Indonesia
NovelToon NovelToon

AKU SIBUK BEKERJA SUAMIKU SIBUK MENCINTAI ORANG LAIN

Bab 1 — 5 Tahun Pernikahan

Langit Jakarta sore itu terlihat mendung dari balik jendela apartemen mewah yang kini menjadi tempat tinggal Nadia dan suaminya.

Nadia berdiri di depan jendela sambil memegang secangkir kopi yang sudah mulai dingin. Tatapannya kosong mengarah pada deretan gedung tinggi yang berdiri kokoh di kejauhan.

Hari ini genap 5 tahun pernikahannya dengan Adrian Mahendra.

5 tahun yang seharusnya menjadi hari bahagia.

Namun entah mengapa, hatinya justru terasa sesak.

Ia tersenyum kecil, pahit.

Pikirannya tanpa sadar kembali pada masa-masa ketika semua ini bermula.

Lima tahun lalu.

Saat itu Nadia hanyalah mahasiswi sederhana di Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Gadis dari keluarga biasa yang berhasil menginjakkan kaki di kampus impiannya berkat beasiswa penuh.

Setiap pagi ia harus berangkat lebih awal daripada mahasiswa lain. Selain kuliah, ia juga bekerja paruh waktu untuk membantu kebutuhan hidupnya di Jakarta.

Hidupnya jauh dari kata mudah. Namun Nadia tidak pernah mengeluh.

Baginya, pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk mengubah nasib keluarganya.

Hari itu, saat sedang duduk sendirian di perpustakaan kampus, takdir mempertemukannya dengan seseorang yang sama sekali berbeda darinya.

Adrian Mahendra.

Mahasiswa paling terkenal di fakultas mereka.

Putra tunggal keluarga Mahendra, salah satu keluarga pebisnis paling berpengaruh di Indonesia.

Dan menjadi idaman hampir seluruh mahasiswi di kampus.

Saat itu Adrian tanpa sengaja mengambil buku yang sama dengan yang hendak Nadia ambil.

Dan sejak hari itu, hidup Nadia perlahan berubah.

Awalnya Nadia mengira Adrian hanya tertarik sesaat.

Bagaimanapun juga, dunia mereka terlalu berbeda.

Adrian tumbuh dengan kemewahan.

Sementara Nadia tumbuh dalam kesederhanaan.

Namun Adrian tidak pernah mempermasalahkan hal itu.

Ia justru selalu hadir di saat Nadia membutuhkan dukungan.

Menemaninya belajar hingga larut malam.

Mengantar makanan saat Nadia terlalu sibuk mengerjakan tugas.

Bahkan rela menunggu berjam-jam di perpustakaan hanya untuk pulang bersama.

Perhatian kecil yang perlahan membuat Nadia jatuh cinta.

Dan ternyata perasaan itu berbalas.

Mereka resmi menjalin hubungan di tahun kedua kuliah.

Saat itu Nadia merasa menjadi perempuan paling beruntung di dunia.

Ia tidak tahu bahwa cinta mereka akan menghadapi ujian yang jauh lebih besar.

Keluarga Mahendra tidak pernah menyukai Nadia.

Sejak awal.

Terutama ibunda Adrian.

Wanita itu selalu memandang Nadia dengan tatapan meremehkan.

Seolah keberadaan Nadia adalah noda yang mengotori kesempurnaan putranya.

"Kamu gadis yang baik. Tapi kamu tidak sepadan dengan Adrian."

Kalimat itu masih Nadia ingat hingga hari ini.

Terucap dengan dingin dan tanpa belas kasihan.

Hari itu Nadia pulang sambil menangis di dalam bus kota.

Namun bukan Nadia namanya jika mudah menyerah.

Sejak saat itu ia berjanji pada dirinya sendiri.

Jika mereka menganggap dirinya tidak pantas...

Maka ia akan membuat dirinya pantas.

Nadia belajar lebih keras dibanding siapa pun.

Siang malam ia habiskan untuk mengejar prestasi.

Ia lulus dengan predikat terbaik. Melanjutkan pendidikan profesi. Menjalani berbagai pelatihan hukum. Hingga akhirnya berhasil menjadi seorang pengacara muda yang diperhitungkan.

Setiap langkah yang ia ambil hanya memiliki satu tujuan.

Membuktikan bahwa dirinya bukan perempuan yang hanya mengandalkan cinta Adrian. Ia memiliki kemampuan. Memiliki harga diri.

Dan mampu berdiri sejajar dengan siapa pun.

Termasuk keluarga Mahendra.

Perjuangan panjang mereka akhirnya membuahkan hasil.

Meski dengan berat hati, keluarga Adrian memberikan restu.

Pernikahan megah yang dihadiri para pengusaha, pejabat, dan tokoh penting akhirnya terlaksana satu tahun lalu.

Saat mengucapkan janji suci di hadapan altar, Nadia benar-benar percaya bahwa seluruh perjuangan mereka telah berakhir.

Bahwa setelah bertahun-tahun mempertahankan cinta, kini kebahagiaan akhirnya menjadi milik mereka.

Namun hidup sering kali tidak berjalan sesuai harapan.

Karena terkadang...

Perjuangan terbesar justru dimulai setelah pernikahan terjadi.

Dan Nadia belum mengetahui bahwa dalam waktu dekat, kepercayaannya kepada pria yang ia cintai selama bertahun-tahun akan diuji dengan cara yang paling menyakitkan.

Pagi itu Nadia terbangun lebih awal dari biasanya. Cahaya matahari yang masuk melalui celah tirai menerangi kamar yang luas dan mewah. Namun kemewahan itu sama sekali tidak mampu mengusir perasaan kosong yang sejak tadi mengendap di dadanya. Di sampingnya, Adrian sudah tidak ada. Sisi ranjang tempat pria itu tidur bahkan sudah dingin, menandakan ia telah pergi cukup lama.

Nadia duduk perlahan sambil memijat pelipisnya. Semalaman ia hampir tidak bisa tidur. Bayangan notifikasi yang muncul di ponsel Adrian terus berputar di kepalanya. Ia ingin mengabaikannya. Ingin percaya bahwa semua itu hanya kesalahpahaman. Namun semakin ia berusaha melupakan, semakin besar rasa tidak nyaman yang menggerogoti hatinya.

Ia berjalan menuju ruang makan dan mendapati meja yang kosong. Tidak ada sarapan bersama seperti dulu. Tidak ada secarik pesan yang ditinggalkan Adrian. Hanya kesunyian yang terasa semakin asing di rumah yang mereka tempati bersama.

Nadia menghela napas panjang sebelum mengambil tas kerjanya. Hari ini ia harus menghadiri persidangan penting. Sebagai pengacara muda yang namanya mulai diperhitungkan, ia tidak boleh membiarkan masalah pribadi memengaruhi pekerjaannya. Meski begitu, langkah kakinya terasa lebih berat dari biasanya.

Sepanjang perjalanan menuju kantor, pikirannya terus melayang ke masa lalu. Ia masih ingat bagaimana Adrian dulu selalu menyempatkan diri mengantarnya ke kampus. Bahkan saat hujan deras atau jadwal kuliahnya padat, pria itu tetap datang hanya untuk memastikan Nadia tidak pulang sendirian. Adrian yang dulu selalu membuatnya merasa dicintai kini terasa seperti sosok yang perlahan menjauh.

Sesampainya di kantor, Nadia berusaha fokus pada pekerjaannya. Berkas-berkas perkara menumpuk di atas meja. Telepon terus berdering. Rekan-rekan kerja hilir mudik membicarakan jadwal sidang. Namun di tengah kesibukan itu, ada bagian dari dirinya yang terus memikirkan Adrian.

Siang hari, tanpa sengaja Nadia membuka media sosial saat sedang beristirahat. Jemarinya berhenti ketika melihat unggahan salah satu kenalan Adrian. Sebuah foto makan siang di restoran mewah bersama beberapa orang. Awalnya tidak ada yang aneh.

Sampai Nadia memperbesar foto tersebut.

Di latar belakang, ia melihat sosok yang sangat dikenalnya.

Adrian.

Pria itu sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita muda berambut panjang. Keduanya tampak tersenyum. Begitu nyaman. Begitu akrab.

Jantung Nadia langsung berdegup kencang.

Mungkin itu hanya rekan kerja.

Mungkin hanya klien.

Mungkin hanya kebetulan.

Namun untuk pertama kalinya dalam satu tahun pernikahan mereka, Nadia mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini selalu ia yakini.

Apakah Adrian masih mencintainya seperti dulu?

Ataukah selama ini hanya Nadia yang terus berjuang mempertahankan cinta yang perlahan telah ditinggalkan oleh pemiliknya?

Kecurigaan itu mulai tumbuh perlahan di hati Nadia.

Awalnya hanya sebuah perasaan kecil yang ia abaikan berkali-kali. Namun semakin hari, perasaan itu justru semakin jelas. Seperti benang kusut yang perlahan terurai, memperlihatkan sesuatu yang selama ini berusaha ia tutupi dengan kepercayaan.

Adrian semakin sering pulang larut malam.

Alasannya selalu sama.

Atau urusan bisnis yang mendadak.

Jika dulu Nadia tidak pernah meragukan satu kata pun yang keluar dari mulut suaminya, kini setiap alasan itu justru membuat dadanya terasa semakin sesak.

Pria yang dulu selalu menceritakan setiap hal kecil dalam hidupnya kini menjadi sosok yang tertutup. Ketika Nadia bertanya, jawabannya singkat. Ketika Nadia mencoba mengobrol, Adrian terlihat tidak fokus. Bahkan saat mereka makan malam bersama, perhatian Adrian lebih banyak tertuju pada ponselnya daripada istrinya sendiri.

Malam itu Nadia kembali terbangun karena merasa sisi ranjang di sampingnya kosong.

Matanya langsung terbuka.

Jam digital menunjukkan pukul satu dini hari.

Adrian tidak ada.

Perlahan Nadia bangkit dari tempat tidur dan keluar kamar.

Langkahnya terhenti saat melihat cahaya redup dari balkon apartemen.

Di sana Adrian berdiri membelakanginya.

Sebuah senyum tipis terlihat di wajah pria itu sambil menatap layar ponselnya.

Senyum yang sudah sangat lama tidak Nadia lihat.

Senyum yang dulu hanya Adrian berikan untuknya.

Entah mengapa pemandangan sederhana itu justru membuat hati Nadia terasa nyeri.

Karena sudah berbulan-bulan Adrian tidak pernah tersenyum seperti itu saat bersamanya.

Nadia memilih kembali ke kamar tanpa mengatakan apa pun.

Untuk pertama kalinya, ia takut mengetahui kebenaran.

Takut jika semua kecurigaannya ternyata benar.

Beberapa hari kemudian, Nadia menghadiri sidang yang berlangsung hingga sore.

Saat keluar dari gedung pengadilan, hujan turun cukup deras.

Ia berdiri di depan lobi sambil menunggu mobil pesanannya tiba.

Namun pandangannya tiba-tiba terpaku pada sebuah mobil hitam yang berhenti di seberang jalan.

Bukankah Adrian mengatakan sedang berada di luar kota untuk urusan bisnis?

Jantungnya mulai berdetak tidak beraturan.

Dari kejauhan, ia melihat pintu mobil terbuka.

Seorang wanita muda keluar sambil tersenyum.

Wanita itu kemudian membungkuk sedikit ke jendela pengemudi seolah sedang berbicara dengan seseorang di dalam.

Meski hujan menghalangi pandangannya, ia tetap bisa melihat sosok pria yang duduk di balik kemudi.

Pria yang seharusnya sedang berada di luar kota.

Pria yang beberapa jam lalu masih mengirim pesan bahwa dirinya sibuk menghadiri rapat penting.

Napas Nadia tercekat.Tangannya perlahan gemetar. Sementara mobil itu melaju pergi meninggalkannya di bawah hujan.

Untuk beberapa saat Nadia hanya berdiri diam.

Membiarkan air hujan membasahi ujung sepatunya.

Membiarkan kenyataan yang baru saja dilihatnya meruntuhkan sedikit demi sedikit kepercayaan yang selama ini ia pertahankan.

Dan untuk pertama kalinya...

Nadia mulai bertanya pada dirinya sendiri.

Jika Adrian bisa berbohong tentang keberadaannya...

Apalagi yang selama ini disembunyikan oleh suaminya?

bab 2 Sikap Adrian Aneh

Nadia dan Adrian memang bekerja di firma hukum yang sama.

Namun berbeda dengan anggapan banyak orang, posisi Nadia justru berada di atas Adrian.

Di usia yang masih tergolong muda, Nadia sudah berhasil menjadi salah satu partner termuda di firma hukum tersebut. Rekam jejaknya nyaris sempurna. Ia dikenal tajam saat berdebat di ruang sidang, teliti dalam menganalisis kasus, dan hampir tidak pernah kalah dalam perkara besar yang ditanganinya.

Namanya bahkan lebih sering disebut media dibanding Adrian.

Karena itulah banyak klien besar yang datang khusus meminta Nadia sebagai kuasa hukum mereka.

Sementara Adrian berada satu tingkat di bawahnya.

Meski memiliki kemampuan yang baik, bayang-bayang nama besar keluarga Mahendra selalu mengikuti setiap langkahnya.

Banyak orang beranggapan Adrian berada di firma itu karena koneksi dan uang keluarganya.

Rumor tersebut beredar cukup lama.

Sebagian orang bahkan terang-terangan mengatakan bahwa tanpa nama Mahendra, Adrian mungkin tidak akan mencapai posisinya sekarang.

Hal itu tentu membuat Adrian tidak menyukainya.

Terlebih ketika orang-orang mulai membandingkannya dengan Nadia.

"Kalau bukan karena istrinya, nama Adrian nggak bakal sebesar sekarang."

"Partner terbaik tetap Nadia."

"Klien datang karena Nadia, bukan karena Adrian."

Kalimat-kalimat seperti itu sering terdengar di lingkungan firma.

Meskipun tidak diucapkan langsung di hadapan mereka.

Awalnya Nadia tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut.

Ia justru selalu membela Adrian.

Baginya, suaminya tetap pria yang cerdas dan pekerja keras.

Namun semakin lama, Nadia mulai menyadari perubahan sikap Adrian.

Pria itu menjadi lebih sensitif ketika namanya dibandingkan dengannya.

Setiap kali media memuji keberhasilan Nadia memenangkan kasus besar, Adrian terlihat tidak nyaman.

Setiap kali firma memberikan penghargaan kepada Nadia, senyum Adrian tampak semakin dipaksakan.

Dan setiap kali ada klien yang lebih memilih Nadia daripada dirinya, sorot mata Adrian berubah dingin meski hanya sesaat.

Suatu sore, firma mengadakan acara penghargaan tahunan.

Para partner, pengacara, dan klien penting hadir memenuhi ballroom hotel mewah tempat acara berlangsung.

Saat nama Nadia diumumkan sebagai Partner Terbaik Tahun Ini, ruangan langsung dipenuhi tepuk tangan meriah.

Nadia berdiri dari kursinya.

Gaun hitam elegan yang dikenakannya membuatnya tampak anggun dan berwibawa.

Ia melangkah ke atas panggung dengan tenang.

Di antara kerumunan tamu, Nadia sempat mencari sosok Adrian.

Pria itu memang bertepuk tangan.

Tersenyum.

Namun entah mengapa senyum tersebut tidak sampai ke matanya.

Seolah ada sesuatu yang sedang disembunyikan.

Sesuatu yang perlahan tumbuh menjadi jurang di antara mereka.

Dan Nadia belum menyadari bahwa rasa rendah diri yang selama ini dipendam Adrian akan menjadi salah satu alasan terbesar yang mendorong pria itu menjauh darinya.

Nadia berdiri di atas panggung sambil menerima plakat penghargaan dengan senyum profesional yang selama ini selalu ia tunjukkan di depan publik. Tepuk tangan masih terdengar memenuhi ballroom mewah itu, namun perhatian Nadia justru tertuju ke arah kursi yang ditemati Adrian.

Kosong.

Nadia mengernyit pelan.

Beberapa menit yang lalu Adrian masih duduk di sana.

Ia bahkan sempat melihat suaminya ikut bertepuk tangan ketika namanya diumumkan sebagai Partner Terbaik Tahun Ini.

Lalu ke mana pria itu pergi?

Perasaan tidak nyaman tiba-tiba muncul di dadanya.

Bukan karena penghargaan. Bukan karena acara.

Melainkan karena akhir-akhir ini Adrian sering menghilang tanpa penjelasan.

Setelah acara selesai, banyak rekan kerja dan klien yang menghampiri Nadia untuk mengucapkan selamat.

Namun senyumnya mulai terasa dipaksakan.

Matanya terus mencari sosok Adrian di antara kerumunan tamu.

Tidak ada.

Nadia akhirnya mengambil ponselnya.

Jemarinya bergerak cepat mengetik pesan.

"Mas, kamu di mana?"

Pesan terkirim.

Tidak lama kemudian hanya centang dua.

Tidak dibaca.

Nadia menggigit bibir bawahnya.

Mungkin Adrian sedang menerima telepon penting.

Namun semakin waktu berlalu, rasa khawatir itu justru semakin besar.

Hampir setengah jam kemudian ponselnya akhirnya bergetar.

Pesan dari Adrian.

"Ada urusan mendadak. Aku pulang duluan."

Hanya satu kalimat.

Tanpa penjelasan lebih lanjut.

Tanpa ucapan selamat atas penghargaan yang baru saja diterimanya.

Tanpa menunggu Nadia yang merupakan istrinya sendiri.

Perasaan aneh kembali menyelinap ke hati Nadia.

Ia menatap layar ponsel cukup lama.

Dulu Adrian adalah orang pertama yang akan memeluknya setiap kali ia meraih prestasi.

Orang pertama yang merasa bangga.

Orang pertama yang merayakannya.

Namun sekarang...

Suaminya bahkan pergi tanpa pamit secara langsung.

Malam itu Nadia pulang seorang diri.

Mobil melaju membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang.

Lampu-lampu kota terlihat berkilauan di balik jendela, tetapi pikirannya terus dipenuhi berbagai kemungkinan.

Yang Nadia rasakan justru kekhawatiran.

Ia takut Adrian sedang menghadapi masalah.

Takut tekanan pekerjaan membuat suaminya terpuruk.

Takut semua komentar dan perbandingan dari orang-orang selama ini melukai harga diri Adrian.

Karena sekeras apa pun Adrian terlihat di luar, Nadia tahu suaminya tetap manusia biasa.

Pria yang juga bisa merasa lelah. Pria yang juga bisa terluka.

Dan sebagai istri, Nadia merasa mungkin dirinya terlalu sibuk hingga tidak menyadari apa yang sedang dirasakan Adrian.

Sesampainya di apartemen, Nadia langsung mencari suaminya.

Nadia kembali melihat pesan terakhir yang dikirim pria itu.

"Aku pulang duluan."

Kalimat sederhana yang kini terasa janggal.

Jika Adrian pulang lebih dulu...

Lalu kenapa pria itu belum ada di rumah?

Jantung Nadia berdegup sedikit lebih cepat.

Untuk pertama kalinya malam itu, rasa khawatirnya perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain.

Sesuatu yang belum berani ia beri nama.

Karena jauh di dalam hatinya...

Nadia takut jika jawaban dari semua kejanggalan ini adalah hal yang paling tidak ingin ia ketahui.

Nadia menatap layar ponselnya untuk kesekian kali malam itu. Tidak ada pesan baru. Tidak ada panggilan dari Adrian. Jam di dinding bahkan sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam.

Ruang apartemen yang biasanya terasa hangat kini terasa begitu sunyi.

Ia duduk sendirian di sofa ruang tamu sambil memeluk bantal kecil di pangkuannya. Jas kerja masih melekat di tubuhnya karena sejak pulang ia bahkan tidak memiliki keinginan untuk berganti pakaian.

Dan sering kali tampak memikirkan sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan.

Sebagai istri, Nadia tentu menyadari perubahan itu.

Hanya saja ia selalu menganggapnya sebagai tekanan pekerjaan.

Bagaimanapun juga, dunia hukum bukanlah dunia yang mudah.

Nadia menghela napas panjang lalu menatap foto pernikahan mereka yang terpajang di rak ruang tamu.

Foto itu diambil tepat setelah akad selesai.

Saat itu Adrian tersenyum begitu lebar sambil menggenggam tangannya erat.

Tatapan mata pria itu penuh cinta Penuh kebanggaan.

Seolah Nadia adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupnya.

Mengingat itu membuat dadanya terasa hangat sekaligus sesak.

Karena semakin ia mengingat Adrian yang dulu, semakin jelas perbedaan pria yang kini pulang larut malam hampir setiap hari. Ponselnya kembali ia buka.

Jemarinya bergerak menghubungi nomor Adrian.

Tetap tidak ada jawaban.

Nadia menggigit bibirnya pelan.

Ia mulai merasa gelisah. Mungkin Adrian sedang menyetir. Mungkin baterai ponselnya habis.

Atau mungkin sedang berada dalam rapat mendadak.

Nadia mencoba mencari berbagai alasan yang masuk akal.

Namun entah kenapa hatinya tetap tidak tenang.

Tepat pukul setengah dua belas malam, suara pintu apartemen akhirnya terdengar.

Nadia yang sejak tadi menunggu langsung bangkit dari sofa.

Adrian masuk sambil melepas jasnya Wajah pria itu tampak lelah Sedikit pucat.

Namun yang paling membuat Nadia memperhatikan adalah aroma parfum asing yang samar menempel di pakaiannya.

Bukan parfum Adrian.

Dan bukan aroma yang pernah Nadia gunakan.

Perasaan aneh kembali muncul.

Meski begitu, Nadia segera menepis pikiran buruk yang mulai muncul.

Mungkin aroma itu berasal dari klien.

Atau rekan kerja.

Ia tidak ingin berpikir macam-macam.

Belum.

"Kamu belum tidur?" tanya Adrian saat melihat Nadia masih berada di ruang tamu.

Nadia tersenyum kecil.

"Aku nunggu kamu."

Untuk sesaat, Adrian terlihat terdiam.

Tatapan pria itu melembut sebelum akhirnya menghela napas pelan.

"Kamu nggak perlu nunggu sampai malam begini."

Nada suaranya terdengar biasa.

Namun entah mengapa kalimat itu justru membuat hati Nadia terasa nyeri.

Dulu Adrian selalu senang jika Nadia menunggunya pulang.

Dulu pria itu akan memeluknya dan meminta maaf karena membuatnya menunggu.

Sekarang...

Semuanya terasa berbeda.

Dan Nadia mulai takut bahwa perubahan ini bukan lagi sekadar karena kesibukan atau pekerjaan.

Melainkan karena ada sesuatu yang perlahan mengambil tempatnya di hati Adrian.

bab 3 teman lama nadia

Di sisi lain kota, jauh dari apartemen yang masih diterangi lampu ruang tamu tempat Nadia menunggu, Adrian duduk di sebuah restoran mewah yang menghadap langsung ke gemerlap lampu Jakarta malam hari. Suasana restoran itu tenang.

Alunan musik piano mengalun pelan di sudut ruangan, bercampur dengan suara percakapan para pengunjung yang terdengar samar. Cahaya lampu berwarna keemasan membuat tempat itu terasa hangat dan nyaman.

Di hadapan Adrian duduk seorang wanita berusia beberapa tahun lebih tua darinya.

Namanya Bianca Pradana.

Salah satu senior partner di firma hukum tempat mereka bekerja.

Wanita yang dikenal cerdas, tegas, dan memiliki reputasi yang hampir tidak pernah tercoreng selama bertahun-tahun berkarier.

Malam itu Bianca mengenakan gaun hitam sederhana yang membuat penampilannya terlihat elegan tanpa berlebihan.

Sesekali wanita itu tersenyum saat berbicara.

Dan Adrian membalasnya dengan senyum yang sudah lama tidak muncul di hadapan Nadia.

"Masih memikirkan penghargaan Nadia?" tanya Bianca pelan sambil mengaduk minumannya.

Adrian menghela napas tipis.

"Terlalu terlihat ya?"

Bianca hanya tersenyum kecil.

"Mukamu selalu mudah dibaca kalau sedang kesal."

Adrian menunduk sebentar.

Tatapannya jatuh pada gelas di depannya.

Di dalam firma hukum mereka, nama Nadia memang sedang berada di puncak.

Semua orang membicarakan keberhasilannya.

Semua orang memujinya.

Semua orang menganggap Nadia adalah pengacara terbaik yang dimiliki firma.

Dan semakin tinggi Nadia dipuji, semakin sering Adrian mendengar namanya dibandingkan dengan istrinya.

Perbandingan yang awalnya bisa ia abaikan.

Namun lama-kelamaan mulai melukai harga dirinya.

Bianca memperhatikan pria di hadapannya dalam diam.

Sebagai senior yang sudah cukup lama mengenal Adrian, ia tahu betul perubahan yang terjadi pada pria itu dalam beberapa bulan terakhir.

Dan terlihat memikul beban yang tidak pernah benar-benar ia ceritakan kepada siapa pun.

"Kamu terlalu keras pada dirimu sendiri," ucap Bianca akhirnya.

Adrian tersenyum hambar.

"Mungkin."

"Tidak semua orang harus menjadi yang paling hebat."

Kali ini Adrian tertawa pelan.

Namun tawa itu terdengar lebih seperti kelelahan daripada kebahagiaan.

Sayangnya, Bianca adalah satu-satunya orang yang menyadari hal itu.

Satu-satunya orang yang mendengarkan tanpa menghakimi.

Satu-satunya orang yang membuat Adrian merasa dirinya tidak sedang dibanding-bandingkan dengan siapa pun.

Percakapan mereka berlanjut pada berbagai hal.

Tentang hal-hal sederhana yang sudah lama tidak Adrian bicarakan dengan Nadia.

Selalu terlihat mampu mengatasi semuanya sendiri.

Hingga tanpa sadar Adrian berhenti menceritakan apa yang ia rasakan.

Dan kini, kekosongan yang seharusnya ia bicarakan kepada istrinya perlahan justru ia bagikan kepada wanita lain.

Sebuah batas yang awalnya tampak tidak berbahaya.

Namun perlahan membawa mereka ke arah yang tidak seharusnya.

Sementara itu, di apartemen mereka, Nadia masih menunggu.

Tanpa mengetahui bahwa malam ini suaminya sedang duduk berdua dengan wanita lain, berbagi cerita yang seharusnya menjadi miliknya sebagai seorang istri.

Adrian tidak mengetahui satu hal.

Wanita yang duduk di hadapannya malam itu ternyata bukan orang asing dalam kehidupan Nadia.

Bianca Pradana pernah menjadi teman satu sekolah Nadia saat SMA.

Mereka berada dalam angkatan yang sama, bahkan beberapa kali berada di kelas yang sama. Namun hubungan mereka tidak pernah bisa disebut dekat.

Saat itu Nadia dikenal sebagai siswi pendiam yang lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan daripada berkumpul bersama teman-temannya.

Aktif dalam berbagai organisasi sekolah.

Dan selalu menjadi pusat perhatian di mana pun ia berada.

Meski saling mengenal, mereka tidak pernah benar-benar berteman.

Hanya sebatas menyapa jika bertemu di koridor sekolah atau sesekali bekerja sama dalam tugas kelompok.

Setelah lulus SMA, kehidupan membawa mereka ke jalan yang berbeda.

Nadia mengejar mimpinya melalui beasiswa dan perjuangan panjang.

Sedangkan Bianca melanjutkan pendidikan hukum di luar negeri sebelum membangun kariernya di berbagai firma besar.

Bertahun-tahun berlalu tanpa kontak.

Sampai akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali.

Enam bulan yang lalu, kedatangan Bianca di firma hukum tempat Nadia bekerja sempat menjadi pembicaraan hangat.

Rekam jejak wanita itu cukup mengesankan.

Pengalamannya menangani berbagai kasus korporasi membuat manajemen firma langsung menempatkannya pada posisi strategis meski baru bergabung.

Hari pertama Bianca datang ke kantor, Nadia hampir tidak mengenalinya.

Wanita yang dulu ia lihat mengenakan seragam abu-abu putih kini berdiri dengan setelan formal mahal dan aura profesional yang kuat.

Namun Bianca langsung mengenalinya.

"Nadia?"

Saat itu Nadia menoleh dari tumpukan berkas di mejanya.

Untuk beberapa detik keduanya saling menatap sebelum akhirnya senyum tipis muncul di wajah Bianca.

"Kita satu SMA dulu."

Mereka sesekali berbicara saat makan siang kantor atau ketika terlibat dalam proyek yang sama.

Bianca bahkan beberapa kali memuji kemampuan Nadia secara terbuka di depan rekan kerja lain.

Hal yang membuat Nadia cukup menghargainya.

Karena berbeda dengan sebagian orang yang merasa terancam oleh pencapaiannya, Bianca justru terlihat profesional dan objektif.

Setidaknya itulah yang Nadia pikirkan.

Sementara itu, dalam enam bulan terakhir, Bianca dan Adrian justru semakin sering bertemu karena menangani beberapa klien besar yang sama.

Namun kedekatan sering kali tumbuh dari hal-hal sederhana yang tampak tidak berbahaya.

Percakapan setelah jam kerja.

Makan malam setelah rapat yang berakhir larut.

Saling bertukar cerita tentang tekanan pekerjaan.

Hingga tanpa disadari, mereka mulai mengenal sisi pribadi satu sama lain.

Sisi yang tidak terlihat di kantor.

Dan malam ini, di restoran yang diterangi cahaya lampu keemasan, Bianca memperhatikan Adrian yang tampak jauh lebih lelah daripada biasanya.

Tatapan wanita itu sedikit melembut.

Sementara Adrian, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, merasa ada seseorang yang benar-benar mendengarkan apa yang selama ini ia simpan sendirian.

Sebuah kenyamanan yang perlahan tumbuh.

Diam-diam.

Tanpa mereka sadari.

Dan tanpa diketahui Nadia sama sekali.

Bianca menatap Adrian dalam diam beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas pelan. Sorot matanya yang biasanya tegas kini terlihat lebih lembut, seolah ada sesuatu yang sedang ia tahan di balik sikap profesionalnya.

“Aku masih ingat kejadian bulan lalu,” ucap Bianca pelan, suaranya tidak setinggi biasanya. “Tentang Nadia…”

Nama itu membuat Adrian sedikit menegang. Tangannya yang semula memegang gelas perlahan berhenti bergerak.

Malam itu, ingatan tentang rumah sakit kembali muncul begitu saja di kepalanya. Ruang putih yang dingin. Aroma obat yang menusuk. Dan Nadia yang terduduk lemah dengan mata sembab, menahan sesuatu yang bahkan tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.

Keguguran itu terjadi begitu cepat.

Terlalu cepat.

Sebelum mereka benar-benar sempat mempersiapkan diri menjadi orang tua.

Bianca menundukkan pandangannya sebentar, seperti ikut merasakan beratnya momen itu. “Kalian pasti sangat terpukul.”

Adrian mengalihkan tatapannya ke arah jendela restoran. Di luar, hujan mulai turun perlahan, membasahi kaca dengan pola yang tak beraturan.

“Dia… terlihat kuat,” jawab Adrian akhirnya, suaranya rendah. “Tapi aku tahu dia sebenarnya tidak baik-baik saja.”

Bianca mengangguk pelan. “Nadia memang selalu seperti itu sejak SMA. Terlihat kuat, tapi terlalu sering memendam semuanya sendiri.”

Ada jeda singkat yang terasa berat di antara mereka.

Adrian mengusap wajahnya perlahan, seperti mencoba menyingkirkan beban yang terus menempel di pikirannya. “Aku bahkan nggak tahu harus bersikap bagaimana setelah itu. Dia cepat sekali kembali bekerja… seolah tidak terjadi apa-apa.”

Bianca menatapnya dengan tenang. “Setiap orang punya cara sendiri untuk bertahan.”

Suara Bianca terdengar lembut, hampir seperti bentuk pengertian yang tidak menghakimi.

“Dan kamu juga tidak bisa terus menyalahkan dirimu sendiri.”

Adrian tersenyum kecil, namun senyum itu tidak sampai ke matanya. “Aku hanya merasa… aku gagal jadi suami yang benar di saat dia paling butuh aku.”

Bianca terdiam. Tatapannya kali ini berubah lebih dalam, bukan hanya sebagai rekan kerja, tetapi sebagai seseorang yang memahami beban yang sedang dipikul Adrian.

“Kadang orang yang paling terlihat kuat justru yang paling sering merasa sendirian,” ucapnya pelan. “Termasuk kamu, Adrian.”

Kata-kata itu menggantung di udara, menekan sesuatu yang sudah lama tidak pernah benar-benar diucapkan di hati Adrian.

Sementara itu, di tempat lain yang jauh lebih sunyi, Nadia masih belum tahu bahwa luka yang sama sebenarnya pernah mereka tanggung bersama.

Dan bahwa diam-diam, luka itu belum benar-benar sembuh sepenuhnya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!