Indonesia
NovelToon NovelToon

Panggil Aku , Ibu !!!

Bab 1

Siang itu, sinar matahari menyinari kota dengan cukup terik, namun suasana di dalam kafe mewah yang terletak di pusat bisnis itu terasa sejuk dan tenang.

Di sebuah ruang pertemuan khusus yang tertutup, Samuel Nugroho seorang CEO muda yang dikenal tegas dan berwibawa sedang menyelesaikan pembahasan penting dengan salah satu klien besar perusahaannya.

Di sampingnya berdiri Gio, asisten pribadi sekaligus sahabat karibnya sejak masa sekolah dulu.

Setelah lebih dari satu jam berdiskusi, kesepakatan pun akhirnya tercapai. Klien itu berpamitan dengan senyum puas, meninggalkan mereka berdua di ruangan itu. Samuel menarik napas panjang lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, sementara Gio membereskan berkas-berkas di atas meja.

“Kerja bagus hari ini, Sam. Kesepakatan ini akan sangat menguntungkan bagi perusahaan kita,” ujar Gio sambil tersenyum, lalu melirik sahabatnya itu dengan pandangan yang lebih lembut. “Kamu terlihat lelah. Sudah berhari-hari ini pikiranmu melayang, bukan? Masih memikirkan apa yang sudah lama terpendam di hatimu?”

Samuel menatap jendela kaca besar yang memandang ke luar jalan raya. Suasana hatinya kembali terasa berat. “Kamu tahu semuanya, Gio. Sejak dulu hingga sekarang, rasanya tidak pernah berubah. Tapi takdir selalu saja berjalan di luar keinginanku.”

Gio mengangguk mengerti. Ia adalah satu-satunya orang yang tahu seluruh kisah perasaan Samuel tentang gadis yang diam-diam ia cintai sejak masa sekolah . tentang perjodohan yang memisahkan mereka, dan semua luka yang tersisa hingga kini.

“Ayo kita pulang saja. Atau mau minum sesuatu dulu di sini sebelum pergi?” tawar Gio.

Samuel mengangguk setuju. “Baiklah, satu cangkir kopi saja.”

Setelah memesan minuman, keduanya bersiap meninggalkan ruangan untuk duduk di area utama kafe yang lebih luas. Saat Samuel melangkah keluar dari pintu ruangan itu dengan langkah yang cepat dan pikiran yang masih melamun, ia tidak menyadari ada seseorang yang juga sedang berjalan berlawanan arah sambil membawa beberapa buku dan tas di tangannya.

BRAK!

Tabrakan pun tak terelakkan. Barang-barang yang dibawa wanita itu terjatuh berserakan di lantai. Samuel hampir terhuyung mundur karena benturan itu, sementara wanita itu segera membungkuk panik untuk mengambil kembali barang-barangnya.

Samuel mengangkat wajahnya, tatapannya langsung berubah menjadi dingin dan tajam sifat yang selalu ia tunjukkan kepada orang asing. “Apa-apaan ini? Kamu tidak melihat jalan di depanmu?” ucapnya dengan nada rendah dan tegas, terdengar sangat arogan.

Wanita itu berhenti sejenak, lalu mengangkat kepalanya sedikit. Wajahnya tertutup sebagian oleh kerudung putihnya, dan sepasang kacamata hitam yang cukup besar menutupi sebagian matanya. Suaranya terdengar lembut namun sedikit gemetar karena terkejut dan takut.

“Maafkan saya, Tuan. Saya tidak sengaja, saya sedang terburu-buru dan kurang memperhatikan arah jalan. Saya benar-benar minta maaf atas keteledoran saya,” ucapnya dengan nada sopan, lalu kembali melanjutkan mengambil barang-barangnya.

Samuel masih berdiri tegak di tempatnya, menatap wanita itu dengan pandangan yang tak berubah dingin. Ada sesuatu yang terasa samar dan tidak asing di hatinya, namun ia tidak bisa mengenalinya dengan jelas karena penampilan wanita itu yang tertutup. Ia menghela napas kesal dan bersiap melangkah pergi, tidak berniat membantu atau melontarkan kata lain selain ketidaksukaannya.

“Lain kali lebih berhati-hati. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi,” balasnya singkat, suaranya masih terdengar berat dan tak ramah.

Wanita itu hanya mengangguk pelan tanpa berani menatapnya langsung. “Baik, Tuan. Saya akan berhati-hati ke depannya. Sekali lagi saya mohon maaf.”

Sementara itu, Gio yang baru saja menyusul dan melihat kejadian itu hendak melangkah mendekat, namun matanya terbelalak sesaat.

Ada rasa samar yang muncul di pikirannya saat melihat sosok wanita itu, namun sebelum ia sempat memastikan atau berbicara apa pun, Samuel sudah menarik lengannya dan berjalan meninggalkan tempat itu.

“Sudah, Gio. Pergilah,” ujar Samuel tanpa menoleh lagi.

Ia tidak sadar, bahwa wanita yang baru saja ia bentak dan tatap dengan dingin itu adalah Samantha Alexander wanita yang selama bertahun-tahun diam-diam ia cintai, orang yang tak pernah bisa ia lupakan meski waktu telah berlalu begitu lama. Dan saat ini, tanpa disadari, jalan takdir mereka baru saja mulai bersinggungan kembali.

Setelah Samuel dan Gio pergi meninggalkan tempat itu menuju kafe lain, Samantha masih duduk sejenak untuk memastikan semua barangnya sudah rapi kembali ke dalam tasnya. Ia menghela napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang sempat berdebar kencang karena benturan dan tatapan dingin pria itu tadi.

Tanpa menyadari siapa sebenarnya pria yang baru saja ia temui, ia segera melangkah menuju sudut ruangan yang lebih sepi, di mana seorang wanita muda sudah menunggu sambil melambaikan tangan ramah.

“Samantha! Akhirnya kamu datang juga,” seru wanita itu Suci, sahabat dekatnya sejak masa sekolah langsung berdiri dan memeluknya erat begitu Samantha tiba di hadapannya.

Setelah melepaskan pelukan, Suci menatap Samantha dari atas hingga ke bawah dengan pandangan takjub dan sedikit tidak percaya. Matanya berkeliling mengamati setiap perubahan pada sosok sahabatnya itu.

“Ya ampun, aku benar-benar tidak menyangka melihatmu seperti ini,” kata Suci dengan nada kagum, masih mengamati Samantha. “Wajahmu tetap sama, tapi penampilanmu sekarang sungguh membuatku pangling! Kamu sudah memakai hijab, ya?”

Samantha tersenyum lembut, mengangguk perlahan. “Iya, Suci. Keputusan itu aku ambil perlahan-lahan selama kuliah di luar negeri. Semakin lama aku merasa inilah yang paling membuat hatiku tenang dan nyaman.”

“Dan lihatlah dirimu,” lanjut Suci lagi, suaranya terdengar antusias. “Kamu terlihat begitu anggun, lembut, dan bersinar. Padahal aku tahu betul keluargamu adalah salah satu keluarga terkaya di kota ini, tapi caramu berpakaian dan bersikap tetap terlihat sangat sederhana, tidak berlebihan sama sekali. Sungguh cocok sekali dengan hatimu yang baik itu.”

Samantha hanya tersenyum mendoakan pujian itu. “Terima kasih, Suci. Bagiku kemewahan bukanlah segalanya. Aku hanya ingin hidup apa adanya, sederhana tapi tetap menjaga harga diri dan ketenangan hati.”

Suci mengangguk setuju, lalu menatapnya dengan pandangan penuh rasa rindu yang terpendam. “Rasanya sudah lama sekali ya, hampir 13 tahun kita tidak bertemu. Sejak lulus SMA, kamu langsung melanjutkan kuliah ke luar negeri dan menetap di sana setelahnya. Aku hanya bisa mendengar kabarmu lewat telepon saja, rasanya ada yang kurang setiap hari tanpa kehadiranmu di sini.”

Samantha memegang lembut tangan sahabatnya itu, matanya sedikit berkaca-kaca mendengar kata-kata itu. “Aku pun sangat merindukan suasana di sini, merindukanmu dan semuanya. Kemarin saat aku memberitahumu bahwa aku baru saja tiba kembali di Indonesia, bukan tanpa alasan.”

“Maksudmu?” tanya Suci cepat, penasaran.

“Aku memutuskan untuk tidak kembali lagi ke luar negeri,” jawab Samantha dengan nada mantap. “Aku ingin menetap di sini untuk waktu yang lama, bahkan mungkin selamanya. Aku ingin membangun kehidupanku sendiri di tanah kelahiranku ini, di samping keluarga dan orang-orang yang aku sayangi.”

Mendengar kalimat itu, wajah Suci langsung berseri-seri. Ia kembali memeluk Samantha dengan lebih erat, merasa sangat bahagia mendengar kabar itu.

“Benarkah? Kamu sungguh membuatku sangat senang mendengarnya!” seru Suci dengan suara yang sedikit meninggi karena kegembiraan. “Ini kabar terbaik yang kudengar dalam setahun terakhir. Akhirnya kita bisa sering bertemu lagi, berbagi cerita seperti dulu, dan tidak lagi terpisah oleh jarak ribuan kilometer.”

Samantha tersenyum lepas, merasakan kehangatan persahabatan yang tak lekang oleh waktu. Di tengah kebahagiaan itu, samar-samar terlintas di pikirannya kejadian benturan tadi tatapan dingin pria itu yang entah mengapa terasa begitu membekas, meski ia tak tahu bahwa pertemuan itu hanyalah awal dari takdir yang akan menyatukan kembali jalan hidup mereka.

Bersambung...

 

Bab 2

Setelah meninggalkan area kafe, Samuel dan Gio segera masuk ke dalam mobil mewah yang terparkir rapi di tempat khusus. Sopir sudah menunggu sejak tadi, dan begitu keduanya duduk di jok belakang, mobil pun melaju perlahan menuju jalan raya untuk kembali ke kantor pusat perusahaan.

Di dalam mobil yang terasa sejuk dan hening, Gio menoleh ke arah Samuel yang sedang bersandar di kursi dengan pandangan kosong menatap ke luar jendela. Ia memperhatikan bahwa meski Samuel terlihat tenang, ada kerutan halus di dahinya yang menunjukkan pikirannya sedang melayang entah ke mana.

Gio memutuskan untuk membuka percakapan. Ia mengingat kejadian tabrakan tadi, dan sesuatu terus mengganggu pikirannya sejak itu.

“Sam,” panggil Gio perlahan.

Samuel hanya menoleh sebentar, lalu menjawab singkat, “Ya?”

“Aku baru saja teringat kembali kejadian di dalam kafe tadi, saat kamu bertabrakan dengan wanita itu,” ujar Gio dengan nada yang mulai terdengar serius. “Jujur saja, ada satu hal yang membuatku terus berpikir sejak saat itu.”

Samuel mengangkat alisnya sedikit, menatap sahabatnya itu dengan tatapan bertanya. “Hal apa yang membuatmu memikirkannya? Hanya sebuah insiden biasa, tidak ada yang perlu dipikirkan terlalu lama.”

Gio menggeleng pelan, lalu melanjutkan, “Mungkin bagimu itu hanya kejadian biasa, tapi bagiku… ada sesuatu yang terasa sangat tidak asing. Terutama suaranya. Saat dia meminta maaf, suaranya itu sangat lembut, tenang, dan memiliki nada bicara yang khas. Rasanya aku pernah mendengar suara itu di masa lalu, tapi aku belum bisa mengingatnya dengan jelas kapan dan di mana.”

Mendengar ucapan itu, detak jantung Samuel seolah terhenti sejenak. Di dalam hatinya, ia pun sebenarnya merasakan hal yang sama persis. Saat wanita itu berbicara tadi, getaran suaranya langsung menyentuh relung hatinya yang paling dalam membangkitkan kenangan yang sudah berusaha ia kubur dalam-dalam selama bertahun-tahun.

Namun, dengan sifat keras kepala dan rasa takut kecewa yang masih tersisa, ia segera mengenyahkan perasaan itu sekuat tenaga.

Samuel memalingkan wajah kembali ke arah jendela, suaranya terdengar lebih dingin dan tegas dari biasanya seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri juga. “Itu hanya perasaanmu saja, Gio. Hanya suaranya yang lembut bukan berarti dia orang yang kita kenal. Banyak wanita yang memiliki suara lembut seperti itu. Jangan sampai kau menghubung-hubungkan hal sepele ini dengan hal lain yang tidak perlu.”

“Tapi aku sungguh merasa begitu, Sam,” desak Gio yang tidak mudah menyerah. “Aku sudah mengenalmu dan juga orang-orang di sekitarmu sejak lama. Suara wanita itu… entah mengapa terasa sangat akrab di telingaku. Bukankah kau sendiri juga merasakan hal yang sama? Jangan berbohong padaku, aku bisa melihatnya dari sorot matamu saat itu.”

Samuel mengepalkan tangannya di atas pangkuan, berusaha menekan rasa ragu yang mulai menyelimuti hatinya. Ia menghela napas panjang, lalu menjawab dengan nada yang terdengar tegas namun sedikit tertekan, “Tidak, aku tidak merasakan apa-apa. Bagiku dia hanyalah orang asing yang tidak sengaja melangkah tidak hati-hati. Tidak ada yang tidak biasa, tidak ada yang perlu dikaitkan dengan masa lalu. Lupakan saja kejadian itu, jangan dibawa ke mana-mana.”

Gio menatap wajah sahabatnya dengan pandangan yang mengerti. Ia tahu betul sifat Samuel jika sudah memutuskan untuk menyangkal sesuatu, tidak ada yang bisa mengubahnya, meskipun kenyataan ada di depan mata.

“Baiklah, jika kau bersikeras begitu,” ujar Gio dengan nada yang lebih lunak. “Tapi ingat saja perkataanku ini. Suara itu terlalu khas untuk hanya sekadar kebetulan semata. Entah mengapa hatiku merasa, kita akan bertemu lagi dengan wanita itu dalam waktu dekat.”

Samuel tidak menjawab lagi. Ia hanya diam, tapi di dalam benaknya, kata-kata Gio terus berputar mengusik ketenangannya. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah ilusi belaka, namun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia tahu bahwa perasaan yang muncul saat mendengar suara wanita itu tadi bukanlah sekadar khayalan semata.

Mobil terus melaju menembus lalu lintas kota, membawa kedua sahabat itu dalam pikiran masing-masing yang kini dipenuhi pertanyaan tanpa jawaban.

Begitu mobil berhenti di depan gedung perkantoran pusat perusahaan, Samuel dan Gio langsung melangkah masuk dengan postur tegap dan wajah datar.

Sejak melangkahkan kaki melewati pintu utama, keduanya seolah berubah total meninggalkan suasana persahabatan tadi dan kembali menjalankan peran sebagai pimpinan. Sikap mereka berubah menjadi sangat dingin, tegas, dan tanpa ekspresi apa pun.

Para karyawan yang berpapasan di lorong langsung menunduk hormat dan melangkah menyisihkan jalan dengan hati-hati. Seluruh orang di kantor itu tahu betul sifat kedua pria ini; tidak ada tempat untuk kesalahan sedikit pun, dan perintah mereka adalah mutlak yang tidak boleh dibantah.

Rasa hormat sekaligus rasa takut terlihat jelas di mata setiap orang yang bekerja di bawah kepemimpinan mereka.

Setelah sampai di lantai paling atas, mereka berhenti tepat di depan dua ruangan besar yang berdampingan.

“ Saya kembali keruangan saya , Pak. Jika ada hal penting akan saya laporkan segera,” ujar Gio dengan nada resmi dan sopan, tidak ada lagi nada akrab seperti saat di dalam mobil.

Samuel hanya mengangguk singkat tanpa banyak bicara, lalu memutar gagang pintu ruang kerjanya. Gio pun melangkah masuk ke ruangannya sendiri yang terletak tepat di sebelah ruangan Samuel.

Begitu pintu ruangan Samuel terbuka dan ia melangkah masuk, langkah kakinya terhenti mendadak. Alisnya langsung terangkat tinggi, matanya menyipit menatap ke arah meja kerja utamanya dan seketika itu juga raut wajahnya berubah menjadi sangat marah.

Di sana, di atas kursi besar yang khusus untuknya, sedang duduk santai seorang wanita dengan pakaian yang terbuka dan sangat seksi, rambutnya tergerai dan bibirnya diolesi gincu berwarna mencolok. Wanita itu adalah Lita, adik kandung dari Ruri, almarhum istri Samuel.

Sejak Ruri meninggal dunia dua tahun silam, Lita memang tidak pernah berhenti mendekati dan mengejar Samuel dengan berbagai cara. Ia terus saja datang ke kantor maupun rumah, berusaha menarik perhatian meski Samuel sudah berkali-kali menolak dengan tegas. Sikapnya itu justru semakin membuat Samuel merasa muak dan sangat tidak nyaman.

Dengan langkah panjang dan cepat, Samuel mendekati meja kerjanya. Suaranya terdengar berat, dingin, dan dipenuhi amarah yang sudah tertahan sejak melihat keberadaan wanita itu.

“Siapa yang mengizinkanmu masuk ke sini? Dan apa maksudmu duduk di kursiku?” bentak Samuel, suaranya bergema di seluruh ruangan.

Alih-alih merasa takut atau bersalah, Lita justru tersenyum genit, lalu berdiri perlahan sambil berjalan menghampiri Samuel. “Kenapa harus marah begitu, Kak Sam? Aku hanya rindu ingin menemui mu saja. Lagian, kita kan keluarga , jadi aku boleh datang ke ruangan mu ,” jawabnya dengan nada lembut yang dipaksakan.

“Keluar dari ruanganku, sekarang juga!” perintah Samuel dengan nada meninggi, matanya menatap tajam tanpa sedikit pun rasa simpati. “Kamu tahu betul aku tidak suka kedatanganmu, apalagi sampai berani duduk di tempat kerjaku. Pergilah sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaran.”

Namun Lita sama sekali tidak bergeming. Ia malah melangkah semakin dekat hingga jaraknya hanya beberapa sentimeter dari Samuel, lalu mencoba menyentuh lengan pria itu. “Jangan begitu keras bicara padaku, Kak. Aku hanya ingin menjagamu dan menjadi pendamping hidupmu. Bukankah sudah saatnya kamu membuka hatimu lagi? Aku bisa menggantikan posisi Kak Ruri untukmu dan juga untuk anakmu—”

Belum sempat kalimat itu selesai diucapkan, rasa jijik dan muak meluap di hati Samuel. Tanpa ragu sedikit pun, ia mendorong bahu wanita itu dengan tenaga yang cukup keras hingga Lita terhuyung mundur dan hampir terjatuh.

“Cukup! Jangan pernah bandingkan dirimu dengan Ruri, dan jangan pernah bermimpi bisa mengisi tempat apa pun dalam hidupku!” bentak Samuel dengan wajah memerah karena amarah. “Kehadiranmu hanya mengotori ruangan kerja ini dan membuatku merasa muak setiap kali melihatmu!”

Tanpa membuang waktu lagi, Samuel segera berjalan ke sisi meja kerjanya, mengambil gagang telepon, lalu menekan nomor sambungan dengan jari yang masih terasa kaku karena marah.

“Ya, ini Pak Samuel. Kirimkan dua orang petugas kebersihan atau petugas keamanan segera ke ruang kerjaku. Ada tamu tak diundang yang bersikeras tidak mau pergi dan perlu dikeluarkan dari gedung ini secara paksa jika perlu,” ujarnya tegas ke dalam telepon, tanpa sedikit pun memperdulikan perasaan Lita yang kini terlihat terkejut dan marah mendengar perintah itu.

Setelah menaruh gagang telepon kembali, Samuel menoleh lagi ke arah Lita dengan pandangan yang penuh peringatan. “Sebelum mereka datang, lebih baik kamu melangkahkan kakimu sendiri keluar dari sini . Jika tidak, maka nanti mereka yang akan membawamu pergi dan aku pastikan itu tidak akan membuatmu terlihat baik di hadapan orang banyak.”

bersambung ,,,

Bab 3

Meskipun sudah diperingatkan dengan tegas, Lita tetap berdiri di tempat dengan wajah kesal dan sama sekali tidak berniat melangkah pergi. Ia malah bersandar di tepi meja kerja sambil melipat kedua tangannya di dada.

“Aku tidak akan pergi sampai kamu mau mendengarkan ku, Samuel! Kenapa kamu selalu bersikap sekejam ini padaku? Aku hanya menginginkan yang terbaik untukmu!” serunya dengan nada meninggi, berusaha memancing perhatiannya.

Belum sempat Samuel menjawab lagi, pintu ruangan terbuka lebar. Masuklah dua orang petugas kebersihan, diikuti dua orang petugas keamanan berseragam.

Tak lama kemudian, datang pula Susi sekretaris Samuel yang wajahnya sudah pucat dan gemetar ketakutan bersama Gio yang segera menghampiri setelah mendengar suara bentakan dari arah ruangan itu.

Susi melirik sekeliling dengan pandangan bingung dan cemas. Ia bergumam pelan, “Astaga… bagaimana bisa ada wanita di sini? Padahal tadi aku tidak melihat siapa pun masuk. Mungkin saat itu aku sedang ke toilet sebentar…”

Samuel mengalihkan pandangannya ke arah Susi dengan tatapan tajam namun tetap tenang. “Susi, ingat baik-baik perintahku. Mulai sekarang, tidak ada tamu perempuan apa pun yang boleh masuk ke ruanganku sebelum ada konfirmasi atau izin langsung dariku atau dari Gio. Jika ada yang berkeras datang, langsung halangi dan laporkan ke bagian keamanan. Jangan biarkan kejadian seperti ini terulang lagi.”

“Baik, Pak Samuel. Saya mengerti dan akan lebih berhati-hati lagi,” jawab Susi sambil membungkuk hormat, suaranya terdengar bergetar.

Sementara itu, Gio yang sudah mengenal siapa sosok wanita itu melangkah mendekat. Wajahnya kembali berubah dingin dan tegas seperti saat bertugas, tidak ada lagi keakraban sebagai sahabat. Ia menatap Lita dari atas ke bawah dengan pandangan tidak menyukai.

“Sudah cukup, Lita. Kamu sudah mendengar perintah pak Samuel. Keluarlah dari ruangan ini dengan sendirinya sebelum situasinya menjadi lebih buruk,” ujar Gio dengan nada datar namun berwibawa.

Namun Lita tetap menggeleng keras dan bersikap keras kepala. “Tidak! Aku tidak mau pergi. Ini belum selesai—”

“Kalau begitu, bawa dia keluar!” perintah Gio dengan lantang kepada kedua petugas keamanan yang sudah berdiri siap.

Tanpa menunggu perintah kedua, kedua petugas itu segera melangkah mendekat dan dengan sopan namun tegas memegang kedua lengan Lita untuk membawanya keluar. Lita langsung meronta, berteriak keras sambil memaki-maki.

“Lepaskan aku! Beraninya kalian menyentuhku! Samuel, kamu tidak boleh memperlakukanku seperti ini! Aku tidak akan berhenti sampai kamu sadar!” teriaknya dengan suara nyaring yang menggema sepanjang lorong kantor, sampai akhirnya suaranya makin menjauh saat ia dibawa pergi keluar gedung.

Setelah kehadiran Lita benar-benar hilang, Samuel menghela napas panjang seolah ingin mengusir rasa jijik yang menyelimuti hatinya. Ia segera menoleh ke dua petugas kebersihan yang masih menunggu di dekat pintu.

“Bersihkan seluruh permukaan meja kerja dan kursi ini sampai benar-benar bersih. Setelah itu semprotkan pengharum ruangan dan pembersih udara di seluruh sudut ruangan. Pastikan tidak ada jejak atau bau apa pun yang tertinggal dari wanita itu,” perintahnya tegas.

“Siap, Pak,” jawab kedua petugas itu serempak, lalu segera mulai mengerjakan tugasnya dengan cekatan.

Gio kemudian menoleh ke Susi yang masih berdiri di dekat pintu dengan wajah cemas. “Susi, kamu boleh kembali ke meja kerjamu di luar. Fokus saja pada pekerjaan dan jangan biarkan gangguan apa pun masuk lagi ke sini.”

“Baik, Pak Gio,” jawab Susi singkat, lalu segera keluar dan menutup pintu ruangan dengan hati-hati.

Sekarang hanya tinggal Samuel dan Gio di dalam ruangan itu. Gio melangkah mendekat, lalu menepuk bahu sahabatnya itu perlahan dengan nada yang kembali akrab dan menenangkan.

“Tenangkan dirimu, Sam. Sudah selesai sekarang. Kamu tidak perlu membuang terlalu banyak energi dan emosi hanya untuk wanita seperti dia. Kamu tahu sendiri sifatnya itu dan dia tidak pantas membuatmu marah sedemikian rupa,” ujar Gio dengan nada lembut namun tegas.

Samuel memijat pelipisnya yang terasa berdenyut karena amarah yang baru saja meluap. Ia melirik ke arah meja yang sedang dibersihkan, lalu menjawab dengan suara berat, “Kamu benar, Gio. Tapi setiap kali dia muncul, rasanya rasanya seperti dia berusaha mengotori semua hal yang aku jaga. Aku benar-benar muak melihatnya. Semoga saja dia sadar diri dan tidak datang lagi ke sini atau ke rumah.”

“Dia akan berhenti pada waktunya, percayalah. Sekarang tarik napas panjang, tenangkan pikiranmu. Masih ada banyak pekerjaan penting yang harus kita selesaikan hari ini,” sambung Gio, berusaha memulihkan suasana kembali normal.

Samuel mengangguk perlahan, berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih berdebar kencang. Ia tahu ia harus segera mengembalikan ketenangan agar bisa melanjutkan pekerjaannya.

Setelah menghabiskan waktu mengobrol lama dengan Suci, Samantha berpamitan untuk pergi ke perusahaan ayahnya . Ia ingin menyempatkan diri berkunjung ke kantor pusat milik keluarganya Grup Perusahaan Alexander yang terletak tidak terlalu jauh dari kafe itu.

Dengan mobil pribadinya, ia melaju menuju gedung megah yang sudah sangat dikenalnya sejak kecil. Begitu sampai di lantai tertinggi, ia langsung disambut hangat oleh para staf yang sudah mengetahui kedatangannya.

 Samantha melangkah masuk ke ruangan kerja utama tempat ayahnya, Tuan Damian Alexander, dan kakak sulungnya, Aslan Alexander, sedang duduk berdiskusi. Begitu melihat sosoknya muncul di ambang pintu, wajah kedua pria itu langsung berseri-seri dan seketika suasana ruangan yang tadinya serius berubah menjadi hangat.

“Nah, inilah putri kesayangan keluarga Alexander akhirnya datang juga,” seru Damian dengan suara lembut sambil berdiri menyambutnya, diikuti oleh Aslan yang tersenyum lebar.

Samantha tersenyum lebar, lalu mendekat dan mencium punggung tangan ayahnya serta menyapa kakaknya. “Selamat siang, Ayah, Kak Aslan. Maaf menggangu kalian kerja tadi habis bertemu Suci setelah sekian lama tidak bertemu.”

“Tidak apa-apa, dek . Justru kami sangat senang sekali bisa melihatmu setiap hari sekarang, apalagi kamu sudah memutuskan untuk menetap kembali di sini,” sahut Aslan sambil menepuk pundak adiknya dengan sayang.

Mereka pun duduk melingkar di area santai ruangan itu. Samantha merasa sangat nyaman berada di tengah orang-orang yang sangat dicintainya. Tanpa diminta, ia pun mulai bercerita dengan rinci mengenai apa yang baru saja dialaminya beberapa saat lalu.

“Ngomong-ngomong, Ayah, Kak. Tadi di kafe tempat aku bertemu Suci, aku sempat mengalami kejadian yang agak memalukan ,” kata Samantha sambil menggeleng pelan seolah masih teringat jelas kejadian itu.

Damian dan Aslan menatapnya dengan pandangan penasaran sekaligus waspada. “Memangnya kenapa? Ada yang mengganggumu?” tanya Damian cepat.

Samantha menggeleng pelan. “Bukan begitu. Tadi aku sedang berjalan terburu-buru sambil membawa barang, dan tanpa sengaja aku menabrak seorang pria. Pria itu terlihat sangat tampan , tapi sikapnya dingin sekali, bahkan suaranya terdengar tegas dan tajam saat menegurku. Aku hanya bisa meminta maaf dan segera pergi, karena rasanya menatap matanya saja membuatku merasa tertekan.”

Mendengar cerita itu, Damian dan Aslan hanya saling berpandangan lalu tersenyum tipis seolah mengerti sifat dunia luar yang keras. Namun sesaat kemudian, Damian membuka percakapan yang sudah lama ingin ia tanyakan.

“Sudahlah, itu mungkin hanya orang yang sedang banyak pikiran. Sekarang giliran Ayah bertanya, Samantha. Kamu sudah berusia 30 tahun, sudah selesai kuliah dan sudah dewasa. Kapan nih Ayah dan Kakak bisa mendengar kabar baik soal pernikahanmu?” tanya Damian dengan nada santai namun serius.

Bersambung,,,

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!