Indonesia
NovelToon NovelToon

Sugar Daddy Dunia Kuno

Bab 1

"Lin Chen! LIN CHEN!!"

Teriak saudara ketiga begitu keras, hingga akhirnya pria yang dipanggil Lin Chen itu tersadar. Dia menatap laki-laki yang baru saja berteriak ke arahnya, lalu melihat ke sekeliling.

Di ruangan itu, selain dirinya dan laki-laki yang baru saja berteriak, ada lagi seorang laki-laki dan wanita berpenampilan bersih dan terlihat tenang. Satu wanita lagi berada di belakang laki-laki yang berteriak kepadanya.

Lin Chen terdiam.

'Tunggu! Meskipun namaku memang Lin Chen, tapi aku ada di mana?'

Sebelum Lin Chen akan bertanya pada pria di hadapannya, sebuah ingatan merasuki pikirannya. Seperti aliran air yang tenang, ingatan-ingatan itu masuk tanpa hambatan, mengalir lembut hingga akhirnya Lin Chen memahami semuanya.

Dia tentu tahu dirinya adalah seorang ilmuwan genius yang mati pada umur 29 tahun karena faktor kesehatan. Meskipun dia seorang ilmuwan, tubuhnya yang selalu duduk membungkuk ditemani buku dan tidak pernah olahraga serta hampir tidak pernah mendapatkan cahaya matahari membuat tubuhnya lemah. Akhirnya dia meninggal setelah menyelesaikan proyek terakhir nya.

Dan sekarang, dirinya berpindah jiwa ke tubuh seorang pria petani di Desa Dahe. Sebuah kerajaan bernama Kerajaan Ling, sesuatu yang tidak ada dalam sejarah kehidupan modern masa lalunya—yang berarti dunia ini adalah dunia yang berbeda, bukan dunia zaman dulu pada kehidupannya.

Sebagai pemberitahuan, Desa Dahe adalah desa yang berada di Prefektur Chang. Sebuah desa yang tidak terlalu kaya namun juga tidak terlalu miskin.

Dirinya sendiri berada di tubuh seorang pria berumur 25 tahun. Memiliki orang tua, satu kakak laki-laki dan satu adik laki-laki—yang artinya dia anak tengah. Ayah pemilik tubuh asli ini sudah meninggal beberapa tahun lalu, di susul ibu pemilik tubuh asli setelah beberapa saat hingga akhirnya dia menjadi yatim piatu.

Kakaknya adalah anak kesayangan keluarga. Karena sedikit kepintaran, dia dapat bersekolah dengan menggunakan semua sumber daya keluarga, namun dia gagal Ujian Xiucai selama bertahun-tahun. Dia bernama Lin Wenxiu, memiliki seorang istri bernama Su Yulan dan satu anak laki-laki bernama Lin Haoran. Meskipun kehidupan mereka sebagai petani, namun keluarga ini menggunakan pakaian bagus setiap hari dan selalu bertingkah layaknya seorang bangsawan. Mereka percaya Lin Wenxiu akan lulus menjadi seorang Xiucai suatu hari dan dapat menaikkan derajat keluarga.

Satu lagi saudaranya bernama Lin Daye, dia hidup sebagai petani sama seperti tubuh asli. Dia sebenarnya orang yang pemalas, namun karena memiliki sifat menjilat membuat ibunya menyayanginya dan dekat dengan kakak pertama. Istrinya bernama Zhao Xiuying—sedang mengandung lima bulan.

Sementara dirinya, hah... Cukup menyedihkan.

Menurut ingatannya, sebagai anak tengah—dia sering kali tersisihkan di keluarganya. Ibarat kata, dia adalah orang yang paling keras bekerja namun yang paling sedikit mendapatkan sumber daya.

Dia baru menikah satu tahun lalu dengan seorang perempuan bernama He Lianhua, namun siapa sangka dia baru saja bercerai satu bulan lalu karena mendapati istrinya berselingkuh dengan tuan tanah.

Kehidupan yang tidak satu pun berjalan dengan baik.

Namun tidak ada keraguan dan kegelisahan di pikiran Lin Chen sekarang. Dirinya yang seorang profesor muda tentunya memiliki kemampuan mental yang kuat. Ditambah, dia baru sadar dia menempati tubuh seorang laki-laki gagah berotot.

Tidak ada yang tahu seperti apa dia menginginkan tubuh sehat seperti ini. Tinggi sekitar 5–6 chi (sekitar 180 cm), berat 155 jin (sekitar 70 kg), dengan kulit kecokelatan eksotis.

Meskipun dia tidak tahu apakah wajah ini memiliki ketampanan atau tidak, tapi memiliki tubuh sehat dan bugar seperti ini dia tidak memiliki penyesalan meskipun hidup susah dan wajah agak jelek.

Kembali ke realita, Lin Chen kemudian ingat jika pertemuan keluarga ini dimaksudkan untuk memisahkan rumah dan membagi harta waris. Namun pemilik tubuh ini mendapatkan bagian paling sedikit...

Keluarga ini memiliki 10 mu tanah, 15 tael uang perak, dan dua kambing betina. Dari pengaturan kakak tertua, dia hanya mendapatkan 4 mu tanah dan sebagian besar masuk ke kantong kakak pertama dan sedikit ke keluarga ketiga.

Lin Chen tertawa dingin, membuat kakak pertama—Lin Wenxiu mengerutkan keningnya.

"Apakah adik ketiga tidak puas dengan pengaturanku?"

Lin Daye adalah orangnya kakak pertama dan selalu tampil menjilat. Begitu mendengar saudara keduanya tidak puas, dia membentak dengan marah,

"Kamu orang kasar berani tidak puas? Kakak pertama adalah seorang sarjana, dia sangat adil!"

Lin Chen sangat ingin tertawa mendengar kebodohan adiknya. Dia memiliki tubuh yang dua atau tiga kali lebih besar darinya, namun adiknya memiliki sikap yang begitu arogan kepadanya. Dia menyeringai. Lupakan orang bodoh ini, berbicara kepadanya hanya akan membuang lebih banyak waktu.

Lin Chen menatap Lin Wenxiu , pandangannya terlihat berani tidak seperti sebelumnya. Lin Wenxiu mengerutkan kening, merasa terusik dengan tatapan itu.

"Sepertinya aku tahu mengapa Kakak pertama tidak bisa lulus ujian dasar Xiucai selama bertahun-tahun ini." ucapnya dengan tersenyum mengejek.

"Kamu! Apa maksudmu? Sungguh tidak sopan berbicara kepada kakakmu seperti itu!"

Istri kakak pertama—Su Yulan langsung murka begitu suaminya dihina oleh orang yang dia anggap kasar.

Pandangan kedua saudara itu bertemu, menciptakan suasana yang tegang. Lin Wenxiu tersentak melihat tatapan adiknya yang begitu tenang, berbeda dari sebelumnya.

Dia menggertakkan giginya menahan amarah, namun tetap berbicara tenang.

"Apa yang kamu inginkan?"

Hanya dari tatapan barusan, Lin Chen langsung mengetahui kemampuan kakak pertamanya ini. Hanya karena tatapan barusan dia sudah terlihat goyah—jelas dia tidak memiliki kemampuan sebesar itu. Jika tidak, mengapa dia tidak juga lulus ujian dasar Xiucai?

"Baiklah, aku jujur saja. Lima belas tahun ini, akulah yang bekerja paling keras dan menghasilkan uang paling banyak untuk keluarga. Tidak hanya itu, aku selalu mendapat bagian paling sedikit. Jika kamu masih punya malu, berikan aku 5 mu tanah, satu kambing betina, dan uang 10 tael perak."

"Apa? Tidak!!" Lin Daye langsung merespons dengan keras. Saudara keduanya ini biasanya pendiam dan hanya menerima, tapi sekali bertindak dia mengambil begitu banyak keuntungan.

Jika dia mengambil sebanyak itu, lalu mana bagiannya? Dia mengambil setengah dari harta!

Lin Wenxiu mengerutkan keningnya kembali, jelas menolak. Namun orang kasar ini kini begitu pandai berbicara berbicara sekarang.

"Apa? Keberatan? Jangan lupa, hampir semua harta dipakai untuk biaya pendidikan kakak pertama. Saudara ketiga tidak pernah bekerja dan hanya tahu makan dan bermalas-malasan—siapa yang paling banyak bekerja dan menghasilkan uang?"

"Jika kamu tidak setuju, tidak takut orang memandang dirimu sebagai orang yang tidak tahu malu ya? Sudah menghabiskan banyak harta keluarga tapi ingin harta warisan paling banyak!"

Lin Wenxiu jelas memandang reputasi nya, dia memiliki keyakinan untuk menjadi seorang pelajar sarjana dan jika dia menjadi orang berpendidikan. Namanya harus bersih.

Bab 2

Lin Chen menatap lurus ke arah kakak pertamanya tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan.

Ruangan itu seketika menjadi sunyi.

Lin Wenxiu menggenggam erat lengan bajunya. Wajahnya tetap tenang, tetapi tatapannya mulai goyah.

Sebelum dia sempat menjawab, Su Yulan lebih dulu angkat bicara.

"Suamiku telah belajar selama bertahun-tahun demi mengangkat derajat keluarga. Apa salahnya menggunakan harta keluarga untuk pendidikan?"

Lin Chen mengangguk pelan, dengan tenang ia berkata. "Tidak ada yang salah."

Jawabannya yang tenang membuat semua orang terdiam sejenak.

"Tetapi, jika menggunakan harta keluarga adalah hal yang wajar, maka orang yang bekerja keras mencari harta itu juga berhak mendapatkan bagian yang adil."

Lin Daye mendengus. "Sejak kapan petani sepertimu berani bicara soal adil?"

Lin Chen melirik adiknya sekilas, lalu kembali memandang Lin Wenxiu.

"Aku tidak sedang berbicara denganmu."

Ucapan singkat itu membuat wajah Lin Daye memerah karena malu.

Lin Chen melanjutkan. "Selama lima belas tahun terakhir, siapa yang paling sering turun ke sawah?"

"Siapa yang menggarap ladang saat musim tanam dan panen?"

"Siapa yang membawa hasil panen ke pasar?"

"Tidak perlu aku jawab. Kakak pertama pasti lebih tahu dariku."

Setiap pertanyaan itu membuat ekspresi Lin Wenxiu semakin kaku. Karena semua yang dikatakan Lin Chen adalah kenyataan.

Lin Chen menarik napas pelan sebelum melanjutkan.

"Ayah dan Ibu telah tiada. Hari ini kita membagi harta keluarga, bukan membagi kasih sayang."

"Aku tidak meminta lebih dari apa yang seharusnya menjadi hakku."

"Aku menginginkan lima mu tanah, satu kambing betina, dan sepuluh tael perak."

Wajah Lin Daye langsung berubah. "Itu terlalu banyak!"

Namun kali ini, Lin Wenxiu mengangkat tangannya, menghentikan adiknya. Tatapannya tertuju pada Lin Chen.

"Kamu berubah."

Lin Chen tersenyum tipis. "Orang akan berubah setelah memahami banyak hal."

Lin Wenxiu terdiam cukup lama. Dia tahu adiknya benar, tetapi jumlah yang diminta terlalu besar. Jika dia mengalah, biaya untuk mengikuti ujian tahun depan akan berkurang drastis.

Suasana kembali hening. Tepat pada saat itu, suara langkah kaki terdengar dari luar halaman.

Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya berwajah tegas memasuki rumah. "Kudengar kalian sedang membahas pemisahan rumah tangga?"

Semua orang segera berdiri, orang yang datang adalah Li Zhen. Li Zhen merupakan sebutan untuk kepala desa, nama aslinya adalah Lin Haosan, karena kemampuan dan kontribusinya untuk desa dia di angkat menjadi Li Zhen. (Atau bisa di bilang Li Zhen ini merupakan jabatan yang paling kecil tingkatan nya)

Lin Haosan orang yang bijak, putra pertamanya bersekolah dan telah lolos ujian Xiucai, saat ini mengajar anak-anak di desa Dahe. Anak keduanya juga bekerja di tentara, menjadikan status Li Zhen nya sangat kokoh.

Bahkan calon sarjana seperti Lin Wenxiu yang selalu angkuh di dalam rumah pun harus menundukkan kepala untuk menghormati nya.

Lin Wenxiu buru-buru memberi salam. "Kepala desa."

Li Zhen mengangguk pelan sebelum memandang satu per satu anggota keluarga Lin. "Seharusnya ini telah selesai sejak tadi bukan, apakah ada kesalahan?"

Li Zhen tahu karena suara Lin Daye yang cukup besar sampai terdengar keluar rumah, namun dia tetap tidak menanyakan alasannya.

Tatapannya berhenti pada Lin Chen. "Katakan, apa yang terjadi?"

Lin Chen tidak menambahkan atau mengurangi apa pun. Dengan tenang, dia menjelaskan pembagian harta yang telah ditentukan dan alasan mengapa dirinya merasa pembagian itu tidak adil.

Setelah mendengarnya, Li Zhen terdiam sejenak.

Sebagai orang yang telah tinggal di Desa Dahe selama puluhan tahun, dia mengetahui keadaan keluarga Lin dengan cukup baik.

Dia tahu siapa yang paling sering terlihat bekerja di ladang. Dia juga tahu ke mana sebagian besar hasil panen keluarga Lin digunakan selama bertahun-tahun.

Akhirnya, Li Zhen menatap Lin Wenxiu.

"Wenxiu, kau adalah orang yang berpendidikan. Semakin tinggi ilmumu kelak, semakin baik pula perilakumu seharusnya."

"Pembagian harta bukan hanya soal aturan, tetapi juga soal kepantasan."

Wajah Lin Wenxiu sedikit memucat.

Perkataannya tadi mungkin masih bisa dia abaikan, tetapi nasihat Li Zhen tidak bisa dia sanggah. Setelah berpikir cukup lama, dia menarik napas dalam-dalam.

"Kalau begitu, menurut Kepala Desa, bagaimana sebaiknya pembagian ini dilakukan?"

Li Zhen menatap mereka semua sebelum berkata perlahan. "Sepuluh mu tanah dibagi menjadi empat mu untukmu, empat mu untuk Lin Chen, dan dua mu untuk Lin Daye."

"Lima belas tael perak dibagi rata. Masing-masing mendapat lima tael."

"Dua kambing betina, satu untuk Lin Chen dan satu untuk Lin Daye."

"Adapun biaya pendidikanmu selama ini, anggap saja itu adalah dukungan keluarga yang telah diberikan dengan sukarela."

"Mulai hari ini, kalian bertiga hidup terpisah dan bertanggung jawab atas keluarga masing-masing."

Lin Daye tampak ingin membantah, tetapi saat melihat tatapan kepala desa, dia memilih diam-- takut bicara menyinggung.

Lin Chen merenung sejenak.

Pembagian ini memang tidak sepenuhnya sesuai keinginannya, tetapi pembagian yang diberikan kepala desa sudah sangat adil dan menguntungkan untuk nya.

Dia harus tahu batasan dan kemampuan diri, menyinggung orang kuat di awal permainan bukan lah hal yang baik. Dia pun mengangguk.

"Aku setuju."

Lin Wenxiu mengepalkan tangan di balik lengan bajunya, lalu mengangguk pelan. "Aku juga setuju."

Li Zhen mengangguk puas."Bagus. Karena semua sudah sepakat, besok pagi datanglah ke balai desa untuk mencatat pemisahan rumah tangga secara resmi."

Setelah mengatakan itu, Li Zhen berbalik dan berjalan keluar.

Ruangan kembali sunyi, meskipun ketegangan yang telah tercipta sejak tadi kini bertambah dengan kemarahan.

Namun Lin Chen tidak memiliki kemarahan di hatinya, dia hanya melirik ke empat orang di ruangan ini yang berwajah muram.

Lin Chen mengambil lima tael perak bagian nya di atas meja, Lin Daye ingin menghalangi nya namun dengan cepat dia terhempas. "Kamu lihat? Inilah yang dinamakan adil, kamu ingin mendapatkan bagian lebih banyak? Siapa suruh menjadi anjing pemalas"

Lin Chen berjalan keluar, namun dia terhenti untuk melirik ke arah Lin Wenxiu. "Aku akan kembali lagi besok untuk pemecahan surat tanah"

Setelah itu Lin Chen berjalan dan tidak kembali lagi, mengabaikan kemarahan orang-orang di dalam sana.

"Suamiku, apa kamu menerimanya begitu saja?! Lin Chen pria kasar itu hampir mengambil semuanya!"

Sosok Lin Yulan yang selalu tenang dan sikap di buat-buat anggun kini kembali ke stelan pasar nya. Dia berteriak marah dan tidak terima, selama ini keuntungan selalu ada di pihak mereka. Kini karena pria kasar itu mereka rugi banyak.

"Marah untuk apa? Apakah kamu berani melawan Li Zhen!" Suara Lin Wenxiu terdengar menekan, namun sebenarnya dia sedang berusaha menahan sabar.

Lin Xiuying mencubit lengan suaminya pelan, mengisyaratkan kan nya untuk pergi.

Lin Daye yang tidak begitu bodoh jika membicarakan masalah keuntungan pun tahu, meskipun dia mendapatkan jatah tanah paling sedikit namun dia masih mendapatkan kambing betina.

Dia takut Kakak nya bertindak sewenang-wenang dan menipu nya untuk mengambil bagiannya, jadi dia segera pergi dengan istrinya saat Kakak iparnya masih marah-marah.

Bab 3

Meskipun pembagian warisan baru dilakukan sekarang, ketiga putra keluarga Lin sebenarnya telah memiliki rumah masing-masing yang terpisah dari rumah utama orang tua mereka.

Semua itu bermula karena Zhao Xiuying. Pada bulan pertama kehamilannya, ia membuat keributan besar di rumah mertuanya. Penyebabnya adalah ketidakpuasannya terhadap sikap kedua mertuanya yang dinilai terlalu memanjakan keluarga anak sulung.

Ibu mertuanya selalu memberikan pekerjaan ringan kepada Su Yulan--- istri anak sulung, sementara pekerjaan yang paling banyak dan berat justru dibebankan kepadanya. Setelah mengetahui dirinya hamil, Zhao Xiuying tidak lagi mampu menahan amarahnya. Keributan yang ia buat bahkan sampai menarik perhatian kepala desa.

Setelah melalui musyawarah, akhirnya diputuskan bahwa setiap keluarga anak laki-laki akan tinggal terpisah, meskipun jaraknya masih berdekatan dengan rumah utama.

Bangunan rumah keluarga Lin sendiri tidak terlalu luas. Setelah dua rumah tambahan didirikan, halaman depan dan pekarangan belakang yang sebelumnya lapang pun terasa semakin sempit.

Sayangnya, pemilik tubuh ini adalah sosok yang pasif dan tidak pandai memperjuangkan haknya. Akibatnya, ia tidak mendapatkan sebidang tanah yang layak untuk membangun rumah. Pada akhirnya, rumahnya didirikan di lahan pertanian yang terpencil, tepat di bawah kaki gunung.

Meski lokasinya berdekatan dengan hutan dan mengharuskannya untuk selalu waspada, bagi Lin Chen saat ini tempat itu justru merupakan pilihan yang sempurna.

Rumah sederhana di kaki gunung tersebut dapat menjadi tempat baginya untuk menenangkan pikiran. Sebagai seseorang yang sepanjang hidupnya selalu percaya pada sains, ia kini dipaksa menerima sesuatu yang berada di luar nalar dan pengetahuan ilmiahnya--- reinkarnasi.

Lin Chen berjalan menuju rumahnya yang berada di kaki gunung, mengandalkan ingatan yang ditinggalkan oleh pemilik tubuh asli.

Sesampainya di sana, ia mengembuskan napas lega. Setidaknya, rumah itu tidak serapuh dan sebobrok rumah-rumah MC yang sering digambarkan dalam cerita fantasi.

Memang, rumah tersebut tidak beratapkan genteng dan lantainya masih berupa tanah yang dipadatkan, tetapi bangunannya masih tergolong baru dan terbuat dari kayu yang kokoh. Ukurannya pun cukup luas.

Dari ingatan yang ia warisi, Lin Chen mengetahui bahwa pemilik tubuh asli sengaja membangun rumah yang lebih besar dibandingkan rumah saudara-saudaranya karena sang istri. Sayangnya, mereka berpisah sebelum rumah itu benar-benar selesai dibangun.

Begitu membuka pagar kayu sederhana, pandangannya langsung tertuju pada halaman yang bersih dan terawat. Di bawah pohon mangga yang rindang, terdapat sebuah bangku panjang dari kayu yang bentuknya menyerupai sofa sederhana tanpa sandaran.

Selain itu, tidak ada hal lain yang terlalu mencolok.

Saat membuka pintu rumah, ia melihat ruang utama yang berfungsi sebagai ruang tamu sekaligus ruang makan. Sebuah meja kayu dan beberapa kursi kayu tersusun rapi di tengah ruangan.

Rumah itu memiliki tiga kamar tidur. Satu kamar utama berukuran lebih besar, sementara dua kamar lainnya sedikit lebih kecil, tetapi masih cukup luas untuk ditempati dua orang.

Tampaknya, pemilik tubuh asli pernah membayangkan kehidupan keluarga yang hangat bersama mantan istrinya. Ia bahkan telah menyiapkan dua kamar tambahan lengkap dengan ranjang dan lemari kayu sederhana, seolah yakin bahwa suatu hari rumah itu akan dipenuhi suara anak-anak.

Lin Chen melangkah ke bagian belakang rumah dan menemukan dapur serta kamar mandi.

Dapur tungku tradisional dengan periuk tembikar yang berada di atas tungku. Tumpukan kayu bakar memenuhi sudut ruangan, cukup untuk digunakan dalam waktu yang lama.

Di samping dapur terdapat sebuah ruangan kecil yang berisi ember kayu untuk mandi. Namun, sumurnya justru berada di luar rumah.

Lin Chen sedikit mengernyit. Entah mengapa, tempat mandi dan sumur dibuat terpisah. Mungkin itu adalah kebiasaan masyarakat setempat, atau bisa jadi demi menjaga kebersihan dan kenyamanan penghuni rumah.

Tubuh ini memang orang yang rajin, sebelum berkumpul untuk membahas harta warisan dia masih sempat bekerja di ladang. Dan sekarang tubuhnya terasa lengket dan agak bau asam.

Lin Chen berjalan ke sumur, dalam ingatan nya katrol belum muncul pada zaman ini. Jadi dia hanya bisa mengambil air langsung menggunakan tali rami yang di ikatkan pada ember kayu.

Ember yang berada di ruang mandi jauh lebih besar, jadi dia bolak-balik untuk mengisi air sampai penuh. Tidak ada keluhan karena kehidupan modern nya berubah, malahan dia sangat antusias dan bersemangat.

Tubuh barunya ini benar-benar kuat!!

Biasanya, sekedar berjalan satu lantai pun dia akan langsung kelelahan. Namun sudah bolak-balik menimba dan mengangkat air dia tidak merasakan lelah sama sekali, malah merasa tubuhnya semakin panas berkeringat--- dan hal ini terasa nyaman ia rasakan.

Setelah ember di dalam ruang mandi penuh, Lin Chen langsung melepaskan pakaian nya. Gayung yang terbuat dari batok kelapa itu ia gunakan untuk mengguyur air ke atas kepalanya.

"Hah, rasanya menyegarkan..."

Tidak ada sabun untuk rakyat miskin, jadi dia harus puas mandi dengan air saja. Lin Chen menggosok semua bagian tubuh nya, sampai akhirnya mencuci muka selama tiga balikan karena terlalu berminyak.

Setelah merasa segar, Lin Chen menatap memperhatikan tubuh barunya.

Kulit coklat gandum yang sehat, tubuh kekar dengan delapan otot perut sempurna. Tangan panjang dan besar--- terlihat sangat kokoh. Dia menatap wajahnya dari pantulan air ember, hidung mancung, mata rubah yang tajam, bibir tipis dan memiliki sigma yang sempurna.

Wajah ini bisa di bilang tampan, hanya saja sering tertutupi debu tanah dan berminyak sehingga tidak enak untuk di lihat.

Rambutnya terikat pendek seperti ikatan rambut seorang samurai yang dia lihat di film animasi jepang.

Saat menyentuh rambutnya, Lin Chen menyadari jika dia harus menghabiskan air yang tersisa untuk mencuci rambutnya.

Setengah batang dupa kemudian.

Lin Chen sudah berbaring di atas ranjang kayu, ini mungkin merupakan mandi terbersih tubuh ini. Karena dalam ingatan nya, mandi yang di lakukan tubuh asli hanya sekedar menyiram kan air ke tubuh-- tidak sampai menggosok sedetail dirinya.

"Hah... Entah kehidupan ini akan berjalan baik atau tidak."

Lin Chen mulai mengingat-ingat, tubuh ini adalah seorang petani, namun dari ingatan yang dia terima pemilik tubuh ini juga bisa berburu dan membuat kerajinan.

Itulah sebabnya perabotan rumah ini cukup lengkap, namun kemampuan berburu... Lin Chen mengingat-ingat dan kemudian wajahnya menjadi jelek.

"Ini bukan sekedar pasif lagi, pemilik tubuh ini benar-benar bodoh!"

Pemilik tubuh sering berburu dan mendapatkan hewan buruan, namun beberapa orang tertentu sering memanfaatkan nya.

Mereka menjual kemalangan mereka sehingga bisa mendapatkan daging dari pemilik tubuh ini dengan harga rendah atau bahkan gratis.

Lin Chen menghela napasnya. "Hah..."

[ Ding! .... ]

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!