Royal Caroline Hospital London
"Qiarra!"
Gadis yang dipanggil 'Qiarra' itu menoleh dan tampak seorang gadis dengan sneli memiliki wajah yang sama dengan dirinya, menghampirinya.
"Ada apa Queen?" tanya Qiarra sambil berjalan dan membawa map data pasien yang hendak dia visite.
"Kamu sudah dengar? Katanya mau ada investor datang buat menanamkan modalnya di rumah sakit Daddy," jawab Queen.
"Siapa?" tanya Qiarra yang tidak terlalu memperdulikan soal investor karena semua sudah diurus ayah dan Opanya.
"Katanya pengusaha dari Indonesia. Dia mau datang bersama cucunya. Daddy sudah memeriksa perusahaan mereka. Apa kamu tahu, perusahaan mereka bergerak di farmasi. Salah satu perusahaan terbesar di sana," senyum Queen.
"Terus kenapa?" Qiarra masuk ke dalam ruang pasien dan tersenyum ke arah mereka. "Kita cek dulu ya?"
"Baik dokter Gallagher," balas para pasien yang rata-rata lansia karena semua rumah sakit di London sedang mengadakan program operasi gratis.
Qiarra dan Tantenya, Galena Darling, melakukan tindakan operasi pada para lansia penghuni panti jompo di London. Sponsor utama adalah istana Buckingham lewat King Louis. Qiarra yang punya nama lengkap Nabila Qiarra McGregor Gallagher itu memang sudah menjadi dokter bedah. Saudara kembarnya, Nadila Queen McGregor Gallagher. Queen lebih memilih mengambil spesialisasi onkologi, seperti kakaknya Tsuyu dan Daigo Watanabe.
"Aku ingin tahu, dia dari perusahaan mana ya? Kita kan kenal banyak orang berpengaruh dan kaya di Indonesia," ucap Queen.
"Terus kalau sudah tahu, kenapa?" balas Qiarra dengan bahasa Indonesia.
"Yaaa udah tahu ya sudah!" cengir Queen.
"Sekarang, daripada kamu nganggur, periksa deh pasien lainnya. Bisa kan periksa yang basic?" perintah Qiarra.
Queen pun cemberut. "Kamu tuh! Tua sepuluh menit saja main perintah."
"Biar pun cuma sepuluh menit, aku tetap kakak kamu! Sudah, jangan ghibah! Biarin pengusaha itu urusannya Daddy. Oke?" Qiarra kembali fokus ke pasiennya.
Queen menjulurkan lidahnya ke saudara kembarnya lalu mengajak salah satu perawat untuk mendampinginya. Qiarra menghela napas panjang.
Qiarra kadang gemas dengan saudara kembarnya yang sering seenaknya. Bahkan kuliah pun dia paling santai padahal jurusan yang diambilnya cukup rumit.
"Untung dia dikasih otak encer," gumam Qiarra.
***
Ruang Kerja Billy Gallagher
"Jadi Anda masih ada hubungan kekerabatan dengan Pak Subroto, besannya Mas Saki?" tanya Billy Gallagher ke Yunus Prawira.
"Benar Billy. Kami sepupu jauh. Sama-sama arek Suroboyo hanya bedanya, Broto di properti area Jawa Timur kalau saya bidang farmasi. Alhamdulillah, bisnis kami berjalan sangat bagus apalagi usai revolusi gila-gilaan kemarin. Benar-benar reset Indonesia yang membuat para pengusaha senang. Tidak ada ormas yang minta-minta alias malak karena dilibas semua jadi membuat pasar semakin positif," senyum Yunus.
Billy mengangguk. "Alhamdulillah jika sudah semakin baik. Saya ikut senang."
"Jadi Yunus, kamu datang kemari dalam rangka?" tanya Charles McGregor yang mendampingi menantunya, Billy.
"Seperti yang aku bilang padamu, Charles. Aku ingin ikut berinvestasi di rumah sakit ini. Bukankah kalian sudah mengakuisisi rumah sakit ini dan menjadi bagian dari PRC Group di bawah PRC Hospital. Selain obat, aku juga ingin menanamkan modal," jawab Yunus yang kemudian memberitahukan nominal modal yang hendak dia investasikan.
"Tapi ... Kenapa di London? Kenapa tidak di Jakarta?" tanya Billy bingung.
"Karena, cucuku satu ini akan menjadi salah satu manager di perusahaan farmasi kami di Eropa. Kebetulan, kami juga mengakuisisi pabrik farmasi yang nyaris bangkrut di Skotlandia. Kami akan menggantikan semua manajemen disana dan cucuku ini, Jupiter Samudra Prawira, yang akan memimpin di sana," jawab Yunus.
"Apakah kamu lulusan farmasi?" tanya Charles.
"Bioteknologi dan Biokimia sebenarnya, Mr McGregor. Sekarang sedang studi farmasi di University of Strathclyde."
"Glasgow?" tanya Billy.
"Benar," jawab Samudra.
"S1 kamu dimana?" tanya Charles.
"ETH Swiss."
Kedua pria itu tersenyum. "ETH lagi."
"Apa ada yang salah, Charles?" tanya Yunus bingung.
"Tidak. Karena keluarga kami banyak yang kuliah di sana. Apakah kamu pernah mendengar nama Raihanun Park?" tanya Charles ke Samudra.
Pria muda itu tertawa kecil. "Ratu b0m cat di kampus ETH?"
"Benar, itu memang dia," jawab Billy dan Charles bersamaan.
"Masih ada foto konyolnya Mrs Park di kampus teknik. Lengkap dengan TKP hasil karyanya," senyum Samudra.
"Ya ampun, jadi legenda tapi jalur amburadul," kekeh Charles McGregor.
"Sekarang, kita bicara soal bisnis?" tawar Yunus.
***
Samudra meminta izin pada Charles dan Billy untuk berkeliling di rumah sakit yang dulunya rumah sakit milik negara namun karena mengalami banyak masalah keuangan, akhirnya Raja Louis membuat tender pihak swasta diizinkan mengambil alih.
PRC Group lah pemenangnya karena dari segi modal dan kredibilitas sangat mumpuni. Banyak yang mengira Raja Louis memberikan permainan orang dalam. Padahal tender itu dilakukan terbuka di depan umum.
Sekarang usai diambil alih PRC Group dengan anak perusahaannya PRC Hospital, Saat datang tadi, Samudra bisa melihat banyaknya perubahan dan semakin bagus. Para staff juga lebih ramah dibandingkan rumah sakit lainnya.
"Kalau hanya di sekitar koridor, boleh kan, Mr McGregor? Mr Gallagher?" tanyanya kepada direktur utama dan pemilik rumah sakit itu.
"Boleh saja," jawab Charles.
"Terima kasih."
Dengan senyum kecil, Samudra akhirnya keluar dari ruang kerja Billy. Dia berjalan perlahan menyusuri koridor rumah sakit yang ramai. Para perawat lalu-lalang membawa berkas, sementara keluarga pasien duduk menunggu dengan wajah cemas.
Saat melewati area IGD, langkahnya terhenti.
Di tengah kesibukan ruangan itu, seorang dokter wanita berambut pirang tampak memimpin penanganan pasien yang baru datang. Wajahnya tegas, tetapi suaranya terdengar tenang saat memberi instruksi kepada para perawat.
"Periksa tekanan darahnya sekarang. Siapkan ruang observasi," katanya cepat.
Samudra memperhatikan bagaimana semua orang di sana tampak menghormati dokter tersebut. Meski suasana IGD kacau dan penuh tekanan, wanita itu tetap terlihat tenang dan fokus.
"Siapa dia?" gumam Samudra penasaran.
Dia memperhatikan dokter itu beberapa saat lagi sebelum akhirnya bertanya kepada seorang perawat yang kebetulan lewat.
"Maaf, Miss. Dokter yang di sana itu siapa?"
Perawat itu menoleh ke arah yang ditunjuk Samudra lalu tersenyum.
"Oh, itu Dokter Qiarra."
"Dokter Qiarra?"
"Dokter Qiarra Gallagher. Salah satu dokter terbaik di rumah sakit ini. Beliau memang sering menangani kasus-kasus darurat di IGD."
Samudra mengangguk pelan.
"Qiarra Gallagher ..." ulangnya pelan.
Nama itu terasa familiar di telinganya, tetapi entah kenapa membuat rasa penasarannya semakin besar.
Dari kejauhan, Qiarra baru saja selesai menangani pasien dan melepas sarung tangan medisnya. Sesaat wanita itu menoleh ke arah koridor. Tatapannya bertemu dengan Samudra selama beberapa detik.
Samudra spontan memalingkan wajahnya, sedikit malu karena ketahuan memperhatikan.
Namun ketika ia kembali melihat ke arah IGD, Qiarra sudah kembali sibuk dengan pasien lainnya.
Samudra tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak datang di rumah sakit, ada sesuatu yang membuatnya tertarik. Dan sesuatu itu bernama Qiarra Gallagher.
***
Yuhuuuu up malam yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
"Oke sudah semua ya. Suster Lidya, tolong aku diberikan jadwal visite masing-masing pasien di ponsel aku ya. Takutnya aku lupa," ucap Qiarra.
"Baik Dokter." Suster Lidya mencatat semuanya di ponselnya dan mengirimkan datanya ke ponsel Qiarra. "Kadang pihak rumah sakit lupa kan ya Dok."
"Iya. Wajar sih karena IGD banyak dramanya," senyum Qiarra. Mata birunya melihat sekelilingnya dimana banyak orang yang sudah selesai diperiksa termasuk para lansia. Qiarra melihat Queen menghembuskan napas lega karena sudah selesai.
Saudara kembarnya itu pun berjalan ke arah Qiarra dengan wajah cemberut. Qiarra hanya memasang wajah tersenyum manis.
"Next time, aku lebih suka meneliti kanker daripada di IGD!" sungut Queen. "I'm a Queen by the way."
"Ingat, kamu bukan Queen yang Queen. Queen asli itu cuma di kerajaan," balas Qiarra usil. "Kamu cuma pakai buat nama bukan gelar."
Queen menyipitkan matanya. "Udah ah! Aku balik ke area onkologi!" Gadis itu pergi meninggalkan Qiarra yang hanya menggelengkan kepalanya.
"Dasar bontot!" gerutunya.
***
Queen berjalan menuju area vending machine untuk mengambil minuman ringan. Dia sangat haus karena banyaknya pasien tadi dan harus membantu program dari tantenya, Galena Darling dan King Louis.
Queen sedang menenggak jus kalengnya ketika matanya melihat seorang pria Asia sedang celingukan seperti kehilangan arah. Gadis itu menatap penuh perhatian karena the mysterious Boy, sangatlah dandy. Queen pun menghampiri pria itu.
"Are you lost?" tanyanya dengan aksen London.
Pria itu terkejut. "Ah ... dokter Gallagher kan?"
"Benar," jawab Queen dengan wajah bingung.
"Tadi saya melihat Anda di IGD. Perkenalkan, saya Samudra Prawira." Samudra mengulurkan tangannya.
"Dokter Gallagher," senyum Queen sambil bersalaman.
"Nama depan ....?" tanya Samudra.
"Dokter Gallagher! Pasien Anda menunggu," panggil seorang suster.
"Ah ... Maaf. Aku harus menemui pasien aku. Permisi." Queen pun berbalik. Namun dia kembali lagi ke Samudra. "Kamu ganteng by the way."
Samudra melongo. Queen tersenyum manis lalu pergi meninggalkan Samudra. Pria itu tertawa kecil lalu berjalan lagi. Samudra berjalan lagi dan dia kebingungan mencari ruang kerja Billy.
"Duh, aku lupa tanya dimana ruangannya Dokter Billy Gallagher," gerutu Samudra sambil garuk-garuk kepala.
Matanya melihat seseorang sedang membaca pesan di ponselnya dan wajahnya pun tersenyum.
"Dokter Gallagher!" panggilnya.
Gadis itu mendongak. "Ya? Ada yang bisa saya bantu?"
Samudra menatap bingung. "Bukannya tadi kita sudah bertemu?"
Gadis itu mengernyitkan keningnya. "Oh, tadi kamu yang di IGD."
"Eh ... Iya. Aku yang di IGD." Samudra seperti bertemu dengan gadis yang berbeda. "Apa kamu ingat nama aku?"
"Nama kamu?" Mata biru gadis itu tampak berpikir.
"Masa kamu ...."
"Samudra! Ya ampun dicariin!"
Samudra menoleh dan melihat kakeknya berjalan bersama Charles McGregor dan Billy Gallagher.
"Eyang ...." Samudra tersenyum ke arah Yunus Prawira. "Ini Dokter Gallagher ...."
"Lho? Kalian sudah bertemu?" tanya Charles McGregor bingung.
"Bertemu siapa Opa?" tanya gadis itu bingung.
"Qiarra, ini Samudra Prawira, cucunya Eyang Yunus Prawira yang hendak investasi di rumah sakit ini," senyum Billy Gallagher.
Qiarra menatap Samudra. "Jadi kamu cucunya Eyang Yunus?"
"Iya. Apa kamu lupa namaku tadi?" kekeh Samudra.
Qiarra tertegun. Apa jangan-jangan Samudra bertemu dengan Queen ya tadi terus mengira aku itu dia.
"Kita pulang dulu, Sam. Besok kita kembali lagi untuk menyelesaikan semuanya. Opa Charles dan Oom Billy akan bersama dengan pengacaranya dari Blair and Blair untuk prosesnya besok. Kita kan juga harus bawa pengacara," senyum Yunus. "Jadi nama kamu Qiarra ya?"
Qiarra lalu salim ke Yunus membuat Samudra terkejut karena gadis itu tetap santun seperti halnya orang Indonesia.
"Senang bertemu dengan Eyang Yunus." Qiarra tersenyum manis.
"Ah, jadi ini putri kamu, Billy?" tanya Yunus.
"Benar ... Putriku ada kembar. Ini yang sulung, namanya Qiarra. Dia dokter bedah. Kalau adiknya, Queen, ambil spesialis onkologi," jawab Billy.
"Sepertinya ada kakaknya kan?" tanya Yunus lagi. "Apa dia dokter juga?"
"Tidak. Erhan seorang CEO di Burberry. Dia meneruskan Burberry."
"Aku kira dokter juga. Ayo, Samudra, kita pulang dulu. Besok bisa ketemu dengan Qiarra besok," ajak Yunus.
"Baik. Saya permisi dulu, Opa Charles, Oom Billy." Samudra pun salim ke kedua orang itu. "Qiarra, jangan lupa namaku lagi ya?"
Qiarra tersenyum kikuk. "Mungkin bukan aku yang tadi kamu ajak bicara."
Samudra terkejut. "Jangan bilang ... Tadi itu ...."
"Ini pada ngapain berdiri di sini? Bikin penuh koridor lho!"
Samudra menoleh dan melihat wajah Qiarra di sana. Ya Allah, mukanya sama persis!
"Ah, akhirnya bertemu juga dengan saudara kembarnya ya?" kekeh Yunus.
Samudra menatap bergantian antara Qiarra dan Queen. Entah kenapa, dia lebih suka Qiarra.
Queen berkenalan dengan Yunus dan dia tersenyum ke arah Samudra "Halo, aku Queen Gallagher."
"Ah iya. Tadi aku belum sempat mendapatkan nama depan kamu ya," senyum Samudra.
"Betul betul betul," kekeh Queen.
Samudra tertawa. Mereka memang kembar tapi berbeda sifatnya. Qiarra lebih kalem dan misterius, tapi Queen lebih humoris.
"Sampai besok semuanya," pamit Yunus. Samudra mengangguk sopan ke semua orang.
"So, bagaimana pasiennya?" tanya Billy. "Ada yang aneh-aneh?"
"Aman semua Daddy," jawab Qiarra, tenang seperti biasanya.
"Kalau gitu, Opa pulang dulu ya," senyum Charles.
"Aku antarkan Dad?" tawar Billy.
"Tidak usah. Kan ada Patrick. Ada sopir, aman lah! Lagipula, aku harus laporan ke Radhi juga sebagai salah satu pemilik rumah sakit ini juga kan?" senyum Charles.
Qiarra dan Queen salim ke Charles yang diantarkan Billy ke parkiran.
"Eh, Qia ... Si Samudra itu ganteng ya?" kerling Queen.
"Apa kamu naksir?" tanya Qiarra santai.
"Boleh tuh! Kan dia akan sering-sering ketemu di sini kan?" Queen memasang wajah antusias.
"Sana ...." Qiarra kembali berjalan ke arah lorong rumah sakit dan Queen mengikutinya.
"Aku ambil ah!" ucap Queen.
"Lha, memangnya Samudra punya siapa? Lagipula, kan kita baru bertemu hari ini," senyum Qiarra.
"Lha siapa tahu kamu naksir," kekeh Queen.
"Bukan tipe aku. Aku tahu, dia tipe kamu, Queen. Kejar saja kalau memang kamu suka," jawab Qiarra.
"Yakin nih?" Queen menatap wajah kembarannya.
"Positif!"
***
Di dalam mobil Yunus melihat wajah Samudra yang tampak melamun. Dia pun penasaran.
"Mikirin apa? Uang investasi?" tanya Yunus.
"Bukan. Aku yakin uang kita akan baik-baik saja di sana," jawab Samudra.
"Apakah ... Kedua gadis kembar itu?" tebak Yunus.
Samudra tersenyum.
"Apakah kamu ingin berkenalan lebih jauh dengan salah satu dari mereka?" tanya Yunus.
"Iya, Eyang."
"Yang mana? Pasti Queen. Eyang suka gadis itu," ucap Yunus.
Samudra tidak membalas. Bukan Eyang. Aku suka Qiarra.
***
Yuhuuu up malam yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
Keesokan paginya, Qiarra sudah sibuk di IGD. Entah mengapa, dia paling suka berada di IGD dibandingkan di praktek yang nyaman. Qiarra mengakui ucapan iparnya, dokter Lucky Buwono yang selalu bilang di IGD pasti ada banyak kasus yang membuat 'hah' 'heh' 'hoh' karena gebrakannya ada saja.
Seperti biasa dia memeriksa kondisi pasien yang masuk kemarin bersama suster Lidya. Suster senior itu ditunjuk Billy sebagai pendamping Qiarra. Suster Lidya memang lebih senang mendampingi Qiarra dibandingkan Queen karena lebih serius.
"Pasien yang di kamar rawat enam sudah boleh pulang, Dokter. Kondisinya sudah stabil dan tidak ada komplikasi pasca operasi yang Anda lakukan kemarin," lapor Suster Lidya sambil membaca papan pasiennya.
"Sudah aman semua?" tanya Qiarra sambil berjalan ke kamar pasien yang dimaksud.
"Hasil cek darah, tensi dan semua, oke Dok."
Qiarra mengangguk dan mengetuk pintu kamar pasien. Wajahnya tersenyum profesional saat melihat pasiennya sudah tampak lebih baik.
"Bagaimana keadaan Anda pagi ini, Ma'am?" sapa Qiarra manis.
***
Samudra merasa kesal karena acara penandatanganan kontrak bisnis antara Royal Caroline Hospital di bawah bendera PRC Hospital dan PRC Group dengan perusahaan farmasi milik keluarganya, tidak dilangsungkan di rumah sakit.
Dia tidak menyangka jika acaranya dilakukan di ruang pertemuan kantor pengacara Blair and Blair London. Pengacara senior Aslan Blair Zidane tampak mendampingi, begitu juga dengan pengacara keluarga Prawira yang sudah datang dari Surabaya bersama pengacara yang ditunjuk di Inggris.
"Kenapa kamu cemberut?" tanya Yunus. "Mau ke rumah sakit?"
"Kukira akan di sana acaranya," gerutu Samudra.
"Tidak, anak Lanang. Di sini lebih resmi dan tidak ada suara code blue. Eyang agak trauma kalau dengar itu," bisik Yunus.
Samudra tidak menyalahkan Yunus karena dulu sebelum Eyang putrinya meninggal karena serangan jantung, mereka mendengar suara code blue setiap kali Eyang putrinya terkena serangan. Tak heran jika Yunus sering freeze jika mendengar suara itu.
"Selesai ini aku mau ke Royal Caroline," putus Samudra.
"Iya sana."
***
Royal Caroline Hospital London
Queen sedang minum teh dan makan rotinya di taman depan dekat pintu masuk rumah sakit. Mata hijaunya melihat situasi rumah sakit milik keluarganya yang sedikit lengang di jam makan siang ini. Dia tadi sudah mengajak Qiarra makan siang bersama tapi kembarannya ada operasi mendadak bersama dokter senior. Queen akhirnya makan sendirian.
Sebuah mobil Range Rover masuk ke area parkir dan wajah Queen langsung sumringah saat tahu siapa yang datang. Samudra turun sambil membenarkan jasnya dan melihat sekelilingnya. Dia melihat Qiarra sedang makan di taman. Samudra pun tersenyum.
Jupiter Samudra Prawira
Samudra pun mendatangi Queen. Senyumnya terkembang dan membuat Queen merasa hari ini sangat cerah cetar membahana padahal London sedang mendung.
"Halo Qiarra ... Ngapain?" sapa Samudra.
Queen terdiam sekian detik. Kenapa dia mengira aku Qia?
"Oh, aku lagi makan siang," jawab Queen berusaha mengikuti alur.
"Queen tidak makan siang sama kamu?" tanya Samudra sambil melihat sekelilingnya.
"Nggak. Queen sibuk. Sebenarnya kamu cari siapa sih? Qiarra atau Queen?" tanya Queen berusaha mencari tahu tapi dengan gaya khas Qiarra. Dia juga bersukur, tag namanya hanya 'Q, Gallagher' jadi tidak diketahui siapa yang sebenarnya.
"Aku cari Qiarra sih sebenarnya," jawab Samudra.
"Ada apa kamu cari aku?" tanya Queen yang tidak kesulitan meniru gaya kembarannya.
"Pengen ngobrol saja."
Queen mengangguk. "Kamu kok rapi ... Habis dari mana?" tanyanya dengan gaya cool dan dingin Qiarra.
"Bertemu di kantor pengacara Blair and Blair. Hari ini kan penandatanganan penanaman investasi dan kerjasama lainnya."
"Oh begitu."
Samudra menatap Queen. "Kalau Queen dokter onkologi, kamu dokter bedah?"
"Iya."
"Kenapa tidak mau seperti Oom Billy?"
Queen tertawa kecil. "Rumit dan lebih pusing. Apalagi itu kan berhubungan dengan otak manusia."
"Bedah kan juga rumit," ujar Samudra.
"Benar. Tapi tidak serumit otak manusia. Salah sedikit, syaraf yang kena. Dan itu dampaknya besar sekali. Eh, aku panggil nama atau pakai 'mas'?" tanya Queen.
"Kamu umur berapa?" balas Samudra.
"25. Kamu?"
"30 tahun. Tapi kamu bule kok panggil aku Mas?" senyum Samudra bingung.
"Di keluarga aku, tetap seperti itu. Sama yang lebih tua harus panggil mas, mbak, Oom, Tante karena aturannya begitu. Kita masih saklek soal aturan khas Jawa. Ya kan? Kan Mas Samudra orang Jawa," jawab Queen.
Samudra paham. "Ternyata cerita tentang keluarga kalian yang selalu sopan, itu benar."
"Biasa saja Mas. Selama kamu menghormati orang lain maka orang lain akan menghormati kamu."
Qiarra yang baru saja selesai melakukan operasi dan hendak makan siang bersama adiknya, terkejut saat melihat Queen bersama Samudra. Mereka tampak asyik mengobrol dan Qiarra memilih untuk membiarkan kedua orang itu.
"Dokter Gallagher dua, tidak jadi bersama dengan Dokter Gallagher tiga?" tanya Suster Lidya.
Di rumah sakit sampai ada pemanggilan nama dokter Gallagher satu yaitu Billy, dua Qiarra dan tiga Queen. Terkadang malah pakai nama Qiarra dan Queen.
"Queen sedang ada temannya. Yuk, Sus Lidya. Kita makan siang di cafetaria saja." Qiarra tersenyum tipis karena setidaknya Queen memang serius mengejar Samudra.
***
"Sepertinya aku terlalu banyak menyita waktu kamu, Qiarra. Bagaimana jika kita makan siang besok yang lebih mendingan daripada roti dan teh dingin yang tidak seenak teh Solo," ajak Samudra.
"Boleh Mas. Aku lihat jadwalku dulu ya?" Queen mengambil ponselnya. "Aku kosong kok besok."
"Sekalian kita tukar nomor ponsel ya?" senyum Samudra.
"Boleh." Mereka saling bertukar nomor ponsel dan Samudra pun berpamitan pada Queen.
"Ternyata kamu tidak jutek-jutek banget ya Qiarra," kekeh Samudra.
"Selama tidak bertemu pasien rumit, aku tidak jutek Mas. Mungkin kemarin aku begitu karena capek," jawab Queen kalem.
"Jangan capek-capek Qiarra. Kamu harus jaga kondisi kamu ya," senyum Samudra. "Aku kabari kamu secepatnya."
"Oke Mas." Queen melambaikan tangannya saat Samudra masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan area parkiran.
Gadis itu tampak senang namun setelahnya dia terdiam. "Jadi, dia mengira aku Qia? Jangan-jangan, dia naksir Qia." Queen menoleh ke arah rumah sakit. "Tapi Qia tidak suka Mas Samudra. Ya sudah deh, aku tetap jadi Qia biar tetap bersama Mas Samudra. Sorry, Qia ... aku cosplay kamu dulu ya?"
Queen pun masuk ke dalam rumah sakit tanpa tahu bahwa ke depannya akan membuat masalah.
***
Yuhuuuu up Pagi Yaaaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!