Di jalan aspal yang sunyi Alica berjalan seorang diri, langkahnya tergesa, ia menoleh sekitar, tak ada satupun motor yang lewat.. maupun mobil, jalanan benar-benar sunyi kala iyi.
Sejak tadi ia menunggu ojek yang biasa menjemputnya namun kali ini tak satupun yang datang, pangkalan ojek pun sepi. malam semakin larut, keringat mulai membasahi keningnya tapi ia terus melangkah. Sesekali menoleh ke belakang, tak ada siapa-siapa?
Alica meraih ponselnya hendak menghubungi Rere temannya, satu panggilan tak terjawab
"mungkin aku harus memesan lewat aplikasi." bisiknya kembali membuka ponselnya, ia menelan ludah sebelum sempat memesan,.ponsel itu malah mengelap, baterai ponselnya habis.
Angin malam berdesir pelan di antara bangunan kosong, membawa sunyi yang terasa menekan dada. Hingga tiba-tiba suara mesin motor meraung dari belakang. Dentuman knalpotnya memecah keheningan malam itu.
Bahu Alica tersentak, langkahnya terhenti seketika. Jari-jarinya menegang, dan kepalanya menoleh cepat ke arah suara itu, napasnya ikut tertahan di tenggorokan.
Hanya lampu motor itu yang memancar ke wajahnya, Alica terus melanjutkan langkahnya sesekali berlari mencari keramaian namun yang ada hanya kesunyian, tempat belanja yang buka dua puluh empat jam masih cukup jauh.
Motor itu melaju lebih dekat, mesinnya meraung. Alica tersentak. Matanya membesar, tubuhnya refleks melompat ke samping, hampir terjatuh saat ban motor itu hampir menyentuh bokongnya.
"Jangan..." suaranya patah, napasnya terputus di tengah kalimat. "Jangan… aku nggak punya apa-apa…" ia mengeleng cepat
Ban motor akhirnya berhenti hanya beberapa senti dari tubuhnya. Debu jalanan berputar di udara. Di atas motor itu, pria muda seumuran 19 tahun itu tak langsung bicara. Sudut bibirnya justru terangkat sedikit, senyum kecil, seperti menikmati ketakutan yang baru saja ia lihat di depan matanya. Matanya mengikuti gadis itu dari atas ke bawah.
"hey... Aku tak akan menyakitimu, cepatlah jalan biar ku ikuti!" ucapnya pelan "lagian untuk apa seorang gadis jalan malam-malam begini sendiri!" ia menoleh sekitar, malam ini memang benar-benar sunyi.
Alica yang ketakutan perlahan mengangkat kepalanya, ia menatap lekat pria yang masih di atas motor, terus memperhatikan, wajah itu terlalu asing. "siapa kamu?"
pria itu tersenyum"kamu tak perlu tau... cepat jalan atau ku tinggal sendiri."
Alica yang ketakutan memilih percaya akhirnya bangun, langkahnya tergesa dan motor itu terus membuntutinya pelan hampir mencapai keramaian namun di kejauhan suara motor dengan suara motor yang sama begitupun jumlah yang lebih banyak membuat tubuh Alica semakin gemetar, ia mempercepat langkahnya.
Ia menoleh sekilas, pria yang tadi mengantarnya malah berhenti di jalan itu, tak lagi melaju mengikutinya. hingga cahaya motor lainya mendekat, ia lalu melanjutkan laju motornya.
Alica hanya bisa berdiri di keramaian sambil memperhatikan wajah pria itu "terimakasih." bisiknya pelan. Ia melanjutkan langkahnya, jantungnya masih berdebar hebat, tempat tinggalnya tinggal beberapa meter lagi, ia menoleh kebelakang seseorang yang jelas terlihat mabuk mengikutinya di kegelapan. ia segera berlari, namun karna tak terlalu memperhatikan jalan, kakinya tersandung, ia terjatuh tepat di bibir aspal.
"tolong...!" teriaknya namun tak ada satupun orang lain saat itu, di kejauhan suara raungan motor kembali terdengar, rombongan motor yang sempat ia temui sebelumnya. Alica merasa pria tadi akan menolongnya "tolong!" teriaknya berkali-kali, tanganya melambai cepat namun mereka hanya melintas, menoleh sekilas lalu berlalu. Ia bahkan bisa melihat dengan jelas pria yang membantunya tadi, kali ini melewati nya tanpa menoleh sedikitpun meskipun ia tahu dirinya meminta tolong.
Harapannya kini pupus sudah...
Pria mabuk itu tersenyum samar "Hey... Gadis cantik!" ia sedikit menuduk, menyentuh lembut dagu Alica. "kamu pikir mereka akan peduli padamu!" dengan gerakan kasar ia langsung menarik lengan Alica menyeretnya menuju gang sempit yang hampir tak di lalui siapapun malam hari.
gelap kian pekat, sunyi kian mencekam, tubuh isabella gemetar saat di tarik "Kita bersenang-senang sebentar sebelum pulang." tanganya yang keras langsung membekap mulut alica, tak memberinya kesempatan sedikitpun untuk meminta tolong, hanya matanya yang bergerak liar, hanya bisa meronta saat tubuhnya di tarik.
gelap menghantam, ia tak tau harus bagaimana lagi, airmatanya mulai luruh, ia mengeleng pelan "Tolong jangan!"
Pria itu terkekeh "Tenang sayang, sebentar lagi kita sampai."
Alica tak mau menyerah, ia berusaha lebih keras lagi intuk lepas saat tubuhnya di seret paksa, tenaganya tak sekuat pria di depannya, tubuhnya terus di seret tanpa henti, melewati semak-semak liar hingga sampai di sebuah rumah tak berpenghuni, hanya ada cahaya rembulan, tak ada tetangga, tak ada tanda-tanda orang lain di sana.
Tubuh Alica dilempar di lantai berdebu, tubuhnya gemetar, ia sedikit mendongak "Tolong jangan.."
pria itu hanya tersenyum, membuka ikat pinggangnya lalu melemparnya di lantai, suara besi yang bersentuhan terdengar nyaring di kesunyian malam, tanganya terangkat pelan "kalau kamu teriak, aku tak kan segan-segan menghabisimu di tempat ini,"
"tidak... tolong jangan lakukan itu," ia menyerahkan tasnya "ambil saja semua milikku, tapi bebaskan aku!" Alica mencakupkan tanganya cepat "Aku mohon!" suaranya bergetar
Pria itu terkekeh pelan, ia meraih tas itu dari tangan Alica.. Ada rasa lega yang Alica rasakan saat itu berharap pria itu punya belas kasihan untuk melepasnya, namun selang beberapa detik, pria itu terkekeh saat melihat Alica bangun "kamu pikir aku mau uangmu!" Ucapnya pelan, ia melempar tas itu di dekat pintu.
langkah pria itu pelan mendekat, sedikit menunduk, giginya menggertak tajam mencengkram kuat dagu Alica yang bergetar "diam... Atau aku akan berbuat kasar... " suaranya melembut "kita nikmati malam ini sayang! kamu cantik sekali, aku tak sabar lagi!" senyum itu, sorot mata itu sangat menakutkan bagi Alica yang kini begitu rapuh. Tak ada yang bisa ia lakukan selain pasrah.
"aku mohon jangan!" teriak Alica.
Pria itu hanya tersenyum, membuka kaos bajunya yang sedikit basah oleh keringat. Aroma alkohol mulai memenuhi ruangan itu. Diamnya peria itu justru membuat Alica semakin gemetar.
"tidak... kamu tak bisa letakkan aku. Ku mohon lepaskan aku!"
Alica meringkuk di sisi dinding "a-aku ini seorang janda... Aku bukan perawan, kamu pasti tidak suka... tolong lepaskan aku."
pria itu tertawa lepas "Baguslah kalau kamu janda. Aku tak perlu lagi mengajarimu bagaimana cara melayaniku."
"kalau kamu melepaskan ku... Aku janji.. Aku akan membalas kebaikanmu itu."
Pria itu kembali menuduk " kamu pikir aku orang baik... Kamu tak akan ada di sini kalau aku ini orang baik." ia kembali tertawa meminta kebaikan dari orang yang bahkan menyeretmu ke tempat ini."
ia kembali berdiri, menyalakan sebatang rokok, asapnya menari di udara, ia sedikit menuduk, mengepulkan asapnya tepat di wajah Alica "Sudahlah terima saja... Aku yakin kamu akan menikmatinya, apalagi kamu seorang janda... Hal seperti ini pasti sangat kamu rindukan."
Alica tak menjawab, hanya menatap liar, tak ada benda apapun yang bisa ia gunakan untuk melindungi diri, yang terlihat hanya debu yang menumpuk
"tempat ini kotor sekali... Apa kamu mau kita melakukannya di sini?" Tanya alica akhirnya.
Pria itu menatap sekitar "kamu benar" hening sejenak "akh... Aku tak peduli."
Pria dengan pakaian lusuh, rambut sedikit panjang dan perut buncit itu membuka kancing celananya tergesa, ia menghempaskan ikat pinggangnya ke lantai berdebu, menimbulkan dentingan keras yang cukup membuat Alica tersentak,.debu berterbangan, menusuk hidung, Alica terbatuk begitupun pria itu.
"sial." gumam pria itu, ia keluar sebentar lalu kembali ke dalam dengan beberapa kardus di tanganya "kami tenang saja sayang... Aku sudah dapatkan alas agar kamu nyaman." Alica tak menjawab. Sementara senyum pria itu penuh nafsu, tanganya cekatan mengeluarkan kardus itu di lantai, sesekali ia menatap ke Alica uang meringkuk dengan tubuh gemetar.
Pria itu kembali mendekat, sedikit menunduk membuat Alica semakin panik, tubuhnya gemetar. Ia menutup mata sejenak.
Pria itu terkekeh pelan, memainkan lidahnya di mulut lalu sedikit menunduk "Kuta mulai sekarang." ia mengusap tangannya tak sabar
Tepat saat pria itu hendak meraih bahunya, terdengar rintihan dari bibir Alica "tidak..." ia memalingkan wajah, aroma itu membuatnya mual. Sementara kakinya menendang sembarang, mengenai bagian yang paling menyakitkan, pria itu lalu menjauh sambil memegangi miliknya yang berdenyut hebat.
"kuranga ajar!" teriaknya sambil meringis, ada rasa iba yang menyentuh hati Alica saat itu tapi seketika ia tersadar bahwa pria di depannya itu tak seharusnya di kasihani.
Ia menendang sekali lagi, ke tempat yang sama, jauh lebih keras "aw... kamu... Berani sekali kamu!" satu tanganya terangkat menunjuk ke arah Alica yang berusaha kabur.
Alica menoleh sekilas ke belakang lalu Kembali ke arah depan, begitu keluar Susana begitu gelap, hanya suara jangkrik dan katak yang menemani langkahnya, ia menatap ke sana kemari sunyi menyapa, tak ada satupun orang yang bisa ia mintai tolong, tak ada rumah penduduk, hanya rumput liar yang tumbuh di sepanjang jalan setapak.
"aku harus kemana?" gumamnya pelan, ia bahkan tak ingat lagi kemana arah jalan keluar, namun kali ini, Alica hanya mengikuti hati nuraninya, ia terus berlari tanpa menoleh ke belakang, "Tuhan.. lindungi aku!" ucapnya pelan, nafasnya terengah, suara pria itu masih terdengar tajam di belakang sana.
"hey... berani sekali kamu kabur. Kalau kamu tertangkap tak akan ada ampun untukmu."
Kaki Alica menghentak tanah sekuat tenaga. Kerikil tajam menancap di telapak kakinya, tapi ia tak sekalipun menoleh atau melambat. Napasnya memburu, dadanya berdesah kencang, matanya melotot menatap ke depan merasa ada bayangan yang terus mengejar. Ia bahkan mengabaikan jika mungkin di balik semak ada binatang bersisik yang mungkin menyerangnya saat berjalan.
Begitu melihat cahaya di kejauhan Alica mempercepat langkahnya hingga sampai di pinggir jalan, seseorang nampak duduk di atas motor yang terparkir, asap rokok masih menyala di tanganya.
Tanpa pikir panjang Alica berlari langsung naik ke atas motor "mas... tolong aku, ada yang mau menyakiti aku."
Pria itu tak menjawab, sampai Alica menepuk bahunya "mas... denger aku kan. Ayo jalan!" ucap Alica lagi sambil menoleh ke kejauhan takut di kejar lagi, nafasnya memburu, tanganya terus mengusap keringat tipis di keningnya.
"mas... Aku mohon. kalau mas membantu saya kali ini, saya janji akan membuatkan masakan yang enak besok, saya pandai memasak lho."
bukannya peduli, pria itu justru berkata dingin, seolah tak peduli dengan ketakutan wanita di belakangnya "Turun!"
Satu kata singkat itu berhasil membuat mata Alica membola "kamu yakin ingin mengusirku?"
"tidak... Tidak ....aku yakin kamu orang baik. Ayo, mas. Aku mohon!"
"turun aku tak kenal kamu." ucap pria itu lagi membuat Alica terpaksa menurunkan kakinya. Di kejauhan suara pria itu semakin dekat, tanpa menoleh lagi, ia langsung meninggalkan pria itu.
"hey... Kamu. Awas kamu ya."
Alica berlari lebih kencang, menghabiskan sisa tenaganya, kakinya yang sakit dan gatal pun ia abaikan.
"aku tak boleh tertangkap lagi," ringisnya menahan sakit. ia terus melanjutkan langkah, hingga di ujung jalan, tubuhnya mulai kehabisan tenaga, Alica berdiri sedikit menuduk kedua tangannya berpegangan di keduanya lutut, nafasnya terengah.
Di kejauhan terdengar suara motor sport, dengan suara cukup keras mendekat, Alica sudah bersiap berlari lagi namun terhenti saat motor itu berhenti di depannya "Cepat naik!"
Tanpa pikir panjang Alica langsung naik ke atas motor itu, ia menoleh sekilas ke belakang, pria itu nampak berlari mengejarnya "pegangan." ucap pria yang mengenakan motor, pedal gas di tarik keras. Alica memeluknya erat detak jantungnya semakin berpacu, di bawah topi putihnya bibirnya tersinggung ke atas tipis
"heyyy... jangan kabur. kamu pikir bisa pergi dariku!" teriak pria itu cukup keras, suaranya tertelan oleh suara bising mesin motor yang bekerja keras.
Di perempatan jalan Alica menoleh sekitar jalan itu tak asing "belok kiri!" ucapnya dan pria itu langsung membelokkan stang motor nya sesuai arahan wanita di boncengnya.
Jalanan mulai mengecil meski masih jalanan beraspal, lampu jalan sedikit berjauhan hingga sampai di pertigaan, Alica langsung berkata "kanan!"
Ban motor berdecit pelan, pria itu yang hendak berbelok ke kiri langsung membanting stang motornya ke kanan "kalau mau belok kanan, bilang dong!"
Alica tersenyum kikuk, wajahnya memerah "maaf, mas!"
Motor masih melaju cukup kencang, Alica menoleh ke belakang sekilas memastikan tak ada yang mengikuti lalu kembali menghadap depan. sadar sudah terlewat ia kembali berkata mendadak " berhenti!" suaranya cukup keras membuat pria itu terpaksa mengerem motor sportnya cukup kuat "kamu...!" gerutu pria itu namun Alica segera turun, sekali lagi hanya bisa meminta maaf.
Di bawah lampu jalanan yang tamaram. ia melangkah mendekat tapi tak terlalu dekat, sadar dirinya penuh debu "Terimakasih, mas!" ucapnya pelan tapi matanya tak lepas dari wajah tampan pria itu di bawah cahaya lampu jalanan.
Pria itu tak menjawabnya hanya menoleh. Alica langsung melangkah menjauh "Berhenti!"
Suara pria itu langsung menghentikan langkah Alica "Ada apa lagi," pria itu menatap sekitar, suasana di tempat itu nampak sunyi, rumah penduduk agak jauh dari tempatnya sekarang, dan tanpa sengaja matanya menangkap sebuah papan lebar bertuliskan TPU kampung Badas. ia sempat tersentak lalu menatap Alica lekat dari atas hingga bawah, memastikan kaki kecilnya menggapai tanah.
Ada helaan nafas lega setelah sadar Alica bukanlah hantu atau penghuni kuburan di sana.
"ada apa lagi?" Tanyanya saat pria itu diam
Pria itu menoleh mendengar suara Alica "Rumahmu di sini?"
"tidak... Aku ngekos di ujung sana." jawab alica cepat menunjuk ke arah rumah padat penduduk. Pandangan pria itu mengarah ke arah tangan Alica menunjuk, Ia sadar arah yang di tunjukkan Alica, tak jauh dari kuburan.
"kalau tak ada lagi, aku pergi sekarang!" ucap Alica langsung melangkah tanpa menunggu jawaban.
"tunggu ... kenapa buru-buru." ucap pria itu lagi.
Langkah Alica akhirnya terhenti "ada apa lagi?"
"Buru-buru sekali... berikan ponselmu." katanya pelan, sambil menengadahkan tangan.
Alica mengeryit bingung, mempererat pegangan tanganya di tas Selempangnya "kamu maling, ya?"
pria hanya menghela nafas tersenyum tipis "Apa kamu itu pelupa?" bola mata Alica memutar bingung "emang aku melupakakan apa?"
Pria muda itu meraih ponselnya di saku celana lalu menyerahkannya ke Alica "cepat tulis nomermu."
"untuk apa?"
Sekali lagi pria itu menghela nafas, "Apa kamu lupa. Apa janjimu sebelum aku menolongmu?"
Alica menghela nafas, "kenapa kamu perhitungan sekali, aku kira kamu benar-benar baik." ia meraih paksa nomernya lalu mengetikan angka-angka di layar.
"Nih...." gerutunya sambil menyerahkan ponselnya. "nama?" ucap pria itu lagi, sambil memainkan alis.
"eh... kok nama sih... Nggak ada. besok datang saja jam 8 pagi, aku akan bawakan makanan masakanku sendiri seperti janjiku."
"tidak... katakan namamu sekarang! Mana aku tau kamu jujur atau tidak, bisa-bisa aku menunggu di kuburan seperti orang gila."
Alica maju satu langkah, hentakan kakinya sempat membuat pria itu mundur selangkah "hey... Anak muda. Kamu pikir aku ini pembohong, aku ngekos di ujung sana." ucapnya menunjuk di kekejauhan.
"ujung sana... Jelas-jelas itu masih wilayah kuburan, kamu ya." gerutunya kesal "dengan mudahnya menyebut di sana tempat tinggalmu."
"ya... memang aku ngekos di sana!" ucap Alica lagi
Pria itu mengeleng cepat "nggak... Nggak. Sebut namamu sekarang!"
"kamu!" tangan Alica mengepal kuat "Ya... Namaku Alica."
"nama yang bagus." ungkapnya sambil mengetik nama Alica do layar, ia lalu menoleh sekali lagi "Nama lengkap?" tanyanya pelan.
Alica melangkah menjauh, enggan menanggapi pria itu lagi "nama panggilan saja cukup." gerutunya tapi pria itu tak menyerah, ia terus mengikuti langkah Alica dengan motornya, suara bisingnya di tengah kesunyian membuat Alica menghentikan langkahnya. "kenapa kamu mengikutiku, kalau ada yang dengar suara motormu, aku bisa kena omel."
Motor itu akhirnya menepi, pria itu kembali turun dari motornya, mesin segera di matikan "makanya katakan siapa namamu. Kamu bahkan tak mau aku tau dimana kamu tinggal. Apa itu tak mencurigakan."
"Aduh... kamu bikin aku pusing, oke... Namaku Alicia Pelicia Andita."
Pria itu segera mengetik kembali di layarnya, satu panggilan langsung berdering. Alica tersentak langsung meraih ponselnya "itu nomerku. di simpan ya..." Alica masih membeku "namaku Rangga... Rangga Geraldo."
Hening, Alica masih sibuk mengetik di layar ponselnya. Sementara Rangga yang lebih tinggi darinya sedikit menuduk,.ia bisa melihat dengan jelas isi layar itu, dengan cepat ia menarik ponselnya "kamu benar-benar membuatku kesal." ia segera mencari panggilan tak terjawab lalu mengisinya dengan nama Rangga Geraldo.
"kamu lancang sekali, kembalikan ponselku!" teriak Alica tapi tak terlalu cepat, takut membangunkan penduduk lainnya.
"oke aku kebalikan. sekarang aku antar sampai kosannya."
Alica mengeleng cepat "Kalau ada yng lihat aku di antar malam begini apalagi cowok, Aku bisa di usir. Ia kembali mencakupkan tanganya "aku mohon...!"
Rangga akhirnya mengangguk pelan "Baiklah... Kali ini kamu aku lepaskan. ingat besok pagi aku tunggu di sini jam delapan."
"ya." jawab alica singkat, tapi ia sempat memeluk dirinya sendiri. Rangga langsung membuka jaket hitamnya
"eh... Mau apa kamu?" tanyanya sedikit mundur. Rangga tak bicara, hanya melangkah maju "kami kedinginan, pakailah ini!"
Alica membeku, perhatian pria di depannya begitu tiba-tiba. Rangga segera memasangkan jaketnya. "kamu pasti kedinginan."
Alica berusaha melepaskan jaket itu dari bahunya "tidak perlu, kosan ku sudah dekat."
Rangga menggeleng pelan, menahan jaketnya agar tak di buka "Sudah pakai saja... Ini masih wangi kok."
Lagi-lagi Alica membeku sesaat lalu menatap lekat, manik mata pria itu "Baiklah... Terimakasih. Besok ku kembalikan."
"tidak perlu.. Aku masih punya yang lain." jawabnya cepat
"Tapi ini kan punyamu." sela Alica "atau jangan-jangan kamu jijik dengan bekasku."
Rangga menelusuri jalan sekitar, Jam di tanganya hampir menunjukan pukul sebelas tengah malam. suasana semakin sunyi "Pulanglah! kita lanjutkan besok, jangan sampai kita di grebek malam begini."
Perkataan Rangga sempat membuat Alica tersadar. "kalau begitu kita bicara besok saja!"
Alica akhirnya melangkah lebih jauh, ia sesekali menoleh, Rangga masih setia duduk di jok motornya.
" Pria itu..." Gumamnya pelan masih menoleh ke belakang, begitu berbalik ia kembali tersentak, tubuhnya membentur Rere.
"Astaga, Alica! Apa yang kamu lakukan?" rere mengangkat kepala perlahan. Matanya setengah terpejam, lalu menyeringai canggung. "Hehe... maaf..." Ia menggaruk tengkuknya. "Aku... aku nggak sengaja."
Rere yang menatapnya dari tas hingga bawah "Kamu?" ia menyentuh jaket kulit itu, bahannya tebal namun lentur, jahitannya presisi, dan ritsleting logamnya terasa kokoh.
"ini.... Ini jaket asli... Aku yakin." ia kembali menatap Alica yang berdiri terpaku "kamu dapat darimana... Jangan-jangan kamu habis ketemuan sama pria kaya? Atau geng motor elit." Rere menunjuk wajah Alica "ayo ngaku? Kok diem aja." dia bahkan mencolek pelan pipi Alica.
"kamu apaan sih... Gara-gara pulang belakangan, aku terjebak tawuran geng motor, aku terpaksa lewat jalan lain yang tak ku kenal." Alica sedikit menunduk "aku hampir di nodai pria mabuk, dan jaket ini dari pria muda yang membantuku pulang.
Rede membeku "pria muda... Jangan-jangan dia suka sama kamu." ucapnya penuh semangat
Alica melangkah lebih dulu "sayangnya aku tak tertarik, dan satu lagi dia itu masih muda, jangan sekali-kali mencoba menjodohkanku, karna itu tak mungkin!"
"kalaupun muda kenapa, dia tampan, kaya punya segalanya dan dia baik." ucapnya sambil menatap kekejauhan.
"itu bukan urusanku, berhenti memcoba menjodohkanku dengan siapapun." jawab alica, meninggalkan Rere yang masih berusaha mencari tahu pria yang pulang bersama Alica
begitu menoleh, Alica sudah jauh, hampir menggapai pintu kosannya "Alica tunggu," ia segera mengikuti "duh... Kenapa jadi di tinggalkan." gerutunya
Alica langsung masuk kamar mengabaikan Rere yang terus mengedit pintunya. "Alica... buka pintunya."
"Tidak... sebelum kamu berhenti menggangguku. Bukannya perihatin temanya kena musibah."
Rere menghela nafas "ok... kamu istirahat saja, kita bicarakan lagi besok. Bye..."
Setelah membuka jaket itu, Alica duduk di pinggiran ranjang, Aroma jaket itu masih melekat, tanganya terangkat tanpa sadar meraih jaket yang ada di sampingnya. Aroma parfum itu begitu menyenangkan.
Beberapa menit berlalu, Alica tanpa sadar terus mencium aroma itu hingga dering di ponselnya berbunyi. Alica tersentak, ia buru-buru membuka ponselnya "Rangga tampan." matanya melebar baru menyadari kalau Rangga menyimpan nomernya dengan nama berbeda dari yang ia katakan.
"sudahlah... untuk apa aku meladeninya." tanpa membuka pesan itu, ia melangkah menuju kamar mandi.
dingin merayap, ketika air keran mulai mengguyur tubuhnya "dingin sekali," bisiknya. segera menyudahi mandi meski belum sepenuhnya bersih. Bayangan kejadian tadi sempat membuatnya gemetar sesaat. ia buru-buru keluar dari kamar mandi.
saat hendak meraih baju, ponselnya kembali berdering, Alica mendekat mengira telpon penting, ternyata nomer yang sama dari sebelumnya.
"malam-malam begini, mau apalagi dia." ucapnya pelan segera mengenakan pakaian, hingga layar ponselnya kembali mengelap, iapun tak perduli.
pesan beruntun terus datang tapi sayangnya Alica memilih mengabaikannya, ia melirik sekilas hendak melihat jam namun tanpa sengaja tanganya menekan pesan dari aplikasi hijau "kalau nggak di angkat, aku ke sana malam-malam."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!