“Astaga... kepalaku sakit... padalah baru 4 buku untuk malam ini”
Yovada aksobus, seorang siswa yang sangat menjunjung tinggi logika dan juga sangat rasionalis. Ia adalah seseorang yang memiliki ketertarikan dengan buku atau pengetahuan yang membuatnya jauh dari kata cinta ataupun perasaan suka pada seseorang. Ia di kenal sebagai seseorang yang sangat dingin dan memiliki pertemanan yang sedikit karena ia tahu bahwa dirinya bisa berdiri dengan kaki tangannya sendiri.
“sebaiknya aku tidur saja, besok adalah hari baru untuk pengetahuan yang jauh lebih baik.”
Yovada menarik selimutnya dan kemudian mematikan lampu dan menyalakan lampu tidurnya. Ia tertidur dengan lelap dengan kepala yang masih berkecamuk masalah ilmu yang masih di cernanya di dalam otaknya.
Pagi tiba dengan di sambut bunyi alarm dari ponselnya. Ia mematikannya lalu mulai bangkit sambil menggosok matanya. Ia meraba mejanya dan mengambil kaca matanya untuk melihat dengan jelas. Ia turun dari ranjangnya dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya lalu ia membereskan ranselnya kemudian ia pergi ke sekolahnya dengan sepeda motor. Ia menjaga kecepatan motornya agar ia tetap berada di kecepatan yang seharusnya.
Ketika ia sampai di sekolahnya, ia langsung masuk ke dalam kelas dan kemudian melihat 3 temannya sedang berkumpul di dekat mejanya untuk mendiskusikan sesuatu. Yovada yang melihat itu langsung menghampirinya kemudian menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan di sana. Zico yang mendengar itu langsung menjawab dengan bingung.
“Yovada, kamu ingat hari ini sedang ada ujian? Kami tidak ada belajar dan untungnya kita masih punya beberapa jam sebelum ujian itu di mulai. Bisa kamu bantu kami?” ucap Zico pada Yovada dengan sedikit gugup dan juga panik.
“kita masih punya 2 kali istirahat dan itu bisa kita pakai untuk belajar. Namun apa waktu segitu cukup?” ucap nova pada Yovada dengan penuh harapan dan optimis.
“apa kita punya harapan untuk dapat nilai rata-rata?” ucap Zikri dengan penasaran.
Yovada yang mendengar pertanyaan itu hanya menaruh tasnya di atas kursinya dan kemudian duduk sambil merenung dan melihat ke arah mereka.
“bisa saja, namun jangan banyak berharap. Setidaknya nilai kita ada di atas rata-rata.” Ucap Yovada dengan begitu yakin namun juga bingung bagaimana mengajari mereka dalam waktu sesingkat ini.
Jam pembelajaran pun di mulai, seorang bu guru masuk dan menaruh bukunya di atas meja dan kemudian mengucapkan salam sambil menulis materi di depan papan tulis. Yovada dan teman temannya sudah pasti memperhatikan dan mencatat apa yang mereka anggap penting dan kemudian menjawab pertanyaan yang di lontarkan bu guru pada mereka.
Pertemanan Yovada bukanlah pertemanan yang memang bisa di anggap remeh, pasalnya mereka adalah orang-orang yang memang memiliki minat belajar yang tinggi dan sering di anggap manusia dengan penuh logika. Zico sendiri adalah seseorang yang ahli dalam melakukan parket dan pengamatannya memang sangat tajam, nova sendiri memiliki seorang ayah profesor yang memang sering di didik agar menjadi seseorang yang tekun dalam belajar dan memiliki pengetahuan yang luas. Sedangkan Zikri adalah seorang yang memang gemar memahami hal baru. Yovada sendiri bukanlah seseorang yang bisa di anggap remeh, ia adalah seseorang yang memilik pengetahuan yang sangat luas dan sering menjadi kebanggaan sekolah sebelumnya. Perpustakaan adalah tempat yang sering di kunjungi Yovada, bahkan ia tahu siapa saja petugas yang bekerja di setiap harinya dan juga mereka mengenal Yovada adalah seseorang yang suka membaca dan selalu duduk di meja nomor 17 di pinggir ruangan tang memudahkan akses dengan rak buku lain dan juga tempat yang paling dekat dengan pendingin ruangan yang membuat Yovada betah berada di sana hingga jam tutup perpustakaan itu.
Di saat jam istirahat, mereka berkumpul di meja taman dan membahas mata pelajaran yang akan di ujikan nanti di jam terakhir. Yovada dan teman-temannya langsung mendiskusikan apa yang mereka ingat dan ketahui satu sama lain. Tiada kecurigaan di antara mereka, bahkan mereka juga saling bertanya dan menyimak apa yang di sampaikan temannya. Di saat pembicaraan masalah pembelajaran itu, seseorang dari kelas mereka ikut bergabung dalam pembahasan mereka. Yovada dan yang lainnya sebenarnya tidak keberatan dengannya namun ada tatapan yang berbeda dari Yovada. Bukan karena dia tidak sepintar dengan dirinya namun Yovada tahu bahwa ia adalah manta dari pemenang cerdas cermat tingkat nasional sebelumnya. Namun dirinya kini berubah dan menjadi seseorang yang di butakan cinta. Ia bukan lagi seseorang yang jenius namun menjadi pemegang peringkat 10 dari bawah selama beberapa semester terakhir.
Ia ikut berbicara dengan Yovada dan teman-temannya dan kemudian ikut mendengarkan dan menjelaskan apa yang ia tahu tentang pembelajaran yang ia paham tantang pembelajaran itu. Melihat kerja sama yang cocok dan juga mereka bisa mengimbangi pembicaraannya, diskusinya pun berlangsung cukup lama bahkan sampai membuat mereka hampir saja terlambat masuk kelas.
Di saat Yovada duduk di kursinya, orang itu juga duduk di sebelah Yovada. Mereka berkenalan dan orang itu adalah Mahfuz seorang mantan cerdas cermat yang kini di butakan oleh cinta. Yovada menatapnya seakan ia adalah seseorang yang aneh karena menjual logikanya demi cinta yang dapat membuatnya menjadi bodoh. Di saat menunggu guru lain masuk ke kelasnya, ia sedikit berbicara pada Yovada. Yovada pun menanggapinya dengan baik dan menjawab dengan seadanya, namun di balik jawaban Yovada itu sendiri ia memiliki pertanyaan yang sangat ia bingungkan dirinya. Pada akhirnya ia memutuskan membuat janji dengan temannya itu dan mereka akan bertemu dan berbicara nanti di taman literasi dekat perpustakaan yang biasanya memang sepi dan jarang sekali ada orang yang berada di sana. Ia pun setuju dan seketika seorang guru masuk dan mulai menjelaskan pembelajaran dan mereka mulai mencatatnya.
Di saat istirahat ke dua, ia bertemu di taman literasi dan kemudian Yovada memulai pembicaraan di antara mereka.
“Mahfuz, senang bisa bicara pada seseorang yang memenangkan cerdas cermat di tingkat nasional. Bagaimana kabarmu?” ucap Yovada dengan lembut kepadanya.
“tentu saja aku baik. Oh... ngomong-ngomong terima kasih sudah membantuku belajar tadi, aku juga lupa belajar dan setelah mendengar penjelasan kalian aku jadi tambah mengerti.” Ucap Mahfuz pada Yovada dengan senang.
Seketika tatapan Yovada sedikit lebih serius kepada Mahfuz. “Mahfuz, aku tahu kamu pintar namun kenapa tingkahmu menjadi lebih konyol dari biasanya. Awal aku bertemu denganmu aku pikir kamu adalah sainganku dan aku akan kewalahan untuk menyaingi pemikiranmu. Namun kenapa kamu malah jatuh ke bawah? Apa lagi setelah kamu dekat dengan wanita itu, kamu jauh berubahnya.” Ucap Yovada pada mahfuz dengan nada pelan namun serius seakan Yovada sedang menginterogasinya.
Mahfuz hanya tersenyum dan menatapnya dengan bercanda. “Yah... sudah jadi rahasia umum bahwa aku di kenal sangat pintar namun kini menjadi lebih bodoh dari yang mereka bayangkan. Namun ini bukan sepenuhnya salah diriku... yah... mungkin di butakan cinta itu tidak seburuk itu...” ucapnya dengan tertawa namun juga memberikan kesan seakan tertarik dengan pertanyaan Yovada.
“apa yang ada di otakmu saat kamu memikirkan menjual logika dan pengetahuanmu dengan suatu cinta yang fana? Apakah kepalamu terbentur sesuatu hingga membuatmu berpikir cinta itu lebih baik dari pada logika untuk pengetahuan?” Tanya Yovada dengan lebih dalam, nada suaranya seakan menekan Mahfuz untuk mengatakan bahwa itu adalah kesalahannya.
“baiklah... jika kamu tahu, itu bukanlah kesalahan. Aku memang menyukainya dan aku memutuskan seperti ini untuknya. Aku tidak ingin mengecewakannya dan kamu tahu itu harusnya. Aku memang terdengar gila namun jujur saja itu tidak seburuk yang kamu pikirkan sebenarnya. Aku yakin suatu saat nanti kamu juga akan merasakan cinta itu.” Ucap Mahfuz pada Yovada dengan nada yang berusaha meyakinkannya agar tidak takut pada sebuah cinta.
“cinta? Apa itu? Aku tidak akan menjual logikaku demi sesuatu yang fana. Aku menantang apa itu cinta karena aku sendiri tidak pernah merasakan apa yang kalian sebut dengan gelombang cinta. Apa layak seseorang jatuh cinta padahal dirinya harus berubah seperti yang ia inginkan demi mendapatkan cintanya?” ucap Yovada pada Mahfuz dengan sikap seperti tidak percaya pada apa yang di ucapkan temannya.
“Yovada... tidak ada seseorang yang tidak jatuh cinta di dunia kecuali ia membunuh cinta itu. Juga tidak ada yang membunuh cinta itu sebelum ia mencobanya. Kamu harus tahu kenapa kamu membunuhnya dan melihat bahwa cinta tidak seburuk itu...” ucapnya meyakinkan Yovada. Namun tatapan Yovada seperti tidak tertarik sedikit pun pada cinta yang di katakan Mahfuz itu. Namun ia sendiri penasaran dengan apa yang di katakan Mahfuz.
“hemm... aku tidak tertarik sedikit pun. Namun aku mengerti apa yang kamu katakan. Mungkin jika aku butuh bantuanmu akan aku tanyakan lagi.”
Mereka pun pergi dengan arah yang berlawanan. Yovada melihat ke belakang dan melihat Mahfuz berpelukan dengan pacarnya dengan penuh mesra dan juga canda tawa. Yovada tidak dapat memahaminya dan ia berbalik kembali lalu ia berjalan memasuki perpustakaan sekolahnya. Setelah ia memasuki perpustakaan. Seperti biasanya perpustakaan sekolah, buku-buku kuno dan juga yang sudah tidak relevan dengan sistem belajar yang sekarang. Ia melihat hanya ada beberapa orang saja yang ada di sana. Bahkan jari tangannya saja masih lebih banyak dari pada jumlah pengunjungnya.
Di saat ia mengambil sebuah buku, tiba-tiba sebuah buku kamus yang tebal jatuh menimpa kepala Yovada. Seorang wanita berdiri dan menatap ke arah Yovada. Ia memperhatikan Yovada yang terkapar di lantai dan kacamatanya bulatnya terlepas dari wajahnya. Wanita itu menatapnya dengan dingin namun ia menyenderkan Yovada di tembok dan kemudian menunggunya tersadar.
Di saat Yovada mulai tersadar, ia mulai membuka matanya dan melihat seorang wanita di hadapannya sambil berkata di hadapannya dengan wajahnya yang sangat dingin.
“kamu... tidak papa...?”
Yovada membuka matanya dan kemudian melihat bahwa dirinya sedang terduduk di lantai dan bersandarkan dinding. Di hadapannya kini ada seseorang wanita dengan tatapan dingin, tanpa senyum, tanpa suara, hanya sebuah rasa penasaran yang ada di dalamnya. Yovada yang melihat itu langsung tersadar dan langsung bangkit sambil membersihkan bajunya dan celananya. Ia menatap sekitarnya, tiada banyak orang dan hanya wanita itu yang memperhatikannya. Yovada kembali meliriknya dengan tatapan datar tanpa rasa. Ia mengucapkan terima kasih padanya lalu berjalan menjauh dengan buku yang ia ambil tadi.
Wanita itu menatapnya tanpa banyak berbicara. Hanya tatapan kosong dengan kesunyian dan kemudian mengangguk kepada Yovada. Ia kembali pergi ke mejanya dan kembali membaca buku yang ia pinjam.
Meja di sana seperti meja makan, hanya ada 3 baris meja yang sangat panjang dengan masing-masing 1 tempat duduk di setiap sisinya seperti meja makan yang ada di kantin. Yovada duduk paling ujung di belakang bagian kiri sedangkan wanita itu duduk di ujung depan bagian kanan dekat pintu. Yovada kembali ke buku yang ia ambil dari rak tadi. Buku itu membicarakan bagaimana orang zaman dulu bisa belajar dengan gigih dan mendapatkan pengetahuan yang sangat luas. Bukan hanya itu, di sana juga ada buku yang membahas tentang pengetahuan dan pemikiran orang zaman dahulu yang membuatnya cukup betah. Setidaknya dari sekian banyaknya buku yang ia temui di perpustakaan itu, hanya buku-buku seperti ini yang membuatnya tertarik karena sisanya tidak lebih dari buku-buku pembelajaran zaman dahulu yang sudah tidak relevan dan juga membosankan karena hanya membahas daras yang baginya sudah ia pelajari mulai sekolah dasar.
Sesekali tatapan Yovada berpindah kepada wanita yang menolongnya, ia membetulkan posisi kaca matanya. Wanita itu begitu tenang, dingin, tanpa banyak bicara dan sangat mencolok karena rambut pendeknya yang membuat banyak pria kadang meliriknya namun tidak banyak yang berani menyapanya karena mereka tahu bahwa wanita itu layaknya balok es abadi yang berada di tengah gurun karena sangat mustahil untuk di balas sapaannya tersebut. Tatapan wanita itu seperti ketenangan yang tidak di miliki wanita lain. Di saat wanita lain bersikap berbeda dari yang lain seperti ceria, aktif, atau mendekati pria populer, wanita yang satu ini hidup dalam ketenangan dan tatapan dingin yang membuatnya sangat mencolok dari yang lain.
Beberapa wanita melintas melewatinya namun tidak ada yang menyapanya. Sebagian lain malah membicarakannya di belakangnya seakan ia adalah seseorang yang aneh. Wanita itu mengetahui hal bahwa dirinya di bicarakan oleh teman-temanya namun ia tetap hidup dalam ketenangan.
Tiba-tiba bel kelas berbunyi yang menandakan jam istirahat ke 2 sudah mau berakhir dan para siswa dan siswi di haruskan untuk memasuki kelas mereka karena jam pembelajaran akan segera di mulai. Yovada yang mendengar itu langsung bergegas meninggalkan mejanya dan keluar dari perpustakaan itu. Namun di saat ia keluar, ia berbarengan dengan wanita yang menyelamatkannya itu lagi. Kali ini mereka berjalan berdampingan menuju kelas mereka masing-masing. Ia melihat bahwa wanita itu memasuki kelas 12C sedangkan ia ada di kelas 12D. Mereka pada akhirnya memasuki kelasnya masing-masing dan pertemuan mereka terputus hingga depan pintu kelas.
Di kelas, Yovada kembali duduk di bakunya dan teman-tamannya menemuinya untuk mengucapkan terima kasih padanya karena membantu mereka belajar. Yovada tersenyum kemudian ia berbicara pada mereka bahwa yang paling penting baginya bukanlah nilai namun bagaimana kalian menyelesaikan soal tersebut sesuai dengan apa yang kita pelajari. Ia akan sangat senang jika jawaban esai mereka nanti di jawab dengan pemahaman kalian dan jawabannya memang mewakili bagaimana mereka berpikir. Sebelum ia mengakhiri pembicaraan itu ia bilang “kemampuan seseorang dalam menilai sebuah jawaban memanglah berbeda dan pasti memiliki jalannya. Masalah benar atau tidaknya di mana orang lain adalah masalah nanti karena kebenaran di mata filsafat adalah relatif dan filsafat adalah ibu dari berbagai ilmu pengetahuan”
Mereka kembali ke tempat duduk mereka dan kemudian bersiap untuk menjawab soal yang akan di bagikan nanti. Di saat ibu guru mereka datang dan membagikan soal dan lembar jawaban kepada para peserta didik, Yovada dan teman temannya tanpa ragu langsung memulai menjawab dari bagian esai dan lanjut ke bagian pilihan ganda. Mereka begitu cepat mengerjakannya dan mengumpul lembaran tersebut lebih awal dan kemudian bergegas pulang ke rumah mereka masing-masing.
Saat mereka di parkiran motor, mereka berbicara bahwa soal yang di bagikan b\=tidak seburuk yang mereka pikirkan. Mereka saling mengaku bahwa jawaban yang mereka miliki sebagian besar berasal dari apa yang mereka diskusikan tadi dan sangat membantu. Mereka tertawa di parkiran dan kemudian menyalakan mesin motor untuk memanaskan mesinnya.
“Yovada, apa yang kamu lakukan dengan Mahfuz di taman literasi tadi? Aku melihat kalian seperti berbicara begitu serius.” Ucap nova kepadanya.
“ya, apa ia memintamu mengajarkannya bagaimana menjadi pintar sepertimu agar dirinya yang dahulu kembali lagi?” tanya Zico padanya dengan penasaran.
“hanya sedikit hal yang ingin aku tanyakan padanya. Bukan hal penting seharusnya namun sebaiknya kalian tidak perlu tahu akan hal ini.” Ucap Yovada pada ke tiga temannya.
“namun aku mendengar bahwa kamu sempat pingsan di perpustakaan dan di tolong seorang wanita. Apa itu benar? Jika iya, ini sebuah hal yang langka. Selama aku mengenalmu tidak ada satu wanita pun yang membuatmu tertarik. Namun kini ada seseorang yang membuatnya tertarik? Itu keren sekali.” Ucap Zikri pada Yovada dengan penuh kagum karena hal itu.
Yovada yang mendengar itu hanya menggelengkan kepala lalu mengenakan helmnya. Ia menjawab bahwa itu hanya kebetulan dan tidak akan terulang lagi. Ia menarik gas motornya dan kemudian pergi dari parkiran motor itu. Di jalan, ia singgah di beberapa tempat seperti toko buku untuk membeli sebuah buku sejarah industri lalu pergi lagi ke toko buah dan kemudian pergi ke toko makanan agar ia memilik persediaan untuk sarapan dan makan malam nanti. Di jalan ketika ia pulang, ia teringat wanita yang menolongnya tadi, ia melamun sebentar tersadar karena ada sebuah teriakan seorang wanita yang sangat keras. Menyadari hal itu Yovada langsung menarik tuas remnya dan membuatnya terjatuh ke aspal. Wanita itu marah-marah kepada Yovada karena hampir saja menabraknya. Namun Yovada baru sadar bahwa ibu-ibu itu salah karena ia menyeberang di luar penyebrangan jalan dan rambu untuk menyeberang saja berwarna merah. Yang menandakan bukan waktunya menyeberang. Yovada yang melihat itu langsung menaiki motornya dan kemudian pergi meninggalkan ibu-ibu yang sedang marah-marah padanya. Namun ketika ia sedang pergi, seorang anak menatapnya dengan tatapan dingin seakan ia melihat sesuatu padanya. Yovada tidak memedulikannya dan langsung menarik gasnya dan pergi dari tempat itu.
Di dalam rumah, Yovada seperti biasa ia kembali dengan sebuah buku yang ia tadi malam. Ia kembali dari 2 halaman sebelumnya agar ia mengingat apa yang ia baca sebelumnya. namun di saat ia memulai membaca buku itu, perhatian ia langsung teralihkan dengan beberapa pesan yang ada di ponselnya. Ia melihat melirik sedikit dan membaca bahwa besok sekolahnya libur karena ada rapat di ruang guru. Yovada yang mendengarnya langsung tersenyum dikit dan melanjutkan bacaannya. Ia membaca buku yang menceritakan sejarah seseorang yang mencintai pasangannya hingga menjadi gila. Jujur saja, Yovada tidak tertarik dengan buku ini namun karena ia telah membelinya maka ia harus membacanya hingga selesai. Namun baru beberapa halaman ia sudah menyerah. Ia sadar bahwa ia bukan seseorang yang mudah di butakan cinta.
Ia menutup bukunya dan menaruh bukunya di rak buku. Namun di saat ia menaruh bukunya, ia sadar bahwa banyak buku yang berhamburan di kamarnya. Buku-bukunya tergeletak di lantai dan ia mulai mengambi bukunya satu persatu yang ada di lantai dan mulai menyusunnya kembali ke rak buku. Namun di saat ia menyusun buku itu, ia menemukan sebuah buku yang pernah di berikan di saat ia kelulusan SMP dulu. Namun di saat ia membuka bukunya, ada sebuah pesan tersirat dari temannya yang saat itu memberikan bukunya.
“yova... aku tahu kamu mungkin tidak akan membaca buku ini dalam waktu lama. Lagi pula aku tidak tahu buku apa yang kamu sukai dan pola pikir kita memang beda jauh. Namun aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Jujur saja aku menyukaimu sejak kita berbicara di kelas 7. Aku pikir kamu akan menyadarinya namun kamu malah bersikap begitu dingin padaku. Aku memberikan buku ini karna aku tidak tahu apa yang kamu suka namun aku tahu kamu membutuhkan cara untuk mencintai seseorang dalam hidupmu.”
Dibawah-Nya ada sebuah nama yang tertulis “Sinta Laura”
Ketika membaca nama itu, Yovada langsung teringat seseorang yang sangat dekat dengannya, Yovada memang tidak memiliki perasaan suka padanya namun Yovada sendiri sadar bahwa sikapnya dengan orang lain memang berbeda jika di banding dengan Yovada itu sendiri. Ketika di baca judul buku itu bertuliskan “surat cinta untukmu di masa depan”
Membaca itu, Yovada langsung menyipitkan matanya dan melempar buku itu ke bak sampah yang di penuhi dengan tumpukan kertas dan rautan pensil. Ia kembali membereskan buku-bukunya hingga semuanya bersih. Ia mengambil sebuah sapu dan menyapunya hingga bersih hingga tiada debu di kamarnya. ia mulai berbaring di ranjangnya dan kemudian menatap langit dengan tatapan pasrah dan juga kebingungan dengan dirinya sendiri. Ia merasa ada yang aneh jika ia menerima cinta itu sendiri, seakan ada yang membuatnya berbeda dari biasanya. Sikap dingin baginya adalah sebuah sikap biasanya pada setiap orang. Ia membenci seseorang yang terlalu berlebihan dalam sikapnya. Pada akhirnya ia menarik selimutnya dan berkata.
“apakah... cinta itu... baik untukku? Atau... hanya sebagai... penghalang dalam menuntut ilmu pengetahuan?”
Malam itu Yovada tidak bisa tidur dengan nyenyak. Kepalnya berisik seakan ada perdebatan yang sangat sengit di dalam kepalanya untuk saat ini.
Di pagi hari, Yovada terbangun karena alarm ponselnya yang berbunyi. Ia mengenakan kacamatanya dan melihat jam di alarmnya. Ia sedikit terkejut dengan jam yang menunjukkan pukul 8.00 pagi dan langsung turun dari ranjangnya namun sayangnya ia langsung terjatuh karena kakinya mati rasa. Ia berusaha merasakan kakinya namun rasanya seperti ia tidak bisa mengendalikannya. Ia merangkak ke depan kamar mandi dan ia harus meraih kloset dan kemudian duduk di sana. Ia merenung sebentar dan mengingat apa yang terjadi. Ia berusaha kembali sadar dan kemudian mencoba kembali bangkit dan kemudian mandi untuk membersihkan dirinya.
Ia kemudian bersiap-siap untuk pergi ke perpustakaan untuk membaca buku di sana. Ia tidak lupa untuk sarapan yang mana ia membuatnya sendiri. Ia makan sebuah roti palis dengan isi daging dan sayuran. Ia menggunakan baju kemeja rapi dengan celana kain yang rapi dan formal. ia ingin menggunakan motornya namun di saat ia sedang ingin memasukkan kunci motornya, kepala ia tiba-tiba sakit kepala. Ia sadar bahwa ini dikarenakan tadi malam Yovada tidak tidur dengan nyenyak.
Ia mengurungkan niatnya untuk menunggangi motornya dan memilih untuk pergi ke perpustakaan dengan menggunakan Taksi Online yang ada di ponselnya. Ia memesannya dan seketika mobil itu datang, Yovada langsung masuk dan mengatakan untuk pergi ke toko minuman kopi yang berada tidak jauh sebelum perpustakaan. Pengemudi pun mematuhi apa yang di katakan oleh Yovada dan langsung menjalankan mobilnya menuju perpustakaan.
Selama di perjalanan, Yovada menahan mengantuknya dan berusaha membuatnya tetap terjaga namun usaha malam membuatnya semakin mengantuk. Dirinya berusaha melihat ke depan namun kelopak maranya tetap saja begitu berat. Seketika ia tidak sengaja memejamkan matanya dan ia tertidur di dalam mobil itu. Ia berusaha sadar dan di saat ia membuka mata, mobil itu berhenti di depan toko minuman kopi yang ia langsung memesan segelas kopi untuk ia minum sebelum masuk ke dalam perpustakaan. Ia berusaha tetap terjaga namun masih saja agak sedikit susah untuk tetap terjaga.
Di saat ia sampai, ia langsung keluar dari mobil dan langsung berjalan masuk ke dalam untuk melihat buku apa yang bisa ia baca. Di sana suasananya sangat damai dan tenang. Di saat itu, ia berjalan santai ke lantai ke 2 dan memasuki koleksi umum. Koleksi umum hanya ada seperti buku-buku biasa namun kadang bukunya selalu berganti-ganti setiap 5 tahun sekali dan kadang ia juga meminjam beberapa buku dan juga menyumbangkan beberapa buku yang ia miliki. Para penjaga perpustakaan mengenalnya sebagai pengunjung tetap karena kesetiaannya yang sering mengunjungi dan memberikan saran dan kritik yang membangun.
Di sana ia langsung menunu rak buku yang berisi dengan penemuan-penemuan zaman dahulu yang melegenda. Di saat ia mengambil buku itu, ia terkejut ketika ia melihat sebuah wajah wanita di antara 2 celah buku yang ia buat karena mengambil buku itu. Wanita itu adalah orang yang menolongnya di perpustakaan sekolah kemarin. Ia sedikit terkejut namun ia berusaha menahan ekspresinya. Wanita itu menaikkan alisnya dengan sedikit terkejut namun kembali lagi karena mengetahui bahwa orang di hadapannya adalah orang yang ia tolong kemarin. Mereka berbalik dan berpisah di sana.
Di saat ia mencari meja yang biasanya ia tempati, ia melihat ada buku di sebelah mejanya. Ia melihat ke meja itu dan melihat bahwa di atas buku itu ada kartu pengunjung perpustakaan seseorang yang memiliki nama Kesya Nafsah yang mana sebelum Yovada bisa mengenali wajah pemilik kartu itu, seseorang langsung menegurnya di belakang.
“Kamu sedang apa di mejaku?” Tanya wanita itu yang membuat Yovada terkejut. Yovada melihat ke belakang dan mengenali bahwa orang tersebut adalah orang yang sama.
“tidak... hanya penasaran saja...” Ucap Yovada dengan nada dingin dan suara pelan. Ia menaruh buku di meja sebelahnya dan kemudian ia membaca bukunya dengan tenang. Wanita itu menempati tempat duduknya kemudian ia membaca bukunya.
Mereka membaca bukunya dengan tenang. Yovada dan Kesya sedang membaca bukunya masing-masing dan mereka tidak terkalihkan dengan hal apa pun. Pengunjung silih berganti dan mereka tetap di tempat yang sama. Terkadang Yovada sendiri pergi ke rak buku lain untuk melihat buku yang membuatnya tertarik. Namun di saat yang sama, Kesya melihat ke meja Yovada dan melihat kartu pengunjung yang bertuliskan nama Yovada Aksobus. Yovada yang melihat hanya membunyikan tenggorokannya yang membuat Kesya berpaling dengan tatapan dingin dan kembali ke tempatnya.
Mereka kini saling diam, di satu sisi Yovada memang tidak miliki rasa suka pada Kesya dan begitu pula sebaliknya. Namun mereka saling penasaran satu sama lain. Dari buku apa saja yang ia baca hingga ke bagian rak mana ia sering masuki. Mereka saling memperhatikan kebiasaan masing-masing hingga ke setiap cara mereka melangkah dan perilaku mereka.
Mereka tetap di sana bahkan hingga jam 4 sore di saat para pengunjung sudah pulang dan para staf sudah selesai membereskan buku-buku yang di pinjam. Yovada dan Kesya masih berada di tempat yang sama. Penjaga perpustakaan menegur mereka agar segera membereskan barang bawaan mereka karena perpustakaan mau di tutup. Yovada yang mendengar itu langsung menutup bukunya dan membereskan barang bawaan seperti karu dan juga ponselnya. Namun berbeda dengan Kesya, ia terlihat kurang bersemangat meninggalkan perpustakaan. Wajahnya kelihatan kurang begitu bersemangat, kakinya lemas dan bahkan ketika ia mau berdiri tangannya harus bertumpu pada meja. Yovada yang melihat itu hanya diam dan berusaha mengabaikannya.
Bagi Yovada jika ia mengikut campuri urusan orang maka ia akan semakin kekurangan waktu untuk dirinya belajar dan mencoba hal baru. Ia berdiri dan meninggalkan Kesya sendirian. Di saat ia pergi untuk menuruni tangga. Beberapa petugas menolong Kesya untuk bangkit dan berjalan, namun Kesya menolaknya dan memaksakan dirinya untuk berjalan sendiri. Namun ketika ingin menuruni tangga, kaki Kesya malah salah memijak anak tangga yang membuat kakinya terkilir dan terjatuh menuruni anak tangga. Yovada yang ada di depannya malah terkejut dan langsung terdorong oleh Kesya yang ada di belakangnya. Mereka terjatuh merosot menuruni anak tangga hingga ke bawah.
Para petugas yang melihat itu langsung panik dan bergegas untuk melihat keadaan mereka. Para petugas yang ada di bawah sudah langsung mengerumuni mereka. Terlihat Yovada yang memeluk tubuh Kesya yang mana kepalanya berada aman di dada Yovada. Sedangkan Yovada sendiri harus menjadi pelindung Kesya yang mana ia mengorbankan tubuhnya untuk menahan setiap benturan anak tangga di punggungnya. Mereka mencoba membantu Yovada bangkit berdiri dan memeriksa ke adaan mereka berdua.
Hasilnya sendiri Kesya cuman mengalami cedera ringan di kakinya sedangkan Yovada yang mendapat cedera serius di bagian punggungnya dan ada bekas memar di bagian belakang kepala karena benturan tadi. Para petugas pun ingin memanggil ambulans untuk menjemput Yovada namun ia sendiri menolak karena ada beberapa urusan setelah ini. Ia menemui Kesya yang sedang di periksa oleh petugas dan langsung mengambil kartu pengunjung perpustakaan milik Kesya. Ia membaca alamat yang tercantum dalam kartu itu dan mengetahui bahwa rumahnya dan rumah Kesya masih satu jalur dan pada akhirnya Yovada akan mengantarkan Kesya ke rumahnya.
Di depan ia memesan Taksi Online dan mengantar mereka pulang. Di dalam mobil, sang driver berkata pada Yovada dengan penasaran.
“mas, itu cewek di belakang pasti adeknya mas kan?” Ucapnya dengan nada penasaran.
“bukan mas” Jawab Yovada dengan dingin dan pelan.
“lah... bukan ya... kalau di bilang kakak juga tidak cocok, berarti ini pacar mas ya?” Ucapnya dengan suara yang terkejut dan juga senang.
“pacar... tidak pernah aku memesan Taksi Online untuk pacarku. Mustahil aku memiliki pacar” Ucap Yovada dengan suara yang lebih dingin dari biasanya, seakan ada surat penolakan keras pada kalimat itu.
“mohon maaf ini mas, kalau bukan pacar masa cuman teman, lagi pula kalian cocok loh. Para driver yang lain juga bilang kalau kalian adalah orang yang selalu perginya ke perpustakaan. Jadi kalau boleh bilang kalian berdua memang cocok loh.” Ucap pengemudi itu pada Yovada yang terlihat tidak menanggapi pernyataan itu.
Selama di perjalanan, mereka hanya diam tanpa ada suara. Hanya ada bunyi mesin dan juga kipas pendingin yang belum di servis. Namun di kursi belakang Kesya mulai membuka matanya dan suara dengung kecil keluar dari mulutnya. Namun tiada yang sadar dengan hal itu. Ia menatap 2 orang yang ada di depannya dengan tatapan pasrah seperti ia hanya mengikuti apa yang akan terjadi selanjutnya. Suaranya seperti merintih ketakutan seperti khawatir dengan keadaannya sendiri. Ia kembali menutup mata seakan ia masih pingsan agar ia tidak dalam masalah.
Saat mobil itu berhenti di suatu tempat, Kesya langsung panik namun dirinya tetap berusaha diam. Yovada pun keluar dari mobil dan membuka pintu penumpang yang ada Kesya di belakang. Di saat itu juga Yovada membuka pintu dan menggendong Kesya keluar dari mobil. Kesya yang melihat itu langsung terkejut, ia mengira bahwa dirinya di culik atau sebagainya namun kenyataannya dirinya malah di antar pulang ke rumahnya. Yovada menggunakan satu tangannya untuk mengetok pintu dan menunggu seseorang membuka pintu tersebut. Beberapa saat kemudian, sepasang suami istri membuka pintu tersebut lalu terkejut karena melihat anaknya di gendong oleh seorang pria dengan kaca mata bulat dan kemeja rapi. Mereka mengambil Kesya dan menggendongnya, Yovada di suruh masuk untuk menjelaskan kejadiannya namun Yovada memutuskan untuk menjelaskan di luar rumah saja karena Taksi Online tersebut menunggunya. Ia menjelaskan bahwa Kesya terjatuh dari tangga dan langsung menghantam dirinya dan kini ia membawa Kesya ke rumahnya.
Yovada pun berpamitan dengan orang tua Kesya dan kemudian memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Selama di dalam Taksi Online, Yovada hanya memikirkan dirinya beberapa hari ini. Dirinya sadar bahwa ia di pertemukan dengan wanita itu terus di mana pun ia berada. Namun satu sisi lain ia tahu bahwa dirinya bukanlah seseorang mencari cinta namun hanya mencari ketenangan dalam sela kehidupannya. Yovada merenung sedikit hingga dirinya menatap ke samping mengarah ke jendela kaca mobil sabil berkata dalam dirinya.
“simpel... hanya butuh waktu untuk diri sendiri... ”
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!