Indonesia
NovelToon NovelToon

Dari Rival Jadi Ibu Tiri

BAB 1. MENIKAHLAH DENGAN SAYA

"Dasar anak beasiswa sok pintar." Suara itu menggema di dalam ruang kelas yang mulai sepi setelah dosen keluar. Beberapa mahasiswa yang masih berada di sana langsung menoleh ke arah sumber suara.

Rebeca Alexander berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada. Wajahnya yang cantik dihiasi senyum meremehkan.

Di hadapannya, Cika tetap duduk tenang sambil merapikan buku-bukunya ke dalam tas. "Nilai kamu memang bagus, Cika," ujar Rebeca dengan nada mengejek. "Tapi jangan terlalu bangga. Bagaimanapun juga, kamu dan aku berasal dari dunia yang berbeda." Beberapa teman Rebeca terkekeh pelan.

"Maksud kamu?" tanya Cika tanpa menoleh.

Rebeca tersenyum miring. "Maksudku, meskipun kamu belajar sampai tidak tidur seminggu pun, kamu tetap tidak akan pernah sejajar denganku."

Kali ini Cika menghentikan kegiatannya. Perlahan ia menoleh dan menatap Rebeca dengan tatapan datar. "Sudah selesai?"

Pertanyaan itu membuat senyum Rebeca sedikit memudar. "Apa?"

"Aku tanya, sudah selesai menghina latar belakang keluargaku?"

Rebeca mendengus. "Kamu tersinggung?"

Cika berdiri. Tingginya hampir sama dengan Rebeca, membuat tatapan mereka sejajar. "Tidak."

"Bohong."

"Aku hanya merasa kasihan."

Alis Rebeca terangkat. "Kasihan padaku?"

"Iya."

Suasana kelas seketika menjadi hening.

Tak ada yang berani menyela pertengkaran dua mahasiswi yang memang terkenal sebagai rival terbesar di kampus Satya Wisesa itu.

Rebeca adalah putri tunggal pemilik perusahaan properti dan perhotelan ternama, cantik, populer, dan memiliki banyak pengikut.

Sementara Cika adalah mahasiswi penerima beasiswa yang berasal dari keluarga sederhana. Namun kecerdasan dan prestasinya membuat namanya sering mengalahkan Rebeca.

Dan itulah yang paling tidak bisa diterima oleh gadis kaya tersebut.

"Berani sekali kamu bilang kasihan padaku."

Cika mengangkat bahu. "Kenapa tidak? Kamu punya uang, punya fasilitas, punya kehidupan yang jauh lebih mudah dariku. Tapi setiap kali melihat namaku berada di atasmu, kamu langsung kehilangan ketenangan."

Wajah Rebeca berubah dingin. "Jaga ucapanmu."

"Kenapa? Takut itu jadi kenyataan?"

Tangan Rebeca terangkat, tetapi sebelum mengenai wajah Cika, gadis berkuncir kuda itu lebih dulu menangkap pergelangan tangannya.

Semua orang terkejut. Tidak ada yang pernah berani melakukan itu kepada Rebeca Alexander.

Cika menatapnya tajam. "Satu hal yang harus kamu ingat, Rebeca." Suara Cika rendah namun penuh tekanan. "Aku memang tidak sekaya kamu. Aku memang tidak memiliki nama belakang seterkenal kamu. Tapi jangan pernah berpikir kamu bisa menamparku hanya karena kamu punya banyak uang."

Rebeca mencoba menarik tangannya. "Lepaskan!"

"Berjanjilah untuk belajar menggunakan mulutmu untuk berbicara, bukan tanganmu untuk menyerang."

"Kamu-"

Cika melepaskan tangan Rebeca dengan kasar.

Rebeca mundur satu langkah karena terkejut.

"Cika!" Suara seorang mahasiswi, Mili, sahabat Rebeca, langsung menghampiri. "Kamu sudah keterlaluan!"

Cika memasukkan bukunya ke dalam tas. "Katakan pada sahabatmu, jangan mencari masalah jika tidak siap mendapatkan balasan." Setelah mengatakan itu, Cika berjalan pergi meninggalkan kelas.

Rebeca menatap punggung Cika dengan amarah yang membara. "Suatu hari nanti aku akan membuatnya berlutut di depanku."

Mili menepuk bahu sahabatnya. "Tentu saja. Siapa dia berani melawanmu?"

Rebeca mengepalkan tangan. "Cuma gadis miskin yang beruntung mendapat beasiswa. Dia lupa siapa aku."

Sementara itu, di luar kampus, Cika berjalan menuju halte bus. Tidak seperti mahasiswa lain yang datang dengan mobil pribadi, Cika terbiasa menggunakan kendaraan umum. Ia hidup hanya bersama adiknya, Sinta yang masih berumur delapan tahun.

Sejak ayahnya meninggal dan ibunya menikah lagi serta punya keluarga baru, kehidupan Cika dan Sinta berubah. Cika harus banting tulang menghidupi dirinya dan adiknya yang mengidap penyakit kanker hati, karena ibunya kini sama sekali tak peduli pada mereka.

Ponselnya berdering. Sebuah pesan dari dokter yang menangani adiknya muncul.

Dokter Arman: Cika, kalau sudah pulang kuliah, segera ke rumah sakit. Ada hal yang ingin saya bicarakan.

Jantung Cika langsung berdentam hebat. Hatinya mulai tak enak. "Baik, Dok. Saya ke sana sekarang."

***

Di sisi lain kota, di sebuah gedung perusahaan megah, seorang pria paruh baya berdiri menatap jendela besar di ruang kerjanya. Tatapan dan rahangnya tetap tegas, meskipun usianya tak lagi muda, pesonanya masih terlihat jelas dan tak kalah dari pria muda.

"Rebeca ..." gumamnya pelan. Ponselnya berdering. Ia melihat nama yang muncul di layar. "Dokter Arman." Ia segera menjawab panggilan itu. "Selamat sore, Dok."

"Selamat sore, Pak Robinson. Saya hanya ingin memberitahukan mengenai kondisi Sinta, adiknya Cika. Penyakitnya harus segera ditangani. Dia harus segera melakukan kemoterapi. Semakin lama ditunda, risikonya semakin besar."

Tatapan Robinson berubah serius. "Saya mengerti."

"Saya tahu Bapak ingin membantu, tetapi Cika menolak bantuan secara cuma-cuma."

Robinson terdiam. "Ya, itu memang benar, Dok."

"Barusan saya juga sudah menghubungi Cika. Menyuruhnya ke sini untuk membicarakan tentang keadaan Sinta. Dan dia sedang menuju ke sini."

Robinson mengangguk. "Baik, Dok. Terima kasih atas informasinya. Saya akan ke sana sekarang."

Dokter Arman menutup panggilan itu.

Robinson memasukan ponselnya ke saku jas. Matanya kembali menatap bangunan tinggi yang berjejer di depan sana. Ingatannya terlempar ke beberapa bulan yang lalu, saat ia mengalami serangan jantung ringan ketika sedang meninjau lokasi untuk pembangunan hotel baru, Cika adalah orang pertama yang menolongnya. Bukan hanya membawa dirinya ke rumah sakit, gadis itu juga menemaninya hingga sekretarisnya datang.

Setelah mengenal Cika dan adiknya, Robinson mengetahui betapa berat kehidupan yang mereka jalani.

Namun setiap kali ia menawarkan bantuan, Cika selalu menolak. Harga diri gadis itu terlalu tinggi.

Sebuah ide kembali terlintas di pikirannya. Ide yang selama beberapa hari terakhir terus menghantuinya.

Sebuah keputusan yang mungkin akan mengubah kehidupan semua orang.

Termasuk putrinya.

***

Cika berlari kecil menyusuri lorong rumah sakit dengan napas yang sedikit terengah. Tas kuliahnya masih menggantung di bahu, bahkan ia belum sempat pulang untuk mengganti pakaian. Pikirannya terus dipenuhi berbagai kemungkinan buruk sejak menerima pesan dari Dokter Arman.

"Tuhan, jangan sampai terjadi apa-apa dengan Sinta. Tolong, jangan ..." batinnya berulang kali.

Dengan langkah cepat, Cika berhenti di depan pintu ruangan dokter Arman. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan diri, lalu mengetuk pintu.

"Masuk."

Cika membuka pintu perlahan. "Selamat sore, Dok," sapanya dengan suara yang berusaha ia buat tenang.

Dokter Arman yang sedang melihat beberapa berkas langsung menoleh. Wajahnya menunjukkan rasa iba. "Sore, Cika. Duduklah."

Cika menurut. Namun dari raut wajah dokter, ia tahu bahwa kabar yang akan disampaikan bukanlah sesuatu yang ringan. "Bagaimana keadaan Sinta, Dok?" tanyanya tanpa bisa menyembunyikan kecemasan.

Dokter Arman meletakkan berkas medis di meja. "Cika, saya akan berbicara secara jujur. Kondisi Sinta mengalami perkembangan yang harus segera ditangani. Terapi yang selama ini dijalani belum cukup menahan penyebaran penyakitnya."

Wajah Cika memucat. "Maksud Dokter?"

"Sinta harus segera menjalani kemoterapi."

Kalimat itu seperti palu yang menghantam kepala Cika. Ia menunduk. Kedua tangannya langsung menggenggam erat ujung rok kuliahnya.

"Kemo ..." bisiknya lirih.

Dokter Arman mengangguk pelan. "Semakin cepat dilakukan, semakin besar peluang Sinta untuk sembuh. Jika terlalu lama ditunda, risikonya akan semakin besar."

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Cika. "Berapa biayanya, Dok?"

Dokter Arman terdiam sejenak. "Sebagian biaya memang akan ditanggung oleh BPJS. Namun tetap ada kebutuhan lain yang harus dipersiapkan. Mulai dari obat-obatan tertentu yang mungkin tidak sepenuhnya ditanggung, kebutuhan nutrisi Sinta, biaya untuk kontrol rutin, serta keperluan lain selama proses pengobatan."

Setiap kalimat yang keluar dari mulut dokter terasa seperti menambah beban di pundak Cika.

Selama ini ia sudah bekerja banting tulang, dari mengajar les anak-anak sepulang kuliah dan menerima berbagai pekerjaan lain demi memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Namun untuk pengobatan sebesar itu, Cika tidak tahu harus mencari uang dari mana. "Kalau saya bekerja lebih banyak ..." suaranya bergetar. "Kalau saya mengambil lebih banyak murid les ..."

"Cika," potong Dokter Arman lembut. "Kita tidak punya waktu sebanyak itu."

Kalimat tersebut membuat pertahanan Cika runtuh. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh. "Saya sudah berusaha mencari uang sebanyak mungkin, Dok ..." suaranya pecah. "Tapi uang saya masih sedikit, dan saya tahu bahwa itu tidak cukup untuk biaya pengobatan Sinta." Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Apa yang harus saya lakukan, Dok? Saya bingung."

Dokter Arman hanya bisa terdiam. Sebagai dokter, ia sudah berkali-kali menyaksikan keluarga pasien berada dalam situasi sulit seperti ini. Namun melihat Cika yang masih sangat muda memikul beban sebesar ini, hatinya ikut tersentuh. "Masih ada satu cara, Cika."

Cika mengangkat wajahnya dengan mata merah. "Cara apa, Dok?"

Dokter Arman menghela napas perlahan. "Ada seseorang yang bersedia membantu biaya pengobatan Sinta."

Ekspresi Cika langsung berubah. "Maksud Dokter, Pak Robinson Alexander?"

Dokter Arman tidak terkejut mendengar tebakan itu. "Kamu sudah tahu."

Cika tersenyum tipis, tetapi senyuman itu penuh kepahitan. "Beliau sudah beberapa kali menawarkan bantuan. Dan saya sudah beberapa kali menolaknya."

"Cika, ini bukan saatnya mempertahankan gengsi."

Tatapan Cika langsung menajam. "Ini bukan soal gengsi, Dok." Dokter Arman terdiam. "Kalau saya menerima uang begitu saja, apa bedanya saya meminta belas kasihan?" lanjut Cika. "Pak Robinson sudah sangat baik kepada saya dan Sinta. Saya tidak ingin memanfaatkan kebaikan beliau."

"Tapi ini demi Sinta."

Satu kalimat itu membuat Cika membisu. Bibirnya bergetar.

Belum sempat Cika menanggapi, terdengar suara ketukan dari balik pintu.

Dokter Arman dan Cika menoleh bersamaan.

"Masuk." Suara dokter Arman mengudara.

Pintu terbuka perlahan. Seorang pria berjas hitam masuk dengan langkah tenang dan wibawa yang begitu kuat.

Cika langsung mengenal sosok itu. "Pak Robinson ..." ucapnya pelan.

Robinson menatap Cika dengan sorot mata yang penuh kepedulian. "Saya sudah mendengar semuanya, Cika. Seperti biasa, saya ingin memberikan bantuan."

Cika segera menghapus air matanya.

"Pak, saya-"

"Tidak perlu menolak dulu." Suara Robinson menghentikannya. Pria itu melangkah mendekat, lalu duduk di kursi sebelahnya. "Kali ini saya datang bukan hanya untuk menawarkan bantuan."

Kalimat itu membuat Cika mengernyit. "Maksud Bapak?"

Tatapan Robinson berubah serius. "Saya datang dengan sebuah tawaran."

"Tawaran?"

"Ya." Robinson menarik napas panjang.

"Sebuah perjanjian yang akan menyelamatkan Sinta ... tetapi juga akan mengubah hidupmu selamanya."

Cika menatapnya dengan bingung, "Maksud Bapak?"

Robinson lalu melempar pandangan pada dokter Arman. "Dok, saya minta izin untuk berbicara berdua dengan Cika," imbuhnya.

"Silakan, Pak. Pergilah, Cika."

"Saya permisi, Dok." Cika pun mengikuti langkah Robinson keluar dari ruangan Dokter Arman. Mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit hingga tiba di taman kecil yang berada di sisi gedung. Suasana sore yang seharusnya menenangkan justru tidak mampu mengurangi kegelisahan dalam hati Cika.

Gadis itu berdiri dengan kedua tangan saling menggenggam. Matanya menatap pria paruh baya di hadapannya dengan penuh tanda tanya. "Pak Robinson ..." panggilnya pelan. "Sebenarnya tawaran apa yang Bapak maksud?"

Robinson terdiam beberapa saat. Tatapannya mengarah ke pepohonan di taman itu, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan sesuatu yang berat. Ia kembali menatap Cika. "Menikahlah dengan saya."

Seolah dunia berhenti berputar. Mata Cika langsung membulat sempurna. Napasnya tercekat. Jantungnya berdetak begitu keras hingga terasa ingin keluar dari dadanya. "Apa?" Suaranya nyaris tak terdengar.

BAB 2. PILIHAN YANG SULIT

"Saya ingin kamu menjadi istri saya, Cika." Kali ini tidak ada keraguan dalam kalimat Robinson.

Cika mundur selangkah. "Pak ..." ucapnya terbata-bata. "Bapak sedang bercanda, kan?"

"Tidak."

"Ini tidak lucu, Pak."

"Saya juga tidak sedang membuat lelucon."

Cika menggeleng cepat. Kepalanya terasa berputar. Dari semua kemungkinan yang ia bayangkan tentang bantuan Robinson, tidak pernah sekalipun terlintas dalam pikirannya bahwa pria itu akan meminta dirinya menjadi istrinya. "Bapak ... Bapak ini ayahnya Rebeca," ucap Cika dengan suara bergetar. "Rival saya di kampus."

"Saya tahu."

"Bapak juga jauh lebih tua dari saya."

"Saya tahu."

"Bapak adalah pengusaha besar, sedangkan saya hanya gadis biasa yang hidup pas-pasan."

"Saya juga tahu."

Jawaban Robinson yang begitu tenang justru membuat Cika semakin bingung. "Kalau Bapak tahu semua itu, kenapa Bapak mengajukan permintaan seperti ini?"

Robinson menghela napas panjang. "Karena saya membutuhkan seorang istri."

Cika terdiam. Kalimat itu terdengar begitu dingin, seperti sebuah transaksi.

Dan Robinson memang tidak menutupinya. "Saya tidak akan berbohong. Saya tidak meminta ini karena cinta."

Perasaan Cika semakin campur aduk. "Saya juga tidak ingin menikahi Bapak karena uang."

"Karena itulah saya memilihmu."

Cika tertegun.

Robinson melanjutkan, "Saya sudah mengenalmu beberapa bulan terakhir. Saya tahu bagaimana kamu menjaga harga dirimu. Saya tahu kamu pekerja keras, bertanggung jawab, dan menyayangi adikmu dengan tulus."

"Tapi tetap saja, Pak ..."

"Dengarkan saya sampai selesai." Cika akhirnya diam. "Jika kamu bersedia menikah dengan saya, saya akan menanggung seluruh pengobatan Sinta. Bukan hanya kemoterapinya, tetapi seluruh kebutuhan medisnya sampai dia benar-benar mendapatkan penanganan terbaik, sampai Sinta sembuh."

Mata Cika langsung berkaca-kaca saat nama adiknya disebut.

Sinta.

Satu-satunya keluarga yang masih ia miliki.

Namun di sisi lain ... apakah ia benar-benar harus menikah dengan pria yang lebih pantas menjadi ayahnya sendiri?

Bahkan pria itu adalah ayah dari wanita yang setiap hari menghinanya di kampus.

"Kenapa harus saya, Pak?" tanya Cika lirih. "Banyak wanita yang lebih pantas menjadi istri Bapak."

Senyum kecil muncul di wajah Robinson, tetapi tidak sampai ke matanya. "Karena wanita-wanita itu menginginkan kekayaan dan nama besar keluarga Alexander." Lalu ia menatap Cika dalam-dalam. "Sedangkan kamu adalah satu-satunya wanita yang terus menolak semua yang saya berikan."

Cika menggigit bibir bawahnya. Hatinya terasa sesak. Tawaran itu terdengar seperti jalan keluar untuk menyelamatkan Sinta. Namun harga yang harus dibayarnya juga sangat besar.

"Satu hal lagi, Cika. Alasan saya memilih kamu menjadi istri saya, karena kamu gadis yang berani. Punya prinsip dan berani melawan pembulian. Saya tahu semuanya tentang Rebeca yang selalu membuli kamu. Tapi kamu berani melawan dia. Saya berharap, dengan saya menikahi kamu ... kamu bisa sedikit demi sedikit merubah perangai Rebeca yang arogan, angkuh dan merasa paling berkuasa. Saya ingin dia menjadi anak yang baik dan bisa menghormati orang lain tanpa memandang status."

Cika lagi-lagi tersentak. Ia tertegun beberapa detik. "Saya tidak bisa menjawab sekarang, Pak."

Robinson mengangguk pelan, seolah sudah menduga jawabannya. "Saya tidak akan memaksa." Ia mengeluarkan sebuah kartu nama dari saku jasnya, lalu memberikannya kepada Cika. "Tapi ingat satu hal." Cika menatap kartu itu dengan tangan gemetar.

"Dokter bilang waktu Sinta tidak banyak. Jadi jangan terlalu lama mengambil keputusan." Kalimat itu menusuk tepat ke dalam hati Cika.

Robinson pun berjalan pergi meninggalkan taman setelah Cika menerima kartu namanya.

Cika tetap berdiri di tempatnya. Matanya menatap kosong ke depan. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.

Di satu sisi ada harga dirinya. Di sisi lain ada nyawa adiknya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Cika merasa benar-benar tidak memiliki pilihan.

"Menikah dengan Robinson Alexander. Menjadi ibu tiri Rebeca. Menjalani kehidupan yang selama ini sangat jauh dari duniaku. Apakah aku sanggup?" batinnya kacau.

Semua itu terasa seperti mimpi yang mustahil. Namun ketika mengingat wajah Sinta, dadanya kembali terasa sesak.

Cika mengusap air matanya cepat. Apa pun masalah yang sedang ia hadapi, ia tidak ingin Sinta melihatnya hancur. Ia menarik napas panjang, lalu melangkahkan kaki menuju ruang rawat adiknya.

Semua usaha untuk terlihat kuat langsung runtuh saat pintu kamar terbuka.

Di atas ranjang rumah sakit, seorang gadis kecil dengan tubuh yang semakin kurus terbaring sambil membaca buku cerita. Begitu melihat Cika, wajah pucat itu langsung bersinar. "Kakak!" Sinta tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya."Sinta kangen. Kakak lama banget datangnya."

Satu kalimat sederhana itu langsung menghancurkan benteng pertahanan Cika. Mata Cika memanas. Ia berjalan cepat mendekati ranjang dan menggenggam tangan kecil adiknya. "Sinta ..." Suaranya bergetar. Baru beberapa jam tidak bertemu, tetapi Cika merasa kondisi adiknya semakin memburuk.

Pipi Sinta yang dulu berisi kini tampak cekung. Kulitnya terlihat pucat, dan rambut yang dahulu panjang serta indah kini semakin menipis akibat pengobatan yang dijalaninya. Melihat itu semua, air mata Cika tidak lagi bisa ditahan. Butiran bening itu jatuh satu per satu ke pipinya.

Sinta yang melihat kakaknya menangis langsung panik. "Kakak? Kenapa menangis?" tanyanya polos. Tangan kecilnya terangkat untuk menghapus air mata di wajah Cika.

Cika langsung menggenggam tangan itu dan menciumnya. "Tidak apa-apa."

"Bohong. Kakak pasti sedih karena Sinta sakit."

Kalimat polos itu membuat hati Cika seperti diremas. "Jangan bicara begitu."

"Tapi benar, kan?" bisik Sinta. "Sinta tahu Sinta merepotkan Kakak."

"Jangan pernah bilang seperti itu!" potong Cika dengan cepat. Nada suaranya yang meninggi membuat Sinta terkejut. Cika langsung menyesal. Ia mengusap pipi adiknya dengan lembut. "Maaf, Sayang. Kakak tidak bermaksud membentakmu."

Sinta menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca. "Kakak capek ya karena harus mengurus Sinta, kuliah, dan bekerja. Sinta beban ya, Kak?"

Cika menggeleng kuat. "Dengarkan Kakak." Ia menggenggam kedua tangan Sinta. "Kakak nggak capek. Kamu bukan beban. Kamu adalah alasan Kakak tetap kuat sampai sekarang."

Air mata Sinta ikut jatuh. "Tapi Sinta takut, Kak."

Jantung Cika seperti berhenti sesaat. "Takut apa?"

Sinta menunduk. "Takut meninggalkan Kakak sendirian."

Kalimat itu membuat Cika benar-benar hancur. Ia langsung memeluk tubuh kecil adiknya dengan hati-hati, takut menyakitinya. "Jangan bicara seperti itu. Sinta akan sembuh."

"Tapi Dokter bilang Sinta harus menjalani pengobatan yang berat."

"Seberat apa pun, Kakak akan menemani kamu."

"Benarkah?"

Cika menutup mata. Air matanya terus mengalir. Di dalam hati, ia mengingat kembali perkataan Robinson.

"Saya akan menanggung seluruh biaya pengobatan Sinta."

Tangannya mengepal. Harga dirinya. Masa depannya. Kebahagiaannya.

Semua tiba-tiba terasa kecil dibandingkan nyawa adik yang berada dalam pelukannya saat ini. Cika mengusap rambut Sinta yang semakin tipis. "Percayalah pada Kakak."

Sinta tersenyum kecil. "Kakak akan membuat Sinta sembuh?"

Cika menahan isakannya. "Ya." Sebuah jawaban yang baru saja ia ucapkan menjadi janji terbesar dalam hidupnya.

***

Sebuah mobil mewah memasuki halaman kediaman keluarga Alexander. Gerbang besi yang menjulang tinggi terbuka perlahan, memperlihatkan rumah megah dengan arsitektur elegan yang menjadi simbol kekayaan dan kejayaan keluarga tersebut.

Robinson turun dari mobilnya. Wajahnya tampak lelah setelah melewati hari yang panjang. Namun, bukan urusan bisnis yang memenuhi pikirannya saat ini, melainkan tawaran yang baru saja ia ajukan kepada Cika.

Ia tahu keputusan itu akan mengubah banyak hal. Terutama hubungannya dengan putri satu-satunya.

Robinson menghela napas pelan sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah.

Di ruang televisi yang luas dan nyaman, ia melihat Rebeca sedang duduk di sofa sambil menatap layar tablet di tangannya. Gadis itu tampak serius, sesekali menggerakkan jarinya untuk menggulir sesuatu di layar. "Beca," panggil Robinson.

Gadis itu menoleh sekilas. "Papa sudah pulang."

"Iya." Robinson duduk di sofa yang berhadapan dengan putrinya. Untuk sesaat ia hanya menatap Rebeca. Ada rasa bersalah yang selalu muncul setiap kali melihat wajah putrinya itu.

Sejak kecil, ia memang terlalu sibuk membangun kerajaan bisnisnya. Setelah perceraian dengan ibunya Rebeca, ia semakin menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Ia memberikan semua fasilitas terbaik untuk putrinya, tetapi lupa memberikan satu hal yang tidak bisa dibeli dengan uang: waktu dan perhatian. "Bagaimana kuliahmu hari ini?"

Pertanyaan sederhana itu justru membuat Rebeca berhenti memainkan tabletnya. Ia menatap ayahnya dengan tatapan heran, lalu tersenyum tipis penuh sindiran. "Papa tumben tanya soal kuliahku." Robinson terdiam. "Biasanya juga Papa lebih sibuk dengan pekerjaan daripada mengurus aku."

Kalimat itu terdengar ketus, tetapi menyimpan luka yang selama ini dipendam Rebeca. "Beca, Papa hanya ingin tahu keadaanmu."

"Benarkah?" Gadis itu berdiri sambil membawa tabletnya. "Kalau memang peduli, seharusnya Papa sudah bertanya dari dulu, bukan baru sekarang."

"Rebeca-" Namun gadis itu tidak memberi kesempatan Robinson untuk melanjutkan.

"Aku capek. Mau ke kamar." Tanpa menunggu jawaban, Rebeca berjalan meninggalkan ruang televisi dan menaiki tangga menuju kamarnya.

Robinson hanya diam memandangi punggung putrinya yang semakin menjauh. Untuk sesaat, pria yang ditakuti banyak orang di dunia bisnis itu terlihat begitu rapuh. Ia menundukkan kepala dan mengusap wajahnya pelan. "Maafkan Papa, Beca," bisiknya lirih.

Ia tahu Rebeca tumbuh menjadi gadis yang keras kepala, angkuh, dan mudah meremehkan orang lain. Namun di balik semua itu, ada seorang anak yang merasa ditinggalkan oleh ayahnya sendiri. Dan kini, ia akan membuat keputusan yang mungkin membuat putrinya semakin membencinya.

Menikahi Cika. Musuh terbesar Rebeca di kampus.

Robinson menatap tangga yang baru saja dilalui putrinya. "Semoga Rebeca tidak marah saat nanti dia tahu kalau aku akan menikah lagi. Semoga dia tidak salah paham. Aku melakukan ini demi dia juga. Supaya dia bisa belajar banyak hal dari Cika. Terutama tentang perjuangan hidup yang tak mudah. Karena jika suatu saat nanti aku tiada, dia bisa jadi anak yang kuat dan mandiri. Dan yang paling penting ... dia bisa menghormati dan menghargai orang lain."

BAB 3. DEMI SINTA

Robinson masih berdiri di ruang televisi selama beberapa saat setelah kepergian Rebeca. Pandangannya kosong menatap tangga tempat putrinya menghilang.

Ia mengerti kemarahan Rebeca.

Selama bertahun-tahun, ia terlalu fokus membesarkan perusahaan hingga lupa bahwa putrinya juga membutuhkan seorang ayah, bukan hanya kartu kredit tanpa batas dan segala fasilitas mewah.

Dengan langkah berat, Robinson akhirnya beranjak menuju kamarnya yang berada di lantai dua, di sisi lain rumah. Kamar itu terpisah dari area kamar Rebeca, dengan tangga pribadi yang langsung terhubung ke sayap utama kediaman.

Sesampainya di dalam kamar yang luas dan elegan itu, Robinson melepaskan jasnya lalu menggantungnya di dekat lemari.

Suara notifikasi ponsel memecah keheningan. Robinson mengambil ponsel dari saku celananya. Saat melihat nama pengirim pesan tersebut, matanya sedikit melebar. "Cika." Suaranya nyaris memekik. Dengan cepat ia membuka pesan itu.

Cika: Pak Robinson, apakah Bapak punya waktu malam ini? Saya ingin bertemu dan membicarakan tawaran Bapak tadi sore.

Robinson terdiam beberapa detik. Ia sudah menduga Cika akan menghubunginya cepat atau lambat. Namun, ia tidak menyangka gadis itu mengambil keputusan untuk bertemu secepat ini.

Perlahan, ia mengetik balasan.

"Baik. Setelah makan malam, kita bertemu di Restoran Oshima. Saya akan memesan ruang VIP agar kita bisa berbicara dengan tenang."

Beberapa detik kemudian, tanda pesan telah terbaca. Robinson menatap layar ponselnya dengan wajah serius.

Malam ini kemungkinan akan menentukan segalanya.

Jika Cika menerima tawarannya, maka ia bukan hanya mendapatkan seorang istri. Tapi ia juga akan punya seseorang yang bisa mengawasi Rebeca sesuai rencananya.

Robinson menutup mata sejenak. "Aku harus bisa menghadapi kemarahan Rebeca." Ia membuang napas kasar. Lalu pergi ke kamar mandi.

***

Di rumah sederhananya, Cika duduk sendirian di tepi ranjang kecil di kamarnya. Lampu kamar yang redup membuat bayangan wajahnya terlihat semakin lelah.

Ponselnya masih berada dalam genggaman. Pesan terakhir dari Robinson terus ia tatap, seakan berharap kalimat di layar itu berubah dan memberinya jalan lain. Namun tidak ada. Tak ada keajaiban, atau pun kerabatnya yang datang membantu.

Tidak ada tangan yang mengulurkan bantuan tanpa imbalan.

Cika menutup mata dan menghela napas panjang untuk kesekian kalinya.

"Ini demi Sinta," bisiknya pelan. Kalimat itu terus ia ulang dalam hati, seperti sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusan yang akan diambilnya adalah keputusan yang benar. Bagaimanapun juga, ia sudah berusaha sekuat tenaga.

Sejak ayah mereka meninggal, dunia Cika seolah runtuh.

Ibunya yang tidak sanggup menjalani hidup susah memilih menikah lagi dengan pria lain dan memiliki keluarga baru. Awalnya Cika masih berharap wanita yang telah melahirkannya itu tetap menyayangi dirinya dan Sinta.

Namun kenyataan jauh lebih menyakitkan.

Ingatan Cika kembali pada hari saat ia datang ke rumah ibunya dengan wajah penuh harapan.

Hari ketika dokter mengatakan kondisi Sinta membutuhkan pengobatan yang lebih serius.

Dengan tangan gemetar, ia meminta bantuan.

"Bu, Sinta sakit. Aku mohon, bantu kami. Dia anak Ibu juga."

Namun yang ia dapatkan bukan pelukan. Bukan perhatian atau air mata seorang ibu yang khawatir pada anaknya.

Yang ia dapatkan hanyalah tatapan dingin. "Jangan datang lagi ke rumah ini, Cika. Kamu dan Sinta bukan tanggung jawab Ibu lagi. Ibu sudah punya keluarga sendiri."

Saat itu, dunia Cika benar-benar terasa berhenti. Wanita yang seharusnya menjadi tempatnya pulang justru menutup pintu di depan wajahnya.

Dan yang lebih menyakitkan, ibunya mengusir mereka seolah mereka adalah orang asing.

Cika membuka matanya. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh.

"Sinta hanya punya aku ..." bisiknya dengan suara bergetar. Ia teringat wajah adiknya di rumah sakit.

Tubuh kecil yang semakin kurus.

Wajah yang semakin pucat. Rambut yang mulai menipis karena perjuangan melawan penyakitnya.

Namun anak itu masih bisa tersenyum dan berkata bahwa ia tidak ingin menjadi beban. Memikirkan hal itu membuat hati Cika seperti diremas.

"Kalau aku harus mengorbankan kebahagiaanku agar Sinta bisa hidup, aku akan melakukannya." Kalimat itu keluar dengan mantap. Bukan karena ia tidak takut, karena ia tidak menyadari bahwa ia akan menikah dengan pria yang jauh lebih tua darinya. Dan bukan pula karena ia menginginkan harta keluarga Alexander.

Ia hanya seorang kakak yang tidak sanggup kehilangan satu-satunya keluarga yang masih ia miliki.

Cika menghapus air matanya, lalu berdiri dari tempat tidur. Ia membuka lemari dan menatap beberapa pakaian sederhana yang tergantung rapi.

Malam ini, ia akan bertemu Robinson.

Dan ia akan menyerahkan jawaban yang pasti akan mengubah seluruh jalan hidupnya. "Tuhan, lancarkan semuanya. Semoga pilihan yang kuambil tidak menimbulkan masalah di kemudian hari."

***

Di kediaman keluarga Alexander, suasana ruang makan yang luas dan mewah terasa begitu sunyi.

Di atas meja panjang yang dipenuhi berbagai hidangan mahal, hanya ada dua orang yang duduk berhadapan.

Robinson dan Rebeca.

Seperti malam-malam sebelumnya, tidak ada percakapan hangat antara ayah dan anak itu. Yang terdengar hanyalah suara dentingan sendok dan garpu yang sesekali menyentuh piring.

Robinson sesekali melirik putri tunggalnya. Ia ingin memulai pembicaraan, ingin memperbaiki hubungan mereka yang selama ini renggang.

Namun setiap kali ingin berbicara, ia selalu merasa ada dinding tak kasat mata yang memisahkan mereka.

Tiba-tiba, Rebeca menghentikan makannya. "Pa."

Robinson mengangkat kepala. "Ya?"

"Aku kangen Mama."

Gerakan tangan Robinson yang sedang memegang garpu terhenti. Tatapannya berubah sedikit dalam. "Kenapa tiba-tiba berkata begitu?"

Rebeca menunduk menatap makanannya. "Sudah lama aku tidak bertemu dengannya."

Robinson menarik napas pelan. "Tapi mamamu sudah pindah ke luar negeri."

"Aku tahu."

Rebeca langsung menatap ayahnya.

"Karena itu aku ingin pergi ke Korea saat libur semester nanti untuk menemuinya."

Robinson terdiam sejenak. Permintaan itu sebenarnya tidak sulit untuk dipenuhi. Namun setiap kali nama mantan istrinya muncul, ada sesuatu yang selalu membuat hatinya terasa berat. Bukan karena ia masih memiliki perasaan pada wanita itu, melainkan karena ia masih mengingat bagaimana perpisahan mereka meninggalkan luka yang cukup dalam.

"Boleh, kan, Pa?" tanya Rebeca lagi.

Robinson menatap putrinya. "Nanti Papa pikirkan dulu."

Jawaban itu langsung mengubah ekspresi Rebeca. Keningnya berkerut kecewa. "Pikirkan lagi?" ulangnya. "Untuk bertemu Mama saja Papa masih harus berpikir?"

"Rebeca, bukan begitu maksud Papa."

"Terserah." Gadis itu meletakkan alat makannya sedikit lebih keras dari biasanya. "Nafsu makanku hilang."

"Beca-"

Namun seperti biasa, gadis itu tidak memberi kesempatan Robinson menjelaskan. Ia bangkit dari kursinya.

"Selamat malam, Pa." Tanpa menunggu jawaban, Rebeca berjalan meninggalkan ruang makan dan menaiki tangga menuju kamarnya.

Robinson hanya bisa memandang punggung putrinya hingga menghilang.

Ruangan kembali hening. Jauh lebih hening dari sebelumnya.

Pria yang mampu menghadapi rapat dengan puluhan pengusaha besar itu kini justru tidak tahu bagaimana menghadapi putrinya sendiri.

Ia menghela napas berat. "Papa sudah gagal menjadi tempatmu bercerita, Rebeca," gumamnya lirih.

Setelah beberapa menit duduk dalam diam, Robinson akhirnya menyudahi makan malamnya. Ia mengambil jas yang tadi ia lepaskan dan mengenakannya kembali. Malam ini, ia memiliki pertemuan penting. "Aku harus segera berangkat ke resto Oshima." Robinson beranjak dari ruang makan.

***

Robinson tiba lebih dulu di restoran Oshima. Ia langsung menuju ruang VIP yang sudah dipesan agar pembicaraan mereka tidak terganggu oleh orang lain.

Di dalam ruangan yang tenang itu, Robinson duduk dengan kedua tangan bertaut di atas meja. Tatapannya sesekali mengarah ke pintu. Meski terlihat tenang di luar, pikirannya tidak bisa berhenti memikirkan satu hal.

Apa keputusan Cika?

Apakah gadis itu akan menolak dan tetap mempertahankan harga dirinya?

Atau memilih jalan yang akan mengubah seluruh hidupnya?

Beberapa menit kemudian, terdengar suara ketukan di pintu. "Masuk," ujar Robinson.

Pintu terbuka perlahan. Cika masuk dengan langkah pelan. Malam itu, ia mengenakan pakaian yang sangat sederhana. Tidak ada perhiasan mahal atau riasan yang mencolok. Hanya sebuah blus polos dan rok panjang dengan rambut yang dibiarkan tergerai rapi. Namun kesederhanaan itu justru membuat kecantikan alaminya semakin terlihat.

Untuk sesaat, Robinson hanya menatap gadis di hadapannya. Bukan karena ketertarikan seorang pria kepada wanita, tetapi karena ia sekali lagi melihat kesederhanaan dan keteguhan yang membuatnya memilih Cika.

"Silakan duduk, Cika," ucap Robinson sambil menunjuk kursi di depannya.

"Terima kasih, Pak." Cika duduk dengan kedua tangan bertaut di atas pangkuannya.

"Kamu sudah makan malam?"

Cika mengangguk pelan. "Sudah, Pak."

"Bagus."

Setelah itu, suasana kembali hening selama beberapa detik.

Keduanya tahu alasan pertemuan malam itu.

Tidak ada lagi pembicaraan basa-basi yang perlu diperpanjang.

Robinson menatap Cika dengan serius.

"Jadi ... apakah kamu sudah mendapatkan jawaban?"

Cika menarik napas panjang. Ia teringat wajah Sinta yang pucat di ranjang rumah sakit. Teringat bagaimana adiknya menggenggam tangannya sambil berkata takut meninggalkannya.

Teringat bagaimana ibunya sendiri menutup pintu dan membiarkan mereka berjuang sendirian. Perlahan, Cika mengangguk. "Saya sudah memutuskan, Pak."

Jantung Robinson berdetak lebih berat.

"Apa jawabanmu?"

Cika menatap pria di hadapannya. Mata gadis itu berkaca-kaca, tetapi tatapannya tetap teguh. "Saya bersedia menikah dengan Bapak."

Kalimat itu menggantung di udara.

Robinson terdiam. Meski ia telah berharap mendengar jawaban tersebut, tetap saja ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika kenyataan itu benar-benar terjadi. Ia tahu mulai malam ini, hidup mereka tidak akan pernah sama lagi.

Cika baru saja menyerahkan masa mudanya demi menyelamatkan adiknya. Dan Robinson baru saja membawa seorang gadis sederhana masuk ke dalam keluarga yang penuh dengan konflik. Terutama dengan putrinya sendiri. "Cika, maafkan saya," bisiknya dalam hati.

Sementara Cika menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikan air mata yang mulai jatuh. Dalam hatinya, ia hanya memiliki satu harapan. "Ini semua demi Sinta. Adikku harus sembuh."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!