Apa yang terjadi disini? ". Tanyanya segera mendekat kearah mereka.
Dia menelan salivanya melihat amarah berkobar dimata ibu dan istrinya, tapi dia lebih takut jika istrinya mengeluarkan sesuatu yang akan dia sesali seumur hidupnya.
"Ibu apa-apaan sih, kenapa ibu menampar Rania seperti itu?". Tanyanya dengan kesal.
Dia segera menolong istrinya agar istrinya berpikir dia masih berada di pihaknya.
"Istrimu ini kurang ajar, ibu belum selesai bicara dia langsung menyelondong masuk dan tidak punya tata krama, orangtuanya tidak pernah mengajarkan kamu sopan santun yah". Bentaknya dengan suara menggelegar.
Amarah semakin berkobar dimata Rania, dia menatap sang suami dengan penuh intimidasi seakan menguliti lelaki itu hidup-hidup.
"Ran kamu apa-apaan sih, ngapain kamu lawan ibu? , ibu itu ibu kandungku jangan kurang ajar padanya".
Alih-alih membela sang istri, Ardi malah melempar kesalahan itu kepada istrinya karena ucapan ibunya.
"Aku tidak kurang ajar". Desisnya pelan penuh penekanan
Matanya memerah menahan tangis dan juga amarah yang mulai meluap.
"Sekarang bawah ibu dan adikmu keluar dari rumahku sekarang juga mas, aku sudah tidak bisa mentolerir perbuatan mereka padaku hari ini, sudah cukup mereka selalu menginjak-injak harga diriku di rumahku sendiri". Jawabnya penuh amarah.
Dia bangkit kemudian mendekati suaminya yang kini berdiri kaku dan wajah yang memucat karena perkataannya barusan. Bisa hancur semua kebohongan yang dia katakan pada keluarganya selama ini.
"Jangan kurang ajar pada keluargaku Rania, mereka itu keluargamu juga". Bentaknya berusaha mempertahankan egonya walau dia tahu itu akan membuat Rania semakin marah kepadanya
"Aku tidak kurang ajar Ardi". Jawabnya dengan dingin.
Ardi terkesiap, matanya membelalak menatap istrinya dengan tatapan tidak percaya, jika istrinya memanggil namanya seperti itu artinya dia sangat marah dan serius.
"Aku berusaha diam saja ketika keluargamu menghinaku, aku diam saja ketika mereka semua mengatai aku menumpang tidak tahu diri, aku diam saja pada perlakuan mereka semua nya padaku karena aku menghargai mu sebagai suamiku tapi aku sudah tidak tahan jadi sekarang bawa mereka semua keluar dari rumahku, Ardi Santoso". Teriak Rania dengan nafas memburu
Urat-urat pada lehernya menyembul dan nafasnya memburu seketika, bayangan bagaimana perbuatan keluarga suaminya selama ini menari-nari dibenaknya.
Dia bahkan mendorong keras suaminya sehingga suaminya itu tersungkur dengan mata ketakutan.
Dia tidak menyangka istri yang selama ini penurut dan sangat mencintainya bisa melakukan ini padanya, tapi egonya semakin besar, dia tidak akan membiarkan Rania menginjak-injak harga dirinya sebagai suami.
"Kurang ajar, berani kamu pada putraku, dasar menantu sialan". Bentaknya hendak melayangkan tamparan kepada menantunya tapi tangannya langsung dicekal dan di cengkram kuat oleh Rania.
"Jangan membuat kesabaranku habis bu, jangan buat aku kurang ajar pada orang tua". Desisnya penuh amarah dan dingin.
Matanya tajam menatap sang mertua seakan ingin memakannya hidup-hidup.
Dia menghempaskan tangan mertuanya sehingga terhuyung dan beruntung ditangkap naik oleh Ardi
"Ada apa ini? ". Suara bariton terdengar dibelakang mereka membuat semua orang menoleh.
Disana ada paman Ardi yang datang bersama keluarganya dan juga ayah mertua lengkap dengan kedua iparnya.
Prok.. prok.. Rania bertepuk tangan dengan sinis melihat keluarga suaminya yang datang seolah ini adalah rumah mereka.
"Kenapa kamu tidak sekalian membawa keluarga besar mu tinggal dirumah ku Aldi agar kamu jadi lelaki hebat dimata keluargamu?". Tawa dingin Rania membuat bulu kuduk Ardi berdiri seketika.
"Rania jangan macam-macam, aku peringatkan kamu, jangan sampai aku kehilangan kendali dan memberimu pelajaran yang tidak kamu bisa lupakan seumur hidupmu". Desis Ardi dengan suara pelan penuh penekanan.
Dia tidak akan membiarkan Rania membuka mulutnya jika dirinya dan keluarganya menumpang dirumah ini, dia adalah anak lelaki satu-satunya keluarganya, dia tidak akan bisa menerima hal itu.
"Benarkah?, wah aku tidak sabar melihatnya". Tawa Rania menggema dirumah itu.
Tawa sang istri yang terkesan mengejek dirinya menyulut amarah yang berkobar didada Ardi, dia melangkah cepat dan melayangkan tangannya ke wajah istrinya tapi ternyata Rania menghindar dan dia tersungkur dilantai rumah.
"Jangan coba-coba bermain tangan dengan ku Ardi atau ku buat kamu kembali jadi gembel seperti pertama kali kamu bertemu denganku". Desisnya dengan tangan terlipat angkuh.
"Rania, apa yang kamu lakukan?, Ardi itu suamimu dan kami semua keluarganya, jangan cari gara-gara pada kami". Bentak ayah mertuanya dengan penuh emosi.
"Oh aku takut sekali tuan Santoso, sayangnya rumah ini adalah rumahku dan kalian semua ini adalah orang menumpang".
Mereka semua melebarkan matanya, tapi berikutnya mereka langsung tertawa terbahak-bahak seolah mengejek apa yang dikatakan Rania kepada mereka.
"Rumahmu?". Ucap sang mertua dengan mengejek.
Ardi yang jatuh tersungkur kini menatap istrinya dengan tatapan memelas, dia yakin istrinya akan mengamuk dan menghancurkan harga dirinya sampai ke akarnya.
"Jangan bicara omong kosong Rania, kamu cuma dokter relawan sedangkan putra saya itu manager perusahaan besar, kamu sungguh punya muka tebal". Sang ayah Mertua menggelengkan kepalanya sambil memberikan tatapan menghina dan mengejek padanya.
"Benar tuh, kakak Rania itu harusnya bercermin deh, tenaga sukarelawan saja sok banget punya rumah mewah seperti itu, mimpinya jangan terlalu tinggi, apalagi sampai mengusir orang yang punya rumah, tidak tahu diri banget". Ucap sang adik ipar dengan angkuh.
Wajah Ardi memucat sempurna, keringat dingin mengalir diwajahnya melihat tatapan istrinya kini mengarah padanya, dia menatap istrinya sambil menggelengkan kepalanya agar istrinya tidak mengatakan apapun lagi.
"Baik, akan ku buktikan siapa sebenarnya menumpang disini". Tatapannya semakin tajam dan dingin.
"Rania kumohon, sudahlah jangan memperbesar masalah yah, kita bisa bicarakan ini baik-baik".
Dia bergegas berdiri kemudian menghadang sang istri untuk kembali ke kamar mereka, dia yakin istrinya akan memberikan bukti jika rumah ini adalah rumahnya dan semua yang dia banggakan pada keluarganya akan hancur seketika.
"Kenapa Ardi?, kamu takut semua rahasiamu terbongkar kepada keluargamu jika kamu bukan siapa-siapa disini?". Tanyanya semakin dingin.
Dia mengikis jarak mereka menatap tajam suaminya seakan ingin menelannya hidup-hidup.
"Ran, please jangan seperti ini, aku tidak mau membuat semuanya tambah kacau". Cicitnya pelan hingga hanya dirinya dan Rania mendengarnya.
"Kamu apa-apaan sih Ardi, ngapain kamu bicara lembut dengan perempuan tidak tahu adab seperti nya, kamu bahkan bisa mendapatkan perempuan mana saja yang lebih tinggi dan lebih baik darinya". Bentak sang ibu dengan keras.
Dia tidak terima anaknya itu bersikap terlalu lunak pada istrinya yang sangat kurang ajar menurutnya, anaknya adalah manager dengan gaji tinggi, perempuan seperti Rania bahkan dia bisa buang sesuka hati.
Wajah Ardi semakin pucat mendengar perkataan ibunya, dia menatap sang istri dengan memelas agar istrinya tidak percaya pada ibunya itu
"Benar tuh kak, aku bisa carikan temanku yang kaya raya untuk kakak, ngapain juga mempertahankan benalu seperti kak Rania itu, nggak banget". Sungut Adelia dengan sangat kesal.
Rania mengangguk pelan dengan mata berkilat murka, tidak ada lagi rasa kasihan apalagi penghormatan kepada keluarga suaminya itu.
"Rania, jangan, tolong jangan lakukan itu".
Ardi kembali menggeleng pelan, dia sungguh tidak ingin dipermalukan didepan keluarganya.
Selama ini dia mengatakan pada keluarganya dengan bangga jika rumah dan seluruh yang terlihat adalah miliknya hasil usaha dan kerja kerasnya agar dia terlihat hebat, dia meminta istrinya untuk tetap mendukungnya agar harga dirinya tidak runtuh.
Rania menurutinya karena cinta istrinya yang terlalu besar padanya dia seakan lupa jika apa yang dia katakan adalah kebohongan semata dan hal yang paling dia takuti saat ini jika Rania membongkar segalanya .
Rania mendekati Ardi dengan pelan hingga mereka terpaut hanya beberapa cm saja, matanya menyalami mata suaminya berharap ada setitik cahaya cinta dan pembelaan tetapi yang dia temukan hanya pandangan memelas lelaki yang takut akan egonya yang akan runtuh dan tidak peduli pada perasaannya.
"Selama ini, aku begitu menghormati dan menghargai mu Ardi".
Dia mengirup udara sebanyak mungkin agar sesak yang dia rasa bisa berkurang tapi kenyataannya dadanya semakin terhimpit perih.
"Aku menghargai dan merelakan semua yang kumiliki untuk kamu akui tanpa pernah sedikit menyela".
Rania menggelengkan kepalanya, air matanya kini tumpah tapi dia menghapusnya secara kasar dan tidak mau terlihat lemah.
"Tapi pernahkah sekali saja kamu membelaku ketika ibumu dan keluargamu menghinaku?
"Tidak kan?".
Ardi menggeleng lemah, mendekati istrinya tapi Rania mundur kebelakang satu langkah tidak ingin didekati.
"Seharusnya jika kamu tahu semua pengorbananku, harusnya kamu membelaku walau sekali saja, tapi kamu selalu diam saja membiarkan keluargamu menginjak-injak harga diriku dirumah ku sendiri, rumah yang ku bangun dengan keringatku yang kubiarkan kau akui agar kau tidak merasa lebih rendah dariku".
"Kau membiarkan aku menjadi seorang pecundang padahal semua ini milikku Ardi, kau dan keluargamu lah yang menumpang disini". Teriak Rania dengan amarah yang meluap.
Kini dia kembali melangkah dan menatap tajam suaminya seakan ingin memakannya hidup-hidup membuat langkah Ardi mundur kebelakang mulai ketakutan.
"Kau lelaki pecundang yang hanya mau dituruti biar terlihat hebat tapi kau lupa kalau kaulah yang benalu dirumah ku ini". Bentaknya dengan suara menggelegar.
Wajah Ardi semakin pucat melihat puncak kemarahan sang istri yang tidak pernah dia lihat.
"Dan kalian manusia tidak tahu diri".
Pandangan kini mengarah pada keluarga suaminya yang mematung melihat amarahnya, wajah yang semula angkuh berubah heran dan tidak percaya.
"Aku diam saat kalian menghinaku, aku diam saja saat kalian mengatakan aku benalu, tapi kalian tidak tahu lelaki yang kalian banggakan ini hanya staf biasa dikantornya bukan seorang manager seperti yang dia bilang pada kalian , dia penipu dan kalian semua manusia gila tidak tahu diri". Teriaknya melempar vas bunga didepannya didekat kaki sang mertua dengan penuh emosi.
Sang mertua perempuan bernama Ningsih itu mundur karena takut terkena vas bunga itu dan terkejut.
"Rania". Teriak Ardi tidak terima
Dia melayangkan tangannya dan akan menampar istrinya tapi tangan itu ditangkap baik oleh Rania dengan mata menyala berkobar amarah.
Rania menghempaskan tangan itu sehingga Ardi terhuyung tanpa aba-aba Rania kini melayangkan tangannya menampar Ardi dengan keras.
Ardi memegang wajahnya yang memerah dan terasa perih bahkan tergambar jelas cap jari Rania di pipinya.
Matanya membelalak tidak percaya istrinya yang begitu sabar dan mencintainya bisa menamparnya seperti ini.
"Kurang ajar apa yang kamu lakukan pada putraku?". Teriak sang mertua dengan penuh emosi.
Dia ingin mendorong Rania tapi Rania menghindar sehingga dia malah jatuh menimpa anaknya sendiri sedangkan Rania hanya melipat tangannya yang menatap datar kearah mereka semua.
"Lebih baik kamu buka mulutmu Ardi, katakan pada mereka yang sesungguhnya, jika tidak jangan salahkan aku jika aku bertindak nekat dengan mengusir kalian semua dari sini tanpa ampun". Ucapnya dengan dingin.
"Jangan seperti ini Rania, kita ini suami istri semua yang ada disini adalah milik kita bersama, jangan seperti itu". Jawab Ardi memelas.
Sejak tadi dia tidak mau mengatakan apapun pada keluarga nya berharap Rania melunak setelah meluapkan amarahnya dan tidak mengatakannya.
"Baik, jika kamu tidak mau membuka mulutmu dan berterus terang kepada mereka jangan salahkan aku jika aku bertindak dengan caraku".
Ardi menggeleng putus asa, dia kembali menatap istrinya dengan mata berkaca-kaca berharap istrinya bisa memberinya kesempatan dan tidak membongkarnya sekarang
Tapi saat akan mengeluarkan suaranya telpon Rania berdering pelan dan itu dari rumah sakit
"Iya Hallo suster?". Tanyanya pelan.
"Dokter ada emergency dirawat darurat, dokter bisa kesini?". Tanyanya dengan panik.
"Apa tidak ada dokter lain?, saya baru saja pulang". Jawabnya khawatir.
"Maafkan kami dokter, dokter Arif dan dokter Meisa tidak bisa karena sedang berada diperjalanan luar kota, dokter satu-satunya yang bisa kami hubungi". Jawabnya memelas.
"Baik, lakukan pertolongan pertama padanya, aku akan kesana sekarang dan siapkan ruang operasi, aku akan tiba 15 menit lagi". Jawabnya dengan cepat.
Dia melangkah cepat sebelumnya mengambil tasnya dan menatap mereka semua dengan tatapan dingin terutama suaminya.
"Kuharap kamu tahu diri, bawa keluargamu dari sini karena jika aku pulang dan mereka masih disini, akan ku pastikan pihak keamanan yang akan mengusir mereka dan ku pastikan kamu tidak akan punya muka lagi pada tetangga kita".
Dia berlari menuju kamarnya, dan menguncinya agar tidak ada yang masuk.
Dia bergegas mengambil semua barang berharga yang dia miliki termasuk surat rumah, kendaraan miliknya dan yang dipakai suaminya begitu milik adik iparnya karena itu miliknya yang dia berikan kepada adik iparnya itu, setelah selesai dia bergegas keluar membawa sebuah tas kecil karena dia yakin akan menginap dirumah sakit jika kondisi pasien gawat.
Ardi yang kini menunduk langsung mengangkat kepalanya ketika ibunya mengguncangkan tubuhnya meminta penjelasan.
"Apa maksud Rania Ardi?, jangan bilang semua yang dia katakan sejak tadi itu benar adanya? Kamu bukan manager dan ini semua punya Rania?". Tanya sang ibu dengan geram.
Ardi hanya menunduk frustasi, tapi tak mengeluarkan suaranya.
"Katakan Ardi, jangan diam saja seperti patung seperti itu, katakan yang sebenarnya!!". Bentak sang ibu sambil terus menggoyangkan tangan Ardi dengan kesal.
"Benar kak, katakan jika apa yang dibilang kak Rania itu hanya kebohongan, kakak tidak mungkin menumpang kan?". Tanyanya tidak percaya.
Ardi hanya menunduk tak mengatakan apapun, harga dirinya sudah hancur berkeping-keping kalau sampai keluarganya tahu jika dia hanya lelaki biasa yang tidak memiliki apapun dan semua ini adalah milik Rania
Rania yang datang membawa barangnya kini berada didekat mereka.
"Dia tidak akan mengatakan kebenarannya karena takut kalau harga dirinya yang setinggi langit itu jatuh, dia terlalu aku beri perlakuan seperti raja hingga menjadi tidak tahu diri mengklaim sesuatu yang bukan miliknya, gajinya saja cuma 5 juta sebulan tapi mengaku seorang manager sampai keluarganya seenak jidatnya menghina orang".
"Dan ku beritahu kalian sesuatu, aku bukan tenaga Relawan seperti yang dia katakan pada kalian tapi aku seorang dokter spesialis, dan yang menghubungiku tadi adalah suster dirawat darurat dirumah sakit ternama dikota ini ".
Rania melangkah keluar tapi sebelum sampai pada pintu dia pun berbalik.
"Jangan lupa bereskan barang kalian dan angkat kaki dari rumahku termasuk anak kalian itu, aku sudah tidak sudi memberikannya tumpangan lagi padanya".
Rania kini keluar dari rumahnya sebelum akhirnya menyambar kunci mobil milik Ardi yang juga miliknya, begitu juga milik Adelia yang dia hadiahkan karena permintaan suaminya juga.
"Dasar manusia serakah, kurang ajar". Teriak sang mertua dengan penuh emosi.
Sedangkan keluarga lainnya hanya bisa mematung melihat apa yang dilakukan Rania, mereka sungguh tidak menyangka wanita yang biasa penurut berubah seperti itu
Ardi hanya bisa mengepalkan tangannya merasa sangat terhina diperlakukan seperti itu oleh istrinya, dia hanya bisa diam tanpa mengatakan apapun apalagi dia jelas melihat Rania mengambil kunci mobilnya dan juga milik adiknya yang tergantung ditempat mobil
Dia tidak akan pergi dari sini, bagaimanapun ini adalah rumahnya juga, dia adalah suami Rania, apa yang menjadi milik Rania adalah miliknya juga, dia harus membuat Rania kembali menerimanya .
"Ngapain bawah kunci mobilku kak Rania?, itu mobilku, kembalikan!!". Teriak Adelia dengan suara keras
Dia bergegas menyusul kakak iparnya itu untuk mengambil kembali kunci mobilnya tapi Rania sudah didalam mobil
Dia memukul kaca mobil itu dengan sangat kesal dan memaki kakak iparnya itu tapi Rania tidak memperdulikannya dan tetap menjalankan mobilnya keluar dari rumah, untungnya mobilnya tidak terhalang mobil lain sehingga dia leluasa keluar .
"Kembalikan kunci mobilku kak Rania, aku laporkan kamu kepolisian". Teriaknya dengan keras.
Dia menghentakkan kakinya melihat kepergian Rania, dia masuk kedalam rumah penuh emosi.
Setelah Rania benar-benar pergi, kini keluarganya menatap Ardi dengan penuh tuntutan, mereka langsung menarik Ardi duduk di sofa dan mengintrogasi nya.
"Katakan sekarang Ardi, jangan sampai kau berbohong pada ayah". Desisnya dengan geram
"Benar Ardi, jelaskan pada kami mengapa Rania mengatakan jika kamu bukan manager dan hanya staf biasa dan semua ini bukan punyamu". Ucap Sang paman penuh penekanan.
Dia tidak menjawab apapun, dan langsung bangkit menuju kamarnya, dia tidak peduli pada teriakan dan emosi keluarganya dia tidak akan pernah membuka mulutnya dan memberitahukan semuanya kepada keluarganya, dia yakin itu hanya gertakan Rania semata, perempuan itu sangat mencintainya dan memperlakukan dia seperti Raja selama ini
"Dia tidak akan berani melakukan itu padaku, aku yakin dia hanya menggertak ku, dia sangat mencintai dan memujaku, dia hanya kesal karena ibu menampar nya". Ucapnya dalam hati begitu sampai didalam kamarnya
Melihat sikap anaknya, Sang ibu hanya mendengus kesal menatap keluarganya yang kini ikut menatapnya.
Adelia masuk kedalam rumah dan langsung memeluk sang ibu karena sangat kesal kunci mobilnya diambil oleh Rania apalagi dia mau keluar bersama teman-temannya.
"Bagaimana ini Bu?, jika benar semua ini milik kak Rania, kita benar-benar dalam bahaya, aku tidak mau diusir dari rumah ini, rumah ini mewah dan aku bisa pamer sama teman-teman aku, aku juga tidak mau kehilangan mobilku". Ucapnya sambil menggoyangkan tangan sang ibu dengan manja.
Dia tidak terima mobilnya diambil begitu saja, apalagi dia sudah memamerkannya kepada semua temannya jika itu mobilnya yang diberikan kakaknya tapi ternyata punya kakak iparnya, kakak nya membohongi dirinya.
"Diam lah Adel, ibu sedang pusing, jika benar yang dikatakan oleh Rania kita tetap harus bertahan disini, dia sudah menikah dengan kakakmu jadi semua miliknya adalah milik keluarga kita, dia tidak akan bisa mengusir kita dari sini". Ucapnya dengan angkuh.
"Benar tuh kak, setelah ini lebih baik kalian perbaiki sikap kalian dan ambil sertifikat serta barang berharganya, balikkan nama kalian agar dia tidak bisa berkutik".
Mereka langsung mengangguk sambil tersenyum cerah mendapatkan ide untuk membungkam mulut sombong Rania.
"Kamu akan menyesal Rania".
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!