Gaun pengantin itu sudah terpasang sejak dua jam lalu. Namun ruang rias tetap kosong.
"Non Selena?"
Seorang perias mengetuk pintu kamar mandi.
Tidak ada jawaban.
"Non Selena?"
Masih sunyi.
Rasa tidak enak mulai merambat. Ia mendorong pintu perlahan. Kosong. Tidak ada siapa pun.
Telepon genggam Selena tergeletak di atas meja rias. Kerudung pengantin masih tergantung rapi.
Yang hilang... Hanya pengantinnya.
Di aula utama Hotel Grand Meridian, ratusan tamu duduk tanpa banyak bicara. Mereka bukan datang untuk menghadiri pesta biasa. Mereka datang menyaksikan penyatuan dua keluarga berpengaruh.
Keluarga Timothy. Dan keluarga Kustiono.
Di depan aula, Vincent Timothy berdiri dengan setelan jas hitam. Tangannya berada di dalam saku celana. Tatapannya lurus ke depan. Tidak tampak gugup. Tidak tampak bahagia.
Penghulu melirik arlojinya. "Tuan Vincent...mungkin kita bisa menunggu beberapa menit lagi." Vincent tidak menjawab.
Sepuluh menit berlalu.
Bisik-bisik mulai memenuhi ruangan. Musik pernikahan tetap mengalun.
Vincent menurunkan tangannya dari arloji. Tatapannya tetap lurus ke pintu. Dingin.
Semakin lama pintu itu tidak terbuka, semakin berat udara di dalam ruangan. Bahkan alunan musik yang semula terdengar indah kini terasa seperti hitungan mundur menuju sesuatu yang tidak diinginkan.
Seorang pria bersetelan hitam bergegas mendekat. Ia membungkukkan badan di samping Vincent. "Bos."
Vincent tidak menoleh. "Bicaralah."
"Wanita itu... tidak ada di ruangannya. Sudah kami cari ke semua tempat. Tidak ditemukan."
Rahang Vincent mengeras. "Sejak kapan?"
"Dari rekaman CCTV, sejak pukul 04.00."
"Kamu tidak bisa meneleponnya?"
"Ponselnya ditinggal, Bos. "
Beberapa tamu mulai saling berbisik. Keluarga Kustiono yang duduk di barisan depan tampak pucat. Ayah Selena berkeringat dingin. Ibunya menunduk sambil menangis pelan.
Semua tahu...Membuat bos keluarga Timothy menunggu bukan sekadar penghinaan. Itu bisa menjadi alasan sebuah keluarga lenyap dalam semalam.
Brak!
Ayah Selena berlutut di tengah aula. "Maafkan kami, Tuan Vincent!"
Suasana seketika membeku.
"Saya bersumpah tidak tahu Selena akan melakukan ini."
Vincent akhirnya menoleh. Tatapannya datar.
"Dia kabur." Bukan pertanyaan. Sebuah kesimpulan.
Ayah Selena gemetar. "Saya... saya akan menemukannya."
"Tidak perlu." Dua kata itu justru membuat seluruh tubuh pria paruh baya itu melemas.
Vincent melangkah turun. Setiap langkah seolah menghantam lantai marmer. Berhenti tepat di depan keluarga Kustiono. "Perjanjian antara keluarga Timothy dan keluarga Kustiono tetap berlangsung." Suara Vincent tenang. Justru karena terlalu tenang, semua orang menahan napas.
"Lalu... bagaimana dengan pernikahan ini, Tuan?" tanya ayah Selena lirih.
Vincent mengangkat pandangan. Tatapannya berhenti pada seorang gadis yang sejak tadi berdiri di belakang. Gaun sederhana. Wajah pucat.
Serina. Adik kandung Selena.
"Dia." Semua orang menoleh bersamaan. Serina ikut membeku.
Vincent menunjuknya. "Kalau kakaknya pergi...maka adiknya yang menggantikan."
"Apa?" Serina refleks berseru.
Ayah Selena langsung menoleh. "Tuan Vincent... mohon beri kami waktu. Satu jam saja. Saya akan menemukan Selena."
Vincent tetap berdiri tanpa mengubah ekspresi.
"Akad dimulai hari ini."
"Saya mohon... Saya pasti bisa..."
"Tidak." Jawaban itu memotong kalimatnya.
Vincent melirik arlojinya. "Keluarga Timothy tidak menunggu orang yang memilih lari."
Ruangan kembali sunyi. Tak seorang pun berani membuka suara. Vincent menatap ayah Selena.
"Perjanjian tetap berjalan."
Tatapannya bergeser kepada Serina. "Siapkan dia."
Dua pria berbaju hitam melangkah maju.
"Bukan!" Serina mundur satu langkah. "Aku tidak mau!"
Ibunya buru-buru memeluk bahunya. "Serina... ikut Ibu."
"Tidak! Lepaskan aku!"
Beberapa perias yang sejak tadi menunggu di luar hanya saling pandang.
Ayah Selena menutup mata sejenak, lalu berkata lirih, "Bawa dia ke ruang rias."
Begitu pintu ruang rias tertutup, Serina langsung melepaskan tangan ibunya. "Ayah... baru saja bilang apa?"
"Selena pergi." Suara ayahnya terdengar parau. "Dia meninggalkan ruangan sejak tadi."
Serina menggeleng. "Tidak mungkin. Kak Selena tidak akan melakukan itu."
"Dia kabur." Kali ini ibunya yang menjawab. Air mata terus mengalir di pipinya. "Teleponnya ditinggalkan."
"Orangnya juga belum ditemukan." ujar Kustiono.
Serina mundur hingga punggungnya menyentuh meja rias. "Lalu... kenapa Ayah dan Ibu membawaku ke sini?"
Kustiono memandang gaun pengantin yang tergantung di sudut ruangan. "Karena sekarang...yang akan menikah dengan Vincent Timothy adalah kamu."
Deg.
"Mustahil!" Serina menggeleng keras. "Aku bukan penggantinya! Kalian tidak bisa memaksaku!"
Yeni Kustiono meraih kedua tangannya. "Serina... dengarkan Ibu."
"Tidak!" Serina menarik tangannya. "Aku bahkan belum pernah bertemu pria itu! Kenapa harus aku?"
Ayahnya menundukkan kepala. "Karena keluarga Timothy sudah menunggu di altar." Ia berhenti sesaat. "Kalau pernikahan ini batal..keluarga kita selesai."
Serina membeku.
"Ayah mohon." Perlahan, pria itu berlutut di hadapan putrinya. "Selamatkan keluarga kita."
Serina menatap ayahnya tanpa berkedip. Pria yang selama ini selalu berdiri di depannya...Kini justru berlutut memohon kepadanya.
Ruang rias kembali sunyi.
Gaun pengantin putih di sudut ruangan bergoyang pelan tertiup embusan pendingin udara. Seorang perias melangkah mendekat sambil membawa gaun itu. "Maaf, Nona..."
Serina mengangkat wajah.
"Waktunya sudah tidak banyak."
Dari kejauhan, musik pernikahan mulai terdengar.
Serina memejamkan mata beberapa detik. Saat membukanya kembali, ia menatap ayahnya yang masih berlutut. Perlahan, ia mengangguk. Tanpa sepatah kata. Perias segera membawanya ke ruang ganti.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Serina melangkah pelan memasuki ruangan. Semua mata langsung tertuju kepadanya. Bukan Selena. Melainkan adiknya. Bisik-bisik memenuhi setiap sudut aula.
"Itu bukan pengantinnya."
"Katanya yang kabur kakaknya."
"Berani sekali keluarga Kustiono."
Namun semua suara perlahan menghilang saat Vincent Timothy mengangkat pandangan.
Pria itu berdiri tegak di depan altar. Setelan jas hitam membalut tubuhnya dengan sempurna.
Tatapannya tenang. Tidak marah. Tidak pula terkejut. Seolah ia sudah menerima siapa pun wanita yang berdiri di hadapannya.
Pendeta membuka kitab di tangannya. "Apakah Saudara Vincent Timothy bersedia menerima Saudari Serina Kustiono sebagai istri..."
"Aku bersedia." Jawaban Vincent singkat. Tanpa ragu.
Kini semua mata beralih kepada Serina. Jari-jarinya mengepal di balik buket bunga. Ia menarik napas panjang. "...Aku bersedia."
Beberapa menit kemudian...
Tepuk tangan terdengar memenuhi aula. Sebuah pernikahan selesai dilangsungkan. Namun tidak ada senyum di wajah kedua mempelai.
Vincent hanya menoleh sebentar. "Kita segera pulang."
Serina mengikuti langkah pria itu keluar dari aula.
Mobil hitam panjang telah menunggu. Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan. Hanya keheningan.
Sekitar empat puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah mansion megah.
Serina mendongak. Inilah rumah yang mulai malam ini harus ia tinggali.
Pintu terbuka. Vincent melangkah masuk lebih dulu. Serina mengikuti dari belakang. Baru beberapa langkah memasuki ruang tamu...
Suara kecil terdengar dari lantai atas. "Ayah..."
Serina refleks mengangkat kepala. Seorang anak laki-laki berdiri di ujung tangga. Usianya sekitar lima tahun. Ia memeluk sebuah buku tebal di dadanya. Tatapannya lurus mengarah kepada Serina.
Lalu ia bertanya dengan suara tenang, "Siapa wanita itu?"
Vincent tidak menoleh. "Istriku."
Anak itu terdiam beberapa detik. Kemudian menatap Serina sekali lagi. "...Jadi, dia Mama baruku?"
Serina membeku.
Mama?
Pandangannya beralih cepat kepada Vincent.
Pria itu...Sudah memiliki anak?
“Jadi, kamu ibu baruku?” Suara itu membuat langkah Serina berhenti.
Anak laki-laki di tangga menatapnya lurus. Tidak berkedip.
Serina menelan napas. “…Iya. Aku Serina.” Ia mencoba tersenyum kecil. Tapi anak itu tidak membalas.
"Aku tidak bertanya." Nada suara Viren tetap datar. "Jangan merasa bisa menggantikan posisi ibuku." Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan kembali menaiki Tangga. Buku yang sejak tadi dipeluknya tak pernah lepas dari dada. Langkahnya tenang, seolah kehadiran Serina bukan sesuatu yang layak dipikirkan lebih lama.
Serina tetap berdiri di tempatnya. Senyum yang sempat ia paksakan perlahan menghilang.
Vincent akhirnya bergerak. “Soraya.”
Seorang perempuan berseragam hitam segera maju. “Ya, Tuan.”
“Antar dia ke kamar.”
“Baik.”
Soraya menoleh ke Serina. “Mari, Nyonya.” Nada suaranya sopan, tapi tidak hangat. Serina ragu sebentar, lalu mengikuti.
Lorong rumah itu panjang. Terlalu panjang untuk disebut sekadar rumah. Tidak ada foto keluarga di dinding. Tidak ada suara tawa. Hanya langkah mereka berdua yang terdengar.
Soraya membuka sebuah pintu. “Ini kamar Nyonya.”
Serina masuk pelan. Langkahnya berhenti di tengah ruangan. Luas. Terlalu luas. Dan… kosong.
“Ini kamar atau rumah…” gumamnya pelan…besar sekali.”
Soraya tidak menjawab. Ia hanya membuka lemari. “Pakaian sudah disiapkan.”
Serina menoleh. Baju-baju tergantung rapi. Semua terlihat baru.
Soraya menutup lemari lagi. “Kalau Nyonya butuh apa pun, tekan bel di samping tempat tidur.” Serina mengangguk kecil.
Soraya sedikit membungkuk. "Selamat beristirahat, Nyonya." Setelah itu, ia melangkah keluar. Pintu menutup pelan, menyisakan keheningan yang terasa asing.
Serina duduk di tepi ranjang. Pandangannya berkeliling, mengamati setiap sudut kamar yang luas dan tertata rapi. "Ini kamar..." gumamnya lirih. "...atau rumah?" Tak ada jawaban selain dengung pelan pendingin ruangan.
Ia bangkit, lalu membuka pintu lemari. Deretan pakaian baru tergantung rapi, masih lengkap dengan labelnya. Serina mengambil salah satunya dan membawanya ke depan cermin. Ukurannya tampak pas.
Keningnya berkerut. "Kok bisa pas, ya?" Ia melirik deretan pakaian lain. Semuanya tampak dipilih khusus untuknya, seolah seseorang sudah mengetahui ukuran tubuhnya jauh sebelum ia menginjakkan kaki di mansion itu.
Serina memejamkan mata, tetapi kantuk tak juga datang. Kasur empuk itu terasa asing. Begitu pula kamar yang terlalu luas untuk ditempati seorang diri. Ia membalikkan badan. Lalu membalik lagi. Tetap saja matanya enggan terpejam.
"...Haus." Serina mengusap tenggorokannya yang terasa kering. Ia melirik meja nakas di samping ranjang. Kosong. Tak ada sebotol air pun.
Ia bangkit pelan, lalu membuka pintu kamar. Lorong di luar masih diterangi lampu-lampu dinding. Sunyi. Sesekali terdengar langkah pelayan yang berlalu-lalang dari kejauhan.
Serina mengintip ke kanan dan kiri. "Ke dapur lewat mana, ya..."
Ia melangkah pelan menyusuri lorong. Mansion itu begitu besar hingga ia beberapa kali berhenti di persimpangan koridor, bingung harus memilih arah.
Beruntung, seorang pelayan keluar dari sebuah ruangan sambil membawa tumpukan handuk.
"Nyonya?" Pelayan itu segera menundukkan kepala.
"Maaf... boleh tanya? Dapur di sebelah mana?"
Pelayan itu tampak sedikit terkejut, tetapi segera menunjuk ke arah tangga kecil di ujung lorong.
"Turun satu lantai, lalu belok kiri."
"Terima kasih." Serina mengucapkan terima kasih sambil tersenyum kecil.
Beberapa menit kemudian, ia sampai di sebuah dapur yang bahkan lebih besar daripada ruang tamu rumah orang tuanya.
Lampu masih menyala terang. Rak-rak kayu dipenuhi bumbu yang tertata rapi. Peralatan memasak berjejer mengilap. Di sisi lain berdiri kulkas berukuran besar.
"Lengkap sekali..." Serina membuka kulkas. Botol air mineral tersusun rapi.
Ia mengambil satu, lalu meneguknya beberapa kali. Rasa segar langsung mengalir di tenggorokannya.
Saat hendak menutup pintu kulkas, pandangannya berhenti pada berbagai bahan makanan yang tersimpan di dalam. Sayuran segar. Daging. Ikan. Buah-buahan.
Semuanya tampak baru. Entah kenapa, sudut bibirnya terangkat tipis.
Sejak kecil, dapur selalu menjadi tempat yang paling akrab baginya. Meski di rumah sudah ada pembantu, ia tetap senang membantu ibunya memasak. Terlebih sejak Selena lebih sering pergi bersama teman-temannya, hampir setiap sore Serina yang menemani sang ibu menyiapkan makan malam.
Tanpa sadar, tangannya meraih beberapa butir kentang. Disusul wortel. Lalu bawang bombai.
"Ah..." Serina tersenyum malu pada dirinya sendiri. "Baru sehari di sini sudah mau numpang masak."
"Apa Nyonya ingin memasak?" Suara itu membuat Serina menoleh cepat. Soraya berdiri di ambang pintu. Entah sejak kapan perempuan itu berada di sana.
Serina buru-buru meletakkan kembali kentang di tangannya. "Maaf. Aku hanya... melihat-lihat."
"Tidak apa." Soraya berjalan mendekat. "Dapur ini memang boleh digunakan."
"Benarkah?"
Soraya mengangguk. "Kalau Nyonya membutuhkan sesuatu, tinggal bilang."
Serina kembali menatap bahan-bahan di atas meja. Ragu sejenak. "Lalu... kalau aku ingin membuat sup?"
Soraya tampak sedikit heran. "Nyonya ingin memasak sendiri?"
"Iya. Kebetulan aku tidak bisa tidur."
Soraya terdiam beberapa detik, lalu mengangguk pelan. "Baik. Saya akan membantu menyiapkan bahannya."
Serina menggeleng sambil tersenyum. "Tidak usah. Aku bisa sendiri."
Soraya memperhatikan wanita muda itu beberapa saat. "Baik, Nyonya." Ia mundur beberapa langkah. Namun tidak benar-benar pergi. Diam-diam ia terus mengamati. Sudah bertahun-tahun ia bekerja di mansion Timothy.
Belum pernah ada seorang pun yang masuk ke dapur hanya karena tidak bisa tidur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Soraya menuangkan sup ke dalam mangkuk, lalu meletakkannya di atas nampan bersama masakan lain yang sudah dimasak oleh chef Rudi.
Seorang pelayan pria masuk ke dapur. "Ini sup?"
"Iya. Nyonya Serina yang membuatnya."
Pelayan itu terdiam sejenak. "Apa Tuan Muda Viren mau memakannya?"
Soraya ikut terdiam. "Tidak ada yang tahu."
"Kalau Tuan Muda menolak, jangan sampai dia melewatkan makan malam lagi." Pria itu pun melangkah keluar menuju ruang makan.
Sementara itu, Serina yang berdiri tak jauh dari sana hanya terdiam. Tangannya masih memegang lap dapur.
Ia baru sadar...Bahkan semangkuk sup pun belum tentu diterima di rumah ini.
Ruang makan itu bahkan lebih besar daripada ruang tamu rumah Serina. Meja kayu panjang membentang di tengah ruangan.
Vincent sudah duduk di kursi paling ujung. Jas hitamnya masih rapi, seolah hari yang melelahkan tak meninggalkan bekas apa pun.
Tak lama kemudian, Viren datang. Ia menarik kursinya sendiri tanpa bantuan pelayan.
Soraya meletakkan semangkuk sup hangat di hadapannya. "Nyonya yang membuatnya, Tuan Muda."
Beberapa pelayan yang berdiri di sudut ruangan saling berpandangan.
"Berani sekali..."
"Dia tidak tahu kebiasaan Tuan Muda."
"Sup itu pasti ditolak."
Serina mendengarnya. Namun ia memilih diam.
Viren menatap mangkuk sup itu beberapa detik.
Lalu pandangannya beralih kepada Serina. Mata bulatnya begitu tenang. Sangat mirip dengan Vincent. "Apa ini?"
"Sup ayam," jawab Serina pelan. "Kalau tidak suka, kamu tidak perlu memakannya."
Viren tidak menjawab. Perlahan, ia mengangkat sebelah tangannya. Lalu...mendorong mangkuk itu bergeser hingga berhenti tepat di bibir meja. Kuahnya bergoyang, nyaris tumpah.
Serina refleks menahan napas.
Tatapan Viren tak lepas darinya. "Aku tidak makan masakan orang asing." Ia berhenti sejenak. "Apalagi dari seseorang yang datang untuk menggantikan ibuku."
Ruang makan mendadak sunyi. Tak seorang pun pelayan berani bergerak.
Serina menatap mangkuk itu beberapa detik, lalu mengulurkan tangan dan menariknya kembali ke hadapannya. "Kalau begitu..." ujarnya lembut. "...biar aku saja yang menghabiskannya."
Ia mengambil sendok. Menyuapkan sesendok sup ke mulutnya. Tanpa marah. Tanpa membela diri.
Justru sikap tenang itu membuat Viren mengernyit tipis.
Di ujung meja, Vincent yang sejak tadi menikmati makan malamnya akhirnya mengangkat pandangan. Tatapannya singkat mengarah pada Serina. Lalu kepada Viren. "Makan." Hanya satu kata.
Viren tidak membantah. Ia mengambil sendoknya. Bukan untuk sup. Melainkan menyantap hidangan yang telah disiapkan Chef Rudi.
Ruang makan kembali dipenuhi suara peralatan makan yang beradu pelan. Namun bagi para pelayan, suasana itu terasa jauh lebih menegangkan daripada sebelumnya.
Makan malam yang Mencekam itu akhirnya berlalu tanpa ada satu kata pun yang kembali terucap. Viren menyelesaikan makanannya dengan pembawaan yang terlalu tenang untuk anak seusianya, lalu turun dari kursi dan melangkah pergi begitu saja tanpa pamit.
Serina memperhatikan punggung kecil itu hingga menghilang di balik pintu ganda ruang makan. Ada rasa sesak yang perlahan merayap di dadanya, namun ia buru-buru menekannya.
"Bawa mangkuk sup ini ke dapur," perintah Vincent datar, memecah keheningan. Suaranya yang berat membuat beberapa pelayan tersentak dan bergegas membereskan meja.
Vincent berdiri, mengancingkan satu kancing jas hitamnya yang tampak selalu sempurna. Matanya yang sewarna elang menatap Serina sesaat, tatapan dingin yang sulit diartikan, sebelum pria itu berbalik dan melangkah menuju ruang kerjanya, meninggalkan Serina sendirian di ruang makan yang mendadak terasa semakin luas dan asing.
Serina menghela napas panjang. Ia memilih untuk kembali ke kamarnya di lantai dua. Namun, rasa cemas dan haus membuatnya tidak bisa memejamkan mata bahkan setelah beberapa jam berbaring.
Jam dinding besar di lorong mansion berdentang dua kali, memecah keheningan malam yang mencekam. Serina melangkah perlahan di atas lantai marmer yang dingin, memeluk tubuhnya sendiri yang hanya dibalut gaun tidur satin tipis. Niat awalnya hanya satu, turun ke dapur untuk mengambil segelas air penenang setelah hari pertama yang melelahkan sebagai istri cadangan.
Namun, langkah kakinya terhenti tepat di depan ruang kerja Vincent.
Pintu kayu jati yang kokoh itu sedikit terbuka, menyisakan celah kecil yang memuntahkan secercah cahaya temaram dari dalam. Insting Serina menyuruhnya untuk terus berjalan, tetapi matanya menangkap selembar kertas tebal yang tergeletak di lantai dekat meja kerja pria itu, seperti sesuatu yang baru saja terjatuh dari sebuah berkas yang berantakan.
Didorong rasa penasaran, Serina menyelinap masuk dengan gerakan seringan kucing. Ia membungkuk, memungut kertas yang ternyata adalah sebuah foto cetak tua.
Serina menahan napas. Di dalam foto itu, Vincent yang tampak sedikit lebih muda sedang merangkul seorang wanita bergaun merah yang sangat anggun. Kedua tangannya tengah mengusap perutnya yang buncit. Wanita itu sedang hamil.
Namun, yang membuat bulu kuduk Serina meremang adalah coretan kasar berwarna merah darah tepat di atas wajah wanita cantik itu. Seseorang telah merusak wajah Jesika di foto itu dengan penuh kebencian.
"Siapa wanita ini? Kenapa wajahnya..."
KLIK.
Lampu ruangan tiba-tiba padam total. Jantung Serina serasa melompat ke tenggorokan. Sebelum ia sempat berbalik, sebuah tangan kekar merebut foto itu dengan sentakan kasar dari belakang.
Dalam hitungan detik, tubuh Serina didorong mundur hingga punggungnya menghantam dinding dengan keras. Sepasang lengan kekar langsung mengunci pergerakannya, memerangkap tubuh mungil Serina di antara dinding dingin dan dada bidang yang keras bagai batu karang.
Itu Vincent.
Aroma maskulin yang pekat bercampur samar wangi whiskey mahal langsung menguasai indra penciuman Serina. Dalam kegelapan yang pekat, Serina tidak bisa melihat wajah suaminya, tetapi ia bisa merasakan aura membunuh yang begitu pekat merayap keluar dari tubuh pria itu.
Vincent menunduk. Rahangnya yang tegas bergesekan samar dengan pelipis Serina saat pria itu berbisik, suaranya sangat rendah, berat, dan bergetar berbahaya tepat di telinganya. "Kamu masuk tanpa izin."
Vincent menjeda kalimatnya, memberikan seringai tipis yang tidak bisa dilihat Serina dalam kegelapan.
Jemari tangan Vincent yang bebas perlahan naik, mencengkeram dagu Serina dengan tekanan yang pas tidak sampai menyakiti, tetapi mempertegas dominasi yang tak terbantahkan. Ia memaksa wajah Serina mendongak, menantang sepasang mata elangnya yang berkilat tajam di balik kegelapan.
Sentuhan Vincent turun dari dagu, merayap perlahan ke leher jenjang Serina. Ibu jari pria itu mengusap urat nadi di leher Serina yang berdentum kencang karena ketakutan. Gestur yang begitu intim, namun terasa seperti seringai sebilah pisau yang siap menyayat.
"Rasa ingin tahu yang terlalu besar bisa membunuhmu di mansion ini," bisik Vincent lagi, embusan napas hangatnya yang berbau alkohol menerpa bibir Serina yang gemetar. "Sekali saja aku melihatmu bertingkah mencurigakan... aku sendiri yang akan memastikan gaun pengantin cadanganmu itu berubah menjadi kain kafan."
Serina membeku, mengunci napasnya rapat-rapat. Jantungnya berdentum begitu kencang, gemetar menghadapi ketegangan magnetis dari Vincent yang mengurungnya.
Siapa wanita itu ? Dan sekencang apa Serina harus berlari agar tidak ikut hancur di dalam kegelapan dunia Vincent Timoty?
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!