Sore itu, langit Bandung mulai berubah jingga. Dari dapur, aroma ayam bakar yang sejak siang dimarinasi memenuhi seluruh rumah. Arini tersenyum kecil sambil menata piring-piring terbaik yang hanya ia keluarkan untuk momen spesial.
Hari ini tepat hari ulang tahun kedua pernikahannya dengan Galang. Meski sederhana, ia ingin malam ini menjadi malam yang hangat. Apalagi keluarga suaminya akan datang dari Yogyakarta.
Ponselnya berdering. Nama Mas Galang muncul di layar. Wajah Arini langsung berbinar.
"Assalamualaikum, Mas."
"Waalaikumsalam, Rin. Aku sampai rumah paling abis magrib. Ini masih di Tasik."
"Ok, Mas. Hati-hati ya."
"Tentu. Jadinya anniversary kita dirayakan di mana, Rin?"
"Di rumah aja, Mas. Kalau dirayakan di luar kasihan ibu, bapak, dan Vera. Masa udah perjalanan jauh harus diajak jalan lagi?"
Galang terkekeh pelan. "Ya udah, terserah kamu aja."
"Kamar untuk ibu dan bapak sudah disiapkan."
"Ok, makasih ya, Sayang. Kamu memang istri yang sangat pengertian."
Arini tersipu. "Ah Mas Galang ini. Kayak ke siapa aja pakai bilang gitu segala. Ibu Mas Galang adalah ibuku juga."
Beberapa detik suasana menjadi hangat. Hangat seperti rumah tangga yang selama ini Arini yakini baik-baik saja. Tak pernah sekalipun terlintas di pikirannya bahwa dalam hitungan jam, seluruh hidupnya akan hancur berkeping-keping.
Seminggu lalu, Bu Sumarni, ibu mertuanya, menelepon. Katanya sedang sakit dan meminta Galang pulang ke Yogyakarta. Awalnya Arini ingin ikut. Namun Bu Sumarni menolak dengan halus.
"Nggak usah, Rin. Galang aja yang pulang!"
Meski sedikit kecewa, Arini mengalah.
Dua hari lalu, Galang kembali menelepon. Katanya kondisi Bu Sumarni sudah membaik dan ingin ikut tinggal bersama mereka di Bandung.
Arini langsung menyetujuinya. Walaupun ia tahu, selama dua tahun pernikahannya dengan Galang Bu Sumarni tak pernah benar-benar menyukainya. Tak pernah memujinya. Tak pernah menunjukkan kasih sayang seperti seorang ibu kepada anak perempuan. Namun Arini tetap berusaha. Ia percaya, jika hidup serumah, mereka bisa saling mengenal lebih dekat.
Mungkin selama ini hanya ada kesalahpahaman.
Mungkin suatu hari nanti Bu Sumarni akan menerimanya sepenuh hati.
Malam pun tiba.
Jarum jam menunjukkan pukul tujuh tepat ketika suara mobil terdengar memasuki halaman rumah.
Arini yang sejak tadi menunggu di ruang tamu langsung berdiri. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Pintu rumah terbuka. Galang masuk lebih dulu.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Arini segera menghampiri suaminya. Seperti biasa, ia mencium tangan Galang dengan takzim.
"Capek, Mas?"
"Sedikit." Jawaban itu terdengar singkat. Namun Arini tidak terlalu memikirkannya.
Ia kemudian menyambut Pak Hardi dan Bu Sumarni yang masuk setelahnya.
"Selamat datang di Bandung, Pak, Bu. Bagaimana sudah sehat, Bu?"
"Lumayan."
Jawaban Bu Sumarni terdengar datar. Arini hanya tersenyum. Mungkin ibu mertuanya memang lelah karena perjalanan jauh.
Tak lama kemudian Vera turun dari mobil. Arini tersenyum menyambut adik iparnya itu. Namun sesaat kemudian, senyumnya perlahan menghilang.
Karena ada seseorang yang ikut masuk ke dalam rumah. Seorang wanita muda. Cantik. Sangat cantik. Kulitnya putih bersih. Rambut panjangnya tergerai rapi. Penampilannya elegan dan berkelas.
Wanita itu berdiri di dekat Vera adik iparnya.
Entah mengapa, jantung Arini mendadak berdebar tidak nyaman.
"Ver.." Arini tersenyum canggung. "Ini siapa ya?"
Belum sempat siapa pun menjawab, Bu Sumarni melangkah maju. Tatapannya datar. Tidak ada rasa bersalah sedikit pun.
"Ini Mayang."
Arini mengangguk sopan.
"Halo, Mbak Mayang!"
Namun kalimat berikutnya membuat dunianya runtuh seketika. "Mayang adalah istri kedua Galang. Baru lima hari yang lalu menikah."
Hening. Seolah seluruh suara di dunia menghilang.
Arini merasa telinganya berdenging.
"Apa...?" Bibirnya bergetar.
Bu Sumarni justru melanjutkan dengan tenang.
"Dia cinta pertama Galang. Mereka sudah saling mencintai sejak SMA. Harusnya dari dulu Galang menikah dengan Mayang."
Deg!
Tubuh Arini seakan kehilangan tenaga. Wajahnya memucat. Matanya langsung mencari sosok suaminya. Galang.
Pria yang dua tahun terakhir menjadi pusat dunianya. Pria yang beberapa jam lalu masih memanggilnya sayang melalui telepon. Pria yang tadi siang masih membahas perayaan anniversary mereka.
"Mas..." Suara Arini pecah.
"Apa yang Ibu bilang itu nggak benar, kan?"
Galang tidak menjawab. Ia hanya menundukkan kepala. Diam. Dan diamnya terasa lebih menyakitkan daripada pengakuan apa pun.
Jantung Arini seperti diremas kuat-kuat. "Mas, jawab aku!"
Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya. "Katakan kalau ini bohong!"
Tetapi lagi-lagi Galang memilih diam. Tidak membela. Tidak menjelaskan. Tidak menyangkal.
Seolah dirinya memang bersalah. Seolah semua yang dikatakan ibunya adalah kebenaran.
Arini mundur selangkah. Dadanya terasa sesak.
Sulit bernapas. Pikirannya kacau. Baru beberapa jam lalu ia sibuk menyiapkan kamar untuk mertuanya. Menyiapkan makanan favorit keluarga suaminya. Menata rumah agar mereka merasa nyaman. Bahkan ia rela merayakan anniversary pernikahannya di rumah demi menghormati keluarga yang datang dari jauh.
Namun balasan yang diterimanya justru seperti ini. Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta. Di hari yang seharusnya menjadi kenangan indah. Suaminya pulang membawa perempuan lain.
Membawa seorang istri baru. Tanpa pemberitahuan. Tanpa penjelasan. Tanpa sedikit pun menghargai perasaannya.
"Mas..." suara Arini bergetar hebat. "Jadi selama ini aku dianggap apa?"
Galang masih menunduk. Sikap itu membuat amarah yang bercampur luka mulai memenuhi dada Arini.
"Jawab aku, Mas!" Tangisnya akhirnya pecah. "Selama dua tahun aku menemanimu Mas. Selama dua tahun aku berusaha jadi istri yang baik. Apa aku pantas diperlakukan seperti ini?"
Namun yang menjawab justru Bu Sumarni.
"Kamu harus belajar menerima kenyataan, kamu harus sadar diri, kamu itu mandul."
Arini menoleh. Tatapan wanita paruh baya itu dingin. Menusuk. "Tapi Bu—"
"Mayang lebih dulu ada di hati Galang."
Kalimat itu seperti pisau yang kembali mengoyak luka. Air mata Arini mengalir semakin deras.
Tangannya mengepal kuat. Tubuhnya gemetar menahan marah. Arini tertawa pahit. Tawa yang terdengar lebih menyedihkan daripada tangisan.
"Kamu harus legowo, Rin. Laki-laki sukses itu biasa memiliki wania lebih dari satu." Ucap Pak Hardi enteng.
"Iya, lagian kan Mas Galang gak menceraikan Mbak Arin." Itu yang paling penting." Vera ya selama ini selalu membebaninya berbicara lugas.
Berikut versi yang lebih natural dan emosional:
"Kamu harus legowo, Rin. Laki-laki sukses itu biasa memiliki wanita lebih dari satu," ucap Pak Hardi enteng, seolah apa yang terjadi bukan luka yang sedang merobek hati Arini.
"Iya, lagian kan Mas Galang nggak menceraikan Mbak Arini. Itu yang paling penting," timpal Vera tanpa rasa bersalah.
Seperti biasa, iparnya itu selalu berbicara lugas, bahkan cenderung menyakitkan. Tak pernah ada usaha untuk menjaga perasaan Arini. Seolah keberadaan perempuan lain dalam rumah tangganya bukan masalah besar selama statusnya masih tetap sebagai istri sah.
Arini menundukkan kepala. Dadanya terasa sesak. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Mereka berbicara tentang hidupnya, tentang pernikahannya, tentang suaminya yang akan berbagi cinta dengan wanita lain, tetapi tak seorang pun tampak peduli pada perasaannya.
Di mata mereka, yang penting Arini masih menyandang status istri. Tidak peduli jika hatinya perlahan hancur berkeping-keping.
Jadi itu ukuran kebahagiaan seorang istri menurut mereka? Tidak diceraikan. Meskipun hatinya diinjak-injak. Meskipun harga dirinya dihancurkan. Meskipun suaminya berbagi cinta dengan wanita lain. Air mata kembali jatuh tanpa bisa dibendung. Tangannya gemetar. Dadanya terasa sakit hingga sulit bernapas.
"Oh ya, Mbak," sela Mayang sambil tersenyum manis, seolah tidak menyadari betapa menyakitkan setiap kata yang keluar dari mulutnya. "Sekarang kan kami sedang honeymoon. Bisa nggak disediakan kamar yang nyaman? Ya setidaknya seperti di hotel."
Mayang melirik ke arah Galang sebelum melanjutkan ucapannya. "Atau nggak apa-apa kan kalau kami tidur di kamar utama rumah Mas Galang ini? Soalnya lima hari kemarin kami honeymoon di hotel, jadi masih terbiasa tidur di kamar yang nyaman."
Arini membeku di tempatnya. Kamar utama?
Kamar yang selama dua tahun terakhir menjadi ruang pribadinya bersama Galang? Tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan, tawa, doa, dan harapannya sebagai seorang istri? Wanita itu mengatakannya dengan begitu enteng, seolah meminta kamar tamu biasa.
Arini menoleh ke arah Galang. Dalam hati, ia berharap suaminya akan menolak. Mengatakan bahwa kamar itu adalah hak Arini. Bahwa ada batas yang tidak boleh dilanggar.
Namun harapan itu kembali hancur. "Kalau itu yang kamu mau, nggak masalah," jawab Galang santai.
Jantung Arini seperti diremas. "Mas..." suaranya bergetar.
"Apa?"
"Itu kamar kita."
Galang mengembuskan napas panjang, seolah Arini sedang mempermasalahkan sesuatu yang sepele.
"Arin, izinkan aja lah. Cuma kamar, kan?"
Cuma kamar. Dua kata itu terasa seperti tamparan keras. Bagi Galang mungkin hanya sebuah ruangan. Namun bagi Arini, itu adalah simbol rumah tangga yang selama ini ia jaga dengan sepenuh hati.
"Benar, Mbak," sahut Vera cepat. "Lagian Mas Galang kan sekarang harus adil. Masa Mbak masih mau menguasai semuanya sendiri?"
Pak Hardi mengangguk setuju. "Kamu harus belajar berbagi, Rin. Sekarang status Mayang juga istri Galang."
Arini tersenyum pahit. Berbagi? Dulu mereka meminta dirinya berbagi waktu suaminya. Lalu berbagi perhatian. Sekarang bahkan tempat tidurnya pun harus dibagi.
Entah setelah ini apa lagi yang harus ia relakan.
Dan yang paling menyakitkan, tidak seorang pun di ruangan itu menganggap pengorbanannya sebagai sesuatu yang berharga. Mereka hanya menuntutnya untuk terus legowo, sementara hatinya perlahan hancur sedikit demi sedikit.
Kini di hadapannya berdiri orang-orang yang menganggap penderitaannya sebagai sesuatu yang wajar. Bu Sumarni yang sejak awal menginginkan Mayang. Pak Hardi yang menyuruhnya legowo.
Vera yang menganggap semua ini bukan masalah.
Dan Galang...Lelaki yang seharusnya membelanya.
Lelaki yang seharusnya berdiri di sisinya. Bukannya menjelaskan alasan dia menikah lagi, ini malah meminta kamar pribadi mereka.
Dia jelas-jelas tidak membela perasaannya. Kelakuan Galang malam itu menjadi bukti paling menyakitkan. Bahwa dalam keputusan ini... Dia memang tidak pernah memikirkan Arini. Sama sekali.
Sakit. Kecewa. Hancur. Semua bercampur menjadi satu. Dan yang paling menyakitkan...Orang yang menghancurkan hatinya bukan hanya mertuanya.
Melainkan lelaki yang ia cintai sepenuh hati.
Lelaki yang dua tahun lalu mengucapkan akad di hadapannya. Lelaki yang berjanji akan menjaganya.
Kini justru berdiri diam saat dirinya dipermalukan di rumahnya sendiri.
Malam anniversary kedua pernikahan mereka yang seharusnya dipenuhi kebahagiaan berubah menjadi malam paling menyakitkan dalam hidup Arini.
Dan ini baru permulaan.
___________________________________
Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!
Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).
Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)
Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)
Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
Arini menatap satu per satu wajah yang ada di hadapannya. Wajah-wajah yang seharusnya menjadi keluarganya. Wajah-wajah yang seharusnya melindunginya.
Namun nyatanya, merekalah yang sedang menginjak harga dirinya tanpa belas kasihan.
Dadanya terasa sesak, tetapi ia memaksa dirinya tetap berdiri tegak.
Sejak kecil hidup memang tidak pernah ramah kepadanya. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan. Sejak saat itu, hidupnya berubah.
Tidak ada satu pun kerabat yang benar-benar menginginkannya. #Bahkan tantenya sendiri lebih memilih menyerahkannya ke panti asuhan setelah berhasil menguasai rumah peninggalan orang tuanya.
Arini masih ingat bagaimana dirinya menangis di depan gerbang panti saat itu. Seorang anak kecil yang kehilangan semuanya dalam waktu bersamaan.
Keluarga. Rumah. Dan tempat pulang.
Sejak saat itu ia belajar satu hal. Jangan berharap terlalu banyak kepada manusia. Karena orang-orang terdekatlah yang sering kali meninggalkan luka paling dalam.
Kalau dulu ia hanya bisa diam saat diperlakukan tidak adil, kali ini tidak. Arini menarik napas panjang. Mengisi paru-parunya hingga penuh.
Mengumpulkan keberanian yang selama ini terkubur di dalam dirinya.
"Maaf, kalian tidak bisa seenaknya mengatur hidupku."
Semua orang langsung menoleh ke arahnya.
"Kamar pribadiku tidak akan pernah aku berikan kepada siapa pun. Itu milikku. Kalau Mayang butuh tempat tidur, silakan gunakan kamar tamu."
Mayang langsung memasang wajah tidak suka.
Sementara Galang menatap istrinya tajam.
"Kalau begitu aku juga akan tidur di ruang tamu."
Arini menatap suaminya tanpa gentar. "Silakan!"
Meski suaranya sedikit bergetar, ia tidak menundukkan kepala. Tidak kali ini. Ia memilih membela dirinya sendiri.
Suasana mendadak canggung. Bu Sumarni segera berdeham. "Ya sudah, ayo kita makan. Saya sudah lapar."
Wanita itu langsung melangkah menuju ruang makan. "O iya, ayo makan!" sambung Pak Hardi seolah tidak terjadi apa-apa.
Arini memandang mereka dengan getir. Hebat sekali. Baru saja menghancurkan perasaannya, sekarang mereka bisa bersikap santai seperti sedang merencanakan liburan keluarga.
"Wooow! Makan besar, nih!" seru Vera antusias begitu melihat meja makan.
Arini tidak berniat ikut. Ia ingin langsung naik ke kamar dan mengunci diri sampai pagi. Namun baru beberapa langkah berjalan, suara Bu Sumarni menghentikannya.
"Riiinnn! Sini kamu!" Arini mengepalkan tangannya sebelum akhirnya berbalik.
Ia berjalan menuju ruang makan. Namun sesampainya di sana, langkahnya terhenti.
Galang dan Mayang duduk berdampingan. Sangat dekat. Sangat mesra. Pemandangan yang membuat dadanya seperti ditusuk berkali-kali.
"Kamu ikut makan di sini!" perintah Bu Sumarni.
Arini tetap berdiri. "Layani kami!"
Arini tertawa pendek. Sebuah tawa yang lebih terdengar seperti ejekan. "Makan ya makan aja. Pakai minta dilayani segala."
Wajah Bu Sumarni langsung memerah. "Kamu jangan kurang ajar, Rin! Galang masih suamimu dan aku masih ibu mertuamu!"
"Terus aku harus melayani apa?" balas Arini tajam. "Itu kan tinggal ambil sendiri. Apa susahnya?"
"Ya sudah, Bu. Saya sudah lapar. Nggak usah berdebat lagi!" Pak Hardi akhirnya menghentikan pertengkaran itu.
Bu Sumarni mendengus kesal. Namun beberapa detik kemudian wanita itu kembali membuka suara.
"O ya, Rin." Arini berhenti melangkah. "Mulai besok kamu yang harus melayani kami. Masak, menyiapkan makanan, mencuci, dan mengurus kebutuhan rumah."
Arini menatap ibu mertuanya tanpa ekspresi.
"Karena Mayang tidak terbiasa melakukan pekerjaan kasar." Bu Sumarni melirik Mayang yang tersenyum manis. "Dia wanita kaya." Lalu wanita itu melanjutkan kalimatnya dengan nada merendahkan. "Kalau kamu, kan sudah biasa kerja kasar sejak tinggal di panti asuhan."
Ruangan mendadak sunyi. Tidak ada yang menegur.
Tidak ada yang membela. Bahkan Galang hanya diam. Arini tersenyum tipis. Bukan karena senang.
Tetapi karena akhirnya ia sadar. Di mata mereka, dirinya memang tidak lebih dari pembantu yang kebetulan berstatus istri.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Arini berbalik. Ia tidak ingin mendengar hinaan berikutnya.
Namun sebelum kakinya mencapai tangga, suara Bu Sumarni kembali terdengar.
"O ya, mulai besok yang mengelola keuangan rumah tangga adalah Mayang."
Arini berhenti.
"Biar dia yang mengaturnya dengan adil."
Kali ini Arini tersenyum. Senyuman yang membuat Galang tiba-tiba merasa tidak nyaman.
"Oh, baik, Bu." Jawabannya terlalu tenang.
Terlalu mudah. "Dengan senang hati."
Galang langsung mengernyit.
"Aku akan siapkan dulu laporannya." Arini menoleh ke arah mereka.
"Besok pagi semua data keuangan akan aku serahkan. Lengkap dengan daftar tagihan, cicilan, dan seluruh kewajiban yang harus Mas Galang bayar setiap bulan."
Wajah Galang langsung berubah. Untuk pertama kalinya sejak tadi, pria itu terlihat panik.
Arini menangkap perubahan itu. Dan ia sangat menikmatinya. Sementara yang lain masih belum memahami maksud ucapannya. Mereka mengira Arini sedang menyerahkan kekuasaan. Padahal yang akan mereka terima besok pagi bukanlah kekuasaan.
Melainkan kenyataan. Kenyataan yang selama ini sengaja disembunyikan Galang dari keluarganya.
Arini menyeringai tipis sebelum melanjutkan langkah menuju lantai atas. Besok pagi akan menjadi hari yang sangat menarik.
Pagi itu Arini sudah bangun sejak subuh. Seperti biasanya. Kebiasaan yang selama ini tidak pernah dihargai oleh siapa pun di rumah itu. Ia membersihkan dirinya, salat, lalu masuk ke dapur.
Di sana masih terlihat jelas sisa kekacauan makan malam tadi. Piring kotor bertumpuk di wastafel.
Gelas-gelas bekas minuman berserakan di meja.
Sisa makanan masih tergeletak begitu saja.
Biasanya semua itu sudah dibereskan Arini sebelum tidur.
Namun kali ini tidak. Ia hanya melirik sekilas lalu mengabaikannya. Bukankah mulai sekarang Mayang yang akan mengatur rumah tangga? Biarlah mereka belajar. Arini membuka kulkas dan menemukan nasi sisa semalam.
Tak lama kemudian aroma bawang putih dan bawang merah yang ditumis mulai memenuhi dapur.
Beberapa menit kemudian sepiring nasi goreng hangat sudah tersaji. Lengkap dengan telur mata sapi dan kerupuk.
Sederhana. Tetapi cukup membuat perutnya kenyang. Setelah selesai memasak, Arini membawa sarapannya ke ruang keluarga.
Ia makan dengan santai sambil menikmati acara televisi pagi. Sudah lama ia tidak menikmati pagi setenang ini.
Jam dinding menunjukkan pukul tujuh tepat.
Namun seluruh penghuni rumah masih tertidur lelap. Tidak ada suara langkah kaki. Tidak ada suara orang mandi. Tidak ada suara kesibukan seperti biasanya.
Arini tersenyum tipis. Hari ini ia tidak akan membangunkan siapa pun. Biarkan saja mereka bangun sendiri.
Bukankah Mayang wanita kaya yang tidak terbiasa melakukan pekerjaan kasar? Mungkin wanita itu juga tidak terbiasa bangun pagi.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu kamar terbuka. Vera muncul sambil mengucek matanya.
Hidungnya langsung mengendus-endus udara.
"Emmm... ini kayaknya nasi goreng buatan Mbak Arini, deh. Baunya enak banget."
Tak lama kemudian Bu Sumarni juga keluar dari kamarnya.
Wanita itu menguap lebar. "Iya, harum banget. Jadi lapar."
Keduanya langsung berjalan menuju ruang makan.
Namun beberapa detik kemudian terdengar suara teriakan. "Mbak Ariiiin! Mana sarapannya?"
Arini tetap tenang menyendok nasi gorengnya.
Lalu suara Bu Sumarni menyusul dengan nada tinggi. "Arin! Sini kamu! Mana sarapannya?"
Arini mengunyah makanannya dengan santai sebelum menjawab. "Mau sarapan, Bu?"
"Iya lah! Masa nanya lagi!" bentak Bu Sumarni.
Arini mengangguk pelan. "Ya bikin sendiri!"
Semua orang langsung terdiam. "Apa?" Vera melotot.
Arini menatap mereka tanpa rasa takut. "Aku bukan pembantu."
Wajah Bu Sumarni langsung merah padam. "Kamu berani sekali ngomong begitu sama orang tua!"
Arini berdiri dari kursinya. "Yang bilang aku harus melayani kalian siapa?"
Bu Sumarni terdiam sesaat.
"Ibu sendiri, kan? Nah, sekarang aku menolak."
"Kurang ajar kamu!"
"Bukan kurang ajar, Bu. Aku cuma sedang mengikuti aturan baru."
"Aturan apa?"
Arini tersenyum tipis. "Kata Ibu, sekarang Mayang yang mengatur rumah tangga."
Tatapan semua orang langsung beralih ke Mayang yang baru saja keluar dari kamar bersama Galang.
Rambutnya masih berantakan. Wajahnya terlihat bingung.
"Jadi silakan minta sarapan kepada pengelola rumah tangga yang baru."
Mayang langsung pucat. "Eh... aku nggak bisa masak."
"Ya belajar!"
Jawaban Arini membuat wajah Mayang semakin kaku.
Bukankah semalam mereka begitu bersemangat mengambil alih semua urusan rumah? Sekarang saat baru dimulai, semuanya malah saling pandang.
Arini kembali duduk. Ia melanjutkan sarapannya dengan tenang. Sementara di ruang makan, tidak ada satu pun makanan yang tersedia.
Dan untuk pertama kalinya sejak datang ke rumah itu, keluarga Galang merasakan bagaimana rasanya tidak dilayani oleh Arini.
___________________________________
Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!
Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).
Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)
Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)
Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
Arini membereskan sarapannya dengan santai. Setelah itu ia membawa piringnya ke dapur dan mencucinya sendiri. Tidak ada lagi kebiasaan melayani semua orang seperti yang selama ini ia lakukan. Hari itu, entah kenapa, hatinya terasa jauh lebih ringan.
Selesai mencuci piring, Arini kembali ke ruang keluarga sambil membawa sebuah buku catatan tebal berisi seluruh pemasukan dan pengeluaran rumah tangga selama dua tahun terakhir.
Ia meletakkan buku itu di atas meja. "O ya, semuanya kumpul di sini dulu deh. Biar sama-sama tahu. Aku mau serah terima keuangan."
Bu Sumarni yang sejak tadi duduk di samping Mayang langsung tersenyum lebar. "Nah, itu baru bagus. Dengan senang hati. Ayo, Mayang sini! Kamu yang nanti jadi ratunya rumah ini. Kamu yang akan mengatur uang gajinya Galang."
Mayang terlihat berbinar. Namun sebelum ia sempat menjawab, Galang lebih dulu menyela.
"Gak usah, Bu. Kalau soal itu biar Arin aja yang pegang."
Arini menoleh ke arah suaminya. Senyum sinis terukir di bibirnya. "Kok aku, Mas? Takut ketahuan ya?"
Galang langsung salah tingkah. "Maksudku bukan begitu..."
"Tapi memang begitu, kan?" Ruangan mulai terasa tidak nyaman.
Arini membuka buku catatannya. "Bu, Pak, Vera, dan Mbak Mayang. Sebelum Mbak Mayang resmi mengambil alih semuanya, ada baiknya kalian tahu kondisi keuangan yang sebenarnya."
Bu Sumarni melipat tangan di dada. "Memangnya kenapa? Gaji anakku gede kok." Katanya jumawa.
Arini tersenyum tipis. "Perlu kalian ketahui, gaji Mas Galang sebagai PNS beserta tunjangannya itu cuma enam juta tujuh ratus ribu rupiah per bulan."
Mayang yang tadinya tampak percaya diri mulai mengernyit.
Arini melanjutkan. "Tiga juta dikirim ke Ibu di kampung."
Bu Sumarni langsung mengangguk bangga. "Itu memang kewajiban anak."
"Dua juta untuk biaya kuliah Vera." Vera yang sedang bermain ponsel langsung melirik ke arah Arini.
"Delapan ratus ribu untuk listrik. Tiga ratus ribu untuk internet. Tujuh ratus ribu untuk cicilan motor Vera." Vera kembali melirik Arini, tak acuh.
"Dan dua juta untuk pegangan Mas Galang sendiri."
Arini menutup bukunya perlahan. "Nah, sekarang coba dijumlah."
Tak ada yang menjawab. "Totalnya delapan juta delapan ratus ribu rupiah."
Ruangan mendadak hening. "Padahal gajinya Mas Galang cuma enam juta tujuh ratus ribu."
Arini menatap satu per satu wajah mereka.
"Artinya setiap bulan sudah defisit dua juta seratus ribu rupiah."
Bu Sumarni yang tadi begitu percaya diri mulai kehilangan kata-kata.
"Itu gak mungkin, itu hanya akal-akalan kamu aja. Kamu takut ya uangnya Galang diambil Mayang?"
"Kenapa mesti takut Bu? Aku malah bersyukur, ada yang mau gantiin aku pegang uang itu. Soalnya tiap bulan harus nombok."
"Ah bohong banget kamu, Mana ada orang yang mau begitu."
Arini tersenyum pahit. "Nah itulah bodohnya aku, kok mau-maunya jadi tulang punggung keluarga ibu ya? Gak ada uang untuk makan. Gak ada uang untuk bayar kebutuhan rumah. Uang untuk beli beras dari mana? Bayar gas, sabun, kebutuhan sehari-hari dari mana? Emh menyala dompetku."
Tak ada yang mampu menjawab. "Semua dari uangku."
Kalimat itu meluncur begitu tenang, tetapi menghantam keras. "Maksudmu?" tanya Pak Hardi.
Arini menatap mertuanya. "Mas Galang bukan cuma tidak pernah memberi uang belanja. Bahkan untuk kebutuhan dirinya sendiri saja sering tidak cukup."
Wajah Galang memerah. "Arin, cukup!"
"Tidak, Mas. Bukankah sekarang waktunya semua orang tahu?"
"Menantu lancang, anakku itu PNS yang gajinya gede."
"Terserah ibu kalau gak percaya." Arini mengeluarkan map berisi tumpukan struk dan tagihan.
"Karena sekarang, alhamdulillah, sudah ada yang bersedia menggantikan tugasku." Ia meletakkan satu per satu di atas meja. "Ini tagihan listrik. Ini tagihan internet. Ini cicilan motor Vera."
Lalu ia mendorong semuanya ke arah Mayang.
"Mulai bulan depan silakan dibayar!"
Mayang menelan ludah.
Wajahnya yang tadi berseri-seri perlahan pucat.
Ia baru menyadari bahwa yang selama ini ingin ia rebut bukanlah kehidupan mewah seperti yang dibayangkannya.
Arini berdiri dari duduknya. "Jadi mulai hari ini, aku pensiun dari bayar ini itu."
Bu Sumarni terbelalak. "Maksudmu apa?"
Arini tersenyum tipis. "Artinya aku berhenti menjadi ATM keluarga ini."
Kalimat itu membuat seluruh ruangan membeku.
Untuk pertama kalinya selama dua tahun pernikahan, Arini tidak lagi berbicara sebagai menantu yang selalu mengalah. Ia berbicara sebagai seseorang yang akhirnya lelah dimanfaatkan.
"Lho... kok jadi gini?" Mayang menatap tumpukan tagihan di depannya dengan wajah pucat. Ia terlihat benar-benar syok.
"Katanya Mas Galang uangnya banyak. Rumahnya bagus. Mobilnya mewah..."
Arini tersenyum tipis. Senyum yang lebih mirip sindiran. "Oh iya, hampir lupa bilang."
Semua orang menoleh ke arahnya. "Rumah ini bukan rumah Mas Galang."
Mayang mengernyit. "Terus?"
"Mobil yang ada di garasi juga bukan milik Mas Galang." Mayang semakin bingung.
"Lalu milik siapa?"
"Itu semua milikku."
Beberapa detik suasana mendadak hening. Lalu...
"Hahahaha!"
Bu Sumarni tertawa terbahak-bahak. Bahkan sampai menepuk-nepuk paha sendiri. "Kalau berbohong jangan keterlaluan, Rin!"
Pak Hardi ikut menyeringai. Sementara Vera memutar bola matanya malas.
"Dari mana anak yatim piatu seperti kamu punya uang untuk beli rumah sebesar ini?" sindir Bu Sumarni.
"Tahu diri sedikitlah. Sakit hati karena Galang nikah lagi, bukan berarti kamu harus depresi, sampai berhalusinasi." Bu Sumarni tertawa sampai mengeluarkan air mata.
Arini sama sekali tidak terlihat tersinggung. Justru ia terlihat santai. Seolah ucapan itu sudah terlalu sering ia dengar selama ini.
"Ya terserah ibu, mau percaya syukur, gak juga aku gak rugi. Atau tanyakan saja sama putra kebanggaan Ibu itu!"
Semua mata langsung beralih kepada Galang. Galang yang sejak tadi duduk diam langsung menegang.
"Mas?" tanya Mayang penasaran.
Galang mengusap tengkuknya. "Sudahlah, nggak usah bahas itu."
Jawaban itu justru membuat Mayang semakin curiga. Bu Sumarni langsung mendengus.
"Gak usah ditanya! Ibu juga nggak akan percaya sama semua omong kosongnya Arini."
"Ya terserah Ibu." Arini menjawab datar.
Tidak ada lagi usaha untuk membela diri. Tidak ada lagi kebutuhan untuk mencari pengakuan. Percuma.
Selama ini apa pun yang ia lakukan tidak pernah dianggap. Jadi untuk apa menjelaskan? Yang penting ia tahu kenyataannya. Dan Galang juga tahu.
Arini lalu merapikan buku catatannya dan memasukkannya kembali ke dalam tas. "Pokoknya mulai bulan depan semua tagihan itu bukan urusanku lagi."
Ia menunjuk tumpukan kertas di hadapan Mayang.
"Listrik, internet, cicilan motor, dan kebutuhan lain yang biasanya aku tanggung. Silakan diatur sendiri dengan uang yang ada."
Wajah Mayang langsung berubah.
"Tapi aku kan belum bekerja..."
"Itu bukan masalahku."
Jawaban Arini membuat Mayang terdiam.
Kini perempuan itu menyadari bahwa menjadi pasangan Galang tidak semudah yang dibayangkannya.
Sementara Bu Sumarni masih terlihat kesal.
"Sudahlah Mayang, itu hanya omong kosong dia. Gak usah percaya!"
Arini tersenyum hambar.
"Tapi Bu..." Mayang mencoba menjawab.
"Kamu mau percaya sama ibu atau sama orang stress karena dia disingkirkan oleh Galang?" Bu Sumarni menatap Mayang.
"Ya ibu lah."
"Ya udah kalau gitu."
"Sudah ya, aku sudah menjelaskan semuanya."
Arini bangkit dari duduknya.
"Mas, mana kunci mobil? Aku mau pakai."
"Apa? Gak bisa Aku mau ngajak jalan-jalan Mayang keliling Bandung."
"Ngajak jalan-jalan kan bisa pakai motor Vera, gak usah pakai mobilku." Arini berkata sambil menyambar kunci mobil yang tergantung dekat pintu ruang keluarga."
Dia melangkah keluar, tak peduli dengan Bu Sunarni yang terlihat marah.
_________________________________
Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!
Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).
Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)
Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)
Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!