"Jangan! Tolong jangan bawa dia pergi!" Suara Amelia Hartono menggema di dalam ruangan rawat inap. Tubuhnya masih lemah setelah operasi caesar seminggu lalu. Jahitan di perutnya bahkan belum benar-benar pulih. Namun, saat melihat pria yang dicintainya akan membawa pergi bayi perempuan yang baru saja dilahirkannya, Amelia nekat turun dari ranjang.
Air matanya mengalir tanpa henti.
"Evan, ku mohon..." suaranya bergetar. "Dia anak kita."
Langkah pria itu berhenti di depan pintu. Evan Cristian menoleh dengan tatapan dingin yang belum pernah Amelia lihat sebelumnya. Tatapan itu membuat jantung Amelia berdegup tidak nyaman.
Seolah pria yang berdiri di hadapannya bukanlah Evan yang selama ini dikenalnya. Bukan pria yang pernah berkata mencintainya. Bukan pria yang pernah menggenggam tangannya dan berjanji akan menjadi keluarga yang bahagia. Melainkan seseorang yang asing, seseorang yang kejam.
"Evan..." Amelia kembali memohon.
Namun, sebelum Evan sempat berbicara, seorang wanita cantik melangkah masuk dan berdiri di sampingnya. Gaun mahal yang dikenakannya terlihat begitu kontras dengan pakaian pasien milik Amelia. Rambut hitam panjangnya tergerai rapi. Wajahnya sempurna seperti model majalah.
Dan memang benar, wanita itu adalah Carolin Baskara. Model papan atas yang wajahnya sering muncul di televisi, Amelia mengenalnya.
Semua orang mengenalnya. Hanya saja Amelia tidak pernah mengerti mengapa wanita itu berada di sini. Sampai hari ini, sampai beberapa menit yang lalu. Sampai Amelia mendengar sendiri percakapan mereka.
"Kenapa kamu masih menangis?" tanya Carolin sambil tersenyum sinis. "Bukankah sejak awal kau hanya ibu pengganti?"
Amelia membeku. Kata-kata itu terasa seperti pisau yang menusuk tepat ke jantungnya.
"A-apa?"
Carolin terkekeh kecil. "Kau benar-benar lucu."
Wanita itu mengulurkan sebuah map cokelat.
"Tanda tanganmu ada di sini."
Tangan Amelia gemetar saat menerima dokumen tersebut. Matanya membelalak, napasnya tercekat. Di setiap lembar kertas itu memang ada tanda tangannya. Tanda tangan yang sangat dikenalnya. Tetapi ia tidak pernah merasa menandatangani surat persetujuan menjadi ibu pengganti.
"Tidak..." bisiknya. Kau berbohong!"
"Benarkah?" Carolin tersenyum semakin lebar.
"Kalau begitu coba tanya pria yang selama ini tidur di sampingmu."
Pandangan Amelia langsung beralih kepada Evan. Harapan terakhirnya, satu-satunya orang yang bisa menyangkal semua ini.
"Evan..." suaranya lirih. "Katakan kalau ini tidak benar..."
Pria itu hanya menatapnya tanpa ekspresi. Lalu perlahan bibirnya bergerak.
"Ini benar."
Dunia Amelia runtuh dalam sekejap, tubuhnya limbung. Untung ia sempat berpegangan pada sisi ranjangnya.
"Apa maksudmu?"
"Anak itu memang anakku."
Harapan kembali muncul di mata Amelia. Namun, kalimat berikutnya menghancurkan segalanya.
"Dan Carolin."
Seolah petir menyambar tepat di atas kepalanya. Amelia tidak bisa bernapas, tidak bisa berpikir. Tidak bisa memahami apa yang baru saja didengarnya.
"Evan..." air matanya jatuh semakin deras. "Apa yang kau katakan?"
Pria itu menghela napas pelan. Seakan sedang menjelaskan sesuatu yang sangat sepele.
"Embrio yang ditanamkan ke rahimmu adalah milikku dan Carolin."
Amelia membeku.
"Kami hanya membutuhkan seseorang untuk mengandung bayi kami."
"Kau bohong..."
"Tidak."
"Evan, kau bohong! Apa maksudmu?" suara Amelia bergetar.
Carolin tersenyum tipis. Senyum yang terlihat anggun, tetapi begitu menusuk.
"Kau benar-benar belum tahu apa pun rupanya."
Wanita itu membuka map yang dibawanya lalu mengeluarkan beberapa lembar dokumen.
"Kalau begitu, biar aku yang menjelaskan semuanya."
Jantung Amelia berdegup tidak nyaman. Tatapannya beralih kepada Evan. Berharap pria itu menghentikan Carolin. Namun, Evan hanya berdiri diam sambil menggendong bayi perempuan yang baru saja dilahirkannya. Seolah apa yang akan terjadi tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Carolin menyerahkan satu lembar dokumen.
"Pertama, selamat. Kau akhirnya tahu kalau bayi itu bukan anakmu."
Tubuh Amelia menegang, "dia anakku..." rilih Amelia.
"Bukan!" Carolin langsung memotong.
"Dia anak biologisku dan Evan."
Air mata Amelia mulai menggenang. Namun, Carolin belum selesai.
"Dan sekarang fakta kedua." Wanita itu mengeluarkan dokumen lain. "Kau dan Evan tidak pernah menikah."
Dunia Amelia seolah berhenti berputar.
"Apa?"
"Kau dengar dengan jelas." Carolin tersenyum mengejek.
"Pernikahan kalian tidak pernah terdaftar."
"Tidak mungkin..." Amelia menggeleng cepat. "Kami memiliki buku nikah."
"Buku nikah itu palsu." Kalimat itu menghantam Amelia seperti palu godam.
"Kau bohong..."
"Kalau aku berbohong, kenapa Evan tidak membantah?"
Amelia menoleh kepada pria yang dicintainya.
"Evan..."
Namun, pria itu hanya menatapnya dingin. Tatapan itu sudah cukup menjadi jawaban. Air mata Amelia jatuh semakin deras.
"Jadi selama ini..."
"Ya," sahut Carolin santai. "Selama ini kau hanya wanita simpanan yang bahkan tidak memiliki status."
Amelia merasa dadanya sesak. Napasnya sulit keluar. Tetapi Carolin kembali mengeluarkan dokumen lain. Dan kali ini senyumnya jauh lebih lebar.
"Oh ya, hampir lupa. Masih ada satu kejutan lagi." Carolin melemparkan dokumen itu ke atas ranjang.
"Kau tahu apa ini?"
Amelia menatap lembaran kertas tersebut. Matanya membelalak, nama perusahaan Hartono terpampang jelas di sana. Tangannya langsung gemetar.
"Tidak..."
"Oh, jadi kau mengenalinya." Carolin tertawa kecil.
"Seluruh saham pengendali Hartono Group sudah berpindah tangan."
"Tidak mungkin!"
"Kenapa tidak mungkin?" Carolin mengangkat bahu. "Kau sendiri yang menandatanganinya."
Amelia langsung menggeleng. "Aku tidak pernah menjual perusahaan itu!"
"Tentu saja tidak. Tapi kau menandatangani semua dokumen yang diberikan Evan tanpa membacanya, bukan?"
Tubuh Amelia membeku, ingatan demi ingatan bermunculan. Dokumen-dokumen yang selalu dibawa Evan. Berkas yang katanya untuk kepentingan perusahaan. Surat yang katanya hanya formalitas. Dan semua itu, seluruhnya telah menjadi jebakan.
"Kau..." suara Amelia bergetar. "Kalian menipuku, Evan!"
"Menipu?" Carolin terkekeh.
"Tidak, Amelia."
"Kau hanya terlalu bodoh untuk menyadarinya."
Wajah Amelia langsung pucat. Carolin melangkah mendekat. Lalu, berbisik tepat di depan wajahnya.
"Tahukah kau apa yang paling lucu? Kau sangat mudah ditipu. Begitu mudah dibohongi. Kau percaya semua yang dikatakan Evan. Kau percaya pernikahan pada palsu. Kau percaya bayi ini anakmu dan Kau percaya perusahaan itu masih milikmu. Kau bahkan tidak pernah memeriksa satu pun dokumen yang kau tandatangani."
Setiap kalimat terasa seperti pisau yang mengiris harga diri Amelia. Carolin tersenyum puas melihat wajah wanita itu.
"Sungguh menyedihkan. Keluarga Hartono membangun kerajaan bisnis selama puluhan tahun. Dan pewarisnya menghancurkan semuanya hanya karena jatuh cinta pada pria yang salah."
Air mata Amelia mengalir tanpa henti. Dadanya terasa sesak hingga sulit bernapas. Dalam satu hari, dia kehilangan suami yang sangat dicintainya. Kehilangan anaknya dan kehilangan perusahaan peninggalan orang tuanya.
Luka operasinya terasa nyeri hingga membuatnya hampir jatuh. Namun, rasa sakit itu tidak sebanding dengan apa yang terjadi pada hatinya.
Selama sembilan bulan, ia berbicara dengan bayi itu setiap malam. Sembilan bulan ia menjaga makanan. Sembilan bulan ia menahan mual, sakit, dan ketakutan. Sembilan bulan ia mencintai bayi itu sepenuh hati. Dan sekarang seseorang mengatakan bahwa ia hanyalah rahim sewaan.
"Kenapa?" tangisnya pecah. "Apa salahku?!"
Evan terdiam beberapa saat,a lalu berkata datar.
"Karena kau terlalu mudah percaya."
Kalimat itu menjadi pukulan terakhir. Air mata Amelia berhenti mengalir. Bukan karena rasa sakitnya berkurang. Melainkan karena hatinya benar-benar hancur. Perlahan ia menatap pria yang telah dicintainya sejak SMA.
Pria yang menjadi alasan dirinya percaya pada cinta. Pria yang telah mengambil perusahaan miliknya. Pria yang memalsukan pernikahan mereka. Pria yang kini merampas bayi yang baru dilahirkannya. Saat itulah Amelia akhirnya mengerti. Sejak awal dirinya hanyalah korban, dan Evan Cristian adalah penghancur hidupnya.
"Bawa bayinya." Suara Carolin terdengar santai.
Evan mengangguk. Lalu, berbalik pergi sambil menggendong bayi perempuan yang masih tertidur pulas.
"Jangan!" Teriak Amelia.
Pintu ruangan terbuka dan tertutup kembali. Amelia mengejar, namun baru beberapa langkah, tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Tubuhnya jatuh menghantam lantai. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh. Tetapi yang lebih menyakitkan adalah melihat sosok Evan semakin menjauh. Membawa pergi alasan terakhirnya untuk bertahan hidup.
"Anakku..." Tangis Amelia memenuhi koridor rumah sakit.
Tak seorang pun membantunya. Tak seorang pun peduli, dan di saat seluruh dunianya runtuh. Sebuah bayangan tiba-tiba berhenti di hadapannya. Sepasang sepatu hitam memasuki pandangannya. Lalu sebuah tangan terulur.
"Amelia." Suara pria itu terdengar berat. Perlahan Amelia mengangkat kepala. Matanya membelalak.
Perlahan Amelia mengangkat kepala. Matanya membelalak.
"Elang..." Pria itu berjongkok di hadapannya.
Tatapannya penuh amarah saat melihat kondisi Amelia yang berantakan.
"Aku terlambat." Kalimat sederhana itu membuat pertahanan Amelia runtuh.
Ia langsung memeluk Elang sambil menangis histeris.
"Elang ... mereka menipuku. Mereka merebut bayiku..."
Air mata Amelia terus mengalir tanpa henti. Tubuhnya gemetar hebat di dalam pelukan Elang. Rasa sakit yang memenuhi dadanya seolah tidak memberinya kesempatan untuk bernapas. Bayinya telah dirampas, perusahaannya telah dicuri. Kehidupan yang selama ini dia impikan menjadi menjadi mimpi buruk.
"Anakku..." lirih Amelia. "Bayiku..."
Tubuhnya semakin lemas. Pandangannya mulai kabur. Suara-suara di sekelilingnya terdengar semakin jauh.
"Amelia!" Elang langsung menangkap tubuh wanita itu sebelum terjatuh ke lantai. Wajah pria itu berubah panik.
"Dokter!"
Beberapa saat kemudian. Amelia telah kembali berada di ruang rawatnya. Dokter yang memeriksanya menghela napas pelan sambil menuliskan sesuatu di papan medis.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Elang.
Dokter menatap wanita yang masih tidak sadarkan diri itu.
"Secara fisik tidak ada masalah serius."
"Lalu?"
"Dia mengalami syok berat."
Elang mengatupkan rahangnya. Dokter melanjutkan.
"Dalam waktu singkat pasien mengalami tekanan emosional yang luar biasa. Kehilangan bayi, stres pasca persalinan, dan trauma psikologis."
Dokter menggeleng pelan.
"Kondisi seperti ini tidak bisa pulih dalam satu atau dua hari. Mungkin membutuhkan waktu lama. Pastikan ada orang yang mendampinginya."
Setelah mengatakan itu, dokter meninggalkan ruangan. Keheningan menyelimuti ruang inap tersebut. Elang berdiri di dekat ranjang. Tatapannya tidak pernah lepas dari Amelia. Wajah wanita itu terlihat pucat. Kelopak matanya sembab akibat terlalu banyak menangis. Tangannya mengepal dia mengambil ponselnya. Lalu menghubungi seseorang.
[Halo, Tuan Elang.]
"Aku ingin semua informasi tentang Evan Cristian." Suara Elang terdengar dingin. "Termasuk seluruh transaksi bisnisnya."
Ia berhenti sejenak. "Dan selidiki juga Carolin Baskara."
[Artis itu?]
"Ya."
"Aku ingin tahu semuanya. Tidak peduli berapa biaya yang dibutuhkan."
[Baik, Tuan.]
Sambungan telepon berakhir. Elang kembali menatap Amelia. Kali ini dengan tatapan yang jauh lebih gelap.
Malam mulai larut.
Ruangan itu hanya diterangi lampu redup di sudut kamar. Amelia masih tertidur, namun tidurnya tidak tenang. Air mata kembali mengalir dari sudut matanya.
Kepalanya bergerak pelan di atas bantal.
"Jangan..." Suara lirih itu membuat Elang langsung menoleh. "Jangan bawa dia pergi..."
Hati Elang terasa sesak. "Amelia..."
Wanita itu menggeleng dalam tidurnya.
"Evan ... jangan ambil bayiku ... tolong..."
Elang menggenggam tangan Amelia. Tangannya terasa dingin.
"Amelia." Suara Elang terdengar lembut. "Aku di sini."
Namun, Amelia terus mengigau. Air matanya semakin banyak mengalir.
"Bayiku ... tolong kembalikan bayiku..."
Elang menundukkan kepala. Ia bisa membeli rumah sakit ini. Ia bisa menghancurkan perusahaan siapa pun. Tetapi ia tidak bisa menghapus rasa sakit Amelia.
"Bangunlah." Elang menggenggam tangannya lebih erat. "Amelia..."
Perlahan kelopak mata wanita itu bergerak. Beberapa detik kemudian terbuka. Pandangan kosongnya langsung bertemu dengan Elang.
"Elang..."
"Ya."
Air mata kembali memenuhi mata Amelia. Seolah semua kejadian itu kembali terulang di kepalanya. Tubuhnya bergerak hendak duduk. Namun, rasa sakit membuatnya meringis.
"Pelan-pelan," Elang membantu menopang tubuhnya. Lalu menaruh bantal di belakang punggungnya. Amelia menundukkan kepala. Beberapa saat hanya terdengar suara isak tangis pelan.
Sampai akhirnya ia mulai bercerita. Tentang pertemuannya dengan Evan. Tentang perasaan yang dipendam sejak SMA. Tentang perusahaan yang perlahan diambil alih. Tentang buku nikah palsu. Tentang kebohongan yang selama ini dipercayainya. Tentang bayi yang dikandungnya selama sembilan bulan.
Semakin lama Elang mendengar. Semakin keras rahangnya mengatup. Urat-urat di tangannya mulai menegang. Amarah yang ia tahan sejak tadi hampir meledak. Namun, ia tetap diam. Membiarkan Amelia mengeluarkan seluruh rasa sakitnya.
Saat cerita itu berakhir. Amelia menatap Elang dengan mata merah dan sembab.
"Tolong aku..." Suara wanita itu terdengar pecah.
Elang langsung menatapnya.
"Aku ingin membalas semua pengkhianatan Evan." Air mata kembali jatuh.
"Aku ingin membuatnya menerima akibat dari semua yang dia lakukan. Tolong bantu aku, Elang."
Pria itu terdiam. Beberapa saat kemudian ia bertanya pelan.
"Bagaimana aku bisa membantumu?"
Amelia mengangkat wajahnya. Ada sesuatu yang berbeda dalam sorot matanya.
"Aku ingin masuk ke keluarga itu."
Elang mengernyit. "Masuk?"
"Aku ingin berada di dekat putriku. Sebagai pengasuhnya..."
Elang langsung menggeleng. "Itu mustahil, Evan mengenalmu. Bahkan, Carolin juga. Mereka tidak akan pernah menerima keberadaanmu di dekat bayi itu."
Namun, Amelia sudah memikirkan semuanya. Ia menggenggam erat selimut di atas pangkuannya.
"Aku akan melakukan operasi plastik."
Elang membeku. "Apa?"
"Aku akan mengubah wajahku. Aku akan mengubah identitasku. Aku akan menjadi orang yang sama sekali berbeda."
Mata Amelia mulai dipenuhi kebencian. "Kali ini mereka yang akan tertipu. Aku akan masuk ke rumah mereka. Mendapatkan kepercayaan mereka. Lalu menghancurkan semuanya."
Elang menatapnya lama. Ia ingin menolak. Ingin menghentikan rencana gila itu. Karena operasi plastik bukan keputusan kecil. Karena jalan balas dendam yang dipilih Amelia akan penuh bahaya. Namun, ketika melihat sorot mata wanita itu, dia tahu Amelia tidak akan mundur.
"Amelia..." Suara Elang terdengar berat. "Apakah kamu yakin?"
"Aku sangat yakin."
"Tidak ada jalan kembali setelah ini."
"Aku tidak ingin kembali." Amelia menjawab tanpa ragu. "Aku hanya ingin mereka membayar semuanya."
Keheningan kembali memenuhi ruangan. Beberapa saat kemudian Elang mengembuskan napas panjang.
Lalu mengangguk. "Baik."
Mata Amelia langsung membesar.
"Aku akan membantumu."
Air mata kembali mengalir di wajah wanita itu.
Elang berdiri dari kursinya. Tatapannya menjadi tegas. "Aku akan mengurus semuanya. Termasuk keberangkatanmu ke Berlin. Dan setelah kamu kembali..."
Pria itu menatap Amelia dalam-dalam.
"Kita akan membuat mereka menyesali hari ketika mereka menghancurkan hidupmu."
Amelia tersenyum, sorot matanya tajam.
Dua bulan telah berlalu.
Musim dingin di Berlin masih terasa menusuk hingga ke tulang. Di sebuah rumah sakit swasta yang terkenal akan teknologi bedah rekonstruksinya, seorang pria berdiri di depan ruang perawatan VIP sejak pagi.
Elang Anderson, Pria itu tampak gelisah. Tatapannya terus tertuju pada pintu kamar yang masih tertutup rapat.
Sudah dua bulan.
Dua bulan sejak Amelia menjalani prosedur operasi plastik yang panjang dan melelahkan.
Dua bulan pula Elang hampir tidak pernah meninggalkan rumah sakit itu. Bahkan, beberapa kali dokter memintanya pulang untuk beristirahat. Namun, ia selalu menolak karena di balik pintu itu terdapat seseorang yang telah berjanji akan ia lindungi.
Seseorang yang hidupnya telah dihancurkan oleh pengkhianatan.
"Kamu terlihat lebih gugup daripada pasiennya." Suara seorang dokter membuat Elang menoleh.
Dokter Hans Müller tersenyum tipis sambil memeriksa berkas medis. Dokter Hans, adalah salah satu dokter keluarga Vasillo yang dipercayakan oleh Elang, mampu melakukan operasi besar ini.
Elang berdehem pelan. "Aku hanya ingin memastikan semuanya berjalan lancar."
Dokter terkekeh. "Operasinya berhasil. Itu sudah kukatakan berkali-kali."
"Tetap saja."
Dokter menggeleng pelan. "Tuan Elang, pasien Anda pulih jauh lebih cepat dari perkiraan kami. Bekas operasi hampir sempurna. Hari ini perbannya bisa dilepas."
Jantung Elang mendadak berdegup lebih cepat. Hari yang ditunggu, akhirnya tiba juga. Selama dua bulan terakhir, Amelia selalu menutupi wajahnya dengan perban. Ia hanya bisa melihat matanya. Hari ini akan menjadi pertama kalinya ia melihat hasil akhir operasi tersebut.
Entah mengapa, perasaan aneh muncul di dalam dadanya. Perasaan yang sulit dijelaskan. Ia senang karena Amelia akhirnya mendapatkan kesempatan memulai hidup baru.
Namun, di sisi lain ada sesuatu yang membuatnya tidak tenang. Karena setelah hari ini, wajah Amelia yang dikenalnya selama bertahun-tahun akan benar-benar hilang. Digantikan oleh wajah baru.
"Apakah kamu menyesal?" tanya dokter tiba-tiba.
Elang mengernyit. "Menyesal?"
"Membiarkannya melakukan operasi ini."
Pria itu terdiam, tatapannya kembali tertuju pada pintu kamar. Sesaat bayangan Amelia muncul di kepalanya. Wanita yang menangis hingga kehilangan kesadaran di rumah sakit. Wanita yang memohon agar bayinya dikembalikan.
Wanita yang kehilangan keluarga, cinta, dan warisan orang tuanya dalam waktu bersamaan.
Perlahan Elang menggeleng. "Tidak."
Mungkin ada sebagian dirinya yang ingin menghentikan Amelia saat itu. Mungkin ada sebagian dirinya yang ingin membawa wanita itu jauh dari semua masalah dan memulai hidup baru. Namun, ia tahu. Amelia tidak akan pernah bisa melupakan semuanya.
Tidak selama Evan dan Carolin masih hidup dengan bahagia. Tidak selama putrinya berada di tangan mereka. Tidak selama keadilan belum ditegakkan.
"Aku hanya khawatir."
Dokter mengangguk mengerti. "Itu wajar. Tapi terkadang seseorang harus kehilangan dirinya terlebih dahulu sebelum menemukan siapa dirinya sebenarnya."
Elang terdiam.
Beberapa menit kemudian.
Seorang perawat keluar dari kamar. "Dokter."
Dokter Hans langsung berdiri. "Kita bisa memulainya."
Jantung Elang kembali menegang. Tanpa sadar kedua tangannya mengepal. Ia mengikuti dokter memasuki ruangan. Amelia duduk di atas ranjang. Tubuhnya tampak lebih sehat dibanding dua bulan lalu. Warna wajahnya tidak lagi sepucat saat pertama kali datang ke Berlin.
Namun, sorot matanya berbeda. Tidak ada lagi kelembutan yang dulu selalu terlihat. Kini hanya tersisa ketenangan yang dingin. Tatapan seorang wanita yang telah kehilangan segalanya.
Amelia menoleh ketika melihat Elang masuk. Senyum tipis muncul di bibirnya.
"Kau datang."
"Tentu." Jawaban Elang terdengar cepat.
Amelia terkekeh pelan. Sudah lama sekali ia tidak tertawa. Meski hanya sebentar. Dokter mulai membuka perban yang membalut wajahnya. Lapisan demi lapisan perban mulai dilepas.
Jantung Elang berdetak semakin keras. Bahkan, dirinya sendiri tidak mengerti kenapa ia segugup ini. Mungkin karena setelah hari ini tidak akan ada jalan kembali. Mungkin karena setelah hari ini Amelia Hartono akan menghilang dari dunia.
Beberapa menit kemudian.
Perban terakhir akhirnya terlepas.
Dokter tersenyum puas. "Operasinya sempurna."
Amelia menahan napas. Begitu pula Elang, perlahan wanita itu menoleh ke arah cermin yang berada di samping tempat tidur.
Dan untuk pertama kalinya, dia melihat wajah barunya. Mata Amelia langsung membesar. Tangannya terangkat menyentuh pipinya sendiri. Tidak ada lagi wajah yang selama ini dikenalnya. Tidak ada lagi sosok Amelia Hartono yang pernah ditipu dan dihancurkan.
Di dalam cermin berdiri wanita lain. Wanita yang lebih dewasa. Air mata perlahan memenuhi matanya. Bukan karena sedih, melainkan karena ia sadar sesuatu. Amelia Hartono benar-benar telah mati. Wajah barunya kini, akan menjadi mimpi buruk bagi Evan Cristian dan Carolin Baskara.
Sementara itu, Elang hanya terdiam. Tatapannya terpaku pada wajah baru Amelia. Namun, satu hal yang dia tahu wajah yang membuatnya jatuh cinta setiap saat kini benar-benar hilang, sekali lagi Elang kehilangan sosok Amelia dari wajahnya.
Sampai akhirnya Amelia menoleh ke arahnya. Mata mereka bertemu. "Bagaimana?" Suara wanita itu terdengar pelan.
Elang terdiam beberapa detik. Lalu tersenyum tipis.
"Kamu akan membuat mereka tidak pernah mengenalimu."
Amelia menatap pantulan dirinya sekali lagi. Tatapannya perlahan berubah dingin.
"Bagus." Ia mengepalkan tangannya.
Keesokan paginya.
Sinar matahari menembus jendela kamar perawatan VIP tempat Amelia menjalani masa pemulihan pasca operasi plastik.
Wanita itu berdiri di depan cermin. Perban di wajahnya telah dilepas sehari sebelumnya. Meski masih terlihat sedikit pembengkakan di beberapa bagian, hasil operasinya sudah tampak jelas. Tak ada lagi sosok Amelia Hartono yang dulu dikenal banyak orang.
Kini yang terlihat adalah seorang wanita dengan wajah baru. Wajah yang akan menjadi senjata dalam rencana balas dendamnya.
"Kamu yakin mau pulang hari ini?" Suara Elang membuat Amelia menoleh. Pria itu sedang duduk di sofa dekat ranjang pasien sambil memperhatikannya.
Amelia mengangguk pelan. "Dokter bilang wajahku akan pulih sempurna sekitar seminggu lagi."
Ia kembali menatap pantulan dirinya di cermin.
"Selama seminggu itu aku bisa mempersiapkan semuanya di Jakarta."
Elang mengamatinya beberapa saat. Sejak operasi selesai, Amelia memang terlihat jauh lebih tenang.
"Aku sudah menyiapkan semuanya."
Amelia menoleh.
"Termasuk identitas barumu." Elang mengambil sebuah map hitam dari atas meja. Lalu menyerahkannya kepada Amelia. Wanita itu membuka map tersebut perlahan.
Di dalamnya terdapat kartu identitas, paspor, dokumen pendidikan, hingga riwayat pekerjaan yang telah disusun dengan sangat rapi.
Semua atas nama orang lain. Orang yang akan menggantikan Amelia Hartono.
"Aku tidak menyangka semuanya bisa selesai secepat ini."
"Aku punya tim yang sangat kompeten." Elang menjawab santai.
Amelia mengangguk pelan. Meski begitu, ia tetap merasa terharu. Sejak hari kehidupannya hancur, hanya Elang yang berdiri di sisinya. Hanya Elang yang tidak meninggalkannya.
Pria itu selalu ada tanpa meminta imbalan apa pun.
"Tidak perlu menatapku seperti itu."
Elang tiba-tiba berdeham, Amelia mengernyit.
"Seperti apa?"
"Seperti orang yang mau menangis."
Amelia terkekeh pelan. Suasana di antara mereka terasa sedikit ringan. Namun, ekspresi Elang kembali serius.
"Ada satu hal lagi."
"Apa?"
"Keluarga Baskara."
Mendengar nama itu, senyum Amelia langsung menghilang. Tangannya tanpa sadar mengepal.
"Mereka kenapa?"
"Informasi yang kudapat kemarin sudah dikonfirmasi."
Elang membuka tablet di tangannya.
"Mereka sedang mencari ibu susu untuk cucu pertama keluarga Baskara."
Jantung Amelia langsung berdebar. Tanpa sadar tangannya menyentuh dadanya sendiri. Anak yang telah dikandungnya selama sembilan bulan. Anak yang direnggut dari pelukannya. Masih berada di keluarga itu. Masih hidup di bawah atap yang sama dengan Evan dan Carolin.
"Bagaimana kondisi ASI-mu?" Tanya Elang tiba-tiba.
Namun, begitu pertanyaan itu keluar, pria itu langsung memalingkan wajah. Ujung telinganya terlihat sedikit memerah. Amelia berkedip beberapa kali. Lalu, baru menyadari apa yang ditanyakan Elang.
Sedetik kemudian wajahnya ikut memanas.
"Emm..." Ia berdehem pelan.
"Masih lancar."
Elang tetap tidak menoleh. "Oh."
Suasana mendadak canggung. Amelia bahkan hampir tertawa melihat reaksi pria itu.
"Aku masih rutin melakukan pompa ASI." Jelasnya pelan. "Jadi produksinya belum berhenti."
Baru kali ini Elang berani menoleh lagi. "Itu bagus."
Amelia mengangguk. "Kalaupun nanti berkurang, aku bisa berkonsultasi dengan dokter dan mengonsumsi suplemen yang direkomendasikan untuk membantu mempertahankan produksinya."
Elang tampak lega mendengar jawaban tersebut.
"Kalau begitu peluangmu masuk ke keluarga Baskara jauh lebih besar."
Amelia menatap keluar jendela. Pikirannya melayang pada bayi perempuan yang telah dirampas darinya.
"Aku akan mendapatkannya kembali." Gumam Amelia pelan.
Elang mendengarnya, tetapi ada satu hal yang Elang takuti, Amelia kembali jatuh cinta pada Evan Cristian.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!