BRAAAK!
BRAAAK!
"MARWAA BANGUUN!
BRAAAK!
BRAAAK!!
Seorang wanita paruh baya mengedor pintu kamar dengan kasar disertai gurat emosi pagi itu. Hingga tak lama, Pintu kamar terbuka.
Seorang gadis cantik muncul. Wanita yang bernama Dartik itu berkacak pinggang menatap tajam sang gadis yang merupakan keponakannnya.
"Kamu tahu ini jam berapa?? Bukannya bangun dari pagi malah enak-enakan tidur kamu!!" Gadis itu menunduk, Bukannya takut namun gadis tersebut malas hendak berdebat.
"Maaf Bibi.. Aku capek banget, Jadi bangun agak siang.." Ucapnya. Dia memang merasa lelah sekali, Maklum saja kalau bangun agak siang.
"Capek capek!! Eh! Kamu kira yang lainnya gak capek!? Semua capek tahu gak? Kamu ini.. Udah numpang nyusahin pula.." Setelah mengatakan itu, Sang Bibi mulai pergi. Seperginya sang Bibi, Gadis itu menghela nafas panjang.
"Apa iya hidup aku seperti ini terus..." Gumamnya lirih. Dengan hati-hati gadis yang biasa panggil Wawa itu menuruni anak tangga.
"Wawa..." Ia menoleh, Seorang wanita menyusulnya.
"Ya kak..
"Jangan dengerin apa kata ibu ya? " Gadis tadi mengangguk seraya tersenyum.
"Yaudah, Kita turun yuk, Sarapan.. " Ajak wanita itu.
Begitu sampai diruang makan, Rasa lapar yang gadis itu rasakan mulai hilang setelah telinganya kembali mendengar ucapan pedas dari Paman dan Bibinya. Hingga sebuah ketukan pintu terdengar. .
"Sepertinya itu Kak Raski.. Kalau gitu, Wawa berangkat dulu ya..." Gadis itupun bangkit setelah berpamitan pada semua yang ada disana. Kakinya melangkah menuju pintu dimana seorang pria telah menunggunya.
"Pagi..
"Pagi..
"Udah siap?
"Udah Kak..
"Yaudah, Ayo berangkat.." Sepasang pria dan wanita itupun mulai berangkat bersama. Sekitar dua puluh menit perjalanan, Kendaraan roda empat itu terhenti.
"Kak, Makasih ya udah nganterin aku.." Seorang gadis itu mengucapkan ucapan terimakasih pada seorang pria yang lima tahun lebih tua darinya.
"Sebentar lagi kita kan nikah, Jadi aku bisa antar kamu kuliah tiap hari.." Kata Pria itu. Raski tersenyum menatap gadis dihadapannya ini. Gadis yang telah menjadi tunangannya hampir satu tahun ini..
"Ya udah Kak, Aku turun dulu ya.." Marwa hendak turun namun Raski menahan pergelangan tangan Marwa. Wanita itu menoleh..
"Ya kak?
"Aku punya sesuatu buat kamu.."
"Apa?
Raski meraih sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak beludru dimana didalamnya ada sebuah Kalung berliontin hati yang indah. Ada manik cantik bak Berlian yang berkilau membuat Marwa menutup bibirnya karena terkejut.
"Ini, Kakak beliin kamu kalung.. Suka gak?" Marwa menatap Raski dengan mata yang berkaca-kaca. Setelah kedua orangtuanya meninggal, Tak ada yang memberikan ia hadiah lagi kecuali kakak sepupunya, Sahabatnya dan sekarang pria ini.
"Kak Raski.." Marwa memeluk Raski, Sungguh dia merasa sangat terharu sekali. Dia tak pernah mendapatkan hadiah dari siapapun termasuk dari kedua orang yang merawatnya selama ini. Hanya kakak dan sahabatnya saja yang kadang memberikannya barang. Dan untuk kakaknya selalu saja mendapat teguran dari kedua orangtuanya karena hadiah itu.
"Udah gak usah nangis dong.. Sini aku pake in.. " Marwa berbalik badan membelakangi Raski. Pria itu memakaikan kalung tersebut dileher jenjang Marwa.
Marwa tersenyum senang seraya memegang bentuk liontin itu.
"Dah..
Marwa kembali memutar tubuhnya menatap Raski penuh dengan cinta. Gadis itu menggenggam tangan pria yang merupakan tunangannya itu.
"Kak.. Makasih ya, Kakak baik banget ternyata.. Aku sayang sama Kakak.." Marwa kembali memeluk Raski dengan erat seolah Raski lah hidup Marwa selama ini.
Sejak pria itu mencoba menyatakan rasa kagum terhadapnya, Raski selalu baik padanya. Pria itu tak pernah membuatnya sedih..
"Baiklah.. Sekarang kamu masuk gih, Nanti telat malah ke kampusnya.." Marwa mengangguk.
"Ohya, Kamu kerja nanti?"
"Iya kak..
"Yaudah, Hati-hati ya...
"Iya...
Marwa pun turun dari kendaraan roda empat milik Raski. Seperginya Marwa, Raski menghela nafas panjang.
Pria itu mengotak atik ponselnya lalu mengirim pesan pada seseorang.
"Tunggu aku, Kita berangkat bersama hari ini." Seperti itulah pesan yang dikirim Raski pada orang itu yang entah itu temannya atau bukan.
Ting...
"Okey, Aku tunggu..
Sementara itu, Marwa sangat pelan-pelan berjalan kearah gerbang kampus. Gadis itu menyeret kakinya dengan hati-hati.
"Wawaaa!!" Gadis itu menoleh ke arah seorang gadis yang seumuran dengannya. Marwa tersenyum.
"Hay...
"Baru nyampe?" Tanya Nina, Gadis itu adalah sahabat Marwa sejak mereka duduk dibangku SMP.
"Iya, Aku baru aja nyampe... Di antar sama Kak Raski.." Nina menyenggol pelan lengan Marwa dengan ekspresi menggoda.
"Cie ee... Yang mau nikah nih cieee...
"Apaan sih..
"Ya gak usah malu gitu.. Lagian ya, Kamu sama Kak Raski itu cocok banget.. Ya, Walaupun usia kalian selisih lima tahun lah.." Kata Nina yang ikut senang dan bahagia melihat sahabatnya ini bertemu dengan orang tepat.
"Ya Alhamdulillah lah.. Kak Raski itu pria yang baik. Aku bersyukur bisa ketemu sama dia.. Selain baik dia itu juga perhatian sama aku.." Marwa sangat bersyukur sekali, Pertemuannya dengan Raski membuat Marwa punya setitik kebahagiaan.
Namun sayangnya, Hubungannya dengan Raski terhalang ibu dari pria itu. Katanya karena Marwa tidak setara sama sekali..
"Ya udah sekarang kita masuk yuk.." Marwa mengangguk, Nina sang sahabat membantu gadis itu berjalan.
...****************...
Annisa Marwa. Gadis dua puluh tahun yang dikenal dengan paras cantiknya. Marwa juga dikenal sebagai seorang gadis yang pintar dan ceria, Yang ramah terhadap sesama serta baik hati.
Gadis itu juga murah senyum, Meski sebenarnya sangat jauh dari kehidupan yang Marwa jalani saat ini.
Orang memang mengenal Marwa dengan gadis yang punya banyak kelebihan. Namun sayangnya dia masih punya kekurangan. Sejak usianya sepuluh tahun Marwa sudah ditinggal ayah dan ibunya meninggal.
Marwa menyandang gelar yatim piatu saat itu juga. Selama ini Marwa dirawat oleh Paman dan Bibinya. Paman Marwa adalah Kakak dari mendiang ibunya.
Walaupun masih terikat sodara yang cukup dekat. Kehidupan Marwa berubah sejak itu juga. Dia memang dirawat oleh Paman dan Bibinya, Namun mereka seolah tidak ikhlas merawat Marwa.
Paman dan Bibinya yang bernama Haris dan Darti itu selalu memarahi Marwa, Kadang perhitungan dengan apa yang selalu mereka kasih. Padahal yang ditempati saat ini adalah rumah mendiang orangtua Marwa sendiri.
Hanya kakak sepupunya lah yang selalu peduli padanya. Wanita berusia dua puluh lima tahun itu begitu baik sekali padanya, Dan Marwa cukup bersyukur. Dalam dunia ini ada tiga orang yang percaya dan dia sayangi, Yaitu Tania kakak sepupu, Calon suaminya Raski. Dan yang terakhir adalah Nina, Sahabat baiknya..
Salah satu kekurangan Marwa saat ini ialah. Dia tidak bisa berjalan dengan normal. Kakinya pincang akibat tiga tahun yang lalu Marwa menyelamatkan Tania yang pada saat itu hendak ditabrak oleh mobil..
Marwa mendorong Tania sehingga dialah yang menjadi korban kecelakaan itu. Kakinya mengalami cedera yang cukup parah, Dokter mengatakan kemungkinan sangat kecil kakinya bisa sembuh seperti sedia kala.
Akan tetapi dokter juga tidak mematahkan harapan Marwa. Kaki Marwa masih bisa disembuhkan meski kemungkinan kecil asal gadis itu rutin melakukan terapi dan sering banyak kontrol. Dan semua itu membutuhkan waktu yang cukup lama.
Selain itu, Semua harus dengan biaya yang cukup besar. Marwa tidak punya uang sebanyak itu untuk mengobati kakinya. Sementara Paman dan Bibinya tidak peduli dan tidak mau tahu. Entah sudah makan atau minum pun mereka tidak peduli sama sekali..
Bagi mereka, Marwa hanya seorang anak yang menyusahkannya saja. Setelah dirawat oleh mereka, Masa iya harus merawat kaki Marwa yang pincang itu. Begitulah pikir mereka..
Ketidakpedulian Paman dan Bibinya itu membuat Marwa tidak patah semangat sama sekali. Sepulang dari kuliah, Marwa pergi bekerja paruh waktu disalah satu cafe. Sungguh dia tak patah semangat sama sekali.
Gaji miliknya Marwa kumpulan dikit demi sedikit untuk biaya kakinya nanti. Karena itulah yang paling penting saat ini. Kalau kaki Marwa sembuh, Dia tidak akan menyusahkan Paman dan Bibinya lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kamu langsung kerja?" Marwa mengangguk. Dia tersenyum seraya memasukan buku-bukunya kedalan tas.
"Iya..
Nina terdiam menatap sahabatnya itu. Sejak dulu Nina dan Marwa adalah sahabat baik. Dari Nina masih tinggal didekat rumah Marwa sampai Nina pindah rumah pun hubungan keduanya tetap erat.
Terkadang Nina merasa kasihan sekali pada sahabatnya itu. Marwa harus berjuang seorang diri meskipun Paman dan Bibinya tak peduli. Mau dibantu, Marwa selalu menolak. Selama ia masih sanggup dan kuat, Marwa tidak akan meminta bantuan orang lain.
Untuk Tania, Wanita itu memang baik sekali. Sayangnya Tania tidak bisa membantu adik sepupunya itu karena sebagian gaji wanita itu bekerja diserahkan pada Ibunya. Padahal mereka sudah punya penghasilan setiap harinya.
"Aku antar kamu ketempat kamu bekerja ya?" Marwa mengangguk.
"Makasih Ya, Nin.. Kamu emang baik banget..
"Iya dong.." Seperti biasa, Nina membantu Marwa untuk bangkit dan menuntun gadis itu berjalan. Begitu sampai diparkiran, Marwa disapa oleh para teman-temannya yang akan lulus tahun ini bersama Marwa dan Nina sendiri.
"Hay Marwa.. Udah mau pulang ya?" Sapa seorang pemuda dengan parasnya yang tampan. Beruntung saja, Di kampus ini tidak ada yang membully Marwa meski kondisinya demikian. Justru itu Marwa sangat senang kuliah disini.
"Iya..."
"Hati-hati ya...
"Iya..
Nina memberikan helm cadangannya pada sahabatnya itu. Karena Nina lah yang sering mengantarkan Marwa ketempat kerjanya.
"Ayo naik..." Marwa berpegangan pada bahu Nina kemudian naik ke motor matic milik Nina dengan sangat hati-hati.
"Dah..
"Yuk, Lest gooo...
Sepanjang perjalanan, Nina bersenandung. Di belakangnya, Marwa hanya bisa geleng-geleng. Motor milik Nina berhenti tepat dilampu merah hingga matanya tak sengaja melihat dua orang yang dia kenal baru saja keluar dari toko tas..
"Loh? Itu kan??
•
•
•
TBC
...Assalamualaikum ........
...Bismillah.. Othor Kembali merilis Karya baru yang berjudul...
..." Marwa ( Istri Tangguh Tuan Rayyan )"...
Kisah ini adalah kisah Rayyan kakak kembaran Raisha ya.. Setelah kisah adeknya, Kita lanjut sama kisah kakaknya.. ❤️ Yuk ikuti terus kisahnya..
Mohon dukungan nya ya...✨️✨️
"Loh? Itu kan??
Mata Nina menyipit memastikan bahwa yang dia lihat saat itu benar-benar bukan orang salah. Keduanya tampak keluar dari toko tas, Berjalan beriringan dengan posisi yang cukup dekat.
Bahkan si pria dengan senang hati membukakan pintu untuk si wanitanya.
"Itukan tunangannya Marwa sama kakaknya? Ngapain mereka berdua?
Nina menggelengkan kepalanya, Dia tidak salah lihat. Yang dia lihat benar-benar adalah Raski dan Tania, Kakak sepupu Marwa. Ngapain mereka keluar dari toko tas? Maba barengan lagi.
Bukan hanya barengan tapi satu mobil.
Tiiinn...
Tiiin....
"Nin.. Ayo jalan, Lampunya udah ijo.." Nina terperanjat kaget, Dan benar saja lampu lalu lintas sudah menunjukkan lampu hijau dimana kendaraan mulai melaju.
Nina pun segera melajukan kendaraan roda duanya menuju cafe tempat Marwa bekerja selama dua tahun ini.
Ya, Marwa memang mulai bekerja dicafe sebagai pelayan sudah dua tahun. Sayang gadis itu bekerja hanya dengan paruh waktu saja. Gaji yang dia dapat sebagian di tabung dan sebagian dia pegang sendiri. Karena Pamannya tidak mau memberikan uang sakunya meski pria itu punya penghasilan dari toko bangunan miliknya. Padahal perolehan tiap harinya lumayan cukup besar akan tetapi Marwa tetap saja merasa kekurangan. Dia jarang diperhatikan mungkin karena memang menyusahkan.
Tak terasa motor matic milik Nina telah sampai dicafe tempat Marwa mencari uang selama ini. Gadis itu turun dengan sangat hati-hati sekali..
"Nin, Ini helm nya.. Makasih ya, Udah antar aku. Nanti kalau aku gajian aku beliin bensin deh.." Nina tersenyum seraya mengusap lengan sahabatnya itu.
"Gak usah Wa.. Aku gak keberatan kok nganterin kamu. Gak minta imbalan apa-apa juga. Gaji kamu, Kamu tabung aja.. Kamu kumpulin buat pengobatan kaki kamu nanti... " Marwa mengangguk. Tidak apa-apa Paman dan Bibinya tidak sayang padanya yang penting dia masih punya sahabat yang baik yang mengerti dirinya dalam situasi dan kondisi apapun.
"Ya udah, Aku masuk dulu ya.." Marwa hendak berbalik badan namun tangannya di tahan oleh Nina.
"Wawa..
"Ada apalagi Nin..?" Nina terdiam seolah bingung ingin menyampaikan soal dia yang melihat Raski atau tidak. Tapi jika tidak disampaikan, Nina tidak bisa menyimpan semua ini terlalu lama.
"Nin..
"Hah iya..
"Kok kamu malah bengong sih? Ada apa?
"Eum.. Itu, Tadi aku kayak lihat tunangan kamu bareng Kak Tania.. " Dahi Marwa mengernyit..
"Kamu lihat Kak Raski sama Kak Tania jalan bareng?" Nina mengangguk. Marwa tersenyum..
"Ya, Ampun Nin.. Kak Raski dan Kak Tania itu kerja satu kantor. Mereka juga udah biasa keluar bareng di suruh bos gitu.. Mereka kan emang temenan dari lama.." Nina tersenyum getir seolah sangsi dengan apa yang dijelaskan oleh Marwa. Masak temenan kayak gitu, Pikir Nina..
"Oh, Gitu ya.. Enggak Wa.. Aku tuh cuma takut aja kalau mereka...
"Udah gapapa, Aku tahu apa yang kamu rasain. Pasti kamu takut aku disakiti kan? " Nina mengangguk. Dia memang sekhawatir itu pada sahabatnya ini. Marwa adalah gadis yang baik, Dia tidak pantas untuk sakiti.
Sejak kecil Marwa sudah banyak menderita, Nina hanya tidak ingin sahabatnya tersakiti lagi dan lagi. Meski katanya Raski adalah pria yang baik, Tetap saja Nina merasa kalau ada sesuatu yang disembunyikan yang Marwa sendiri tidak tahu.
"Aku percaya kok sama mereka.. Aku yakin kalau Kak Raski itu gak mungkin macam-macam. Kak Tania juga baik banget ke aku.. Dia yang mak comblangin sama Kak Raski, Masa iya dia mau ngambil Kak Raski dari aku.. Gak mungkin kan?" Ucap Marwa dengan keyakinannya. Dia memang sangat percaya sekali dengan dua orang itu..
"Ya udah kalau gitu Wa.. Aku pamit pulang dulu ya?
"Ya udah, Kamu hati-hati..
"Iya..
Marwa pun berjalan dengan pelan masuk kedalam cafe. Nina menghela nafas panjang lalu kembali melajukan kendaraan roda duanya menuju ke arah jalan pulang.
Sementara itu, Sepasang pria dan wanita yang baru saja dilihat oleh Nina kini masuk kedalam kendaraan roda empatnya.
Wanita itu terlihat sangat bahagia sekali setelah dibelikan tas oleh sang pujaan hati.
"Gimana? Kamu suka sama tas nya?" Wanita itu mengangguk.
"Suka banget.. Udah dari lama aku kepingin tas ini.. Eh, Akhirnya kesampaian juga. Makasih ya, Sayangku.." Wanita itu bergelayut manja dilengan pria tersebut.
Pria itu hanya tersenyum, Sebelah tangannya terangkat mengusap rambut wanitanya.
"Asalkan kamu senang, Aku juga ikut senang.." Kata Pria itu. Wanita itu semakin bersikap manja bahkan dengan berani wanita tersebut mencium pipi pria tadi.
"Aku sayang kamu...
...****************...
Nina pulang kerumahnya yang langsung disambut oleh sang Bunda. Nina pulang tidak seperti biasanya, Gadis itu terlihat lesu. Entahlah, Ikatannya dengan Marwa sudah seperti sodara kandung sendiri.
"Huuuffft .. Capek.." Nina langsung duduk bersandar diatas sofa ruang tamu rumahnya. Sang Bunda tersenyum melihat putrinya yang sepertinya tengah kecapean.
"Kamu kenapa? Kok tumben ngeluh..
Nina menghela nafas panjang. Gadis itu duduk menghadap sang bunda.
"Abis nganterin Wawa?" Nina mengangguk..
"Iya Bun.. Kasihan dia..
"Iya, Kalau bukan kamu siapa lagi yang bisa dia mintai pertolongan.. " Kata Bunda Nina yang mengerti dengan kondisi Marwa. Mau minta tolong pada Tania, Marwa merasa tidak enak dengan Paman dan Bibinya.
"Bun..
"Kenapa?
"Tadi pas dilampu merah, Aku gak sengaja ngeliat Tunangan Wawa bareng sama Kak Tania Bun.. Tapi kayaknya cuma aku aja yang tahu, Bun.. Wawa gak lihat.." Nina mencoba menceritakan semua yang dia lihat. Nina juga mengatakan pada Bundanya kalau dia punya rasa curiga pada Kakak dan Tunangan Marwa itu.
"Ya udah, Kalau kamu memang punya rasa curiga.. Kamu cukup diem aja. Kamu gak perlu ikut campur.. Takutnya kalau kamu ikut campur, Justru malah menghancurkan persahabatan kalian. Kita cuma bisa berdoa saja yang terbaik...
"Ya, Bun...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ah, Akhirnya.. Selesai juga.." Marwa menarik nafas panjang. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.30, Kini dia sudah siap untuk pulang.
Diluar sana, Seorang ojol telah menunggunya dan siap mengantarkan Marwa untuk pulang.
"Sudah Neng?
"Udah bang, Ayo..." Ojol pun mulai melaju. Seperti inilah setiap hari yang dilakukan oleh Marwa. Sepulang dari kuliah, Marwa langsung mampir untuk bekerja. Kalau dia tidak bekerja, Memangnya dia mau dapat uang dari mana.
Tania memang baik, Namun Marwa tentu saja merasa tidak enak dengan Paman dan Bibinya. Yang ada dia akan disindir terus, Dihina terus, Seperti itu seterusnya.
"Neng udah nyampe.." Marwa turun dengan hati-hati. Gadis itu memberikan sejumlah uang pada Bang Ojol kemudian masuk.
Begitu memasuki rumah, Disana sudah sepi. Mungkin semua penghuni yang ada disana sudah tidur. Marwa berjalan ke arah dapur dengan menyeret satu kakinya. Gadis itu merasa haus dan hendak minum..
"Kakak.." Tania menoleh, Wanita itu tersenyum melihat sang adik yang baru saja pulang.
"Baru pulang dek.." Marwa mengangguk.
"Iya, Kak.. Ini aku mau minum, Haus.." Marwa melanjutkan langkahnya membuka lemari es dan meraih air dingin dari dalam sana.
"Kakak belum tidur..
"Lagi pengen makan Mie.." Tania duduk dikursi dan siap menyantap mie instan berkuah itu lengkap dengan telurnya.
"Owh.. Yaudah, Kalau gitu aku ke kamar dulu ya.."
"Iya.." Marwa hendak pergi, Namun langkahnya kembali berhenti ketika matanya tak sengaja melihat sesuatu melingkar dileher Kakak sepupunya itu.
"Kak..
"Iya..
"Kalung Kakak.. Kok agak mirip sama Kalung punyaku yang dikasih sama Kak Raski ya..
"Uhuk! Uhuk.."
"Kak.. Hati-hati.." Marwa meraih air putih membantu Tania meminumnya.
"Kakak gapapa?" Tania menggelengkan kepalanya dengan tingkah yang sedikit gelagapan.
"Kalung ini?" Tania menyentuh Kalung miliknya. Ia menatap Marwa dengan senyum yang dipaksakan.
"Ini, Aku beli di online..
"Beli di online?
"Ya.. Barang ini hanya imitasi.." Marwa masih terdiam, Matanya tak lepas menatap kalung yang melingkar dileher Kakak sepupunya itu. Dibilang imitasi, Marwa sedikit tidak percaya karena berlian yang menempel dikalung tersebut sangat berkilau.
Memang tidak mirip seratus persen, Namun entah kenapa Marwa merasa ada kemiripan.
"Ya sudah kak.. Kalau begitu aku masuk kamar dulu ya.." Tania mengangguk dan kemudian melanjutkan memakan mie nya.
"Sekarang Kalung.. Waktu itu tas.. Jam tangan juga.. Tidak mungkin semua ini hanya kebetulan kan?" Batin Marwa yang merasa barang milik Tania mirip dengan beberapa barang miliknya. Dan semua itu tidak mungkin hanya kebetulan bukan?
"Heh!
Marwa cukup terkejut dengan kemunculan Bibi nya secara tiba-tiba. Mata wanita itu melotot kearah Marwa yang baru saja pulang dari bekerja.
"Baru pulang kamu? Udah jam berapa ini??"
"Maaf Bi.. Akhir-akhir ini cafe memang selalu ramai. Makanya aku pulang agak malem.." Jawab Marwa, Apa yang dia katakan memang benar, Cafe akhir-akhir ini memang ramai maka dari itu dia pulang agak malam.
"Alasan aja kamu.. Bilang aja kalau kamu itu malas bangun pagi.. Ujungnya juga aku yang masak dan ngerjain semuanya.. " Ucap Dartik seperti biasanya. Ucapan pria itu memang selalu pedas sekali. Tak memikirkan perasaan Marwa sama sekali..
"Udah masuk sana! Kamu itu bikin muak aja.."
Marwa menghela nafas panjang, Kapan semua ini akan berakhir. Dia sudah lelah dimarahi terus-terusan..
•
•
•
TBC
Visual.....
👇 Rayyan Al Ghafa Pangestu 👇
👇 Annisa Marwa 👇
👇 Araski Satria 👇
👇 Tania Alinda 👇
👇 Fanina Aprilia 👇
Ini adalah visual versi Othor ya.. Kalau kalian kurang sreg atau kurang mantap bisa bayangkan sendiri-sendiri saja..🍁
Seorang wanita paruh baya sedang menata beberapa menu diatas meja. Disalah satu kursi telah duduk seorang pria paruh baya yang merupakan suami wanita itu.
"Raski mana pa? Kok gak kesini.. Emang gak mau sarapan dia.." Ucap Wanita yang tak lain adalah Mama Raski atau lebih tepatnya calon ibu mertua Marwa.
"Kayaknya tadi Raski udah berangkat duluan deh Ma.. Mungkin aja dia lagi ada keperluan.." Mama Raski meletakkan gelas dengan sedikit kasar.
"Tumben banget dia gak sarapan? Mama udah bangun pagi malah dia berangkat dulu.. Mana gak pamit dulu lagi.. Bikin kesel aja. Jangan-jangan dia pergi kerumah gadis pincang itu. " Omel wanita paruh baya itu dengan marah.
"Udah lah Ma.. Lagian kenapa sih sama Marwa? Mama kayak gak suka banget sama dia.. Meski dia punya kekurangan, Tapi dia gadis baik. Dia juga rajin.. Buktinya pas diajak kesini Marwa mau aja Mama suruh-suruh.. Marwa gak pernah nolak apa yang perintah. Kurang apalagi coba?" Ucap Papa Raski yang selalu membela Marwa dalam segi apapun.
"Papa nih.. Bukannya buat rasa kesal Mama mendingan malah bikin mama naik darah.." Kata Wanita itu perlakuan pergi. Papa Raski hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihat sikap istrinya yang entah kapan berubah.
...****************...
Kemiripan barang Tania dengan barang miliknya membuat Marwa tidak bisa tidur dengan nyenyak malam ini.
Karena bukan hanya satu barang, Tapi ada beberapa barang yang memang mirip dengan miliknya. Entah itu dari Tas, Jam tangan dan sekarang kalung.
Marwa bukannya protes, Semua orang berhak punya barang yang bahkan sama dengan miliknya. karena produksinya tidak dibuat satu model saja melainkan ada banyak.
Diantara wanita yang berada dikota ini mungkin banyak yang punya barang yang sama seperti miliknya, Tapi bagi Marwa ini aneh saja.
"Wawa.. Dek, Turun yuk kita sarapan dulu.." Suara Tania terdengar, Marwa meraih tasnya lalu berjalan kearah pintu kamarnya.
Ceklek..
"Kak..
"Ayo, Kita turun dulu.. Sarapan.."
"Kakak duluan saja dulu, Setelah ini aku menyusul.." Tania mengangguk. Wanita itu lebih dulu turun dari tangga menuju ke ruang makan.
Marwa menghela nafas panjang. Dulu dia selalu bangun pagi dan sering ikut membantu Bibinya memasak. Namun meski dia melakukan apapun yang terbaik rasanya juga percuma. Marwa tidak pernah ada hitungannya sama sekali. Seakan dia dirumah ini hanya menumpang saja. Padahal sebenarnya rumah itu milik kedua orangtua Marwa.
Paman dan Bibinya datang dan tinggal dirumah itu sejak kedua orangtuanya meninggal dunia. Alasannya karena merekalah yang akan merawat Marwa sebagai pengganti orangtuanya.
"Huuuffft..." Marwa menghela nafas panjang. Entahlah ingin sekali rasanya dia segera pergi dari rumah ini. Tapi belum waktunya saja..
Dengan terpaksa Marwa turun dengan hati-hati. Kakinya yang pincang itu memang kadang tidak bisa dikendalikan. Dibuat naik turun seperti ini kadang terasa sakit bahkan bisa nyeri yang berkepanjangan.
Langkah Marwa harus terhenti setelah mendengar ucapan pedas dari Dartik, Bibinya.
"Kamu kok belum makan? Masih nunggu anak itu.." Ucap wanita itu. Tania hanya menunduk seraya menghela nafas panjang.
"Kasihan Bu.. Kalau aku makan dulu nanti dia gak punya teman buat makan.." Jawab Tania membuat ibunya itu mendengus.
"Ya kalau dia gak mau makan yaudah biar dia gak usah makan.. " Tania terdiam, Sejak dulu ibunya memang keberatan merawat sepupunya itu.
"Tania.. Udah, Kamu makan dulu aja.. Biar aja si Wawa nyusul. Anak itu.. Udah pincang gak tahu diri lagi.." Tak hanya Dartik. Tapi Haris, Paman Marwa pun juga sama. Merawat Marwa adalah sebuah keterpaksaan.
Mendengar itu, Hati Marwa berdenyut nyeri. Ia menggenggam erat tali tasnya. Rasa lapar yang yang sejak tadi ia rasakan kini telah hilang begitu saja.
Apa sebegitu bencinya mereka terhadap dirinya. Sampai-sampai ia selalu dianggap tidak tahu diri.
"Kurang apa sih dia? Masih untung setelah orangtuanya meninggal kita yang rawat. Apalagi sekarang dia rebut punya mu saja kamu biarkan.. Kurang apalagi coba?" Tania cukup kaget dengan ucapan ibunya tadi. Wanita itu menoleh takut Marwa mendengarnya.
"Bu.. Bisa gak sih, Jangan bahas itu..." Dartik hanya memutar bola matanya malas.
Dibalik ruangan itu, Marwa terdiam. Ucapan Bibinya membuatnya seketika bertanya-tanya.
"Aku rebut milik Kak Tania? Apa?
Klek..
Marwa tak sengaja menyenggol barang membuat Tania langsung menyadari kehadirannya.
"Wawa..." Marwa tersenyum..
"Sini dek, Sarapan.. Gabung sini.." Marwa menggelengkan kepalanya.
"Gak usah kak.. Aku langsung pamit ke kampus aja.." Marwa langsung berbalik badan..
"Dek..
"Udah gak usah peduliin dia.. Biarin aja dia pergi. Masih untung diajak sarapan, Sok jual mahal pula.. Dih..." Marwa memejamkan matanya. Ucapan Bibinya memang selalu membuat hatinya sakit. Tak bisakah mereka bersikap lebih baik padanya. Marwa juga ingin merasakan seperti apa rasanya disayang setelah ayah dan bundanya tiada.
"Gapapa Kak.. Aku berangkat kuliah dulu.." Tak ada pilihan lagi, Marwa memilih untuk pergi saja. Kalau dia lebih lama berada disini yang ada telinganya semakin panas.
"Ya udah kamu hati-hati.." Kata Tania. Marwa mengangguk samar. Begitu sampai dipintu, Dia cukup kaget melihat Raski yang ternyata berdiri didepan pintu.
"Loh? Kak Raski.."
Pagi ini Raski datang kerumah Tania. Pria itu datang mungkin karena ingin menjemput Marwa. Disana Raski juga bertemu dengan Tania yang Marwa kenal adalah teman baik tunangannya.
"Wawa..
"Kak..
"Kakak kesini mau jemput kamu.. Yuk..." Kata Raski pada gadis yang menjadi tunangannya itu.
"Ohya, Udah ayo.." Sebelum berangkat, Marwa menoleh ke belakang melihat Tania yang terdiam.
"Kak Nia mau berangkat bareng gak? Lumayan kan kita satu arah..." Ajak Marwa, Tania yang mendapatkan tawaran semacam itu langsung menatap Raski. Pria tersebut mengangguk.
"Ya udah ayo.. Aku ikut kalian saja. Kalian tunggu saja diluar.." Kata Wanita itu. Tania tersenyum manis, Bukan pada Marwa melainkan pada Raski.
Marwa yang melihat itu hanya tersenyum tipis saja. Maklum lah.. Kan mereka adalah teman dekat, Satu kantor pula.
"Raski, Tunggu ya.. Aku ambil tas dulu.."
"Okey, Aku tunggu didepan.." Raski maju, Pria itu merangkul mesra Marwa membantu gadis itu. Tatapan Tania langsung berubah. Kedua tangan terkepal melihat perlakuan Raski yang begitu perhatian itu.
"Huuuffft.. Setidaknya aku masih bisa bersama dengannya.." Gumam Tania mencoba menguatkan diri sendiri. Wanita itu kembali keruang makan mengambil tas nya yang masih ada disana.
Tania langsung masuk kedalam mobil dimana Raski dan Marwa menunggunya. Wanita tersebut duduk dikursi bagian belakang karena dikursi depan sudah ada Marwa.
"Sudah siap?
"Udah Kak..
"Ya udah kita berangkat...
Raski mulai menyalakan mesin mobilnya, Namun suara dering ponsel itu mengurungkan niatnya untuk berangkat.
"Ya Halo, Ma...
"Kamu berangkat pagi banget. Gak sarapan dulu pula...
"Raski lagi terburu-buru Ma..
"Jangan bilang kamu jemput gadis pincang itu.. Berapa kali sih Mama bilang, Dia itu gak pantas buat kamu..
"Ma, Udah Ma..
Raski melirik ke arah Marwa yang menunduk, Sepertinya gadis itu mendengar apa yang dikatakan oleh calon ibu mertuanya.
"Udah-udah gimana? Mama itu kan udah bilang.. Tapi kamunya aja yang ngeyel. Mama butuh menantu yang bisa bantu-bantu Mama.. Yang bisa ngerjain pekerjaan rumah. Yang bisa masak, Yang bisa segalanya lah.. Kalo istri kamu pincang mana bisa kerjain semua itu..." Raski memejamkan matanya, Tidak bisakah Mamanya ini bicara pelan-pelan.
"Iya ya.. Raski mau berangkat dulu..
Dengan cepat Raski segera mematikan panggilan teleponnya dengan sang Mama. Pria itu langsung menatap Marwa yang sedih..
"Kamu jangan ambil hati yah dengan apa yang dikatakan Mama tadi.. Mungkin Mama Moodnya lagi gak baik hari ini.." Marwa mengangguk. Dibelakang, Tania hanya tersenyum tipis seakan merasa senang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pelajaran dalam kuliah ini Marwa menjadi tidak fokus. Ucapan calon ibu mertuanya tadi masih terngiang ditelinganya. Meskipun Raski sudah menenangkannya, Tetap saja Marwa merasa sakit hati dengan ucapan itu.
Memang sebenarnya Mama Raski tidak setuju putranya bertunangan dengan Marwa. Mama pria itu lebih setuju Raski dengan Tania. Sayangnya Raski lebih memilih Marwa meski gadis itu punya kekurangan. Berbeda jauh dengan Papa Raski yang sangat setuju sekali dengannya..
Alasannya sudah pasti karena Marwa adalah seorang yatim piatu dan alasan lainnya karena wanita itu pincang. Lagipula siapa yang mau menerima wanita pincang ini.
"Kenapa? Dari tadi aku perhatiin kamu kayak banyak diem dikelas.. Ada yang mengganggu pikiran ya?" Marwa menoleh pada sahabatnya itu.
"Kenapa ya, Nin.. Orang-orang banyak yang benci aku. Apa karena aku ini anak yatim ya? Atau karena aku ini pincang.." Nina menggelengkan kepalanya. Gadis itu duduk disebelah Marwa lalu menggenggam tangan sahabatnya itu.
"Kalau orang punya niat gak suka kekita, Jangankan pincang Wa... Sesempurna apapun kita tidak akan mengubah sifat dan wataknya.. Kalau boleh tahu, Apa yang buat kamu cemas..
"Mama Kak Raski..
"Kenapa sama calon ibu mertuamu..
"Tadi dia itu telfon, Dia ngehubungi Kak Raski dan marah-marah.. Tapi yang aku denger Nin. Tante Ratna bilang kalau dia itu kurang setuju Kak Raski tunangan sama aku.. Tante Ratna lebih setuju sama Kak Tania katanya.. Katanya aku ini pincang, Nanti kalau aku nikah gak ada yang mau masak, Gak ada mau bersih-bersih..
"Apa!? Dia bilang gitu?
"Iya..
"Dia mau cari menantu apa pembantu?
"Entahlah..
"Gak bener tuh emang calon mertuamu.. Kamu kalo ditindas sama dia lawan Wa.. Jangan diem aja.." Marwa hanya terdiam, Kalau melawan mungkin ia bisa, Tapi apa daya dengan kekurangannya ini.
"Kalo soal melawan aku sih Bisa Nin.. Cuma kamu tahu sendiri kan? Kondisi aku aja udah kayak gini..
"Kurang bukan berarti kamu bisa ngalah atas segalanya Wa.. Fisik kamu boleh kurang, Tapi mental mu jangan.. Kalian sama-sama manusia, Sama-sama makan nasi, Kalian sama dimata Tuhan.. Kalian cuma beda usia aja.. " Marwa menghela nafas panjang. Mungkin ada benarnya apa yang dikatakan oleh Nina. Mereka hanya beda usia saja tapi tidak dengan kedudukannya dimata Tuhan. Dimata Tuhan semua hambanya sama. Baik yang atau miskin..
•
•
•
TBC
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!