Indonesia
NovelToon NovelToon

Unexpected Scenario

1 - Unexpectedly

Hari Minggu seharusnya jadi hari paling pas untuk bermalas-malasan.

Menonton drama Korea tanpa gangguan siapa pun.

Tapi siang itu, tidak.

Aku dan keluargaku justru harus pergi makan siang di luar bersama Om dan Tante, yang sejak tadi malam sudah berisik mengajak kami entah untuk apa.

“Ah, kenapa harus makan siang di luar sih?” gumamku di depan cermin sambil merapikan jilbab.

“Nay… ayo. Tante Elisa dan Om Roni udah dateng.” suara Ibu terdengar dari luar kamar.

“Iya, Bu. Bentar.” jawabku.

Setelah memastikan semuanya rapi, aku keluar kamar dan berjalan ke ruang depan. Pintu rumah dikunci, lalu kami semua masuk ke mobil Om Roni. Aku duduk di belakang bersama Ibu dan Ayah.

Tak lama, mobil melaju dengan kecepatan sedang.

“Tante, ngapain sih kita makan di luar? Aku tuh mau istirahat. Mau nonton drakor.” gerutuku.

Drama Korea sudah jadi bagian dari hidupku sejak SMA.

Awalnya cuma ikut-ikutan teman. Tapi lama-lama… malah jadi kebiasaan.

Entah kenapa, setiap kali menonton, rasanya seperti masuk ke dunia lain—dunia yang lebih sederhana, lebih rapi, dan kadang… lebih indah dari kenyataan.

Kalau sedang capek, aku nonton.

Kalau sedang kesal, aku nonton.

Kalau sedang tidak ingin berpikir apa-apa… aku juga nonton.

Sederhana.

Tapi cukup untuk membuatku bertahan.

“Ah, kamu drakor terus. Inget, Nay… kamu udah umur tiga puluh. Kamu harus nikah. Masa halu sama oppa-oppa Korea terus sih?” ucap Tante Elisa sambil merapikan jilbabnya.

“Aku masih pengin sendiri. Lagian nggak ada yang suka sama aku. Gimana mau nikah?” balasku.

“Itu karena kamu terlalu halu. Jadinya nggak ada yang mau deketin kamu.”

“Ibu… Tante Elisa tuh…” rengekku.

“Tante Elisa benar, Nay. Kamu udah waktunya menikah. Iya, kan, Yah?” kata Ibu.

Ayah hanya mengangguk pelan.

“Ah, Ibu… 짜증나! (Menyebalkan!)” gumamku kesal sambil menatap keluar jendela.

“Kamu harus cepat nikah. Nanti organmu kadaluarsa, lho.” celetuk Tante Elisa.

Aku menoleh cepat. “Emangnya aku makanan apa? Kadaluarsa segala.”

“Ya bukan begitu. Tapi perempuan itu ada masanya. Kalau masa itu lewat, kamu nggak bisa punya anak.”

“Ya udah, nggak usah punya anak aja.” jawabku santai.

“Naya!” Ibu menegur keras.

Semua menoleh ke arahku. Bahkan Om Roni yang sedang menyetir terlihat kaget meski matanya tetap fokus ke jalan.

“Kalau kamu nggak punya anak, siapa yang akan ngurus kamu waktu tua? Siapa yang akan doain kamu kalau kamu meninggal nanti?” lanjut Ibu.

Aku terdiam.

“Iya, benar, Nay. Kami juga udah tua. Nggak bisa nemenin kamu selamanya. Nanti siapa yang bakal nemenin kamu kalau kamu nggak nikah?” tambah Tante Elisa.

“Ih, Tante… jangan ngomong gitu dong.” ucapku, tiba-tiba merasa takut.

“Umur orang nggak ada yang tahu, Nay.”

“Berarti bisa aku duluan, kan?”

“Naya!” seru Ibu lagi.

“Aku benar, kan? Katanya umur orang nggak ada yang tahu.”

Ibu menghela napas panjang.

“Mbak, kayaknya memang Naya harus dinikahkan biar nggak berpikiran begitu.” ujar Tante Elisa.

Ibu mengangguk. Ayah ikut mengangguk.

Aku menegang. “Hah? Maksudnya apa nih? Dinikahkan?”

Tak ada yang menjawab.

“Tante… maksudnya apa?” Aku menoleh ke Ibu. “Ibu?”

“Bukan apa-apa. Udah, kamu diem aja. Jangan ribut. Nanti Om Roni nggak fokus nyetir gara-gara kamu.”

Aku menghela napas panjang lalu kembali menatap jalanan.

Ramai, tapi lancar. Kendaraan lalu-lalang tanpa hambatan. Entah kenapa aku tak melihat wajah-wajah sedih di balik kaca-kaca mobil itu. Mungkin karena ini hari libur.

Atau mungkin hanya aku saja yang sedang merasa terjebak.

Beberapa menit kemudian, mobil Om Roni berhenti di sebuah rumah makan bernama Ruang Rindu.

Aku tahu tempat itu. Sering melewatinya, tapi seingatku belum pernah sekali pun makan di sana. Setiap kali melihat papan namanya, aku selalu bertanya-tanya—apa hubungannya makanan dan rindu?

Kami berlima turun dari mobil dan masuk ke dalam.

Rumah makan itu ramai. Hampir semua meja terisi. Mungkin karena memang sudah jam makan siang.

Seorang pelayan menghampiri kami.

“Selamat siang, untuk berapa orang?”

“Oh… kami ke sini atas undangan papa dari owner rumah makan ini.” jawab Om Roni.

Undangan?

Jadi ini bukan sekadar makan siang keluarga?

Tapi kenapa papa dari owner rumah makan ini mengundang kami?

“Baik, tunggu sebentar.” ujar pelayan itu, lalu berjalan masuk lebih dalam.

“Om, kenapa papa owner rumah makan ini ngundang kita? Apa hubungannya sama Om?” tanyaku pelan.

“Kami rekan kerja di kantor. Dia cuma pengin kenal keluarga Om.” jawab Om Roni singkat.

“Udah, kamu nggak usah banyak tanya. Diem aja. Dan nanti jangan tunjukkin kesukaanmu tentang Korea itu. Jangan bikin malu kami.” potong Tante Elisa.

Aku mengepalkan kedua tangan. Kesal.

Tak lama kemudian, seorang pria berjalan ke arah kami. Celana hitam, kemeja biru dengan lengan digulung sampai siku. Rambutnya rapi, langkahnya santai tapi percaya diri.

Seumuran denganku, mungkin.

Wajahnya… lumayan juga.

Tapi tetap saja belum bisa mengalahkan Lee Jun-ha, aktor Korea yang mampu menembus hatiku hanya dengan senyum tipisnya.

“Selamat siang. Saya Javier, owner rumah makan ini. Bapak temannya Papa, ya?” ucap pria itu ramah.

“Iya, saya teman papa kamu.” jawab Om Roni.

“Mari, ikut saya.”

Kami pun mengikutinya.

Kami dibawa ke sebuah meja lesehan di sudut ruangan. Di sana sudah duduk seorang pria paruh baya seumuran Ayah, seorang wanita anggun berambut sebahu yang sepertinya hampir seumuran Ibu, dan seorang wanita muda sekitar dua puluhan dengan rambut hitam panjang.

“Akhirnya kalian datang juga.” ucap pria paruh baya itu sambil tersenyum lebar.

Kami mendekat.

“Javi, nanti kalau kamu udah senggang, ke sini ya.” katanya lagi.

Javier mengangguk, lalu pergi meninggalkan kami.

“Ayo duduk… duduk.” ujar pria itu ramah.

Kami pun duduk berhadapan. Om Roni, Tante Elisa, Ayah, dan Ibu di depan mereka bertiga. Aku duduk di samping wanita muda itu.

Di atas meja sudah tersaji banyak makanan. Aromanya menggoda. Semuanya terlihat enak.

“Pak Jamal, perkenalkan ini istri saya, kakak ipar saya, dan keponakan saya, Naya.” ujar Om Roni sambil menunjuk kami satu per satu.

Kami tersenyum sopan.

Pak Jamal mengangguk.

“Ini istri saya, Sonya, dan anak bungsu saya, Janessa,” ucapnya. “Dan laki-laki tadi itu anak pertama saya, Javier. Pemilik rumah makan ini.”

Dua wanita itu tersenyum dan mengangguk kepada kami.

Lalu Pak Jamal menatapku lebih lama.

“Jadi ini Naya? Cantik ya?”

Cantik?

Aku?

Dari mananya?

“Naya umur berapa?” tanya Pak Jamal lagi.

Baru saja aku membuka mulut, suara Tante Elisa sudah lebih dulu menyela.

“Umur tiga puluh, Pak. Sudah cocok untuk menikah.”

Aku menoleh tajam ke arahnya.

“Ah… berarti beda tiga tahun sama Javier.” ujar Pak Jamal santai.

Hah?

Apa maksudnya?

Kenapa langsung menyambungkan ke Javier?

“Naya, kalau Om boleh tanya… tipe ideal suami kamu seperti apa?”

Tipe ideal suami?

Apa lagi ini, Tuhan?

Ini sebenarnya acara apa sih?

“Naya, ayo jawab.” desak Tante Elisa.

“Tapi jangan sebut-sebut Lee Jun-ha, lho.” timpal Ibu cepat.

“Lee Jun-ha? Aktor Korea itu?” tanya Janessa, matanya langsung berbinar.

Ibu mengangguk.

“Kak Naya suka Korea juga?” tanya Janessa lagi.

Aku mengangguk pelan.

“Wah, daebak! Ayo, Kak, kita berteman mulai hari ini!” serunya semangat sambil mengulurkan tangan.

Refleks aku tersenyum dan menjabat tangannya.

“Jane!” tegur Bu Sonya lembut. “Maaf ya… Janessa memang seperti ini. Suka banget sama Korea. Sampai-sampai skripsinya nggak selesai-selesai.”

“Mama! Jangan buka kartu gitu dong. Aku kan malu.” protes Janessa.

Tante Elisa dan Ibu tertawa kecil.

“Naya juga suka banget sama Korea. Jadinya ya seperti sekarang, nggak nikah-nikah. Standarnya terlalu tinggi.” celetuk Tante Elisa.

Dadaku menghangat. Kesal.

“Tante! Aku nggak nikah-nikah bukan karena standarku tinggi. Tapi karena nggak pernah ada cowok yang deketin aku.” ucapku, sedikit lebih keras dari seharusnya.

“Oh? Berarti Naya belum pernah pacaran?” tanya Pak Jamal.

Aku mengangguk.

“Nggak apa-apa. Mungkin memang begitu rencana Allah untuk kamu. Kamu nggak pernah pacaran, tapi nanti langsung dipertemukan dengan jodohmu.”

Hah?

Kalimat itu terdengar… aneh.

“Naya, kalau standar kamu tidak tinggi, jadi tipe ideal suamimu itu seperti apa?” lanjut Pak Jamal.

Kenapa beliau ingin tahu sekali tentang tipe ideal suamiku?

Aku menarik napas pelan.

“Yang jelas seagama dengan saya. Perhatian, bertanggung jawab… dan yang terpenting tidak melarang saya untuk menyukai Korea.”

Beberapa orang tersenyum tipis.

“Unik juga ya tipe ideal suami kamu,” ujar Pak Jamal santai. “Tapi Om nggak tahu Javi bisa seperti itu atau nggak.”

Hah?

Kenapa lagi-lagi menghubungkannya dengan Javier?

Tipe ideal suami… dan Javier?

Jangan-jangan…

Tiba-tiba suara langkah mendekat.

“Eh, umur panjang,” ucap Pak Jamal saat melihat Javier datang.

“Javi, ayo duduk di sebelah Naya.”

Jantungku seperti berhenti sepersekian detik.

Pak Jamal menunjuk ke tempat kosong di tengah—tepat di sampingku.

Javier mengangguk, lalu duduk di sebelahku.

Jarak kami terlalu dekat untuk ukuran orang yang baru saling tahu nama.

“Ayo kalian kenalan dulu.” ujar Pak Jamal.

Javier mengulurkan tangannya. “Javier. Panggil saja Javi.”

Aku diam beberapa detik, mencoba menenangkan detak jantungku yang entah kenapa mulai tak teratur. Lalu aku menjabat tangannya.

“Naya.”

Tangannya hangat. Genggamannya tidak terlalu kuat, tapi cukup tegas.

Setelah tangan kami terlepas, pikiranku mulai menyusun kemungkinan-kemungkinan yang tidak ingin kususun.

“Javi… Naya…” suara Pak Jamal terdengar lebih serius sekarang. “Pasti kalian bingung dengan pertemuan ini. Sebenarnya… pertemuan ini untuk mengenalkan kalian. Karena kami ingin menjodohkan kalian.”

“뭐?! (Apa?!)”

“Apa?!”

Aku dan Javier berseru hampir bersamaan.

Kami saling menoleh, sama-sama terkejut.

Dijodohkan?

Aku?

Sekarang?

Apakah ini mimpi di siang bolong?

Atau… memang ada sesuatu yang selama ini tidak aku tahu?

2 - No Strings Attached

Aku dan Javier masih terpaku di tempat, sama-sama terkejut dengan apa yang baru saja kami dengar.

Dijodohkan…

Sesuatu yang bahkan tidak pernah sekalipun terlintas di pikiranku.

Rasanya seperti sedang berada di dalam drama.

Aku bukan dijodohkan dengan pangeran karena wasiat keluarga…

Bukan dengan CEO tampan karena desakan kakek…

Bukan juga dengan pria terpintar di sekolah karena hubungan orang tua…

Tapi dengan pria yang bahkan baru saja kukenal beberapa menit yang lalu.

“Maaf, Pak… bisa diulangi lagi? Sepertinya saya salah dengar.” ucapku, mencoba memastikan bahwa ini bukan kenyataan.

“Iya, Pa. Papa bercanda, kan?” Javier ikut menimpali, nada suaranya terdengar setengah tidak percaya.

“Papa nggak bercanda, Javi.” jawab Pak Jamal santai. “Papa dan Pak Roni memang punya rencana menjodohkan kalian. Tentu saja… setelah orang tua Naya menyetujui.”

Dadaku terasa sesak.

Refleks aku menoleh ke arah Ibu dan Ayah.

Lalu, tanpa sengaja, mataku bertemu dengan Javier.

“내가? 결혼? 지금? (Aku? Menikah? Sekarang?)”

Aku terkekeh pelan, lebih terdengar seperti orang yang sedang kehilangan akal sehat.

“말도 안돼… 이게 뭐야? (Tidak mungkin… ini apa sih?)”

“Naya…” suara Ibu terdengar menegur.

“Aduh, Naya… kamu ngomong apa sih?” sela Tante Elisa cepat. “Maaf ya, Pak. Naya memang seperti itu. Karena bisa bahasa Korea, jadi suka tiba-tiba ngomong pakai bahasa Korea.”

“Wah, Kak Naya bisa bahasa Korea? Daebak! Ajarin aku dong, Kak!” Janessa langsung bersinar antusias.

“Jane! Apa-apaan sih kamu?” tegur Bu Sonya.

“Apa sih, Ma? Aku kan cuma mau belajar bahasa Korea…” gerutu Janessa.

“Ini bukan waktunya. Acara ini untuk kakak kamu.” ujar Bu Sonya, lalu menatap ke arah kami semua. “Maaf ya…”

Janessa pun cemberut.

“Naya hebat ya bisa bahasa asing, tapi bukan Inggris.” komentar Pak Jamal santai. “Biasanya orang-orang bisa bahasa asing itu Inggris, tapi Naya malah Korea.”

“Itu karena dia sudah terlalu lama suka Korea, Pak.” timpal Tante Elisa.

“Saya juga sudah lama suka Korea, Tan, tapi belum bisa-bisa bahasa Korea.” sahut Janessa lagi.

Aku hanya diam.

Kepalaku masih berisik dengan satu kata yang terus berulang.

Dijodohkan.

“Maaf… apa saya boleh ngobrol berdua dengan Naya?” suara Javier tiba-tiba memotong semuanya.

Semua orang langsung menoleh ke arahnya.

“Ya, boleh. Silakan. Ngobrollah kalian berdua. Hitung-hitung untuk mengakrabkan diri.” jawab Pak Jamal dengan senyum puas.

Orang tuaku, Tante Elisa, dan Om Roni juga mengangguk setuju.

Aku menghela napas panjang.

“Naya, ayo ikut saya.”

Javier berdiri lebih dulu.

Aku menatapnya sebentar, lalu bangkit pelan dari tempat dudukku dan mengikutinya.

Langkahku terasa ringan… tapi juga aneh.

Seperti sedang berjalan menuju sesuatu yang belum aku pahami—

dan mungkin akan mengubah hidupku sepenuhnya.

 Kami berjalan beriringan melewati deretan meja yang penuh pengunjung. Suara obrolan, denting sendok, dan aroma makanan bercampur jadi satu, tapi entah kenapa semuanya terasa jauh dariku.

Fokusku hanya satu.

Pria di depanku… dan situasi aneh yang sedang terjadi.

Langkah Javier akhirnya berhenti di depan sebuah ruangan tertutup.

Ia membuka pintu, lalu menoleh padaku.

“Masuklah.”

Aku menyipitkan mata. “Kita mau ngapain di ruangan ini? Jangan macem-macem, ya.”

Javier langsung menghela napas panjang, seperti sudah lelah duluan.

“Saya tidak akan ngapa-ngapain kamu. Saya cuma mau ngobrol.” katanya. “Ayo, masuk.”

Aku terdiam sejenak, menimbang.

Lalu, dengan sedikit ragu, aku melangkah masuk.

Ruangan itu ternyata cukup nyaman. Tidak terlalu besar, tapi tenang. Jauh dari keramaian di luar.

Kami duduk di sofa panjang—dengan jarak yang cukup aman.

Beberapa detik hening.

“Kamu benar-benar tidak tahu soal perjodohan ini?” tanya Javier akhirnya.

Aku langsung menoleh. “Ya iya lah. Kamu nggak lihat tadi aku kaget banget?”

Javier mengangguk pelan.

“Terus… kamu akan setuju?” tanyanya lagi.

Aku menarik napas.

“Kalau boleh jujur… nggak.” jawabku tanpa ragu. “Ini sama sekali nggak ada di radarku. Aku nggak pernah kebayang bakal dijodohin kayak gini. Ini tuh… kayak drama Korea banget. Tiba-tiba dijodohin.”

Aku berhenti sebentar, lalu menatapnya.

“Kalau kamu?”

“Sama.” jawab Javier singkat. “Saya maunya nikah lewat jalur normal. Saling kenal, saling suka… mungkin pacaran dulu… baru nikah.”

Aku mengangguk pelan.

Setidaknya kami satu tim.

“Ngomong-ngomong… nggak usah pakai ‘saya–kamu’ lah. Nggak usah formal gitu. Aku kan lebih muda dari kamu.”

Javier mengernyit. “Kok kamu tahu saya lebih tua?”

“Papa kamu yang bilang. Katanya kita beda tiga tahun.”

“Oh…” Javier mengangguk kecil. “Oke.”

Suasana kembali hening sesaat.

Aku memiringkan kepala, menatapnya penasaran.

“Kalau boleh tahu… kamu punya pacar?”

Javier langsung menggeleng.

“Serius?”

Ia mengangguk.

Aku mengangkat alis. “Masa cowok kayak kamu nggak punya pacar? Muka kamu kan… lumayan.”

Javier menatapku datar. “Memangnya kalau muka lumayan harus punya pacar? Ini soal hati, bukan fisik.”

Aku menahan senyum. “Iya sih… tapi biasanya gitu.”

“Terus kamu? Ada cowok yang kamu suka?”

“Ada.” jawabku santai.

Aku langsung mengangkat ponsel dan menunjukkan wallpaper.

Javier melihat sekilas, lalu menghela napas.

“Yang bukan aktor.”

“Ya nggak ada.” aku mengangkat bahu. “Udah, jangan bahas aku. Bahas kita aja. Gimana caranya nolak perjodohan ini?”

Javier berpikir sejenak.

“Kamu bilang aja kamu lagi suka sama seseorang.”

Aku langsung menggeleng. “Nggak bakal dipercaya. Keluargaku tahu aku sukanya aktor Korea.”

Javier menghela napas pelan.

“Kalau kamu aja gimana?” lanjutku cepat.

“Sama aja. Papaku juga nggak bakal percaya. Sejak aku ngurus rumah makan ini, aku nggak punya waktu buat pacaran.”

Aku menjatuhkan punggung ke sofa.

“아… 어떻게… 난 결혼 싫어… (Ah… gimana ini… aku nggak mau nikah…)” gumamku frustasi.

Javier menoleh. “Kamu ngomong apa sih? Bisa nggak pakai bahasa yang aku ngerti?”

Aku meliriknya sebal.

“Kamu lebih parah dari Jane, ya.” lanjutnya. “Gimana hidupku nanti kalau aku nikah sama kamu?”

Aku langsung menegakkan badan. “Ya jangan nikah sama aku lah.”

“Maunya sih gitu.” Javier tersenyum tipis. “Tapi papaku maunya kita nikah.”

“아 싫어… 싫어… (Ah nggak mau… nggak mau…)” gumamku lagi.

“Aduh… kamu ngomong apa sih?” keluh Javier.

Aku menoleh, menatapnya tajam.

“Aku nggak mau nikah sama kamu. 싫어… (nggak mau…)”

Lalu, tanpa sadar, aku memasang ekspresi dramatis—bibir bergetar, mata memicing, seolah menahan tangis.

“Hiks… hiks…”

Javier menatapku beberapa detik.

Lalu…

ia menghela napas panjang, benar-benar panjang.

Tiba-tiba pintu terbuka.

“Kakak…!” suara Janessa muncul bersamaan dengan langkahnya masuk ke dalam ruangan. “Apa yang udah Kakak lakuin ke Kak Naya?”

Aku dan Javier sama-sama terkejut.

“Aku nggak ngapa-ngapain.” jawab Javier cepat.

“Terus kenapa Kak Naya nangis?” Janessa langsung menghampiriku, wajahnya penuh curiga.

Aku menoleh ke arahnya.

“Aku nggak mau nikah sama kakak kamu, Jane.”

“Yah, Kakak…” Janessa langsung duduk di sampingku, memegang lenganku. “Padahal aku pengen banget Kakak jadi kakak iparku.”

“Hei, yang bakal jalanin pernikahan itu Naya, bukan kamu.” Javier menyela.

“Tapi aku pengen punya kakak yang sama-sama suka Korea kayak aku…” gumam Janessa.

Javier menghela napas panjang, jelas mulai kehabisan kesabaran.

“Tapi aku maunya nikah sama orang yang aku cintai.” ucapku pelan.

Janessa menatapku, matanya melembut.

“Siapa tahu cinta bisa datang… kalau kalian sering bersama. Kayak di drama-drama.”

Aku menggeleng. “Nggak segampang itu, Jane.”

“Iya, aku tahu…” katanya pelan. “Tapi yang membolak-balikkan hati itu Allah. Siapa tahu setelah menikah… kalian bisa saling cinta.”

Aku terdiam.

Kalimat itu… entah kenapa terasa menempel.

Tiba-tiba Javier berdiri, lalu menarik tangan Janessa.

“Udah, sekarang kamu keluar. Kamu ganggu kami.”

“Kak—”

Belum sempat Janessa menyelesaikan ucapannya, Javier sudah mendorongnya keluar dan menutup pintu.

“Jangan lama-lama ngobrolnya! Kami udah nunggu!” suara Janessa terdengar dari luar.

Ruangan kembali hening.

“Kamu nggak usah pikirin omongan Janessa.” ujar Javier sambil kembali duduk.

Aku menatap kosong ke depan beberapa detik.

Lalu…

“Gimana kalau… kita terima aja perjodohan ini?”

Javier langsung menoleh cepat, keningnya berkerut.

“Kenapa tiba-tiba kamu mikir kayak gitu?”

Aku menarik napas panjang.

“Soalnya… aku capek.” suaraku melemah. “Biar Tanteku nggak nyuruh-nyuruh aku nikah terus. Di antara teman-temanku… tinggal aku yang belum nikah. Aku bosen ditanya kapan nikah, kapan nikah…”

Javier menatapku, ekspresinya berubah.

“Jadi… kamu mau nikah karena ekspektasi orang?” tanyanya pelan, tapi jelas terdengar tidak setuju. “Aku nggak nyangka kamu seterpengaruh itu.”

“Aku nggak gitu!” bantahku cepat. “Ini karena terpaksa. Aku ini perempuan… Kamu sih enak, laki-laki. Mau nikah umur berapa pun nggak masalah.”

Javier terdiam. Lalu menghela napas panjang.

Aku menatapnya lagi.

“Kita nikah… tapi nggak usah kayak suami istri.”

Javier mengernyit. “Maksudnya?”

“Statusnya aja suami istri. Tapi aslinya nggak.” jelasku. “Kita tidur di kamar yang berbeda, nggak ngelakuin hal-hal kayak pasangan suami istri. Anggap aja kita cuma dua orang asing yang tinggal dalam satu rumah.”

Javier menatapku lama.

“Gimana bisa kamu kepikiran ide kayak gitu?”

Aku mengangkat bahu. “Inget adegan drama.”

Javier memijat pelipisnya.

“Ya Allah… kenapa aku harus ketemu perempuan kayak kamu sih?”

“Hei! Maksudnya apa ‘perempuan kayak aku’?” protesku.

“Perempuan yang kebanyakan nonton drama, terus semua hal disambung-sambungin ke situ.”

Aku mendengus. “Kupikir kamu mau bilang aku jelek.”

Javier langsung menggeleng. “Nggak. Aku nggak mikir gitu.”

Aku menyipitkan mata. “Terus?”

“Kamu… nggak jelek kok.”

“뭐? (Apa?)” aku refleks menoleh. “Maksudnya ‘nggak jelek’?”

Javier tampak salah tingkah.

“Nggak jelek ya cantik.”

Aku terdiam.

Cantik?

Kata itu terasa asing… tapi hangat.

“Menurutmu aku cantik?” tanyaku pelan.

“Iya—eh… maksudnya kamu nggak seburuk itu.” Javier buru-buru meralat.

“Hah?” aku menatapnya makin bingung.

“Udah, udah! Nggak usah bahas itu.” Javier langsung mengalihkan. “Sekarang gimana?”

Aku kembali ke topik awal.

“Ya seperti yang aku bilang. Kita nikah… tapi cuma status.”

Javier diam beberapa detik.

Wajahnya terlihat serius, benar-benar mempertimbangkan.

“Haruskah kita bikin perjanjian tertulis?” tanyanya.

Aku menggeleng. “Nggak usah. Kalau ketahuan keluarga malah ribet. Perjanjiannya cukup kita berdua yang tahu.”

Aku menatapnya lurus.

“Kita jalanin… sampai salah satu dari kita nggak kuat lagi. Kalau itu terjadi… kita bercerai.”

Hening.

Javier menatapku cukup lama.

Lalu ia menggeleng pelan, seolah tidak habis pikir.

“Kamu memang beda…” gumamnya.

Aku mengangkat alis. “Jadi?”

Beberapa detik berlalu.

Dan akhirnya—

“Oke.” Javier menghela napas. “Aku setuju.”

Aku menatapnya, memastikan.

“Tapi ingat… ini cuma status.”

Aku mengangguk pelan.

“Iya. Cuma status.”

Di luar sana, keluarga kami mungkin sedang menunggu jawaban —tanpa tahu bahwa di dalam ruangan ini, kami justru membuat keputusan yang tidak biasa.

Sementara di dalam ruangan ini,

dua orang asing baru saja membuat kesepakatan besar—

tentang sesuatu yang seharusnya sakral.

Tanpa cinta.

Tanpa rencana.

Tanpa kesiapan.

Hanya karena keadaan.

Aku menunduk, menatap tanganku sendiri.

Entah kenapa…

perasaanku tidak sepenuhnya lega.

Dan untuk pertama kalinya hari ini,

aku mulai bertanya—

apakah keputusan ini benar-benar akan menyelesaikan masalahku…

atau justru menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit?

3 - Without Words

Aku dan Javier kembali ke meja keluarga kami.

Padahal tadi aku sendiri yang mengusulkan agar kami menerima perjodohan ini. Tapi entah kenapa, sekarang justru aku yang merasa gugup. Tentang bagaimana cara mengatakannya… dan tentang kehidupan setelah ini.

Tanpa cinta.

Tanpa perasaan.

Tapi di sisi lain… aku juga sudah lelah. Lelah ditanya kapan menikah. Lelah didesak oleh orang-orang sekitar.

Aku berjalan di belakang Javier dengan jantung berdebar pelan.

Saat kami sampai di meja, mereka semua sudah mulai makan. Sepertinya kami terlalu lama mengobrol sampai mereka tidak menunggu lagi.

“Eh? Kalian udah selesai ngobrolnya? Ngobrolin apa sampai lama begitu?” tanya Pak Jamal.

“Ya tentang perjodohan kami, Pa.” jawab Javier santai.

Kami duduk kembali di tempat semula, berdampingan seperti tadi.

“Jadi apa hasil dari obrolan kalian?” lanjut Pak Jamal.

Aku dan Javier saling melirik sebentar. Lalu Javier menarik napas sebelum berbicara.

“Ehm… kami memutuskan… akan menerima perjodohan ini.”

“Alhamdulillah…” ucap mereka semua hampir bersamaan, wajah-wajah itu langsung terlihat lega.

Aku hanya bisa menghela napas pelan.

“Tapi…” lanjut Javier.

Semua mata kembali tertuju padanya.

“Saya dan Naya akan tinggal di rumah kami sendiri setelah menikah.”

“Di rumah kalian sendiri? Kalian mau beli rumah?” tanya Pak Jamal.

Javier mengangguk.

“Kalian punya uang?”

“Aku ada tabungan, Pa.”

Aku menoleh ke arah Javier.

Tidak menyangka… demi pernikahan yang bahkan belum kami jalani sepenuhnya, dia sudah memikirkan sampai sejauh itu.

“Anu… Nak Javier… lebih baik uangnya disimpan saja untuk kebutuhan setelah menikah nanti. Biaya lahiran, biaya anak sekolah itu mahal, lho. Kalian bisa tinggal di rumah kami saja. Lagian kalau Naya tidak tinggal bareng kami, rumah jadi sepi. Kami cuma berdua nanti,” ucap Ibu tiba-tiba.

Lahiran?

Anak?

Siapa yang mau punya anak?

“Saya mengerti kekhawatiran Ibu,” jawab Javier tenang. “Tapi saya maunya kami hidup mandiri, Bu. Kalau Ibu takut kesepian, nanti kami sering ke rumah. Iya, kan, Nay?”

“Hah? Oh… iya, Bu. Aku bakal sering ke rumah.” jawabku cepat.

“Tapi Ibu khawatir kalau ngelepas kamu sendirian, Nay.” lanjut Ibu.

Aku menghela napas.

“Kalau Ibu khawatir ngelepas aku, ya jangan suruh aku nikah dong.” ucapku.

“Naya!” tegur Tante Elisa. “Apa-apaan kamu?”

“Lho aku benar, kan, Tan? Kalau Ibu kayak gitu, mending nggak usah nyuruh aku nikah. Nyuruh aku nikah itu artinya melepas aku ke orang yang menikahi aku. Tanggung jawab Ibu dan Ayah pindah ke suami aku.” kataku, sedikit lebih tegas.

Tante Elisa terdiam.

“Naya benar, Bu,” ucap Pak Jamal kemudian. “Dan saya juga setuju mereka tinggal terpisah. Bukannya saya tidak sayang, tapi mereka memang harus mandiri. Mereka bukan anak-anak lagi.”

“Makasih, Pa, udah mau ngerti.” ujar Javier.

“Iya. Oh iya, kira-kira kapan ya acara pernikahannya? Kalau satu bulan lagi bagaimana?” ucap Pak Jamal.

Aku dan Javier saling pandang, sama-sama terkejut.

“Pa, apa itu nggak terlalu cepat? Aku dan Naya baru ketemu hari ini. Kami juga harus daftarin pernikahan ke KUA, aku belum beli rumahnya juga. Minimal tiga bulan lagi lah, Pa.” ucap Javier.

“Tiga bulan? Lama banget. Dua bulan saja.” balas Pak Jamal santai.

Javier tampak tidak setuju. Aku pun sama—dua bulan terasa terlalu cepat.

Pak Jamal menoleh ke arah orang tua kami, Tante Elisa, dan Om Roni. “Bagaimana?”

Mereka semua mengangguk setuju.

Aku hanya bisa menghela napas pelan.

Di sampingku, Javier terlihat jelas tidak puas.

“Javi, dua bulan kamu harus urus semuanya.” ucap Pak Jamal tegas.

“Iya, Pa…” jawab Javier lirih.

“Untuk acara pernikahannya bagaimana?” lanjut Pak Jamal, lalu menatapku. “Naya, kamu mau maharnya apa?”

Mahar?

Aku harus jawab apa?

Semua ini terlalu mendadak.

“Terserah saja, Pak… karena sejujurnya saya tidak tahu.” ucapku jujur.

“Jangan seperti itu. Sebagai wanita, kamu boleh meminta mahar apa saja.” ujar Pak Jamal.

Aku menggeleng pelan. “Saya benar-benar tidak tahu, Pak. Lagi pula… mahar yang terbaik adalah yang tidak memberatkan pihak laki-laki, kan?”

Pak Jamal tertawa kecil. “Kamu benar. Dan Om suka itu.”

Aku menarik napas sebentar sebelum melanjutkan.

“Lalu… untuk acara pernikahannya, saya maunya sederhana saja.”

“Nggak bisa gitu dong, Nay,” potong Tante Elisa. “Ini kan hajatan pertama di keluarga kalian. Masa sederhana saja?”

“Aku capek kalau harus ketemu banyak orang, Tante,” jawabku jujur. “Lagian kalau acaranya sederhana, biayanya juga nggak banyak. Tadi Ibu bilang biaya lahiran dan sekolah anak mahal, kan? Daripada buat acara yang cuma sehari, mending uangnya dipakai setelah menikah.”

“Ya ampun…” Pak Jamal tersenyum lebar. “Om jadi makin yakin kalau nggak salah pilih menantu. Naya, Om suka pola pikir kamu.”

“Iya, benar,” timpal Bu Soraya. “Biasanya anak sekarang maunya pernikahan mewah, prewed di tempat yang estetik. Kamu beda, Nay.”

Aku hanya tersenyum tipis.

“Berarti pernikahannya dua bulan lagi dan sederhana. Setuju semuanya?” ucap Pak Jamal.

Semua orang mengangguk.

“Baik. Kalau begitu ayo kita lanjutkan makan kita. Nay, kamu makan juga. Makanannya enak-enak, lho.” ucapnya lagi.

Aku mengangguk pelan.

“Maaf… saya tidak bisa menemani kalian. Saya harus ke dapur.” ujar Javier.

Semua orang kembali mengangguk.

Javier berdiri, lalu pergi meninggalkan kami.

Aku mulai makan, mencoba mengabaikan pikiranku yang masih berantakan.

“Kak, aku seneng deh akhirnya Kakak mau nikah sama Kak Javi,” ucap Janessa tiba-tiba, matanya berbinar. “Aku bakal punya kakak perempuan yang sefrekuensi sama aku. Nanti ajari aku bahasa Korea ya, Kak?”

Aku tersenyum kecil, lalu mengangguk.

“Jane, Naya jangan diajak ngobrol dulu. Biar dia makan.” ucap Bu Soraya.

“Tidak apa-apa kok, Bu. Saya senang bisa ngobrol sama Jane. Rasanya seperti punya adik. Soalnya saya anak tunggal, di rumah nggak punya teman selain Ayah dan Ibu.” ucapku.

“Tuh kan, Ma. Kak Naya aja nggak apa-apa.” balas Janessa dengan senyum lebar.

Bu Soraya hanya menggeleng pelan.

Setelah itu, kami kembali fokus makan. Sesekali aku tetap mengobrol dengan Janessa, membahas aktor dan drama Korea, topik yang membuat suasana terasa lebih ringan di tengah pikiranku yang masih kacau.

Tak terasa, makanan kami habis.

Kami pun berdiri dan berjalan ke arah depan. Tapi Javier tidak terlihat. Sepertinya dia masih di dapur.

Pak Jamal lalu meminta salah satu pegawai untuk memanggilnya.

Tak lama, Javier muncul.

“Javi, kamu pulang dulu ya.” ucap Pak Jamal.

“Iya, Pa.” Lalu Javier menoleh ke arahku dan keluargaku. “Bapak, Ibu, bagaimana makanannya?”

“Enak.” jawab kami hampir bersamaan.

“Syukurlah.” ucap Javier.

“Nak Javier, kamu mengelola rumah makan ini dengan baik.” ujar Ibu.

“Terima kasih, Bu.”

“Javi, Naya, ayo tukeran nomor. Biar kalian bisa ngobrol dan lebih dekat.” ucap Pak Jamal.

“HP-ku ada di ruanganku, Pa.” jawab Javier.

“Naya, Om pinjam HP kamu, boleh?”

Aku terdiam sejenak, lalu menyerahkan ponselku.

“Nih, tulis nomor kamu.” kata Pak Jamal sambil menyerahkan ponselku ke Javier.

Javier menerimanya.

“Ini sandinya apa?” tanyanya.

Aku mendekat, mengambil ponselku sejenak, lalu memasukkan sandi—tahun lahir Lee Jun-ha.

“Ini.” kataku, menyerahkan kembali.

Javier mengetikkan nomornya, lalu mengembalikan ponsel itu padaku.

Dia hanya menuliskan nomor tanpa menyimpannya. Aku pun langsung menyimpannya—dengan namanya… tapi dalam hangul.

“Itu tulisan apa?” tanya Javier.

“Nama kamu.” jawabku santai.

“Tulisan apa itu? Kenapa pakai itu?”

“Hangul. Aksara Korea. Semua kontakku pakai ini.”

“Serius, Kak? Wah, daebak!” seru Janessa antusias.

“Naya, kamu bisa baca-tulis aksara Korea juga? Kamu memang beda, ya…” ucap Pak Jamal kagum.

“Soalnya saya orangnya penasaran, Pak.” jawabku.

Pak Jamal mengangguk pelan, seolah semakin yakin.

 “Ya sudah, Javi. Kami pulang dulu.” ucap Pak Jamal.

“Iya, Pa. Hati-hati.” jawab Javier.

Pak Jamal, Bu Soraya, dan Janessa keluar lebih dulu.

Aku masih berdiri di samping Javier, menunggu yang lain keluar. Tiba-tiba Ayah mendekat dan menepuk pundak Javier.

“Senang bertemu dengan kamu, Nak Javier." ucap Ayah.

“Saya juga, Pak.” jawab Javier sopan.

“Terima kasih ya… mau menikah dengan Naya. Bapak pikir dia nggak akan menikah seumur hidupnya. Soalnya terlalu suka Korea.” lanjut Ayah santai.

“Ayah…” desisku, langsung menarik lengannya. “Apa-apaan sih…”

Aku menoleh ke Javier.

“Mas, kita pulang dulu.”

“Ah… iya.” jawab Javier, terlihat terkejut.

Kami melangkah keluar dari rumah makan itu bersama yang lain.

Udara sore terasa hangat, tapi entah kenapa dadaku justru terasa penuh.

Tadi aku datang ke sini hanya untuk makan siang biasa.

Tapi sekarang…

Aku pulang sebagai seseorang yang akan menikah.

Dengan pria yang bahkan baru kukenal hari ini.

Aku menoleh sejenak ke arah rumah makan itu, seolah semuanya berubah sejak aku masuk ke dalamnya tadi.

Aneh.

Semuanya terasa terlalu cepat.

Terlalu tiba-tiba.

Dan… terlalu nyata.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!