Malam itu langit mendung sangat pekat, seolah-olah tahu bahwa sepotong kisah kelam akan segera tertulis.
Hana Yasmin gadis polos yang menduduki bangku kuliah semester dua, setiap malam minggu seharusnya menjadi momen melepas lelah yang menyenangkan, cukup membaca novel di handphone sambil tiduran. Namun, ia ingat teman-teman kampus bahwa malam ini akan menjemputnya keluar dengan dalih makan malam bersama.
"Sekali-kali apa Yasmin, jangan di kamar terus, bisa-bisa loe jadi kutu kasur," kata Sonya ketika Yasmin nebeng kendaraan temannya siang tadi.
Begitulah cara tiga temannya membujuk Yasmin hingga hatinya tergoyahkan.
Dengan malas, Yasmin bangun dari ranjang ketika mendengar klakson di luar sana, tangannya menarik gorden sedikit, tampak mobil mewah parkir di halaman kost.
Keluar teman-temannya dari kendaraan tersebut, serentak memanggil-manggil namanya. Tanpa menjawab, Yasmin segera menggunakan baju santai kemudian menemui mereka.
"Ayo, Yas. Naik," seru Leny dari kaca mobil yang terbuka setengah.
Yasmin menjadi ragu ketika melihat penampilan ketiga temannya yang hanya menggunakan baju tanpa lengan, dan rok mini di atas lutut, padahal malam ini dingin sekali.
"Yasmin, ayo... keburu malam," kata Mila dengan alasan tidak makan lebih dari jam 9 malam karena sudah jam diet.
Yasmin akhirnya ikut mereka masuk ke dalam mobil. Namun, perjalanan malam itu membawanya jauh dari zona nyaman, ketika mobil berhenti di salah satu gedung dengan lampu kerlap-kerlip dan dijaga oleh beberapa pria yang berbadan tetap.
Detak jantung Yasmin mulai berpacu cepat saat ia dan teman-temannya melangkah masuk. Ada rasa ingin keluar lagi ketika hati nuraninya menolak tempat seperti itu. Dentuman musik bas terdengar memekakkan telinga, aroma alkohol seketika menyengat hidungnya dan lampu warna-warni yang pernah ia tonton di salah satu drama, seketika ia tahu bahwa tempat ini adalah club malam.
Yasmin hendak pergi meninggalkan teman-temannya, tapi salah satu dari mereka menarik tangannya.
"Tidak akan kenapa-napa Yas, tenang saja sih," ujar mereka menenangkan.
Yasmin merasa asing dengan tempat seperti itu maka hanya terpaku di tengah sofa. Seseorang menyodorkan segelas minuman berwarna merah muda.
"Ayo Yas, kita minum," teman-temannya mengadu gelas hingga berdenting sebelum meneguk minuman itu, tapi tidak untuk Yasmin. Dia bukan orang bodoh tidak percaya jika minuman itu benar-benar jus.
Awalnya teman-temannya masih menghargai Yasmin yang hanya diam dalam ketakutan di dunia orang-orang yang menurutnya gila. Tiba-tiba saja, muncul seorang pria yang tidak ia kenal mulai merayu.
Hana menggeser duduknya hingga mentok di ujung sofa, tapi pria itu terus mendekat. Bau Alkohol campuran rokok membuat Yasmin jijik lalu mendorong dada pria kekar itu dengan cepat.
Yasmin berdiri hendak keluar tapi tubuhnya tertangkap oleh pria yang sudah terpengaruh oleh minuman.
"Sonya, Mila, Leny..." Yasmin berteriak minta bantuan teman-temannya. Namun, ketika mereka mendekat bukan pertolongan yang Yasmin terima, tiga temannya yang ia anggap malaikat penolong justru memaksa nya minum dan bekerja sama membuka mulunya, hingga satu botol minuman mereka tuang ke mulut walau sebagian tumpah ke lantai.
Hanya butuh waktu lima menit pandangan Yasmin mulai kabur. Kepalanya berputar hebat dan seluruh persediaan merasa lemas. Suara teman-temannya yang mentertawakan masih terdengar di telinganya, seolah semua ini sudah mereka rencanakan.
Dalam kondisi setengah sadar, Yasmin merasa tubuhnya di papah menjauh ke lorong-lorong gelap seolah tak berujung.
Ternyata naas bagi Yasmin, bukan hanya tubuhnya yang tidak perdaya, tapi yang membuatnya lebih hancur kesuciannya direnggut paksa oleh kebiadaban pria yang tidak ia kenal. Hingga fajar menyingsing Yasmin yang tak lagi utuh pergi dari tempat itu dengan perasaan hancur.
Hari-hari selanjutnya Yasmin hanya meninggalkan sesal di dalam kamar kost, tidak lagi keluar rumah kecuali jika sedang membeli makanan hingga dua bulan kemudian, masa liburan semester habis, Yasmin ingin melanjutkan kuliah. Tidak mau mengecewakan kedua orang tuanya yang sudah menaruh harapan mengirim uang setiap bulan untuk keperluan kuliah, kost dan kebutuhannya. Namun, ketika hendak berangkat ke kampus Yasmin mual dan muntah-muntah.
"Astagfirullah... aku sudah terlambat, jangan-jangan..."
Dengan perasaan campur aduk, Yasmin membeli alat tes kehamilan dan ternyata positif. Hilang sudah semangat Yasmin untuk berangkat kuliah pagi itu. Ia menyusun keberanian yang tak lagi utuh pulang ke orang tuanya.
Plak!!!
Tempat yang akan Yasmin jadikan untuk mengadu dan minta perlindungan justru menolak kehadirannya. Tamparan keras bergema di ruang keluarga di rumah besar itu. Yasmin hanya bisa menangis tergugu memegangi wajahnya yang panas bekas tamparan Amir sang Ayah.
"Siapa yang melakukan ini Yasmin?!" Tanya Amir menggelegar.
Yasmin hanya menggeleng, menangis terisak-isak, tentu saja tidak ingat wajah pria yang tidak bertanggung jawab itu.
"Jika kamu masih ingin tetap menjadi anak saya, gugurkan!" Perintah pak Amir, membuat dada Yasmin sakit, lebih sakit dari tamparan baru saja.
"A-aku ti-tidak, mau menambah dosa lagi, Ayah," jawab Yasmin putus-putus.
"Memalukan kamu! Pergi dari rumah ini! Pergiiii..." usir Amir. Pria 50 tahun itu berteriak, tangannya menyambar gelas di atas meja hendak melempar ke wajah putrinya. Namun, ibu Maryam merampas gelas tersebut dari tangan suaminya, jika mengenai tubuh Yasmin entah apa yang terjadi.
"Yasmin, pergilah Nak..." titah ibu Yasmin dengan hati hancur. Ia tidak ingin putrinya mati di tangan ayahnya sendiri..
Dengan hati yang lebih hancur, Yasmin meninggalkan rumah kedua orang tuanya yang awalnya akan ia jadikan tempat untuk berlindung, tapi kini justru di tendang pergi hanya karena kesalahan yang tidak sepenuhnya ia sengaja.
6 tahun kemudian.
"Sayang... kita sarapan dulu..." Panggil Yasmin yang sudah selesai menata tiga piring nasi dengan telur ceplok di piring.
"Iya... bunda..." suara itu terdengar serentak, muncul dua anak laki-laki dan perempuan cantik dan tampan sudah menggunakan seragam sekolah TK. Wajah-wajah ceria itu segera duduk mengisi tikar kosong.
"Anak-anak Bunda mamang pintar," Yasmin bangga, setahun terakhir anak-anaknya sudah mandi sendiri, pakai baju sendiri.
"Kan Bunda yang ajari," jawab mereka.
"Ya sudah... sekarang makan dulu," Yasmin mendekatkan piring ke hadapan Fatir dan Fathia.
"Yayyy... telur mata sapi," seru Fathia anak perempuan yang mengenakan kerudung segera menyendok nasi.
"Berdoa dulu Fathia," balas Fatir, anak laki-laki yang tidak kalah tampan itu mengingatkan. Wajah anak kembar itu seperti bukan anak orang Indonesia.
"Oh lupa," Fathia tertawa kecil.
"Sekarang Fatir pimpin doa dulu, sayang..." ujar Yasmin. Fatir mengangguk lalu memimpin doa sebelum makan.
Tok tok tok.
Namun, belum sempat sendok mereka masuk ke dalam mulut, pintu kontrakan diketuk dari luar disertai suara wanita yang menggema.
"Kalian lanjut makan, Nak. Biar bunda keluar dulu," Yasmin menarik napas panjang. Pemilik kontrakkan marah-marah tentu ia sudah paham apa alasannya.
"Bu Retno kebiasaan, deh. Pagi-pagi sudah marah-marah, kan kata Bunda jauh rezeki, iyakan Kak?" Tanya Fathia, raut wajah ceria tadi tergantikan oleh kesedihan memikirkan bundanya sering kali dimarahi.
"Pasti mau nagih uang kontrakan, kita kerjain yuk," Fatir berdiri dari tikar mencari sesuatu.
...~Bersambung~...
Dengan langkah berat, Yasmin berjalan menuju pintu kayu yang sederhana itu. Ia menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan keberanian yang tersisa, lalu perlahan membuka gagang pintu. Begitu terbuka, sosok ibu Retno pemilik kontrakkan menatap Yasmin sinis. Tubuhnya yang besar tampak mengisi seluruh celah pintu.
"Ah, akhirnya kamu keluar juga!" ucap bu Retno dengan nada tinggi dan kasar, hingga di dengar oleh Fatir dan Fathia dari dalam.
"Maaf Bu, kami sedang sarapan," Yasmin menanggapi dengan sopan, dan minta bu Retno masuk ikut sarapan.
"Saya kesini bukan mau minta makan, tapi sudah berapa bulan kamu menunggak uang sewa, Yasmin? Coba hitung sendiri! Tiga bulan penuh loh kamu tidak bayar, tapi masih saja santai-santai di dalam rumah ini dan makan enak!"
"Saya minta maaf, Bu," Yasmin merasa bersalah karena uang yang seharusnya untuk membayar kontrakan, ia gunakan untuk membayar uang muka sekolah Fatir dan Fathia.
"Akhir bulan kalau sudah gajian saya bayar ya, Bu."
"Janji-janji terus. Sudah berkali-kali kamu bilang begitu!" potong Bu Retno melengos geram, tangannya mengayun ke udara seolah hendak memukul sesuatu.
"Saya sudah tidak mau dengar alasan kamu lagi Yasmin. Saya bangun rumah ini tidak pakai janji, tapi membutuhkan uang banyak, saya kasih waktu seminggu, kalau tidak juga bayar, jangan salahkan kalau saya bawa semua barang-barang isi rumahmu sebagai ganti rugi, setelah itu kamu dan dua anakmu harus angkat kaki dari rumah ini!"
Bu Retno masih terus marah-marah, tidak tahu jika dari balik tirai jendela, dua pasang mata bulat sedang mengintip. Menatap bundanya yang sedang menunduk sedih.
"Kak, Bu Retno itu kok galak banget, kasihan Bunda," ucap Fathia kepada Fatir, ingin rasanya melakukan sesuatu untuk membantu Yasmin.
"Kita buat Bu Retno besok tidak akan marah-marah lagi, Dek, ikuti perintahku," kata Fatir, entah apa yang akan ia lakukan, gayanya seperti bos. Ia berjalan melewat pintu dapur diikuti Fathia, mengendap-endap mendekati sandal jepit bu Retno yang dilepas di ujung teras.
"Sekarang letakkan permen karet ini di atas sandal, terus tuangi bedak ini biar sandal dekil itu warnanya putih," pesan Fatir sembari tersenyum lalu meninggalkan Fathia yang mengangguk mengikuti perintahnya.
Tidak jauh dari tempat itu, Fatir meletakkan mainan karet berbentuk kodok di lantai yang akan bu Retno lalui, rupanya ia tahu jika pemilik kontrakkan itu paling jijik dengan bintang tersebut.
Selanjutnya Fatir meletakkan selembar kertas gambar di depan pintu rumah bu Retno yang di tulis dengan krayon khas anak TK.
"Ibu jangan marah-marah terus ya, ibu pasti tidak melihat dua malaikat yang mengikuti Ibu dan mencatat perbuatan buruk."
Fatir meninggalkan rumah bu Retno, lalu melongok wanita paruh baya itu masih menunjuk-nunjuk wajah bundanya.
"Ayo masuk, Dek," Fatir menarik tangan Fathia lalu kembali duduk di tikar seolah tidak terjadi apa-apa.
Tidak lama kemudian, Yasmin masuk dengan senyum dipaksakan. Padahal pikirannya berkecamuk, dari mana mendapat uang satu juta delapan ratus dalam waktu seminggu?
"Kalian kok belum makan?" Tanya Yasmin memandangi makanan di piring anak-anaknya yang masih utuh.
"Nunggu Bunda..." jawab si kembar serentak.
Yasmin minta anak-anaknya segera makan karena biasanya sudah berangkat sekolah. Namun, baru saja menyuap, suara bu Retno di luar sana seperti terompet rusak.
"SIAPA YANG KURANG AJAR NARUH PERMEN KARET DI SANDAL JEPIT SAYA?! AWAS SAJA KALAU TAU PELAKUNYA! SAYA JEWER TELINGANYA!"
Yasmin berhenti mengunyah lalu menoleh ke arah pintu.
Sementara Fatir dan Fathia saling pandang menahan tawa.
"AAGGHHH... KODOOKKK..."
Baru berhenti beberapa detik, jeritan bu Retno semakin kencang. Dan pada akhirnya tawa Fatir dan Fathia pun pecah, Yasmin menoleh curiga ke wajah kedua anaknya.
"Jadi Bu Retno teriak itu karena ulah kalian?" Yasmin kaget karena tidak pernah mengajarkan anak-anaknya untuk berbuat yang aneh-aneh.
Melihat wajah Yasmin tidak suka, Fatir dan Fathia menunduk.
"Jawab Fatir, Fathia, apa yang kalian lakukan pada Bu Retno?" Desak Yasmin, ia ingin anak-anaknya belajar jujur.
"Fatir cuma taruh kodok mainan di depan rumah Bu Retno Bun, habisnya Bu Retno galak sama Bunda," jujur Fatir.
"Fatir, Fathia, lain kali tidak boleh begitu sayang... Ibu Retno tadi marah karena Bunda memang salah," Yasmin menasehati. Ia tidak ingin anak-anaknya mempunyai jiwa pendendam.
"Iya Bun..."
"Ya sudah... lanjut makan, terus kita berangkat," titah Yasmin, mengusap lembut kedua kepala anak-anaknya. Mereka pun akhirnya makan dengan cepat, Yasmin harus tiba di restoran tepat waktu, jika tidak pasti akan kena marah atasan.
Yasmin menuntun Fatir dan Fathia, berjalan kaki bersama karena jalanya searah.
"Kalian belajar yang benar, kalau sudah bubar sekolah, langsung pulang ya, Nak. Jangan kemana-mana," pesan Yasmin ketika tiba di depan TK yang tidak jauh dari rumah kontrakkan.
"Iya Bun," Fatir dan Fathia salim tangan bundanya. Lalu menatap Yasmin yang melambaikan tangan lalu pergi.
"Kasihan Bunda Kak," ucap Fathia, anak itu ingin rasanya membantu bundanya mencari uang agar tidak dimarahi bu Retno seperti tadi.
Iya, bagaimana kalau kita bantu bunda mencari uang," kata Fatir, seperti orang dewasa.
"Caranya?" Fathia pun setuju jika memang ada jalan.
"Kita pikirkan nanti, sekarang kita masuk kelas dulu." Fathia mengangguk, lalu masuk kelas.
Begitulah kondisi keuangan Yasmin membesarkan dua anak seorang diri, kerja di restoran masih kurang untuk kebutuhan sehari-sehari, maka ia sering ambil pekerjaan apapun bila restoran libur, yang penting bisa untuk mencukupi kebutuhan, tapi masih juga kehabisan jatah untuk membayar kontrakan.
Dengan jasa angkutan yang sudah jarang-jarang dan harus menunggu lumayan lama, dengan kendaraan tersebut Yasmin akhirnya tiba di depan restoran.
Begitu sampai di depan pintu restoran dan melihat jam dinding yang tergantung di sana, jantungnya serasa berhenti berdetak. Sudah lewat sepuluh menit dari jam masuk kerja. Napasnya memburu, keringat bercucuran membasahi dahi, bukan hanya karena lelah, tapi karena rasa takut yang menyergap dada. Omelan atasan pagi ini sudah pasti akan ia terima.
Benar saja, belum sempat ia menata napas atau menaruh tas kainnya, suara keras menyambar dari arah dapur.
"YASMIN! Kemana saja kamu, hah?!"
Bu Rina keluar dengan wajah emosi, tangannya bertolak pinggang, menatap Yasmin dengan pandangan membara. Para karyawan lain yang sedang sibuk menyiapkan meja atau menata bahan makanan, serentak menoleh dan diam membisu.
Yasmin menunduk dalam, tubuhnya menegang. Ia tahu bukan hanya kemarahan bu Rina saja konsekuensi yang akan ia terima karena datang terlambat, tapi bisa berujung pada pemotongan gaji atau bahkan pemecatan.
"Maaf, Bu...," lirih Yasmin, nyaris tak terdengar di tengah suasana hening.
"Di rumah tadi ada sedikit urusan mendadak, belum lagi menunggu angkutan lama, jadi terlambat," lanjut Yasmin, berharap penjelasannya diterima.
"Urusan, urusan terus jadi alasan kamu!" potong ibu Rina ketus, berjalan mendekat hingga wajahnya berhadapan dengan Yasmin.
"Kamu pikir kerja di restoranmu sendiri, jadi bisa santai Yasmin! Semuanya harus tepat waktu. Pelanggan sudah mulai datang, tapi kamu baru muncul dengan wajah lesu begitu! Kamu pikir gaji yang kamu terima itu gratis? Kalau tidak sanggup disiplin, lebih baik kamu cari kerjaan lain saja!"
Kata-kata itu meluncur keluar seperti duri-duri tajam yang menusuk tepat ke ulu hati Yasmin.
"Maafkan saya, Bu... Saya janji tidak akan mengulangi lagi," jawab Yasmin sambil menundukkan kepala lebih dalam.
Saat sedang tegang, tiga orang pria masuk restoran, salah satu diantaranya berpakaian jas rapi, tapi wajahnya dingin. Dua orang menarik kursi, pria itu segera mengisi kursi kosong. Yasmin menarik napas lega karena bu Rina segera menyambut tamu tersebut. Namun, ketika Yasmin hendak meletakkan tas, bu Rina mendekat.
"Buatkan kopi tamu istimewa itu, awas, jangan mengecewakan mereka!" Ujar Rina lirih tapi ketus.
"Baik, Bu," Yasmin cepat membuat tiga cangkir kopi, tidak lama kemudian mengantar kepada tamu yang menurut Rina istimewa. Namun, tiba-tiba saja salah satu teman kerjanya entah sengaja atau tidak nyiku lengan Yasmin yang membawa nampan tepat di samping pria dingin itu.
Pyak!
"Aagghhh..."
Pria yang paling rapi di antara mereka berteriak ketika kopi tersebut tumpah dan kena lengannya.
"Maaf Tuan... saya tidak sengaja," Yasmin menarik tisue, dengan tangan gemetar membersihkan lengan pria yang menatapnya tajam.
...~Bersambung~...
"Panas!" Pria itu berteriak keras, mengibaskan lengannya yang basah. Wajahnya yang tampan berubah merah dan menatap Yasmin tajam.
Darah Yasmin serasa berhenti mengalir. Tangannya gemetar saat meraih tisue di atas meja, dengan perasaan takut berusaha menyeka dan membersihkan noda kopi di lengan jas pria itu.
"Maaf... maafkan saya, Tuan... sungguh tidak sengaja..." kata Yasmin tercekat, nyaris tak terdengar.
Pria itu tidak menjawab, membiarkan saja ketika Yasmin melipat jasnya ke atas dan mengelap kulit tangannya yang sedikit merah. Namun, pria berwajah asing itu justru menatap Yasmin yang menunduk, tanpa wanita itu sadari.
"Dasar wanita bodoh! Kerja tidak becus!" Sergah salah satu teman pria itu, menampilkan wajah penuh amarah ke arah Yasmin, karena menurutnya berani-beraninya membuat bosnya kepanasan dan menodai jas mahalnya.
Yasmin semakin takut, ketika hendak menjawab, suara derap sepatu berjalan ke arahnya. Dia adalah Rina, datang membawa amarah yang siap meledak. Namun, sebelum mengeluarkan kata-kata pedas ia menatap tiga pria yang tegang itu lalu minta maaf.
"Karyawan Anda ini kerja sembrono, menumpahkan kopi ke tangan bos saya, kalau sampai melepuh, siap-siap restoran ini ditutup!" Ancam salah satu pria.
"Baiklah Tuan, kami mohon maaf, dan berjanji akan segera memecat wanita ini!" Rina mendelik ke arah Yasmin.
Namun, kata-kata makian Rina belum selesai terucap, pria yang terkena tumpahan kopi itu perlahan mengangkat tangannya. Gerakannya tenang namun berwibawa, satu isyarat halus yang langsung membuat Rina dan kedua bawahannya terdiam.
Lagi-lagi menatap Yasmin lekat, sorot matanya yang tadi tajam kini berubah sulit dibaca, antara curiga, heran, dan sesuatu yang lain yang tak bisa Yasmin mengerti.
"Jangan pecat wanita ini, besok saya akan datang lagi ke restoran ini dan memberi hukuman dengan cara saya sendiri." Kata pria itu, lalu beranjak pergi diikuti anak buahnya.
Yasmin tertegun, matanya membelalak tak percaya. Ia sama sekali tak menyangka pria itu akan menahan kemarahan Rina dan bawahannya. Entah hukuman apa yang akan pria jangkung itu berikan besok, Yasmin tidak peduli, yang terpenting tidak dipecat dari restoran ini demi dua buah hatinya.
Rina melengos geram ke arah Yasmin yang membersihkan tumpahan kopi, lalu kembali mengawasi pekerja yang lain. Begitu lantai bersih, tatapan Yasmin tertuju ke kolong kursi di mana pria tadi duduk. Kertas tebal tergeletak di sana, Yasmin ambil benda tersebut.
"Marco Bellini?" Yasmin membaca kartu nama. Ia yakin jika kartu tersebut milik salah satu dari tiga pria tadi. Yasmin masukan kartu itu ke dalam saku, lalu melanjutkan pekerjaan dalam pengawasan Rina yang banyak protes hingga waktu berganti.
Sore itu menjelang senja, suasana restoran mulai sepi saat para pengunjung perlahan pulang. Karyawan sibuk membereskan meja, mencuci peralatan, dan menyimpan bahan makanan. Yasmin bergerak lambat, tubuhnya terasa pegal linu seharian berjalan melayani tamu. Namun, rasa lelah itu terasa ringan dibandingkan beban berat yang terus menghimpit dadanya. Pikirannya tak lepas dari ancaman ibu Retno pagi tadi, uang sewa kontrakkan yang belum lunas itu adalah ancaman bagi tempat tinggal dirinya dan kedua anaknya.
Dengan hati berdebar, tangan dingin, dan napas yang tertahan, Yasmin memberanikan diri melangkah menuju ruang kantor kecil di belakang restoran. Di tempat ibu, Rina biasanya menyelesaikan administrasi harian. Yasmin tahu ini berisiko, ia tahu atasan wanita itu sangat pemarah dan tidak suka karyawan meminta uang di luar jadwal gajian, tapi ia tak punya jalan lain lagi. Yasmin ingin anak-anaknya tetap bisa tidur nyenyak walau di kontrakkan kecil.
Di depan pintu ruangan, Yasmin diam sejenak, mengumpulkan sisa keberanian. Mengusap wajahnya pelan, berusaha menahan rasa takut, lalu mengetuk pintu perlahan.
"Masuk!" suara ketus Rina terdengar dari dalam.
Yasmin membuka pintu perlahan, lalu masuk dengan langkah ragu-ragu. Menatap Rina yang duduk di balik meja, sedang mencatat sesuatu di buku tebal, wajahnya tampak serius.
"Ada apa lagi kamu, Yasmin? Sudah selesai semua pekerjaanmu?" tanya Rina tanpa menoleh, nadanya sudah terdengar tidak ramah.
"Sudah, Bu... semua sudah beres," jawab Yasmin, tangannya saling menggenggam di depan perut.
"Ya sudah, pulang sana!" usirnya kesal.
"Maaf mengganggu sebentar, Bu... Saya... saya mau minta tolong," ucap Yasmin terbata-bata.
Bu Rina meletakkan pulpennya, lalu menatap Yasmin dengan tatapan tajam.
"Minta tolong apa lagi? Jangan bilang mau minta waktu libur, ya. Ingat, kamu sudah telat hari ini."
Bibir Yasmin terasa kaku, tapi ia teruskan berucap.
"Bukan begitu, Bu... tapi saya mau kasbon sedikit dari gaji bulanan. Saya butuh banget buat bayar sewa tempat tinggal. Pemiliknya sudah menagih berkali-kali, kalau sampai diusir kasihan anak-anak saya, Bu. Saya janji, pas gajian dipotong saja," Yasmin berkata tanpa jeda, selagi ada keberanian berbicara yang sebenarnya dengan harapan permintaan dipenuhi.
Bukan mengabulkan permintaan Yasmin, Rina justru menggebrak meja sekeras-kerasnya hingga berbunyi nyaring. Dilanjutkan dengan bentakkan, membuat Yasmin menyeret kakinya mundur.
"Pagi telat datang, bikin saya emosi, sore-sore minta kasbon! Kamu pikir uang restoran ini boleh metik dari pohon?" Rina mendelik hingga bola matanya nyaris keluar dari kelopak. Yasmin semakin ngeri dibuatnya.
"Maaf... maafkan saya, Bu..." hanya itu yang mampu terucap dari mulut Yasmin. Ia segera membalikkan badan, bergegas keluar dari ruangan itu sebelum ia menangis tersedu-sedu di depan Rina.
Ia berjalan keluar dari restoran saat langit sudah mulai gelap. Angin sore tidak bergerak, membuatnya kepanasan. Namun itu tidak seberapa karena masih lebih panas hatinya, lantaran ucapan Rina.
Di tangannya menggenggam uang receh untuk membayar angkutan hingga basah karena telapak tangannya berkeringat, di hatinya ada rasa sakit yang mendalam, dan di benaknya hanya ada satu pertanyaan. Ya Allah, sampai kapan hamba harus menelan semua kepahitan ini sendirian?
Bukan mengeluh tentang apa yang yang sudah menjadi takdir dalam hidupnya. Tetapi kenapa semua orang yang berada di dekatnya sejak dulu selalu menyakiti? Sonya, Mila, Leny, tiga manusia itu penyebab kehancuran dirinya, kedua orang tuanya yang sudah benar-benar membuangnya. Pria biadab yang dulu menghancurkan hidupnya.
Dan sekarang ibu Retno dan Rina pun tidak pernah mengerti sedikitpun. Jika ingat semua perjalanan hidupnya, Yasmin rasanya ingin menyerah.
Namun, teringat wajah Fathia dan Fatir yang menjadi penyemangat hidupnya. Yasmin kembali menyeka air matanya dengan kasar. Sekeras apa pun dunianya dulu hingga hari ini, ia harus tetap pulang dan tersenyum di depan kedua malaikat kecilnya.
Yasmin menunggu angkutan hingga hari menjadi gelap, tapi tidak ada satupun yang lewat. Bayangan Fatir dan Fathia menunggu kedatangannya dengan cepat, Yasmin rasanya ingin terbang agar cepat tiba di rumah.
Di saat kegelisahan melanda dada Yasmin. Mobil merah tiba-tiba berhenti tepat di depannya. Seorang pria menurunkan kaca.
"Ayo naik."
...~Bersambung~...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!