Rumah besar keluarga Abimana dipenuhi pelayat. Hari itu adalah hari pemakaman Nenek Ratih, wanita yang selama ini menjadi satu-satunya orang yang menyayangi Alya.
Tangis para keluarga terdengar jelas, bersahutan dengan suara doa-doa para pelayat yang hadir. Di sini Alya hanya bisa menatap kosong, entah apa yang terjadi setelah kepergian wanita paling disegani di keluarga Abimana tersebut.
"Nak, sabar ya setiap yang hidup pasti akan mati," ucap seseorang sambil menepuk pelan punggungnya.
Nek Irma. Wanita paruh baya itu merupakan sahabat dekat Nenek Ratih, dan dia tahu bagaimana hidup Alya di keluarga Abimana ini.
Alya yang melihat kedatangan wanita paruh baya itu. Langsung memeluknya dengan erat. "Makasih banyak Nek, sudah ingetin Alya."
Wanita paruh baya itu memejamkan mata sejenak. "Ikhlaskan apapun yang terjadi kamu tetap pemenangnya, dan Ratih pasti akan bahagia melihat kamu kuat Nak," ujar wanita itu.
Alya sedikit berpikir dengan ucapan Nek Irma, akan tetapi saat dirinya ingin memperjelas, wanita paruh baya itu sudah pergi terlebih dahulu, karena bergantian tempat dengan pelayat yang baru datang.
Sementara Alya sendiri merasa ada yang disembunyikan oleh wanita tersebut, namun dirinya buru-buru menghilangkan perasaan itu dari pikirannya. Ia pun kembali menyalami para pelayat yang hadir di rumahnya.
Setelah beberapa jam kemudian...
Alya berdiri di samping pusara dengan tongkat penyangga di tangan. Kaki palsunya terasa nyeri sejak pagi, tetapi ia berusaha bertahan meskipun suaminya ada di sampingnya.
Pria itu terkesan cuek seolah hanya dia yang paling berduka atas kepergian neneknya.
"Sekarang Nenek sudah tidak sakit lagi, Arlan bersaksi jika Nenek orang baik," ucap pria itu dengan mengelus batu nisan yang baru terpasang.
"Iya Ma. Kami berduka atas kepergian Mama, tapi Tuhan sudah menentukan jalan terbaiknya," ucap Erika. Ibu dari Arlan.
Setelah prosesi doa selesai semua orang pulang satu persatu meninggalkan tempat peristirahatan Nek Ratih yang terakhir kalinya. Di situ hanya tinggal para keluarga saja.
Dan di tengah tangis keluarga, Alya justru merasa kehilangan yang berbeda. Nenek Ratih bukan hanya nenek mertuanya. Wanita tua itu adalah alasan mengapa ia mampu bertahan selama tiga tahun dalam pernikahan yang dingin.
Bahkan disisa usianya wanita paruh baya itu masih memberi pesan yang menyentuh agar Alya tetap menjadi istri baik, karena suatu saat beliau yakin Arlan pasti akan berubah.
"Nek, makasih atas semua nasihat kehidupan yang selalu Nenek berikan, jujur saja aku sangat kehilangan Nek," gumam Alya sebelum akhirnya meninggalkan pusara Nek Ratih.
Alya berjalan melewati jalan setapak bersama suami dan keluarganya yang lain. Di tengah perjalanan tiba-tiba langkah Alya melambat, tidak bisa menyeimbangi langkah mereka yang cepat.
Tapi diantara mereka seperti tidak menyadari dengan langkahnya yang melambat, entah mereka sengaja atau tidak namun saat Alya sampai di dalam mobil raut wajah mereka muram seperti orang menahan kesal.
"Kalau jalan cepetan dikit bisa gak, dari tadi semua orang disuruh nungguin kamu," cetus Erika.
Belum sempat ia membuka pintu ibu mertuanya sudah mengomel tak jelas, semua keluarga yang ikut menumpang di mobil itu hanya terdiam menyaksikan Alya dimarahi dan yang paling membuat dadanya sesak, suaminya juga ikut diam seolah membenarkan semua tudingan itu padanya.
"Maaf, jika membuat semua menunggu, tapi kali ini kaki ku benar-benar sakit," jelas Alya.
"Hallah alesan saja, biar apa coba kamu bilang begitu, biar kita kasihan. Yang ada hanya buat kita semakin enek dengan dramamu itu," sahut Erika.
"Terserah Mama mau percaya atau tidak. Akupun tidak memaksa," sahut Alya, lalu menutup pintu mobil cukup keras hingga suasana di dalam mobil itu terasa semakin canggung.
"Tuh kan istrimu itu Arlan, ada kamu saja sia berani melawan Mama," kata Erika.
"Aku, tidak akan melawan jika Mama tidak menyudutkan aku dulu," sahut Alya.
"Cukup!" Suara Pria itu terdengar mendominasi membuat suasana di dalam mobil seketika hening.
Erika mendengus kesal. Sementara Alya membuang pandangannya ke arah jendela sambil menekan dadanya yang terasa penuh.
Beberapa detik berlalu tanpa ada yang bicara hingga pria yang ada di jok kemudian itu bersuara.
"Aku capek!" lanjut Arlan sambil memijat pelipisnya. "Hari ini hari pemakaman Nenek. Jadi tolong jangan bikin suasana semakin buruk."
Deg!
Kalimat itu membuat dada Alya semakin sesak, dalam keadaan seperti ini Alya merasa posisinya benar-benar terjepit.
"Aku yang membuat suasana memburuk," ucap Alya sambil menunjuk wajahnya sendiri."
"Tolong Alya jangan mulai lagi," sahut Arlan dengan cepat.
Perempuan itu tersenyum tipis, senyum yang seperti menahan kecewa. Sejak kapan membela diri dianggap masalah dan menjelaskan rasa sakit yang ia rasakan dianggap drama.
Mereka memang tidak pernah merasakan apa yang Alya rasakan, tapi mereka juga tidak mempunyai hak menilai Alya sedemikian rupa.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Sementara Alya menahan rasa sakit kaki kirinya yang kembali berdenyut nyeri di balik kaki palsu yang dikenakannya. Namun rasa sakit itu kalah jauh dibandingkan luka di hatinya.
☘️☘️☘️☘️☘️
Mobil berhenti tepat di halaman rumah mereka, Alya membuka pintu mobil, lalu berjalan masuk, tanpa menoleh ke arah siapapun. Perempuan itu main nyelonong saja tanpa pedulikan ucapan sang mertua yang selalu mengintimidasi dirinya.
"Tuh kan kamu lihat sendiri, padahal dia di terima dengan baik di rumah ini, tapi kelakuannya kaya gitu," ucap Erika seolah menyudutkan Alya dihadapan anggota keluarga lainnya.
"Bener banget, kejadian kecil saja sampai dimasukkan ke dalam hati. Memangnya dia siapa minta dimengerti," sahut Tante Lasmini.
Dan di tengah keriuhan para keluarga yang menyudutkan istrinya, tak sedikit pun hati Arya ingin membela ataupun melindungi istrinya. Pria itu memilih berjalan masuk tapi tidak ke dalam kamar. Melainkan ke ruang kerjanya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Beberapa menit kemudian, Alya yang baru saja memenangkan pikirannya di dalam kamar. Tiba-tiba pintu terketuk, dan disitu terdengar jelas suara asisten rumah tangganya yang sedang menyampaikan pesan.
"Non disuruh Tuan Arlan ke ruang kerjanya," kata suara dari luar kamar.
Alya mengernyit, tumben sekali suaminya itu menyuruh dirinya datang ke ruang kerjanya. Padahal selama tiga tahun ini suaminya itu tidak pernah mengijinkan Alya sama sekali menginjak ruangan itu.
Dengan perasaan yang bimbang Alya melangkah perlahan dan sesampainya di tempat itu. Wajah tanpa ekspresi suaminya terlihat jelas.
Arlan berdiri dibalik sebuah meja, lalu tangannya menyodorkan sebuah map berwarna cokelat.
"Aku sudah menjalankan keinginan Nenek selama tiga tahun ini," ucap Arlan datar.
Kalimat itu membuat jantung Alya berdegup tidak menentu. Dengan tangan gemetar, ia membuka map tersebut. Dalam hitungan detik, seluruh warna di wajahnya lenyap.
Surat talak.
Matanya bergerak cepat membaca setiap lembar yang ada di sana, seolah berharap semuanya hanya kesalahpahaman. Tapi ternyata tidak.
Surat itu asli seolah sudah dipersiapkan dari jauh-jauh hari.
"Selama tiga tahun ini. Aku seperti tidak bebas menentukan jalan hidupku. Dan sekarang aku mohon padamu untuk menerima semua keputusanku tanpa banyak drama."
Alya menatap wajah Arlan dengan seksama, ia merasa seolah menjadi penghambat jalan hidup seseorang yang ada dihadapannya.
"Jadi, pernikahan itu hanya kepura-puraan," ucapnya dengan bibir yang bergetar. "Bahkan kamu berucap dihadapan penghulu dan berjanji pada Tuhanmu, itu semua kamu lakukan karena ketidakberdayaan mu melawan Nenek?"
Arlan hanya terdiam namun tangannya perlahan mengepal seolah membenci dirinya sendiri.
"Ternyata selama tiga tahun ini, aku belajar menjadi istri yang baik, istri yang patuh," ucapnya terputus. "Itu semua tidak ada artinya di hadapan matamu, karena kamu hanya menganggap ku penghambat masa depanmu."
"Alya bukan maksudku sperti itu..."
"Sudah stop!" sahut Alya. "Dan sekarang aku akan pergi tanpa drama seperti yang kamu inginkan," lanjut Alya.
Perempuan itu meninggalkan ruang kerja suaminya dengan perasaan hancur. Hari ini Nenek Ratih meninggal. Satu-satunya orang yang selama tiga tahun terakhir selalu berdiri di sisinya telah pergi untuk selamanya.
Dan kini... bahkan sebelum tanah di atas makam wanita itu benar-benar mengering, surat talak sudah ada di tangannya.
Bersambung ....
Kakak ...
Aku datang lagi dengan karya terbaruku. Minta dukungannya ya dan jangan lupa selalu tinggalkan jejak di kolom komentar
Alya melangkah menuju kamarnya dengan hati yang penuh kesadaran perempuan itu mulai mengambil koper lalu memasukkan bajunya satu-persatu.
Ternyata selama tiga tahun ini sikap dingin suaminya, tatapan datarnya saat mereka berhubungan, semuanya terjawab sudah dan anehnya ia baru menyadari sekarang, jika tidak ada tempat di hati suaminya untuk menerimanya bahkan setelah tiga tahun pernikahan.
Air mata perlahan menetes, entah karena hancur atau menertawakan kebodohannya. Alya berdiri lalu menatap foto pernikahan yang terpajang di dinding kamarnya.
Di dalam foto itu suaminya terlihat gagah dengan senyum terbaiknya, dan yang paling menyakitkan ternyata senyum itu palsu.
"Hari ini aku akan pergi Mas, mungkin esok atau lusa kita tidak akan pernah bertemu dan semoga saja Tuhan tidak menemukan kita kembali dalam pertemuan apapun," gumamnya lirih lalu menggeret kopernya penuh dengan luka.
Sebelum keluar dari rumah ini Alya menyempatkan diri masuk ke kamar Nek Ratih, dan hatinya kembali hancur saat dirinya memegang foto wanita paruh baya itu.
"Nek, maafin Alya. Alya gak bisa jaga amanah Nenek. Hari ini Alya pergi dari rumah Nenek," ucapnya entah kenapa masuk di dalam kamar almarhumah neneknya air mata Alya justru tidak bisa terbendung lagi.
Perempuan itu tidak mengambil apa-apa. Ia hanya membawa foto kecil Nek Ratih jika sewaktu-waktu rindu terhadap wanita yang sudah pergi mendahuluinya itu.
"Maaf ya aku ambil foto Nenek," ucap Alya sambil mengusap air mata yang bercucuran.
Dengan cepat Alya memasukkan foto itu di dalam kopernya, lalu melangkah keluar tanpa menoleh kebelakang karena sudah tidak ada alasan lagi untuk bertahan. Namun saat sampai di ruang tamu tiba-tiba langkahnya terhenti.
Karena ia mendengar suara yang begitu jelas di telinganya.
"Akhirnya anakku sekarang bebas," ucap Erika.
"Bener sekali, mulai saat ini Arlan sudah bisa menentukan mimpinya yang sejak dulu tertahan," sahut Lasmini.
Lalu Erika menatap bangga pada sang anak yang menurutnya sudah berani mengambil keputusan yang tepat.
"Makasih ya Nak, aku tahu selama tiga tahun ini kamu tidak bahagia, dan waktu itu Mans tidak bisa berbuat apa-apa karena masih ada nenekmu," ujar Erika.
"Gak masalah. Dan kali ini Arlan merasa keputusan Arlan sudah tepat."
Deg!
Dunia Alya seakan hancur mendengar semua ucapan yang ia telan mentah-mentah. tubuhnya bergetar hebat, seharusnya perkataan menyakitkan ini tidak harus ia dengar. Seorang suami yang harusnya menjaga dan melindungi tapi justru memojokkan istrinya di hadapan keluarganya.
Dengan rasa kecewa yang teramat dalam Alya memberanikan diri untuk melewati mereka yang masih duduk di ruang tamu.
"Baiklah," ucapnya dengan suara bergetar dan menahan tangis. "Aku akan pergi sesuai permintaan kalian."
Seketika suasana menjadi sunyi, semua mata menoleh dengan keterkejutan yang tidak pernah direncanakan, apalagi wajah Arlan entah kenapa diantara kedua orang itu justru wajahnya yang terlihat panik.
"Aku akan pergi dari hadapan kalian untuk selama-lamanya," ujarnya mencoba untuk kuat. "Dan semoga saja di kehidupan mendatang perempuan yang kau sebut sebagai penghambat ini tidak akan menampakkan dirinya kembali."
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi Arlan jelas merasakan bagaimana hancurnya hati Alya, bahkan perempuan itu tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya terhadap dirinya dan keluarganya.
Arlan memejamkan mata sejenak, betapa bodoh dan cerobohnya dirinya. Bisa-bisanya dalam situasi genting seperti ini ia masih saja memojokkan istrinya.
"Alya maafkan aku," ucapnya pelan.
Sementara Alya tidak menggubris, perempuan itu sudah terlanjur sakit hati dengan perlakuan mantan suaminya itu.
"Aku memang bukan wanita yang kau idamkan, tapi aku juga punya hak dan harga diri, untuk membela diriku," ucapnya sambil menatap tajam wajah Arlan. "Dan asal kau tahu, mungkin di mata dunia aku tidak sempurna, tapi aku punya cinta yang tulus yang tidak bisa kau temukan di wanita manapun," tandas Alya.
Suasana hening sejenak, dan setelah berucap seperti itu, tanpa banyak basa-basi Alya langsung menggeret kopernya keluar, tidak ada dari salah satu mereka yang mencegahnya bahkan mereka cenderung menginginkan semua ini terjadi.
Dan setelah sampai di depan gerbang Alya membalikan tubuhnya, bukan untuk masuk kembali, melainkan untuk menatap rumah itu untuk terakhir kalinya.
Tiga tahun yang lalu mungkin ia datang dengan harapan dan ketulusan, namun sekarang ia pergi membawa luka, kehampaan dan hati yang telah patah.
"Tuhan sekarang tugasku menjadi istrinya sudah selesai, semoga luka ini menjadi saksi betapa sakitnya hati istri yang tak diinginkan," gumam Alya sambil menekan dadanya.
Di bawah terik matahari perempuan itu menyeret kopernya, kaki kirinya mulai terasa nyeri, karena sudah berjalan sejauh itu dari rumahnya, Alya berhenti sejenak sambil duduk di depan ruko kosong.
Hari ini ia masih belum tahu harus membawa dirinya kemana, karena memang di dunia ini ia tidak punya siapa-siapa. Ia hanya seorang anak yatim piatu yang dulu dititipkan ke panti.
Karena keuletannya ia bisa bekerja di toko kerajinan tangan pada waktu itu, dan awal mula pertemuannya dengan Nek Ratih.
Alya tersenyum tipis, menertawakan kehidupan yang mulai mengombang-ambingkan hatinya tapi di tengah-tengah lelah itu ia teringat akan nasihat mendiang Nek Ratih.
"Tetaplah menjadi kuat Neng, meskipun
badai menerpa. Ingat berlian akan tetap menjadi berlian sekalipun ia terpendam puluhan tahun di dalam lumpur yang dalam."
Seketika Alya mulai bangkit dari duduknya, perempuan itu seolah tidak mau berlarut dengan kesedihannya saat ini. Mungkin cintanya boleh tidak terbalas dan rumah tangganya boleh gagal. Akan tetapi sebagai manusia di dalam kehidupan selanjutnya Alya tidak boleh gagal.
"Aku tidak akan menyerah Nek, aku yakin bisa menemukan kebahagiaan dengan caraku sendiri." tutur Alya sambil menyusuri jalanan kota yang terlihat ramai dengan hilir mudik kendaraan.
Bersambung ....
Setelah turun dari bus, Alya kembali melangkah dengan membawa kopernya tanpa peduli dengan panasnya sinar matahari yang membuat matanya sedikit silau. Kali ini ia sudah membulatkan tekad menuju ke sebuah tempat di mana dulu ia dibesarkan, namun langkahnya terhenti sesaat. Ketika tulisan besar terpampang cukup jelas di depan pagar.
Panti ini sudah ditutup.
Dada Alya bergetar hebat, bagaimana mungkin panti ini bisa ditutup padahal dua bulan yang lalu ia masih berhubungan baik dengan pemilik panti yang baru.
"Panti ditutup dan aku tidak tahu apa-apa," ucapnya dengan tatapan kosong.
Kali ini harapan Alya benar-benar runtuh, padahal tempat itu satu-satunya tujuan setelah ia ditalak suaminya. Alya memejamkan mata perlahan tubuhnya yang sedari lemas perlahan terduduk di emperan.
"Tuhan harus kemana lagi aku pulang," gumamnya lirih.
Alya pun mencoba menghubungi nomor ibu panti, yang tertera di handphonenya, namun tidak ada sambungan, sepertinya nomor itu sudah tidak aktif.
Alya menurunkan ponselnya dengan tangan bergetar. padahal tadi pagi ia masih menjadi seorang istri dan masih tinggal di rumah yang aman. Dan di detik berikutnya ia kehilangan tempat tinggal itu tanpa direncanakan. Bahkan salah satu tempat yang menjadi tujuannya pun sudah tidak ada.
Setelah cukup beristirahat di depan gerbang panti. Perempuan itu mulai melanjutkan perjalanannya meskipun hanya mengikuti kata hati saja. Karena saat ini ia benar-benar sendiri.
Alya akhirnya berjalan menyusuri gang kecil yang tidak terlalu jauh dari panti. Di ujung gang sana, seingatnya ada sebuah kos-kosan barang kali saja masih ada yang kosong.
Langkah Alya sudah sampai di gerbang kost. Nampaknya di situ tertera tulisan. "Masih menerima kost perempuan". Entah kenapa mata Alya sedikit berbinar, setidaknya untuk sekarang ia bisa mempunyai tempat tinggal meskipun tidak semewah rumah suaminya.
"Mbak mau cari apa?" sapa seseorang dari depan gerbang.
Alya yang memang membutuhkan seseorang untuk bertanya. Ia langsung menjawabnya. "Aku mau cari kost-kostan. Di tempat ini apa masih membutuhkan penghuni kos?"
Perempuan muda itu tersenyum sumringah. "Masuk dulu Mbak, kebetulan di tempat kami masih banyak kamar kosong, jadi kalau mbaknya berminat monggo," sahut gadis itu ramah.
Alya pun mengangguk kecil perempuan itu mulai bersedia dan masuk ke dalam rumah pemilik kost tersebut.
"Perkenalkan Mbak," kata gadis itu. "Namaku Emilia pemilik kost ini."
"Aku Alya."
"Oh ya Mbak Alya, di tempat kami masih ada tiga kamar kosong, kalau memang Mbak Alya minat silahkan pilih salah satunya, tentunya dengan harga cukup terjangkau," ujar Emilia.
Alya pun langsung menimpali. "Aku bersedia Mbak, kalau bisa ditempati sekarang," pinta Alya.
"Oh boleh kebetulan tiga kamar kosong setiap harinya selalu dibersihkan," sahut Emilia.
Setelah negosiasi cukup panjang, dan Alya sudah selesai membayar untuk satu bulan kedepan. Akhirnya wanita cantik itu memutuskan memilih kamar kos paling ujung, karena terlihat sepi dan mungkin bagi Alya tempat itu cukup damai.
"Ini kuncinya Mbak, dan semoga betah tinggal di tempat ini," kata Emilia.
Alya sedikit tersenyum lalu, mulai bertanya sesuatu. "Oh ya Mbak, di kost ini kebanyakan penghuninya kerja apa?" tanya Alya.
"Oh di sini kebanyakan perantau dan mereka kerja di pabrik," sahut Emilia. "Memangnya kenapa Mbak?"
Alya sedikit menggeleng. "Tidak apa-apa, aku hanya pingin tahu saja, barang kali bisa ikut kerja, ternyata tidak," ucap perempuan itu.
"Kenapa tidak, bahkan kerja di pabrik kalau ada orang dalam gampang masuknya," sahut Emilia.
"Aku punya keterbatasan Mbak, dan setiap perusahaan pasti ada aturannya," ungkap Alya.
Sejenak pandangan Emilia jatuh pada kaki kiri Alya, gadis itu tidak berkata apa-apa, tapi detik berikutnya senyumnya melebar. "Mbak semangat ya, keterbatasan tidak akan membatasi semua gerak anda," ujarnya dengan nada semangat.
"Makasih banyak ya," sahut Alya.
"Ya sudah kalau gitu aku tinggal dulu, dan Nex kalau ada apa-apa jangan sungkan ya," ujar Amelia.
"Sekali lagi terima kasih ya," ucap Alya.
Setelah kepergian Emilia kamar itu kembali sunyi, Alya menatap bangunan sempit yang di dalamnya hanya isi lemari kecil dan karpet karakter. Sangat berbanding balik dengan rumah yang selama tiga tahun ini ia tempati.
Perlahan ia mulai membuka kopernya, lalu mengeluarkan satu persatu bajunya, dan di sela-sela baju itu terselip foto Nenek Ratih yang membuat air matanya terjatuh lagi.
"Nek, kali ini Alya benar-benar sendiri," ucapnya sambil mendekap foto itu dengan erat.
Selesai beberes, Alya duduk di sisi karpet sambil memijat kakinya yang sudah terlepas dari kaki palsunya, tangannya perlahan meremas ujung kakinya dengan kuat. Karena rasa nyeri kembali datang.
"Maaf ya, hari ini terlalu membuatmu lelah," ujarnya pelan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sementara di kota lain. Saat ini Arlan untuk pertama kalinya datang ke kamar mereka. Kamar yang sejak tiga tahun itu terasa dingin kini berubah menjadi sunyi.
Entah kenapa Arlan seperti merasakan keanehan di dalam kamar ini. Biasanya setiap kali ia membuka pintu suara lembut Alya selalu menyambutnya meskipun tak ada tanggapan darinya tapi suara lembut itu sekarang tidak terdengar kembali.
Senyum tulusnya selalu terukir, tangannya begitu cepat melepas dasi di lehernya seolah paling memahami lelahnya. Namun semua itu sudah menghilang dan anehnya kenapa baru sekarang ia mulai merasakan itu.
"Alya," panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban dan kamar ini benar-benar sunyi. Beberapa menit kemudian ia seolah tersadarkan dengan sebuah fakta. Bukannya selepas pemakaman neneknya tadi ia baru saja menalaknya. Bukannya siang tadi perempuan itu sudah pergi tanpa ia cegah sama sekali.
Lantas kenapa ia baru merasakan sekarang?
"Aneh," gumamnya pelan.
Perlahan Arlan melangkah ke sudut kamar di situ ada lemari khusus untuk Alya, tangannya tergerak cepat membukanya. Dan ya, semua pakaian sudah di bawa dan lemari itu kosong sama sekali.
Arlan memijat pelipisnya dengan kuat. Kenapa hal seperti ini terjadi, seharusnya ia bisa lega dan bahagia karena sudah terbebas dari pernikahan sandiwara yang diciptakan sendiri. Namun sesal itu belum berhenti saat tangannya mulai mengambil buku diary kecil di dalam almari paling bawa.
Arlan segera membuka buku itu dan pas di halaman pertama ia mulai membacanya.
Hari ini aku sudah sah menjadi istri Arlan Abimana. Semoga saja aku berhasil menjadi istri yang baik, dan mendapatkan cinta suamiku."
Deg!
Tubuh Arlan membeku melihat tulisan indah itu. Tanpa sadar tangannya perlahan meremas ujung buku itu. Namun belum sempat ia membaca lembar berikutnya. Tiba-tiba handphone-nya bergetar. Arlan segera mengangkatnya.
"Temui aku malam ini," ucap suara dari seberang sana.
Malam ...
Maaf ya hari ini double up agak telat karena sedari tadi di sini mati lampu 🙏🙏🙏😂😂😂
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!