Indonesia
NovelToon NovelToon

DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

​Lampu kristal yang menggantung megah di langit-langit lobi utama butik Amara Modest berpendar mewah, memantulkan kilau keemasan yang menerpa lantai marmer putih Carrara di bawahnya. Aroma lilin aromaterapi varian sandalwood dan french lavender menguar lembut, menciptakan atmosfer eksklusif yang menenangkan bagi setiap tamu kelas atas yang menginjakkan kaki di sana.

​Aku berdiri tegak di depan cermin besar berbingkai ukiran tembaga. Jemariku bergerak pelan, merapikan lipatan hijab pashmina berbahan sutra premium berwarna champagne yang melilit kepalaku dengan sempurna. Hijab itu jatuh dengan anggun, membingkai wajahku yang dipoles riasan natural namun tegas. Setelan blazer dan rok panjang dengan potongan tailored berwarna senada melekat pas di tubuhku, memancarkan aura seorang wanita karier yang tidak hanya mapan, tetapi juga memiliki kendali penuh atas hidupnya.

​Di usiaku yang menginjak awal tiga puluhan, dunia seolah berada di dalam genggamanku. Amara Modest bukan lagi sekadar nama merek hijab biasa; bisnis yang kurintis dari garasi kecil sepuluh tahun lalu itu kini telah menggurita menjadi salah satu kiblat fashion muslimah premium di negeri ini.

​"Ibu Hanum, semua tamu undangan dari kalangan sosialita dan kolega bisnis sudah berkumpul di aula utama. Acara peluncuran koleksi eksklusif Gilded Grace akan dimulai dalam lima menit," suara asisten pribasiku, Maya, memecah keheningan di ruang rias pribadi. Wanita muda itu berdiri dengan sikap hormat, memegang tablet digital yang menampilkan susunan acara malam ini.

​Aku membalikkan badan, menyunggingkan senyum profesional yang menjadi ciri khasku. "Terima kasih, Maya. Pastikan tim media sudah siap di posisinya masing-masing. Aku tidak ingin ada kesalahan sekecil apa pun pada pencahayaan panggung."

​"Baik, Bu. Semuanya sudah dipastikan aman," jawab Maya mantap.

​Aku melangkah keluar dari ruang rias. Setiap derap langkah dari sepatu hak tinggi setinggi tujuh sentimeter yang kukenakan terdengar konstan dan berwibawa di sepanjang lorong koridor. Ketika pintu aula besar itu dibuka, riuh rendah tepuk tangan langsung menyambut kehadiranku. Kilatan lampu kilat dari kamera para jurnalis media fashion seketika menyilaukan pandangan. Di atas panggung yang megah, di hadapan ratusan pasang mata yang memandangku dengan takjub dan rasa segan, aku menyampaikan pidato singkat tentang visi keanggunan wanita muslimah modern yang mandiri.

​Semua orang memujiku. Mereka memanggilku dengan satu kata yang sering kali membuatku merinding jika dipikirkan terlalu dalam yaitu Sempurna. Di mata publik, Hanum adalah definisi nyata dari wanita yang beruntung. Sukses secara finansial, memiliki reputasi yang bersih, dan mengelola perusahaan raksasa atas namanya sendiri.

​Namun, bagiku, kesuksesan bisnis ini hanyalah separuh dari kebahagiaanku. Separuh kebahagiaanku yang paling sejati justru menunggu di sebuah rumah berarsitektur modern minimalis di kawasan elit Jakarta Selatan. Rumah tempat di mana aku melepaskan seluruh atribut sebagai seorang CEO dan kembali menjadi seorang ibu serta seorang istri.

​Jarum jam menunjukkan pukul delapan malam ketika mobil sedan mewah yang dikendarai sopir pribadiku memasuki gerbang rumah. Begitu pintu depan terbuka, keheningan rumah mewah itu langsung pecah oleh suara derap langkah kaki kecil yang berlarian menuruni tangga putar.

​"Bunda!"

​Dua suara yang sangat kukenal berseru kompak. Sepasang anak kembar berumur sembilan tahun, laki-laki dan perempuan, langsung menghambur ke pelukanku. Si anak laki-laki, Kenzie, yang memiliki gurat wajah tampan mirip ayahnya, memeluk pinggangku dengan erat. Sementara kembarannya, Kayla, yang berwajah cantik jelita dengan mata bulat berbinar, mengecup pipiku dengan gemas.

​Meskipun mereka masih duduk di bangku sekolah dasar, keduanya selalu terlihat modis dan rapi didikan langsung dariku yang selalu memperhatikan penampilan mereka. Malam ini mereka mengenakan pakaian rumah berbahan rajut premium berwarna krem yang nyaman namun tetap terlihat berkelas.

​"Bunda kenapa pulangnya malam sekali? Kayla dan Kenzie sudah menunggu dari sore, tahu," rajuk Kayla sambil mengerucutkan bibirnya yang mungil.

​Aku berlutut di hadapan mereka, mengabaikan rasa lelah yang sempat menggelayuti pundakku sejak siang. Kuusap kepala mereka bergantian dengan penuh kasih sayang. "Maaf ya sayang, Bunda tadi harus memastikan acara butik baru selesai dengan baik. Sebagai gantinya, besok akhir pekan Bunda akan temani kalian seharian penuh. Bagaimana?"

​"Janji ya, Bunda?" Kenzie memastikan, menatapku dengan mata hitamnya yang cerdas.

​"Janji, sayang," ucapku lembut sambil mengecup dahi mereka satu per satu.

​Setelah memastikan kedua anak kembar itu menghabiskan susu hangat mereka dan mengantar mereka ke kamar tidur yang luas di lantai dua, aku melangkah menuju kamarku sendiri. Suasana rumah berangsur-angsur sunyi. Lantai marmer yang dingin di bawah kakiku seolah mengantarkan rasa sepi yang entah mengapa mendadak menyusup ke dalam dada.

​Aku masuk ke dalam kamar utama, membersihkan sisa riasan wajah di depan wastafel kamar mandi, dan mengganti pakaianku dengan gamis rumah berbahan katun sutra yang lembut. Saat aku keluar dari kamar mandi, terdengar suara raungan mesin mobil sport memasuki pelataran rumah. Itu adalah suara mobil Mas Hanif, suamiku.

​Hanif adalah pelengkap dari ilusi kesempurnaan hidupku. Dia adalah pria yang tampan, bertubuh tegap, dan memiliki kharisma yang kuat sebagai pemilik perusahaan manufaktur tekstil serta pabrik konveksi berskala besar. Selama ini, publik melihat kami sebagai pasangan konglomerat yang ideal. Perusahaan fashion-ku mendesain dan memasarkan, sementara pabrik raksasa milik Mas Hanif yang memproduksi semua kain dan pakaiannya secara massal. Kami adalah simbiosis mutualisme yang tak terpisahkan, baik dalam urusan ranjang maupun urusan bisnis.

​Pintu kamar terbuka. Mas Hanif melangkah masuk. Jas mahal yang dikenakannya sudah tersampir di lengan kiri, sementara dasinya sudah sedikit dilonggarkan. Wajahnya yang biasanya memancarkan rasa percaya diri yang tinggi, malam ini terlihat sedikit kuyu dan lelah. Namun, begitu melihatku berdiri di dekat ranjang, dia langsung memaksakan sebuah senyuman.

​"Hai, Sayang," sapanya lembut, berjalan mendekat lalu mengecup keningku. Aroma parfum maskulin bercampur aroma keringat tipis menguar dari tubuhnya.

​"Hai, Mas. Kamu kelihatan capek banget malam ini. Banyak urusan di pabrik?" tanyaku sambil mengambil jas dari tangannya dan menggantungkannya di dalam lemari pakaian.

​"Ah, iya... biasa, urusan operasional dan beberapa kendala dengan serikat pekerja. Tapi semua sudah bisa diatasi," jawabnya agak gugup. Dia berjalan menuju sofa panjang di sudut kamar, lalu mengempaskan tubuhnya di sana dengan helaan napas yang terdengar sangat berat.

​Aku berjalan ke arah meja kecil, menuangkan segelas air putih hangat lalu membawanya ke hadapan suamiku. Aku duduk di sampingnya, memberikan gelas itu yang langsung diteguknya hingga tandas.

​"Terima kasih, Num," ucapnya pelan. Mas Hanif menaruh gelas kosong itu di meja, lalu meraih jemari tanganku. Dia menggenggamnya dengan erat, namun anehnya, telapak tangannya terasa sangat dingin dan sedikit gemetar.

​Aku mengerutkan kening halus, merasakan ada sesuatu yang tidak beres. "Mas, ada masalah? Nggak biasanya kamu segelisah ini. Kalau ada masalah di pabrik yang butuh bantuan suntikan dana atau koneksi dari perusahaanku, kamu tahu kamu bisa bicara denganku, kan?"

​Mas Hanif tidak langsung menjawab. Dia menatapku lurus-lurus. Tatapan matanya malam ini terasa sangat berbeda. Ada kilat rasa bersalah yang teramat dalam, namun bercampur dengan sebuah ketegasan ego yang aneh di balik bola mata hitamnya itu. Dia mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya, berulang kali, seolah sedang mengumpulkan keberanian yang tercecer.

​"Num..." dia memulai pembicaraan, suaranya terdengar berat dan serak di tengah keheningan kamar yang mulai terasa mencekam. "Kamu adalah wanita yang luar biasa. Sepuluh tahun kita menikah, kamu tidak pernah mengecewakanku sekali pun. Kamu mandiri, sukses, hebat mengurus anak-anak, dan punya segalanya. Kamu tipe istri yang... yang kalau ditinggal atau tanpa aku pun, kamu akan selalu baik-baik saja."

​Alisku bertaut. Kalimatnya terdengar seperti pujian, tapi entah mengapa, di telingaku itu terdengar seperti sebuah upaya pembenaran diri. Ada firasat buruk yang mendadak menusuk ulu hatiku, membuat pasokan oksigen di sekitarku tiba-tiba terasa menipis.

​"Kenapa kamu bicara begitu, Mas? Kita membangun semuanya bersama. Tentu saja aku membutuhkanmu, begitupun sebaliknya," ujarku, mencoba menjaga suaraku agar tetap terdengar tenang dan datar.

​Mas Hanif menarik napas dalam-dalam, dadanya membusung lalu mengempas kuat. Tiba-tiba, dia menggeser tubuhnya dari sofa, menurunkan lututnya hingga kini dia berada dalam posisi berlutut di hadapanku, sambil tetap menggenggam kedua tanganku dengan erat.

​"Mas mohon, dengarkan Mas dulu sampai selesai, Num. Jangan memotong perkataan Mas," pintanya dengan tatapan memohon yang dipaksakan terlihat sedih.

​Jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Di atas dinding kamar, suara detak jarum jam terdengar seperti hitungan mundur yang mengerikan. Aku tidak bergerak, tidak juga menarik tanganku. Aku hanya menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi, menanti bom apa yang akan dijatuhkannya ke atas istana kaca yang telah kami bangun selama sepuluh tahun ini.

​"Ibu... Ibu meminta Mas untuk meminang seorang wanita," ucap Mas Hanif akhirnya. Kata-kata itu meluncur dari bibirnya tanpa keraguan, menghantam indra pendengaranku seperti gada besi yang tak kasat mata.

​Dada seolah berhenti berdetak untuk beberapa detik, namun aku tetap memaku pandanganku pada wajah suamiku. "Maksudmu?"

​"Ibu merasa... pernikahan kita terlalu sibuk dengan urusan duniawi dan bisnis. Ibu ingin Mas memiliki pendamping yang bisa lebih fokus pada urusan rumah tangga dan agama. Nama wanita itu Sarah. Dia wanita yang sangat baik, santun, polos, dan salihah. Dia tahu siapa kamu, Num. Dia sangat menghormatimu sebagai istri pertama."

​Mas Hanif menjeda kalimatnya, menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan kalimat yang paling menghancurkan harga diriku sebagai seorang wanita.

​"Sarah tidak meminta harta, Num. Dia tahu Mas sedang ada beberapa kendala finansial di pabrik bawah tanah dan dia bilang... dia tulus, dia mau menemani Mas berjuang dari bawah, dari nol sekalipun untuk membangun ibadah ini. Ibu sudah memberikan restunya, bahkan Ibu yang mendesak Mas. Mas mohon... demi bakti Mas pada Ibu, dan demi kebaikan kita bersama... izinkan Mas untuk menikah lagi. Izinkan Mas memadu pernikahan kita."

​Berjuang dari bawah.

​Kalimat itu terngiang-ngiang di dalam kepalaku, terdengar begitu menggelikan sekaligus memuakkan. Hatiku seperti baru saja dicabik-cabik hingga tak berbentuk. Rasa sakit, perih, dan penghinaan itu datang bersamaan, menghantam ulu hatiku hingga membuatku ingin muntah. Ibu mertuaku wanita yang selama ini selalu menerima hadiah-hadiah mewah dari perusahaanku, wanita yang seluruh biaya perawatan rumah sakit dan liburannya kutanggung tanpa pernah mengeluh ternyata diam-diam menusukku dari belakang hanya karena dia merasa tersaingi oleh dominasi dan kemandirianku. Dan suamiku, pria yang perusahaannya bisa berdiri tegak hanya karena aku terus-menerus memberikan kontrak produksi dari brand-ku, kini berlutut meminta izin untuk membagi ranjang dan cintanya dengan wanita lain yang berkedok kesalehan polos.

​Jika aku adalah wanita biasa, aku pasti sudah berteriak histeris, menjambak rambutnya, atau melemparkan vas bunga kristal di sampingku ke wajah tampannya yang tidak tahu diri itu.

​Namun, aku adalah Hanum. Aku dididik oleh kerasnya dunia bisnis untuk tidak pernah menunjukkan kelemahan di depan lawan, sekecil apa pun itu.

​Gejolak badai kemarahan yang membakar dadaku perlahan-lahan kukunci rapat-rapat di dalam laci terdalam pikiranku. Logikaku yang dingin dan tak tersentuh seketika mengambil alih seluruh kesadaranku. Menangis dan mengamuk hanya akan membuat diriku terlihat menyedihkan dan lemah di depan mereka. Dan aku menolak untuk menjadi wanita yang menyedihkan.

​Aku menarik napas panjang melalui hidung, mengembuskannya perlahan lewat bibir tanpa menimbulkan suara. Perlahan, kutarik kedua tanganku dari genggaman Mas Hanif yang mulai terasa menghangatkan namun beracun.

​Aku memundurkan tubuhku sedikit, bersandar pada sandaran sofa dengan keanggunan yang luar biasa. Wajahku benar-benar bersih dari emosi; tidak ada air mata, tidak ada kerutan amarah, tidak ada getaran ketakutan. Hanya ada sepasang mata yang menatap suamiku dengan keheningan yang teramat pekat sebuah ketenagan yang justru membuat Mas Hanif mendadak menahan napasnya, tampak merinding melihat reaksimu yang di luar dugaannya.

​"Hanum..." panggil Mas Hanif dengan suara bergetar ketakutan, bingung dengan diamku yang mencekam. "Kamu... kamu tidak marah?"

​Aku menyunggingkan sebuah senyuman tipis senyuman formal dan sangat manis yang biasa kugunakan saat menjebak kompetitor bisnisku di meja perundingan sebelum menghancurkan mereka tanpa sisa.

​"Kenapa aku harus marah, Mas?" tanyaku lembut, begitu tenang hingga suaraku terdengar seperti desiran angin malam yang dingin. "Jika itu sudah menjadi keputusanmu dan restu dari Ibu, aku tidak akan melarangnya."

​Mas Hanif terbelalak, matanya berbinar seketika oleh rasa lega yang luar biasa. Dia mengira istrinya telah kalah dan pasrah karena cinta. Dia tidak pernah tahu bahwa di dalam kepalaku, lembar demi lembar rencana balas dendam legal yang paling kejam baru saja mulai dijahit dengan rapi.

​"Kamu... kamu mengizinkannya, Num?" tanyanya memastikan dengan nada tidak percaya.

​"Ya," jawabku mantap, senyum manisku sama sekali tidak pudar. "Aku mengizinkanmu menikah lagi, Mas. Bahkan, aku sendiri yang akan mengantarmu ke pelaminan untuk menemui wanita mudamu itu."

​Mas Hanif tersenyum lebar, langsung bangkit dan mencoba memelukku, mengira dia telah memenangkan segalanya. Namun, dia terlalu bodoh untuk menyadari satu hal: ketika seorang wanita mandiri yang terluka memilih untuk diam dan tersenyum, itu bukan tanda dia menerima takdirnya... melainkan tanda bahwa dia sedang mempersiapkan peti mati untuk menghancurkan hidup suaminya tanpa menyisakan sepeser pun kejayaan yang pernah diberikannya.

"​Selamat datang di awal dari kehancuranmu, Mas Hanif. Mari kita lihat, seberapa kuat wanita mudamu itu akan bertahan berjuang dari bawah saat seluruh fasilitas mewah dan kontrak bisnismu ditarik habis oleh tangan istri pertamamu ini." Batinku

DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

​Sisa malam setelah pengakuan terlaknat itu terasa berjalan begitu lambat. Di dalam kamar utama yang luas dan berlantai marmer dingin ini, atmosfer terasa begitu pekat, seolah oksigen di sekitar kami telah habis tersedot oleh keegoisan pria yang masih berlutut di hadapanku. Mas Hanif menatapku dengan binar lega yang begitu kentara di kedua matanya. Dia benar-benar percaya bahwa senyuman tenang dan kalimat izinku di babak sebelumnya adalah wujud dari kepasrahan seorang istri yang terikat oleh rasa cinta.

​Dia tidak pernah tahu, bahwa di detik dia melontarkan nama wanita lain dan membawa-bawa nama ibunya untuk membenarkan pengkhianatan ini, statusnya di dalam hatiku sudah berubah total. Dia bukan lagi suamiku. Dia bukan lagi pria yang kuhormati. Dia hanyalah seorang pengkhianat, orang asing yang kebetulan masih berbagi atap denganku, dan target utama dari skenario kehancuran yang mulai kususun di dalam kepala.

​Mas Hanif mencoba bangkit, mengikis jarak di antara kami. Tangannya yang besar bergerak maju, hendak merengkuh bahuku ke dalam pelukannya. Mungkin dia pikir, pelukan hangat akan menyempurnakan rasa terima kasihnya atas keikhlasan palsu yang baru saja kutunjukkan.

​Namun, sebelum jemarinya sempat menyentuh permukaan blazer champagne yang masih melekat di tubuhku, aku bergerak mundur dengan gerakan yang sangat halus. Aku bangkit dari sofa, berbalik memunggunginya dengan alasan merapikan kembali beberapa helai jilbab sutra yang tersampir di dekat meja rias. Gerakanku begitu natural, seolah aku hanya sedang bersiap untuk beristirahat, bukan sedang menghindari sentuhannya yang kini terasa seperti racun bagi kulitku.

​"Mas, bersihkan dirimu dulu. Kamu kelihatan sangat kotor dan kuyu setelah seharian di pabrik," ucapku datar, nadanya tetap lembut tanpa ada riak kemarahan sedikit pun. Kata kotor yang kuucapkan memiliki makna ganda yang hanya kupahami sendiri di dalam hati. Dia kotor, bukan hanya karena debu pabrik tekstilnya, tetapi karena jiwanya yang telah tercemar oleh niat mendua.

​Mas Hanif sempat tertegun di tempatnya berdiri. Tangannya menggantung di udara selama beberapa detik sebelum akhirnya dia menurunkannya kembali sambil tersenyum canggung. "Ah, iya, kamu benar, Num. Mas memang butuh mandi air hangat untuk menyegarkan badan. Rasanya semua beban di pundak Mas langsung hilang setelah bicara jujur denganku."

​Dia melangkah menuju kamar mandi dengan siulan kecil yang terdengar sangat menjengkelkan di telingaku. Begitu pintu kamar mandi tertutup dan suara gemercik air pancuran mulai terdengar, senyuman formal yang sejak tadi kupasang di wajahku seketika luntur tanpa sisa.

​Aku menatap pintu kaca yang buram itu dengan pandangan yang sedingin es. Dadaku bergemuruh hebat, menahan rasa mual yang mendadak naik ke kerongkongan. Rasa sakit itu ada, tentu saja. Sepuluh tahun membangun rumah tangga, mengorbankan waktu, tenaga, dan bahkan menyokong bisnis suaminya hingga pabrik tekstilnya bisa sebesar sekarang, ternyata hanya dibalas dengan alasan klasik tentang wanita salihah yang siap berjuang dari bawah.

​Aku berjalan menuju lemari pakaian besar di sudut kamar. Alih-alih mengambil pakaian tidur sutra yang biasa kukenakan saat tidur bersama Mas Hanif, aku justru meraih sebuah bantal cadangan dan selimut tebal dari dalam laci atas. Malam ini, aku menolak untuk berbaring di atas ranjang yang sama dengannya. Menatap wajahnya saat tertidur atau mencium aroma tubuhnya hanya akan membuatku merasa jijik pada diriku sendiri.

​Saat pintu kamar mandi kembali terbuka, Mas Hanif keluar hanya dengan mengenakan celana panjang hitam dan kaos putih polos. Rambutnya yang basah tampak berantakan, dan wajahnya terlihat jauh lebih segar. Dia berjalan menuju ranjang berukuran king size kami, bersiap untuk merebahkan diri. Namun, langkahnya mendadak terhenti ketika melihatku sudah berdiri di dekat pintu kamar sambil memeluk bantal dan selimut.

​Mas Hanif mengernyitkan dahi jalannya, tatapan matanya langsung berubah penuh tanya dan kebingungan. "Num? Kamu mau ke mana membawa bantal dan selimut?"

​Aku membalikkan badan, menatapnya dengan raut wajah yang sengaja kubuat seolah sedang kelelahan namun tetap tenang. "Aku mau tidur di kamar anak-anak, Mas. Malam ini aku mau menemani Kayla dan Kenzie tidur di kamar mereka."

​Mendengar jawabanku, air muka Mas Hanif langsung berubah tegang. Dia melangkah cepat mendekatiku, jarak di antara kami kini hanya tersisa dua langkah. Ada kepanikan kecil yang tersirat dari caranya memandangku.

​"Tidur di kamar anak-anak?" tanyanya, suaranya naik satu oktav. "Tapi kenapa mendadak sekali, Num? Ranjang kita luas dan kita selalu tidur bersama di sini. Kenapa malam ini kamu harus pindah ke kamar sebelah?"

​Mas Hanif terdiam sejenak, matanya menyipit, mencoba membaca ekspresi di balik wajahku yang sedatar papan tulis. Genggaman tangannya pada kaus putihnya mengerat. "Num... jujur sama Mas. Apakah kamu sebenarnya marah? Apakah kamu terpaksa memberikan izin tadi dan sekarang kamu menghukum Mas dengan menolak tidur bersama?"

​Pertanyaan itu terdengar begitu egois di telingaku. Dia ingin poligami, dia ingin membagi hatinya, dia ingin membuatku menanggung rasa malu di hadapan keluarga besar dan kolega bisnis, tapi dia masih memiliki ekspektasi bahwa aku harus tetap melayaninya di atas ranjang seolah tidak terjadi apa-apa. Betapa serakahnya pria yang berdiri di hadapanku ini.

​Di dalam benakku, jeritan amarahku berteriak lantang." Ya! Aku membencimu! Aku jijik melihat wajahmu! Kamu adalah pengkhianat yang telah menghancurkan sepuluh tahun kesetiaanku!."

​Namun, lidahku bergerak dengan kendali logika yang luar biasa dingin. Aku tidak boleh merusak rencana besarku hanya karena ledakan emosi sesaat. Jika aku mengaku marah sekarang, Mas Hanif akan menjadi waspada. Dia mungkin akan menunda pernikahannya, atau yang lebih buruk, dia akan mulai menyembunyikan aset-aset finansialnya sebelum aku sempat menyentuhnya lewat jalur hukum. Aku membutuhkan dia tetap dalam kondisi lengah, merasa di atas angin, dan percaya bahwa istrinya ini adalah wanita penurut yang bodoh.

​Aku membiarkan sebuah helaan napas lelah lolos dari bibirku, sengaja menunjukkan gestur seorang ibu yang sedang didera rasa bersalah pada anak-anaknya.

​"Marah untuk apa, Mas?" tanyanya lembut, nadanya sangat meyakinkan hingga mampu menepis kecurigaan apa pun. "Aku tidak marah sama sekali. Bukankah tadi aku sudah bilang kalau aku mengizinkanmu? Jika aku marah, aku tidak mungkin memberikan restu secepat itu."

​"Lalu kenapa harus tidur di kamar anak-anak?" kejar Mas Hanif, matanya masih menelisik, mencari celah kebohongan.

​Aku tersenyum tipis, menatapnya dengan tatapan yang seolah-olah penuh dengan kedewasaan. "Mas, akhir-akhir ini kesibukanku di kantor sedang luar biasa padat. Peluncuran koleksi baru Gilded Grace membuatku harus pulang malam hampir setiap hari dalam dua minggu terakhir. Waktuku untuk berinteraksi dan menemani Kayla serta Kenzie jadi sangat berkurang. Tadi saat aku pulang, Kayla merajuk dan mengeluh karena aku jarang ada di rumah."

​Aku menjeda kalimatku, membiarkan alasanku meresap ke dalam pikirannya. "Anak-anak kita sudah berumur sembilan tahun, Mas. Mereka sudah mulai bisa merasa kesepian dan mengerti arti kehadiran orang tuanya. Aku hanya merasa bersalah sebagai seorang ibu. Karena besok adalah hari libur, aku ingin menghabiskan waktu malam ini dengan memeluk mereka, mendengarkan cerita mereka sebelum tidur. Hanya itu. Tidak ada hubungannya dengan pembicaraan kita tadi."

​Mas Hanif menatapku lama, menimbang-nimbang setiap kata yang keluar dari mulutku. Keahlianku dalam bernegosiasi dengan klien-klien kakap di dunia bisnis membuatku mampu memalsukan ketulusan dengan sangat sempurna. Perlahan, ketegangan di pundak Mas Hanif tampak mengendur. Dia mengembuskan napas lega yang panjang, percaya sepenuhnya pada kebohongan yang kusajikan di atas nampan emas.

​"Oh... jadi karena anak-anak," ucap Mas Hanif, suaranya kembali melembut. Dia mengusap tengkuknya dengan ekspresi bersalah yang kini ditujukan untuk anak-anak kami. "Maaf ya, Num. Mas pikir kamu mendadak berubah pikiran karena masalah Sarah tadi. Mas sempat takut kalau kamu mendadak membenci Mas dan menarik restu itu."

​Aku tidak membencimu, Mas. Kebencian adalah emosi yang terlalu berharga untuk diberikan pada orang asing sepertimu, bisikku dalam hati, sedingin es.

​"Mas mengerti," lanjut Mas Hanif sambil mengangguk-angguk. "Kamu memang ibu yang hebat, Num. Selalu mementingkan anak-anak. Ya sudah, kalau begitu malam ini kamu temani mereka saja. Besok pagi kita sarapan bersama, ya?"

​"Iya, Mas. Tidurlah yang nyenyak. Kamu butuh istirahat untuk mempersiapkan hari-hari besarmu ke depan," balasku, memberikan umpan manis yang terselubung sindiran. Hari besar yang kumaksud bukan hanya hari pernikahannya dengan madu barunya, melainkan hari-hari di mana dia harus menyaksikan dunianya runtuh berkeping-keping.

​Aku berbalik, membuka pintu kamar utama, dan melangkah keluar tanpa menoleh ke belakang lagi. Begitu pintu kayu jati itu tertutup rapat di belakang punggungku, aku bersandar pada permukaannya yang keras. Kakiku mendadak terasa lemas, dan bantal serta selimut yang kupeluk rasanya menjadi satu-satunya penopang agar tubuhku tidak luruh ke atas lantai lorong yang sunyi.

​Aku memejamkan mata erat-erat. Di bawah kegelapan koridor rumah mewah ini, setitik air mata yang sejak tadi kutahan dengan sekuat tenaga akhirnya jatuh, membasahi pipiku. Itu bukan air mata kesedihan karena kehilangan cinta seorang Hanif. Itu adalah air mata pelepasanmsebuah tanda bahwa mulai malam ini, Hanum yang mencintai Hanif telah mati. Mulai malam ini, pria di dalam kamar itu tidak lebih dari sekadar orang asing, seonggok daging yang memegang status suamiku di atas selembar kertas sanksi sosial, yang sebentar lagi akan kehilangan hak atas seluruh kemewahan hidup yang pernah kubagikan bersamanya.

​Aku menghapus air mata itu dengan kasar menggunakan punggung tangan. Mengambil napas dalam-dalam untuk menstabilkan emosiku, aku kembali menegakkan pundak. Langkah kakiku kembali konstan saat berjalan menuju ujung lorong, tempat di mana kamar sepasang anak kembarku berada.

​Aku membuka pintu kamar anak-anak dengan sangat perlahan, tidak ingin menimbulkan suara yang bisa mengusik tidur nyenyak mereka. Kamar itu luas, didominasi warna pastel yang menenangkan dengan dua ranjang single yang diletakkan bersebelahan. Di bawah temaramnya lampu tidur berbentuk bintang, aku bisa melihat siluet dua tubuh kecil yang bergelung di balik selimut tebal masing-masing.

​Melihat wajah polos Kayla dan Kenzie yang tertidur dengan tenang, mendengarkan deru napas mereka yang teratur, perlahan-lahan membuat rasa sesak di dadaku sedikit menguap. Mereka adalah duniaku yang sesungguhnya. Mereka adalah alasan mengapa aku harus tetap berdiri tegak, mengapa aku tidak boleh hancur, dan mengapa aku harus memenangkan perang gono-gini ini dengan kemenangan mutlak tanpa cela sedikit pun.

​Aku menaruh bantal dan selimutku di sofa kecil dekat jendela, lalu melangkah mendekati ranjang Kayla. Aku menyusup ke balik selimutnya yang hangat dengan sangat hati-hati. Begitu tubuhku berbaring di sampingnya, Kayla yang tampaknya merasakan kehadiranku bergerak setengah sadar. Mata bulatnya terbuka sedikit, menatapku dengan pandangan mengantuk yang sangat menggemaskan.

​"Bunda...?" bisiknya dengan suara serak khas anak kecil yang baru terbangun.

​"Iya, sayang. Ini Bunda. Tidurlah lagi," bisikku lembut sambil mengusap pipinya yang halus.

​Kayla tersenyum tipis, lalu menggeser tubuhnya mendekat, menyurukkan kepalanya ke dalam dadaku, mencari kehangatan yang biasa dia dapatkan.

Lengan kecilnya melingkar di perutku, memelukku dengan erat seolah takut aku akan pergi lagi ke kantor. Di ranjang sebelah, Kenzie juga bergerak sedikit, mengubah posisi tidurnya menghadap ke arah kami, seolah ikut menjaga ibunya di dalam mimpi.

​Aku merengkuh tubuh kecil Kayla, mencium puncak kepalanya yang beraroma sampo bayi yang wangi. Di dalam keheningan malam, sambil mendekap darah dagingku sendiri, pikiranku kembali bekerja dengan kecepatan penuh seperti mesin komputasi yang dingin.

​Mas Hanif berpikir dia bisa memiliki segalanya, Seorang istri pertama yang kaya, mandiri dan penurut, Seorang ibu yang bangga atas baktinya yang salah jalan, serta seorang istri muda yang polos dan siap menemaninya dari bawah. Dia lupa, bahwa pabrik tekstil yang dibanggakannya itu adalah sebuah bangunan kosong tanpa jiwa jika perusahaanku memutuskan untuk menghentikan seluruh pasokan pesanan massal. Dia lupa, bahwa merek Amara Modest adalah pemegang kuasa atas 70% perputaran uang di rekening perusahaannya.

"​Kamu bilang wanita itu siap berjuang dari bawah bersamamu, Mas?." tanyaku dalam hati, menatap langit-langit kamar anak-anak yang dihiasi stiker bintang yang menyala dalam gelap. Maka aku, Hanum, dengan segala kerendahan hati dan keanggunan yang kumiliki, akan memastikan bahwa kalian berdua benar-benar mendapatkan apa yang kalian inginkan. Kalian akan memulai semuanya dari bawah. Benar-benar dari bawah, di mana tidak ada lagi rumah mewah ini, tidak ada lagi mobil sport di garasi, dan tidak ada lagi sisa kekayaan yang kalian nikmati dari keringatku.

​Sebelum fajar menyingsing esok hari, aku berjanji pada diriku sendiri untuk menghubungi pengacara keluarga kepercayaanku, Pak Baskara. Perjanjian pasca-nikah (postnuptial agreement) harus segera disusun tanpa ada celah hukum sedikit pun. Aku akan memastikan Mas Hanif menandatanganinya sebelum dia melangsungkan pernikahan keduanya. Pria itu harus menandatangani surat pemisahan aset gono-gini atas dasar rasa bersalahnya malam ini, atas dasar keyakinannya bahwa aku adalah istri yang terlalu baik dan bodoh untuk menyimpan dendam.

​Aku mengeratkan pelukanku pada Kayla, membiarkan kehangatan tubuh anakku menjadi bahan bakar bagi api dendam yang menyala dingin di dalam dadaku. Malam ini, jarak di antara aku dan Mas Hanif telah resmi tercipta. Sebuah jarak tak terlihat yang akan semakin melebar setiap harinya, hingga akhirnya tiba saatnya bagiku untuk menjatuhkan vonis skakmat yang akan meruntuhkan seluruh dunia khayalannya di depan pengadilan gono-gini nanti. Tidurlah yang nyenyak malam ini, orang asing di kamar sebelah, karena masa depan yang menantimu tidak akan pernah sedamai malam ini lagi.

DENDAM ISTRI YANG DIMADU

​Cahaya matahari pagi menyusup masuk melalui celah-celah tirai jendela besar di ruang makan, memantulkan kilau di atas permukaan meja kayu jati panjang yang dipoles rapi. Di atasnya, berbagai hidangan sarapan telah tersaji lengkap nasi goreng seafood hangat yang mengepulkan aroma gurih, telur mata sapi dengan tingkat kematangan sempurna, potongan buah segar, hingga kopi hitam kesukaan Mas Hanif. Namun, bagi siapa saja yang berada di ruangan itu, kehangatan makanan sama sekali tidak mampu mencairkan atmosfer dingin yang mendadak membeku di antara aku dan pria yang duduk di ujung meja.

​Aku duduk dengan anggun, mengenakan gamis rumah berwarna lavender dengan hijab instan katun premium yang kasual namun tetap rapi. Tanganku bergerak dengan tenang, mengoleskan selai cokelat ke atas selembar roti gandum untuk Kayla, lalu beralih menuangkan susu ke gelas Kenzie. Seluruh perhatianku tercurah sepenuhnya untuk sepasang anak kembarku yang berusia sembilan tahun itu. Aku mendengarkan celoteh riang Kenzie tentang rencana latihan sepak bolanya hari ini, dan menanggapi tawa manja Kayla dengan senyuman tulus.

​Bagi anak-anakku, aku adalah Bunda yang penuh kasih seperti biasa. Namun bagi Mas Hanif, aku adalah tembok es yang tidak tertembus.

​Sejak dia turun ke ruang makan dengan kemeja kasualnya, aku tidak sekali pun menginisiasi obrolan dengannya. Aku tidak menuangkan kopinya, tidak mengambilkan nasinya, dan tidak menanyakan bagaimana tidurnya semalam hal-hal kecil yang selama sepuluh tahun ini selalu menjadi ritual baktiku sebagai seorang istri. Ketika dia mencoba menyapa atau memuji rasa nasi gorengnya, aku hanya merespons dengan anggukan formal atau jawaban satu-dua kata yang sangat datar. "Iya, Mas," atau "Silakan dihabiskan."

​Perlakuan itu begitu halus, namun dampaknya luar biasa nyata. Mas Hanif berkali-kali berdeham, menggeser posisi duduknya dengan tidak nyaman, dan menatapku dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa frustrasi yang tertahan. Dia merasa diabaikan, merasa eksistensinya sebagai kepala rumah tangga mendadak dikerdilkan menjadi sekadar pajangan di sudut meja makan. Sarapan yang seharusnya terasa nikmat itu seketika berubah menjadi hambar dan dingin di tenggorokannya.

​"Bunda, Kenzie sama Kayla main ke taman depan ya? Tadi Janu sudah panggil-panggil dari luar," pamit Kenzie setelah menghabiskan susunya, menyela keheningan yang mencekam itu.

​"Iya, Bunda. Kayla juga mau bawa rumah-rumahan barbie yang kemarin dibelikan Bunda," sahut Kayla sambil bangkit dari kursinya.

​Aku tersenyum lembut, mengusap pipi mereka bergantian. "Iya, sayang. Boleh main di depan, tapi jangan dekat-dekat pagar jalan raya, ya? Kalau capai, langsung masuk rumah dan minum air putih."

​"Siap, Bunda!" seru keduanya kompak. Mereka bergantian mencium punggung tanganku dengan takzim, lalu beralih mencium tangan Mas Hanif sebelum akhirnya berlarian riang keluar menuju halaman depan.

​Begitu pintu jati besar di depan tertutup dan suara tawa anak-anak mulai menjauh, keheningan di ruang makan mendadak jatuh dengan bobot yang berkali-kali lipat lebih berat. Sunyi yang mencekam.

​KLANG.

​Mas Hanif meletakkan sendok dan garpunya ke atas piring porselen dengan sedikit menghentak, menimbulkan denting nyaring yang memecah kesunyian. Dia memajukan tubuhnya, menumpukan kedua lengannya di atas meja, menatapku lurus-lurus dengan urat-urat halus yang mulai menegang di sekitar pelipisnya. Kelegaan yang dia rasakan semalam tampaknya telah menguap total, digantikan oleh ego kelelaki-annya yang terusik karena merasa tidak dipedulikan.

​"Hanum, kita perlu bicara," ucapnya, suaranya terdengar berat, dalam, dan sarat akan tuntutan.

​Aku tidak langsung menjawab. Dengan gerakan yang sangat lambat dan tenang, kutarik selembar tisu kain, menyeka sudut bibirku yang bersih dengan anggun, lalu melipatnya kembali dengan rapi. Baru setelah itu, aku mengangkat wajahku dan membalas tatapan matanya dengan pandangan yang sedatar permukaan telaga di musim dingin.

​"Bicara soal apa lagi, Mas? Bukankah semuanya sudah jelas semalam?" tanyaku, suaranya begitu tenang tanpa ada getaran emosi sedikit pun.

​Mas Hanif mengembuskan napas kasar melalui hidung, menggelengkan kepalanya dengan ekspresi tidak puas. "Jelas apanya, Num? Sikapmu sejak tadi pagi sama sekali tidak menunjukkan kalau semuanya sudah jelas! Kamu mendiamkan Mas, kamu mengabaikan Mas seolah-olah Mas ini tidak ada di meja makan ini. Bahkan kamu tidak mengambilkan kopi untuk Mas!"

​Dia menjeda kalimatnya, dadanya naik turun menahan dongkol. "Mas mau tanya langsung sama kamu... Apakah kamu sebenarnya tidak ikhlas di madu, Hanum? Kalau memang dari awal kamu tidak ikhlas, kenapa semalam kamu memberikan izin dan tersenyum seolah tidak ada masalah? Tolong jangan hukum Mas dengan sikap dingin yang kekanak-kanakan seperti ini!"

​Kekanak-kanakan?

​Kata itu hampir saja memancing tawa sarkas dari bibirku. Betapa lucunya pria ini. Dia menghancurkan fondasi sakral pernikahan kami demi wanita lain, tapi dia melabeli perlindungan logisku sebagai sikap yang kekanak-kanakan. Dia ingin menancapkan belati ke dadaku, namun menuntut agar aku tidak boleh mengeluarkan darah dan harus tetap melayaninya dengan senyuman hangat.

​Ketenanganku tidak goyah. Alih-alih terpancing untuk berteriak atau membalikkan meja makan mewah ini, aku justru memperbaiki posisi dudukku agar semakin tegap. Kutatap bola matanya yang mulai diselimuti amarah, menembus langsung ke dalam rasa bersalah yang mati-matian dia sembunyikan di balik topeng kemarahannya.

​"Mas Hanif," panggilku, suaraku mengalun perlahan namun memiliki tekanan yang sanggup membuat bulu kuduk meremang. "Mari kita bicarakan ini dengan kepala dingin, layaknya dua orang dewasa yang rasional."

​Aku memajukan sedikit tubuhku, menaruh kedua telapak tanganku yang saling bertautan di atas meja. "Kamu bertanya apakah aku ikhlas? Ikhlas atau tidaknya aku, bukankah tidak akan mengubah keputusanmu? Semalam kamu datang bukan untuk berdiskusi, Mas. Kamu datang untuk memberikan pengumuman bahwa kamu dan Ibumu sudah menentukan pilihan. Mengizinkanmu adalah bentuk kedewasaanku untuk tidak memperpanjang drama yang tidak perlu."

​Aku menatapnya tajam, membuat Mas Hanif sedikit tersentak di kursinya. "Tapi, karena kamu menuntut penjelasan atas sikapku, mari kita evaluasi pernikahan sepuluh tahun ini. Aku ingin bertanya langsung padamu, Mas... Apa aku punya kekurangan selama ini? Apa ada kewajibanku sebagai istri yang lalai kujalankan? Apa ada kebutuhan lahir dan batinmu yang tidak kupenuhi, sehingga... sampai kamu memilih untuk mencari madu di luar sana?"

​Pertanyaan yang kuajukan dengan nada tenang namun menusuk itu seketika membuat Mas Hanif membeku. Mulutnya sempat terbuka, namun tidak ada satu kata pun yang mampu lolos dari tenggorokannya. Wajah suamiku perlahan memerah, dihantam telak oleh kenyataan nyata bahwa aku adalah istri yang nyaris tanpa cela. Aku mengurus bisnis hingga sukses besar, merawat anak-anak kembarnya menjadi anak yang luar biasa, menjaga kehormatan keluarganya, dan tidak pernah sekali pun menuntut hal-hal yang di luar batas kemampuannya. Pabrik tekstil miliknya pun bisa menikmati masa kejayaannya saat ini karena aku yang terus memasok kontrak-kontrak kerja sama bernilai miliaran rupiah dari merek hijabku.

​"Num... bukan begitu," gagap Mas Hanif, suaranya mendadak melemah, kehilangan taring kemarahannya yang tadi sempat menggebu-gebu. "Kamu... kamu tidak punya kekurangan. Mas sudah bilang semalam, kamu istri yang sempurna. Tapi ini soal... soal keinginan Ibu, soal takdir dan Mas hanya ingin membangun ibadah yang lebih luas..."

​"Cukup, Mas. Jangan bawa-bawa istilah ibadah untuk menutupi keegoisanmu. Itu terdengar sangat murah di telingaku," potongku dengan lambaian tangan halus, menghentikan kalimat manipulatifnya sebelum sempat selesai. Setiap kata yang dia ucapkan tentang wanita itu hanya mempertegas posisinya sebagai seorang pengkhianat dan orang asing di mataku.

​Aku menyandarkan kembali tubuhku ke kursi, mengambil jeda sejenak untuk membiarkan keheningan kembali menguasai ruangan. Aku membiarkan Mas Hanif tenggelam dalam rasa bersalahnya yang pekat. Namun, serangan utamaku belum selesai. Ada satu kartu as yang sengaja kusimpan untuk kuhantamkan ke atas egonya pagi ini sebuah kartu yang kutahu pasti akan mengguncang seluruh keberaniannya hingga ke akar-akar.

​Kutatap wajah tampan suamiku yang kini tampak kuyu, lalu melontarkan pertanyaan berikutnya dengan nada yang sengaja kubuat seringan angin lalu, namun memiliki efek seperti hantaman bom waktu.

​"Satu hal lagi, Mas... Apakah Papa sudah tahu soal hal ini?"

​DEG.

​Dalam hitungan detik, aku bisa melihat bagaimana warna kulit di wajah Mas Hanif berubah drastis dari kemerahan menjadi pucat pasi. Matanya melebar, dan jakunnya naik turun dengan cepat saat dia menelan ludah dengan susah payah. Tubuhnya yang tadi condong ke depan, seketika menegak kaku seolah baru saja disengat aliran listrik bertegangan tinggi.

​Papa Hanif Papa mertuaku. Pria paruh baya bertangan dingin yang mengelola lini bisnis utama keluarga besar mereka. Dia memang bukan Papa kandung Mas Hanif dia adalah suami kedua dari Ibu mertuaku yang dinikahi setelah ayah kandung Mas Hanif tiada sejak Mas Hanif kecil. Namun, meskipun tidak memiliki ikatan darah, Papa mertuaku adalah pria yang luar biasa bijaksana dan sangat dihormati.

​Dan yang paling krusial adalah... Papa sangat menyayangiku. Karena dia tidak pernah dikaruniai anak perempuan sepanjang hidupnya, sejak hari pertama Mas Hanif membawaku ke rumah keluarga mereka, Papa sudah menganggapku dan memperlakukanku persis seperti putri kandungnya sendiri. Papalah yang selalu membelaku saat Ibu mertuaku mulai melontarkan sindiran-sindiran tidak penting tentang kesibukan karierku. Papalah yang selalu bangga memamerkan kesuksesan merek hijabku kepada kolega-kolega bisnisnya. Bagiku, Papa adalah sosok ayah sejati yang kehadirannya sangat kuhormati dalam hidup ini.

​"Num... kenapa... kenapa kamu harus membawa-bawa Papa dalam urusan ini?" suara Mas Hanif mendadak bergetar, ada ketakutan yang teramat nyata tersembunyi di balik nadanya.

​"Tentu saja aku harus bertanya, Mas," balasku, menyunggingkan senyum tipis yang dingin. "Pernikahan kita sepuluh tahun lalu direstui oleh Papa. Kehidupan bisnis pabrikmu saat ini juga tidak lepas dari pengawasan dan bimbingan Papa. Jadi, wajar bukan kalau aku bertanya apakah pria yang paling kuhormati di keluarga ini sudah mengetahui keputusan besarmu untuk memadu pernikahan kita?"

​Mas Hanif mengalihkan pandangannya dari mataku, tidak berani lagi membalas tatapanku. Jemari tangannya yang berada di atas meja tampak saling meremas satu sama lain dengan gelisah. Ketakutannya sangat beralasan. Dia tahu betul bagaimana tabiat Papanya. Jika Papa sampai tahu bahwa anak tiri yang sudah dibesarkan dan didukungnya hingga sukses ini berniat mengkhianati menantu kesayangannya demi wanita lain pilihan sang Ibu, Papa tidak akan tinggal diam. Papa bisa saja menarik seluruh dukungan finansial, memotong akses jaringan bisnis, atau bahkan mencoret nama Mas Hanif dari daftar ahli waris lini bisnis utama keluarga.

​"Mas... Mas belum bicara dengan Papa," aku Mas Hanif akhirnya dengan suara yang sangat pelan, hampir seperti bisikan yang sarat akan kepasrahan. "Kamu tahu sendiri bagaimana watak Papa, Num. Dia... dia pasti tidak akan mengerti situasi ini dengan mudah. Ibu yang melarang Mas untuk bicara dengan Papa dulu. Ibu bilang, ini urusan internal Mas, kamu dan Ibu."

​Aku mendengarkan pengakuannya dengan rasa jijik yang semakin membuncah di dalam hati. Benar-benar anak mama yang penurut di jalan yang salah. Mereka berdua Mas Hanif dan ibunya diam-diam menyusun rencana ini di belakang Papa, karena mereka tahu mereka akan menghadapi tembok besar kemarahan Papa jika bertindak terang-terangan. Mereka sengaja menungguku memberikan izin terlebih dahulu, berharap jika aku sudah setuju, Papa tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi.

​"Begitu ya..." ucapku pelan, mengangguk-angguk kecil seolah memahami posisinya. "Kalian merencanakan ini di belakang Papa karena kalian takut."

​"Bukan takut, Num! Mas hanya mencari waktu yang tepat!" potong Mas Hanif cepat, mencoba membela sisa-sisa harga dirinya yang sudah hancur berantakan di atas meja sarapan ini. "Mas pasti akan bicara dengan Papa, tapi nanti... setelah semuanya sudah berjalan. Mas mohon sama kamu, jangan bicarakan hal ini dengan Papa dulu. Mas tidak ingin ada keributan besar di keluarga kita yang bisa mengganggu kesehatan Papa."

"​Mengganggu kesehatan Papa, atau mengganggu posisi amanmu di bawah ketiak bisnis Papa?." batalku mencibir dalam hati.

​Aku bangkit dari kursi makan, berdiri dengan tegak dan anggun, memandang suamiku yang masih duduk termenung dengan wajah pucatnya dari atas. Keheningan di antara kami kini terasa mutlak.

​"Aku tidak akan mengadu pada Papa, Mas. Tenang saja," ucapku tenang, memberikan kepastian palsu yang langsung membuat Mas Hanif mendongak dengan binar lega yang kembali muncul di matanya. Pria bodoh ini benar-benar berpikir aku akan melindunginya.

​"Terima kasih, Num. Kamu memang istri yang..."

​"Aku tidak akan bicara dengan Papa sekarang," potongku, menatapnya dengan senyuman manis yang paling misterius yang pernah kulihat di cermin. "Biarkan saja semuanya berjalan sesuai dengan skenario yang sudah kamu dan Ibumu susun. Menikahlah dengan Sarah-mu itu. Antarkan dia ke dalam kehidupanmu."

​Aku berbalik, melangkah meninggalkan ruang makan dengan konstan. Di setiap langkahku menuju ruang kerja pribadi di lantai bawah, logikaku bekerja dengan kepuasan yang dingin. Aku memang tidak akan memberi tahu Papa sekarang. Mengadu seperti wanita lemah yang teraniaya bukanlah gayaku. Aku akan membiarkan Mas Hanif melangsungkan pernikahannya, membiarkan dia mengikat dirinya sendiri dalam jebakan hukum gono-gini rahasia yang akan kusiapkan bersama Pak Baskara besok pagi.

​Nanti, saat semua aset perusahaannya sudah resmi beralih ke tanganku dan anak-anakku, dan saat aku melayangkan gugatan cerai resmi ke pengadilan... di situlah aku akan membawa seluruh bukti pengkhianatannya ke hadapan Papa. Aku akan memastikan Papa melihat sendiri bagaimana rupa asli anak tiri yang sudah dibanggakannya ini. Saat hari itu tiba, Mas Hanif tidak hanya akan kehilangan aku dan harta kekayaannya, tetapi dia juga akan kehilangan perlindungan dan rasa hormat dari satu-satunya pria yang paling dia takuti di dunia ini.

​Nikmatilah sarapan dinginmu hari ini, Mas Hanif, karena sebentar lagi, seluruh hidupmu akan membeku tanpa ada sisa kehangatan sedikit pun dari dunia yang pernah kuberikan untukmu.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!