Malam sudah hampir melewati pukul sebelas tapi, Alena masih duduk di ruang makan dengan meja yang penuh dengan hidangan yang sejak tadi ia biarkan dingin.
Sup ayam yang ia masak sore tadi sudah tidak lagi mengeluarkan uap. Begitu juga nasi hangat yang kini mulai mengeras di dalam rice cooker.
Namun, seperti malam-malam sebelumnya, Alena tetap menunggu suaminya pulang.
Wanita itu melirik jam dinding untuk kesekian kalinya sebelum menghela napas pelan. Ia lalu meraih ponselnya dan membuka ruang chat suaminya.
"Apa Mas pulang malam lagi?"
Jarinya menggantung di atas layar beberapa detik dan, akhirnya ia menghapus kembali pesan itu.
Sudah terlalu sering ia bertanya seperti itu dan jawabannya selalu sama.
'Aku sibuk.' Atau, lebih buruknya tidak dibalas sama sekali.
Tapi, tidak berapa lama, suara mobil terdengar memasuki halaman rumah, membuat Alena spontan berdiri. Wajah lelahnya sedikit berubah lega. Dengan cepat ia berjalan menuju pintu utama dan membukanya. Ia melihat Arsen baru saja turun dari mobil.
Pria itu tampak lelah dengan setelan jas abu-abu yang sedikit kusut. Tapi, wajah tampannya terlihat dingin seperti biasa.
"Mas udah makan?" Tanya Alena lembut.
Arsen mengangguk singkat sambil melewatinya begitu saja.
"Hm!"
Hanya satu deheman saja. Tidak ada senyuman ataupun tatapan hangat.
Alena menatap punggung suaminya yang berjalan menuju ruang tengah tanpa benar-benar memedulikan dirinya.
Dadanya terasa sesak. Namun seperti biasa, ia mengabaikan perasaan itu dan selalu berpikir, mungkin suaminya memang lelah bekerja.
Alena menutup pintu perlahan sebelum mengikuti langkah pria itu.
"Aku hangatin makanannya ya, Mas. Tadi, aku masak sup favorit Mas."
"Tidak usah," jawab Arsen datar. Ia melonggarkan dasinya lalu, duduk di sofa sambil memijat pelipisnya. "Aku lelah. Mau langsung istirahat."
Alena terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Baik," lirihnya, tanpa ada lagi yang bisa ia katakan.
Satu tahun terakhir, rumah tangga mereka memang terasa berbeda.
Arsen semakin sibuk di perusahaan. Sikapnya semakin dingin dan, terasa jauh darinya. Bahkan, pria itu jarang menyentuhnya lagi. Tapi, Alena terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua baik-baik saja karena, ia percaya pada suaminya.
Arsen lalu berdiri dan berjalan menuju kamar tanpa mengatakan apa pun lagi.
Alena memandangi meja makan yang masih penuh sesaat, sebelum memaksakan senyum kecil.
"Sudahlah," gumamnya lirih.
Setelah membereskan semuanya, Alena menyusul Arsen ke kamar mereka. Ia menoleh ke arah pintu kamar mandi saat suara gemericik air terdengar samar dari dalam sana.
Alena mengambil jas suaminya yang tergeletak di atas sofa lalu, berniat menggantungnya seperti biasa tapi, sesuatu terjatuh dari saku bagian dalam.
Alena mengernyit bingung. "Ponsel?" Ia mengambil benda itu perlahan, mengamatinya dengan tatapan penasaran. "Ini bukan ponsel yang biasa Mas Arsen gunakan," gumamnya.
Ponsel Arsen adalah ponsel keluaran terbaru sedangkan, ponsel itu berwarna hitam polos dengan casing sederhana.
"Mungkin ponsel untuk kerja." Alena ingin meletakkannya kembali. Namun, layar ponsel tiba-tiba menyala saat satu pesan masuk, muncul di sana.
Alena membaca pesan tersebut. Dan, dalam satu detik, dunia Alena terasa berhenti berputar, membaca pesan yang berisi kalimat mesra dengan nama pengirim yang menggunakan emoji love.
'Aku kangen sama kamu, mas.'
Tubuh Alena membeku. Jantungnya mulai berdetak tidak beraturan. Tangannya perlahan gemetar.
"Tidak mungkin," gumam Alena lirih. Ia bahkan tidak bisa berpikir jernih. "Mungkin, ini rekan kerja Mas Arsen. Tapi, kenapa di simpan dengan tanda hati? Atau—"
Belum selesai ia berspekulasi, pesan lain masuk lagi.
'Besok kamu jadi nginap, kan?'
Wajah Alena mendadak pucat.
Suara air dari kamar mandi masih terdengar jelas, menandakan Arsen masih di dalam. Sementara, Alena berdiri membatu di samping sofa dengan napas memburu.
Matanya terus menatap layar ponsel itu seolah berharap semua ini hanya mimpi buruk. Namun, rasa takut perlahan berubah menjadi dorongan besar untuk mengetahui kebenaran.
Dengan tangan dingin, Alena mencoba membuka layar ponsel tersebut.
Arsen yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung membeku saat melihat ponselnya berada di tangan Alena. Jantungnya seolah berhenti berdetak.
Dengan langkah cepat, ia menghampiri Alena dan merebut ponsel itu dari tangan istrinya.
"Mas!" Alena terkejut.
Arsen menatap layar ponselnya. Rahangnya mengeras, sementara telapak tangannya mulai berkeringat.
Alena berdiri, menatap tajam suaminya.
"Siapa itu, Mas?" tanyanya dengan nada curiga. "Kenapa dia mengirim pesan mesra seperti itu?"
"Bukan siapa-siapa," jawab Arsen cepat. "Cuma rekan kerja."
"Rekan kerja?" Alena mengernyit. "Kalau rekan kerja, kenapa namanya disimpan pakai tanda hati?"
Arsen terdiam sesaat. Pertanyaan itu membuatnya kehilangan jawaban. Namun bukannya menjelaskan, ia justru balik menyerang.
"Alena, kamu ini kenapa sih?" bentaknya.
Alena tertegun. "Aku cuma bertanya baik-baik."
"Tapi, kamu sudah membuka ponselku tanpa izin!"
Nada suara Arsen semakin tinggi. Kemarahan yang sebenarnya muncul karena rasa panik kini ia tumpahkan kepada Alena.
"Itu privasi ku! Siapa yang menyuruh kamu mengutak-atik ponselku?"
Alena menggeleng tidak percaya. "Ponsel itu jatuh dari jas kamu, Mas. Dan, itu juga bukan ponsel yang biasa kamu pakai, 'kan?"
"I-ini ponsel untuk urusan kerja," jawabnya sambil memalingkan wajahnya.
Alena menatap suaminya. Dadanya mulai terasa sesak.
Sejak menikah, baru kali ini Arsen terlihat marah hanya karena sebuah pertanyaan sederhana.
"Kalau memang itu ponsel untuk kerja, kenapa Mas marah seperti ini?" tanya Alena pelan.
Pertanyaan itu justru membuat Arsen semakin kesal.
Hari itu ia memang sedang berada dalam kondisi buruk. Seharian penuh ia bekerja menghadapi tekanan dari kantor. Target yang menumpuk, klien yang terus menuntut, dan perjalanan pulang yang melelahkan membuat emosinya sudah berada di ujung tanduk.
Ia ingin pulang untuk beristirahat. Bukan untuk diinterogasi.
"Aku capek, Alena!" serunya. "Seharian aku kerja banting tulang cari uang untuk keluarga ini. Begitu sampai rumah, kamu malah nuduh aku macam-macam."
"Siapa yang menuduh, Mas? Aku hanya bertanya."
"Pertanyaan mu itu sama saja dengan tuduhan!"
Alena menggigit bibir bawahnya. Matanya mulai memanas menahan air mata. Namun, Arsen tidak peduli.
"Kadang aku heran sama kamu," lanjutnya. "Seharian di rumah, tapi pikirannya malah ke mana-mana."
Alena mengangkat kepala perlahan. "Apa maksud Mas?"
Arsen tertawa sinis. "Kamu tidak tahu rasanya bekerja di luar sana. Tidak tahu tekanan pekerjaan. Tidak tahu bagaimana susahnya mencari uang."
Setiap kata yang keluar dari mulut Arsen terasa seperti pisau yang menusuk hati Alena.
"Makanya, jangan sedikit-sedikit curiga. Dunia tidak sesempit dapur dan ruang tamu yang setiap hari kamu lihat."
Wajah Alena langsung memucat. Kalimat itu begitu merendahkan.
Selama ini, ia memang hanya seorang ibu rumah tangga. Meski di rumah ini ada asisten rumah tangga, tapi ia yang mengurus rumah, memasak untuk Arsen dan memastikan kebutuhan pria itu terpenuhi setiap hari.
Mungkin pekerjaannya tidak menghasilkan uang. Namun, bukan berarti tidak berharga.
"Jadi, sekarang pekerjaanku tidak berarti?" tanya Alena lirih.
Arsen berdecak kesal. "Aku tidak bilang begitu."
"Jangan lupa, Mas. Kamu yang dulu memintaku untuk berhenti bekerja dan fokus mengurus rumah. Tapi, sekarang kamu memperlakukanku seperti itu."
Arsen menghela napas kasar. "Aduh, jangan dibesar-besarkan."
Air mata akhirnya jatuh di pipi Alena. Ia tidak menangis karena pesan dari wanita itu tapi, karena sikap suaminya. Karena pria yang dulu selalu menghargainya kini justru meremehkan semua pengorbanannya.
"Aku cuma ingin penjelasan," ucap Alena dengan suara bergetar. "Kalau memang dia hanya rekan kerja, kenapa Mas tidak bisa menjawab dengan jujur?"
Arsen memalingkan wajah.
Sikap itu membuat hati Alena semakin tenggelam. Ia merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia rasakan dalam pernikahan mereka.
Dan yang lebih menyakitkan lagi, ketidakpercayaan.
Alena menatap Arsen yang masih menggenggam erat ponselnya, seolah benda itu jauh lebih penting daripada perasaan istrinya sendiri.
Dalam keheningan yang menyesakkan itu, Alena mulai menyadari, kadang-kadang, seseorang tidak perlu mengaku untuk menunjukkan bahwa ia sedang menyembunyikan sesuatu.
Cara mereka bereaksi saat kebenaran hampir terbongkar sudah menjadi jawaban yang paling jelas.
Pagi harinya, Alena bangun awal seperti biasanya.
Meskipun semalaman hampir tidak bisa memejamkan mata, ia tetap menjalankan rutinitasnya seperti biasa. Ia memasak sarapan, menata lauk-pauk di atas meja makan, lalu menyeduh secangkir kopi hitam kesukaan suaminya.
Alena menatap kopi yang masih mengepul itu sesaat.
Bayangan pesan yang ia lihat semalam kembali muncul di kepalanya, membuat dadanya kembali terasa sesak.
Ia sudah berulang kali mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa mungkin wanita itu memang hanya rekan kerja Arsen yang terlalu akrab.
Namun, saat ia mengingat nama yang tersimpan dengan emoji hati, sulit baginya untuk berpikir positif. Karena tidak ada orang yang menyimpan nama rekan kerja dengan panggilan mesra seperti itu.
Lamunan Alena buyar saat suara langkah kaki terdengar dari lantai atas. Ia segera menghapus wajah gelisah nya dan tersenyum, menatap Arsen yang turun dari tangga dengan setelan jas yang rapi.
Pria itu tampak tampan. Rambutnya tertata sempurna seperti biasa. Tapi entah kenapa, pagi ini terasa begitu asing.
"Sarapan dulu, Mas."
Arsen hanya melirik sekilas ke arah meja makan. "Tidak. Aku buru-buru. Ada meeting pagi ini."
Arsen mengambil kunci mobil lalu berjalan menuju pintu.
"Mas!" panggil Alena, berharap pria itu akan menoleh. Namun, harapan itu pupus. Pria itu terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun sampai menghilang di balik pintu.
Alena berdiri mematung di dekat meja makan. Senyum di wajahnya perlahan menghilang.
Ia duduk di kursi makan dengan kepala menunduk.
Semalaman, ia memikirkan pesan mesra yang masuk ke ponsel kedua suaminya.
Ia ingin percaya bahwa semua itu hanyalah kesalahpahaman. Tetapi semakin ia mencoba, semakin banyak pertanyaan yang bermunculan.
Pertanyaan-pertanyaan yang terus berputar di kepalanya seperti benang kusut yang tidak bisa diurai.
Alena menghela napas. Tatapannya teralihkan saat ponsel yang tergeletak di atas meja tiba-tiba berdering.
Ia mengambil ponsel itu dan melihat nama yang muncul di layar.
"Dokter Gita?" gumamnya. Ia segera menjawab panggilan tersebut.
"Halo, Dok?"
"Selamat pagi, Bu Alena. Maaf mengganggu anda pagi-pagi begini. Saya ingin memberitahukan bahwa hasil pemeriksaan anda dan suami sudah keluar. Sebaiknya Ibu datang ke rumah sakit hari ini."
Alena langsung duduk tegak. Tangannya tanpa sadar mencengkeram ponsel lebih erat.
"O-oh, baik, Dok. Nanti saya ke sana."
"Tapi, kalau memungkinkan, saya harap Ibu datang bersama suami karena hasil pemeriksaan ini menyangkut keluarga Ibu. Jadi, akan lebih baik jika dibicarakan bersama."
Mendadak jantung Alena berdebar kencang. Perasaan tidak nyaman menjalar ke seluruh tubuhnya.
Entah kenapa, ucapan dokter itu terdengar menakutkan dan membuat pikirannya langsung dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.
"Bu Alena?" panggil Dokter Gita karena tidak mendapat jawaban.
Alena tersadar. "Ah... I-iya, Dok."
"Kalau begitu saya tunggu."
Panggilan pun berakhir.
Alena menatap layar ponselnya beberapa saat dengan perasaan campur aduk. Lalu, ia menarik napas panjang, dan segera membuka aplikasi pesan.
"Mas, Dokter Gita bilang hasil pemeriksaan sudah keluar. Nanti siang kita ke sana, ya."
Ia membaca ulang pesan itu sebelum mengirimkannya. Setelahnya, ia terus menatap layar ponsel, berharap Arsen akan segera membalas pesannya. Tapi, semua itu sia-sia, membuat perasaan sedih kembali menyelimuti hatinya.
Alena menghela napas panjang lalu, meletakkan ponselnya di atas meja.
***
Siang harinya, Alena sudah berada di rumah sakit.
Ia duduk seorang diri di ruang tunggu dengan kedua tangan yang saling menggenggam erat di atas pangkuan.
Sesekali matanya menatap layar ponsel. Tapi, belum ada balasan dari Arsen.
Alena menghela napas panjang. Perasaannya semakin tidak tenang. Jadi, ia memutuskan untuk menghubungi suaminya secara langsung.
"Halo?" suara Arsen terdengar tidak sabar.
"Mas, kamu di mana?" tanya Alena hati-hati.
"Di kantor. Memangnya kenapa?"
"Ini soal hasil pemeriksaan kita. Dokter Gita meminta kita datang bersama."
Arsen berdecak kesal. "Alena, aku sudah bilang aku sibuk."
"Tapi, Mas—"
Sambungan telepon terputus begitu saja.
Alena menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Dadanya terasa sesak. Ada rasa sakit yang sulit dijelaskan.
Tapi, semua itu segera teralihkan saat perawat memanggil namanya.
"Bu Alena?"
Alena segera berdiri. "Ya."
"Dokter Gita sudah menunggu."
Alena mengangguk lalu mengikuti perawat menuju ruang konsultasi.
Dokter Gita tersenyum, melihat Alena masuk. Namun, senyum itu perlahan memudar saat menyadari Alena datang sendirian.
"Selamat siang, Bu Alena," sapa Dokter Gita.
"Siang, Dok."
Dokter Gita melihat ke arah pintu. "Suaminya belum datang?"
Alena memaksakan untuk tersenyum. "Mas Arsen sedang ada pekerjaan penting, Dok. Jadi, saya datang sendiri."
Dokter Gita tampak ragu. Ia bahkan sempat terdiam beberapa saat.
"Apakah Ibu yakin ingin mendengar hasilnya sendiri?"
Alena mengangguk pelan. "Tidak apa-apa, Dok."
Dokter Gita menarik napas panjang sebelum membuka map berisi hasil pemeriksaan dengan ekspresi berubah serius.
Dan, hal itu berhasil membuat jantung Alena berdebar.
"Sebelumnya, saya ingin menjelaskan bahwa hasil ini bukan untuk menyalahkan siapa pun."
Alena langsung menegakkan duduknya, mendengar dengan seksama.
"Kami sudah memeriksa kondisi reproduksi Ibu dan suami secara menyeluruh. Dan, dari hasil pemeriksaan yang kami dapatkan terdapat gangguan kesuburan yang cukup serius pada salah satu pihak."
Alena membeku. Wajahnya perlahan memucat. "A-apa maksud Dokter?"
Dokter Gita mendorong beberapa lembar hasil pemeriksaan ke arahnya.
"Karena ini menyangkut privasi masing-masing pasien, saya tidak bisa menjelaskan detail pihak yang mengalami masalah tanpa kehadiran yang bersangkutan."
Alena menggenggam hasil pemeriksaan itu dengan tangan gemetar.
"Tapi, yang bisa saya sampaikan, kondisi ini menjadi penyebab utama mengapa kehamilan belum terjadi selama ini."
Ruangan mendadak terasa sesak. Alena bahkan merasa kesulitan bernapas.
"A-apa masih bisa diobati, Dok?" tanyanya dengan suara bergetar.
Dokter Gita terdiam sejenak sebelum menjawab dengan jujur. "Kemungkinannya masih ada."
Mata Alena langsung berbinar penuh harapan. "Benarkah?"
Dokter Gita mengangguk. "Tapi, peluang keberhasilannya tidak besar. Sekitar tiga puluh persen."
"Tiga puluh persen?" lirih Alena dengan air mata yang mulai menggenang. Tapi, ia berusaha keras menahannya.
"Saya tahu ini tidak mudah untuk diterima," ucap Dokter Gita. "Karena itu, saya berharap Ibu bisa datang lagi bersama suami agar kita bisa mendiskusikan langkah selanjutnya."
Alena hanya mampu mengangguk pelan. Pikirannya terasa kosong.
"Saya akan membicarakannya dulu dengan suami saya, Dok."
Dokter Gita hanya mengangguk.
Beberapa menit kemudian, Alena keluar dari ruang konsultasi dengan langkah yang terasa goyah, seolah seluruh tenaganya terkuras habis. Sementara di tangannya masih tergenggam map hasil pemeriksaan.
Ia berjalan menyusuri koridor rumah sakit tanpa benar-benar melihat ke mana ia melangkah. Saat ini pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.
"Tiga puluh persen?" bisiknya lirih.
Ia menopang tubuhnya di dinding. Lalu, dengan tangan gemetar, ia mengambil ponselnya dari dalam tas.
"Aku harus menghubungi Mas Arsen," ucapnya.
Bagaimanapun juga, ini menyangkut masa depan mereka. Jadi, pria itu harus tahu tentang hasil pemeriksaan ini.
Alena menekan tombol panggil pada kontak Arsen lalu, menempelkan ponsel ke telinganya. Tapi, sebelum nada sambung terdengar, tubuhnya mendadak membeku. Kedua matanya membelalak sempurna.
Tidak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat seorang pria yang sangat ia kenal. Pria itu memakai jas abu-abu. Jas yang sama seperti yang Arsen pakai pagi tadi.
Alena mengerjapkan mata beberapa kali, berharap ia salah lihat. Namun sedetik kemudian, pria itu menoleh sedikit. Dan, dunia Alena seolah runtuh saat itu juga.
Itu benar-benar Arsen, suaminya.
Pria yang mengaku sedang sibuk bekerja dan tidak mau meluangkan waktu untuk menemaninya menerima hasil pemeriksaan, saat ini justru berada di rumah sakit bersama seorang wanita berambut panjang yang berdiri sangat dekat dengannya.
Dan, yang lebih membuat Alena sesak, lengan Arsen melingkar mesra di pinggang wanita itu yang tersenyum manja sambil menyandarkan kepala di bahunya.
Ponsel yang berada di tangan Alena perlahan terlepas dan jatuh ke lantai.
"Tidak mungkin," bisiknya lirih. "Mas Arsen... "
Sebuah mobil berhenti dengan mulus di depan sebuah kafe. Tidak lama kemudian, seorang wanita turun dari dalam mobil dan melangkah tergesa-gesa menuju pintu masuk.
Begitu berada di dalam, matanya langsung menyapu setiap sudut ruangan, mencari seseorang. Saat menemukan sosok yang ia cari, wanita itu segera menghampirinya.
"Alena!" Wanita itu duduk di hadapan Alena dengan wajah khawatir. "Apa yang terjadi?"
Alena hanya mengaduk-aduk makanan di piringnya tanpa berniat memakannya sedikit pun. Matanya sembab, sementara bibirnya bergetar menahan tangis.
"Nad... Mas Arsen selingkuh," lirih Alena dengan suara serak. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya.
"Apa?" Nadia membelalak tidak percaya. Tanpa pikir panjang, ia segera berpindah ke kursi di samping Alena dan memeluk sahabatnya erat.
"Alena..."
"Semalam aku menemukan ponsel lain milik Mas Arsen," lanjut Alena dengan suara bergetar. "Lalu, ada pesan mesra masuk. Mas Arsen bilang itu cuma rekan kerjanya, tapi nomor itu disimpan pakai tanda hati."
Nadia mengusap bahu Alena perlahan, berusaha menenangkannya.
"Terus, siang ini aku mengajaknya menemui Dokter Gita. Tapi, dia menolak dan bilang sedang sibuk." Alena mengusap air matanya kasar. "Tapi, ternyata aku melihat dia di rumah sakit bersama seorang wanita. Mereka terlihat sangat mesra, Nad."
Tangis Alena pecah, membuat beberapa pengunjung melirik ke arah mereka.
Nadia tersenyum canggung, melihat orang-orang yang memperhatikan mereka sebelum kembali fokus pada sahabatnya.
"Sudah, Alena. Jangan menangis."
Alena langsung menegakkan tubuhnya dengan mata merah.
"Aku sedang sedih, Nad. Kenapa aku tidak boleh menangis?"
"Bu-bukan begitu," seru Nadia panik. "Maksudku, pria brengsek seperti Arsen tidak pantas ditangisi."
Mendengar itu, Alena langsung menghapus air matanya.
"Kamu tenang dulu, ya?" Nadia mengambil beberapa lembar tisu dan membantu menghapus air mata di wajah Alena. "Kalau kamu seperti ini, aku jadi bingung harus bagaimana."
Beberapa menit berlalu. Setelah tangis Alena mereda, Nadia menatapnya serius.
"Aku tidak mengerti. Kamu melihat Arsen bersama wanita lain, tapi kenapa kamu tidak melabraknya?"
Alena menunduk. "Aku sudah tidak punya kekuatan untuk melakukan itu, Nad."
"Hah..." Nadia menggeleng kesal. "Kalau aku yang ada di sana, sudah aku jambak wanita itu sampai botak."
Alena tersenyum tipis di tengah kesedihannya. "Aku percaya kamu akan melakukannya."
"Tentu saja." Nadia menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menghela napas panjang. "Lalu, sekarang apa yang akan kamu lakukan? Bercerai?"
Pertanyaan itu membuat Alena terdiam.
Pikirannya melayang jauh ke masa lalu. Hubungannya dengan Arsen bukan hubungan yang baru berjalan satu atau dua tahun. Mereka saling mengenal sejak duduk di bangku kuliah. Bersama-sama membangun mimpi, melewati kesulitan, hingga akhirnya menikah tiga tahun lalu.
Alena tidak pernah menyangka pria yang selama ini ia cintai bisa mengkhianatinya dengan begitu mudah.
"Alena!" Panggil Nadia.
Alena tersadar, lalu menunduk sambil mengaduk minumannya perlahan.
"Kalau aku meminta cerai... Bukankah itu sama saja memberinya jalan untuk bersama wanita itu?"
Nadia terdiam.
"Kami sudah bersama begitu lama. Aku sudah mengorbankan banyak hal untuk hubungan ini." Alena menggigit bibir bawahnya. "Rasanya sangat tidak adil kalau justru aku yang harus pergi."
Nadia mencondongkan tubuhnya ke depan. "Lalu, apa rencana mu? Kalau kamu tidak mau bercerai, apa kamu akan bertahan? Jangan menjadi wanita bodoh, Lena."
Alena terdiam sesaat. Tatapannya kosong menatap minuman di dalam gelas. Tapi, sedetik kemudian sudut bibirnya terangkat tipis.
"Aku akan mencari bukti perselingkuhan mereka. Lalu, mengalihkan semua harta atas namaku."
Nadia tertegun sebelum akhirnya tertawa. Begitu juga dengan Alena yang ikut tertawa keras. Namun, tawa itu perlahan memudar, berganti dengan tatapan sendu.
"Aku terdengar seperti perampok, ya?" lirih Alena.
"Dasar bodoh." Nadia mencubit lengan sahabatnya pelan. "Justru itu rencana yang bagus."
Alena menatap sahabatnya.
"Mereka harus membayar rasa sakit yang kamu rasakan, Len," lanjut Nadia dengan sorot mata yang berubah tajam. "Sekarang, berhenti menangis dan mulai berpikir."
"Maksudmu?"
"Kumpulkan bukti sebanyak mungkin. Foto, pesan, rekaman, apa pun yang bisa membuktikan perselingkuhan mereka."
Alena terdiam mendengarkan.
"Jangan bertindak gegabah agar mereka lengah," lanjut Nadia.
Tatapan Alena perlahan berubah.
Kesedihan yang ia rasakan perlahan berubah menjadi sebuah tekad kuat.
Mungkin, pernikahannya sedang berada di ambang kehancuran. Tapi, ia akan bertahan dan tidak akan membiarkan dirinya menjadi satu-satunya pihak yang terluka.
***
Malam harinya, Arsen pulang larut seperti biasa. Setelah memarkir mobil, pria itu melangkah masuk dengan wajah lelah setelah seharian bekerja.
Namun, begitu membuka pintu utama, langkahnya sempat terhenti.
Ada sesuatu yang terasa berbeda.
Biasanya, Alena akan menyambutnya, tidak peduli seberapa larut ia pulang. Tapi malam ini, rumah terasa begitu sepi.
Arsen mengernyit tipis.
Matanya menyapu sekeliling sebelum kembali melangkah masuk. Saat melewati ruang makan, langkahnya kembali terhenti. Meja makan yang biasanya masih menyisakan hidangan untuknya kini terlihat kosong.
Arsen hanya tersenyum miring.
"Sudah menyerah menunggu, ya?" gumamnya pelan.
Entah kenapa, ada sedikit rasa tidak nyaman yang menyelinap di dadanya. Namun, ia memilih mengabaikannya. Baginya, itu bukan sesuatu yang penting.
Pria itu segera menaiki tangga menuju lantai atas.
Sesampainya di depan kamar, ia membuka pintu perlahan. Tatapannya langsung menemukan sosok Alena yang tengah terbaring di atas ranjang. Wanita itu terlihat sudah tertidur lelap.
"Tumben sekali."
Arsen menutup pintu lalu meletakkan jas dan tas kerjanya di sofa. Setelah itu, ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tidak lama kemudian, ia keluar dengan pakaian tidur berwarna gelap. Lalu, ia naik ke atas ranjang dan berbaring membelakangi Alena.
Dalam hitungan menit, napasnya mulai teratur. Lelah yang menumpuk membuatnya tertidur begitu cepat.
Kelopak mata Alena yang sejak tadi terpejam perlahan terbuka saat mendengar dengkuran halus dari mulut Arsen.
Wanita itu menoleh, menatap punggung Arsen dengan sorot mata yang berbeda. Ia menunggu beberapa menit lagi untuk memastikan Arsen benar-benar tertidur.
Setelah yakin, Alena bergerak perlahan. Ia menyingkap selimut tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Tapi, justru hal itu membuat jantungnya berdegup kencang hingga terasa memekakkan telinga.
Alena menahan napas saat mencari ponsel lain milik Arsen. Tangannya sampai bergetar saat menemukannya.
Dengan hati-hati, ia mengambil benda itu lalu berjalan menuju kamar mandi.
Begitu pintu tertutup, Alena langsung menyalakan lampu redup dan mencoba membuka layar ponsel tersebut.
Namun, harapannya langsung pupus. Layar meminta verifikasi sidik jari.
"Sial!" bisiknya pelan.
Alena menggigit bibir bawahnya. Ia mencoba beberapa kemungkinan kata sandi, tetapi semuanya gagal. Jika terlalu banyak percobaan, ponsel itu bisa terkunci permanen.
Dengan napas memburu, ia mematikan layar lalu kembali keluar dari kamar mandi.
Matanya tertuju pada Arsen yang masih tertidur pulas. Lalu, ia melangkah mendekat ke sisi ranjang. Dan, dengan sangat hati-hati, ia mengangkat tangan kanan Arsen.
Alena langsung membeku saat pria itu sedikit bergerak. Napasnya tercekat. Tapi, beberapa detik kemudian, Arsen hanya bergumam pelan dalam tidurnya lalu kembali diam.
Alena mengembuskan napas lega. Ia segera menempelkan ibu jari Arsen ke sensor sidik jari pada layar ponsel dan layar ponsel langsung terbuka.
Mata Alena membesar. Tanpa membuang waktu, ia kembali masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu.
Kini, ponsel itu berada di tangannya dan, ia siap mengungkap semua rahasia yang selama ini Arsen sembunyikan.
Alena menelan ludah dengan susah payah. Jarinya bergerak perlahan membuka aplikasi pesan, sementara dadanya berdebar semakin keras.
Ia tidak tahu apa yang akan ia temukan di sana. Tetapi, satu hal yang pasti, setelah malam ini, hidupnya mungkin tidak akan pernah sama lagi.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!