Sembilan Daratan Dunia Bawah adalah panggung berdarah bagi para pemuja kejayaan. Di bawah langit yang kelabu, para kultivator bertarung demi pil keabadian, saling menjatuhkan demi kitab suci, dan menumpahkan darah hanya demi sejengkal tanah. Namun, jauh di ujung cakrawala, di mana hukum moral tidak lagi berlaku, terdapat daratan kesepuluh. Shenzhou. Wilayah yang diselimuti kabut hitam abadi—tempat yang dikutuk sekaligus dipuja dalam bisikan ketakutan para master tingkat tinggi.
Bagi manusia biasa, Shenzhou adalah neraka paling jahanam. Bagi para kultivator frustrasi yang batas kultivasinya telah mentok, Shenzhou adalah tanah harapan.
Desas-desus itu telah menyebar seperti wabah di antara klan-klan besar selama ratusan tahun: Di jantung Shenzhou, bersemayam entitas kuno yang tertidur—para Dewa Jahat. Mereka tidak butuh batu spiritual. Mereka tidak butuh ramuan langka. Mereka hanya menginginkan satu hal: esensi kehidupan yang paling murni, paling suci, dan belum ternoda oleh kotoran dunia. Jiwa dan darah bayi yang baru lahir.
Malam itu, badai petir hitam menggulung langit di perbatasan daratan kesembilan dan Shenzhou. Angin melolong seperti rintihan jiwa-jiwa penasaran. Di bawah kegelapan yang pekat, sebuah rombongan kereta berkuda bergerak dalam keheningan yang mencekam. Kereta-kereta itu tidak membawa barang dagangan atau batu permata, melainkan keranjang-keranjang bambu.
Dari dalam keranjang tersebut, terdengar suara sayup-sayup yang memilukan. Suara tangis bayi.
Rombongan itu diisi oleh para tetua dari berbagai sekte terkemuka dan klan terpandang. Di barisan tengah, berjalan para tetua dari Klan Wu, salah satu klan kultivator terkuat yang menguasai wilayah selatan. Pemimpin rombongan Klan Wu adalah Tetua Agung Wu Cang, seorang pria tua berjanggut perak dengan mata yang dingin seperti es. Di tangannya, ia memegang sebuah keranjang sutra merah. Di dalamnya, seorang bayi laki-laki berusia tiga hari—yang lahir dari garis keturunan cabang Klan Wu—tengah tertidur lelap, tidak sadar bahwa ajalnya sedang dipertaruhkan.
"Tetua Agung," bisik seorang kultivator muda di samping Wu Cang, suaranya bergetar menahan hawa dingin yang mulai menusuk tulang. "Apakah... apakah kita benar-benar harus melakukan ini? Bayi itu memiliki bakat akar spiritual yang murni. Jika kita mendidiknya—"
"Diam!" bentak Wu Cang tanpa menoleh. Suaranya rendah namun penuh tekanan energi spiritual yang menekan dada. "Mendidiknya butuh waktu seratus tahun untuk melihat hasilnya! Klan Wu membutuhkan Master Ranah Dewa sekarang juga! Jika kita tidak mengambil langkah ini, Klan Li dan Sekte Pedang Langit akan menginjak-injak kita dalam perang wilayah bulan depan. Pengorbanan satu bayi untuk kejayaan klan selama seribu tahun adalah harga yang sangat murah."
Kultivator muda itu menunduk, tidak berani membantah. Di dunia bawah, kasih sayang adalah kelemahan, dan ambisi adalah tuhan.
Rombongan terus menembus kabut beracun Shenzhou. Semakin dalam mereka melangkah, vegetasi di sekitar mereka semakin mati. Pohon-pohon kering berbentuk seperti cakar manusia yang meronta kesakitan. Tanah yang mereka pijak berwarna merah kehitaman, basah oleh darah purba yang tidak pernah mengering.
Hingga akhirnya, mereka tiba di sebuah lembah menganga yang dikenal sebagai Lembah Tengkorak Dewa.
Di tengah lembah itu, berdiri sebuah altar batu raksasa berbentuk lingkaran sempurna. Di sekeliling altar, sepuluh patung dewa jahat berukuran raksasa menjulang tinggi ke langit. Patung-patung itu dipahat dari batu hitam legam, dengan mata yang terbuat dari batu permata merah darah yang menyala di tengah kegelapan. Atmosfer di tempat itu begitu berat; tekanan spiritual yang magis membuat para kultivator tingkat tinggi sekalipun harus berlutut demi menahan dada mereka agar tidak meledak.
"Waktunya telah tiba," seru seorang tetua dari aliansi klan lain. Wajahnya dipenuhi ketamakan yang mengerikan.
Satu per satu, para tetua maju ke atas altar. Tanpa belas kasihan, mereka meletakkan bayi-bayi itu di atas meja batu yang telah dipenuhi ukiran mantra kuno. Ada sekitar tiga puluh bayi malam itu. Tangisan mereka pecah, bersahut-sahutan di bawah guyuran hujan hitam, menciptakan simfoni kematian yang membuat bulu kuduk berdiri.
Wu Cang maju paling akhir. Ia meletakkan bayi Klan Wu di titik tengah altar, tepat di mana seluruh garis mantra kuno itu berpusat. Ia menempelkan selembar kertas jimat kuning di dada bayi itu, bertuliskan nama garis keturunannya sebagai penanda agar energi dewa jahat tahu ke mana kekuatan harus disalurkan.
"Wahai Penguasa Shenzhou, Penguasa Kegelapan Abadi!" Wu Cang dan puluhan kultivator lainnya berlutut di tepi altar. Mereka mulai merapalkan mantra terlarang secara serempak. Suara mereka bergaung, memicu getaran hebat di seluruh lembah.
BZZZZT!
Langit Shenzhou terbelah. Petir hitam menyambar sepuluh patung dewa jahat. Seketika, mata merah patung-patung itu menyala terang benderang. Dari celah-cellah batu altar, kabut hitam yang sangat pekat dan berbau anyir darah mulai keluar. Kabut itu bergerak seperti tentakel hidup, merayap menuju keranjang-keranjang bayi.
"Dewa telah menerima persembahan kita! Bersiaplah menyerap energinya!" teriak salah satu tetua dengan tawa histeris.
Sentuhan pertama kabut hitam itu mengenai bayi-bayi di pinggir altar. Detik itu juga, tangisan mereka terhenti. Kulit mereka melepuh, daging mereka menyusut, dan dalam hitungan detik, tubuh bayi-bayi malang itu berubah menjadi abu abu-abu. Jiwa dan esensi kehidupan mereka dihisap habis tanpa sisa.
Sebagai gantinya, secercah energi spiritual berwarna merah darah keluar dari altar, melesat masuk ke dalam tubuh para kultivator yang sedang berlutut.
"Hahaha! Aku merasakannya! Ranah kultivasiku naik!" Tetua yang tertawa tadi merasakan energinya melonjak. Wajahnya memerah kegirangan.
Namun, kegembiraan itu hanya bertahan sesaat.
Ketika kabut hitam pekat itu merayap ke tengah altar dan menyelimuti tubuh bayi dari Klan Wu, sesuatu yang tidak masuk akal terjadi. Alih-alih membakar bayi itu menjadi abu seperti yang lainnya, kabut hitam itu justru berhenti bergerak.
DEG.
Sebuah detak jantung yang sangat keras terdengar dari dada bayi Klan Wu. Suaranya begitu kuat hingga mengguncang gendang telinga semua kultivator di sana.
Tiba-tiba, tanda mantra di dada bayi itu terbakar. Altar batu raksasa di bawahnya mulai retak. Pusaran angin topan hitam mendadak tercipta, berpusat tepat di atas tubuh si bayi.
"Apa yang terjadi?!" Wu Cang terbelalak, matanya hampir keluar dari rongganya. "Energi Dewa Jahat... kenapa tidak mengalir ke tubuhku?!"
Bukan hanya tidak mengalir, energi yang baru saja masuk ke tubuh para tetua lain mendadak tersedot kembali secara paksa. Kabut hitam yang berada di seluruh penjuru Shenzhou, energi kematian yang terkumpul selama ribuan tahun, dan seluruh sisa-sisa jiwa di lembah itu berputar menggila, membentuk corong raksasa di langit.
Dan semua energi maha dahsyat itu... tersedot masuk ke dalam pori-pori kulit sang bayi.
CRACK! CRACK!
Patung-patung dewa jahat di sekeliling altar mulai retak dan hancur satu per satu. Energi terlarang di tempat itu menolak untuk memberi kekuatan kepada para kultivator serakah. Sebaliknya, seluruh Shenzhou seolah-olah sedang dipaksa tunduk dan menyerahkan seluruh isinya kepada satu-satunya makhluk hidup yang berada di pusat altar.
Bayi Klan Wu itu tidak mati. Kulitnya memancarkan urat-urat hitam keemasan yang menyala. Sepasang matanya yang kecil perlahan terbuka di tengah badai energi. Namun, itu bukan mata bayi biasa. Sepasang bola mata itu berwarna hitam legam tanpa putih mata, memancarkan aura kuno yang dingin, kejam, dan penuh dengan pengetahuan terlarang yang melampaui zaman.
"Monster... Dia bukan tumbal! Dia menghisap seluruh Shenzhou!" teriak seorang tetua dengan suara histeris, mencoba melarikan diri. Namun, sebelum ia sempat melangkah keluar dari lembah, tekanan gravitasi energi dari sang bayi menghantamnya hingga tubuhnya hancur berkeping-keping menjadi kabut darah.
Ledakan energi masif terjadi. BOOM!
Seluruh Lembah Tengkorak Dewa runtuh. Rombongan kultivator hebat yang datang dengan ketamakan, lari tunggang langgang bagai tikus ketakutan. Banyak yang mati mengenaskan akibat shockwave energi, sementara Wu Cang berhasil lolos dengan tubuh yang terluka parah dan kultivasi yang merosot tajam. Mereka pergi dengan ketakutan yang mendalam, meninggalkan altar yang hancur berantakan.
Malam itu, badai mereda. Shenzhou menjadi hening, jauh lebih hening dari sebelumnya, karena hampir seluruh energi kutukannya telah lenyap.
Di tengah reruntuhan altar batu yang telah hancur, bayi kecil itu terbaring sendirian di bawah langit malam yang pekat. Tubuhnya tidak lagi ringkih. Di dalam benaknya yang kecil, jutaan informasi, jurus-jurus terlarang yang telah punah, dan ingatan-ingatan aneh dari zaman purba mulai berputar dan mengakar.
Dia ditinggalkan sendirian di daratan paling berbahaya di dunia bawah. Tanpa klan, tanpa orang tua, dan tanpa nama. Namun, di dalam tubuh mungilnya, mengalir kekuatan yang kelak akan membuat seluruh Sembilan Daratan gemetar ketakutan.
Malam jahanam di Altar Darah Shenzhou menyisakan trauma mendalam yang mengakar di sanubari para penyintas. Tetua Agung Wu Cang kembali ke Klan Wu dengan tubuh ringsek dan kultivasi yang merosot drastis, memaksa dirinya mengunci mulut rapat-rapat. Aib dan ketakutan berbaur menjadi satu. Bukan hanya Klan Wu, klan-klan besar lainnya yang malam itu kehilangan puluhan bayi juga memilih sepakat untuk menghapus peristiwa tersebut dari catatan sejarah. Mereka menciptakan narasi baru untuk menutupi keserakahan yang berujung petaka.
Dalam waktu singkat, sebuah rumor baru menyebar di seluruh penjuru Sembilan Daratan. Konon, Daratan Kesepuluh telah sepenuhnya terkunci. Para tetua mengklaim bahwa para Dewa Jahat di Shenzhou telah murka dan menyegel wilayah tersebut dengan kutukan yang jauh lebih mematikan, membuat siapa pun yang mencoba melintasi batasnya akan langsung lenyap tanpa sisa. Shenzhou berubah menjadi legenda mati—sebuah tempat terlarang yang namanya tabu untuk diucapkan di Jianghu.
Namun, di balik kabut tebal yang dianggap mengunci daratan tersebut, kehidupan justru berdenyut dengan cara yang tidak biasa. Reruntuhan Altar Darah tidak lagi menjadi tempat pemujaan, melainkan sebuah wilayah yang berevolusi. Tanpa adanya energi kutukan pekat yang tersedot habis malam itu, ekosistem Shenzhou berubah total selama delapan belas tahun berikutnya. Tanah merah kehitaman itu kini ditumbuhi pohon-pohon raksasa berdaun kelabu, membentuk hutan belantara purba yang dihuni oleh binatang buas mutasi (Demon Beasts) yang sangat ganas.
ROAAARRR!
Raungan memekakkan telinga memecah keheningan hutan. Seekor Beruang Zirah Besi setinggi tiga meter—binatang buas tingkat tinggi yang kulitnya mampu menahan tebasan pedang baja terbaik—tengah mengamuk. Matanya yang merah menyala menatap penuh dendam pada sesosok pemuda yang berdiri tenang di atas dahan pohon.
Pemuda itu adalah Wu Tian. Kini ia telah tumbuh menjadi seorang pria berusia delapan belas tahun. Penampilannya sangat sederhana, hanya mengenakan pakaian yang dijahit kasar dari kulit serigala hutan. Rambut hitamnya yang panjang diikat asal-asalan dengan ranting pohon. Namun, bentuk tubuhnya yang atletis dan tatapan matanya yang hitam legam memancarkan aura dingin yang bisa membuat nyali kultivator biasa ciut.
Beruang raksasa itu menerjang, cakar besarnya mengayun menghancurkan batang pohon tempat Wu Tian berpijak. BOOM! Pohon itu tumbang, namun Wu Tian sudah melesat di udara seolah-olah gravitasi tidak berlaku baginya.
Tanpa ekspresi, Wu Tian mendorong telapak tangan kanannya ke depan. Tidak ada kilatan pedang atau pancaran energi spiritual (Qi) berwarna-warni seperti kultivator pada umumnya. Yang keluar dari telapak tangannya adalah distorsi udara berwarna hitam keemasan yang berputar lambat.
Jurus Terlarang: Ruang Hancur.
CRACK!
Tanpa menyentuh fisik beruang tersebut, ruang di sekitar kepala binatang buas itu mendadak terpelintir hebat. Dalam satu kedipan mata, tengkorak beruang zirah yang sekeras besi itu hancur merosot ke dalam, melumpuhkannya seketika tanpa sempat melolong. Tubuh raksasa itu ambruk ke tanah, menumpahkan darah segar yang langsung diserap oleh tanah Shenzhou. Wu Tian mendarat dengan ringan di samping bangkai tersebut, wajahnya datar seolah baru saja menepak seekor nyamuk.
Bagi Wu Tian, pertarungan hidup dan mati seperti ini adalah rutinitas harian. Ia tidak pernah mengenal apa itu rasa takut, karena sejak bisa mengingat, ia sudah berada di puncak rantai makanan di daratan terlarang ini.
Namun, di balik kekuatannya yang mengerikan, ada satu misteri besar yang selalu mengusik benak Wu Tian. Setiap kali malam tiba dan ia duduk bermeditasi di atas reruntuhan altar lawas, ia kerap merenungkan eksistensi dirinya sendiri.
Ada hal yang sangat aneh dengan cara berpikirnya. Wu Tian tahu betul bahwa sejak bayi, ia hidup sebatang kara. Tidak ada manusia yang menemaninya, tidak ada ibu yang memeluknya, dan tidak ada guru yang mendidiknya. Secara logika, ia harusnya bertingkah layaknya binatang buas—berkomunikasi dengan raungan dan bertindak hanya berdasarkan insting hewani.
Namun kenyataannya tidak demikian. Wu Tian bisa berpikir secara kompleks. Ia memahami konsep moral, strategi, bahkan ia mengerti bahasa manusia. Ketika ia sesekali menemukan potongan perkamen kuno atau prasasti batu yang tertimbun di reruntuhan Shenzhou, matanya bisa membaca aksara-aksara rumit itu dengan sangat lancar. Pikiran di kepalanya secara otomatis menerjemahkan setiap arti kata dan simbol, seolah-olah pengetahuan itu sudah terpatri di dalam jiwanya sejak sebelum ia dilahirkan.
‘Bagaimana bisa aku memahami semua ini?’ batin Wu Tian sering bertanya-tanya sambil menatap tangannya sendiri.
Jawaban dari keanehan itu ada di dalam kepalanya: sebuah potret ingatan aneh yang terfragmentasi. Setiap kali ia memejamkan mata, memori kolektif tentang jurus-jurus terlarang yang telah punah, nama-nama dewa purba, hingga peta bintang langit akan berputar di benaknya. Ingatan itu bertindak seperti guru gaib yang mendikte setiap langkah kultivasinya. Dari ingatan itulah ia tahu bagaimana cara memanipulasi energi hitam keemasan di tubuhnya.
Selain ingatan aneh itu, Wu Tian hanya memiliki satu objek fisik sebagai petunjuk asal-usulnya. Ia meraba dadanya, mengeluarkan selembar kain sutra merah yang sudah usang dan jimat kertas yang telah hangus sebagian. Jimat itu ia temukan di dekat tubuhnya saat ia mulai bisa merangkak dulu. Di atas permukaan kertas yang terbakar itu, samar-samar tertulis dua karakter aksara yang terbaca jelas di otaknya: Klan Wu.
"Klan Wu..." Wu Tian menggumamkan kata itu. Suaranya terdengar berat dan asing di telinganya sendiri, karena ia sangat jarang berbicara. "Siapa mereka? Dan kenapa mereka meninggalkanku di tempat seperti ini?"
Pertanyaan yang terpendam selama delapan belas tahun itu mendadak menemukan titik terang siang itu.
Indra pendengaran Wu Tian yang sangat tajam menangkap suara yang tidak biasa dari arah perbatasan luar Shenzhou. Itu bukan langkah kaki binatang buas. Langkah kaki ini terlalu ringkih, tergesa-gesa, dan dipenuhi oleh kepanikan. Suara gesekan kain jubah dan denting logam pedang terdengar samar dari jarak beberapa mil.
Wu Tian menyipitkan matanya. Detak jantungnya sedikit meningkat—bukan karena takut, melainkan karena rasa penasaran yang membuncah. Manusia. Ada manusia lain yang memasuki wilayahnya.
Dengan gerakan secepat bayangan, Wu Tian melesat di antara dahan-dahan pohon raksasa, mendekati sumber suara tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Dari balik dedaunan lebat di batas hutan, ia mengintip ke arah area terbuka yang berbatasan dengan kabut luar.
Di sana, terlihat tiga orang kultivator muda—dua laki-laki dan satu perempuan—sedang berlari pontang-panting. Jubah mereka yang berwarna putih bersih kini telah robek dan berlumuran lumpur serta darah. Mereka tampaknya nekat menerobos perbatasan Shenzhou untuk mencari tanaman herbal langka, namun justru berakhir menjadi buruan.
Di belakang mereka, seekor Serigala Bayangan bertaring ganda tengah mengejar dengan kecepatan penuh.
"Kakak Senior Lin! Kita tidak akan bisa lolos!" teriak kultivator muda yang paling belakang dengan wajah pucat pasi. Kakinya gemetar hebat saat Serigala Bayangan itu melompat, siap menerkamnya dari belakang.
"Jangan menyerah! Gunakan formasi pertahanan!" balas kultivator perempuan yang dipanggil Lin. Ia mencoba membalikkan badannya sambil menghunuskan pedang, namun tekanan aura binatang buas itu membuat gerakannya melambat.
Wu Tian yang mengamati dari atas pohon awalnya tidak berniat peduli. Baginya, hukum alam di Shenzhou sangat sederhana: yang lemah akan dimakan yang kuat. Namun, sesaat sebelum serigala itu merobek leher si kultivator muda, mata Wu Tian tidak sengaja menangkap detail pada pakaian mereka.
Di dada kiri jubah putih yang dikenakan oleh ketiga kultivator muda itu, terdapat sulaman benang emas berbentuk lambang lingkaran dengan pola lidah api yang khas.
Mata Wu Tian langsung melebar. Ia dengan cepat meraba jimat hangus di balik pakaian kulitnya. Lambang lidah api di jubah ketiga orang itu... sama persis dengan sisa lambang yang tertera pada jimat kematian miliknya.
"Klan Wu..." desis Wu Tian.
Tanpa berpikir dua kali, Wu Tian menjatuhkan diri dari atas pohon, meluncur deras bak meteor jatuh tepat di antara Serigala Bayangan dan ketiga kultivator yang ketakutan tersebut.
Ledakan udara akibat hempasan tubuh Wu Tian menciptakan kawah kecil di tanah merah Shenzhou. Debu dan daun-daun kering beterbangan, mengaburkan pandangan.
Serigala Bayangan bertaring ganda itu menghentikan terkaman di udara. Insting binatang buasnya yang tajam mendadak menjeritkan alarm bahaya yang luar biasa. Ia merasakan kehadiran predator yang jauh lebih tinggi di rantai makanan, tepat di hadapannya.
Wu Tian tidak membuang waktu. Sebelum serigala itu sempat mendarat kembali ke tanah, ia melangkah maju. Gerakannya begitu cepat hingga menciptakan ilusi optik seolah ia berpindah tempat tanpa berpijak. Dengan satu gerakan santai, seolah sedang mengusir lalat, Wu Tian mengibaskan punggung tangan kirinya ke arah kepala serigala.
BOOM!
Distorsi ruang tak kasat mata menghantam monster itu. Tanpa ada cipratan darah yang dramatis, seluruh tubuh Serigala Bayangan itu terlempar ke belakang sejauh sepuluh meter, menabrak pohon raksasa hingga tumbang, dan langsung mati dengan seluruh tulang dalam tubuhnya hancur menjadi bubur.
Hening seketika melanda hutan.
Tiga kultivator muda Klan Wu yang tadinya sudah bersiap menyambut ajal, kini terpaku dengan mata terbelalak. Napas mereka terengah-engah, memandang punggung pemuda berbaju kulit serigala di depan mereka dengan tubuh gemetar hebat. Menumbangkan Serigala Bayangan tingkat tinggi dalam sekali kibas tangan bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan oleh kultivator ranah biasa.
Wu Tian perlahan membalikkan tubuhnya. Wajahnya datar, tetapi matanya yang hitam legam menatap mereka satu per satu. Untuk memastikan ketiga manusia asing ini tidak bertindak bodoh atau mencoba menyerangnya dengan pedang, Wu Tian memutuskan untuk memberikan sedikit peringatan.
Ia melepas sedikit saja aura membunuh alaminya—aura yang ia dapatkan dari menyerap energi kematian Shenzhou selama delapan belas tahun.
DEEEGG!
Tekanan udara di sekitar mereka mendadak merosot drastis. Udara di sekeliling Wu Tian tampak bergetar dan menggelap, memancarkan hawa dingin yang menusuk sumsum tulang. Bagi ketiga kultivator muda itu, rasanya seolah-olah langit Shenzhou runtuh tepat di atas kepala mereka. Lutut mereka langsung lemas. Dua kultivator laki-laki langsung jatuh terduduk dengan wajah sepucat mayat, sementara sang gadis, Kakak Senior Lin, harus menancapkan pedangnya ke tanah agar tidak ambruk.
"S-Siapa..." suara Lin bergetar hebat, tenggorokannya terasa kering dan tercekik oleh aura mengerikan itu.
Wu Tian menatap mereka dengan tatapan mengancam, alisnya sedikit bertaut. Suaranya terdengar kaku, berat, dan sedikit serak saat keluar dari tenggorokannya—efek karena tidak pernah digunakan untuk berbicara dengan manusia lain selama belasan tahun.
"Kenapa... kalian datang ke tempat mati ini?" tanya Wu Tian, menjeda kalimatnya untuk membiasakan lidahnya. "Kematian bukan hal yang murah di sini."
Mendengar pertanyaan itu, Lin menelan ludah dengan susah payah. Ia berusaha menekan rasa takutnya demi keselamatan adik-adik seperguruannya. "K-Kami... kami adalah murid dari Klan Wu di Daratan Kesembilan. Kami nekat menerobos perbatasan... untuk mencari Buah Esensi Jiwa yang kabarnya hanya tumbuh di perbatasan Shenzhou. Kami membutuhkannya untuk kompetisi klan bulan depan."
Lin menjeda kalimatnya, menatap Wu Tian dengan kombinasi rasa takut dan kebingungan yang teramat sangat. Di Sembilan Daratan, Shenzhou adalah tanah terkutuk yang sudah terkunci, tempat yang dihuni iblis. Tapi di depannya saat ini berdiri seorang pemuda manusia, berpakaian primitif, namun memiliki kekuatan yang melampaui para tetua mereka.
"Kami sudah menjawab..." kata Lin dengan suara berbisik, memberanikan diri. "Sekarang... bolehkah kami bertanya? Siapa Anda sebenarnya? Bagaimana bisa ada manusia hidup dan tumbuh di daratan terlarang yang terkunci ini?"
Mendengar pertanyaan balik itu, aura mengerikan di sekitar Wu Tian mendadak lenyap begitu saja, menguap seperti kabut diterpa angin. Perubahan atmosfer yang drastis itu membuat ketiga kultivator tersebut tersedak udara, bingung dengan sikap pemuda misterius ini.
Wu Tian tidak menjawab dengan kata-kata puitis atau penuh misteri. Baginya, berbohong atau berbelit-belit adalah konsep yang tidak berguna karena di Shenzhou, segalanya diselesaikan secara langsung.
Ia hanya meraba dadanya, merogoh ke balik pakaian kulit serigalanya, dan mengeluarkan selembar kain sutra merah usang serta jimat kertas yang telah hangus sebagian. Wu Tian memandangi jimat itu sekilas, lalu mengarahkan pandangannya pada lambang lidah api berlapis emas yang tersulam di jubah putih Lin.
Ia membandingkan keduanya secara bergantian dengan wajah polos tanpa ekspresi. Setelah memastikan bentuknya sama, Wu Tian menurunkan tangannya dan berkata dengan nada suara yang sangat enteng, seolah sedang membicarakan cuaca.
"Aku tidak tahu siapa aku. Tapi benda yang menempel di tubuhku saat bayi ini bilang, aku adalah bagian dari Klan Wu."
DEG.
Kata-kata yang diucapkan dengan begitu santai itu justru menghantam kesadaran Lin dan kedua rekannya bagai petir di siang bolong. Lin merangkak sedikit mendekat, matanya terpaku pada jimat hangus di tangan Wu Tian.
Sebagai murid inti Klan Wu, Lin tahu betul sejarah klannya. Jimat di tangan pemuda itu bukan jimat sembarangan. Itu adalah Jimat Segel Darah Purba yang hanya digunakan oleh garis keturunan inti Klan Wu belasan tahun lalu untuk ritual-ritual tingkat tinggi—jimat yang sudah lama dimusnahkan dan dilarang penggunaannya oleh Tetua Agung Wu Cang.
"T-Tidak mungkin..." bisik Lin, matanya bergetar menatap jimat itu, lalu beralih menatap wajah Wu Tian. "Delapan belas tahun lalu... ritual Altar Darah yang gagal..."
Lin teringat pada cerita bisik-bisik di kalangan tetua tentang malam di mana puluhan bayi klan lenyap dan Shenzhou mendadak "terkunci". Apakah pemuda di depannya ini adalah salah satu bayi yang selamat? Tapi bagaimana mungkin seorang bayi bertahan hidup di neraka ini selama delapan belas tahun dan menjadi sekuat ini?
Wu Tian tidak peduli dengan kepanikan batin yang sedang dialami Lin. Otaknya yang cerdas, yang dipenuhi oleh pengetahuan aneh yang ia sendiri tidak tahu dari mana asalnya, langsung menangkap sebuah kesempatan emas. Selama delapan belas tahun ia terkurung dalam ketidaktahuan. Dan sekarang, three petunjuk hidup tentang asal-usulnya berada tepat di depan matanya.
"Kalian ingin keluar dari hutan ini hidup-hidup?" tanya Wu Tian tiba-tiba, memutus lamunan Lin.
Ketiga kultivator itu mengangguk cepat tanpa ragu. Di dalam hutan belantara Shenzhou yang dipenuhi binatang buas mutasi, tanpa perlindungan pemuda ini, mereka tidak akan bertahan lebih dari satu jam.
Wu Tian memasukkan kembali jimatnya ke dalam baju, lalu melipat tangannya di dada. Wajahnya kembali datar, namun ada kilatan tekad yang dingin di matanya.
"Bawa aku keluar dari daratan ini. Bawa aku ke tempat Klan Wu berada," ujar Wu Tian, nadanya terdengar seperti perintah yang tidak bisa dinegosiasikan. "Sebagai gantinya, aku akan memastikan tidak ada satu pun monster di tempat ini yang menyentuh kulit kalian sampai kita tiba di perbatasan."
Lin memandang dua rekannya yang masih ketakutan, lalu kembali menatap Wu Tian. Membawa orang asing dengan kekuatan monster yang membawa jimat terlarang Klan Wu kembali ke klan adalah sebuah risiko raksasa yang bisa memicu kemarahan para tetua. Namun, menolak berarti mati di tempat ini.
"Baik... kami setuju," jawab Lin akhirnya dengan suara mantap. "Kami akan membawamu ke Daratan Kesembilan, ke markas utama Klan Wu."
Wu Tian berbalik, menatap ke arah kabut tebal yang membatasi Shenzhou dengan dunia luar. Setelah delapan belas tahun hidup dalam kesunyian dan menguasai jurus-jurus terlarang purba, monster yang dulu mereka buang dan mereka anggap sebagai abu tumbal, akhirnya bersiap untuk melangkahkan kakinya keluar.
Dunia bawah tidak akan pernah sama lagi.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!