Five Engine Start..
five, four, three, two, one. Lift-off for Crew of Centauri 5.
Roket besar baru saja lepas landas untuk membawa crew dari misi Centauri 5 mendaratkan awaknya di bulan. untuk pertama kali dalam 30 tahun terakhir.
Seorang remaja mengagumi penerbangan itu, meski dia hanya melihat live dari televisi, namun ia begitu kagum dengan misi besar ini. ia bernama Daniel, seorang anak miskin yang tinggal di pedesaan, jauh dari kota dan teknologi. Orang tuanya hanya seorang petani lokal yang mengandalkan penjualan hasil tani untuk hidup.
Daniel sendiri tidak bersekolah karena ekonomi keluarga, masalah lainnya adalah tidak ada sekolah di daerah perdesaan, Daniel hanya menyelesaikan sekolah menengah, semenjak ia lulus SMP, ia tidak pernah sekolah lagi selama satu tahun terakhir.
Daniel ingin sekali melanjutkan sekolahnya, orang tuanya juga ingin Daniel mendapatkan pendidikan yang layak, namun ekonomi mereka sendiri sedang tidak baik-baik saja.
Hari-harinya Daniel hanya ikut bersama sang ayah untuk membantu di sawah, itu sudah dilakukannya sedari lama. meski Daniel ingin sekali bersekolah, namun ia harus sadar dengan kondisi keluarganya.
menjadi insinyur adalah impian Daniel semenjak ia kecil, namun sepertinya impian itu harus ia pendam karena ia tidak ingin membuat repot orang tuanya, ia percaya keajaiban pasti datang kepadanya.
"Daniel, Ayo ikut ayah ke sawah" Teriak sang ayah dari dapur. Daniel mengiyakan dan beranjak dari kasurnya untuk segera berangkat ke sawah.
Di sana seperti biasa ia membantu ayahnya untuk membajak sawah. siang harinya mereka menyantap makanan yang sudah disediakan oleh ibunya.
"Yah, kok hari ini Ibu gak ikut, ya?" Tanya Daniel sembari makan.
"Kata Ibu kamu, dia ada urusan di balai desa" Jawabnya.
"Untuk apa, yah?" Tanya Daniel singkat.
"Ada aja, Nanti kamu juga tau" Jawab ayah singkat
Daniel sedikit tidak paham apa yang sedang ayahnya rencanakan.
Daniel hanya memakan perlahan makanan yang dimasak ibunya sembari menikmati angin dan pemandangan yang indah.
Ayah tiba-tiba saja menanyakan suatu hal penting kepada Daniel.
"Nak, Kamu masih ingin sekolah?" Tanya Ayah serius.
"Yah, kok ayah tiba-tiba serius gitu, sih?" Jawabnya sedikit tertawa.
"Jawab serius, Nak." sang ayah mulai menegakkan badannya pertanda ini adalah topik serius.
"Jika ayah menanyakan hal seperti itu, Jelas aku masih ingin sekolah" Jawabnya canggung.
"Jelas, Ayah juga tau keinginanmu." Jawab sang ayah lega. ayah mulai berdiri dan melenturkan badannya kembali.
"Ayah tau, Kamu pintar dalam akademi, kami seperti menghalangi impianmu saja kan, Nak?" Ucap sang ayah tersenyum
Daniel berdiri dan mengatakan dengan tegas bahwa itu bukan salah orangtuanya.
"Tidak, Yah! ini bukan salah kalian! aku bersyukur kalian membesarkanku dan merawatku! itu saja bagiku sudah cukup, Yah!" Ucapnya lantang.
"yang kamu sebutkan adalah kewajiban sebagai orang tua, Nak. bukan sesuatu yang bisa dibanggakan." Jawab sang ayah.
"sudah lah, Yah. tidak usah dipikirkan. Bagaimanapun itu hanya hal kecil, Yah" Ucap Daniel.
Ayah kemudian berbalik badan dan meraba isi tas yang ia bawa, kemudian ia memberikan secarik kertas bertuliskan dokumen pendaftaran ke SMA yang selama ini Daniel incar.
Di sana tertulis bahwa Daniel memenuhi standar dan akan bersekolah di SMA tersebut. ia diletakkan di kelas IPa. Kelas yang paling susah untuk dimasuki.
Daniel menentang hal ini dan marah dengan ayahnya.
"Ayah gak mikir? bagaimana dengan kita makan, yah?" Ucapnya
"Bagaimana dengan sawah, dan lagian sekolahnya jauh dari rumah kita, Yah."Ucapnya dengan penuh emosi.
"Kamu tidak perlu cemas, Rumah dan sawah kita sudah ayah jual" Ucap ayah dengan tenang, Daniel seketika marah saat mendengar bahwa rumah dan sawahnya dijual hanya untuk dirinya bersekolah.
"Dengar dulu, Nak." Sang ayah berusaha menenangkannya.
"Ayah bukan menjual sawah dan rumah tanpa planing, Ayah menjualnya untuk membeli rumah sederhana di kota agar kita bisa hidup di sana, dan juga uangnya masih ada tersisa banyak untuk membuka usaha warung makan" Ucap sang ayah
"Ayah gak merasa keberatan kan dengan semua ini?" Tanya Daniel yang perlahan mulai meneteskan air mata.
"Daniel, Sudah ayah bilang kalau kewajiban kami untuk merawat dan membesarkanmu!" Ucapan sang ayah itu membuat Daniel menangis. Ia percaya keajaiban akan datang, namun ia tidak menyangka bahwa keajaiban itu datang hari ini.
Daniel memeluk ayahnya sambil menangis bahagia.
"Duh, Anak laki jangan nangis!" Ucap sang ayah bercanda.
"Aku gak nangis! hanya kelilipan debu saja, Yah." Ucapnya tersendut sendut
"Iya deh percaya!"
hari itu adalah hari besar bagi Daniel, Benar-benar tidak menyangka bahwa hari ini akan datang. Hari paling bahagia bagi Daniel.
Malamnya mereka bersiap untuk pindahan karena sekolah akan dimulai 3 hari lagi. Daniel begitu antusias dengan pindahan ini, karena baginya ini adalah sebuah hadiah besar sekaligus pengalaman hidup yang jauh lebih terukur.
"Yah, Aku sudah selesai merapikan barangku!" Ucap Daniel.
"Beneran gaada yang ketinggalan, kan? kita gak akan balik lagi ke sini, lho!" Jawab Ayah bercanda.
"Aman, Yah! semua sudah diatur, tinggal ayah sama Ibu saja lagi yang harus bersiap-siap!" Ucapnya.
"Barang ayah sih gak banyak, ya. sisanya paling nanti diantar sama truk" Ayah yang sedang meraba-raba lemari.
"Kalau ibu, Gimana? sudah siap kah?" Tanyanya.
"Ibu selalu siap, Daniel. yaudah, kita tidur aja, karna sudah aman semua, ya." Ucap ibu yang beranjak ke kamar.
"hoahhm.." Daniel juga mulai mengantuk. ia pergi ke kamar dan bergegas untuk tidur.
...
Sekitar pukul 02.00 pagi, Daniel terbangun karena dia merasa panggilan alam tidak bisa menahannya.
Ia beranjak dari kasurnya dan menuju kamar mandi.
di luar ia melihat ayah yang sedang duduk terdiam, entah apa yang ayah pikirkan, tapi sepertinya ini bukan masalah yang serius.
Daniel menghiraukannya dan kembali untuk tidur.
..
keesokan harinya mereka semua sudah siap untuk berangkat ke rumah baru yang telah dibeli di kota. Daniel merasa ini adalah hari paling-paling-paling-paling bahagia dirinya. padahal baru kemaren ia membajak sawah, hari ini dia pergi dan memulai lembaran baru dalam menuntut ilmu.
"Aku akan membuka lembaran baru, kembali belajar adalah hal yang paling aku sukai, aku ingin meraih mimpiku menjadi seorang Insinyur Dirgantara, ini mimpi ambisius yang harus aku lakukan!" Gumamnya sembari menggenggam buku hariannya.
"Ah.. aku gak mau lupa dengan hari ini, aku harus mencatatnya." Gumamnya lagi.
...
sekitar 1 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai ke rumah baru itu. meski sederhana namun rumahnya cukup bagi mereka.
"Kehidupanku dimulai dari sini" Ucapnya.
Daniel menata semua barangnya ke kamar miliknya, ia begitu senang karena ia diberi kamar pribadi agar ia bisa lebih fokus dalam menuntut ilmu.
"Akhirnyaa aku punya kamar sendiri, ini bikin aku gak keganggu lagi saat belajar deh" gumamnya bahagia.
"Saatnya meletakkan semua barang pada tempatnya dan pergi beristirahat sejenak" Daniel mulai merapikan barang yang ia bawa dan segera tidur.
Sorenya ia ingin jalan-jalan sebentar, ia ingin melihat-lihat sekitar karena ia ingin lebih kenal dengan tempatnya.
"Aku harus kenal dengan tempat disekitar sini, jikalau aku perlu sesuatu, aku gak akan kesusahan mencarinya" gumamnya
Daniel pergi sesuai map yang ada di-ponselnya untuk melihat apakah ada tempat yang menarik untuk ia datangi.
ia memperhatikan maps dan menemukan sebuah lapangan luas. ia tertarik untuk mengunjungi tempat itu dan segera menambahkan ikon lokasinya dan pergi dengan berjalan kaki. jaraknya tidak begitu jauh dari rumahnya, hanya 3 KM.
"Ah gak begitu jauh tempatnya, masih bisa aku jalan kaki ini, hitung-hitung biar sehat." Gumamnya sembari mengutak-atik ponsel.
Daniel berjalan kaki dengan penuh semangat, ia berpikir tempat luas itu bisa ia jadikan tempat peluncuran roket DIY miliknya.
Diperjalanan ia dihalang oleh sekelompok anjing liar, Daniel tidak menyukai anjing liar, yang jinak saja ia tak begitu suka, apalagi yang liar.
Daniel memasang kuda-kuda untuk segera lari. namun itu adalah pilihan paling bodoh yang pernah ada. bukannya selamat, ia justru dikejar habis-habisan oleh segerombolan anjing itu. Daniel berteriak meminta bantuan, namun karena ia berada di tempat sepi dan jauh dari kehidupan manusia, tak ada yang datang untuk menolongnya.
ia berlari hingga nafasnya habis, tak ada yang bisa ia lakukan. tiba-tiba dari semak-semak muncul dua orang gadis menggunakan topeng serba hitam dan kostum serba hitam pula.
Dua gadis itu membuat semacam benteng untuk melindungi Daniel dari kejaran anjing itu, mereka pikir ini berhasil mengalihkan perhatian anjing-anjing itu, Mereka terlalu naif.
akhirnya mereka bertiga dikejar habis-habisan oleh para segerombolan anjing itu. mereka bertiga berteriak namun karna jauh dari keramaian, tidak ada yang datang membantunya.
"Kalian ngapain sih" Teriak Daniel sembari berlari kencang.
"Kami hanya ingin membantumu! mereka terlalu liar!" Jawab salah satu dari mereka yang juga ikut berlari kencang.
"Kalian bodoh atau bagaimana? ini gak lucu!" Teriak Daniel.
Di ujung jalan, Daniel melihat sebuah celah dinding yang mungkin saja bisa menyelamatkan mereka dari kejaran anjing. Daniel spontan menarik kedua gadis itu untuk masuk ke dalam celah itu. untungnya celah itu mampu menampung mereka bertiga di dalamnya.
Dalam kondisi berdesak-desakan mereka harap cemas karna takut para anjing itu bisa menemukan mereka, untungnya setelah pelarian panjang, Daniel dan dua gadis itu bisa selamat namun tenaga Daniel benar-benar lemah. Daniel terjatuh tak sadarkan diri. total Daniel berlari 15 KM dengan waktu tempuh hampir 2 jam tanpa berhenti.
Beberapa saat kemudian Daniel dibangunkan oleh dua gadis yang tidak ia kenal itu.
"Bangun! kamu kenapa tidur di sini!" Salah satu dari mereka menampar muka Daniel agar Daniel segera sadar.
Daniel seketika sadar dan langsung bangun dari tempatnya.
"Apa yang terjadi" Ucapnya.
"Kau tertidur, kenapa tidur di sini coba?" Jawab gadis itu.
"Woi, siapa kalian?" Teriak Daniel.
"Serius, Kamu gak inget kami?" ucap salah satu gadis itu.
"Ingat? kalian siapa? aku gak pernah kenal dengan cewek yang memakai topeng aneh seperti kalian!" Jawab Daniel.
"Kami kecewa kamu lupa" Ucap lesu gadis itu.
"Sebentar! ini bukan novel romance, Kan? aku benar-benar gak pernah bertemu kalian" Ucap Daniel.
"Ah lupa,.. Minami, Lepas topengmu itu" Ucap salah satunya.
"Ah, kamu benar, Latifa." Jawab Minami.
Mereka berdua melepas topeng serba hitam itu dan menunjukan wajah cantik mereka berdua kepada Daniel.
"Ekspresi kalian bisa santai saja gak, sih?" Ucap Daniel dengan datar.
"Yah, padahal ini pertemuan kita setelah sekian lama, kamu kok santai gitu" Ucap Minami.
"Lagian kenapa kalian tidak bilang sedari awal coba? malah pakai kostum aneh seperti itu" Ucap Daniel.
"Haha, Aku denger kamu baru pindah dari desa ke kota. sudah lama tidak bertemu, ya! Daniel.." Ucap Minami.
"Ya, Lama tidak jumpa" Jawab Daniel kesal.
"Haha, kok reunian kita malah jadi aneh gini sih, kupikir kamu bakal bilang 'Wahh, Minami, Latifa, aku sudah lama menunggu kalian' ... ternyata respon kamu santai banget, ya!" Ucap Minami.
"Kenapa aku harus heboh? kita saja setiap hari chatingan, aneh kamu!" Jawab Daniel kesal.
"Yaa, kan feeling chatan dengan ketemu langsung beda, kan?" Sahut Latifa.
"Kalian kenapa bisa tau kalau aku pindah ke kota hari ini? aku gak pernah ngabarin, kan?" Ucap Daniel sembari membersihkan bajunya yang kotor.
"Orang tua mu kemaren datang ke kota, dia menanyakan rumah sederhana untuk dibeli, kebetulan ayahku kan seorang sales rumah, jadi dia tau rumah yang cocok untukmu" Jawabnya dengan penuh penjelasan.
"Jadi begitu, ya. Padahal aku ingin mengejutkan kalian di sini" Ucapnya
"Dari dulu juga kamu gak pernah bikin kami terkejjt, Daniel" Sahut Latifa lagi.
"hei Latifa. bisa gak sih kamu jangan menyela omongan kami, katakan aja apa yang mau kamu katakan sih!" Ucap Daniel kesal.
"Hihihi... habisnya dari tadi aku gak dipeduliin, hanya kalian saja yang berbicara." Jawabnya kesal.
"Haha, maaf, Latifa... Kami sedang bernostalgia" Ucap Minami.
"Nostalgia? perasaan dari tadi kalian hanya mengatakan hal tak penting, deh." Jawabnya.
"Pokoknya kita sudah selamat dari para anjing itu!" Ucap Daniel tegas.
"Sekarang, Apa yang akan kalian lakukan setelah bertemu denganku" Tanya Daniel
"Iya, ya. kami hanya ingin melihat kondisimu. kebetulan tadi saat kamu keluar, kami sengaja membuntuti kamu, siapa tau kamu mau ke tempat nakal, ternyata mau ke hutan doang, toh" Jawab Minami.
"Kau pikir aku manusia apa, hah?" Ucap Daniel kesal.
"Udah ahh udah.." Latifa melerai mereka.
"Sekarang kan sudah bertemu nih, gimana kita ke tempat lain saja?" Usul Latifa.
"Ke mana?" Tanya Daniel.
"Kita makan di restoran fav itu aja, yok" Jawab Latifa.
"Restoran?" tanya Daniel lagi
"Ahh, Restoran belakang SMA, ya? Boleh tuh." Ucap Minami.
"Yaudah, Ayok" Latifa menarik tangan Minami untuk menuju restoran yang dimaksud.
...
Sekitar 7 tahun yang lalu, tepatnya saat Daniel berada di bangku kelas 2 SD, ia begitu pendiam, tak ada yang ingin berbicara dengan Daniel. Bagi Daniel hidupnya hanya ia serahkan untuk pendidikannya, di desa pendidikan tidak semaju di perkotaan, banyak anak yang putus sekolah karna bagi mereka sekolah hanya membuang waktu mereka.
Daniel yang pendiam dan tidak peduli dengan sekitar merasa kalau orang lain hanya manusia yang tidak sama dengannya, Daniel meski baru kelas 2 SD, Ilmu yang ia miliki setara dengan anak SMA.
Suatu hari Danil mengerjakan soal Olimpiade Sains Nasional Matematika di kelasnya, ia hanya penasaran dengan bagaimana kompentensi yang diberikan oleh negara. ternyata soalnya sangat mudah.
Mudah baginya. Ia tertawa sendirian melihat soal-soal yang diberikan dan menjawab dengan mudah, sampai 2 teman kelasnya mengajaknya berbicara. itulah hari dimana Minami, Latifa dan Daniel bertemu. kisah yang benar-benar mengubah pandangan Daniel terhadap orang lain.
"Minami, kau yakin ingin berteman dengan orang aneh itu?" Tanya Latifa ragu.
"Aneh apanya sih? dia itu pintar, justru harus kita dekati biar pintarnya nular ke kita!" Jawab Minami optimis.
"Aku ragu" Ucapnya.
Mereka berdua perlahan menuju bangku Daniel untuk berbicara dengan Daniel yang terlihat sangat dingin.
"Eh, Daniel. Pulang sekolah kamu ada urusan, Gak?" Minami memulai pembicaraan dengan canggung.
Perlahan Daniel memalingkan wajahnya dari lembaran kertas penuh rumus. ia melihat sebentar kemudian kembali memalingkan wajahnya.
"KALAU DIAJAK NGOMONG TUH NYAHUT, DASAR MANIAK PELAJARAN!" Teriak Minami yang membuat seisi kelas melirik mereka. Daniel merasa terganggun dan ia merapikan mejanya bergegas pindah mencari tempat yang lebih nyaman.
"tuh kan, dia menjauh. Udahlah, Minami. Kita hanya membuang-buang waktu saja jika bersamanya." Ucap Latifa yang meyakinkan Minami jika yang mereka lakukan hanya akan berakhir sia-sia
"Kamu terlalu cepat menyerah, Latifa!" Kata Minami dengan lantang.
"Uwah.. Dramatis sekali, Ya" Gumamnya yang didegar oleh Minami.
"Karna terlalu dramatis, Jadi ayo kita dekati dia, aku ingin mengenalnya lebih dalam" Ucap Minami yang langsung menarik tangan Latifa.
"Mina- tunggu!" Latifa yang pasrah saat ditarik Minami.
Daniel kali ini bersembunyi di belakang sekolah, Ia lebih tenang dengan suasana yang sejuk disertai angin sepoi-sepoi. ini membuat dirinya bisa sedikit lebih fokus dalam mengerjakan soal-soal tersebut.
"Aku heran, mengapa mereka mau berbicara denganku?" gumamnya
"Apakah aku terlihat keren? atau mereka hanya sekedar menjahiliku?" Daniel menatap ke langit-langit, ia menghitung burung-burung yang sedang berterbangan.
"Satu.. dua.. tiga.. empat.. lima.. enam.."
"Kenapa formasinya jadi kacau? mereka terbang sesuai arah angin atau hanya terbang tanpa tujuan?" Ucapnya.
"Ah.. itu bukan urusanku. biarkan alam yang merubah mereka, aku cukup mengejakan soal-soal ini dan kembali ke kelas!" Ucapnya yang segera mengerjakan kembali soal-soal rumit tersebut.
...
Minami dan Latifa tidak bisa menemukan Daniel, ia kehilangan jejaknya.
"Ke-keh- Kemana perginya Daniel itu" Ucap Minami terengap-engap.
"Sudah kubilang, kita tidak usah mencarinya, Minami!" Latifa juga ikut kecapean.
"pokoknya kita harus menemukannya!" Tegas Minami.
"Kenapa kamu begitu mengejarnya sih, Minami?" Tanya Latifa yang terduduk di bawah pohon dekat gerbang sekolah.
"Aku harus bertemu dengannya, aku ingin belajar darinya, dan aku ingin tahu dirinya lebih dalam" Ucap Minami yang membuat Latifa seketika terdiam.
Latifa tersenyum kecil dan kembali mengajak Minami untuk mengecek belakang sekolah, karena hanya di sana yang belum mereka lihat.
"Kita cari di belakang sekolah, Yuk!" Usul Latifa.
"Ide bagus, Latifa!" Minami berteriak seperti orang yang baru saja mendapatkan hadiah.
Latifa tersenyum dan mereka bergandengan tangan. mereka berlari untuk mencapai gedung belakang sekolah.
...
Daniel masih saja mengerjakan soal yang sebenarnya tidak perlu ia kerjakan. Ia terlihat seperti orang bodoh meski dia orang yang pintar.
Minami dan Latifa akhirnya bisa menemukannya, namun mereka lebih pilih diam sambil mendekatinya. karna jika mereka mengejutkan Daniel, itu sama saja mereka ingin Daniel pergi.
"Ahh.. Capek ngerjain tugas" Ucapnya yang seketika membuat Latifa dan Minami terhenti langkahnya.
"Kenapa, ya. gaada yang mau berteman sama aku"
"Memangnya apa yang kurang dari aku sih? kalau mereka mau belajar pasti aku ajarkan, mereka ingin pintar setara diriku, pasti aku bikin mereka pintar" Ucapnya kesal.
Minami perlahan mendekatinya.
"Gak ada yang kurang darimu, Daniel" Ucap Minami, seketika Daniel terkejut dan jatuh.
"Kalian ngapain ke sini..." Daniel panik karena ucapannya tadi.
"Daniel! jangan takut. kami bukan monster yang akan melahapmu! kami hanya ingin berteman denanmu!" Jelas Minami.
"Be-berteman? Kenapa? apa yang kalian lihat dariku?" Seketika Daniel kehabisan kata-kata.
"Seperti yang kamu gerutukan tadi, Kamu itu gak kurang, Menurutku kamu itu lengkap, segalanya ada pada dirimu, Daniel!" Ucap Minami.
"Aku tau kamu sangat pintar, namun kekuranganmu adalah tidak bisa berbincang dengan teman sekelasmu" Jelasnya
"Aku sudah memperhatikanmu dari kita masih kelas 1 Sd, bahkan jauh sebelum itu" Jelasnya lagi.
"Lalu mengapa kamu ingin berteman denganku? bukankah aku tidak bisa berbicara dengan siapa-siapa?" Daniel berdiri dengan amarah
"Tidak! kamu bukan tidak bisa, hanya kamu saja yang merasa jika kamu adalah orang yang spesial. padahal kamu hanya orang biasa seperti kita!" Minami mulai menatap serius Daniel.
"Aku tak pernah menganggap diriku berbeda ataupun spesial dimata orang, aku juga manusia" Jawab Daniel.
"Kamu masih gak ngerti juga, ya? kamu pinter tapi bodoh!" Ucapan Minami seketika menampar perasaan Daniel.
"Mi-Minami.. udahhh..." Lerai Latifa.
"Latifa, Kamu diam di sana saja, aku harus ngasih paham sesuatu ke bocah aneh ini" Minami mendekati Daniel hingga Daniel terpojok di ujung tembok.
"Ka-kau terlalu dekat" Daniel sedikit memerah.
Minami meletakkan kedua tanggannya ke pipi Daniel dan menamparnya.
"Dengar, Daniel. Kamu itu tidak sediri, kamu hanya mengasingkan dirimu dan menganggap semuanya tidak ingin berteman denganmu" Jelas Minami.
"Itulah alasan mengapa kamu merasa tidak berbeda dengan mereka, padahal kamu berbeda, kamu spesial" Jelasnya lagi.
"Kau bilang aku bukan spesial, sekarang kau bilang aku spesial. maumu apa, sih?" Ucap Daniel
"Dengar! aku tau rasanya sendiri, aku tau rasanya iri dengan mereka. yang kamu butuhkan adalah tempat untuk singgah, tempat untuk bercerita." Jelas Minami yang tersenyum.
Daniel terdiam sejenak, ia merasa selama ini dia lah yang menjauh dari orang lain, bukan orang lain yang menjauh darinya. Daniel paham, tapi ia tak tahu harus berbuat apa.
"Aku yang salah, Tapi apa yang harus aku lakukan? Tidak ada yang ingin berteman denganku karena aku aneh!" Ucap Daniel yang mulai lesu.
"Hei,. dihadapanmu sekarang ada 2 cewek cantik yang ingin berteman denganmu, apa kau menolaknya?" Ucap Minami yang meyakinkan Daniel jika dirinya tidak sendiran.
Daniel tersenyum kecil. "Siapa Namamu?" Tanya Minami sembari mengulurkan tangannya.
Daniel tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada Minami. "Namaku Daniel. Siapa nama kalian?" Tanya Daniel.
mereka berdua tertawa dan memperkenalkan nama mereka "Aku Minami, dan dia Latifa. Semoga kita menjadi sahabat sejati, ya." Ucap Minami.
...
"Huh... andai hari itu Minami gak ketemu sama aku, Mungkin sekarang aku super duper pinter, deh" Seletuk Daniel sembari meminum Jus Matcha.
'"Hah? apa makasudmu, Kau saja yang meraih tanganku" Jawab Minami
"Kau yang duluan, aku hanya menerimanya dasar bodoh." Ucap Daniel kesal.
"ihh, udah-udah. itu pesanan kita udah dateng, yuk makan dulu deh!" Latifa berusaha menengahi pertengkaran mereka.
"Oh iya, ngomong-ngomong kita belum ngambil potret bertiga, ya" Seletuk Minami.
"Kamu benar! kalau begitu ayo kita ambil foto bersama!" Jawab Latifa.
Mereka bertiga berfoto bersama dengan berpose konyol sembari memegang makanan di tangan mereka.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!