Diputusin bukanlah akhir dari dunia.
Seminggu yang lalu, Daniella Adriana Rea diputuskan secara sepihak oleh pacarnya. Lebih parah lagi, tak lama setelah itu dia menerima undangan pernikahan melalui chat dari mantan pacarnya. Undangan itu untuk pernikahan mantan pacarnya dengan wanita lain, yang ternyata sudah hamil dua bulan sebelum mereka putus.
"Bukan lagi ditinggal selingkuh, tapi gue ditinggal nikah juga." Dia mendesah, meniup poni rambutnya yang menjuntai menutupi mata.
Kini, dia sudah berdiri di depan gedung tempat mantan pacarnya menikah.
Berjalan masuk di antara kerumunan para tamu undangan, dengan pedenya dia tersenyum. Padahal semua orang menghujatnya.
Tidak ada yang pernah suka ketika Daniela Adriana Rea, si cewek cupu plus miskin, pacaran dengan cowok populer dari fakultas Teknik, Attala Mahendra.
"Untung Atta cepet sadar, dan ninggalin tuh cewek cupu. Heran gue, kena guna-guna apa dia mau pacaran anak cupu dari fakultas bahasa dan seni itu."
"Lihat deh dia masih aja bisa senyum."
"Halah itu paling senyum palsu, buat nutupin hatinya yang sakit. Gue yakin tuh anak pasti nangis semaleman suntuk karena ditinggal Atta nikah."
"Emang, nggak tau diri banget jadi manusia. Jelas lah dia ditinggalin. Nggak sadar muka hancurnya."
Joana dan gengnya, tidak pernah absen untuk tidak menghujat Rea yang tengah berjalan menuju ke pelaminan pengantin.
Kakinya melambat, lalu berhenti. Sejenak dia menatap Joana, dan teman-temannya yang sibuk bergosip sembari menikmati hidangan.
Rea tak peduli, toh imagenya di kampus sudah buruk dengan istilah si cupu miskin, tidak tahu diri.
Tidak tahu saja, jika selama ini itu hanyalah topeng yang selalu dia gunakan untuk menutupi jati dirinya yang sebenarnya.
Rea hanya tidak ingin menjadi pusat perhatian, lalu mereka akan datang seperti penjilat karena tahu siapa dia sebenarnya.
"Masih mending gue, muka hancur tapi pernah pacaran, nah lo. Modal muka cakep, tapi nggak laku. Gue sih bodo amat, mau si Atta selingkuh, lo pikir cowok cuma si Atta. Dah lah, capek ngomong sama orang yang otaknya tumpul ke lo pada." Ujar Rea
Meratap, lalu menangis bukanlah gaya dari seorang Daniella Adriana Rea. Cewek blesteran Jawa, Jepang, dan Belanda ini justru memberi selamat ketika pacarnya menikahi orang lain karena alasan married by acident.
"Selamat atas pernikahan lo, Atta," ujar Rea, ketika dia sudah berdiri tepat di depan Attala, dan istrinya. Tangannya terulur untuk memberi selamat pada Atta.
Attala Mahendra, mantan pacar Rea.
Attala tiba-tiba menikah karena selingkuhannya hamil.Married by accident, tapi bagi Rea itu bukan kecelakaan.Tetapi tindakan disengaja, mana ada kecelakaan, mereka juga melakukannya atas tindakan suka sama suka.
"Rea."
"Sorry, telat datengnya." Rea berkata santai seperti biasa, senyumnya yang khas dengan gigi yang dihiasi kawat.
Rea melirik Cleo, istri Attala yang merangkul lengan sang suami. Rea berdecak, lagi pula rasa sukanya dengan Attala sudah musnah sejak pemuda itu memutuskannya, dan ketahuan menghamili teman satu jurusannya.
"Tenang aja, gue bukan cewek bego yang akan merebut punya orang. Apalagi dia udah lepas segel. Lagian gue sadar, lo lebih cantik dari gue. Makannya Atta milih lo. Udah berapa bulan?" tanya Rea, yang kini matanya tertuju pada perut Cleo -Andini Cleona Dista.
"Dua bulan."
Rea menghitung dengan jari. "Ah, setelah gue nembak lo, dan kita jadian seminggu. Lo langsung bikin anak sama dia?"
Atta tak kaget, meskipun cupu, Rea itu tipe cegil, yang suka nyeplos jika bicara. Bukan seperti para cupu yang lain, yang hanya berteman dengan buku, lalu takut dan menangis jika dibully.
Rea itu berbeda, Atta tahu karena Rea pernah bercerita dia mengikuti klub karate kampusnya. Tentu dia mahir bela diri.
"Sorry, Re. Gue-"
"Aslinya lo cuma manfaatin gue, lo nggak mau kalah taruhan sama temen lo, kan? Makannya pas gue nembak, lo langsung iyain karena lo nggak mau kalah taruhan."
Attala tersentak, semua orang juga tahu. Dia tampan, cukup populer di kampus.
Memacari Rea yang dandanannya cupu, sama saja bunuh diri. Alasannya tepat, Atta tidak mau kalah taruhan dari teman-temannya.
Menganggap Rea itu makhluk langka. Atta juga tak benar-benar menyukainya. Hanya memainkan peran, setelah bosan akan dia buang.
"Itu lo sadar, kalau jelek harusnya lo tau diri dengan nggak nembak cowok kaya Atta." Cleo menyambar.
"Gue kan cuma nyari peruntungan, apa salahnya. Gue nembak dia, dan dia nerima gue, ya sayangnya gue rada bego karena dia nerima gue gitu aja."
"Lo sama dia pernah ngapain aja?" Cleo bertanya. Sedikit curiga, meski iya yakin Atta tak mungkin menyentuh Rea.
Rea melipat kedua tangannya di depan dada, sedikit berdecak, lalu tersenyum.
"Ah, gue bukan cewek obralan. Tuh tahun baru kemarin dia ngajakin ke Vila, tapi gue tolak. Tapi kan dia udah dapetin lo, ya. Huh, untungnya dia mau tanggung jawab, gimana kalau nggak. Ya ampun gue nggak bisa bayangin, oh ya Ta. Makasih karena mau jadi cowok gue, meskipun lo selingkuh di belakang gue."
"Re, sorry. Tapi gue-"
"Maaf lo sekarang apa ada gunanya, udahlah. Gue juga nggak bakalan nangis sampai meraung-raung. Ya udah, gue mau makan hidangan aja, kenyang perut gue. Dari pada nangisin lo sampai mata gue bengkak juga nggak guna. Polisi nggak bakalan nolongin gue, gue rugi sendiri karena makan hati. Ah, hidup kadang aneh, dahlah. Bye Atta, semoga hidup lo baik-baik aja." ujar Rea
Rea buru-buru berbalik, tapi tanpa diduga, hidungnya malah membentur dada seseorang saat dia berpaling.
"Ups." Rea mendongak, ia dapati cowok tinggi, ganteng, putih dengan wajah khas oriental. Mata sipit, namun tanpa ekspresi di wajahnya, tepat berdiri di hadapan Rea.
"Sorry, ya. Gue nggak lihat," ujar Rea.
Tak ada jawaban, bahkan hanya tatapan dingin yang didapatkan oleh Rea.
Tidak berkata apa pun, pemuda itu pergi, dan lanjut memberi selamat pada Atta.
Rea sempat mendengar suaranya. Meskipun pelan, namun suaranya begitu deep, mampu membuat Rea terpesona sesaat.
"Makasih, Theo. Masih ada ospek?"
"Besok."
"Padet ya jadwal, lo?"
"Hn."
Attala terkekeh, sudah paham kebiasaan seorang Theo.
Rea mendengarnya, dia kini tahu namanya Theo, dan ada pembicaraan tentang ospek.
Berarti dia adalah anggota ospek, atau mungkin ketuanya dan dia berasal dari fakultas yang sama dengan Attala.
Bahkan saat pemuda itu kembali, dia sama sekali tak menoleh pada Rea. Apalagi menoleh, melirik pun tidak.
Meskipun mereka tidak saling mengenal, seharusnya Theo mau berbasa-basi dengan permintaan maaf Rea. Namun ini tidak, Theo melewatinya begitu saja seperti dia itu adalah makhluk tak kasat mata.
"Cowok aneh, ngomong irit, senyum juga nggak. Amit-amit kalau misalnya suatu hari gue dapat jodoh kek dia," gumam Rea.
***
Tadi malam Rea bermimpi menikah dengan seseorang yang tidak dia kenal. Mimpi itu sudah terjadi tiga kali, namun wajah si pria tak pernah terlihat jelas.
Hanya kilasan blur, entah kenapa. Namun, mimpi itu seperti mempermainkannya.
Rasa penasaran akan siapa cowok itu, sampai membuatnya bekerja keras, untuk mengingat setiap detail perawakan, dan tinggi tubuh si pria. Namun, setelah Rea ingat lagi, nyatanya dia tidak mampu menggambarkan siapa cowok itu.
"Nggak galau kan karena Atta ninggalin lo, Re?" tanya seorang gadis dengan rambut kuncir kuda yang baru saja duduk di sampingnya.
Dera, sahabat Rea. Nama lengkapnya Jessica Anandira,tapi dia lebih akrab dipanggil Dera. Cewek cantik, ceria, hobinya scroll sosial media para cogan Korea dan China. Apalagi Dera itu suka histeris jika melihat penampakan sixpack aktor dari negeri ginseng, dan tirai bambu.
"Sakit hati pasti iya, Ra. Tapi gue nggak mau berlarut-larut, toh terbukti dia cowok bereng sek. Istrinya hamil duluan, untungnya gue nolak pas diajakin tahun baruan ke puncak."
"True, nggak ada cowok yang bener-bener baik. Orang pacaran pasti ngedepanin nafsu. Ada mungkin cowok baik, tapi jarang. Maraknya konten negatif di sosmed, bahkan anak SD pun pikirannya udah kotor sama hal-hal kaya begitu. Terus rencana lo apa sekarang?"
"Tau deh."
Rea kembali menidurkan kepalanya di atas meja. Menunggu dosen masuk, dia sengaja berangkat lebih awal karena satu, dia tidak bisa tidur setelah terbangun di jam 3 pagi karena mimpi menikah dengan cowok asing, dan kedua Rea sibuk menebak-nebak siapa cowok asing di dalam mimpinya.
"Nggak kapok pacaran?"
"Gue nggak mau pacaran lagi, capek. Diselingkuhin, kalau nggak gitu ditinggal nikah. Gue pecaran udah dua kali, dan semuanya selingkuh. Bayangin gue diselingkuhin, dan yang terakhir gue ditinggal nikah.Berat banget jadi gue."
"Itu salah lo, ngapain juga lo segala dandan kek cewek cupu. Tunjukkin wajah cantik lo, Rea."
"Buat apaan, buat tebar pesona? No, Dera. Buat apa? Kalau mereka cuma lihat wajah gue, dan well mereka akhirnya selingkuh, dan cuma manfaatin gue. Dengan begini gue sadar, kalau cowok cuma lihat visual, dan kebanyakan berengsek." Rea mendesah.
"Eh, gimana? Semalam mimpi lagi soal cowok dengan muka blur itu?" tanya Dera. Tidak mau mengungkit lagi kehidupan asmara sahabatnya yang berantakan ini.
Rea mengangguk lemah. Mimpi itu benar-benar mengganggunya, bahkan satu petunjuk pun tak pernah Rea dapatkan.
"Terus, di mimpi lo ada gue,nggak?"
"Gue nggak lihat lo. Tapi gue mimpi nikah sama tuh cowok. Gue nggak tau siapa dia, sialan banget kan. Kenapa mukanya harus blur, gue takut dia jodoh gue, dan Tuhan ngasih petunjuk lewat mimpi. Tapi, Ra, gue cuma takut kalau mukanya nggak sesuai ekpetasi. Gara-gara tuh mimpi, gue begadang dari jam 3 pagi." Desahan pelan kembali mengalun dari bibir Rea.
Sampai terdengar pintu kelasnya terbuka, lalu menegakkan tubuh saat melihat dosen masuk ke dalam ruangan.
"Ntar kita bahas lagi, gue nggak mau kena hukum miss Ailyn."
Dera mengangguk setuju, tidak ada yang pernah selamat dari hukuman Miss Aylin, dosen killer yang terkenal seantero fakultas.
...****************...
*Bersambung*
* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*
*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝*
*Terimakasih🙏*
*Salam manis dari AUTHOR🥰*
*ig@putri_miceela.*
Kuliah berakhir sekitar jam 4 sore. Rea berjalan pulang bersama Dera, di jalan dia bertemu Dante, Darius Aresta Dante-cowok playboy yang suka gonta-ganti pasangan, namun dia bukan mokondo.
"Dan!" Rea melambaikan tangan.
Dante berbeda fakultas dengan Rea. Rea sendiri berada di Fakultas bahasa dan seni bersama Dera, sedangkan Dante berada di fakultas teknik. Jarak fakultas mereka cukup jauh, harus melewati beberapa fakultas, dan jika berjalan kaki, dipastikan betisnya akan bengkak.
"Lo ngapain ke sini, Dan?" tanya Dera. Orang yang paling Ilfeel dengan kelakuan Dante.
"Sewot amat lo kalau ketemu gue."
"Emang, gue alergi sama cowok playboy."
"Gue juga alergi sama cewek pick me kek lo."
"Stop, udah deh. Lo ke sini mau ngapain, Dan? Nggak lagi ngincer anak bahasa, kan?"
Dante tersenyum seperti biasa, jiwa casanovannya memang sering meronta jika melihat cewek bening, kecuali Rea dan Dera.
Bagi Dante, Rea sudah seperti saudara. Di samping itu dandanan Rea yang mirip cewek cupu abad pertengahan, sama sekali bukan typenya Dante karena dia sendiri memang belum pernah melihat wajah asli Rea seperti Dera.
"Kalau ada yang glowing kenapa nggak."
"Tuh kan, mulai lagi." Dera sewot sendiri.
"Emang kenapa? Heran gue sama lo. Selalu aja sewot sama gue. Toh gue bukan pacar lo, kecuali lo mau gue pacarin."
"Najis."
"Stop, kembali ke topik awal, jadi mau ngapain lo ke sini?" tanya Rea karena tidak biasanya Dante pergi ke fakultasnya, jika tidak ada hal penting.
"Mau ngajakin lo ikut kencan buta. Atta nikahin Cleo, gue tau, lo pasti patah hati."
Rea terdiam, kencan buta?
Seperti dia tidak laku saja sampai harus mengikuti kencan buta.
"Nggak, gue nggak minat pacaran. Lagian gue nggak patah hati karena Atta ninggalin gue."
"Siapa yang nyuruh lo pacaran, njirr. Sepupu gue niat nyari istri, bukan nyari pacar. Dia wisuda tahun kemarin, sekarang dia bekerja di perusahaan bonafit. Dia cowok baik-baik, pengen nyari istri wanita baik, gue yakin dia cocok sama lo, sepupu gue rada introvert, lagian gue nggak bakal ngejerumusin lo kali."
Dera menyenggol bahu Rea yang diam mendengar ucapan Dante. "Coba aja dulu."
"Nggak minat."
"Halah dateng aja dulu, lihat-lihat kalau cocok jalanin. Kalau nggak, cukup temenan, apa salahnya."
"Oke, kapan?"
"Besok, di caffe summer, meja nomor 6. Udah reservasi karena banyak pasangan yang ikut kencan buta buat besok.
Mau, ya."
"Oke."
***
Sore itu Caffe summer sudah ramai, dan Rea memang datang ke sana.
Memang benar, banyak pemuda dan pemudi yang datang ke sini, sesuai informasi dari Dante. Mereka ingin melakukan kencan buta di tempat ini. Namun, tak sepenuhnya juga, masih ada beberapa pelanggan caffe umum yang datang, namun duduk di meja barisan kanan karena barisan kiri dikhususkan untuk peserta kencan buta.
"Theo, lo tunggu di sini. Perut gue tiba-tiba mules."
"Lama?"
"Nggak, cepet kok. Ntar kalau ada cewek nyariin gue. Lo bilang aja gue lagi ke kamar mandi."
Dimas Theo Danastra, hanya mengangguk tanpa ekspresi seperti biasanya. Dia duduk di meja nomor 9, menunggu temannya yang mengikuti kencan buta, yang memakai meja nomor 8.
Sembari menunggu temannya, dia membuka ponsel, hanya untuk sekedar membaca manhwa online yang menjadi favoritnya, sampai tiba-tiba seorang anak kecil terjatuh setelah menabrak mejanya, akibat berlari.
"Mama sakit!" serunya.
Theo berdiri, dia ingin menolong anak itu, namun ibunya sudah tiba, dan langsung meminta maaf. Nomor meja Theo sempat jatuh dan wanita itu mengembalikannya lagi ke atas meja, lalu meminta maaf.
Sialnya, wanita tersebut malah membalik nomornya, tanpa Theo ketahui.
Pemuda itu kembali duduk dan asyik membaca manhwa di layar ponselnya.
Sementara itu, Rea yang baru tiba, langsung merotasikan pandangannya, pada deretan meja.
"Kata si Dante, sepupunya ada di nomer 6."
Pandangannya mengedar, sampai dia menemukan cowok bertopi hitam, tengah sibuk dengan ponselnya, dan dia duduk di meja nomor enam.
"Itu dia."
Rea berjalan cepat, sampai akhirnya berhenti tepat di depan seorang pria yang tampak asyik dengan dunianya sendiri.
"Permisi, boleh duduk. Kenalin, gue Rea. Daniella Adriana Rea, temennya Dante, dan gue pasangan kencan buta, lo."
Rea mengulurkan tangan dengan senyum cerahnya, bersamaan dengan Theo yang mendongak dengan wajah datar, dan tatapan dinginnya, plus bibir tanpa senyum.
Rea terpaku, bibirnya kelu.Sesaat dia sempat terpana akan sosok Theo. Namun, buru-buru dia menggeleng cepat.
Theo si cowok kulkas seribu pintu dari fakultas teknik, ketua ospek paling ditakuti semua Maba karena tidak pernah tersenyum, dan hobi memberi hukuman jika mereka melanggar aturan ospek.
"Lo, lo temen kencan buta gue?" tanya Rea, dan Theo hanya diam tak menjawab apa-apa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pertemuan pertama itu tidak sengaja, pertemuan kedua mungkin kebetulan, tapi pertemuan ketiga, itu adalah jodoh.
Suara deru motor berhenti di depan rumah mewah, bak istana dengan halaman luas. Terlihat pohon cemara yang berjajar sepanjang jalan berpaving blok dari pintu gerbang setinggi dua meter, hingga ke pintu utama.
Ada kolam air mancur di tengah halaman, dan garasi dengan banyak mobil berjajar di sayap kiri bangunan.
Seorang gadis cantik membuka helmnya, lalu turun dari motor sport berwarna merah, yang dia parkirkan di halaman. Toh nanti ada sendiri yang menyimpan motor kesayangannya itu di garasi.
Gadis itu berjalan sembari mengikat rambutnya ke belakang yang tadi tergerai indah. Lalu masuk ke dalam rumah.
"Aku pulang!"
"Non Rea!" Seorang wanita paruh baya setengah berlari menghampiri gadis cantik berambut hitam yang ternyata adalah Rea. Di balik dandanan cupunya, Rea adalah putri sulung keluarga konglomerat Arisatya, seorang pebisnis yang memiliki anak cabang perusahan di mana-mana, juga sekolah menengah milik keluarganya yang begitu terkenal, dan berakreditasi A.
Ibunya adalah kepala rumah sakit, sekaligus dokter spesialis bedah di rumah sakit terkenal di kota ini.
Hidup Rea seperti tuan Puteri, namun dia selalu kesepian karena ayah dan ibunya terlalu sibuk dengan pekerjaan. Kisah asmaranya juga berantakan. Pernah menyukai seorang pria, tapi ternyata dia hanya memanfaatkannya saja karena status Rea yang berasal dari keluarga konglomerat.
Maka dari itu, Rea memilih menyamar menjadi orang biasa, untuk mendapatkan teman dan pasangan hidup yang menyukai dia apa adanya, tanpa memandang status siapa dia sebenarnya.
"Bi Arsi, ada apa? Kok buru-buru banget kayaknya."
"Oh, itu dicari Tuan besar.Beliau ada di ruangan kerjanya nungguin Non Rea."
Mengernyitkan dahinya, Rea sedikit kaget, tidak tahu jika ayahnya sudah kembali dari Jepang. Jika begini caranya, dia tidak akan bisa ke mana-mana, dan menjadi tahanan rumah.
Ayahnya itu sedikit overprotektif. Apalagi pergaulan jaman sekarang, selain itu Rea adalah pewaris kerjaan bisnis Arisatya. Tentu dia harus menjaga sikap, dan tidak bergaul sembarangan.
"Papi udah pulang, Bi?"
"Udah, Non. Dari sejam yang lalu, nanyain Non Rea terus. Emang Non Rea dari mana? Dari tempat Mbak Dera?"
Rea menggeleng, dia tidak bertemu Dera hari ini. Sejak dari caffe summer tempatnya kencan buta, Rea langsung kembali ke rumahnya karena tahu ayahnya akan kembali dari Jepang. Namun, dia pikir ayahnya akan kembali nanti tengah malam karena pria bernama Jeremy Arisatya itu mengatakan pesawatnya delay.
"Dari kencan buta, Bi." Dia menjawab dengan senyum manisnya, dan lesung pipi yang hanya sebelah-tepatnya di sebelah kanan.
"Kencan buta? Kenapa ikutan acara begituan sih, Non. Buat apa? Kaya Non Rea nggak laku aja."
Rea terkekeh. "Cuma iseng, eh tadi aku ketemu cowok ganteng banget kaya Gege China, tapi sayang dia orangnya kaku, nggak pernah senyum, ngomongnya irit, nyebelin. Tapi tau nggak, Bi. Pas aku ngajakin dia nikah, dia langsung marah,terus kabur, lucu sih." Rea menceritakan saat pertemuannya dengan Theo tadi saat di caffe.
"Terus gimana, Non?"
"Ya akhirnya kukejar orangnya, ku suruh bayar lah pesenan ku di caffe. Enak aja, aku kan nggak mau rugi, lagian Bi aku cuma mau ngetes tuh cowok mokondo atau nggak. " Rea tertawa.
Bi Arsi sudah hapal dengan kelakuan nona mudanya ini.
Mudah akrab dengan orang lain, bahkan di luar sana, dia tidak pernah menunjukkan siapa dirinya karena ingin berbaur dengan yang lain. Meskipun Rea dengan dandanan cucunya sering menjadi target bully anak-anak di kampus, tapi Rea tak kapok, bukan dia menangis, namun si pembully yang kena mental karena dihajar oleh Rea yang memiliki bekal banyak ilmu bela diri.
"Non Rea nggak pernah berubah."
"Lah gimana, Bi. Dia lucu sih, kaya takut banget pas ku ajak nikah, padahal kan cuma bercanda."
Rea mengakhiri tertawanya saat mendengar suara deheman dari arah depan ruang kerja ayahnya, yang memang berada di samping ruang utama rumah keluarga Arisatya.
"Papi!" serunya.
Pak Jeremy langsung merentangkan tangannya, dan Rea buru-buru memeluk sang ayah.
"Dari mana, hem. Papi denger kamu dari kencan buta?"
"Cuma iseng."
Pria itu menggelengkan kepalanya. "Ayo masuk, Papi mau bicara."
"Ada hal penting?"
"Tentang masa depanmu."
***
"Papi mau jodohin kamu sama anak temen Papi."
"Lah, kenapa dijodohin. Aku nggak mau ah." Rea mendesah, ini bukan jaman Siti Nurbaya, dia masih ingin menyelesaikan pendidikannya, dan bukannya memikirkan urusan rumah tangga.
"Kamu jangan ngebantah, ini perjodohan bisnis antar keluarga. Sudah menjadi hal lumrah, jika keluarga Arisatya dilarang memilih jodohnya sendiri, dan harus menurut aturan keluarga."
Rea mengepalkan tangannya. Bahkan dia tidak bisa menentukan takdirnya sendiri. Masa depan cerah yang selalu diimpikan semua orang karena menjadi pewaris tahta nyatanya hanya omong kosong.
Lihat saja sekarang, dia bahkan tidak bisa memilih siapa yang akan dia nikahi, dan harus taat dengan aturan keluarganya.
"Nggak bisakah aku milih pasangan hidupku sendiri, Pi?"
"No, Rea. Kamu harus mau
"Nggak bisakah aku milih pasangan hidupku sendiri, Pi?"
"No, Rea. Kamu harus mau ikut perjodohan. Nggak boleh nolak, apalagi kabur."
Rea berbaring di atas ranjang, matanya menatap langit-langit kamarnya.
Dijodohkan, tidak ada di dalam bayangannya dia harus menikah di usianya yang masih 21 tahun.
Mungkin, itu sudah cukup umur, tapi Rea masih ingin menikmati masa mudanya dengan kuliah, lalu membentangkan karirnya.
"Padahal gue belum pengen nikah, kenapa harus dijodohin. Apalagi ini aturan keluarga."
Meniup poninya, dia memutuskan bangun, dan berjalan ke arah balkon.
Sampai ponselnya tiba-tiba berbunyi, dan ada telepon masuk dari Dante.
"Si Dante, ngapain telepon."
Tidak ingin membuat Dante menunggu, Rea langsung mengangkat teleponnya.
"Ada apaan, Dan?"
"Lah, gimana sih. Kok lo nggak jadi nemuin sepupu gue."
Rea agaknya ikut bingung, terlihat dari dahinya yang berkerut. Bukannya dia sudah bertemu dengan pasangan kencan buta nya di meja nomor 6, dan dia agak kaget karena yang dia temui justru si Theo-si cowok kulkas seribu pintu.
"Loh, gue udah ketemu sama dia, Dan. Meja nomer 6, gue nggak salah."
Di ujung sana Dante berdecak. "Masa sih, tapi sepupu gue bilang, nggak ada tuh cewek yang dateng. Nah, lo pergi ke mana? Jangan-jangan lo nggak dateng ke caffe summer."
"Sumpah, gue ke sana, Dan. Nggak bohong. Bisa lo cek CCTV caffe kalau nggak percaya."
"Tapi sepupu gue bilang, dia nggak ketemu sama lo. Jangan bilang lo salah nomer."
Rea terdiam, mungkinkah ada yang salah di sini. Sudah jelas meja Theo itu nomor enam, lalu di mana letak kesalahannya.
Rea memutuskan memutus sambungan teleponnya. Dia bergegas masuk kembali ke dalam kamar, mengambil kunci motor lalu kembali pergi ke caffe summer.
...****************...
*Bersambung*
* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*
*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝*
*Terimakasih🙏*
*Salam manis dari AUTHOR🥰*
*ig@putri_miceela.*
"Mas Theo, dicariin Nyonya."Pemuda berkulit putih itu menoleh, ketika seorang wanita paruh baya memanggilnya.
Dia mengangguk dengan sopan, lalu mematikan laptop yang masih menyala.
Theo keluar dari perpustakaan pribadi di rumah besarnya. Tempat Theo mencari ketenangan ketika dia mengerjakan tugasnya, atau sekedar menulis novel online. Kegiatannya selama ini untuk mencari uang, meskipun dia berasal dari keluarga kaya raya. Namun, Theo bukan tipe orang yang suka sekali berpangku tangan, apalagi menghamburkan uang ayahnya yang tak akan habis hingga tujuh turunan.
"Mama," panggil Theo.
Ibunya yang fokus pada ponsel, lalu menoleh dan meletakkan benda pintar itu di atas meja, setelahnya dia melepaskan kacamata bacanya.
"Duduk sini, Mama mau bicara."
Theo mengangguk tanpa kata, bukan gayanya jika dia banyak bicara. Theo itu pendiam, sulit tersenyum. Bahkan bicara hanya seperlunya saja.
"Kalau kamu Mama kenalin sama anak temen bisnis Papa, kamu mau?"
Theo diam, selama ini dia belum memiliki pemikiran untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis.
"Dijodohkan?"
"Iya, Mama sama Papa sudah sepakat, Theo. Kamu akan kami jodohkan sama anak temen bisnis Papa. Mama denger, dia satu kampus sama kamu, cuma beda fakultas."
"Oh." Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Theo.
"Kamu nolak?"
"Aku nggak mungkin nolak, dan nggak akan bisa nolak."
Wanita itu tersenyum. "Minggu depan, kita ketemu sama calon kamu. Bersiap, ya."
"Hn," jawabnya singkat. Dia akan berbalik, namun ibunya— Bu Wina- kembali memanggilnya. "Theo!"Theo berbalik tanpa bicara.
"Lupain mimpi kamu itu, itu hanya bunga tidur. Nggak ada yang namanya jodoh ketemu lewat mimpi."
Theo diam, hanya mengangguk lalu kembali berjalan ke arah perpustakaan.Dia duduk kembali di karpet, dan membuka laptopnya.
Ingatannya kembali pada pertemuannya dengan gadis cupu bar-bar bernama Rea.
Aneh, dia baru bertemu dengan seorang gadis dengan dandanan cupu, tapi cerewetnya over dosis di luar prediksi
"Nama gue Daniella Adriana Rea, nama lo siapa?"
Theo diam saja saat Rea mengulurkan tangan.
"Kita tidak akrab."
Alis Rea naik sebelah,
jawaban macam apa itu. Setidaknya meskipun mereka tidak akrab, Theo menyambutnya. Padahal Rea mengajaknya berkenalan baik-baik.
"Apaan sih, gue kan cuma nanya nama lo. Pelit banget nggak mau ngasih tau nama lo. Ah, gue inget nama lo Theo, anak fakultas teknik temennya si Atta, kan? Lo tau nggak, Atta itu mantan gue, dia brengseknya level dewa.
Untungnya gue nggak cinta-cinta banget sama dia."
"Saya nggak nanya."
Rea ngedumel kesal, namun detik selanjutnya senyum di bibirnya merekah.
Saat melihat wajah Theo dari dekat, dan Rea berani bersumpah, gantengnya si Theo ini sudah di level terakreditasi A plus. Namun, jika orangnya kaku, pasif, tidak pernah senyum, dan bicara irit, tentu Rea malas jika harus berjodoh dengan Theo.
"Padahal kita udah ketemu dua kali ini. Eh lo tau nggak salah satu istilah, pertemuan pertama itu tidak sengaja, pertemuan kedua mungkin kebetulan, tapi pertemuan ketiga, itu adalah jodoh. Kalau kita ketemu lagi untuk ketiga kalinya, gimana kalau kita nikah, Theo."
Mata sipit Theo sedikit melebar, lalu berdiri.
"Gila."
"Eh, lo mau ke mana?" tanya Rea ketika melihat Theo beranjak.
Theo tak menjawab, namun lengannya digenggam oleh Rea secara reflek. Akan tetapi, Theo langsung menghempaskannya begitu saja, seolah dia alergi dengan sentuhan orang lain.
"Apaan sih, gue nggak kena rabies."
"Kita nggak akrab, jangan sentuh."
Rea meraup kasar wajahnya."Oke, sorry. Tapi duduk dulu kenapa, gue tadi udah pesen minum, siapa yang bayar. Masa gue bayar sendiri, lo harus bayar lah. Lo kan cowok, masa nggak mau bayar. "
Theo memang bukan orang yang suka berbasa-basi, dia mengeluarkan uang seratus ribuan dua lembar, dan ditaruh di atas meja.
"Eh, lo beneran mau bayar?"
"Kamu yang minta."
Rea tersenyum, tipe cowok bertanggung jawab, dan nggak pelit. Oke, Theo bukan mokondo, itu masih dugaan.
"Theo."
"Hn."
"Boleh tau nama lengkap lo, nomer ponsel lo, akun IG lo, terus-"
"Kita tidak akrab." Selesai mengatakan itu, Theo langsung pergi, namun Rea dengan tidak tahu malunya justru berseru. "Semoga kita bertemu lagi, biar bisa naik pelaminan bersama!"
Tawa Rea mengalun, padahal dia hanya bercanda, namun Theo sepanik itu, dan langsung kabur.
Theo berdecak, dia menggelengkan kepalanya. Jelas Rea akan dia singkirkan dari tipe calon pasangan hidupnya.
"Tidak tahu malu," gumam Theo, yang kembali fokus dengan laptopnya. Dia masih mencari informasi tentang bocah SD yang dulu memberinya permen di taman sewaktu dia diganggu anak nakal, saat pulang dari taman kanak-kanak, menunggu ibunya di taman dekat sekolahnya.
Bocah perempuan cantik, dengan senyum manisnya, yang menjadi cinta pertama Dimas Theo Danastra.
***
Seminggu berlalu begitu cepat, dan sekarang keluarga Arisatya tengah menunggu kedatangan teman bisnisnya yang akan melakukan pertemuan guna membicarakan perjodohan anak mereka.
Rea masih ngedumel di sofa, lengkap dengan dandanan cupunya. Rea mau dijodohkan dengan syarat, dia tidak mau tampil cantik, dan ayahnya terpaksa mengiyakan saja asal anaknya itu tidak kabur dari acara perjodohan.
"Kak, udah deh. Siapa tau calonmu ganteng." Daren, adiknya berdiri di samping Rea.
"Gue nggak minat dijodohin, Ren."
"Masih cinta sama Kak Atta?"
"No, gue udah move on.
Hanya saja, gue belum pengen nikah. Meksipun tuh calon gue ganteng sekalipun. Yah, meskipun gitu semoga dia asyik sih, jangan kaya si dia, nggak pernah senyum kaya si Theo," gerutu Rea.
"Siapa Theo?" tanya Darren.
"Pasangan kencan buta gue, tapi sialnya gue salah nomer.
Yang gue datengin meja si Theo, ternyata nomer 9. Ah, sial bener gue kemarin. Aslinya dia cakep, tapi gue nggak tahan sama sifat es batunya itu. Bener-bener mirip kulkas seribu pintu tau nggak sih, Rren." Rea kesal, dan kebiasannya adalah meniup poni.
Darren baru saja ingin menjawab, namun bi Arsi sudah berjalan tergopoh menghampiri pak Jeremy, mengatakan jika tamu mereka sudah datang.
Pak Jeremy, dan bu Cindy mengajak kedua anaknya keluar untuk bertemu dengan tamu mereka.Pak Jeremy tersenyum ketika melihat tamunya yang merupakan teman bisnisnya.
"Jemmy, lama nggak ketemu. Makin sukses aja sekarang."
"Ah, sama saja, Hen. Anakmu yang mau dijodohin sama anakku mana?" tanya Pak Jeremy.
"Masih di luar, lagi nelpon tadi. Biasa banyak tugas di kampus dia. Lagi bicara sama temennya tadi, tungguin bentar.
Anakmu mana?"
Pak Jeremy langsung menyuruh Rea bersalaman dengan tamu ayahnya. Sedikit kaget dengan dandanan Rea.
"Ini-"
"Ini anakku, lagi main drama dia."
Pasangan suami istri itu paham, karena mereka memang sudah tahu wajah asli Rea saat dikirimi foto oleh pak Jeremy.
"Oh, biarin aja deh. Sekalian biar kejutan buat.... " Kalimat pria itu terputus, saat melihat anaknya masuk ke dalam rumah. "Nah ini anakku, kenalin Dimas Theo Danastra, anak bungsuku."
Rea diam, bibirnya kelu."Theo."
Theo sendiri sedikit terkejut saat melihat Rea berdiri di depannya. Namun tertutup apik dengan ekspresi wajahnya yang datar.
"Pi, dia-"
"Iya ini calon suami kamu,Rea."
Ingin rasanya Rea kabur saja karena dia termakan istilah yang dia ciptakan sendiri.
Pertemuan ketiga, berarti jodoh.
"Sialan."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mi, bisa nggak nikahnya nggak jadi aja."
Bu Cindy menoleh, ketika mendengar ucapan anak sulungnya itu. Apalagi pak Jeremy sudah memberikan tatapan diskriminasi.
Tanggal sudah ditentukan, dan bagaimana bisa anaknya ini tiba-tiba membatalkan acara pernikahan yang sudah disusun rapi. Keluarga Danastra sudah setuju karena Theo tak banyak berkomentar ini itu.Pemuda pasif tersebut hanya diam, dan menurut apa kata orang tuanya.
"Nggak bisa." Pak Jeremy berkata tegas.
Yang Rea lakukan hanyalah ngedumel dengan meniup poni di dahinya dengan bibir dimajukan. Kebiasaannya jika sedang kesal.
"Kenapa harus ada acara perjodohan sih di keluarga kita? Kenapa kita nggak bisa bebas milih siapa calon pendamping hidup kita. Emang kalau dijodohin, bisa menjamin akan bahagia. Apalagi Papi nggak lihat si Theo itu. Ya ampun Pi, aku mana tahan sama sifat introvert nya itu. Udah ngomong irit, nggak pernah senyum, aku suruh jadi patung gitu kalau nikah sama dia."
"Stop Rea, jangan nilai orang dari sampulnya, bisa aja dia nggak gitu. Ini aturan keluarga kita, dan aturan tidak untuk dilanggar. Mau nggak mau, kamu harus terima Theo jadi suami kamu bulan depan, paham. Papi nggak terima penolakan, atau kamu milih Papi kirim ke luar negeri tanpa fasilitas, dan cari uang sendiri,paham!"
Ucapan ayahnya adalah mutlak, siapa pun di keluarga Arisatya tidak bisa membantah, apalagi aturan ini sudah dibuat sejak nenek buyutnya. Mereka sengaja membuat acara perjodohan, agar terhindar mendapat pasangan yang tidak jelas bibit bebet dan bobotnya.
Terkenal menganut aturan kuno memang, namun itulah aturan keluarga Arisatya. Perjodohan bisnis, yang memang sudah terjadi turun temurun, dan kini Rea tak bisa berbuat banyak. Hanya bisa mengikuti aturan keluarganya, padahal dia masih penasaran dengan cowok di dalam mimpinya, dan kini dia harus menikah dengan si cowok kulkas seribu pintu, Dimas Theo Danastra.
***
"Ciee yang mau dijodohin, dia anak pertama keluarga Arisatya, kan?" Villia, kakak Theo menggoda adiknya yang sedang fokus menulis laporan kegiatan ospek, dan membuat jadwal untuk esok hari karena dia adalah ketuanya.
Theo tak bicara, hanya gumamam pelan, dan Villia sudah hapal dengan sifat adiknya yang satu ini.
"Papa bilang, dia cupu, kok bisa sih. Anak orang kaya dan dandanannya kek gitu, dan kamu mau?" Sesungguhnya, Villia sudah tahu wajah asli Rea. Toh mereka pernah satu SMA dulu karena Rea adalah adik satu tingkat Villia. Dia hanya ingin menggoda Theo saja.
Theo sendiri menghabiskan masa SMA nya di Tiongkok karena ikut dengan neneknya di sana, dan baru kembali saat dirinya masuk ke jenjang universitas.
"Tidak penting."
"Love first at sight, eoh?
"No, just following family tradition."
Villia mengangguk, memang di keluarga mereka tidak diperbolehkan memilih pasangan sendiri. Harus tunduk pada aturan karena sudah terjadi turun temurun mengikuti perjodohan bisnis kedua orang tuanya. Seperti Villia yang akhirnya bercerai, dengan status single parent dari anak berusia 2 tahun.
"Okay, huh semoga kamu bahagia dengan Rea. Nggak seperti aku yang berakhir berpisah karena perbedaan prinsip." Villia berdiri, dia hampir keluar dari kamar Theo, namun kakinya berhenti di depan pintu.
Sejenak dia diam, lalu berbalik. "Oh ya, terus gimana dengan gadis di masa lalu kamu itu, udah ketemu sama orangnya?"
Theo menggeleng. Itu sudah terjadi sejak 15 tahun yang lalu, untuk menemukannya pun sulit. Theo tidak tahu namanya, hanya tahu di mana dia bersekolah, anak itu lebih tua dari Theo karena saat bertemu Theo masih di taman kanak-kanak, sedangkan gadis itu sudah memakai seragam SD.
Theo tidak bisa mencarinya karena sejak masuk SD, ia dibawa oleh ayahnya ke China untuk menyelesaikan pendidikannya hingga SMA di negeri tirai bambu itu.
"Aku cuma takut, ketika kamu menikah dengan Rea, lalu kamu bertemu dengan dia. Gimana endingnya?"
Theo tak menjawab, dia diam.Namun, dia juga berpikir karena cinta pertama itu sulit sekali dilepaskan. Membuat Theo enggan menjalin hubungan dengan gadis mana pun karena masih menyukai gadis di masa lalunya.
*Bersambung*
* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*
*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝*
*Terimakasih🙏*
*Salam manis dari AUTHOR🥰*
*ig@vera_miceela.*
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!