Ratusan tahun lalu, Kerajaan Lunaventia berdiri megah di bawah cahaya bulan—sesuai arti namanya. Anggun, tenang, namun kuat.
Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja yang disegani seluruh dunia. Raja yang bijaksana, adil, rendah hati, dan tidak mentoleransi kesalahan sekecil apa pun. Di bawah kepemimpinannya, rakyat hidup makmur dan damai.
Namanya adalah Raja Qhilandra Anvincet Hills.
Tak hanya dicintai rakyat, ia juga menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya. Pertahanan militer Lunaventia begitu kuat, terlebih karena dua panglima perang terhebat kerajaan adalah putra-putranya sendiri, dua ksatria yang rela mati demi tanah kelahirannya.
Namun semuanya berubah setelah kepergian sang ratu tercinta.
Ratu Elvaria Naresta Laviena meninggal dunia setelah melahirkan putri ketiga mereka, Arselia Naresta Laviena.
Sejak saat itu, Raja Qhilandra perlahan kehilangan semangat hidupnya. Waktu terus berjalan, tetapi kondisinya semakin melemah. Dan kelemahan itu menjadi kesempatan emas bagi kerajaan-kerajaan musuh untuk menyerang Lunaventia.
Terutama Kerajaan Ardentia.
Musuh bebuyutan yang dipimpin oleh Raja Malvise Cexandria Pandora dan panglima kepercayaannya, Acarya Sukhya Charta.
Ardentia berkali-kali mencoba menaklukkan Lunaventia, namun selalu pulang membawa kekalahan.
Dan ketika kabar kematian Raja Qhilandra menyebar ke seluruh penjuru dunia, Ardentia semakin gencar menyerang.
Mereka mengira Lunaventia telah runtuh.
Mereka salah.
---
Hari kematian Raja Qhilandra dipenuhi lautan duka.
Kerajaan-kerajaan sahabat datang memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang selama ini menjadi simbol kekuatan dan kedamaian.
Di tengah malam yang sunyi, Leonard Anvincet Hills berdiri mematung di tepi kolam teratai istana.
Pantulan cahaya bulan menari di permukaan air, tetapi tatapan pemuda itu tetap dingin dan kosong.
Siapa pun yang melihatnya tahu—
Putra mahkota Lunaventia sedang terluka begitu dalam.
Setelah kehilangan ibundanya, kini ayahandanya juga pergi meninggalkannya seorang diri.
Tangannya terkepal erat di belakang punggung.
Ia sadar.
Cepat atau lambat, dirinya harus naik takhta.
Menjadi raja di usia muda.
Memikul seluruh tanggung jawab kerajaan tanpa lagi ditemani kedua orang tuanya.
Leonard menarik napas panjang.
Ia akan menjaga Lunaventia tetap berdiri, apa pun yang terjadi.
Dengan atau tanpa mereka.
“Hormat, Yang Mulia Putra Mahkota.”
Seorang prajurit datang menghampiri lalu berlutut hormat.
Leonard hanya melirik sekilas.
“Yang Mulia Ibu Suri memanggil Anda ke kediamannya.”
Tanpa berkata apa-apa, Leonard berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu.
---
Prajurit penjaga segera membuka pintu kediaman permaisuri ketika Leonard tiba.
Pemuda itu melangkah masuk dan sedikit membungkukkan tubuhnya.
“Hormat, Yang Mulia Ibu Suri.”
Wanita tua itu menepuk kursi di sampingnya, meminta Leonard duduk.
Wajah sang permaisuri tampak lelah. Ada lingkar hitam samar di bawah matanya, tetapi senyuman lembut masih menghiasi bibirnya.
“Kau tahu,” ucapnya pelan, “jika penobatanmu ditunda lebih lama, pertahanan kerajaan akan melemah.”
Leonard diam mendengarkan.
“Musuh di luar istana sudah bergerak. Dan musuh di dalam istana hanya menunggu kesempatan.”
Leonard mengembuskan napas berat.
Sang permaisuri menepuk punggung cucunya lembut.
“Aku tahu ini berat untukmu. Tetapi setelah kepergian ayahmu… semua ini menjadi tanggung jawabmu sekarang.”
Tatapan Leonard sedikit menunduk.
“Kami semua akan mendukungmu.”
---
Malam penobatan pun tiba.
Seluruh istana dihiasi cahaya lampu dan ornamen mewah. Bendera kerajaan berkibar megah di sepanjang aula utama.
Para bangsawan, petinggi kerajaan, hingga panglima perang memenuhi area penobatan.
Namun di tengah kemeriahan itu, Leonard hanya merasakan kehampaan.
Di dalam kamarnya, ia menatap pakaian kebesaran kerajaan yang dibawakan pelayan setianya, Arya.
Jubah emas dengan bordir benang kerajaan.
Pakaian kebanggaan milik ayahnya.
Pakaian yang dulu dikenakan Raja Qhilandra saat pertama kali naik takhta.
“Ini pakaian Yang Mulia,” ujar Arya pelan.
Leonard menatapnya lama.
Itu bukan sekadar pakaian.
Melainkan simbol beban yang akan dipikulnya mulai malam ini.
Ia memejamkan mata sebelum akhirnya mengambil pakaian tersebut.
---
Ritual penobatan berlangsung khidmat.
Saat mahkota kerajaan dipasangkan di atas kepalanya, Leonard menutup mata perlahan.
Mahkota itu terasa berat.
Terlalu berat.
Bukan karena emas dan permata yang menghiasinya…
Tetapi karena tanggung jawab yang menyertainya.
“HIDUP YANG MULIA RAJA LEONARD!”
“HIDUP!”
“HIDUP RAJA LEONARD!”
“HIDUP!”
Sorakan menggema memenuhi aula kerajaan.
Di sisi kirinya, Daphne Anvincet Hills menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca.
“Aku akan selalu mendukungmu, Kak…”
Sementara di sisi kanan Leonard, Arselia kecil menatap kakaknya dengan binar kagum.
Gadis berusia enam tahun itu selalu ingin dekat dengannya.
Namun Leonard terlalu dingin untuk didekati.
---
Acara penobatan baru saja selesai ketika pintu ruang kerja kerajaan tiba-tiba terbuka keras.
BRAK!
Seorang prajurit jatuh tersungkur dengan luka tusuk di perutnya.
Leonard langsung berdiri. Menatap prajurit itu tajam.
“Siapa yang melakukan ini?”
Prajurit itu berusaha bicara dengan napas tersengal.
“Ar… den…”
Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, ia mengembuskan napas terakhir.
Tatapan Leonard berubah tajam. Dia mengepalkan tangannya, menatap jendela dengan tatapan menusuk.
Ardentia.
Mereka menyerang secepat ini.
Leonard langsung berjalan keluar, tetapi Daphne menahannya.
“Kau mau ke mana?”
“Berperang.”
Daphne memegang pundaknya kuat-kuat.
“Kau seorang raja sekarang!”
Leonard terdiam.
“Kau tidak bisa lagi bertindak sesukamu. Kesalahan kecil seorang raja bisa menghancurkan seluruh kerajaan.”
Kalimat itu membuat Leonard membeku.
Benar.
Dirinya bukan lagi seorang ksatria biasa.
Sekarang ia adalah Raja Lunaventia.
Dan kenyataan itu terasa seperti rantai yang mengikat dirinya.
Karena sejak awal…
Menjadi raja bukanlah impiannya.
---
Alih-alih menghadiri rapat perang, Leonard justru masuk ke ruang kerja mendiang ayahnya.
Ruangan itu masih sama.
Meja kerja.
Rak buku.
Aroma kayu dan kertas lama.
Semua masih terasa seperti milik Qhilandra.
Dan itu membuat pertahanan Leonard runtuh sepenuhnya.
Ia menangis.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Raja muda itu menangis seperti anak kecil yang kehilangan tempat pulang.
Ia marah pada takdir.
Kenapa ayahnya?
Kenapa bukan dirinya?
Apa tuhan sedang menghukumnya?
Tatapannya lalu berhenti pada lukisan kedua orang tuanya yang tergantung rapi di dekat jendela,
Leonard mendekati lukisan itu, menatapnya lama, dia mengusap bingkai foto itu pelan.
Namun saat jemarinya menyentuh bagian kiri bawah bingkai, ia merasakan sesuatu yang aneh.
Sebuah tombol kecil.
Leonard mengerutkan dahinya, menekannya perlahan.
GGRRRR…
Rak buku di belakang meja kerja tiba-tiba bergeser.
Membuka sebuah ruangan rahasia.
Dan di sana…
Berdiri sebuah cermin besar setinggi tubuh manusia.
Leonard mengernyit bingung.
Ia mendekat perlahan.
Namun sesuatu membuat tubuhnya membeku.
Cermin itu tidak memantulkan dirinya.
Seolah itu bukan seperti cermin, melainkan seperti lukisan ruangan kosong biasa.
Tapi itu terlalu jelas untuk sebuah lukisan, Yang terlihat hanya ruangan kosong di belakangnya.
Napas Leonard mulai memburu.
Dengan tangan gemetar, ia mengambil sebuah buku lalu mengarahkannya ke depan cermin.
Dan buku itu tampak melayang sendiri.
Leonard refleks melempar buku tersebut.
“Apa ini…?”
Tiba-tiba, lingkaran hitam muncul di permukaan cermin.
Angin besar berputar memenuhi ruangan.
Barang-barang mulai beterbangan.
Tubuh Leonard terseret mendekati cermin.
Ia mencengkeram kaki kursi sekuat tenaga.
“Tolong!”
Namun suaranya tenggelam oleh suara angin yang memekakkan telinga.
Leonard berusaha merangkak menjauh.
Tetapi—
BUK!
Sebuah benda menghantam kepalanya keras.
Pandangan Leonard berkunang-kunang.
Dan dalam hitungan detik,
Tubuhnya terhisap masuk ke dalam cermin.
Gelap.
Hanya itu yang bisa ia lihat.
Dia memegangi kepalanya yang pusing, dia bangkit.
Leonard berlari tanpa arah di tengah kehampaan hitam yang tak berujung.
Ia mencoba berteriak.
Tak ada jawaban.
Tak ada siapa-siapa.
Ia meraba kepalanya.
Mahkotanya hilang.
Tiba-tiba, cahaya putih menyilaukan muncul di hadapannya.
Tubuh Leonard kembali terseret paksa menuju cahaya itu.
Dia berusaha berlari, namu seolah langkahnya tidak pernah bergerak karena, cahaya itu semakin besar.
Dan sebelum semuanya menghilang
Ia merasa dirinya terjatuh ke dalam kekosongan yang lebih dalam.
Leonard merasa sesak yang luar biasa di dadanya.
Seolah ada batu besar yang menindih, membuatnya hilang kesadaran sepenuhnya.
Bersambung…
Tengah malam, tahun 2026.
Seluruh rumah telah terlelap dalam keheningan.
Lampu-lampu utama sudah dimatikan sejak beberapa jam lalu. Hanya cahaya remang dari lampu taman yang sesekali masuk melalui jendela besar rumah megah itu.
Di tengah suasana yang sunyi tersebut, seorang gadis remaja terlihat mengendap-endap menaiki tangga.
Langkahnya sangat pelan.
Sangat hati-hati.
Seolah lantai rumah itu dipenuhi ranjau yang siap meledak kapan saja.
"Huft..."
Azura mengembuskan napas panjang.
Untung saja.
Sejauh ini tidak ada yang memergokinya.
Gadis itu segera mempercepat langkahnya hingga akhirnya tiba di depan pintu kamar bercat merah muda miliknya.
Dengan hati-hati, ia memegang gagang pintu.
Lalu membukanya perlahan.
*Ceklek...*
Azura langsung memejamkan mata.
Menunggu seseorang meneriakinya dari belakang.
Atau mungkin mendengar suara Maminya yang galak.
Namun...
Tidak ada apa-apa.
Sunyi.
Perlahan, Azura membuka matanya.
Aman.
Ia tersenyum lega.
"Yes..."
Dengan gerakan hati-hati, ia masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu kembali.
Ia bahkan tidak berani menyalakan lampu lorong.
Kalau sampai kedua orang tuanya tahu bahwa dirinya baru saja pulang diam-diam tengah malam begini, tamatlah riwayatnya.
*Cetek!*
Lampu kamar menyala.
Ruangan yang semula gelap langsung terang benderang.
Azura melempar tasnya asal ke atas sofa.
Bruk.
"Lumayan seru juga."
Gumamnya sendiri sambil berjalan ke depan meja rias.
Satu per satu aksesori yang menghiasi tubuhnya dilepas.
Anting.
Kalung.
Gelang.
Semua ditaruh sembarangan.
Dress hitam yang ia kenakan malam itu pun segera diganti dengan piyama tidur yang sudah dipakainya sebelum kabur dari rumah.
Setelah merasa lebih nyaman, Azura berjalan menuju kamar mandi.
Mencuci muka.
Menggosok gigi.
Dan membersihkan sisa makeup yang masih menempel.
Beberapa menit kemudian, ia kembali ke kamar.
Tubuhnya terasa lelah.
Matanya mengantuk.
Yang ada dalam pikirannya sekarang hanya satu.
Tidur.
Tanpa banyak pikir, Azura langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.
Bruk!
Namun...
Keningnya langsung berkerut.
Ada yang aneh.
Kasurnya terasa berbeda.
Lebih berat.
Lebih keras.
Dan...
Tidak nyaman.
Azura membuka matanya perlahan.
Lalu duduk.
Pandangannya mengarah ke tengah ranjang.
Di sana.
Tepat di bawah selimut.
Ada sebuah gundukan besar.
Gundukan yang jelas-jelas tidak ada sebelum dirinya pergi.
Deg.
Jantung Azura langsung berdetak lebih cepat.
Ia menelan ludah.
Mungkin hanya bantal.
Mungkin juga boneka.
Mungkin...
Tapi! Ini terasa keras!
Perlahan ia mendekat.
Tangannya yang sedikit gemetar meraih ujung selimut.
Lalu...
*Sret!*
Selimut itu tersingkap.
Dan dunia Azura seakan berhenti berputar.
Matanya membulat sempurna.
Mulutnya terbuka lebar.
Di atas ranjangnya.
Di kasurnya.
Di kamar pribadinya.
Ada seorang pria asing yang sedang berbaring dengan tenang.
"AAAAAAAAAAAAAAAAA!!"
Jeritannya menggema ke seluruh rumah.
"AAAAA!! MALING!! TOLONG!! MAMIIIIII!!"
Azura melompat turun dari kasur.
Lalu berlari keluar kamar secepat kilat.
Bruk!
"Aduhhh!"
Tubuhnya menabrak seseorang.
"AZURAAAA!"
Teriak seorang wanita paruh baya.
Monica.
Maminya.
Wanita itu terjatuh ke lantai akibat tabrakan mendadak tersebut.
Azura buru-buru hendak membantu.
Namun gagal.
Sebab ada satu masalah.
Seorang bocah laki-laki masih terbaring di atas tubuh Monica.
"Kamu bangun dari tubuh Mami dong, Xell! Berat ih!"
Excel membuka matanya perlahan.
Wajahnya masih linglung.
"Hah? Gempa?"
Azura langsung menggeleng keras.
"Bukan gempa! Ada maling!"
Mendengar kata maling, Excel langsung terjaga.
Di saat yang sama, Jody muncul dari ujung lorong.
Pria berkacamata itu tampak heran melihat keluarganya berkumpul di depan kamar Azura.
"Kalian ngapain?"
Belum sempat ada yang menjawab, para pekerja rumah juga berdatangan.
"Non! Ada apa?"
"Saya dengar Non Zura teriak!"
"Kaget saya!"
Monica langsung menunjuk Azura.
"Coba jelasin."
Azura refleks bersembunyi di belakang tubuh Jody.
"Di kamar aku ada maling, Pih!"
Semua orang terdiam.
Lalu...
Menatap Azura dengan tatapan tidak percaya.
Monica mendelik.
"Kamu nggak usah ngarang."
"Aku gak ngarang!"
"Mana ada maling masuk rumah kita?"
"Ada! Mami liat aja!"
Azura merengek menunjuk pintu.
hampir menangis.
"Mami lihat sendiri kalau nggak percaya!"
Jody akhirnya memutuskan untuk memeriksa kamar.
Namun baru satu langkah berjalan.
Excel mendadak menghadang.
"Papi mundur."
Semua orang berkedip bingung.
Excel menepuk dadanya dengan bangga.
"Biar Excel yang lihat. Kak Zura penakut."
Azura langsung melotot.
"HEH!"
Namun Excel sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar.
Beberapa detik berlalu.
Lalu...
"WAAAAH!!!"
Suara Excel terdengar dari dalam.
"OM GANTENG BANGET!!"
Semua orang saling pandang.
Hening.
Lalu beramai-ramai masuk ke dalam kamar.
Dan tepat saat itu...
Mereka semua membeku.
Seolah waktu berhenti.
Di atas ranjang Azura.
Duduk seorang pria muda yang luar biasa tampan.
Kulitnya pucat.
Rambutnya cokelat keemasan.
Hidungnya mancung.
Alisnya tebal.
Dan wajahnya terlihat seperti tokoh utama novel fantasi yang keluar dari halaman buku.
Pria itu sedang memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri.
Tatapannya masih linglung.
Namun tetap terasa tajam.
Sangat tajam.
"Dia siapa, Pih?"
Tanya Monica pelan.
Jody masih terpaku.
"Papi nggak tahu..."
Sementara itu, Farah yang berdiri di belakang bahkan sampai menutup mulutnya sendiri.
Tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.
Dan di tengah tatapan semua orang...
Pria asing tersebut perlahan mengangkat kepalanya.
Tatapannya menyapu seluruh ruangan.
Penuh kebingungan.
Penuh tanda tanya.
Seolah dirinya sama terkejutnya dengan mereka.
Dan untuk pertama kalinya malam itu...
Mata Azura dan mata pria asing itu bertemu.
Entah mengapa.
Ada sesuatu yang aneh dalam tatapan lelaki tersebut.
Sesuatu yang membuat bulu kuduk Azura meremang.
Bersambung...
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Semua orang masih memandangi pria asing yang tiba-tiba muncul di kamar Azura.
Sementara itu, pria tersebut juga memandangi mereka dengan tatapan tak kalah bingung.
Seolah dirinya sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Perlahan, ia berusaha berdiri dari atas ranjang.
Namun baru saja kedua kakinya menyentuh lantai—
Bruk!
Tubuhnya kembali terjatuh.
"Aaaaa!"
Semua orang langsung berteriak bersamaan.
Jody yang berdiri paling dekat refleks meraih kedua lengan pria tersebut.
"Berdiri kamu! Cepat!"
Pria itu mengernyit.
Kepalanya terasa sangat berat.
Pandangannya berkunang-kunang.
Bahkan untuk berdiri saja tubuhnya nyaris tidak mampu.
Meski begitu, ia tetap dipaksa berdiri dengan kaki gemetar.
Azura memperhatikan penampilan pria asing itu dari atas sampai bawah.
Semakin diperhatikan, semakin aneh.
Pakaiannya terlihat seperti kostum bangsawan dari film kerajaan.
Bahannya tampak mahal.
Potongannya rapi.
Dan ada banyak detail yang sulit dijelaskan.
"Lo nyuri sambil cosplay?"
Tanya Azura.
Pria itu menoleh.
"Yang bener aja. Jangan-jangan dia makeup juga buat nutupin muka aslinya mih!"
Monica langsung mengangguk setuju.
Tanpa berpikir panjang, ia mengambil micellar water milik Azura dari meja rias.
"Bawa dia ke ruang tamu dulu, Pih."
Jody mengangguk.
Dengan bantuan para pekerja rumah, pria asing itu akhirnya dibawa turun ke bawah.
"Tunggu!"
Excel tiba-tiba berseru.
Semua menoleh.
"Mungkin Om ini orang baik."
Bocah itu menunjuk wajah pria tersebut.
"Lihat deh. Mukanya Pucat kayak mau mati."
Celetuk Excel polos.
Pria asing itu langsung menatap Excel.
Kalau saja tenaganya ada, mungkin bocah itu sudah mendapat ceramah panjang karena berani mengatakan hal seperti itu.
Namun saat ini ia bahkan terlalu lelah untuk protes.
"Kalau dia orang baik, ngapain masuk kamar Non Zura den?"
Sahut Farah.
"Jelas-jelas mencurigakan."
Semua mengangguk setuju.
Akhirnya mereka membawa pria itu menuju ruang tamu.
Sementara itu, pria asing tersebut hanya bisa mengikuti.
Pikirannya penuh pertanyaan.
Tempat apa ini?
Mengapa bangunannya begitu aneh?
Mengapa pakaian mereka berbeda?
Dan mengapa cara bicara mereka terdengar sangat asing di telinganya?
Semakin lama ia memperhatikan, semakin bingung dirinya.
---
Sesampainya di ruang tamu, Jody segera mendudukkan pria itu di sofa.
Pria tersebut menatap sekeliling.
Matanya bergerak ke sana kemari.
Melihat benda-benda yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Lampu.
Televisi.
Pendingin ruangan.
Bahkan meja kaca di depannya pun tampak asing.
"Di... mana aku?"
Gumamnya pelan.
Namun suaranya terlalu lemah.
Tak seorang pun mendengarnya.
Sebaliknya...
Semua orang justru sibuk memperhatikan wajahnya.
Tampan.
Itulah kesimpulan pertama yang muncul di kepala mereka.
Terlalu tampan.
Bahkan Azura yang sedang kesal pun harus mengakui hal itu.
Meski begitu, mereka tetap tidak boleh lengah.
Siapa tahu pria ini hanya sedang berpura-pura.
Azura mengambil kapas.
Lalu menuangkan micellar water ke atasnya.
Tanpa peringatan.
Sret!
Ia langsung menggosok wajah pria tersebut.
Pria itu mengernyit.
Sementara Jody tetap memegangi lengannya.
Berjaga-jaga jika tiba-tiba ia kabur.
Yang membuat semua orang heran...
Tidak ada yang berubah.
Tidak ada makeup yang luntur.
Tidak ada warna kulit yang memudar.
Tidak ada apa-apa.
Azura kembali menggosok.
Kali ini lebih keras.
"Ssh..."
Pria itu meringis pelan.
Azura berhenti.
Lalu menatap botol micellar water miliknya.
"Mih..."
"Hm?"
"Ini kayaknya kedaluwarsa deh? Soalnya gak ada yang nempel?"
Monica mengambil botol itu.
Memeriksa tanggalnya.
"Masih tiga tahun lagi."
Azura berkedip.
"Lah?"
Semua kembali menatap pria asing tersebut.
Semakin lama semakin bingung.
'gak mungkin kan ada manusia normal se cakep ini?'
Batin Azura, terus menatap Pria itu yang terus menunduk.
"Lo ngapain ada di sini? Ngaku!!"
Tanya Azura galak.
Pria itu hanya diam.
Tatapannya tertuju pada Azura.
Mata yang lelah.
Namun tetap terasa tajam.
"Sini sama Excel."
Excel tiba-tiba mendekat.
"Kakak nanyanya gitu! kayak ngajak berantem."
Azura mendelik.
Sementara Excel justru tersenyum manis pada pria itu.
"Om ganteng."
Pria itu mengangkat alis.
"Om ke sini mau apa? Mau nyuri?"
Pertanyaan polos itu membuat semua orang menahan tawa.
"Jangan lembut-lembut, Den."
Celetuk Firda.
"Nanti dia nggak ngaku."
"Excel nggak suka kasar sama orang."
Jawab Excel.
"Kecuali Kak Zura. Karna dia nyebelin!"
Azura langsung menunjuk adiknya.
"Awas Lo! Gak gue ajak main!"
Excel memeletkan lidahnya.
---
Perdebatan mereka terhenti ketika suara serak terdengar.
"A... air..."
Semua langsung menoleh.
Pria itu menelan ludah.
"Aku... mau air."
Kali ini Jody mendengarnya dengan jelas.
"Kamu mau air?"
Pria itu mengangguk.
"Firda. Tolong ambilin air"
Firda ngangguk, berlari ke dapur.
Tak lama kemudian, segelas air sudah berada di tangan Jody.
"Kok dikasih sih?"
Protes Monica.
"Nanti kalau dia pura-pura gimana?"
Jody menggeleng.
"Nggak apa-apa. Dia haus"
Jody menyodorkan gelas tersebut.
Pria itu langsung meraihnya.
Gluk.
Gluk.
Gluk.
Dalam hitungan detik, air itu habis tak bersisa.
Semua orang melongo.
Excel bahkan sampai berdiri dari duduknya.
"Om, bajunya buat aku boleh nggak?"
Hening.
Azura langsung memelototinya.
"Kamu nggak tahu kondisi banget sih, Dek!"
Excel manyun.
"Kan bagus."
---
Setelah minum, kondisi pria itu tampak sedikit membaik.
Wajahnya tidak sepucat sebelumnya.
Tatapannya juga terlihat lebih fokus.
Ia mulai memperhatikan satu per satu orang yang berada di hadapannya.
Namun satu pertanyaan tetap memenuhi pikirannya.
Di mana sebenarnya dia?
"Sekarang jawab."
Jody menyilangkan tangan.
"Siapa kamu?"
Pria itu perlahan berdiri.
Lalu melepaskan tangan Jody yang masih menahannya.
Untuk pertama kalinya malam itu, aura berbeda muncul dari dirinya.
Dingin.
Tegas.
Berwibawa.
Secara refleks, tangannya meraba bagian atas kepala.
Kosong.
Ternyata Mahkotanya benar-benar hilang.
Dia menatap semua orang tajam.
"Di mana mahkotaku?"
Tanyanya dingin.
Semua saling pandang.
"Mahkota?"
Azura langsung tertawa.
"Lo nyuri mahkota? dari mana?"
Kemudian ia menoleh ke arah Jody.
"Jangan-jangan dia ODGJ, Pih."
"Kakak jangan kasar."
Excel kembali membela.
"Nanti Om-nya takut."
Bocah itu bahkan mengusap lengan pria asing tersebut.
Membuat pria itu langsung menunduk menatapnya.
"Siapa kamu?"
Pria itu memandang Excel tajam.
Excel malah tersenyum.
Ia mengulurkan tangannya.
"Halo, Om."
Pria itu kembali terlihat bingung setiap kali mendengar panggilan tersebut.
"Aku Excel Maelvianne Elanor."
Katanya bangga.
"Om siapa namanya?"
"Namaku bukan Om."
Jawab pria itu pelan.
"Aku—"
"Udah."
Potong Azura.
"Nggak usah muter-muter."
Ia menunjuk wajah pria tersebut.
"Siapa nama lo?"
Monica ikut menghela napas.
Kesabarannya mulai habis.
"Gini ya, Nak."
Katanya.
"Ini sudah tengah malam."
Ia menunjuk lantai.
"Kenapa kamu ada di rumah saya?"
Lalu menunjuk ke arah tangga.
"Apalagi di kamar putri saya?"
Tatapannya menyipit.
"Kamu bukan cowok selundupan putri saya, kan?"
"Mami!"
Azura langsung memekik.
"Aku nggak mungkin bawa cowok ke kamar!"
Protesnya tak terima.
Jody mengangguk.
"Jadi sekarang."
Tatapannya kembali ke pria asing itu.
"Siapa nama kamu?"
Pria tersebut terdiam.
Beberapa saat kemudian...
Ia akhirnya menjawab.
Dengan suara tenang.
Dan penuh keyakinan.
"Aku Leonard Anvincet Hills."
Semua menunggu kelanjutannya.
Leonard menegakkan tubuh.
Tatapannya berubah tajam.
"Aku adalah Raja dari Kerajaan Lunaventia."
Hening.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Lalu...
"Hahahahahaha!"
Seluruh ruang tamu meledak oleh tawa.
Terutama Excel.
Bocah itu sampai berguling di sofa sambil memegangi perutnya.
"Om lucu banget!"
Tawanya semakin keras.
"Aku juga raja!"
Semua menoleh.
Excel mengangkat dagu dengan bangga.
"Aku Raja dari Kerajaan Maelvianne!"
"Hahahahaha!"
Leonard mematung.
Wajahnya mengeras.
Untuk pertama kali dalam hidupnya...
Seorang raja besar dari Lunaventia sedang ditertawakan habis-habisan.
Bersambung...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!