Assalamualaikum para Readers... Akhirnya kita kembali bertemu di karya terbaru kelurga Reno Mahesa. Kisah anak-anak dan cucu-cucu Reno ini di buat atas pikiran Author sendiri, tanpa menjiplak atau plagiat karya orang lain.
Di karya Bunda ini masih ada sedikit kesamaan dari karya sebelumnya. Kisah percintaan, balas dendam, penghianatan dan kekuasaan. Kisah ini di buat secara lugas dan mudah di pahami.
Tolong di nikmati alurnya, jangan ada komentar "Kapan bahagia nya?" itu seringkali bunda baca, padahal baru beberapa episode dan masih on going. Semua tokoh di karya novel bunda memiliki karakter dan sifat berbeda-beda. Awalnya teraniaya lalu balas dendam, dan alurnya di buat semenarik mungkin, jadi tolong jangan tanya lagi, ikuti saja alurnya sampai tamat.
Dan tidak lupa Bunda ucapkan banyak terima kasih pada para Readers kesayangan bunda 🥰 yang masih setia dan mau menunggu terbitnya karya ini. Kisah perjalanan anak-anak dan cucu-cucu Reno Mahesa.
***
Setelah pernikahan Zidan dan Mariska berlangsung dengan megah di sebuah hotel bintang lima milik sang Tante Fanny. sebulan kemudian Aldo menggelar pernikahan dengan Moza..
Perjalanan pernikahan mereka penuh liku-liku hingga akhirnya Mariska melahirkan seorang putri cantik bernama Kayla Maharani Putri. kelurga mereka penuh kebahagiaan dan sangat harmonis.
Di tahun yang sama, hanya berbeda tiga bulan dari kelahiran anak Mariska. Moza melahirkan anak perempuan yang di beri nama Manda Aryani.
Kelurga Aldo dan Zidan sama-sama memiliki anak perempuan yang sama-sama cantik. Manda dan Kayla tumbuh bersama dari kecil hingga dewasa. Namun, sifat mereka mulai terlihat saat duduk di bangku SMP. Persaingan keduanya mulai terlihat, mulai dari hobi, pendidikan dan peringkat kelas.
Sementara Arabella, Jordie dan Jordan tumbuh bersama dan saling menyayangi satu sama lain, meskipun mereka hanya satu ayah dan beda ibu. Safira tetap menyayangi Arabella seperti kedua anak kandungnya. ia tidak pernah membeda-bedakan Arabella dan kedua putranya.
Kini usia Arabella sudah menginjak 22 tahun dan menempuh pendidikan di Amerika Serikat, ia sudah lulus dari akademik Universitas Harvard.
Sedangkan Jordan dan Jordy menginjak usia 17 tahun, mereka sedang mempersiapkan kelulusan. Keduanya memilih kuliah di universitas Harvard, tempat sang kakak menimba ilmu.
Zevana dan Natha yang memiliki anak kembar bernama Oliver dan Olivia juga sudah beranjak dewasa, kini mereka berusia 18 tahun, satu tahun lebih tua dari Jordan dan Jordy. Kedua anak kembar Zevana memilih kuliah di Indonesia.
Reno dan Delena mengadakan pertemuan penting di ruangan kelurga dan meminta anak serta cucu-cucunya untuk hadir. Semuanya sudah berkumpul di ruangan kelurga, kebetulan Arabella sudah pulang dari Amerika setelah lulus kuliah.
"Kita tunggu kedatangan Alea dan Nathan, mereka masih dalam perjalanan menuju mansion." tukas Delena.
Reno mengangguk
"Dimana Kayla, sejak tadi aku tidak melihatnya."
"Keyla masih belajar tugas sekolah Dad." sahut Zidan yang sedang asik bermain catur dengan sang kakak.
"Panggilkan dulu, ini pertemuan keluarga besar. Semuanya harus berkumpul." sahut Delena
"Aku panggilkan mom." ucap Rizka yang langsung berdiri dan melangkah menuju kamar anak semata wayangnya.
"Jordan, Jordy kapan Kamu berangkat ke Los angeles?" tanya sang opah. Yang duduk dengan tenang di sofa kulit.
"Selesai surat kelulusan dari sekolah kami terima, bulan depan kami akan mendaftar ke Harvard."
Reno mengangguk "Baguslah, kalian harus belajar yang pintar. Seperti kakak mu Ara, dia selalu berprestasi di kampus dan mendapat nilai yang memuaskan." puji Reno
"Iya opah aku tahu!" sahut Jordan
"Opah, jangan berlebihan memuji ku, nanti ada yang cemburu, lihat wajah adik sepertinya tidak suka." tukas Ara sambil terkekeh.
"Kak Ara, siapa yang cemburu sih! Tukas Jordy sambil mengerucutkan bibirnya.
"Sudah.. sudah jangan bercanda lagi, Alea, Nathan juga si kembar sudah datang."
"Assalamualaikum semuanya..." seru Vana setelah memasuki ruangan kelurga.
Semuanya menjawab "Walaikumsalam..."
Vana, Nathan, Oliver dan Olivia mencium punggung tangan sang omah dan opah. Tidak lupa cipika-cipiki dan bersalaman dengan semuanya.
Semuanya sudah kumpul termasuk Kayla yang sudah duduk di sofa. Kini Reno memulai pembicaraan.
"Anak-anak dan cucu-cucu ku semua, opah dan omah sudah memutuskan untuk pindah dari mansion dan tinggal di Sidney. Disana Daddy dan mommy ingin menghabiskan masa tua bersama.
"Seluruh aset-aset perusahaan sudah Daddy bagi rata pada ketiga anak-anak Daddy yang kelak akan kalian kelola bersama anak-anak kalian. Daddy dan mommy sudah sangat tua dan ingin rehat dari dunia bisnis. Semoga kalian semua bisa menjaga aset-aset kelurga Mahesa yang sudah Daddy perjuangkan sejak Daddy masih berusia 15 tahun."
"Anak-anak dan cucu-cucu ku tersayang, kalian tetap harus meneruskan perjuangan perusahaan Mahesa grup, dan jangan sampai runtuh."
"Dad! Vano, Zee dan Zidan akan menjaga amanah Daddy. Kami bertiga akan menjaga perusahaan Mahesa grup yang tersebar di beberapa negara, dan kami janji akan terus memajukan perusahaan Mahesa."
"Dan kalian semua juga harus hidup rukun.," tutur Delena menasehati
"Iya mom." ucapan semuanya serempak
"Ada satu permohonan Daddy. Di Jerman ada mansion peninggalan Grandma dan grandpa kalian. Mama Andini dan papa Ramon telah tiada, sekarang mansion tidak terurus dengan baik. Daddy ingin menyerahkan mansion dan perusahaan di Jerman pada Arabella."
Semuanya terdiam, lalu menatap kearah Arabella yang juga terkejut.
"Opah menyuruh aku mengurus perusahaan di Germany?"
"Iya betul! Kamu cucu pertama dari kelurga Reno Mahesa dan usia mu sudah cukup untuk menduduki direktur utama."
Ara bukan hanya terkejut, ia juga melongo "Opah serius?"
"Kamu lulusan terbaik di akademi Harvard, Daddy percaya kamu bisa memimpin perusahaan Mahesa grup di Jerman."
"Ara, tidak usah takut. Papa mu akan menjaga mu dari belakang, kamu tidak sendirian mengurus perusahaan di Jerman." ucap Delena bijak
Arabella menoleh pada Vano dan meminta persetujuan darinya. Vano yang mengerti kegundahan anak gadisnya hanya mengangguk setuju.
"Bahan Ara? Apa kamu menerima mandat dari opah?!"
"Aku setuju saja, tapi bagaimana dengan Tante Vana, om Zidan juga sepupuku semua."
"Tentu saja om sangat setuju." timpal Zidan
"Tante juga sangat setuju kamu mengurus perusahaan di Jerman." sahut Vana
"Iya kak Ara, olive dan kak Oliver juga setuju. Nanti kami bisa berkunjung ke Germany. Iya kan kak?!" tanya Olivia pada sang kakak.
"Iya aku setuju saja, lagian kami masih kuliah tingkat dua, mana mungkin urus perusahaan."
"Jordan, Jordy apa kamu setuju dengan keputusan opah?"
"Kami berdua pasti sangat setuju kak Ara memimpin perusahaan." timpal Jordan
"Tapi pasti kami akan kehilangan kak Ara lagi. Kakak baru pulang dari California sudah harus pergi lagi ke Germany." tukas Jordy
"Kalau kalian liburan bisa berkunjung ke Germany." sahut Arabella
"Karena kalian sudah setuju, opah akan menyerahkan berkas-berkas perusahaan pada notaris untuk Ara tandatangani."
"Baik Opah."
"Tapi ingat Ara, untuk menjaga hal-hal yang tidak di inginkan. Untuk sementara kamu rahasiakan dulu indentitas mu. Jangan pernah mengaku dulu kamu seorang CEO. Sebab masih banyak musuh-musuh opah yang tidak terlihat."
"Iya opah Ara mengerti, Arra juga mau melanjutkan S2 disana."
"Okeh, nanti opah hubungi orang-orang kepercayaan opah di perusahaan, untuk menjaga dirimu."
Semuanya mengucapkan selamat pada Arabella, sebab sudah memimpin perusahaan sang opah di Jerman.
*Jangan lupa berikan dukungan pada karya terbaru ini. Berikan like setelah membaca, berikan juga vote seikhlasnya dan sertakan komentar kalian.
🥰🥰🥰🥰
"
Sebulan kemudian Reno dan Delena meninggalkan jakarta menuju Sidney, tempat dimana mereka ingin menghabisi masa tua disana. Jauh dari hiruk pikuk kota jakarta.
Kini usia Reno sudah menginjak 75 tahun, dan Delena berusia 67 tahun, terpaut delapan tahun. Mereka memilih tinggal di eropa sebab polusi udaranya yang masih asri di dekat pegunungan. Delena sangat senang bercocok tanam dan membuat kebun strawberry di halaman rumahnya yang luas. Mereka benar-benar menikmati masa tua tanpa ingin terganggu.
Sebelum pergi Reno telah berpesan dan membuat surat wasiat pada Arabella.
"Arra, simpan dan gunakan kartu keanggotaan ini." ucap Reno pada sang cucu.
"Ini kartu apa opah?!"
"Kartu itu adalah identitas perusahaan Mahesa grup. Hanya tiga orang saja yang memiliki kartu ini di Asia. Bila card ini jatuh ke tangan orang, perusahaan kita bisa diambil alih. Kamu harus menjaganya dengan baik dan jangan jatuh ke tangan orang lain."
Arabella mengangguk "Baik opah, Arra janji akan menjaganya dengan baik."
"Opah belum pernah mengeluarkan card itu atau memberikan pada Ayah mu, Tante Vana dan Om Zidan. Karena kamu pemimpin perusahaan di Jerman, card ini opah berikan. Keluarkan kartu ini bila terdesak, Kamu akan mengetahui keistimewaannya."
"Baik Opah aku mengerti."
"Yang perlu kamu ingat, didalam card ini terdapat banyak rahasia perusahaan. Jadi kamu harus benar-benar menjaganya dengan baik."
"Opah tenang saja, aku tidak sebodoh itu memberikan identitas perusahaan pada orang lain. Arra akan menjaganya seperti menjaga opah dan omah." ucap Arra meyakinkan.
***
Siang itu di mansion, seluruh keluarga Vano sedang makan siang bersama di meja makan.
"Arra, jaga diri mu baik-baik, Papa tidak bisa mengantarkan ke Germany. Sebab masih banyak urusan perusahaan disini."
"Iya nggak apa-apa pah, aku kan sudah dewasa dan sudah bolak-balik jakarta-Jerman."
"Kakak jadi direktur sekalian menempuh S2 bukan?" tanya Jordy
"Tentu saja, hanya S1 dan S2 tidaklah cukup, setelah selesai S2 kakak lanjut S3."
"Wah kak Arra hebat ya, baru lulus S1 sudah di percaya opah pegang perusahaan." sahut Jordan.
"Itu sudah tanggung jawab kakak untuk pegang perusahaan Mahesa grup, sebab kakak anak tertua. Setelah kalian lulus, bisa urus perusahaan bersama-sama."
"Aku nggak mau ke Jerman, aku urus perusahaan papa di jakarta ajah. Kak Jordan ajah yang urus perusahaan disana." tukas Jordy
"Dasar anak manja! Bilang ajah nggak mau jauh-jauh dari mama." sahut Jordan
"Sudah, sudah... jangan berdebat hal yang belum terjadi. Lagian kalian masih jauh urus perusahaan, harus kuliah dulu empat tahun di Harvard." ucap Safira melerai anak kembarnya.
"Apa yang mama mu katakan benar, yang terpenting kalian lulus kuliah dulu."
"Oke Pah!" jawab keduanya berbarengan
"Arra, mama buat spaghetti carbonara dan cake kesukaan mu. Makan yang banyak ya, mumpung masih di jakarta."
"Pasti aku sangat kangen masakan mama. Aku juga rindu gado-gado buatan mama, masakan mama selalu enak." puji Arra.
"Arra, setelah makan keruangan kerja papa. Ada yang ingin papa bicarakan." ucap Vano seraya meraih gelas berisi air putih dan di teguk nya hingga tandas.
"Oke pah, aku habiskan spaghetti ini dulu."
Usia makan dan ngobrol bersama mama dan kedua adik kembarnya, Arabella menaiki lift untuk sampai di ruangan kerja sang papa.
"Pah! Sahut Arra sambil membuka handle pintu.
"Arra masuklah!"
Gadis cantik berusia 22 tahun itu duduk di sofa yang berada di ruangan kerja Vano.
"Ini surat keterangan dari perusahaan kita di jakarta, kalau kamu sudah sah menduduki CEO di Germany. Nanti berikan surat ini pada tuan Albert, dia salah satu tangan kanan opah dan orang kepercayaannya."
"Apa mereka tidak akan merayakan jabatan ku sebagai CEO disana? Atau acara penyambutan ku!"
"Arra, opah sudah berpesan bukan? untuk sementara, tidak ada yang boleh tahu dulu identitas asli mu."
"Kenapa harus begitu Pah?! Pasti mereka akan membutuhkan tandatangan ku sebagai CEO!"
"Sebab, masih banyak orang-orang didalam perusahaan yang bermain curang dan ingin menjatuhkan opah! Tapi mereka tidak bisa jatuhkan opah. Makanya kamu di utus kesana untuk mata-matai mereka, dengan begitu mereka tidak akan curiga dengan kedatangan mu sebagai karyawan biasa di perusahaan opah. Meskipun opah sudah menyerahkan perusahaan pada mu."
"Opah hanya berjaga-jaga dan melindungi kamu dari orang-orang serakah seperti mereka. Kamu harus menyamar sebagai karyawan biasa di perusahaan. Hanya orang-orang kepercayaan opah saja yang tahu siapa kamu."
"Kamu sudah paham?!
"Paham Pah!
"Kamu laporkan pada papa, siapa-siapa petinggi perusahaan yang bermain curang. Papa tidak akan kasih ampun."
"Baik Pah Arra mengerti."
Vano duduk di samping anak gadisnya, lalu memeluk penuh kasih sayang. "Papa akan sangat kehilangan mu, kamu baru pulang dari Los angeles, sekarang harus pergi lagi mengurus perusahaan."
"Papa tidak usah khawatir ya, semoga Arra bisa menjalani amanah opah dan mohon bimbingannya." balas Arra sambil mengusap-usap punggung sang papa.
Seminggu setelah kepergian sang kakek dan neneknya, Arra meninggalkan mansion untuk terbang ke Germany.
Semua melepas kepergian Arabella dengan perasaan haru.
"Arra, kamu jangan lupa makan ya. Mama nggak mau denger kamu sakit karena telat makan." Safira memeluk anak sambungnya sambil menangis
"Mama nggak usah khawatir ya? Arra pasti dengar nasehat mama dan papa."
"Jordan, Jordy, saat di Los angeles kamu jangan sering berdebat. Harus jaga ego kalian dan jaga nama baik keluarga."
"Siap kak! Tukas keduanya
"Arra jaga dirimu, jangan banyak tahu urusan orang lain, lebih baik menghindar." nasihat Zidan.
"Iya om, akan selalu Arra ingat."
"Arra, Tante hanya mendoakan kamu bisa menjaga amanah dari opah dan selalu dalam lindungan Tuhan."
"Terima kasih Tante."
"Kayla, kamu harus semangat sekolahnya ya, biar terus jadi juara satu."
"Iya kak, Kayla akan giat belajar.'
Setelah berbincang-bincang sebentar, Arra masuk kedalam mobil. Mobil melaju dengan kecepatan rata-rata meninggalkan mansion menuju bandara Soekarno-Hatta.
ALL . JANGAN LUPA, BANTU LIKE SETELAH MEMBACA, BERIKAN RATE BINTANG 5 DAN KOMENTAR KALIAN. DAN BERIKAN VOTE DI KARYA INI SEBAGAI PENYEMANGAT 💪💪
💜💜💜💜.
.
Nama ku Arabella Anastasya, aku di lahirkan di jakarta pada tahun 2004. sekarang aku berusia 22 tahun. Papa ku bernama Zevano Hendra Mahesa dan ibuku bernama Isabella Rudolf. Setelan ibuku meninggal aku di asuh oleh mama sambung ku Safira. Mama Safira sangat sayang dan perhatian padaku, seperti anak kandungnya sendiri.
Tak lama kemudian Mama melahirkan dua adik kembar ku, bernama Jordan dan Jordy. Kami selalu hidup rukun dan harmonis, jarang ada pertengkaran atau keributan di tengah-tengah keluarga kami. Kami semua hidup rukun dan bahagia.
Seorang Papa yang bijaksana dan penyayang serta Mama yang baik dan pengertian, membuat ku sangat nyaman berada disini. Kini aku sudah beranjak dewasa dan mendapat mandat dari opah untuk mengurus perusahaannya di Jerman. Sebagai anak sulung, aku harus siap menerima amanah ini. Meskipun aku belum pernah mengurus perusahaan, tapi aku yakin bisa menjalani perusahaan besar ini dengan baik.
Aku juga di minta opah dan Papa untuk merahasiakan identitas asliku, sebab masih banyak kecurangan di perusahaan. Aku harus berpura-pura jadi karyawan biasa dan mengamati orang-orang yang telah bermain licik.
Didalam perusahaan aku dibantu oleh orang kepercayaan opah. Dan aku tidak menggunakan nama Arabella, sebab sudah banyak orang yang tahu nama itu, cucu pertama dari opah Reno Mahesa. Sekarang aku gunakan nama belakang ku Tasya, agar mereka tidak ada yang curiga.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, Arra sudah landing dan berada di bandara Munich internasional airport. Lima belas menit kemudian, mobil yang menjemputnya sudah datang.
"Selamat datang di Germany nona Arra, perkenalkan saya Allan, supir pribadi nona."
"Allan? Apa kamu sudah tahu kedatangan ku kesini?"
"Sudah nona, saya salah satu orang kepercayaan tuan Reno."
"Tapi, usia mu masih terlihat muda." tanya Arra ragu.
"Ayah saya orang kepercayaan tuan Reno, seharusnya Ayah yang menjemput nona, tapi Ayah sedang sakit dan aku yang menggantikannya."
"Ohhh... Oke."
Allan membuka pintu mobil belakang, lalu Arra masuk kedalam sedan hitam. Mobil melaju dengan cepat melintasi jalanan raya yang indah.
"Allan, apa kamu juga berkerja di perusahaan opah ku?" tanya Arra yang begitu penasaran dengan sosok pria tampan, yang sedang menyetir.
"Tidak! Aku hanya menggantikan sementara ayah ku yang sedang sakit."
"Kamu... sudah bekerja atau masih kuliah." Arra terus bertanya, seperti ingin mengenal sosok pria di depannya.
Allan menyunggingkan senyuman tipis "Aku pria pengangguran."
"Ohya?! Sahut Arra terkejut
["Tapi, dari penampilannya dia tidak terlihat pria kere atau pengangguran. Wajahnya tampan, tubuhnya atletis, pakaianmu sangat rapih dan rambutnya di sisir rapih kebelakang." gumam Arra dalam hati]
"Kenapa nona diam? Apa ada lagi pertanyaan yang harus saya jawab."
[Cih! Pria ini sungguh menyebalkan!]
"Tidak ada lagi!" Ketusnya kesal
Satu jam kemudian mobil berhenti di sebuah rumah besar berlantai tiga. Rumah megah dengan pekarangan sangat luas dan pilar-pilar tinggi yang menjulang. Cat tembok bewarna putih dan pilar berwarna kuning emas, terlihat rumah classic bergaya eropa.
"Akhirnya aku kembali ke rumah ini lagi, saat aku kecil opah sering membawa ku kesini. Saat opah bekerja, aku main bersama nenek buyut Andini. Rumah ini tidak pernah berubah, masih mentereng seperti dulu."
Dari dalam rumah keluar wanita paruh baya berusia 50 tahunan bertubuh gempal, ia berjalan tergopoh-gopoh kearah mobil yang terparkir di halaman.
"Selamat datang nona Arra?" sapanya sopan.
"Bibi Zelda?" seru Arra sambil menerima uluran tangan wanita paruh baya itu.
Bibi Zelda adalah salah satu asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja di rumah Andini. Ia juga orang kepercayaan Reno untuk mengurus rumah Andini. Sang ibu sudah meninggal dunia dan di kuburkan di halaman belakang dekat dengan makam suaminya Ramon Mahesa.
"Akhirnya kamu pulang kembali kerumah ini." ucap Zelda sambil berjalan masuk kedalam rumah bersama Arra.
"Rumah besar ini sangat sepi sejak nenek buyut mu meninggal."
"Aku juga heran bi, kenapa opah tidak mau tinggal disini. Padahal rumah ini sangat besar dan nyaman."
"Setahu bibi, tuan Reno tidak ingin menjadikan rumah ini kenangan pahit. Ia sangat sedih bila pulang tanpa kehadiran ibu Andini. Seringkali bibi lihat tuan Reno menangis di makam ayah dan ibunya."
"Aku mengerti sekarang, kenapa Opah tidak mau menghabiskan masa tuanya disini, ternyata masih kehilangan nenek dan kakek buyut."
"Sekarang kamu mandi dan istrahat dulu. Bibi akan siapkan makan siang untuk mu."
"Baik bii..."
Zelda membawa Arra kelantai dua, lalu membuka handle pintu. "Ini dulu kamar tuan Reno, saat ia masih kecil dan tinggal bersama kakeknya tuan Mahesa."
"Kamar ini sangat luas bii, dulu opah selalu pakai kamar ini bila pulang ke Germany."
"Iya, sekarang kamar ini jadi milik nona."
"Kenapa harus dikamar ini? bukankah masih banyak kamar yang lain?"
"Tuan Reno yang meminta nona Arra tempati kamar ini."
"Hufh! Arra menghela nafas pelan "Baiklah, Opah terlalu sayang padaku, sampai-sampai kamar ini harus aku yang tempati."
Zelda berjalan kearah lemari dan membukanya "Didalam lemari ini, sudah tersedia berbagai merk pakaian dan tas untuk mu nona."
Arra tercengang "Wow... Siapa yang menyiapkan ini semua bii? Pakaian ini semuanya branded? Dan tas-tas ini juga harganya milyaran."
"Nyonya Fanny yang belikan ini semua."
"Ap-apa?! Omah Fanny yang siapkan ini semua?"
"Iya! Dulu, saat nyonya Andini sedang sakit. Nyonya Fanny yang menemani, ia tidur di kamar bawah samping kamar nyonya Andini. Setelah nyonya Andini meninggal, nyonya Fanny pulang ke jakarta bersama suaminya tuan Frans. Ia kembali kesini sebulan yang lalu, katany nona Arabella akan tinggal disini dan mengurus perusahaan, beliau yang belikan barang-barang branded ini."
"Omah Fanny sangat baik, aku sangat rindu padanya. Aku akan hubungin Papa untuk ucapkan terima kasih padanya."
"Ya sudah bibi ke dapur dulu, untuk siapkan makan siang."
"Iya bii.."
Arra melepaskan pakaiannya dan masuk kedalam kamar mandi untuk bersih-bersih. Setengah jam kemudian ia sudah selesai mandi dan pakai baju santai. Arra keluar kamar menuju ruangan makan.
Diatas meja sudah tersedia berbagai hidangan kesukaan Arra. Gadis cantik berambut panjang itu menarik kursi dan menikmati makan siang. Tiba-tiba ia teringat akan sosok pria yang menjemputnya di bandara.
"Allan... Kemana dia?"
Tolong berikan LIKE', VOTE/ GIFH, RATE BINTANG 5 DAN KOMENTAR KALIAN, agar Bunda semakin semangat menulis. (Bantu komentar di rate bintang lima All 🥰🥰)
💜💜💜💜
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!