“Ha! Ha! Ha! Ha! Ha! Akhirnya si jalang ini mati!”
Tawa keras menggema di seluruh aula istana, terdengar begitu jelas dan menusuk. Suara itu memantul di dinding marmer yang dingin, menciptakan gema yang terasa seperti ejekan tanpa akhir.
Seorang wanita tiba-tiba membuka matanya.
Mo Yuuran terengah pelan, namun tidak ada napas yang keluar dari dadanya. Ia berdiri kaku, menatap ke depan dengan bingung.
“A–aku kenapa?”
Pandangannya perlahan turun ke lantai. Di sana, tubuhnya sendiri terbaring tak bernyawa. Wajahnya pucat, bibirnya membiru, dan gaun kebesaran permaisuri itu kini tampak kotor dan tak berharga. Jantungnya seakan berhenti lagi.
“Aku ... sudah mati?”
Tangannya terangkat gemetar, terasa ringan dan kosong. Saat ia mencoba menyentuh tubuhnya sendiri, tangannya hanya menembus begitu saja. Ia bukan lagi manusia tapi hanya arwah.
Tawa kembali terdengar, membuat Mo Yuuran mengangkat kepalanya. Matanya membelalak saat melihat siapa yang berdiri di sana. Keluarganya dan pria yang ia cintai.
“Lihatlah wajahnya,” ujar seorang wanita dengan nada mengejek. “Bahkan setelah mati, dia tetap terlihat menyedihkan.”
Mo Weiwei melangkah maju dengan anggun, senyum sinis terukir di wajah cantiknya. Tanpa ragu, ia mengangkat kakinya dan menginjak wajah kaku Mo Yuuran.
“Ckckck, dasar adik bodoh,” katanya sambil tertawa kecil. “Kami meracunimu begitu lama, tapi kau tetap tidak menyadarinya.”
Mata Mo Yuuran membesar.
“Racun?”
“Kau pikir kau bisa mendapatkan cinta Bao Wen?” lanjut Mo Weiwei, nadanya penuh ejekan. “Heh. Jangan bermimpi. Dia hanya milikku.”
Langkahnya mundur sedikit, lalu ia menatap Mo Yuuran dengan tatapan tajam.
“Dan satu hal lagi yang harus kau tahu,” ucapnya pelan, seolah menikmati momen itu. “Mo Jiung keponakan kesayanganmu itu adalah anaknya, Bao Wen.”
Deg!
Tubuh Mo Yuuran gemetar hebat. “Tidak … itu tidak mungkin,” bisiknya.
“Kau pasti sangat terkejut di neraka bukan?” Mo Weiwei tersenyum lebar. “Dia adalah buah cintaku dengan Bao Wen. Sejak awal, semuanya hanya sandiwara untuk mempermainkanmu.”
Dunia Mo Yuuran runtuh seketika. Ia selalu mengira Mo Long adalah anak dari kakak iparnya yang telah meninggal. Ia mencintai anak itu sepenuh hati, bahkan rela melakukan apa pun untuknya. Ternyata, ia hanya sedang dibodohi.
“Yuuran, Yuuran.” suara pria terdengar lembut dan penuh racun.
Bao Wen melangkah maju, menatap tubuh tak bernyawa itu dengan senyum puas. Wajah yang dulu ia anggap penuh cinta kini terasa begitu menjijikkan.
“Kau benar-benar sangat berjasa,” katanya santai. “Tanpamu, aku tidak akan bisa menjatuhkan Kaisar Zi Xuan. Tidak sia-sia aku bersandiwara menjadi pria yang mencintaimu.”
Mo Yuuran membeku di tempat.
“Bahkan, kau sendiri yang membunuh ketiga putranya. Kau membuka jalan untukku dan untuk putraku menjadi putra mahkota.”
“Diam!” teriak Mo Yuuran.
Tangan arwahnya mengepal kuat, tubuhnya bergetar hebat. “Kalian semua memanfaatkanku! Dasar b3debah sialan!”
“Kasihan sekali,” ujar Bao Wen mengejek. “Kau hanyalah alat.”
“Aku akan membunuh kalian!” teriak Mo Yuuran.
Mo Yuuran berlari ke arah Bao Wen dan mengayunkan pukulan dengan seluruh amarahnya. Tapi, tangannya menembus tubuh pria itu tanpa memberikan luka sedikit pun, ia terhuyung.
“Tidak tidak mungkin.”
Ia mencoba berkali-kali. Namun hasilnya tetap sama. Ia tidak bisa menyentuh mereka dan tidak bisa melakukan apa-apa.
“Sialan kalian semua!” desisnya penuh kebencian.
Tawa mereka semakin keras, seolah penderitaan Mo Yuuran adalah hiburan yang paling menyenangkan. Namun, luka itu belum berhenti.
Seorang wanita paruh baya melangkah maju dengan wajah dingin. Lihua, wanita yang selama ini ia panggil ibu.
Tanpa ragu, Lihua menendang tubuh kaku Mo Yuuran. “Benar-benar memalukan,” katanya datar.
Mo Yuuran menatapnya dengan mata bergetar. “Ibu … kenapa?”
Lihua tertawa kecil, tanpa sedikit pun kehangatan. Dada Mo Yuuran terasa sesak, ia pikir wanita paruh baya itu akan mennagis.
“Karena kau sudah mati, aku akan memberikanmu hadiah sebagai perpisahan. Aku bukan ibumu,” ujar Lihua dingin. “Ibu kandungmu sudah lama mati.”
Napas Mo Yuuran tercekat.
“Ayahmu, Mo Fang dan aku yang membunuhnya,” kata Lihua tanpa rasa bersalah. “Dia terlalu bodoh karena memergoki hubungan kami.”
Air mata tak terlihat mengalir dari mata Mo Yuuran.
“Awalnya kami juga ingin membunuhmu,” tambahnya. “Tapi seluruh harta ibumu diwariskan atas namamu. Cih, jalang sialan itu ternyata sudah merencanakan semua ini,” kata Lihua dengan wajah kesal.
Mo Fang tertawa dari belakang. “Jadi kami harus bersabar,” katanya. “Berpura-pura menjadi keluarga yang baik sampai semuanya menjadi milik kami.”
Tubuh Mo Yuuran gemetar hebat. Semua yang ia yakini selama ini hanyalah kebohongan. Ayah kandungnya ternyata ikut andil dengan semua ini.
“Kalian ... monster!” teriaknya parau.
Ia menatap tubuhnya sendiri, lalu bayangan tiga pangeran muncul di benaknya. Anak-anak yang memanggilnya ibu yang ia bunuh dengan tangannya sendiri. Demi kebohongan ini.
“Aku … membunuh mereka .…” Suaranya pecah.
Penyesalan menghantamnya seperti gelombang besar yang tak bisa dihentikan. Bahkan dengan tangannya sendiri meracuni dan menjatuhkan kaisar Zi Xuan dari tahtanya.
“Aku akan membalas kalian!”
Teriakan Mo Yuuran menggema, penuh kebencian dan luka yang mendalam. Namun tidak satu pun dari mereka menoleh. Mereka tidak bisa melihatnya. Tidak bisa mendengarnya. Ia hanyalah arwah yang tak berarti.
“Aku bersumpah jika aku diberi kesempatan lagi.”
Matanya dipenuhi tekad yang mengerikan. “Aku akan menghancurkan kalian semua.”
Tawa mereka masih menggema di aula, namun tiba-tiba suara langkah kaki berat memecah suasana. Dentingan baju zirah terdengar dari segala arah, membuat udara mendadak menegang.
Para prajurit elit mengepung aula dalam sekejap.
“Apa ini?” Mo Fang terbelalak, mundur satu langkah. “Siapa kalian?!”
Bao Wen langsung mencabut pedangnya, wajahnya berubah waspada. “Berani sekali kalian masuk di istanaku tanpa izin!”
Tapi sebelum ada jawaban, langkah kaki lain terdengar. Semua orang menoleh ke arah pintu utama.
Seorang pria berjalan masuk dengan jubah hitam yang berlumuran darah. Pedang di tangannya masih meneteskan cairan merah segar, dan aura membunuh yang mengelilinginya membuat siapa pun sulit bernapas.
Mo Yuuran membeku. “Zi … Xuan?” bisiknya tak percaya.
Kaisar Zi Xuan, pria yang telah ia jatuhkan kini berdiri kembali.
Tatapan dinginnya langsung jatuh pada tubuh Mo Yuuran yang tergeletak di lantai. Dalam sekejap, ekspresi wajahnya berubah. Mata itu memerah, amarahnya lamgsung meledak.
“Bunuh mereka. Gantung kepala mereka di alun-alun.”
Perintah itu jatuh seperti hukuman mati.
“Berani sekali kau kembali!” teriak Bao Wen, mencoba menutupi ketakutannya. “Kau pikir kau masih seorang kaisar?!”
Ia langsung melesat maju, pedangnya mengarah lurus ke leher Zi Xuan. Dalam sekejap, tubuh Zi Xuan menghilang dari tempatnya.
Crash!
Sebuah tebasan cepat melintas. Kepala Bao Wen terlepas dari tubuhnya sebelum ia sempat bereaksi. Darah menyembur, tubuhnya roboh tanpa suara.
“Akkhhhhh!” jerit Mo Weiwei histeris.
Lihua dan Mo Fang langsung mundur dengan wajah pucat pasi.
“Lari! Cepat lari!” teriak Mo Fang panik.
Namun langkah mereka terhenti. Pedang para prajurit sudah lebih dulu menembus tubuh mereka.
“Jangan!” Mo Weiwei menjerit, matanya penuh ketakutan.
Tiga tubuh itu jatuh bersamaan, darah mengalir di lantai aula yang megah. Sunyi yang mengerikan menyelimuti ruangan.
Mo Yuuran hanya bisa berdiri terpaku. Semua terjadi terlalu cepat. Sementara itu, Zi Xuan menjatuhkan pedangnya begitu saja.
Ia berlari, langkahnya terburu-buru, tidak lagi seperti seorang kaisar yang agung, melainkan pria yang kehilangan segalanya.
“Yuuran .…”
Suaranya bergetar. Ia berlutut di samping tubuh Mo Yuuran, tangannya gemetar saat mengangkat tubuh dingin itu ke dalam pelukannya.
“Tidak … tidak … ini tidak boleh terjadi .…”
Mo Yuuran membeku. Ia menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca. Zi Xuan menangis.
“Aku terlambat .…” bisiknya parau. “Aku datang terlambat menyelamatkanmu.”
Air mata jatuh tanpa henti. “Maafkan aku … Yuuran … maafkan aku .…”
Hati Mo Yuuran terasa diremas. Selama ini, ia mengira pria ini hanya terobsesi padanya. Namun ternyata cinta pria itu, sedalam ini.
“Kau tahu. …” suara Zi Xuan bergetar di antara tangisnya. “Yang paling menyakitkan bukanlah luka di tubuh …”
Ia memeluk tubuh itu semakin erat. “Tapi ketika hatimu dipenuhi orang lain dan kita tidak pernah ditakdirkan bersama.”
“Aaaahhhhhh!” Teriakan Zi Xuan menggema, penuh keputusasaan yang menghancurkan.
Mo Yuuran menutup mulutnya, air matanya jatuh tanpa suara. Ia ingin menyentuhnya. Ia ingin menjawabnya. Tapi percuma saja, karena sekarang dirinya hanya roh.
Tak lama, seorang pria berseragam mendekat dan berlutut.
“Yang Mulia,” ucapnya hormat. “Keempat pengkhianat telah digantung di alun-alun. Apa perintah selanjutnya?”
Zi Xuan perlahan mengangkat kepalanya, tatapannya kosong.
“Semua orang keluar dari istana ini,” katanya dingin. “Bakar istana ini.”
Pria itu terkejut. “Yang Mulia … itu—”
“Lakukan.”
Satu kata itu cukup.
Pria itu lalu menunduk. “Baik, Yang Mulia.”
Mo Yuuran panik. “Tidak! Zi Xuan, jangan!” teriaknya.
Namun suaranya lenyap di udara. Tidak ada yang mendengar, tak lama setelah tangan kanan kaisar Zi Xuan keluar, asap mulai memenuhi aula.
Api merambat dari sudut-sudut bangunan, membakar tirai dan pilar kayu.
Zi Xuan tidak bergerak. Ia justru mengangkat tubuh Mo Yuuran dan berjalan menuju singgasana.Dengan perlahan, ia duduk dan memangku tubuh itu di pangkuannya. Seolah-olah wanita itu masih hidup.
“Jika kita tidak bisa bersama di dunia ini .…” bisiknya lembut.
Api semakin membesar.
“Maka biarlah kita bersama di kehidupan berikutnya.” Ia menunduk dan mencium kening Mo Yuuran dengan penuh cinta.
Mo Yuuran menjerit. “Pergi! Tolong pergi, Zi Xuan! Selamatkan hidupmu!”
Namun Zi Xuan hanya memejamkan matanya. Ia tidak berniat pergi. Ledakan besar mengguncang istana.
Duarr!
Api menelan segalanya. Dalam sekejap, cahaya terang menyilaukan pandangan Mo Yuuran. Tubuh arwahnya terhempas jauh. Kesadarannya memudar. Dan sebelum semuanya menjadi gelap
Air matanya jatuh.
“Zi Xuan .…”
“Zi Xuan, pergi!”
Teriakan itu menggema, namun seketika terputus. Mo Yuuran tiba-tiba bangun dengan napas tersengal-sengal. Dadanya naik turun dengan cepat, seolah baru saja lolos dari kematian.
Keringat dingin membasahi dahinya. Air mata masih mengalir di pipinya. Ia menatap sekeliling dengan mata gemetar. Kamar itu begitu familiar.
Hanfu putih yang ia kenakan tampak kusut, napasnya belum stabil. Tangannya meremas selimut dengan kuat, mencoba memastikan bahwa ia benar-benar merasakan semuanya.
“Aku ... di mana?”
“Yang Mulia Permaisuri! Anda telah sadar!”
Suara itu membuatnya menoleh cepat. Di samping ranjang, seorang pelayan muda menunduk hormat dengan wajah penuh kelegaan. Gadis itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Mo Yuuran membeku. “Xia Lu?” suaranya lirih.
Pelayan itu terkejut, lalu segera mengangguk. “Hamba di sini, Yang Mulia. Anda membuat hamba sangat khawatir.”
“Kau … masih hidup?” tanya Mo Yuuran pelan.
Xia Lu mengernyit bingung. “Tentu saja, Yang Mulia. Hamba tidak ke mana-mana.”
Mo Yuuran terdiam. Tangannya perlahan terangkat, menyentuh wajahnya sendiri, hangat dan nyata. Ia menunduk, menatap tubuhnya. Tidak transparan seperti roh. Lalu kembali menatap Xia Lu yang bersujud di samping peraduan miliknya.
Tentu Mo Yuuran sangat ingat, Xia Lu telah mati karena ia hukum cambuk karena Ning Ning.
“Apa ini ... kesempatan kedua?” batinnya bergetar.
Belum sempat ia mencerna semuanya, suara lain tiba-tiba menyela.
“Permaisuri telah sadar! Syukurlah!”
Mo Yuuran langsung menoleh. Seorang pelayan lain berdiri santai tak jauh dari sana. Di tangannya masih ada buah yang tadi ia makan, sikapnya sama sekali tidak mencerminkan rasa hormat yang bernama Ning Ning.
Mata Mo Yuuran langsung berubah menyala dingin. Ia tidak akan pernah melupakan wajah itu.
Pelayan yang selama ini ia percayai sepenuh hati yang diam-diam meracuninya sedikit demi sedikit hingga ia mati. Padahal mereka tumbuh bersama.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Mo Yuuran tajam.
Ning Ning tertegun sejenak, lalu tersenyum manis.
“Hamba tentu saja menjaga Yang Mulia,” jawabnya lembut. “Apa maksud pertanyaan itu? Hamba tidak pernah meninggalkan Anda.”
Ia melirik ke arah Xia Lu dengan sinis. “Berbeda dengan Xia Lu yang sering keluyuran,” tambahnya sambil tersenyum tipis.
Xia Lu menunduk, wajahnya pucat. Tubuhnya langsung gemetar hebat. Ia ketakutan akan dihukum lagi.
Mo Yuuran menyipitkan mata. Jika ini dulu, ia pasti sudah mempercayai Ning Ning tanpa ragu. Dan menghukum Xia Lu, namun sekarang emuanya berbeda.
Kilasan ingatan muncul di benaknya, kehidupan pertamanya, ia memang tidak sadarkan diri karena kecelakaan kereta kuda. Upaya melarikan diri dari istana karena sudah tidak tahan dengan obsesi sang kaisar.
Tapi Ning Ning yang mendorong semuanya terjadi tentu atas perintah dari Mo Weiwei dan Bao Wen yang tidak ingin dirinya pergi sebelum misi selesai.
“Jadi ini waktunya untuk membalas dan menebus kesalahanku?” gumamnya dalam hati.
Tangannya mengepal. Tatapannya menusuk Ning Ning hingga pelayan itu merasa tidak nyaman.
“Permaisuri, a–aku—”
“Beraninya kau berbicara dalam posisi berdiri.” Suara Mo Yuuran dingin dan tajam, terdengar mematikan.
Ning Ning membeku. “A–apa maksud Yang Mulia?” tanyanya gugup.
“Apakah kau lupa siapa dirimu?” lanjut Mo Yuuran. “Atau selama ini aku terlalu memanjakanmu?”
Ning Ning panik, namun masih mencoba membela diri. “Tapi Permaisuri … bukankah hamba selalu seperti ini di hadapan Anda—”
Bugh!
Tubuhnya terhempas keras ke lantai. Sebuah tendangan langsung mengenai perutnya.
“Aaakhh!” Ning Ning menjerit kesakitan.
Xia Lu terkejut, matanya membesar tak percaya.
Mo Yuuran berdiri di sana, wajahnya pucat namun dingin. Tidak ada lagi kelembutan seperti dulu.
“Pelayan rendahan sepertimu berani bersikap kurang ajar di hadapanku?” ujarnya rendah. “Kau benar-benar lupa tempat.”
Ning Ning gemetar. Ia tidak mengerti. Kenapa Mo Yuuran berubah drastis?
“Am–ampuni hamba, Yang Mulia .…” katanya sambil menangis.
Mo Yuuran hanya menatapnya tanpa ekspresi. “Sepertinya kau perlu diajari tata krama dari awal.” Ia mengangkat suaranya. “Prajurit!”
Tak lama, dua prajurit masuk dan berlutut. “Yang Mulia.”
“Seret dia keluar,” perintah Mo Yuuran tanpa ragu menunjuk Ning Ning. “Cambuk sampai dia ingat siapa dirinya.”
Kedua prajurit terdiam. Mereka saling pandang. Ning Ning? Sepertinya mereka salah, biasanya yang dihukum adalah Xia Lu.
“Apa kalian tuli?” suara Mo Yuuran meninggi. “Kupikir perintahku sudah jelas.”
Kedua prajurit itu langsung menunduk. “Siap, Yang Mulia!”
Ning Ning panik. “Permaisuri! Ampuni hamba! Hamba tidak bersalah!” teriaknya histeris.
Ia mencoba meraih kaki Mo Yuuran, namun langsung ditarik oleh para prajurit.
“Yang Mulia! Tolong! Tolong hamba!”
Suara jeritannya menggema saat ia diseret keluar.
Xia Lu masih terpaku. Ia bahkan tidak berani bernapas keras.
Ruangan kembali menjadi sunyi.
Mo Yuuran perlahan duduk kembali di ranjang. Tangannya gemetar, kali ini bukan karena takut. Melainkan karena emosi yang terlalu besar. Ia menatap kedua tangannya.
Lalu tersenyum tipis. “Aku benar-benar hidup kembali.”
“Aku akan menebus semua kesalahanku pada mereka. Meski harus dibayar dengan nyawaku sendiri dan satu per satu pengkhianat itu akan kubalas,” desis Mo Yuuran dalam hati.
Ruangan itu semakin sunyi, hanya suara napas tertahan yang terdengar dari sudut lantai.
Mo Yuuran mengalihkan pandangannya, menatap sosok Xia Lu yang sejak tadi bersimpuh dengan kepala tertunduk dalam-dalam, tubuhnya gemetar menahan rasa sakit dan ketakutan.
“Xia Lu, kemarilah,” ujar Mo Yuuran pelan, suaranya terlalu lembut hingga terdengar asing bahkan di telinganya sendiri.
Xia Lu tersentak kaget. Perlahan ia mendongak, matanya membesar saat menatap wajah majikannya. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat kilatan amarah di sana. Hatinya berdegup tak menentu, bingung sekaligus takut jika ini hanya awal dari hukuman yang lebih kejam.
“Kemarilah,” ulang Mo Yuuran, kali ini sedikit lebih tegas, namun tetap tanpa nada dingin seperti biasanya.
Dengan tubuh gemetar, Xia Lu segera bangkit lalu berjalan tertatih sebelum kembali bersimpuh di depan Mo Yuuran. Wajahnya meringis, menahan rasa sakit dari luka-luka yang masih segar di tubuhnya.
Mo Yuuran terdiam sesaat. Tatapannya jatuh pada noda darah di lengan gadis itu, dan seketika ingatan masa lalunya menyeruak. Semua hukuman itu adalah perbuatannya sendiri.
Ia menutup mata perlahan, napasnya tercekat. “Aku yang melakukannya,” gumamnya.
Tanpa sadar, Mo Yuuran mengulurkan tangan dan memegang kedua tangan Xia Lu. Gadis itu refleks menegang, tubuhnya semakin gemetar, takut akan hukuman lanjutan yang mungkin datang.
“Tenanglah,” ucap Mo Yuuran cepat, menyadari reaksinya. “Aku tidak akan menghukummu lagi.”
Xia Lu tertegun. Ia menatap Mo Yuuran dengan ragu, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Napasnya yang semula tertahan kini perlahan terlepas, meski rasa takut masih tersisa.
Mo Yuuran berdiri tanpa berkata apa-apa, lalu berjalan menuju meja di dekat jendela. Ia mengambil sebuah kotak kecil berisi salep luka racikannya sendiri sesuatu yang dulu hanya ia gunakan untuk dirinya sendiri dan untuk keluarga pengkhianatnya.
Ia kembali dan mengulurkan salep itu pada Xia Lu. “Ini obat luka. Pakailah. Luka-lukamu akan lebih cepat sembuh,” katanya singkat, namun nadanya jelas tidak memerintah seperti biasanya.
Xia Lu menatap tangan itu lama. Tangannya menggantung di udara, ragu untuk menerima. Dalam pikirannya, semua ini terasa seperti mimpi yang aneh dan menakutkan.
“Apa yang kau tunggu?” tanya Mo Yuuran, sedikit mengernyit. “Ambillah. Dan setelah itu, istirahatlah. Jangan bekerja sampai lukamu benar-benar sembuh.”
Xia Lu akhirnya tersadar. Dengan gerakan cepat, ia menerima salep itu dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Terima kasih, Yang Mulia … hamba … hamba akan mengingat kebaikan ini,” ucapnya terbata, suaranya dipenuhi emosi yang sulit dijelaskan.
Mo Yuuran hanya menghela napas pelan. Dadanya terasa sesak, bukan karena amarah, melainkan penyesalan yang selama ini ia abaikan.
“Aku memang terlalu kejam,” gumamnya dalam hati, menatap punggung Xia Lu yang perlahan menjauh.
Tatapannya kemudian mengeras, bukan karena kebencian, tetapi karena tekad. “Namun semuanya akan berubah. Aku akan memperbaiki semuanya dimulai dari orang-orang yang benar-benar tulus padaku.”
.
Kabar tentang Permaisuri yang telah siuman kembali menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru istana. Bukan kelegaan yang muncul, melainkan ketakutan yang semakin dalam di hati para pelayan. Nama Mo Yuuran kembali disebut-sebut dengan bisikan penuh ketakutan seolah badai lama akan kembali menerjang.
Tentu siapa yang tidak takut dengan wanita kejam itu. Baru beberapa hari mereka sedikit bernapas lega karena Permaisuri tidak sadarkan diri. Tapi kini ia telah sadar.
Yang membuat suasana semakin gempar adalah kabar lain yang tak kalah mengejutkan bagi para pelayan dan juga anggota istana lainnya. Ning Ning, pelayan kesayangan Permaisuri disebut-sebut telah menerima hukuman cambuk karena dianggap tidak sopan.
“Xia Lu, katakan pada kami itu tidak mungkin, bukan?” tanya salah satu pelayan dengan suara bergetar tapi juga penasaran.
Mereka berkerumun di paviliun pelayan, menatap Xia Lu dengan penuh rasa ingin tahu sekaligus takut.
“Benarkah Ning Ning yang dihukum?” sahut pelayan lain cepat. “Bukan kau? Bukankah biasanya kau yang—”
Ia terdiam, namun semua orang tahu maksudnya.
“Tidak mungkin,” bisik seorang pelayan lainnya sambil menggeleng. “Ning Ning adalah orang kepercayaan Permaisuri. Mana mungkin dia dihukum?”
Xia Lu hanya diam. Tangannya bergerak pelan mengambil salep, lalu mengoleskan salep pada luka di lengannya, sementara pikirannya masih dipenuhi kejadian sebelumnya. Ia sendiri belum sepenuhnya percaya.
Selama ini, Permaisuri Mo Yuuran selalu memandangnya dengan dingin, bahkan penuh kebencian. Hanya karena ia adalah pelayan yang dikirim oleh Kaisar, ia dijadikan sasaran amarah karena Ning Ning. Padahal, tujuan Kaisar mengirimnya untuk menjaga Permaisuri.
Namun hari ini semuanya terasa berbeda. Tatapan itu bukan kebencian. Melainkan rasa bersalah.
Xia Lu mengerjap pelan, seolah ingin menghapus bayangan itu dari pikirannya. “Atau mungkin itu hanya sandiwara?” gumamnya dalam hati, ragu.
“Xia Lu!” suara seseorang memecah lamunannya. “Kau belum menjawab! Apa benar Ning Ning yang dihukum?”
Xia Lu menghela napas pelan. Ia tidak ingin memperpanjang pembicaraan ini, apalagi membicarakan Permaisuri secara sembarangan.
“Sudahlah,” katanya singkat. “Lebih baik kalian kembali bekerja. Jangan membuat masalah, ingat dinding istana juga punya telinga.”
Namun ucapannya justru membuat para pelayan semakin penasaran.
“Jadi itu benar?” desak seorang pelayan, melangkah lebih dekat. “Ning Ning benar-benar dihukum?”
“Bagaimana bisa? Apa yang dia lakukan sampai membuat Permaisuri murka?” sambung yang lain.
Xia Lu tetap diam. Ia hanya terus mengoleskan salep dengan gerakan perlahan, berusaha mengabaikan pertanyaan yang terus menghujaninya.
Salah satu pelayan memperhatikan gerakannya, lalu menyipitkan mata. “Tunggu itu apa di tanganmu?”
Yang lain ikut mendekat, menatap lebih jelas. “Sejak kapan kau punya obat sebagus itu?”
Xia Lu sempat terdiam. Ia tahu jawabannya akan kembali memicu kegemparan. Namun ia tidak mungkin berbohong.
“Ini … salep luka,” ujarnya pelan. “Diberikan oleh Permaisuri.”
Sejenak, susana menjadi hening.
“Apa?!” seru beberapa pelayan bersamaan, suara mereka hampir memekakkan telinga.
“Permaisuri memberimu obat?” tanya seorang pelayan dengan mata membelalak. “Kau tidak sedang bercanda, kan?”
“Itu tidak masuk akal!” sahut yang lain. “Permaisuri bahkan tidak peduli jika kita mati, bagaimana mungkin dia memberimu salep?”
Xia Lu menggenggam wadah kecil itu sedikit lebih erat. Ia sendiri pun masih merasa semua ini seperti mimpi yang aneh.
“Aku tidak berbohong,” katanya pelan namun tegas. “Beliau sendiri yang memberikannya.”
Para pelayan saling berpandangan. Wajah mereka dipenuhi kebingungan, ketidakpercayaan, dan sedikit ketakutan akan perubahan yang tidak mereka mengerti.
“Ini pasti ada sesuatu,” bisik seseorang. “Permaisuri tidak mungkin berubah begitu saja.”
“Benar,” sahut yang lain pelan. “Perubahan seperti itu justru lebih menakutkan.”
Xia Lu terdiam mendengar itu. Tangannya berhenti bergerak, sementara pikirannya kembali mengingat tatapan Mo Yuuran sebelumnya. Lembut dan penuh luka.
Ia menunduk pelan, menggigit bibirnya. “Entah ini awal dari sesuatu yang baik atau justru badai yang lebih besar,” gumamnya dalam hati.
Baru saja para pelayan itu membuka mulut untuk kembali bertanya, tiba-tiba sebuah suara dingin terdengar dari arah pintu. Suara itu tidak keras, namun cukup untuk membuat seluruh ruangan membeku dalam sekejap.
“Apa yang kalian lakukan di sini?”
Para pelayan langsung menoleh dengan tubuh kaku. Wajah mereka seketika memucat saat melihat sosok Permaisuri Mo Yuuran berdiri di sana dengan ekspresi datar, matanya menyapu seluruh ruangan tanpa emosi.
Tanpa aba-aba, semua pelayan segera berlutut dan menundukkan kepala. “Salam hormat untuk Yang Mulia Permaisuri,” ucap mereka serempak dengan suara bergetar.
Xia Lu yang semula duduk pun buru-buru berdiri lalu ikut menunduk. Jantungnya berdegup cepat, tidak tahu apakah badai akan kembali datang.
Mo Yuuran melangkah masuk perlahan. Tatapannya berhenti sejenak pada kerumunan itu, lalu ia berkata singkat, “Kembali ke pekerjaan kalian masing-masing.”
Para pelayan terdiam sejenak, seolah tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Biasanya, berkumpul tanpa izin seperti ini akan berujung hukuman berat.
“Apa kalian tidak mendengarku?” suara Mo Yuuran terdengar lebih dingin, membuat bulu kuduk mereka meremang.
“Baik, Yang Mulia!” jawab mereka cepat. Tanpa berani menatap lagi, para pelayan segera berpencar meninggalkan paviliun dengan langkah tergesa.
Xia Lu ikut melangkah mundur, berniat pergi bersama yang lain.
“Kau ingin ke mana?” suara Mo Yuuran menghentikannya.
Xia Lu langsung membeku. Ia menelan ludah lalu menunduk lebih dalam. “Hamba … hendak kembali bekerja, Yang Mulia,” jawabnya polos.
Mo Yuuran menghela napas pelan. Ia memijat pelipisnya sejenak sebelum berkata, “Bukankah aku sudah mengatakan kau harus beristirahat sampai lukamu sembuh?”
Xia Lu terdiam. Tubuhnya sedikit gemetar. “Maaf, Yang Mulia Permaisuri,” cicitnya pelan, takut ucapannya dianggap membantah.
Mo Yuuran menatapnya beberapa saat, lalu mengangguk pelan. “Kemasi barang-barangmu.”
Xia Lu terkejut. Ia spontan mendongak, matanya membesar. Dalam pikirannya hanya ada satu kemungkinan, ia akan diusir.
“Yang Mulia … hamba—” ucapnya terbata.
“Cepat,” potong Mo Yuuran tanpa menjelaskan. “Jangan membuatku mengulang.”
Xia Lu tidak berani bertanya lagi. Ia segera bergerak, tangannya gemetar saat mengumpulkan pakaian-pakaiannya yang hanya beberapa lembar, sederhana dan lusuh.
Beberapa menit kemudian, ia berdiri kembali dengan bungkusan kecil di tangannya. Mo Yuuran sudah berbalik dan berjalan keluar lebih dulu.
“Ikut denganku,” katanya singkat tanpa menoleh.
Xia Lu hanya bisa menunduk dan mengikuti dari belakang. Setiap langkah terasa berat, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.
Namun ketika mereka tiba, Xia Lu tertegun. Di hadapannya berdiri Paviliun Phoenix kediaman utama Permaisuri.
Xia Lu mengerjap, tidak yakin dengan apa yang ia lihat. “Yang Mulia … ini .…” ucapnya ragu.
Mo Yuuran melangkah masuk tanpa ragu. “Mulai sekarang, kau akan tinggal di paviliun samping.”
Xia Lu semakin bingung. “Tapi itu adalah paviliun milik Ning Ning,” katanya pelan.
Mo Yuuran berhenti sejenak, lalu menjawab tanpa menoleh, “Sekarang tidak lagi.”
Jawaban itu membuat Xia Lu terdiam. Ia tidak berani bertanya lebih jauh. Dengan ragu, ia akhirnya mengangguk dan melangkah masuk ke paviliun yang ditunjukkan.
Sementara itu, Mo Yuuran berjalan menuju kediamannya sendiri. Tatapannya lurus ke depan, namun pikirannya penuh perhitungan.
Ia sengaja menempatkan Xia Lu di dekatnya. Karena kali ini ia tidak akan lagi membiarkan orang yang tulus padanya disakiti. Dan tentu memiliki niat lain juga.
Di sisi lain istana, suasana berbeda terlihat di sebuah paviliun megah yang dipenuhi aroma teh harum.
Tiga wanita duduk mengelilingi meja kecil, cangkir teh di tangan mereka, namun percakapan yang terjadi jauh dari kata damai. Ketiganya adalah istri kaisar terdahulu.
“Jadi Permaisuri itu akhirnya sadar juga,” ujar Dao Ling dengan senyum tipis yang sarat sindiran. “Aku kira dia akan terus berpura-pura sakit untuk menghindari tanggung jawab.”
Rong mendengus pelan, matanya menyipit. “Atau mungkin dia sedang merencanakan sesuatu lagi. Bukankah itu kebiasaannya? Kabur dari istana, membuat masalah, lalu kembali seolah tidak terjadi apa-apa.”
Dao Ling tertawa kecil. “Benar sekali. Permaisuri seperti itu sungguh memalukan bagi istana.”
Rong menyesap tehnya sebelum berkata dingin, “Yang lebih mengherankan adalah Yang Mulia Kaisar masih mempertahankannya. Padahal masih banyak wanita yang jauh lebih pantas.”
Ucapan itu membuat suasana sedikit berubah. Dao Ling melirik Rong dengan senyum tipis yang mengandung arti lain.
“Seperti dirimu?” tanyanya halus dan tajam.
Rong membalas tatapan itu tanpa ragu. “Setidaknya aku tidak mempermalukan istana. Bukankah kau jga begitu?”
Sementara itu, wanita paruh baya yang duduk di tengah hanya diam. Ia menyesap tehnya perlahan, seolah tidak tertarik pada pertengkaran kecil itu. Dia yang terpilih sebagai ibu suri.
Terlihat matanya yang tenang menyimpan sesuatu yang dalam.
Dao Ling dan Rong tampak saling menyerang, karena keduanya memiliki keinginan yang sama yaitu Kaisar Zi Xuan, putra tiri mereka.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!