Indonesia
NovelToon NovelToon

The Cure Was You

01 | Tujuh Belas Ribu Dolar

"Luna, coba deh kesini," pinta seorang wanita dengan garis tegas di rahangnya. Kedua tangannya memegang satu gaun megah berwarna putih dengan detail emas.

"Ada apa, Bun?"

"Coba deh kamu pake gaun ini, bunda mau lihat di kamu cocok atau ngga."

Mata gadis itu memperhatikan gaun pengantin yang berada di tangan bundanya. Gaun pengantin itu didominasi warna putih mutiara dengan sentuhan emas lembut yang menjalar seperti sulur-sulur bunga di seluruh permukaannya. Potongan off-shoulder memperlihatkan bahu dengan anggun, sementara detail bordir keemasan di bagian dada membentuk pola menyerupai bunga dan dedaunan yang mekar di bawah cahaya bulan.

Tawa sumbang dari mulutnya keluar begitu saja. Bundanya mengambil gaun termahal di butik itu untuk pernikahannya yang akan diadakan tiga minggu lagi. Gadis itu tidak yakin ia sanggup memakai gaun se anggun itu. "B-bunda yakin mau ambil yang ini buat Luna? K-kenapa ngga lihat-lihat yang lain dulu?"

"Udah kamu coba pake dulu." Tangan bunda yang sudah sedikit keriput menarik sosok gadis yang ia panggil Luna itu menuju ke ruang ganti. Yang ditarik hanya menurut karena ia sudah tau bundanya adalah wanita paling batu yang pernah ia temui.

Di dalam ruang ganti, sang gadis tidak langsung mencoba gaunnya. Ia lebih memilih memandangi gaun dihadapannya dan berbicara pada dirinya sendiri

"Kasian ya nasibmu harus berakhir sama aku. Padahal... kalo kamu dipake sama cewek lain, aku yakin kalian berdua bakal sama-sama anggun. Jangan berharap lebih kalo aku yang pake ya?"

Dengan gerakan hati-hati, ia memakainya. Gadis itu berusaha selembut mungkin saat mengenakan gaun ditangannya agar tidak ada yang rusak bahkan satu helai benangpun. Setelah gaun itu melekat pas ditubuhnya, ia melihat cermin dihadapannya. Cantik. Sangat cantik. Luna dibuat takjub oleh gaun itu.

'Tok tok tok'

"Luna sayang, kamu ada kendala kah? Dari tadi kok ngga keluar?" Gadis itu langsung tersadar bahwa dirinya sudah memakan waktu lama di ruang ganti. Ia buru-buru membuka pintu dan mendapati bundanya yang terdiam melihat dirinya.

"Eumm... Bun..?"

Untuk beberapa detik, wanita itu hanya menatapnya tanpa berkedip sebelum kedua matanya mulai berkaca-kaca. "Ya ampun..." Suaranya bergetar pelan. "Cantik sekali anak Bunda. Gaunnya cocok banget sama kamu, Sayang."

Luna hanya bisa nyengir sambil garuk-garuk tangan kirinya yang memang gatal. Pikiran gadis itu berisik. Firasatnya berkata bahwa beberapa saat lagi bundanya pasti akan bertanya harga gaun yang sedang ia kenakan. Ia harus mencari cara agar bundanya berubah pikiran.

"Harga gaun ini kira-kira sampai berapa, ya, Mbak?" Dan benar. Firasat Luna tidak meleset.

"Harganya sampai $17.000 ya bu."

"Uhuk! Uhuk! Ekhem!" Bagai tersambar petir di siang bolong, tenggorokan Luna seperti kemasukan paku saat mendengar harga gaun yang sedang ia pakai. Bundanya yang sedang mencari dompet di tas limited edition langsung menatapnya dengan wajah khawatir. "Kamu sakit, Lun?"

Tangan Luna reflek berhenti menepuk dada diikuti dengan tenggorokan yang menelan ludah. Kepalanya menggeleng cepat. "Engga Bun, Luna sehat kok."

Jawaban Luna hanya dibalas dengan senyuman. "Ini ya Mbak kartunya. Gaunnya fiks saya ambil buat calon menantu saya." Mata Luna mengikuti kartu berwarna hitam itu yang sudah pindah ke tangan pegawai butik.

"Bunda yakin? Harga gaun yang Luna pake bisa buat beli mobil loh Bunn," ucap Luna berusaha merubah pikiran calon mertuanya.

"Tapi kamu suka kan sama gaunnya?"

"Y-ya suka sih... Tapi kan harganya yang ngga suka Bun. Uang segitu bisa Bunda simpan buat beli sesuatu yang Bunda mau, kenapa harus dihabisin buat beli satu gaun untuk Luna?"

Kalimat itu membuat wanita paruh baya di hadapannya tertawa pelan. Suaranya lembut dan elegan, tapi entah kenapa Luna merasa setiap "ha" yang keluar dari mulut wanita itu bernilai ribuan dolar. Luna menatap bundanya dengan ngeri. Orang kaya memang beda. Tujuh belas ribu dolar baru saja melayang dan wanita disampingnya masih bisa tertawa seolah baru kehilangan recehan di saku.

"Nyonya, ini kartunya." Suara pegawai butik sukses membuyarkan lamunan Luna. Bundanya menerima kartu hitam miliknya dengan senang hati.

"Oh iya, Nyonya. Harga itu sudah termasuk seluruh aksesoris pernikahannya," jelas pegawai butik dengan ramah. "Mulai dari tiara, veil, kalung, hingga anting. Mau saya bungkuskan langsung, atau mungkin Nyonya dan Nona ingin melihat-lihat dulu aksesorisnya?"

Luna dan bundanya saling bertukar pandang. "Saya mau lihat dulu, Mbak."

Si pegawai mengangguk lalu berjalan menuju bagian belakang butik untuk mengambil aksesoris yang dimaksud. Sembari menunggu, Luna bingung harus membicarakan apa dengan wanita paruh baya di sampingnya yang kini tampak lebih tertarik melihat-lihat koleksi gaun lainnya.

Jemarinya bergerak pelan menyusuri lipatan rok gaun yang mengembang indah di sekeliling pinggangnya. Bahkan sekarang ia masih sulit mempercayai bahwa gaun itu benar-benar akan menjadi miliknya. "Masih syok?" tanya Bundanya sambil tersenyum.

Luna langsung menoleh. "Banget, Bun." Jawaban jujurnya membuat wanita itu tertawa kecil.

"Luna, kamu jangan merasa utang budi atau apa pun ke Bunda ya. Bunda cuma mau kamu dan anak Bunda bahagia di hari pernikahan kalian," tuturnya lembut seraya menggenggam kedua tangan calon menantunya.

"Dan soal gaun ini..." wanita itu tersenyum. "Sebenarnya Julian yang meminta Bunda menemanimu fitting."

Luna berkedip. "Dia?"

"Iya. Dia bilang dia ngga bisa menemanimu karena pekerjaan, jadi dia memohon pada Bunda untuk datang menggantikannya."

Wanita itu mengangkat kartu hitam yang sedari tadi berada di tangannya. "Bahkan kartu ini juga miliknya. Dia sudah mengirimkannya jauh-jauh hari dan berpesan agar kamu memilih gaun yang paling kamu suka."

Luna terdiam selama beberapa detik. Entah kenapa, beban yang sedari tadi menekan dadanya mendadak berkurang. Setidaknya sekarang ia tahu bahwa uang yang digunakan untuk membeli gaun itu bukanlah milik calon mertuanya. Tapi tetap saja mahal. Sangat mahal.

Dan entah kenapa rasanya jauh lebih melegakan.

"Oh..." gumamnya pelan. Dirinya kemudian terkekeh kecil.

"Kenapa?"

Luna menggeleng cepat. "Ngga kenapa-kenapa, Bun."

Bohong. Luna mengakui bahwa ia tadi hampir mati karena merasa tidak enak pada calon mertuanya. Sekarang setidaknya ia hanya perlu merasa tidak enak pada calon suaminya sendiri dan menurutnya, itu sedikit lebih baik.

"Tapi Julian ngga bilang apa-apa soal ini ke Luna, Bun," ujarnya pelan. Jemarinya tanpa sadar meremas kain gaun yang ia kenakan.

Bundanya tersenyum kecil. "Karena dia memang seperti itu."

Ucapan wanita itu sukses membuat Luna menatapnya dengan minat. "Kalau sudah soal kamu, dia lebih suka menunjukkannya lewat tindakan daripada kata-kata."

Luna terdiam sejenak. "T-tapi..."

"Dia sudah menghubungi Bunda jauh-jauh hari sebelum keberangkatannya. Dia bilang dia ngga mau kamu sendirian mengurus persiapan pernikahan." Wanita itu menghela napas sebelum melanjutkan. "Makanya dia minta Bunda untuk menemanimu. Dia bahkan berulang kali mengingatkan Bunda agar memastikan kamu memilih gaun yang benar-benar kamu suka," papar sang calon mertua diiringi senyum yang semakin lebar di wajahnya.

Entah kenapa pipi si gadis yang sebentar lagi akan menikah itu terasa sedikit hangat saat mendengarnya. Ia menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan senyum yang perlahan muncul di wajahnya.

☆☆☆

Luna merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Acara fitting gaun membuat jiwa dan raganya lelah, apalagi setelah mendengar tujuh belas ribu dolar itu. Rasa-rasanya jantung Luna ingin berteriak minta keluar. Baru saja ia hendak memejamkan matanya ketika ponselnya bergetar.

Julian calling...

Sudut bibir Luna tanpa sadar terangkat. Ini yang ia harapkan sejak tadi. Jempolnya langsung menggeser ke kanan icon berbentuk telepon warna hijau sebelum dering kedua sempat berbunyi. Napas Luna tertahan saat suara lelaki khas terdengar dari speaker.

"Hai, calon pengantinku. How's ur day, huh?"

02 | Pasien bernama Orion

"Hai, calon pengantinku. How's ur day, huh?"

Luna menggigit bibir bawahnya pelan, berusaha menyembunyikan senyum yang semakin sulit dikendalikan.

"Harusnya aku yang nanya gitu," balasnya pelan. "Gimana penerbanganmu hari ini? Lancar, kan?"

Terdengar tawa pelan Julian dari speaker ponselnya.

"Lancar sayangg. Semuanya aman terkendali. Kalo kamu? Gimana tadi fitting gaunnya?"

Gadis itu terdiam sejenak. Dirinya masih syok karena berhasil membawa pulang gaun seharga mobil itu. "Lancar-lancar aja sih..."

"Kok gitu doang responnya? Kamu belum nemu gaun yang kamu suka??" Suara Julian terdengar sedikit berbeda. Nada bicaranya berubah menjadi serius.

Yang ditanya lagi-lagi hanya diam. Dirinya bingung harus cerita apa pada tunangannya karena tadi siang ia baru saja menghabiskan tujuh belas ribu dolar miliknya. Luna sedikit penasaran reaksi Julian ketika mendengarnya.

"Ng... Itu... Emm..."

"Kenapa sayang? Ceritaa dong sama akuu."

Luna menarik napas dalam-dalam. "Aku nemu gaun yang aku suka. Tapi..."

"Bagus dong kalo kamu udah nemu yang kamu suka. Tapinya kenapa ituu??"

Terdengar helaan napas pelan dari si gadis. Pikiran dan hatinya tidak sejalan. Di satu sisi pikirannya menyuruh Luna agar mengatakan yang sebenarnya pada tunangannya. Sedangkan di sisi lain, hatinya memohon supaya tidak mengatakannya. Toh juga cepat atau lambat Julian akan sadar sendiri uang di kartunya sudah berkurang sebanyak apa.

"Itu... Aku mau minta maaf, Yan..." ucap Luna lirih. Ia masih belum berani mengatakan yang sebenarnya.

"Maaf buat apa??"

Dengan hitungan ketiga, Luna menghirup oksigen banyak-banyak lalu menghembuskannya dengan sekuat tenaga. "MAAF KARENA AKU BELI GAUN SEHARGA TUJUH BELAS RIBU DOLARRR!!"

Brukk!

Ponsel yang tergenggam di tangan gadis itu kini terjun dengan keras menghantam lantai. Seketika layarnya langsung menghitam. Luna tidak sengaja menjatuhkan ponselnya saat seseorang tiba-tiba menekan bel rumahnya.

"Astaga!!"

Luna buru-buru membungkuk untuk mengambil ponselnya. Ia segera menekan tombol power. Tidak ada respons. Telunjuknya menekan tombol power sekali lagi. Masih tidak ada respons.

"Please jangan mati, please jangan mati, please jangan mati..." Sekali lagi ia menekan tombol power bersamaan dengan tombol pengecil volume. Layar yang semula gelap akhirnya menampilkan logo ponsel. Secuil harapan kembali muncul di benak Luna.

Ting Tong!

Bel kedua berbunyi. Mau tak mau Luna harus meninggalkan ponselnya dan ke lantai satu untuk menemui orang yang menekan bel rumah. Sesampainya di depan pintu, ia mengecek siapa yang datang lewat layar yang terpasang di balik pintu. Ternyata seorang kurir.

"Aneh... Perasaan aku ngga ada pesen paket apapun deh..." Sekali lagi ia mengecek sosok tamunya dari layar. Tidak ada yang aneh dari cara dia berpakaian, hanya selayaknya kurir paket biasa. Akhirnya, Luna membuka pintu.

"Ada paket atas nama Rellunae Keller. Apakah benar anda ibu Rellunae?" tanya sang kurir memastikan.

"Iya, saya sendiri. Maaf tapi perasaan saya ngga ada pesen paket apapun, mas. Kalo boleh tau, ini paket dari siapa?" Mata Rellunae melirik kotak berukuran sedang ditangan kurir itu. Ia berusaha membaca nama sang pengirim tapi gagal karena jaraknya cukup jauh.

"Di resi tertulis pengirimnya Lumiere Printing, Bu."

Luna terdiam sejenak. Ia berusaha mengingat nama percetakan tersebut. Perasaan aku ngga pernah ke Lumiere Printing deh... batinnya sambil terus memutar ingatan. Seketika matanya membulat.

"Oh! Undangan pernikahan saya!"

Tangannya dengan senang hati menerima kotak berukuran sedang yang terulur dari kurir. Lalu sang kurir bilang bahwa paketnya sudah dibayar alias bukan cod. Luna mengangguk dan berterimakasih sebelum masuk ke dalam rumah.

Setelah memastikan pintu sudah terkunci, Luna memeluk kotak itu erat-erat. Tanpa sadar bibirnya mulai bersenandung pelan, sebuah nada acak yang bahkan ia sendiri tidak menyadari lagu apa. Yang jelas, suasana hatinya jauh lebih baik dibanding beberapa menit yang lalu.

"Yeayy!"

Sudut bibirnya tak henti-hentinya terangkat. Akhirnya, undangan pernikahannya sudah selesai dicetak. Tanpa lama-lama, Luna langsung unboxing paket dihadapannya. Lapisan bubble wrap dan kertas pelindung disingkirkannya satu per satu dengan hati-hati.

Tak lama kemudian, setumpuk undangan berwarna putih gading mulai terlihat. Luna mengambil satu diantaranya. Jemarinya mengusap pelan permukaan kertas yang terasa tebal dengan sentuhan akhir doff. Di bagian depan, inisial namanya dan Julian tercetak menggunakan huruf timbul berwarna emas. Sederhana tetapi elegan.

Perlahan ia membuka undangan itu. Setiap detailnya persis seperti desain yang mereka sepakati beberapa minggu lalu. Mulai dari ilustrasi bunga di setiap sudut, susunan kata-kata yang rapi, hingga pita satin tipis yang melingkari bagian tengahnya.

"Cantik..."

Senyumnya semakin mengembang. Saat hendak mengitung jumlah undangan, tiba-tiba sesuatu diantara undangan-undangan jatuh ke karpet bulunya. Sebuah amplop. Perhatian Luna seketika teralihkan ke amplop misterius itu. Ia membolak-balik amplop, berusaha mencari nama sang pengirim tapi nihil. Di amplop hanya tertulis "For: Rellunae Keller".

Jauh di lubuk hatinya ia sangat penasaran dengan isinya. Tapi entah mengapa firasatnya mulai tidak enak. "Aku buka ngga yahh..." ujarnya sambil menebak-nebak kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi setelah dirinya melihat isinya.

"Buka aja dehh. Daripada nanti kebawa mimpi gara-gara penasaran."

Srett...

Cutter kecil bergagang biru berbentuk kelinci itu mengiris rapi bagian bawah amplop. Perlahan, Luna memasukkan jemarinya ke dalam. Alisnya bertaut. "Hah?"

Jemarinya merasakan beberapa lembar kertas tebal dengan permukaan licin. Ia menariknya keluar sedikit semi sedikit. Suasana menjadi hening begitu matanya melihat benda di tangannya. Napas Luna mendadak tercekat. Matanya membulat. Senyum yang sedari tadi menghiasi wajahnya perlahan menghilang.

"Ng-ngga mungkin..."

Tiba-tiba suara ringtone ponsel memecahkan keheningan. Nama Julian terpampang jelas di layar.

"Halo sayang??"

"H-hai, Yan..." Terdengar embusan napas lega dari seberang sana.

"Ya Tuhan... akhirnya kamu angkat juga."

Luna mengernyit. "Memangnya kenapa, Yan?"

"Kamu ngga apa-apa, kan? Kok dari tadi aku telepon ngga diangkat-angkat?" Suara laki-laki itu terdengar khawatir.

Luna tertawa getir. "Anu... tadi HP-ku mati karena ngga sengaja jatuh..."

"Jatuh?!" nada suara Julian langsung meninggi. "Kamu ikut jatuh juga??"

Luna terkekeh kecil. "Engga, aku baik-baik aja."

"Benerann ngga papaa??"

"Iyaa Juliankuu."

Julian menghela napas panjang. "Syukurlahh... Terus HP-nya gimanaa? Layarnya pecah?"

Yang ditanya melirik ponsel di tangannya. Untungnya tidak ada retakan maupun garis-garis aneh di layarnya. "Masih amann."

"Syukurr dehh kalo gitu. Yang penting kamu ngga kenapa-kenapa."

Luna hanya mengangguk sebagai jawaban meskipun ia tau Julian tidak bisa melihatnya. Pikirannya masih terbayang-bayang dengan isi amplop yang dikirim misterius.

"Oh iya, sayangg..."

"Hm? Kenapa?"

"Kita ganti video call yukk, aku kangen berat sama kamu."

Beberapa detik kemudian, Luna menerima permintaan video call dari Julian. Di layar ponsel Luna terpampang wajah Julian yang letih tapi masih terlihat cakep maksimal. Darah blasteran yang mengalir dari kedua orang tuanya seolah menyempurnakan setiap lekuk wajahnya. Tak heran jika Luna betah menatapnya lama-lama.

Julian yang menyadari tatapan itu langsung menyeringai jahil. "Gimana? Makin ganteng, ya?" godanya sambil sedikit memiringkan wajah ke kanan dan kiri, seolah sedang memamerkan penampilan barunya.

Luna terkekeh pelan. "Kamu potong rambut?"

"Enggaa, aku cuma ganti style rambut aja." Julian kembali menyugar rambutnya ke belakang.

"Gimana? Tambah ganteng ngga??" imbuh Julian dengan senyum sejuta dolar.

"Kamu selalu ganteng, pilotkuu," puji Luna sambil memutar bola matanya.

Sekarang gantian Julian yang terkekeh. "Oh iyaa, tadi bunda ngirim foto kamu waktu pake gaun 17.000 dolar," celetuknya dari seberang sana. "Cantikk."

Luna hanya terdiam.

"Aku suka," lanjut Julian dengan senyum menawannya.

Deg.

Jantung Luna seolah melewatkan satu detak. Tiga kata itu berhasil membuat Luna membeku. Pipinya perlahan memanas, sementara rasa malu dan bersalah bercampur menjadi satu.

"J-jangan ngomong gitu..." gumamnya lirih sambil menundukkan kepala. Matanya kemudian menatap layar dan langsung berhadapan dengan mata Julian. Sang tunangan tertawa kecil karena dirinya merasa sukses membuat ceweknya salah tingkah.

"Kamu takut aku marah karena 17.000 dolar melayang dari kartuku??" tanya Julian lembut. Luna mengangguk lalu menatap wajah pria itu di layar ponselnya. Tidak ada sedikit pun tanda-tanda kemarahan. Sudut bibir Julian justru masih terangkat membentuk senyum tipis, seolah angka fantastis itu bukanlah sesuatu yang perlu dipermasalahkan.

"Padahal..."

Luna menunggu kelanjutan ucapannya dengan jantung berdebar. Tunangannya memang suka menggantung ucapannya. Untungnya hubungan mereka tidak ikutan menggantung.

"Aku berharapnya kamu bisa habisin lebih dari itu."

"Hah?!"

Yap. Kata itu meluncur begitu saja dari mulut Luna. Sejak pulang dari butik, pikirannya terus dipenuhi berbagai kemungkinan. Ia bahkan sudah menyiapkan diri jika Julian marah, kecewa, atau setidaknya mengomel karena tujuh belas ribu dolar telah melayang dari kartunya.

Namun, semua bayangan itu runtuh dalam sekejap. Alih-alih marah, pria itu justru berharap Luna menghabiskan uang lebih banyak lagi. Pria ini waras, kan...?

"Rellunae," panggil Julian lembut. Yang dipanggil langsung menatap layar ponsel dengan sedikit berbinar.

"Aku kerja keras bukan buat numpuk angka di rekening." Mata mereka beradu pandang lewat layar. Seketika keadaan menjadi hening. Baik Luna maupun Julian tidak ada yang berbicara, atau mungkin pria itu sengaja memberi Luna waktu untuk mencerna ucapannya.

"Aku kerja keras supaya wanita yang nanti jadi istriku ngga perlu mikir dua kali kalau dia menemukan sesuatu yang benar-benar dia suka," lanjut Julian masih dengan nada bicara yang sama, lembut.

☆☆☆

Suasana pagi hari di Rumah Sakit Jiwa Silver Oak berjalan seperti biasa. Lorong-lorong rumah sakit tampak bersih dengan aroma disinfektan yang samar bercampur wangi kopi dari kafe di lantai dasar. Para tenaga medis berlalu lalang membawa berkas pasien, sementara beberapa pasien rawat jalan duduk tenang menunggu giliran konsultasi. Dari luar, tempat itu terlihat damai, nyaris seperti rumah sakit pada umumnya. Tak ada yang menyangka bahwa di balik setiap pintunya, tersimpan kisah-kisah yang rumit.

Diantara hiruk pikuk, seorang wanita berambut hitam panjang melangkah memasuki lobi dengan jas dokter putih yang tersampir rapi di tubuhnya. Name tag bertuliskan "dr. Rellunae Keller, Sp.KJ" tersemat di dada kirinya. Beberapa perawat yang berpapasan langsung menyapanya dengan ramah.

"Selamat pagi, Dokter Rellunae."

"Pagi," jawab Luna seraya mengangguk. Langkah kakinya ia percepat agar sampai di ruang rapat tepat waktu.

Pukul delapan tepat, ruang rapat lantai lima Rumah Sakit Jiwa Silver Oak mulai dipenuhi para psikiater, psikolog klinis, serta beberapa kepala perawat. Di layar proyektor terpampang satu berkas pasien yang bertuliskan "TRANSFER PASIEN PRIORITAS". Direktur rumah sakit berdiri di depan meja rapat.

"Baik saya mulai. Pertama-tama saya ingin mengucapkan terimakasih karena kalian sudah meluangkan waktu untuk hadir di rapat mingguan. Topik yang akan kita bahas hari ini adalah mengenai seorang pasien yang akan dipindahkan ke Silver Oak."

Direktur yang bernama Pak Noah itu menekan remote yang mengarah ke layar proyektor. Kemudian muncullah sebuah nama "Orion Grimm". Ruangan mendadak sunyi. Rellunae mengernyit pelan saat membaca nama yang terasa asing di telinganya.

"Pasien laki-laki berusia dua puluh enam tahun. Riwayat..." Pak Noah berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "...dipindahkan dari enam rumah sakit jiwa dalam kurun waktu tiga tahun."

Beberapa orang disana langsung saling bertukar pandang. Ruangan pun mulai dipenuhi gumaman dan bisik-bisik.

"Enam?"

"Sebanyak itu?"

"Kenapa bisa?"

Sang direktur menghela napas. "Setiap rumah sakit menyerah pada pasien ini dengan alasan yang berbeda. Ada yang menyatakan pasien terlalu agresif, ada yang mengaku terapi tidak menunjukkan perkembangan, dan ada pula yang meminta pemindahan karena keselamatan tenaga medis."

Ruangan kembali hening. Semua orang disana saling melempar pandangan dengan pikiran yang berbeda-beda, tak terkecuali Luna. Ia sibuk membaca data pasien bernama Orion Grimm itu sambil memikirkan sesuatu.

"Kalau begitu... siapa yang bersedia mengambil alih kasus Orion?" tanya sang direktur sembari mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.

Tidak ada yang menjawab. Semua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Entah mereka sedang memikirkan pasien yang tengah mereka rawat atau malah kemungkinannya dalam hati mereka berharap tidak terpilih untuk menangani kasus pasien transfer itu. Beberapa dokter bahkan sengaja mengalihkan pandangan.

Pak Noah kemudian mengembuskan napas pelan. "Jadi... tidak ada yang bersedia menangani Orion?"

Hening. Sampai tiba-tiba suara nan khas itu memecahkan keheningan.

"Biar saya saja."

03| Sosok Rellunae Keller

"Biar saya saja."

Semua kepala sontak menoleh ke arahnya. Beberapa dokter langsung saling berpandangan. Bahkan Pak Noah pun menatap dokter muda itu dengan sorot mata yang sulit diartikan.

"Luna, kamu serius?" tanya salah satu dokter senior. "Kamu sudah baca rekam medisnya, kan?"

Luna mengangguk. "Sudah."

"Lalu kenapa kamu masih ingin menanganinya? Kamu tau sendiri kan kalau pasien itu berbahaya?"

Si dokter muda menghela napas panjang. "Bagaimana kita bisa menilai bahwa dia berbahaya padahal kita saja belum pernah bertemu dengannya?"

Ruang rapat kembali hening. Semua mata tertuju pada sosok gadis yang saat ini juga menatap sekelilingnya.

"Kita sebagai dokter jiwa tidak sepatutnya langsung menghakimi pasien. Tugas kita adalah mengulurkan tangan kepada mereka yang membutuhkan pertolongan. Mereka sudah terlalu sering dihakimi oleh dunia di luar sana. Jadi, jangan sampai kita menjadi bagian dari orang-orang yang terus menghakimi mereka."

Ucapan Luna membuat seluruh ruangan mendadak senyap. Bahkan beberapa dokter senior yang semula ingin menyela akhirnya mengurungkan niatnya. Mereka hanya saling bertukar pandang, seolah mencari sanggahan yang tepat. Namun tak satu pun berhasil menemukannya.

Pak Noah menghela napas panjang sebelum perlahan berdiri dari kursinya.

"Kata-katamu tidak salah, Rellunae," ujarnya tenang. "Tapi idealisme saja tidak selalu cukup untuk menghadapi pasien seperti Orion."

Luna menatap pria baruh baya itu tanpa gentar. Mungkin ucapan pak Noah ada benarnya, tapi entah mengapa Luna merasa tidak suka.

"Kamu masih muda, Rellunae. Masih banyak pasien yang bisa kamu tangani. Orion itu berbeda. Dia bukan pasien yang bisa disembuhkan hanya dengan empati," lanjut pak Novan sembari berjalan ke arah jendela.

"Kalau begitu..." Luna tersenyum tipis. "Bukankah itu alasan mengapa saya harus mencobanya?"

Alis beberapa dokter langsung terangkat secara bersamaan. "Selama ini semua orang hanya melihat kegagalan enam rumah sakit jiwa sebelumnya."

Jemari Luna mengetuk pelan map rekam medis dihadapannya. "Tapi saya justru melihat enam kesempatan yang bisa saya pelajari."

Ruangan kembali hening.

"Saya tidak tau apakah saya akan berhasil atau tidak." Tatapan Luna beralih kepada direktur rumah sakit. "Tapi saya tidak ingin menolaknya hanya karena orang lain pernah gagal."

Pak Noah terdiam. Matanya fokus memandang penampakan diluar jendela. Beberapa detik berlalu sebelum pria itu kembali berbicara. "Bagaimana kalau dia melukaimu?"

Pertanyaan itu membuat seluruh ruangan kembali tegang. Luna mengembuskan napas pelan. "Kalau saya takut terluka, mungkin sejak awal saya tidak akan memilih menjadi psikiater."

Tak ada satu pun yang menyela ucapan Luna. Gadis itu kemudian tersenyum kecil. "Profesi ini bukan hanya tentang menyembuhkan penyakit," lanjutnya. "Tapi juga tentang tetap hadir ketika semua orang memilih untuk pergi."

Direktur rumah sakit perlahan menganggukkan kepala. Sepertinya ia sudah kehabisan kata-kata untuk melawan dokter muda yang satu itu.

"Baik." Beliau membalikkan badan lalu melangkah menuju meja yang dipenuhi oleh orang-orang yang hadir dalam rapat. "Mulai hari ini, pasien Orion Grimm resmi berada dibawah penanganan dr. Rellunae Keller."

☆☆☆

Pintu ruang rapat terbuka. Para dokter mulai kembali ke ruangan masing-masing sambil membawa map berisi berkas pasien. Rellunae berjalan berdampingan dengan seorang wanita berambut sebahu.

"Luna, kamu yakin mau nangani pasien Orion?" tanya wanita itu sambil menyamakan langkahnya dengan langkah Luna.

"Bukankah sudah jelas?"

Maya menghentikan langkahnya sejenak. "Kamu yakin, Lun?"

Mau tak mau Luna ikut berhenti lalu menoleh ke arah sahabat sekaligus rekan kerjanya itu.

"Jujur aja, aku agak khawatir. Rekam medisnya..." Maya menggigit bibir bawahnya. "Ngeri."

Luna tersenyum kecil mendengar ucapan sahabatnya. "Aku juga khawatir."

Maya mengernyit. Satu alisnya reflek naik. "Terus? Kalau khawatir kenapa mau ngambil tanggung jawab itu?"

Sang psikiater muda itu tidak langsung menjawab. Ia melihat sekeliling dan matanya tertuju pada seorang ibu yang tersenyum lebar seraya mengucap kata terimakasih kepada seorang psikiater di hadapannya.

"Karena rasa khawatir itu ngga boleh lebih besar dari keinginan kita buat nolong pasien."

Keadaan disekitar mereka menjadi hening sesaat. Luna kembali melangkah menyusuri koridor rumah sakit yang dipenuhi lalu lalang tenaga medis.

"Dan lagi..." Psikiater muda itu kembali berhenti dan menatap wajah sahabatnya. "Aku ngga mungkin bisa nangani Orion sendirian."

Maya menatap mata Luna.

"Aku butuh kamu." Luna tersenyum hangat. "Aku juga butuh semua orang di tim kita. Kalau kita saling bantu, aku yakin kita bisa memberikan yang terbaik buat pasien."

Terdengar helaan napas. Bukan. Bukan dari Luna, tapi dari sahabatnya yang bernama Maya. Wanita berambut sepundak itu membetulkan kacamatanya dan senyumnya perlahan mengembang.

"Berarti aku ngga boleh kabur, ya?"

Luna terkekeh. "Ngga boleh."

"Yahh... padahal aku udah siap resign," aku Maya yang langsung dihadiahi tatapan maut dari Luna.

"Jangan sampai yah."

Keduanya tertawa kecil. Mereka kemudian melanjutkan langkah menyusuri koridor Rumah Sakit Jiwa Silver Oak. Sesekali mereka masih membahas pembagian tugas tim untuk pasien baru.

"...pokoknya aku butuh bantuan kalian semua," ucap Luna seraya tersenyum. "Aku ngga mungkin bisa nangani pasien seberat itu sendirian."

"Tenang aja," balas Maya. "Kan kita satu tim."

Luna mengangguk kecil. Perhatiannya masih tertuju pada Maya hingga tanpa sadar langkahnya sedikit berbelok.

Brukk

Bahu Luna menghantam bahu seseorang yang berjalan dari arah berlawanan. "Ah!"

Tubuh seseorang yang ditabrak Luna itu oleng ke belakang. Belum sempat menyeimbangkan diri, lutut kanannya membentur sudut bangku besi di koridor.

"Astaga!"

Luna sontak berjongkok di hadapannya. "Maaf! Saya benar-benar tidak sengaja."

Tatapannya langsung jatuh pada lutut pria itu. Kulit di bagian lutut tampak lecet. Setitik darah perlahan merembes keluar. Alis Luna langsung bertaut.

"Lututmu berdarah!"

Pria dihadapannya tidak menjawab. Ia hanya memandangi Luna dengan tatapan datar, seolah tidak merasakan sakit sedikit pun.

"Luna..." Maya memanggil pelan.

"Bentar."

Tanpa berpikir panjang, Luna menoleh ke arah nurse station yang berada tak jauh dari sana. Dirinya buru-buru menghampiri tempat itu untuk meminta kotak P3K. "Mba, boleh minta kotak P3K sebentar?"

Salah seorang perawat segera menganggukkan kepala dan bergegas mengambil kotak berwarna putih. Tak perlu menunggu lama, Luna langsung kembali dengan sekotak berisi obat-obat yang ia butuhkan.

Psikiater itu membuka kotak di tangannya, mengambil kapas steril, cairan antiseptik dan plester. "Ini mungkin bakal sedikit perih."

Tak ada jawaban.

"Kalau sakit bilang, ya?"

Perlahan, ia membersihkan luka di lutut sang pria menggunakan kapas yang telah dibasahi antiseptik. Pria itu tetap diam. Bahkan ketika cairan antiseptik mengenai lukanya, ekspresinya tidak berubah sedikit pun. Hal itu justru membuat Luna semakin heran.

Biasanya orang bakal meringis kalau kena antiseptik, batinnya sambil terus membersihkan luka. Setelah memastikan luka itu bersih, Luna menempelkan plester dengan hati-hati. "Nah, selesai."

Luna kemudian berdiri sementara pria dihadapannya masih duduk. Kedua matanya menatap Luna tanpa berkedip. Tatapannya seperti kosong dan Luna merasa ada sesuatu yang sulit dijelaskan di balik sepasang mata kelam tersebut.

"Maaf..." ulang Luna pelan. "Aku bantu berdiri, ya?"

Gadis bernama Luna mengulurkan tangan. Pria kelam itu melirik tangan tersebut selama beberapa detik. Perlahan, ia menyambut uluran tangan Luna. Maya yang sedari tadi memperhatikan hanya bisa mengembuskan napas lega. "Untung cuma lecet."

Pria kelam itu langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah kata. "Loh..." Luna mengedip bingung.

"Ngga bilang makasih atau apa gitu?" celetuk Maya seraya menatap kemana pria itu pergi.

"Udahlah, May. Yang penting lukanya udah dibersihin."

☆☆☆

Layar komputer yang semula menampilkan data-data pasien kini berubah gelap setelah Luna mematikannya. Ia menyandarkan punggung ke kursi sambil mengembuskan napas panjang. "Akhirnya selesai juga..."

Hari ini Luna baru saja menyelesaikan jadwal konsultasi dengan lima belas pasien. Tak bisa dipungkiri bahwa ada kalanya ia mengeluh dengan pekerjaannya. Bagaimanapun juga, ia tetap manusia yang bisa merasa lelah.

Ting!

Suara notifikasi ponsel memecah keheningan ruangan. Luna meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja.

Renae, pulang bareng ya? Aku udah di depan rumah sakit.

Setelah membaca pesan tersebut, Luna lagi-lagi menghela napas. Ia segera memasukkan laptop dan beberapa berkas ke dalam tas, memastikan tak ada barang yang tertinggal. Setelah itu, ia mematikan lampu ruangan, menguncinya, lalu berjalan cepat menuju lift khusus tenaga medis.

Sesampainya di lift, telunjuknya langsung menekan tombol menuju lantai satu.

Begitu pintu otomatis bergeser ke samping, suasana di luar rumah sakit langsung terlihat. Hembusan angin sore langsung menerpa wajahnya. Rasanya begitu berbeda. Tak ada lagi aroma antiseptik, bunyi monitor pasien, ataupun langkah kaki para tenaga medis yang berlalu-lalang. Yang kini terdengar hanyalah semilir angin dan hiruk-pikuk kendaraan di jalan raya.

Luna merasa sisi manusianya kembali begitu kakinya melangkah keluar dari rumah sakit jiwa. Beberapa helai rambutnya ikut menari tertiup angin. Tanpa sadar, Luna memejamkan mata sejenak sambil menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara segar memenuhi paru-parunya.

"Ah..."

Seketika rasa penat yang sedari pagi menumpuk di bahunya terasa sedikit berkurang. Untuk beberapa saat, ia memilih berdiam diri menikmati suasana sore yang begitu berbeda dengan suasan di dalam rumah sakit. Namun, ketenangannya tak bertahan lama.

"Renae!"

Dari kejauhan, seorang pria melambaikan tangan sambil mempercepat langkahnya ke arah Luna. Wajah si pria dihiasi senyum lebar, seolah sudah menunggu wanita itu keluar sejak beberapa menit yang lalu.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!